LIBRARY OF MARKHYUCK
ㅡDisarankan membaca cerita ini sembari mendengarkan lagu All At Once - Whitney Houston!ㅡ
Pairing: MarkHyuck
Warning: typo(s), OOC, cringe, yaoi, angst
DLDR, Happy Reading
Cr: foxpudu
.
.
.
Memiliki sahabat yang selalu ada disampingnya serta menjalin hubungan dengan soulmate yang dicintai dan mencintainya, membina hubungan kasih sayang itu dalam bahtera rumah tangga yang akan terus bertahan bahkan sampai keduanya meninggalkan dunia fana ini.
Itulah harapan terbesar seorang Lee Donghyuck.
Terbiasa sendiri tanpa kasih sayang yang melingkupi dirinya membuatnya hanya mengharapkan seseorang yang mampu menyayanginya hingga akhir hidupnya. Tak pernah sekalipun Donghyuck merasakan kasih sayang bahkan dari kedua orang tuanya. Yang ia tau, sekalipun kedua orang tua adalah sepasang soulmate, keduanya tidak pernah saling mencintai. Oleh karenanya mereka berdua menyibukkan diri mereka dalam pekerjaan tanpa memperdulikan pasangan dan anak mereka.
Disekolahpun tidak ada orang yang benar-benar mau bergaul dengannya. Sekalipun sifatnya periang serta senang melucu, semua orang memandangnya sebagai anak yang menyebalkan. Belum lagi kenyataan tentang kedua orangtuanya membuatnya sedikit dibully sebenarnya.
Tak pernah sekalipun Donghyuck meratapi nasibnya, atau bersedih akan hidupnya. Pemikiran positive selalu bertahan dalam benaknya walau terkadang pikiran-pikiran jahat mengukungnya dan membuatnya sedikit kehilangan keceriaannya. Namun pada akhirnya ia pasti mampu mengatasinya karena ia yakin, diluar sana pasti ada yang mau menerimanya dan menjadikannya sebagai teman serta keberadaaan soulmatenya yang ia yakini pasti akan mencintainya nanti.
Itulah mengapa, saat ia menginjakkan kakinya pada sekolah menengah atas dan mampu menjalin pertemanan dengan tiga orang baru dalam hidupnya, Jeno, Renjun, dan Jaemin, ia semakin yakin dengan kehidupannya. Ia semakin yakin kalau pada masanya nanti ia akan dilimpahi kasih sayang dari setiap orang yang ada disekitarnya.
Satu tahun ia habiskan waktunya bersekolah dan bermain dengan tiga sahabatnya itu. Tidak pernah Donghyuck merasakan kebahagiaan sebagaimana yang dirasakannya setahun belakangan ini. Mereka selalu bersama, tidak ada satu rahasiapun tertutupi diantara keempat orang tadi. Bahkan sampai kepada orang tua serta harapan Donghyuckpun, ketiga temannya itu tahu, dan mereka tetap menerimanya.
Pada saat yang bersamaan pula, Donghyuck merasakan sebuah perasaan baru. Perasaan yang tidak ia rasakan saat ia bersama ketiga sahabatnya. Perasaan yang muncul kala ia menatap salah satu kakak kelasnya, Mark Lee.
Saat Donghyuck bertanya kepada Jaemin, perasaan apa itu, Jaemin hanya tertawa lalu mengacak rambut Donghyuck gemas, "Itu adalah perasaan suka, kau menyukai Mark Sunbae."
Pipi Donghyuckpun memerah mendengarnya, ia menyukai seseorang? Mark Lee? Apakah kakak kelasnya itu adalah soulmatenya? Donghyuck menanyakan segalanya pada Jaemin, tentang apa yang dirasanya. Jaemin berkata, rasa suka saja bukan berarti membuat Mark menjadi soulmate Donghyuck. Namun tidak ada salahnya mencoba untuk mendekatinya.
Dan itulah yang Donghyuck lakukan.
Donghyuck mulai mengangkat perbincangan dengan kakak kelasnya itu, mengajaknya untuk makan bersama, bahkan membuatkannya bekal. Awalnya Mark hanya menanggapinya dengan dingin, tapi semakin lama Mark mulai membiarkan Donghyuck ada disampingnya. Tidak sepenuhnya menerima keberadan Donghyuck, namun setidaknya Donghyuck tidak pernah merasa tertolak oleh Mark.
Awalnya Renjun seperti tidak menyenangi kenyataan bahwa Donghyuck sekarang lebih senang makan siang bersama Mark, belum lagi kenyataan tentang Mark yang adalah salah satu anggota kelompok kakak kelas yang dicap nakal, membuat Renjun tidak setuju Donghyuck dekat-dekat dengan Mark. Namun Donghyuck mampu menenangkan Renjun, mengatakan padanya bahwa Mark adalah sosok yang baik. Jeno dan Jaeminpun membantu Donghyuck meyakinkan Renjun hingga akhirnya lelaki dengan tinggi badan terendah dalam kelompok mereka itu membiarkan Donghyuck terus mengintili Mark.
Beberapa minggu kemudian secara ajaib Mark yang terlebih dahulu datang kekelas Donghyuck untuk mengajak Donghyuck makan siang bersama. Sebelumnya tidak pernah sekalipun Mark berinisiatif mendekati Donghyuck, karena itu Donghyuck sangat bersuka cita dengan ajakan Mark. Dan kala mereka tengah menikmati makan siang mereka perkataan Mark yang tiba-tiba membuat jantung Donghyuck seolah behenti berdetak.
"Jadilah kekasihku."
Dua kata yang membuat Donghyuck langsung menghamburkan tubuhnya pada Mark, memeluk lelaki itu erat sembari berkata iya berkali-kali.
Ketika Donghyuck menceritakan hal itu pada ketiga sahabatnya, Jaemin mengernyit padanya.
"Mark sunbae memintamu menjadi kekasihnya?"
Donghyuck mengangguk antusias, mengharapkan ucapan selamat dari ketiga sahabatnya. Namun pada akhirnya ia hanya mendapatkannya dari Jeno. Renjun dan Jaemin hanya mendiami Donghyuck sebelum saling berpandangan.
"Tidakkan itu aneh? Mark sunbae terkenal karena ketidak percayaannya pada rasa cinta terlebih pada ikatan soulmate." duga Jaemin
"Bagaimana caranya memintamu menjadi kekasihnya? Apa ia menyatakan perasaannya?" tanya Renjun setelahnya.
Donghyuck hanya menggeleng dan menceritakan detail kejadian itu pada ketiga sahabatnya. Jaemin dan Renjun memintanya untuk berhati-hati, tanya pada Mark apa perasaannya yang sesungguhnya pada Donghyuck.
Dan tentunya Donghyuck melakukannya.
Saat pertanyaan itu keluar dari belah bibirnya, Mark hanya tersenyum sebelum mengecup kening Donghyuck dan melangkah pergi darinya. Seharian itu Donghyuck tidak bertemu Mark, membuatnya mulai memikirkan kembali ucapan Jaemin dan Renjun. Namun keesokan harinya Mark tetap menjemputnya dirumah, bersikap bagaimana ia biasanya seolah pertanyaan Donghyuck kemarin tidak pernah ada. Karena itu Donghyuck tidak pernah mempertanyakan perihal itu lagi, dan karena itu pulalah Jaemin dan Renjun sedikit kesal padanya.
Dua bulan berlalu, hubungan Donghyuck dan Mark semakin manis tiap harinya. Mark yang selalu bertingkah gentle pada Donghyuck, memperlakukan Donghyuck bagai permata. Donghyuck tidak pernah merasa sebahagia sekarang. Sekalipun karena hubungannya dengan Mark pula yang membuatnya menjauh dari Jeno, Renjun, dan Jaemin.
Mungkin awalnya hanya Renjun dan Jaemin yang memandang hubungannya dengan Mark terlalu aneh, namun kelamaan Jeno yang selalu mendukungnya semakin berpihak dengan Renjun dan Jaemin. Hal ini dikarenakan Mark yang tak pernah mengatakan bahwa ia mencintai Donghyuck dan bagaimana Mark yang meminta Donghyuck untuk tidak pernah mengungkapkan rasanya pada Mark, karena Mark beralasan dirinya malu.
Terlalu tidak masuk akal, begitulah kata ketiga sahabat Donghyuck.
Namun Donghyuck yang sebelumnya tidak pernah merasakan dicintai sebelumnya menolak argumen ketiga sahabatnya, ia bersikeras Mark memang pemalu dan pastinya mencintainya. Mungkin Mark tidak pernah memintanya mengungkap rasa cintanya karena ia takut Donghyuck bukan soulmatenya dan nantinya malah berakhir menyakiti soulmate asli Donghyuck.
Karena ketika salah satu dari pasangan soulmate itu menolak keberadaan pasangan lainnya, orang tersebut akan merasakan penyiksaan yang teramat pada tubuhnya.
Dan karena pernyataan Donghyuck itupula Renjun semakin emosi.
"Jadi maksudmu sekalipun kau punya soulmate diluar sana kau tetap ingin bersama Mark? Hanya karena kau mencintainya?"
"Menjadi soulmate saja tidak menjamin rasa cinta itu tumbuh Renjun, lihat saja kedua orang tuaku! Aku mencintai Mark sebagaimana Mark mencintaiku. Tidak pernahkah kalian melihat sikapnya padaku?" seru Donghyuck frustasi. Ia lelah dicecar oleh ketiga sahabatnya untuk mengakhiri hubungannya dengan Mark.
"Bersikap seolah-olah mencintai seseorang bukanlah perkara sulit Lee Donghyuck. Apalagi jika yang melakukannya adalah Mark Lee. Bahkan kau sendiri tau reputasinya." ucap Jaemin pedas.
"Kalau begitu kenapa dulu kau menyarankanku untuk mendekatinya?" tanya Donghyuck tak kalah pedas.
"Mana aku tahu kalau laki-laki itu akan memainkanmu! Kubilang untuk kau mendekatinnya karena aku tahu suatu saat nanti kau akan menyerah pada Mark karena lelaki tu pasti akan mengabaikanmu! Mana aku tahu kalau pada akhirnya dia malah seperti ini!"
"Mark tidak memainkanku!"
"Donghyuck berpikirlah jernih. Bahkan kalaupun memang alasan Mark adalah seperti yang kau katakan tadi rasanya terlalu aneh. Karena seseorang menyakiti soulmatenya apabila ia menolaknya, bukan karena ia menyatakan cintanya pada orang lain. Bukankah itu cukup membuktikan kalau ia tak benar-benar mencintaimu? Mungkin Mark sedang taruhan saat ini untuk mempermainkanmu."
"Tutup mulutmu Lee Jeno." seru Donghyuck kasar. Ia berdiri dari kursinya dengan tangan yang terkepal erat, berusaha beranjak dari sana. "Tidakkah kalian keterlaluan? Kalian ini sahabatku atau apa hah?"
Itu adalah saat terakhir Donghyuck bersama ketiga sahabatnya. Sejujurnya ia sangat menyesal sudah membentak Jeno dan juga mempertanyakan hubungan persahabatan mereka, ia tahu ia membuat hati ketiga orang itu sakit. Bagaimana ketiganya menghindari Donghyuck sudah cukup menggambarkan bahwa ketiganya mungkin membencinya sekarang. Namun keberadaan Mark disampingnya setidaknya sedikit mengalihkannya dari rasa menyesalnya.
Semua terasa sempurna sampai pada saat Mark tiba-tiba menghentikan langkahnya ditengah koridor ketika berjalan berdua dengan Donghyuck menuju kelasnya. Donghyuck menatap heran Mark yang tiba-tiba melepas genggaman tangannya sebelum mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.
"Hyung?"
Mark yang tadinya sibuk dengan ponselnya akhirnya menatap Donghyuck. Tatapan itu, tatapan yang selalu Mark berikan saat dimana Donghyuck masih baru berkenalan dengannya. Donghyuck melangkah mundur melihatnya.
Tak lama koridor tiba-tiba dipenuhi oleh banyak orang. Semua teman sekelompok Mark ada disana.
"Ayo kita akhiri semua ini Lee Donghyuck."
Donghyuck menatap Mark tidak percaya. Bagaimana mungkin kalimat seperti itu bisa keluar dari bibir orang yang selama tiga bulan ini bersikap bak pemujanya itu. Apa tidak bulan ini Mark benar-benar hanya mempermainkannya?
Bisik-bisik dari orang yang disana terdengar jelas ditelinga Donghyuck, membuatnya sedikit terintimidasi. Belum lagi tatapan merendahkan dari teman-teman Mark yang ditujukkan khusus untuknya.
"K-kenapa?" bisik Donghyuck, namun nampaknya masih mampu didengar Mark karena lelaki itu menghela napas pelan.
"Karena hari ini adalah hari terakhir masa taruhanku."
Tubuh Donghyuck bak tersambar petir. Perkataan Mark terngiang-ngiang bersamaan dengan wajah ketiga sahabatnya. Jadi Jeno, Renjun, dan Jaemin selama ini benar?
Donghyuck bisa merasakan belaian lembut tangan Mark pada kedua pipinya, namun ia tak mampu menatap wajah Mark.
"Terima kasih atas tiga bulannya, karena dirimu aku bisa memenangkan taruhan ini. Sekalipun terkadang kau sangat menyebalkan, setidaknya hari ini semua terbayar dengan kemenangan ini."
Donghyuck bisa merasakan tatapan tajam dari arah belakangnya. Iapun menoleh dan menemukan ketiga (mantan) sahabatnya disana. Ia bisa melihat tatapan mereka yang seolah meneriaki Donghyuck dengan "Sudah kubilangkan, dasar tolol!" Tak butuh waktu lama sejak Donghyuck menjatuhkan tatapannya pada mereka, ketiganyapun memutuskan untuk pergi dari sana. Meninggalkan Donghyuck sendiri ditengah kerumunan yang menatapnya rendah dengan cibiran dimulut mereka.
"Jadi selama ini hanya palsu?"
Hanya itu yang mampu Donghyuck katakan dikala hatinya rasanya tengah ditusuk oleh ribuan jarum tak kasat mata. Rasanya menyakitkan. Kepalsuan Mark dan juga kebodohan dirinya yang menukar ketulusan sahabatnya dengan cinta palsu Mark.
"Apa yang kau harapkan? Seseorang mencintaimu? Aku mencintaimu? Jangan bercanda. Bahkan aku sebenarnya kasihan terhadap siapapun soulmatemu nanti, mungkin ia akan bernasib sama seperti kedua orang tuamu. Aku tidak mencintaimu Donghyuck, dan aku tak sudi melanjutkan hubungan ini. Untuk itulah mari kita akhiri permainan bodoh ini."
Dan pada saat itu pulalah Donghyuck berlari, berlari untuk menghindari kenyataan pahit yang dikelilingi tawa mengejek padanya. Tak peduli dengan tujuannya sekarang, yang ingin Donghyuck lakukan hanyalah pergi dari sana.
Sebuah taman menjadi tujuan akhir Donghyuck, karena kakinya sudah tak mampu lagi membawanya berlari. Sebagaimana kakinya yang sakit, begitu pula hatinya. Donghyuck meremas dadanya kuat-kuat, mencoba mengalihkan rasa sakitnya sekalipun tidak berpengaruh. Ia terduduk diam disana, tidak ada raungan, tidak ada air mata. Yang Donghyuck lakukan benar-benar mencoba mencerna segalanya.
Dan saat ia mulai sadar dengan kenyataan Mark yang memutuskan, bahkan menolaknya, sebuah rasa sakit yang tak tertahakan menyerang dada Donghyuck. Rasa sakitnya berbeda dengan rasa sakit karena perkataan Mark tadi. Rasa sakit pada dadanya seolah memutus napasnya dan membakar tenggorokannya. Rasa gatal pada tenggorokannya membuat Donghyuck terbatuk keras. ia menutup mulutnya, berusaha untuk tidak menimbulkan kerusuhan karena batuk hebohnya. Saat rasa sakitnya sedikit mereka, Donghyuck menjauhkan tangannya dan melihat bercak merah darah ditengah telapak tangannya yang mulai berwarna kehitaman bak terkena luka bakar. Melihatnya membuat Donghyuck tersadar. Ia tertawa keras karenanya.
Rasa sakit mengerikan. Batuk darah. Sekujur tubuh yang terasa seperti terbakar, yang selalu diawali dari telapak tangan.
Ini adalah tanda bahwa seseorang telah ditolak oleh soulmatenya.
Mark adalah soulmate Donghyuck.
Dan Donghyuck hanya bisa tertawa miris dengan keadaannya sekarang.
Ketika ia tiba dirumahnya, tak ada yang menyambutnya seperti biasa. Ia melakukan kegiatannya sebagaimana biasanya sekalipun tiap beberapa jam sekali rasa sakit itu kembali dengan rasa terbakar pada tubuhnya yang mulai terasa nyata.
Keesokkan harinya ia berangkat sekolah sendiri pertama kalinya sejak ia menginjakkan kakinya di bangku sekolah menengah atas. Tentu saja karena dulu selalu ada Jeno, Renjun, dan Jaemin yang menjemputnya serta Mark kala mereka masih menjalani hubungan palsu itu.
Hampir semua orang berbisik-bisik sembari melemparkan cemooh kala Donghyuck melintas. Namun toh Donghyuck tetap mencoba memberikan senyumnya pada orang-orang itu. Dikelaspun ia tetap pada sifat cerianya sekalipun tak ada satu orangpun yang mempedulikannya.
Kala rasa sakit itu muncul saat ia masih disekolah, Donghyuck sekuat tenaganya menahannya. Sekalipun rasanya dadanya seolah dilempari batu besar, tenggorokannya yang terasa disobek dari dalam, dan juga tubuhnya yang seolah tengah dibakar ia tetap mencoba mendiaminya. Sekalipun rasa sakit itu tidak hanya menyerang fisiknya, namun juga hatinya.
Sekarang sudah terhitung satu bulan sejak Donghyuck tertolak.
Hampir seluruh badannya sudah berwarna kehitaman, ia selalu menggunakan hoodie kesekolah agar tak ada yang menyadarinya (sekalipun sebenarnya tak ada juga yang mempedulikannya). Rasa sakit yang Donghyuck rasakan juga semakin tak tertahankan. Setiap hari yang ia lakukan dirumah adalah mengerang kesakitan sendirian, menjaga tenaganya agar keesokan harinya ia tetap bisa bersekolah seperti biasanya.
Badannya semakin kurus, kulit wajahnya semakin pucat tiap harinya sekalipun itu sangat bertolak dengan tubuh Donghyuck lainnya yang sudah berwarna kehitaman.
Donghyuck sadar waktunya tak lama lagi. Mungkin hari ini adalah hari terakhirnya disekolah sebelum besok ia benar-benar tak sanggup kemana-mana lagi dan hanya bisa berbaring menunggu kematiannya sendirian.
Setelah sekian lama berperang dengan dirinya sendiri, Donghyuckpun memutuskan untuk bertemu empat orang yang paling berpengaruh dalam hidupnya.
Tiga orang pertama adalah Jeno, Renjun, dan Jaemin.
Ia berjalan kearah ketiga orang yang tengah memakan makan siangnya. Ia terbatuk pelan, berusaha menarik perhatian ketiganya. Bisa ia lihat bagaimana ketiganya hanya menatapnya malas, membuktikan dugaannya bahwa ketiganya memang membencinya sekarang.
"Apa maumu? Mana kekasih yang kau bilang mencintaimu itu?" sapa Renjun pedas.
Sekalipun rasanya sangat menyakitkan mendengar ucapan pedas Renjun, Donghyuck tersenyum lebar sebagaimana yang biasanya yang ia lakukan.
"Aku mau meminta maaf."
Ia bisa melihat tawa meremehkan Jaemin dan Renjun serta dengusan malas Jeno, namun itu tak membuatnya gentar.
"Aku meminta maaf atas perlakuanku serta ketidak percayaanku pada kalian. Jujur saat itu aku sangat menyesal karna bertindak kasar pada kalian, namun apa yang bisa kalian harapkan dari seseorang sepertiku yang haus akan kasih sayang ini? Kalian bertiga tau mimpiku, yaitu memiliki kekasih yang mencintaiku. Jika kalian ada diposisiku apa yang akan kalian lakukan selain berusaha membela Mark? Aku tahu itu sama sekali tak membenarkan perlakuanku. Oleh karena itu aku ingin meminta maaf pada kalian. Tak apa jika kalian tak mau memaafkanku. Kalau begitu selamat tinggal."
Jika hati Donghyuck terasa sangat sakit kala ia sadar tak ada tindakan dari ketiga orang tadi sekalipun ia sudah meminta maaf, ia menganggap sakit itu dari tertolaknya Donghyuck.
Selanjutnya adalah bertemu Mark.
Donghyuck mencoba untuk mencari Mark dimana-mana, namun ia tak menemukan pemuda itu. Ketika Donghyuck sudah akan menyerah, ia mengingat tempat dimana dirinya dulu selalu makan siang bersama dengan Mark. Atap sekolah.
Dan entah dewi fortuna mana yang pada akhirnya mau memihak Donghyuck, ia akhirnya menemukan Mark. Rasa sakit tiba-tiba saja menyerangnya, namun Donghyuck sudah terbiasa menahannya. Ia berjalan kearah Mark yang sekarang sudah menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Hai Mark hyung."
Suara anginlah yang menyapa Donghyuck. Ia menghela napasnya, tahu Mark tidak akan membalas sapaannya.
"Aku, aku ingin meminta maaf hyung apabila tiga bulan waktu itu ternyata merepotkanmu." Donghyuck mencoba untuk menatap mata jernih Mark. Ia mencoba memberikan senyum terbaiknya pada sosok soulmatenya itu.
"Tiga bulan kemarin adalah saat paling indah dalam hidupku, karena itu aku juga akan mengucapkan terima kasih." Donghyuck menghela napasnya saat tenggorokannya mulai terasa sakit, ia bisa melihat tatapan Mark yang entah mengapa tiba-tiba melembut.
"Terima kasih karena sudah bersikap seolah mencintaiku. Sekalipun itu semua bohong, jujur aku sangat menyukainya karena bagaimanapun juga-" Donghyuck beranjak dari tempatnya, mengecup pelan pipi Mark, "-aku mencintaimu Mark hyung."
Donghyuck akhirnya benar-benar pergi dari atap, membiarkan Mark yang masih terdiam sejak ia mengecup pipinya. Rasa sakit yang menderanya kembali dengan kuat. Donghyuck dengan kekuatannya yang tersisa berusaha untuk pulang kerumahnya yang sepi itu.
Sesampainya dirumah, Donghyuck mengganti bajunya dengan kemeja besar berwarna putih dan juga celana panjang yang memiliki warna senada. Ia berbaring pada kasurnya, menikmati rasa sakit yang menderanya.
Kedua orang tuanya yang selalu sibuk sendiri.
Ketiga sabahatnya yang membencinya.
Soulmatenya yang menolaknya.
Donghyuck tersenyum dengan kenyataan yang dihadapinya.
Mungkin memang ia sudah ditakdirkan sendirian seumur hidupnya. Ia bisa merasakan setitik air mata jatuh dari matanya.
Air mata pertamanya sepanjang hidupnya.
Donghyuck menutup matanya, membiarkan dirinya kembali disiksa dengan rasa terbakar, tertusuk, dan terbatuk sendirian, menunggu kematian menjemputnya.
Ketika napasnya memberat, darah yang sudah mengotori kemeja putihnya, serta rasa terbakar yang sudah mencapai lehernya, ia tahu semua akan berakhir.
Donghyuck membuka matanya, membiarkan dirinya merasakan bagaimana nyawanya dicabut. Bayangan kenangan indah dengan ketiga sahabatny dan Mark membuatnya sedikit tenang sekalipun rasa sakit yang menderanya sekarang sudah melampaui batas. Pemandangan didepannya yang perlahan mengabur menjadi penanda padanya. Bahkan saat kematiannyapun ia sendirian.
.
END
.
HAI!
Ini dibikin happy ending apa udah bigini aja ni?_.
maap ya kalau ceritanya lebay bin alay wakakkkakakak
byebye~
