LIBRARY OF MARKHYUCK
ㅡMissing Youㅡ
Pairing: MarkHyuck
Warning: typo(s), OOC, cringe 10000x, KLISE AF, najis pokonya, rated dikiiiiiiit bgt, yaoi
DLDR, Happy Reading
Cr: foxpudu
.
.
.
Donghyuck mengunci pintu mobilnya dengan sedikit terburu-buru. Dengan langkah kakinya yang cukup lebar, ia beranjak dari pelataran parkir menuju sebuah cafe kecil, dimana kelima teman dekatnya sudah menunggu.
Donghyuck sudah yakin, selangkah ia memasuki café itu, ia akan mendengar omelan panjang dari teman-temannya karena mambiarkan mereka menunggu sangat lama. Wajar saja, mereka memang janjian untuk bertemu di café yang memang milik salah satu temannya itu pukul sembilan malam. Dan oh lihatlah jam yang terpasang dilengannya sudah menunjukkan angka sepuluh.
Dengan sedikit kasar, ia membuka pintu kayu cafe untuk disambut oleh aroma kopi dan cinnamon yang lembut. Ia tersenyum kecil ketika melihat kelima temannya, Renjun, Jeno, Jaemin, Chenle, dan Jisung, yang benar-benar langsung memarahinya sebagai sambutan atas kedatangannya.
"Maafkan aku, dewan direksi sedang datang kekantor hari ini. Aku juga terpaksa tau, kalau bukan karena aku masih anak baru, sudah sedari tadi aku kabur." ucap Donghyuck.
"Ck, sudah kubilang kan, lebih baik sekalian saja seharian ini kau ambil cuti dan ikut berbelanja bersamaku dan Jeno." sungut Jaemin, si pemilik cafe.
Donghyuck menghela napasnya pelan sebelum memulai penjelasan panjang mengenai betapa ketatnya peraturan dalam perusahaannya, terutama untuk orang-orang yang bahkan belum ada satu tahun bekerja.
"Kalau begitu, saat aku lulus nanti aku tidak akan apply pekerjaan disana. Merepotkan." ucap Jisung yang langsung diiyakan oleh Chenle, kekasihnya.
"Benar! Lebih baik kerja dicafenya Jaemin hyung." sambung Chenle ceria.
"Siapa bilang aku akan menerimamu disini? Tidak! Apply saja dicafe lain, aku ogah memperkerjakanmu!"
"Ah, hyuuuungg jangan sepㅡ"
Donghyuck tersenyum manis melihat interaksi diantara teman-temannya. Terasa hangat dan familiar. Semuanya masih sama seperti saat mereka masih berada di SMA dulu.
Semua tapi satu hal.
Perlahan senyum Donghyuck meluntur.
Sekalipun situasi didepannya tergolong lucu, Jeno yang berusaha melerai Chenle dan Jaemin sedangkan Jisung malah asik mengompori keduanya, entah kenapa tawa yang keluar dari bibirnya terasa hambar. Ada sesuatu yang berat dihatinya, yang menahannya untuk mengeluarkan tawa asli miliknya.
Semua terasa sama, kecuali ketidakhadiran satu orang disana.
Sekelibat ingatannya bersama seseorang itu membuat dadanya seakan diremas sekarang.
Orang itu. Mark Lee. Kekasihnya… atau bukan?
Entahlah, Donghyuck sendiri tidak terlalu mengerti apakah hubungannya dengan Mark sudah bisa dikatakan kandas atau belum. Keduanya adalah sepasang sahabat semenjak usia keduanya masih terbilang sangat muda. Selama menjalin persabatan itu, timbulah rasa lain yang mendera keduanya. Jika selama ini Mark mengatakan ingin selalu melindungi Donghyuck karena ia menganggap Donghyuck sebagai adiknya, tiba-tiba motivasinya melindungi Donghyuck berubah menjadi karena ia ingin Donghyuck selalu ada disampingnya dalam keadaan baik dan bahagia. Begitu pula Donghyuck. Jika dulu ia kerap kali bersifat clingy karena ingin menggodai Mark yang tidak terlalu menyukai afeksi, lama-lama ia melakukannya karena keinginannya sendiri. Tak butuh waktu lama bagi keduanya untuk menyelami perasaan yang tengah melanda mereka, sehingga awal Donghyuck masuk SMA, hubungan sebagai sepasang kekasih sudah terjalin.
Sering cabut dari kelas bersama (sekalipun keduanya berada di tingkat yang berbeda), bermesraan tanpa kenal tempat dan waktu (bahkan teguran dari gurupun sudah tidak mempan lagi bagi mereka) serta mengisi acara sekolah dengan duet maut andalan pasangan itu adalah kegiatan yang menjadi trademark mereka.
Benar-benar pasangan yang digadang-gadang akan bertahan sampai maut yang memisahkan nantinya, begitulah semua orang menilai Mark dan Donghyuck.
Namun apa? Pil kenyataan pahit yang harus ditelan bulat-bulat oleh Donghyuck sekarang.
Mark yang terpaksa memilih untuk melanjutkan kuliahnya di Canada karena tuntutan keras dari keluarganya hanya bisa memberikan tatapan nanar saat Donghyuck, dan temannya yang lain, datang untuk mengantarnya di bandara.
Tidak ada janji terujar, tidak ada kata berakhir terlontarkan, hanya pelukan dan kecupan panjang pada dahi Donghyuck yang menjadi kalimat perpisahan keduanya. Masih terekam jelas dibenak Donghyuck raut wajah tidak rela dari Mark dan juga rasa sakit yang ditahannya agar tidak ada setetes air mata yang jatuh dari pipinya.
Sejak saat itu, Mark bagai hilang ditelan bumi.
Tidak ada yang tahu dimana ia sekarang, dan tidak ada yang bisa menghubunginya.
Benar-benar menghilang.
Donghyuck memejamkan matanya erat saat dirasa air mata akan jatuh begitu saja dari kedua matanya.
"Hyuck…"
Mungkin Donghyuck yang terlalu sibuk meratapi kisah cintanya sampai ia tak menyadari kalau kelima temannya sudah memaku perhatian mereka tepat padanya. Renjun dan Jeno sudah duduk diam disamping Donghyuck, sibuk mengelusi punggung serta tangan Donghyuck, yang lagi-lagi tak disadarinya, yang bergetar hebat.
"I miss him so bad, and I feel bad for ruining the mood now." Lirih Donghyuck.
"Bukan salahmu. Kita semua disini juga merindukan Mark, jadi kau sangat diperbolehkan untuk merindukannya juga." Ucap Renjun sebelum ia membawa badan Donghyuck kedalam pelukannya. Jeno, Jaemin, Chenle, dan Jisung tersenyum lembut sebelum ikut memeluk Donghyuck.
"Ya, sesak sialan!"
"Na Jaemin, siapa yang menyuruhmu untuk ikut memeluk kami? Ya Lee Jeno jangan injak kakiku!"
"A-akh, Jisungie rambutku tersangkut bajumu! Aw!"
Pelukan grup itu tidak berlangsung lama karena sungut-sungutan dari mereka sendiri. Saat semuanya sudah kembali duduk manis diposisi semula tawa perlahan terpecah dari keenam orang itu. Donghyuck membiarkan atmosfir nyaman meresapi dirinya, membawanya kembali berusaha untuk melupakan sosok itu dan mulai berfokus pada obrolan seru yang tengah dibahas kelima sahabatnya.
Enam orang tadi tengah sibuk mentertawakan kenangan masa lalu pada saat lampu café mati secara tiba-tiba. Teriakan kaget milik Renjun, Chenle, dan Jisung cukup membuat mereka kembali tertawa.
"Aku akan memeriksa listriknya bersama Jeno. Renjun-ah, bolehkah kau melihat peralatan gensetku? Coba kau periksa apa bisa digunakan. Bawa saja Jisung bersamamu, bagaimanapun tenaga ahli dalam permesinan cukup dibutuhkan sekalipun yang kita punya hanyalah bocah ingusan yang masih mempelajari ilmu mesin." Tutur Jaemin yang mendapatkan teriakan kesal dari Jisung, namun pemuda tinggi itu tetap menuruti apa yang dikatakan Jaemin.
Chenle dan Donghyuck menunggu keempat temannya tadi dalam diam. Donghyuck yang terlalu sibuk dengan smartphonenya tidak menyadari Chenle yang sudah beranjak dari tempatnya duduk. Itulah mengapa saat listrik kembali menyala, Donghyuck sedikit panik saat disadarinya kalau ia hanya sendiri didalam café.
"Chenle? Jaemin? Renjun? Jisung? Jeno? Ya, jangan menakutiku! Lampunya sudah menyala, dimana kalian?" teriak Donghyuck. Sepi menjadi balasan dari pertanyaan Donghyuck. Kakinya berderap ketakutan. Baru saja ia akan membuat keputusan untuk keluar café demi mencari Renjun dan Jisung saat pintu café terbuka.
"Hah, lama sekali sih. Kalian tidak tau ya aku kan tak—"
Kalimat Donghyuck bak tercekat ditenggorokannya, berbarengan dengan nafasnya.
Didepan pintu saat ini sudah berdiri seseorang yang paling dicintainya. Seseorang yang selalu menggentayanginya setiap malam. Seseorang yang paling ia rindukan.
"M-mark?"
Donghyuck yakin wajahnya saat ini tengah memberikan ekspresi yang sangat aneh, namun apa pedulinya. Perlahan ia mencoba berdiri, mendekati Mark yang masih berdiri diam didepan pintu.
"Mark?" Panggil Donghyuck lagi, kali ini dengan suara yang lebih yakin dari sebelumnya. Dan saat itu pula ia bisa melihat senyuman manis terbentuk diwajah rupawan Mark. Donghyuck tidak bisa membendung perasaannya lagi sehingga yang dilakukannya adalah berlari dan menggapai Mark secepat yang ia bisa. Mark menunggunya dengan tangan terbuka, menangkap Donghyuck yang melompat kearahnya dan mendekapnya erat.
Donghyuck terus merapalkan nama Mark bak mantra agar apa yang dirasakannya ini bukan mimpi, tangannya meremat bagian belakang baju Mark erat, seolah Mark bisa menghilang kapan saja jika ia melemahkan pegangannya.
Donghyuck sendiri juga bisa merasakan Mark yang merengkuhnya erat seolah Donghyuck adalah harta yang paling berharga yang dipunyainya. Kecupan kecil terus-menerus menyerang pucuk kepala Donghyuck.
Keduanya tetap pada posisi mereka untuk beberapa menit, sebelum Mark yang melepaskan pelukannya. Kini Donghyuck bisa memandang leluasa wajah tampan yang paling ia rindukan, wajah yang selalu menghiasi mimpinya dimalam hari.
"Jangan menangis."
Donghyuck memegang kedua pipinya. Pada saat itulah ia baru sadar kalau aliran sungai sudah beranak-anak dikedua pipi tembamnya. Ia sama sekali tak sadar jika ia sudah menangis, bahkan waktu tepatnya ia mulai menangispun Donghyuck tak tahu.
Tangan milik Mark terangkat, mengelus lembut pipi Donghyuck sebelum meraih kedua tangan Donghyuck untuk digenggamnya erat.
"Jangan menangis, aku disini sekarang." Ucap Mark sembari mencium lembut punggung tangan Donghyuck. "Kau merindukanku, hm?"
Jika bukan karena rasa haru dan rindu yang tengah membuncah didadanya, mungkin Donghyuck akan sesegera mungkin memukul kepala Mark kesal. Menurutnya saja?!
"Dasar bodoh. Kau meninggakanku, tak memberiku kabar apa-apa selama lima tahun ini, dan kau masih bisa bertanya apa aku merindukanmu?! Bahkan sangat rindu sudah tidak bisa menggambarkan perasaanku selama ini, idiot." Marah Donghyuck. Dengan paksa dilepasnya tangannya dari genggaman Mark, lalu dipukulnya dada Mark gemas. "Bahkan diusia setua ini tidak membuatmu sedikit lebih pintar."
Mark tertawa pelan, dibiarkannya pukulan-pukulan yang terus menyerang dadanya. "Aku tau. Aku juga merasakannya. Maafkan aku."
"Sudah tau pakai ditanya. Setidaknya jelaskan kau kemana saja selama ini, atau cium aku, atau apalah selain menanyakan apakah aku merindukanmu atau tidak. Basa-basimu menyebalkan."
Mark membesarkan tawanya, perlahan senyumpun ikut mengembang dibibir Donghyuck. Tatapan Donghyuck melembut melihatnya.
Lima tahun ia kehilangan sosok yang ada didepannya. Lima tahun ia menanggung rasa rindu untuk melihat tawa sosok yang didepannya.
Lima tahun bukanlah waktu yang singkat.
Tapi itu semua serasa terbalas dengan Mark yang ada didepannya sekarang, mencium bibirnya lembut sembari menangkup kedua pipinya. Donghyuck bisa merasakan senyum dibibir Mark, sebelum lelaki yang sedikit lebih tinggi darinya itu melumat pelan bibir atasnya. Donghyuck membalasnya dengan ikut menggigiti bibir bawah Mark, berusaha untuk mengemuti bibir tipis Mark. Hal itu berhasil membuat Mark terkekeh dalam ciuman mereka, membawa perasaan menggelitik kepada Donghyuck.
Terlalu asik dalam ciuman manis mereka membuat keduanya tak menyadari kalau seluruh sahabat mereka sudah berkumpul mengamati adegan manis milik Donghyuck dan Mark. Jika bukan karena suara deheman dari Renjun, mungkin Donghyuck tidak akan pernah melepaskan kalungan lengannya pada bahu lebar Mark.
"Baiklah Hyuck dan Mark hyung, kurasa waktu untuk kalian saling merindu sudah habis. Sekarang saatnya bestfriends time." Ujar Renjun yang membuat tawa mengalun dari semua orang disana.
.
.
.
"Aku masih tidak percaya kalau kau menghubungi Jeno dulu untuk mengajak kita semua berkumpul." Sungut Donghyuck kesal. Tangannya tengah sibuk mengancingi piyama tidur milik Mark pada tubuh kecilnya, namun karena faktor jengkel lelaki bersurai kecoklatan itu malah salah mengancing.
Mark yang melihatnya hanya tertawa sembari menggeleng, sedikit tak menyangka lima tahun sama sekali tak mengubah sosok Donghyuck yang dicintainya itu. Tawanya semakin membesar ketika Donghyuck mengerang frustasi karena harus membuka seluruh kancing piyamanya agar bisa dikancingkan lagi dengan benar.
"Aku hanya ingin memberikan kejutan untukmu." Ucap Mark. Lelaki itu melempar handuk yang tadi dipakainya untuk mengeringkan rambutnya asal sebelum menghampiri Donghyuck untuk membantu pemuda itu memakai piyamanya dengan benar.
"Siapa yang butuh kejutan darimu. Aku hanya ingin bertemu denganmu secepatnya. Bayangkan betapa kesalnya aku saat Jeno bilang jika dia yang paling pertama tau. Lalu anak itu malah memberi tahu yang lain dan menyembunyikan berita kedatanganmu dari aku. Demi Tuhan Mark! Bahkan kau sudah sampai sejak dua hari yang lalu! Tapi aku baru bisa melihatmu hari ini." Mark tersenyum mendengar sungut-sungut dari Donghyuck. Rasanya sangat lucu melihat pemuda itu terus melayangkan protesnnya sejak di café tadi hanya karena dirinya seoranglah yang tidak tahu kabar kedatangan Mark.
"Karena aku ingin mengejutkanmu, sayang. Haruskan sampai berbusa kujelaskan padamu kalau ini semua adalah rencanaku untuk mengejutkanmu, hm?"
"Tetap saja! Harusnya aku juga diberi tahu!"
"Jika kau tau namanya sudah bukan kejutan lagi Lee Donghyuck." Dengus Mark geli.
Donghyuck yang merasa kalah dalam perdebatan ini kembali melayangkan sungut-sungut pelan yang membuat Mark gemas setengah mati. Lelaki itupun mendorong tubuh Donghyuck yang hanya terbalut atasan piyama miliknya, lalu dengan cepat ia menindih tubuh yang lebih kecil darinya itu.
"Ya! Beraatt." Teriak Donghyuck.
"Biar. Kau sangat bawel dari tadi, telingaku sampai panas mendengarkan gerutuanmu." Balas Mark dengan nada usil yang ketara.
"Iya, iya! Aku minta maaf! Sekarang angkat badanmu, badanku sudah remuk!"
Mark kembali tertawa sebelum ia menumpukan kedua lengannya pada sisi tubuh Donghyuck, membuatnya berada diatas Donghyuck. Matanya menangkap ekspresi lega dari Donghyuck sebelum sosok yang ada dibawahnya itu ikut menatapi matanya. Donghyuck mengangkat tangannya, meletakkannya pada leher belakang Mark untuk ia tarik mendekat padanya.
Entah itu sudah kecupan keberapa yang dilakukan Donghyuck dan Mark sejak pertama kali mereka berjumpa di café, tapi rasa yang dirasakan keduanya masih sama. Ribuan kupu-kupu masih terasa menggelitiki tubuh bagian atas keduanya.
Kecupan polos itu lama-lama memanas hingga Mark sudah memainkan lidahnya dalam rongga hangat mulut Donghyuck, berusaha mengecap rasa yang ada disana. Permainan lidah Mark itupun memberikan efek yang sedikit berlebihan pada Donghyuck. Air liur sudah membanjiri dagu Donghyuck, eranganpun sudah sedari tadi mengalun manis dari balik bibirnya. Permainan bibir Mark tidak hanya berhenti pada kedua belah manis Donghyuck. Lelaki itu mulai menciumi leher Donghyuck, memeberikan isapan dan gigitan kecil pada perpotongan leher Donghyuck dengan bahunya. Erangan Donghyuck kelamaan mulai berubah menjadi desahan, nama Mark terus menerus terucap dari balik bibir bengkaknya, membuat Mark semakin bersemangat dalam memberikan ruam pada leher Donghyuck.
Entah berapa lama keduanya habiskan dalam aktivitas itu. Setelah memberikan kecupan singkat terakhir pada bibir Donghyuck, Mark menjauhkan wajahnya untuk menikmati hasil karya yang dibuatnya. Pandangan sayu, pipi memerah, bibir bengkak, serta leher yang penuh ruam keunguan, Mark tersenyum puas sebelum mengambil posisi disamping Donghyuck, meraih tubuh itu agar bisa masuk dalam dekapannya.
"Sialan. Aku tidak tau kau ternyata sehebat itu dalam hal seperti ini, padahal dulu yang sering kita lakukan hanya saling menempelkan bibir masing-masing. Kau berlatih dengan orang lain ya?" tuduh Donghyuck dibalik nafas putus-putusnya.
"Enak saja. Aku selalu menyimpan keperawanan bibirku di Canada hanya untukmu. Lagipula aku sibuk belajar disana agar bisa kembali kesini dengan cepat." Balas Mark cepat. Ia mengeratkan dekapannya kala tawa halus mengalun lembut dari Donghyuck.
"Kau belajar disanapun dengan orang lain tak apa. Lagipula hubungan kita saat itu tidak jelas. Bahkan saat inipun tidak jelas."
Mark menjauhkan tubuh Donghyuck darinya, sedikit terperangah dengan ucapan Donghyuck. Lelaki didepannya itupun tidak berani memandang Mark.
"Bahkan disaat aku sudah membawamu ke apartmenku dan nyaris melakukan yang tidak-tidak padamu kau bilang hubungan kita tak jelas? Karena seingatku kita tidak pernah memutuskan apapun yang terjadi pada kita."
Donghyuck sedikit tersentak mendengarnya. Dengan ragu, ia kembali membawa arah pandangnya pada manik indah milik Mark. Tatapan lembut yang Mark berikan padanya membuat jantung Donghyuck seakan menggila didalam dadanya.
"Maaf karena aku yang tidak pernah bisa menghubungimu. Maaf karena membuatmu harus menungguku tanpa kepastian apa-apa selama bertahun-tahun. Maafkan aku. Tapi satu hal yang perlu kau tau Lee Donghyuck. Bahkan tak pernah satu haripun terlewat tanpa aku memikirkan dan merindukanmu. Tak pernah satu haripun aku berhenti mencintaimu. Aku tahu kaupun demikian. Oleh karena itu aku berusaha agar bisa meyakinkan keluargaku untuk kembali kesini, kembali padamu. Sekarang aku sudah disini, aku akan membayar semua rasa rindumu padaku. Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu lagi dan jika saatnya sudah tiba nanti, aku akan mengikatmu agar kau juga tidak bisa pergi meninggalkanku."
Donghyuck tersenyum lebar setelah Mark menyelesaikan pidato penuh cintanya itu. Ia meraih punggung Mark, berusaha mempersempit jarak yang ada diantara keduanya.
"Tanpa kau ikatpun aku tidak akan kemana-mana bodoh. Kurangkah lima tahun ini sebagai bukti bahwa aku tidak bisa lepas dari bayanganmu?!" bentak Donghyuck main-main. Ia bisa merasakan getaran halus pada dada Mark, tanda pemuda itu tengah tertawa.
"I love you so much, Lee Donghyuck."
"Well, me too Mark Lee."
.
END
.
Ini cerita ternajis yang pernah kutulis HIDIH tp yauda tetep upload karena aku gatau malu HEHE
Hai semua! Terima kasih sudah mampir dan mau baca cerita tidak berkualitas ini! Semoga kalian tidak muntah ya bacanya, muah!
