LIBRARY OF MARKHYUCK

Aku Menyukaimu

Pairing: MarkHyuck

Warning: typo(s), OOC, cringe, yaoi

DLDR, Happy Reading

Cr: foxpudu

.

.

.

Donghyuck menatap pria tampan didepannya dengan ekspresi yang biasa disebut Renjun, sahabatnya, sebagai ekspresi menghujat.

Oh tolong jangan salahkan Donghyuck.

Tidak setiap hari ia menerima paksaan dari pria didepannya ini, yang notabene kakak kelasnya, untuk menjumpainya di atap sekolah.

"Jadi Mark hyuung, ada apa denganmu yang tiba-tiba ingin menemuiku begini?" Tanyanya dengan nada suara menyebalkan.

Mark, sang kakak kelas tampan, mencoba mengangkat kepalanya yang sedari tadi ia tundukkan. Donghyuck sedikit melepas tingkah 'mari merendahkan Mark Lee' kala dilihatnya wajah Mark yang seperti tengah melawan sesuatu yang mengerikan diotak kecilnya.

"Um—"

Melihat ekspresi Mark serta ketidakmampuannya dalam merangkai kata cukup untuk Donghyuck melempar semua tampilan menyebalkannya tadi. Ia melangkah maju mendekati Mark, mencoba memberikan ketenangan agar pria itu bisa menyampaikan apa yang tengah mengganggunya.

Ya bagaimanapun juga, sekalipun Donghyuck cukup kesal karena tingkah Mark yang tiba-tiba saja menariknya disaat ia sedang memakan bekal miliknya, ia tetap khawatir melihat kakak kelasnya yang sepertinya tengah dirundung masalah hebat.

"Tolong dengarkan aku, karena aku tak mau mengulanginya."

Donghyuck mengernyitkan dahinya, namun kepalanya tetap ia anggukkan sebagai tanda untuk Mark melanjutkan kalimatnya.

"Aku menyukaimu."

Selama ini, teman-temannya memang kerap kali mengatakan bahwa Donghyuck adalah anak yang cerdas. Kecerdikannya tak terlawan, dengan kemampuan berpikir cepat disetiap kondisi dan waktu.

Mungkin selama ini mereka salah. Mereka terlalu melebih-lebihkan, karena demi Tuhan.

Donghyuck benar-benar tak bisa berpikir sekarang.

Mark Lee? Pria tampan idola sejuta umat disekolahnya? Sang gitaris kesayangan OSIS yang kerap kali memintanya mengisi acara-acara yang diselenggarakan sekolah? Menyukainya?

Apa-apaan?!

Donghyuck mencoba untuk berpikir, setidaknya untuk memberikan sebuah reaksi atas pernyataan Mark, namun kerja otaknya bak terhenti bersamaan dengan kalimat terkutuk itu menyapa rungu.

Entah berapa lama ia terdiam, Donghyuckpun tak tahu. Satu hal yang pasti, sekarang hanya suara anginlah yang menemaninya dalam keterpakuannya. Kenapa? Karena Mark kurang ajar Lee memilih untuk meninggalkannya sendiri setelah memberikan senyum penuh kesedihan padanya.

Bel tanda istirahat berakhir sudah seperti seember penuh air dingin yang terlempar pada wajahnya. Pikirannya penuh dengan suara Mark mengatakan kalimat terkutuk itu berkali-kali. Dadanya bergemuruh bak topan badai. Kakinya lemas, hingga ia harus menyenderkan dirinya sendiri pada dinding atap yang sudah keropos catnya.

Donghyuck mengacak-acak rambutnya frustasi. Berteriak bak orang kesetanan, berharap agar jantungnya berhenti berdetak dengan irama kencang.

Mark Lee sialan, berani-beraninya dia! Jerit Donghyuck dalam hati. Tangannya yang semula menarik surai kocoklatan miliknya ia bawa untuk menutup wajahnya yang memanas.

"SIALAN KAU, MARK LEE."

.

.

.

"Aku pulang."

Donghyuck berjalan malas menuju kamarnya. Ia mendengar deheman lembut yang berasal dari ruang keluarga, pertanda ibunya mengetahui keberadaanya sekarang.

Setelah mengunci pintu kamar, Donghyuck membiarkan tasnya tergeletak dilantai dan melempar dirinya ke atas kasur.

Menghela napas lelah, Donghyuck mencoba untuk membawa diri agar segera masuk ke alam mimpi.

Alih-alih bertemu ketidaksadaran, suara Mark dengan wajahnya yang memerahlah yang menemuinya.

"Aku menyu—"

Donghyuck langsung saja bangkit, menepuk keras kedua pipinya. Sudah cukup satu hari ini ia tak bisa berkonsentrasi dalam pelajaran, ucapkan terima kasih pada Mark Lee.

Bukannya Donghyuck membenci Mark, justru sebaliknya sebenarnya sudah lama Donghyuck jatuh hati pada kakak kelasnya itu. Hanya sebatas perasaan kecil yang tak menganggunya memang, tapi cukup hangat dan menyenangkan setiap kali Donghyuck melakukan interaksi dengan Mark.

Mereka memang bukan orang asing, bagaimanapun juga Donghyuck adalah anggota OSIS yang sering kali ditugaskan untuk meminta Mark mengisi suatu acara. Namun keduanya tak bisa dibilang dekat juga.

Oleh karenanya pernyataan cinta Mark tadi benar-benar menganggu kinerja Donghyuck. Bayang-bayang wajah yang biasanya menunjukkan kepercayaan diri dan senyum lebar khas Mark Lee tergantikan dengan wajah canggung serta pipi memerah. Kendati demikian, tatapan matanya tegas tanpa memberikan celah kebohongan sedikitpun.

"Aku menyukaimu."

Donghyuck meraih bantalnya dan menggunakannya untuk menutup wajah, sebelum berteriak kencang.

"Aku menyukaimu."

"Aku menyukaimu."

"Aku menyukaimu."

"Aku menyukaim—"

Donghyuck dengan tergesa melompat dari atas kasurnya untuk meraih tasnya yang masih tergeletak manis diatas lantai. Mengeluarkan semua isinya, mata Donghyuck bergerak liar mencari sesuatu yang ia butuhkan sekarang. Tepat saat ekor matanya melihat benda persegi panjang berwarna hitam, ia segera meraihnya. Jemarinya membuka pengunci layar dengan cepat, mengarahkan jarinya untuk mencari kontak bertuliskan Mark Lee, dan tanpa basa-basi menekan tombol hijau dengan gambar telepon didalamnya.

Butuh tiga deringan sebelum suara napas pelan menyapa indera pendengaran Donghyuck.

"Hal—"

"TIDAK BISAKAH KAU DIAM BARANG SEJENAK? YA AKU TAHU KAU MENYUKAIKU, KAU SUDAH MENGATAKANNYA TADI! JADI BERHENTILAH MENEROR OTAKKU DENGAN PERNYATAANMU ITU ATAU AKU BENAR-BENAR AKAN MASUK RUMAH SAKIT JIWA KARENAMU!"

"H-Hah?"

Donghyuck memejamkan matanya kencang. Tangannya yang tak sedang memegang telpon ia bawa untuk memukul kepalanya berkali-kali.

Oh Tuhan, apakah ia baru saja menelpon Mark untuk memintanya berhenti berkeliaran diotak Donghyuck? Saat ini ia yakin, mungkin ialah mahluk terbodoh dibumi ini.

Donghyuck mungkin sudah akan memutus panggilan dan mungkin akan mengurus kepindahan kewarganegaraannya apabila suara tawa Mark tidak tiba-tiba menggema dari ujung panggilan.

Wajah Donghyuck menghangat mendengarnya bersamaan dengan ritme jantungnya yang kembali berlari.

"Manis sekali."

Donghyuck mempertanyakan, apakah bisa seseorang meninggal karena jantungnya yang berdetak super hebat bersamaan dengan wajahnya yang benar-benar panas bak terbakar?

"Kupikir kau akan melupakan hal tadi, tapi syukurlah tidak hanya aku yang menderita atas pernyataanku tadi."

"Kau senang karena sudah membuatku menderita, hyung?"

"Sedikit? Setidaknya aku tahu, aku tidak benar-benar sendiri dalam berbagi perasaan ini."

Donghyuck menggigit bibirnya sekilas.

"Hyung, sepertinya ada yang salah dengan kepercayaan dirimu."

"Dimana salahnya? Kau sendiri yang mengatakan terus-terusan memikirkanku. Kurasa aku cukup percaya diri sekarang jika sebenarnya kau juga menyukaiku."

"Cih, kata orang yang meninggalkanku sendiri setelah mengatakan perasaannya selama ini."

Sunyi menyapa, bersamaan dengan ritme jantung Donghyuck yang sedikit memelan. Tentu ia masih bisa merasakan detakannya yang terasa lebih cepat dari biasanya, namun setidaknya sekarang hal itu memberikan kenyamanan padanya.

"Apa kau akan kembali mendiamiku?" tanya Donghyuck pelan.

"Aku minta maaf. Sepuluh menit didiamkan seperti tadi benar-benar membuatku kehilangan kepercayaan diriku, Donghyuck-ah. Aku hanya belum siap menerima penolakan langsung darimu."

"Lalu kenapa kau mengangkat telpon dariku?"

"Karena mungkin sekarang aku sudah siap. Tapi yaah, kurasa kesiapanku itu tidak terlalu berguna sekarang."

Mendengarnya membuat senyum kecil tersampir pada bibir Donghyuck.

"Kau tetap hutang penjelasan padaku, hyung. Kapan kau mulai menyukaiku? Kenapa bisa menyukaiku? Apa yang kau suka dariku? Ditambah lagi aku tak mau menjalin hubungan dengan seseorang tanpa terlebih dahulu melakukan pendekatan. Setidaknya kau harus mentraktirku makan dilima restoran serta mengajakku bermain di permainan arcade, baru aku akan memberikanmu jawaban atas pernyataanmu tadi."

Suara tawa menggema kencang, membuat Donghyuck mau tak mau ikut mengeluarkan tawa kecil dari bibirnya.

"Akan kulakukan. Bagaimana jika kita mulai besok? Pulang sekolah, aku akan mengajakmu ke restoran favoritku. Bisakan?"

Yah, mungkin Donghyuck memang bukan mahluk terpintar didunia ini. Namun ia senang dan mensyukuri tindakan bodohnya tadi karena mungkin setelah ini ia akhirnya bisa memulai hubungan lebih dari teman dengan seorang Mark Lee.

"Bisa. Tunggu aku ya sepulang sekolah."

.

.

.

Woopsi, halo! Aku kembali membawa markhyuck setelah sekian lama

Hope u guys enjoy it!