Mr. Opportunity

.

Chanyeol-Baekhyun

tokoh lain berdasarkan pengembangan cerita XD

.

BL /no GS!

.

Happy Reading!

I hope you like this story

Love you, guys!

.

.

Park Chanyeol (31)

Byun Baekhyun (24)

.

.

.

14 Juni 2018

Club di malam minggu benar menjadi pilihan tepat untuk mengembalikan mood atau sekedar 'pelarian'? Usai melalui dua penjaga berbadan kekar, kalian akan disambut oleh musik dengan beat yang memekakkan telinga namun akan sangat serasi dengan semua hidangan yang disiapkan di dalam nya. Manik brown milik si Byun telah menemukan eksistensi yang dia cari, pemilik surai pinkish dengan balutan hitam-putih seragam bartender.

"Hallo pinkish!",

si pinkish yang merasa terpanggil, hanya berdecak seraya merotasikan matanya, seolah jemu dengan si baby blue yang sialnya adalah sahabatnya.

"kau mencampakkanku?", dramatis si Baek dengan berpura-pura menjambak surai baby blue miliknya. Entah kebiasaan dari siapa, kedua mata pria bertubuh mungil yang telah memasuki usia 24tahun itu tampak berkaca-kaca. Itu hanya akting, oke? Bahkan Yuta pikir semua orang seharusnya tidak tertipu dengan si Byun ini!

"Jangan berlebihan, duduk dan ceritakan alasan menghilangmu sampai hari ini!", benar saja, sepertinya mood Yuta sedang berada pada titik nol. Hell! Baekhyun juga dalam mood buruk, asal kalian tahu! Tapi baiklah, setidaknya demi penjelasan dari sahabat nyeleneh nya, Yuta rela mengusir satu pelanggan dikursi strategis. Artinya, kursi yang paling dekat dengan tempat dia meracik minuman, demi tidak kehilangan cerita apapun tentang sahabatnya.

"Martini?", tanya Yuta. Yang bersangkutan hanya mengangguk. 10menit mereka saling diam, hanya musik dari Dj yang terdengar mengusik hingga satu minuman berwarna merah muda tersaji didepan Baekhyun. Melihat warna minumanya, sudut alis Baekhyun sedikit terangkat.

"Raspbery, kau butuh yang manis-manis, dude", setelah jeda mereka beberapa menit yang lalu, senyuman Yuta berefek positif pada Baekhyun, iya-sebelum satu tepukan pada bahu nya yang seketika meruntuhkan kepositifan tersebut.

"Hay guys, …dan Byun-byun",

"Menjijikan!", umpat Baekhyun.

"Hentikan Jongin! Penghancur mood, sialan!", Yuta menambahkan kumpulan umpatan untuk si hitam yang kini tampak berusaha tampil sexy dengan kemeja hitam transparan.

"Tequila, please…",

"Tequila pantat mu! Temui boss dan minum ini!", satu gelas beer diletakan di depan Jongin yang sempat misuh-misuh namun akhirnya malah menegaknya dalam sekali tandas.

"Kau berhasil dalam 5hari ini? Woaah daebak! Junmyeon hyung bercerita pada ku kemarin. Kau membungkamnya dengan surat lisensi sementara? Dengan tanda tangan rektor asli? Sialan kau, Byun!", entah efek dari beer atau memang Jongin yang kelewat cerewet. Dia benar-benar memberondong Baekhyun dengan fakta menghilangnya dirinya selama 5 hari dari club. Mengabaikan pijaran mencolok dari sosok Yuta yang entah sejak kapan telah melepas apron dan meminta Jaehyun menggantikannya untuk melayani pesanan customer.

"Sudah kubilang temui bos dilantai atas, dan tinggalkan Baekhyun sendiri!", suara nada tinggi Yuta kembali mengintrupsi Jongin yang benar-benar tampak mengabaikan pesan bos mereka melalui Yuta-tidak sebenarnya bos Chinese mereka tidak terlalu memaksa Jongin untuk menemuinya seperti apa yang dikatakan Yuta. Tapi ini murni keinginan Yuta untuk menyeret Jongin meninggalkan sahabat baby blue nya sendiri. Lagian, Baekhyun menunjukan ekspresi terganggu atas pertanyaan Jongin, jadi tidak salah dong, jika Yuta mencoba mengusir si hitam dancer utama club?

"ada yang ingin kau sampaikan padaku? Tentang absen nya dirimu selama 5hari mungkin? Karena aku tidak yakin Jongin akan betah di depan bos",

Baekhyun benar-benar terbelalak dengan temannya yang berada dibelakang meja bar. Bagaimana kekasih Taeyong ini mengetahui bahwa Baekhyun sedikit-banyak merasa tidak nyaman dengan kehadiran Jongin-yang notabene nya adalah teman club mereka.

"Ekhemm, lima hari yang lalu aku ke kampus, menemui orang-orang jurusan, kepala Jurusan, admin bahkan Rektor. berpindah dari profesor satu ke profesor lain, bahkan dari gedung satu ke gedung lain. Menanyakan prosedur dan melakukan prosedur selama sehari. Itu sangat panjang, Yutaa. Aku mendapatkan penawaran seperti Minyoung. Dan-err-tiga hari kemudian surat lisensi sementara-ku turun", cerita Baekhyun panjang kali lebar, sedangkan tanganya sibuk memainkan satu buah rasbery didalam coctailnya. Karena sungguh dia tak ingin membongkar rahasia 5hari yang lalu.

Tidak ada jawaban dari Yuta, bahkan tak muncul segaris raut penuh tanya pada wajah blesteran Jepang-korea itu. Baekhyun pikir, dia selamat. namun tidak, setelah lulusan filsafat itu menemukan keganjilan yang sengaja Baekhyun sembunyikan.

"Apa yang kau lakukan dengan Rektor? Dia bukan sembarang orang yang bisa memberi tanda tangan dan kata 'ya' dengan sangat mudah! Berapa juta yang dia minta?",

"Li-lima puluh?",

"Katakan yang sebenarnya, Byun Baekhyun!"

"Dia meminta diriku! Sialan!",

"Ba…Baek…kau?",

"Bahkan foreplay kami hanya seharga lisensi sementara! Menjijikan sialan! ", umpatan Baekhyun nyata sedikit teredam dengan suara dj di atas panggung.

"kapan dia akan meminta sisa-nya?",

"tiga hari lagi…", ada nada sedih yang kentara dari si mungil yang memainkan botol-botol vodka didepannya.

"Bagaimana perasaanmu? "

Baekhyun merasa untuk apa sahabatnya menanyakan pertanyaan konyol macam itu?, "apa ada yang lain selain kata Menjijikan?", dengan memutar bola matanya, Baekhyun benar tak habis pikir, apakah sahabatnya pikir, Baekhyun adalah lelaki gampangan yang mudah memberikan dirinya? Meskipun pada dasarnya Baekhyun tidak mempercayai hubungan pernikahan dan segala macam cinta. Tapi tidak dapat dipungkiri, menjaga diri adalah hal patut untuk 'sesuatu' di masa depan.

"Kemari aku akan menghapusnya",

Cup

Hanya kecupan sekilas dari Yuta, tak ada nafsu dan perasaan khusus selayaknya dua pemain utama dalam drama romance. Ciuman murni untuk menetralisir rasa jijik yang berasal bibir pria tua berkedok rektor itu dari bibir mungil bersurai baby blue.

.

.

.

19 Juni 2018

Malam musim panas berlalu lebih cepat dibandingkan musim-musim lain. Strawbery parfait dan es krim, nyatanya menjadi pilihan bagi seorang Byun Baekhyun untuk menikmati hari-hari berat tentang lisensi penelitiannya, meskipun koktail buah ditempat Yuta tetap mencuri sedikit waktu malam Baekhyun. Tepat 10 hari beranjak dari hari dimana Baekhyun memohon pada rektor kampus nya, atau 5 hari usai acara temu jujur antara dirinya dengan rohib pinkish nya-Yuta. Diluar, malam tampak lebih tenang dari biasanya, sepertinya musim panas akan datang lebih panjang dari tahun-tahun sebelumnya.

"Kau yakin ini tempatnya?", tanya Yuta usai menghentikan mobil pick up Ram srt10 berwarna merah yang dipinjam nya dari Yixing-bos di club dirinya bekerja.

"Kau sudah menghubungi-nya?", tanya Yuta yang karena tidak mendapati sahabat Byun nya menjawab.

"…orang tua bangka itu melarangku menghubungi dirinya", ada nada gelisah yang amat kentara dari dalam suara si Byun.

"Hey, kau takut? -lakukan seperti rencana kita, oke? atau kau perlu boneka rilakuma-mu?", satu tanda oke serta candaan dari Yuta nyatanya tak membuat suasana hati Baekhyun membaik.

Didalam tas slempang yang disiapkan Baekhyun sebenarnya sedang diam aman sebuah rekaman dan lembar yang seharusnya mampu mencegah Baekhyun untuk melakukan itu dengan si rektor. Tapi masalahnya, Baekhyun hanya menyiapkan satu planning, jika planning satu-satunya ini gagal, maka tidak akan ada jalan lain selain dirinya harus melakukan itu, demi lisensi sialan nya!

"Hubungi aku jika sudah selesai, aku akan menjemputmu!",

selesai? Kenapa Baekhyun merinding dengan satu kata itu? Baekhyun seorang editor yang juga menangani narasi fiksi yang sudah pasti bergelut dengan berbagai konotasi. Dan kata selesai lebih sering ia temukan di alur dengan setting, jalang? Oh my-god! inikah yang terjadi dalam peran-peran jalang? Seorang jalang yang menghampiri pelangganya digedung mahal lalu mempersilahkan si pelanggan untuk macam-macam dengan tubuhnya, lalu jika si pelanggan sudah puas, maka pekerjaan 'pelayanan' itu dianggap 'selesai?", hell no! selesai dari ini, Baekhyun akan menyarankan kepada Jongdae untuk mengubah konsep kata yang sering muncul pada prosa-prosa per-jalangan. Baekhyun benar merasa bulu-kuduk nya semakin merinding karena imajinasinya sendiri.

MAX-Casino, sebuah gedung mewah dengan tiga lantai utama. Sebuah tempat perjudian resmi yang hanya didatangi para keturunan borjuis. Itulah kenapa hanya mobil-mobil mewah yang tampak masuk melalui portal seraya menunjukkan sebuah id card tanda keanggotaan. Turun dari pick up milik Yixing, Baekhyun menyebrangi jalan, menuju gedung yang untuk pertama kalinya dirinya datangi. Baekhyun berjalan melewati celah kecil antara pos jaga dan portal, karna hell ditempat ini tidak menyediakan untuk pejalan kaki! Karena tak akan pernah ada milyader yang rela berjalan kaki, termasuk rektor tua yang sialnya adalah pimpinan kampus tercintanya.

Aaah beginikah para jalang yang akan berangkat 'bekerja'? Sepertinya pengalaman ini 'sedikit' berguna untuk observasi project tulisanya yang lain, hibur batin Baekhyun.

Baekhyun tiba di loby lantai satu. Tidak dipungkiri, Baekhyun terkesima dengan pemandangan dalam gedung yang menurutnya sangat menakjubkan, sebuah lantai dengan keramik besar, lampu gantung dibeberapa titik pada atapnya yang sangat tinggi. Mengikuti instruksi rektor sialannya, Baekhyun membawa kaki berbalutkan sneaker merah maroon nya menuju satu ruang disisi kanan meja resepsionis. Sebuah room khusus untuk makan. memasuki restoran, insting Baekhyun menyuruhnya memasang masker,entahlah hanya jaga-jaga untuk masa depan, mungkin. Baekhyun menghampiri meja pemesanan yang tampak kosong, tangannya dibawanya ke dalam saku cardigan hitam miliknya, untuk menutupi rasa gugup setengah mati! What the hell! Secara tidak langsung, petugas di meja karyawan adalah germo-nya, shit! debaran jantungnya benar-benar membuatnya berkeringat dingin.

"Silahkan, ada yang bisa saya bantu?", seorang wanita muda dengan seragam merah tampak menyapa dengan ramah. Benar-benar berkelas!, bisik Baekhyun dalam hati.

"P-Park! Meja Park-seonsaengnim!", entah dimana Baekhyun meninggalkan suaranya, tapi situasi sekarang membuat tenggorokanya terasa kering.

Terdapat jeda sekitar 5menit bagi si pelayan mengobservasi, yang Baekhyun yakini adalah tentang penampilannya, skinny jeans ketat, dipadu kemeja putih terbaiknya jangan lupakan cardigan hitam noraknya. Jangan salahkan selera fashion miliknya yang buruk, tapi salahkan keuanganya yang membuatnya malas dengan eksplorasi mode. Usai acara 'mari observasi si Byun", Si pelayan cantik membawa Baekyun menuju satu set kursi dengan skat tertutup, sehingga mencegah orang lain untuk mengetahui siapa dan apa yang terjadi.

Ck, VIP? Privasi? Kupikir si tua itu tak memahami apa yang dimaksud dengan privasi.

si pelayan cantik dengan name tag Yuju, tampak pergi meninggalkan Baekhyun di meja ber-skat. Usai kepergian si pelayan, tampak pelayan lain datang dengan beberapa hidangan. Red wine? Diikuti beberapa makanan pembuka yang cukup membuat Baekhyun menelan ludah. Enam menu pembuka? Bahkan satu lagi yang baru datang, sekerangjang onion bread dengan onion porridge. Ada sesuatu yang sedikit mengganjal sejak para pelayan meninggalkan Ia, seorang diri disana.

cukup lama Baekhyun terpekur menatap pada hidangan pembuka di depanya, hingga tak menyadari seseorang telah berdiri diseberang mejanya. Seorang pria muda dengan tinggi bak model, turtleneck hitam yang dipakainya berhasil menyembunyikan panjang jenjang leher si pria yang tak repot-repot memberi salam pada di si pendek bersurai baby blue yang masih saja terhanyut dalam dunianya.

Satu deheman dari si Jangkung yang baru saja tiba, membuyarkan lamunan si yang lebih mungil membuat ke dua obsidian itu saling bertemu untuk pertama kali. Si pihak yang usai tenggelam dalam pikirannya sendiri, tampak terkejut.

"Terkejut dengan pemandangan di depan mu, jalang-kecil?", suara barintone di seberang terdengar tak-ramah. Ada apa? Pikir Baekhyun yang masih belum memahami situasi sekarang ini. Satu kerutan di dahi Baekhyun, menandakan keheranan akan sosok didepanya. apakah mungkin si Rektor tua itu berubah menjadi manusia keren seperti ini?

"Jadi, apa alasan mu menemui ayah-ku? Uang?", satu pertanyaan keluar dari sosok yang lebih jangkung. Tangannya tampak menimang wine di depannya, tak sedikit-pun berniat menatap pada Baekhyun yang kini terperanjat mendengar kata 'ayahku?'.

aaah, satu lengkungan ke atas terlukis pada bibir Baekhyun, mengingat jawaban atas keheranannya tentang sosok di depan nya. Tidak salah lagi, si jangkung yang nyelonong masuk ini pasti anak dari si tua-Park Jisung? siapa lagi yang memanggil ayah kecuali anaknya sendiri. Hell, mereka terlihat berbeda, kecuali aura arogan yang kira-kira hampir sama.

"Aku membutuhkan tanda tangan si tua itu", jawaban paling jujur yang Baekhyun berikan tanpa memberikan nada kesopanan di tiap sukunya, karena Baekhyun pikir sejak awal orang di depannya sudah tidak mengindahkan sopan santun. Jadi, kenapa dia harus? dan tanpa sungkan pula, Baekhyun menikmati onion ring didepannya

"Dengan menjual dirimu? -cih murahan"

Meski-pun ide 'menukar diri' nya untuk sebuah lisensi adalah pure berasal dari dirinya, tidak berarti bahwa Baekhyun menyukai ide menjijikkan ini. Jika ditanya berapa persen diri nya siap dengan ide ini? Baekhyun akan menjawab dengan lantang, tidak lebih dari 5%! se-mengerikan apa-pun seorang Baekhyun, dirinya ter-lahir dari sebuah keluarga yang tau bagaimana menjaga harga diri. Orang tuanya juga pernah menjadi orang yang super cerewet dengan pesan moral yang jika dibukukan kalian akan mendapati buku setebal kamus. Nasihat keagamaan, kesopanan, kesehatan serta norma-norma harga dari lainnya, sebut saja Ayah Byun adalah penganut kolotisme yang masih menolak kehidupan bebas khas remaja yang menyebut diri mereka gaul! jadi mana mungkin Baekhyun akan

Satu tangan Baekhyun yang sedang memegang onion ring tampak menekan keras hingga makanan berbentuk menyerupai cincin tersebut tampak remuk, ada hatinya yang terasa tercubit mendengar sarkas dari anak seorang Park Jisung. tidak, Baekhyun tidak ingin menyangkal bahwa dalam hal ini dirinya-lah yang bersalah. menjadi pihak penggoda seorang rektor yang pasti memiliki istri, tapi Bakhyun tidak berniat untuk memenjarakan Park Jisung dan berlagak merebut orang tua itu kan? jadi bisa-kah kata murahan itu ditarik kembali.

"Kau harusnya tau, dia pria yang sudah ber-istri. Kau tak berpikir tentang istrinya? -aah bagaimana mungkin kau memikirkan keluarga orang lain, bahkan kau tak memikirkan keluarga mu sendiri -cih!',

Cukup! Teriak Baekhyun dalam hati. Sejenak Baekhyun menatap pada jam ditangannya, memastikan berapa menit lagi sampai si tua- Park Jisung -akan datang.

"Ekhem, bisakah kita berbicara dengan santai saja? Ku pikir usia kita tak jauh beda", satu kalimat Baekhyun yang untuk pertama kalinya muncul sejak dirinya mencoba rileks meski dibrondong dengan ejekan-ejekan menyebalkan.

"Jika-pun mungkin kita seumuran, tapi tidak dengan otak-",

"Rileks, -bukankah kau hanya memiliki waktu tak lebih dari 40menit sampai ayahmu datang? Jadi tenanglah, agar kita tak kehilangan waktu dengan percuma, oke?".

Entah karena nada suara Baekhyun yang menyenangkan atau karena mereka berdua yang sepemikiran, sosok anak Park Jisung itu tampak melemaskan pundaknya yang sempat tampak tegang, bahkan jemarinya yang sibuk dengan gelas wine telah berhenti. Tergantikan dengan obsidian hitam pekatnya yang kini menatap lurus pada pemilik surai baby blue itu.

Ada sebersit kepercayaan yang terpancar dari hitam pekat obsidian itu, setidaknya itu yang Baekhyun percaya hingga dirinya yang percaya untuk menjelaskan garis besar alasan antara dirinya dengan Park Jisung.

"pertama, kau tak perlu khawatir tentang Ibu-mu, hubungan antara aku dan ayahmu hanya seperti -ehmm- one mutualism? Aku hanya datang sekali, dan akan enyah setelah itu. Jika kau tak percaya kau bisa merekam ucapanku! -jika bukan karn-"

"aku tak merasa penting untuk mengetahui alasan kotor mu, cukup jangan sampai Ibu ku tau tentang jalang sepertimu, jika kau tak ingin mendapati dirimu enyah dari dunia ini! Camkan itu!" , lelaki jangkung itu benar tak mengharapkan penjelasan dari Baekhyun.

Usai kalimat terakhirnya, pria jangkung itu beranjak pergi, meninggalkan secarik kertas di depan Baekhyun.

"Tunggu!", teriak Baekhyun menghentikan langkah si jangkung, "jika kau menghawatirkan ibu mu, datanglah ke tempat dimana aku bertemu dengan ayah mu. Jangan kau pikir aku datang tanpa rencana, cih! bahkan kau memesankanku semua menu dengan bawang bombay? kau pikir aku impoten! sialan.",

Entah keberanian yang berasal dari mana hingga berani membuat Baekhyun mengumpat didepan orang yang baru pertama Ia temui. Tapi instingnya mengatakan bahwa ini tindakan yang benar.

.

.

.

Ruangan temaran itu tak lagi tampak rapi seperti awal mereka masuk. Kecuali lampu temaram di dekat ranjang, nyalanya terganti akan lampu ruangan yang lebih benderang. Tak ada bau-bau mencurigakan yang biasa ditemui dalam room servis yang biasa digunakan para pejabat dengan para 'selir tak pasti mereka'.

Dua eksistensi yang sebelumnya sempat berada dalam pergumulan telah tampak tertutup. Di kursi tepat di samping jendela tampak seorang pria paruh baya dengan bathrobe putihnya sedang menikmati red wine yang sebelumnya diantar melalui pelayanan hotel. Tatapan pria paruh baya itu, tampak menembus pada jendela yang gordennya sedikit tersingkap, menampilkan sekerlip lampu diluar yang masih mampu terlihat. Penampilanya tampak arogan dengan kalung dan cincin emas yang terpasang pada jari dan lehernya. Bukan orang biasa-inilah penilaian yang ingin orang berumur itu ingin. Tapi nyatanya, bagi Baekhyun orang itu tak lebih dari laki-laki mesum yang terlalu sombong dengan jabatanya. Tak habis pikir setebal apa topeng yang orang tua itu gunakan untuk menutupi bangkai-bangkai yang dia makan.

Lain halnya dengan sosok mungil yang tampak rapi dengan kemeja putih dan cardigan hitam panjang yang telah berpindah melingkar pada tas slempangnya. Tangan kanannya yang bebas tampak sibuk dengan sebuah dokumen bertanda tangan. Genggamanya pada berkas itu tampak kencang, seolah menegaskan bahwa dokumen itu adalah hidup nya.

"sekali lagi, terima kasih untuk tanda tangan mahal anda, Prof.", ucap Baekhyun dengan nada sangat tulus. Entah alasan pasti apa yang membuatnya benar-benar merasa lega. Dirinya yang mendapatkan lisensi tanpa mengikuti proses yang merepotkan? Atau lega karena rencana yang dirinya buat bersama Yuta pada akhirnya sukses 80%?

Sekali lagi Baekhyun memeriksa semua barang yang dia bawa, merapikan kemeja yang sedikit kusut, serta dokumen yang nyatanya masih dia pegang. Satu yang lain, Baekhyun memeriksa pemutar suara yang berada dalam ponsel yang telah terhubung pada hands-free miliknya. Memastikan satu suara yang dia tangkap melalui perekam pada depan tas slempangnya. Dirasa tak ada satupun yang tertinggal, Baekhyun beranjak menuju pintu keluar. Sebelum tanganya sampai pada gerendel pintu, pemilik surai baby blue itu menyempatkan diri untuk berbalik untuk menatap pada si paruh baya yang tampak menikmati cairan merah di dalam gelas yang terjepit diantara jari telunjuk dan tengahnya.

"Prof, bukankah kau memiliki istri yang mengkhawatirkan mu dirumah? Berhentilah, Anda harus membayar kekhawatiranya, -selamat malam!", tanpa menunggu jawaban si Rektor, Baekhyun meninggalkan sweet room yang harganya mungkin sangat mahal bagi Baekhyun.

Satu langkah dari pintu keluar, Baekhyun hanya menatap pada sepatu nya yang sesaat terhenti. Ada rasa bangga dalam dirinya, lisensi yang bermakna sebagai kunci menuju impiannya nyatanya telah berada dalam genggaman, Baekhyun pikir semua telah baik-baik saja, hingga ucapan Rektornya merasuk kembali dalam otaknya.

"Jangan berpikir setelah ini semua akan baik-baik saja, hanya jangan menjadi berlian jika kau tak ingin tenggelam dalam lumpur yang sudah kau buat-",

Dengan lesu, Baekhyun memasang masker hitam pada wajahnya. Bohong jika Baekhyun mengatakan dia percaya diri dengan jalan pintas yang dia pilih. Kegugupan dan kegusaran nyatanya melanda dirinya bahkan tidak lebih dari satu jam dirinya memegang lisensi kelulusanya.

"-aku hanya akan menerbitkan satu karyaku, setelah itu aku akan berhenti", tiba-tiba benak Baekhyun membuat janji untuk tak lain menenangkan dirinya sendiri.

Udara koridor sweet room terasa dingin dan lenggang, memberi kepercayaan Baekhyun untuk tak menyadari sosok jangkung di depanya yang telah membatu bahkan sejak sebelum Baekhyun keluar dari sweet room terkutuk itu.

Brukk

"Aaarrhh, sakit- shit!", umpat Baekhyun seraya menyentuh pada jidatnya yang menubruk pada benda keras didepannya.

"Apakah Ibumu tidak mengajarkan mu untuk berjalan dengan mata?", suara husky yang tidak asing. Dengan masih mengusap pada keningnya, Baekhyun menatap pada sosok 'tembok' didepannya. Seketika dua obsidian itu bertemu, satu yang memiliki tatapan lembut tampak berubah terkejut namun seketika berubah memicing. Mengisyaratkan kejengkelan karena si muda Park.

"Terkejut?"

Baekhyun benar-benar tak habis pikir dengan pemuda dengan label Park sama halnya dengan pria yang mungkin masih menikmati red wine nya. Bedanya, Park yang mengaku sebagai bungsu dikeluarganya beberapa jam yang lalu bertindak seperti agen spy, menghack ponsel si tua Park untuk mendapatkan jadwal temu dirinya dengan si tua yang mungkin sedang menikmati waktu bermutu yang nyatanya gagal, lalu memojokkan Baekhyun seolah bak jalang yang menggoda ayah tirinya. sebegitu pedulinya kah pria bertelinga yoda ini dengan ayah tirinya? Cih, aah mungkin Ibunya adalah alasan sebenarnya. marilah kita berpikir positif, Byun. Menatap pada si obsidian hitam di depannya, sedikit perasaan aneh menyusup dalam lubuk Baekhyun-ini bukan tentang cinta-tapi kepeduliannya terhadap keluarganya adalah hal yang sedikit 'menyentil' hati kecil. Hal sederhana yang hampir tidak pernah ada dalam keluarga Baekhyun.

"Sebegitu tidak bisa dipercayaikah aku?-kau tak perlu khawatir, Ibumu pun begitu. Setelah ini aku dan ayahmu hanya sebatas mantan mahasiswa, jadi tenanglah...", ada sayu yang terpancar dari Baekhyun, dan Baekhyun pun menyadari atas suasana hatinya yang tiba-tiba memburuk. Tanpa menunggu jawaban dari si muda Park, Baekhyun berniat melewati tubuh jangkung itu, sebelum Baekhyun mengingat satu lembar di dalam saku cardigannya.

"Cek yang kau tinggalkan, awalnya aku berniat mengembalikannya padamu, tapi kupikir kedepannya, mungkin saja aku menemukan kubangan lumpur, jadi aku akan menggunakan ini untuk membersihkannya, ku jual sisa harga diriku didepanmu untuk ini. Thanks to you!",

Begitulah pertemuan Baekhyun dengan dua Park berakhir. Bahkan hingga sosok Baekhyun ditelan lift diujung koridor menuju lantai 2 gedung kasino itu, si jangkung Park tak berniat memanggil. Tak ada satupun diantara keduanya yang berpikir untuk bertemu dilain waktu.

.

.

.

.

tbc~ Anyeeoongg

Welcome to my shit-Ship!

terima kasih untuk supportnya * , katakan jika kalian mengeluhkan tentang kapal yang sedang kulayarkan ini huhu :'( kalian tau, reader adalah orang yang paling bisa berpikir lebih luas daripada penulis :'( and i beliave that!

once again, gumawoo... luv yu!