LIBRARY OF MARKHYUCK

mafia ketambahan demon!AU ala kuroshitsuji efek nonton MV regular

Pairing: MarkHyuck

Warning: typo(s), OOC, cringe, yaoi

DLDR, Happy Reading

Cr: foxpudu

.

.

.

Haechan memutar bola matanya malas. Tangannya mulai keram karena terlalu lama diikat, pun bokongnya sudah sangat pegal karena entah sudah berapa jam ia dipaksa duduk diatas kursi kayu keras. Ia menatap dua orang berbadan besar didepannya yang masih asik bermain kartu tanpa mempedulikan dirinya.

Wajar saja, seluruh badannya tengah terikat pada kursi tempatnya duduk. Jadi tidak mungkin ia bisa bergerak, terlebih kabur dari tempat itu. Tapi ini sudah terlalu lama. Haechan mulai bosan menunggu dan badannya sudah mulai sakit-sakit.

"Hei, kalian dua manusia tak berotak. Dimana bos kalian? Suruh dia untuk cepat datang dan katakan apa yang kalian mau. Aku sudah lelah." sungutnya kesal.

Kedua orang tadi mengalihkan fokusnya dari berlembar-lembar kartu dihadapan mereka untuk menatap Haechan malas.

"Bahkan sudah seperti inipun kucing manis ini masih sempat-sempatnya bertindak arogan." sindir seorang yang memiliki tato panjang dilengannya remeh.

"Sudah abaikan saja dia, cepat keluarkan kartumu!" sahut seorang lainnya tidak peduli.

Haechan yang merasa diabaikanpun menjerit kencang, membuat kedua orang yang kembali bermain kartu tadi lagi-lagi mengalihkan atensi mereka pada pemuda berbadan kecil yang terikat dikursi itu.

"Berisik sekali sih." gertak si tato–oh ayolah Haechan tak tahu nama mereka, jadi ia akan memanggilnya dengan si tato dan tanpa tato—marah. Ia melemparkan kartunya dan langsung beranjak kearah Haechan untuk menjambak rambutnya sadis.

Haechan mendesis kesakitan, namun tidak sampai membuatnya berhenti menatap orang didepannya dengan tatapan malas.

"Apa hanya menjambak rambutku saja yang kau bisa? Tidakkah kau malu dengan tatomu itu? Percuma badanmu sebesar ini tapi yang berani kau lakukan padaku hanya menjambak." Ujar Haechan memanas-manasi. Ia bisa merasakan rematan pada rambutnya semakin kencang bersamaan dengan geraman penuh emosi lelaki bertato itu.

"Dasar brengsek, asal kau tau saja bahkan aku bisa mematahkan badan kecilmu itu dengan satu tangan."

Haechan tertawa ditengah rasa sakit dikulit kepalanya yang semakin berdenyut-denyut, "Lalu kenapa tidak kau lakukan? Sudahlah akui saja kalau kau itu memang payah."

"Sialan ka—"

"Lepaskan dia."

Sebuah suara dingin membelah atmosfir penuh kemarahan diruangan itu. Si tato itupun dengan segera melepaskan tautan tangannya pada rambut Haechan lalu dengan segera menundukkan badannya bersama dengan rekannya bermain kartu tadi.

Haechan mengerutkan dahinya, menajamkan indra penglihatannya pada siluet tinggi yang ada didepannya. Dengusan kecil lolos dari bibirnya tatkala ia menyadari siapa orang yang sekarang ini tengah berjalan kearahnya.

"Wah-wah, lihat siapa yang ada didepanku ini. Tidakkah kau ingin bertobat wahai tuan kelinci Jeon Jungkook?"

Sebuah tamparan keras harus Haechan terima setelah olokan ringannya ia lemparkan pada pemuda bermata bulat didepannya itu.

"Untuk orang yang sedang terikat tak berdaya seperti ini kau cukup idiot untuk mencoba memanas-manasiku, Lee Haechan." desis Jungkook emosi.

Haechan sendiri hanya tertawa, sekalipun beberapa kali meringis sakit. Tamparan dari Jungkook tidak main-main kerasnya, dan ia bisa merasakan ujung bibirnya yang terkoyak dari rasa besi yang dirasakannya disudut bibirnya.

"Apa maumu?" tanya Haechan langsung. Ia benar-benar serius ketika dikatakannya kalau ia sudah bosan dan lelah. Tidak setiap hari ia harus duduk dikursi selama berjam-jam, terutama memang pekerjaannya yang menuntut dirinya untuk jarang terduduk, semakin membuatnya gampang pegal jika harus dipaksa seperti ini.

"Batalkan projek barumu dengan perusahaaan Jung dan arahkan projek itu hingga harus diserahkan pada kelompokku."

Haechan terdiam sesaat sebelum tertawa kencang mendengar perintah Jungkook. Jungkook dan kedua bawahannya yang tadi menjaga Haechan hanya melihat bagaimana lelaki dengan surai pelangi itu tertawa bak orang gila dikursinya.

"Apa yang lucu, sialan!" bentak Jungkook emosi.

"Apa kau sudah kehilangan akalmu tuan Jeon Jungkook, ketua dari salah satu kelompok Mafia terkuat di Korea? Kau memintaku, yang bukan siapa-siapa ini, untuk menyerahkan sebuah projek biasa yang tidak ada apa-apanya kepadamu? Apa kau merasa terancam olehku yang masih piyik ini? Aku, yang hanya bekerja berdua dengan seorang rekanku alih-alih berkelompok dengan banyak orang seperti yang lainnya? Apakah aku harus merasa tersanjung?"

Mendengar geraman emosi yang keluar dari bibir tipis membuat Haechan kembali tertawa bak orang kesetanan. Oh ayolah, ia kira ia disekap seperti ini karena alasan lain yang lebih penting. Tapi nyatanya? Permasalahan ini terlalu sepele. Projek yang disebutkan Jungkook tadi hanyalah pembobolan beberapa markas intel yang ada di Korea. Haechan yakin projek seperti adalah makanan sehari-hari yang dihadapi kelompok Jungkook. Tiba-tiba sebuah pemikiran tentang apa alasan Jungkook menyekapnya terlintas begitu saja.

"Ah, aku baru sadar. Kau iri karena perusahaan Jung lebih memilih menghubungiku dibanding kau untuk projek ini? Maaf-maaf, aku juga baru ingat client setiamu itu kan memang perusahaan Jung. Maaf-maaf saja kalau begitu, bukan salahku jika kerjaku lebih cepat dan memuaskan dibandingkan kalian sampai-sampai tuan Jung lebih memilih menggunakan jasaku. Salah kalian sendiri yang terlalu pay—"

Belum selesai Haechan melontarkan ledekkannya, Jungkook yang sudah ditelan emosi langsung mendorong kursi Haechan hingga terguling. Haechan meringis sakit karna benturan keras tempurung lututnya dengan lantai memberikan efek sengatan yang luar biasa menyakitkan. Belum sempat ia pulih dari rasa sakit dilututnya, Haechan bisa merasakan tubuhnya ditarik paksa dan ikatannya pada kursi dilepas dengan kasar. Sebelum semua hal itu tersambung pada benak Haechan, sebuah pukulan sudah terlebih dahulu tersarang diperutnya, membuatnya merintih sakit.

"Aku sudah cukup bersabar dari tadi Lee Haechan. Yang aku inginkan bukanlah hal besar, namun kau tetap bertingkah sombong dibalik tubuh kecilmu itu."

Berbagai pukulan terus dilayangkan Jungkook pada Haechan tanpa ada perlawanan. Haechan sendiri terlalu sadar, ia tak memiliki kemampuan bela diri yang bagus, jadi yang ia bisa ia lakukan saat ini adalah bertahan dibalik tangan kecilnya.

"Kenapa? Kenapa kau mendadak diam saja?! Kemana perginya kesombonganmu tadi hah?!" seru Jungkook sembari menginjak punggung Haechan keras, sebelum menarik rambut belakang Haechan agar ia bisa berhadapan dengan wajah Haechan. "Kenapa kau diam saja, em? Mengharapkan pengampunanku? Menunggu ada orang yang menyelamatkanmu? Biar kau tau saja, hampir semua orang pada bisnis ini membencimu karena kau mengambil semua client kami, dan oh astaga aku baru ingat. Kau tidak punya kelompok, hanya punya satu rekan yang aku yakini sama payahnya dengan dir—"

"Jeon Jungkook. Kau punya dua pilihan menarik. Lepaskan orang ditanganmu atau aku yang akan melepaskan nyawamu dari tubuhmu."

Jungkook terlonjak kaget mendengar suara pelan namun tajam itu. Pandangannya ia tolehkan pada semua arah bangunan, tapi ia tak menemukan orang lain selain dua pengawalnya yang masih berdiri agak jauh darinya. Dua orang itupun keadaannya sama seperti dirinya, menolehkan wajah untuk mencari sumber suara yang menggangu kesenangan Jungkook tadi.

Sebuah kekehan pelan menjadi tamparan kecil bagi Jungkook agar ia teringat pada sosok yang masih ia jambak dan injak ini. Sebuah geraman kembali lolos dari belah bibir Jungkook tatkala ia sadar, ini semua pasti perbuatan orang yang ada ditangannya. Penuh emosi, Jungkookpun mendorong kepala itu agar terbentur keras dengan lantai bangunan. Alih-alih bertemu dengan benda padat nan keras itu, sebuah tangan tiba-tiba muncul untuk menahan kepala Haechan. Jungkook yang terkejut langsung menolehkan wajahnya kearah depan untuk mendapatkan sebuah hempasan keras ditubuhnya.

Lelaki itu terus terguling jika saja salah satu dari pengawalnya tidak menangkap tubuhnya. Mata lelaki tadi berkilat, menatap bagaimana sesosok baru yang menghempasnya tadi tengah mengangkat badan Haechan agar terduduk menghadapnya.

"Siapa kau, sialan!" seru Jungkook sambil berdiri. Ia langsung mengambil senjata api yang tersimpan rapih dibalik jasnya, karena ia yakin sosok yang saat ini tengah memandangi Haechan itu jauh lebih kuat dibanding Haechan dan itu bukanlah hal yang bagus bagi Jungkook.

"Kau lama."

"Maaf, banyak yang harus kutemui sebelum kesini dan mereka sangat menyebalkan."

"Tetap saja haruskah selama itu? Lihat aku sampai babak belur seperti ini."

Bukannya menjawab pertanyaan Jungkook, kedua orang itu malah mengobrol sendiri tanpa menghiraukannnya. Dan apa-apaan rengekan itu tadi?

"Kalian berdua, habisi saja kedua orang itu." Perintah Jungkook pada pengawalnya. Dua orang itu mengangguk sebelum mengambil beberapa balok kayu dan berlari kearah Haechan dan sosok baru tadi.

Namun belum sempat kedua orang itu mendekat, dua buah pisau tiba-tiba saja melayang dan menancap tepat di kepala dua orang tadi yang menyebabkan keduanya rubuh begitu saja.

Jungkook menatap semuanya nyalang. Terburu, lelaki itupun menembakkan semua peluru yang ada disenapan apinya sampai habis. Ketika habis, ia menatap dua sosok tadi dan lagi-lagi rahangnya harus terjatuh sanking kagetnya.

Semua peluru yang ditembakkannya terselip sempurna dijemari sosok baru itu.

Jungkookpun langsung melempar senapannya, meraih ponselnya untuk menghubungi rekan-rekan sekelompoknya yang lain. Ia tak tahu sosok apa yang ada didepannya ini, yang pasti sekarang ia sangat membutuhkan back up yang banyak untuk melawan orang tadi.

"Oh lihatlah, Jungkook kita ketakutan." Sindir Haechan ketika melihat raut panik Jungkook saat tak ada satupun yang dapat dihubunginya.

"Sialan!" umpat Jungkook keras seraya mambanting ponselnya.

Tawa besar Haechan menggema didalam ruangan itu, membuat Jungkook mendelik tajam kearah Haechan.

"Kau sendiri. Aku yakin semua anggota kelompokmu yang lain sudah tamat ditangan Mark sebelum ia kemari tadi, iya kan Markie?" tanya Haechan manja pada sosok yang ternyata bernama Mark itu. Mark sendiri hanya menatapi Haechan, menelusuri tiap luka dan lebam yang tengah menghiasi tubuh manusia manis itu. Haechan yang sadar ditatapi hanya tersenyum lembut sembari mengelus pipi Mark, berusaha membuat Mark focus pada musuh didepan terlebih dahulu sebelum kepadanya.

"Jadi untuk mempersingkat waktu, kelompokmu sudah binasa. Kau tidak punya hak apa-apa untuk menawarkan pilihan seperti tadi. Hah, aku tidak paham kenapa sih kelompok-kelompok besar seperti kelompokmu atau kelompok beberapa orang suka sekali merusuhi pekerjaanku." Ujar Haechan sembari berjalan kearah Jungkook yang masih terdiam di tempatnya.

"Ah ya, untuk informasi bagimu saja kau bukan orang pertama yang menyekapku seperti ini, dan ya memang benar banyak orang yang membenciku. Huh menyebalkan, padahal aku tidak melakukan apa-apa terhadap kalian." Rajuk Haechan. Jungkook hanya berjengit melihat Haechan yang menghentak-hentakkan kakinya seperti anak kecil.

"Kupikir setelah menghancurkan kelompok Chani kemarin, kalian semua tidak akan merusuhiku lagi, tapi ternyata—"

"A-apa? Jadi kau dalang dari musnahnya kelompok SF9?!" seru Jungkook ketakutan. Haechan sendiri hanya mengendikkan bahunya santai, tanda mengiyakan pertanyaan Jungkook tadi.

"Mungkin tanda yang kuberikan sebagai peringatan masih kurang, jadi Mark lebih baiklah setelah ini dalam memberikkan tandanya. "

.

.

.

Haechan membuka matanya kala dirasakannya sebuah elusan lembut dibelah pipinya. Senyum kecil tersampir pada bibirnya ketika matanya bersibobrok dengan manik hitam Mark.

"Sudah selesai?" tanya Haechan sembari ia arahkan pada dada serta perutnya yang sudah dibabat penuh dengan perban.

"Sudah. Setelah ini jangan kemana-mana dulu. Istirahat saja sampai lukanya sembuh." Ucap Mark setelah meletakkan semua perban yang tersisa serta antiseptic keatas meja nakas yang ada disamping tempat tidur besar milik Haechan.

"Sudah tidak sakit lagi tapi lukanya." Rengut Haechan. Mark memberikan senyum tipisnya sebelum menggusak lembut surai pelangi Haechan.

"Kau butuh istirahat."

"Tapi bagaimana dengan—"

"Kukerjakan sendiri. Kau istirahat saja, pukulan si brengsek itu terlalu kuat untuk tubuh kecilmu." Potong Mark. Tangan dinginnya ia gunakan untuk mengelus lembut dada milik Haechan, membuat Haechan terkikik geli atas tingkahnya.

"Memang. Setidaknya kau sudah membalasnya, sekalipun sedikit keterlaluan."

"Kau yang memintaku untuk memberikan peringatan lebih kuat dari sebelumnya, kenapa tiba-tiba protes?"

"Ya memang sih, tapi memutuskan kepala tiap-tiap orang untuk kau gantungkan di atas gudang tua itu sedikit mengerikan Markie. Belum lagi kau benar-benar merusak tubuh seorang Jeon Jungkook hanya untuk digantungkan diatas pintu masuk gudang. Bahkan aku sudah mau muntah tadi." Sungut Haechan manja. Mark hanya memberikan senyuman tipis melihat tingkah menggemaskan Haechan.

"Maaf kalau begitu." Bisik Mark. Lelaki itu mendudukkan dirinya tepat disamping Haechan, memberikan akses bagi Haechan untuk merangkak kearahnya dan duduk dipangkuaannya.

"Tidak akan kumaafkan kalau kau tidak menuruti perintahku saat ini juga."

Mark menatap manik coklat indah didepannya dengan penuh minat. Perlahan, ia mengangkat tangannya untuk menelusuri tubuh bagian atas Haechan yang penuh dengan perban. Tatapannya berubah semula yang penuh dengan kelembutan menjadi nafsu.

Haechan sendiri sudah menggeliat diatas pangkuan Mark, sentuhan Mark bagaikan meninggalkan jejak api ditubuhnya, membuatnya merasa panas. Tangannya sudah sibuk membuka setelan jas yang selalu digunakan Mark kapanpun dimanapun, membuka seluruh kancing kemeja putih milik Mark agar ia bisa menemukan tubuh yang paling ia sukai didunia ini. Ketika tugasnya sudah selesai, Haechan tersenyum nakal pada Mark yang masih menatapinya dengan mata yang menyiratkan nafsu besar. Jemarinya ia arahkan pada perpotongan leher Mark, mengelusi sebuah tato bintang yang terperangkap pada lingkaran yang penuh sulur.

"Mark Lee. Aku memerintahkanmu untuk memuaskanku sekarang tanpa menyakitiku. Buat aku lupa dengan kejadian bodoh itu dan lupakan juga urusan pekerjaan sialan itu sekarang, tapi aku ingin besok pagi semua sudah selesai."

Haechan tersenyum manis melihat tato tadi bersinar keunguan, memberikan pendar cantik pada kulit putih Mark. Iapun yakin tato miliknya, yang ada dilokasi yang sama pada tubuhnya, juga bersinar lembut.

Tatapan dari Mark mengeras bersamaan dengan tangannya yang menarik wajah Haechan, menangkap bibir penuh milik Haechan pada pagutan liar. Erangan halus meluncur bebas begitu saja dari belah bibir Haechan sebagai reaksi dari permainan lidah Mark didalam mulut hangatnya. Haechan membiarkan Mark mendominasi sepenuhnya pagutan mereka kali ini, yang ia lakukan hanya mengerang dan mendesah halus ketika permainan bibir dan lidah Mark terlalu memabukkan untuknya.

Ketika Mark melepas pagutan bibirnya, Haechan membuka matanya perlahan. Yang menjadi pemandangan pertamanya adalah wajah tampan Mark dengan bibir yang menyunggingkan senyum miring dan mata yang berpendar berwarna merah terang.

"Yes, my Lord."

.

END

.

Ini apadah wkwk

Btw halo, long time no see! Happy new year everyone! Hehe