Mr. Opportunity

.

Park Chanyeol-Byun Baekhyun

.

BL/no GS!

.

TypoS Everywhere!

.

Happy Reading!

I hope you like this story!

so, very Thank you for your like and follow, Guys!

.

Enjoooy!

2 Agustus 2018

Lebih dari satu bulan usai kejadian Baekhyun bertemu dengan dua Park di sebuah kasino. Seperti yang dibayangkan Baekhyun mengenai dirinya usai mendapatkan lisensi kelulusan itu. Dapat dikatakan, semua terjadi dengan sangat lancar. Junmyeon yang menerima naskahnya, bahkan membuat dirinya sendiri turun sebagai editor tulis, dibantu satu orang editor keilmuan―Kim Minseok. Bahkan naskah itu sendiri tidak memilki banyak kesalahan, karena ingat, Baekhyun jugalah seorang editor. Setidaknya tak hanya menulis materi ketika dia mengerjakan, melainkan mengoreksi EYD dan tatanan bahasa adalah hal refleks yang selalu dia lakukan. Dengan inilah alasan draft Baekhyun dengan cepat telah masuk dalam rapat pencetakan bersama staf pemasaran. Maksudnya, dalam tahap pencetakan buku akan dilakukan rapat seberapa banyak buku tersebut layak untuk dicetak?

Canggung bagi Baekhyun yang biasanya akan datang dalam rapat sebagai pihak editor buku yang menyumbangkan suara namun hari ini dirinya bahkan hanya duduk santai di kursi bar ditempat Yuta. Menunggu hasil keputusan dari penerbit yang juga tempatnya bekerja untuk mendapatkan keputusan nasib karya nya.

Hari masih siang, tentu saja tak ada minuman alkohol yang tersaji, hanya segelas jus jeruk buatan Yuta beberapa saat yang lalu.

"Kau tak kembali ke kantor?", tanya Yuta yang disibukkan dengan beberapa alat peracik alkohol. Pakaian kasual-nya sedikit menutupi identitas malamnya sebagai bartender.

"Junmyeon bilang, Dia akan menghubungiku nanti", jawab Baekhyun yang sedang menegak minuman kuningnya lalu memasukan sepotong telur gulung, olahan dari Jaehyun.

"Kau bahagia?", kini obsidian brown itu benar-benar tertuju pada si surai baby blue. Menatap pada teman yang dikenal untuk pertama kalinya sekitar 2tahun yang lalu. Awal mula si baby blue menyerah dengan study-nya.

"Te―tentu, buku ku sudah akan dicetak, apa yang lebih membahagiakan daripada itu… bahkan dulu aku tidak berani membayangkan 'bayi-bayi mungilku akan dipajang di rak toko buku-pasti menggemaskan!",

"Aku tak mengerti, otak bebalmu itu berasal dari mana…", tak ada lagi suara dari keduanya. Kecuali suara para tenaga angkut bir dan anggur yang sibuk dengan kotak-kotak kayu untuk dibawa ke dalam gudang dibelakang bar. Diantara suara gesekan sepatu, bercampur dengan suara gelas yang bergeser dengan kain lap di tangan Yuta yang menjadi satu-satunya pemecah keheningan diantara mereka, otak Baekhyun tak dapat berhenti berpikir, bahkan beban kerjanya jauh terasa berat dibandingkan ketika dirinya terlilit masalah Ibu dan studinya 1tahun yang lalu.

Ting!

1 pesan diterima.

seketika raut wajah Baekhyun yang awalnya gusar, sedikit muncul lengkungan tanda kebahagian.

"Lihat! Mereka mencetaknya… 25000 eksampler.",

.

.

.

Tiap manusia tanpa sadar selalu membentuk jam biologis dalam melakukan rutinitasnya. Tak terkecuali bagi pemalas sekalipun, ini adalah apa yang diyakini Yuta. seperti halnya ayam jantan yang akan selalu berkokok ditiap paginya. Selalu! Sebagai lulusan ilmu filsafat, tanpa sadar Yuta selalu mengamati apa yang menjadi kebiasaan para pelanggan di Bar tempatnya bekerja. apa minuman favorit mereka, materi pembicaraan yang disukai pelanggan tertentu, jam datang, bahkan tempat duduk faforit mereka, Yuta sangat menyukai mengenai temuan-temuan itu.

Begitu pula dengan temuan jam biologis seorang Byun Baekhyun akan kebutuhan di Bar nya. Yuta sudah hafal di luar kepala mengenai jam aktif yang dilakukan si mungil teman lamanya itu. namun akhir-akhir ini Yuta sedikit merasa sesuatu menjanggal mengenai sahabat mungilnya itu. Pertama, Tepat pukul tiga, atau tepat ketika senja awal mulai datang, Baekhyun sudah keluar dari kantor penerbitan menuju Bar tempat Yuta berada. Itu adalah dua jam lebih awal dari yang biasa dilakukan Baekhyun. Meskipun Bar baru tersedia satu setengah jam kemudian, Baekhyun akan tetap menjadi antrian pertama diantara puluhan pengunjung di malam itu.

Kedua, Jangan berpikir bahwa mungkin dengan kedatangannya yang lebih awal akan membuat Baekhyun pulang lebih awal-pula. Nyatanya, turunnya penari tiang adalah jam yang selalu dia tepatkan untuk waktu pulang, sekitar pukul tiga subuh?

Awalnya Yuta pikir semua terjadi karena cuaca lembab dan hidup sendiri, sehingga memaksa Baekhyun untuk menghabiskan lebih banyak waktu diluar demi kehangatan dari alkohol yang ditawarkan bar. atau mungkin beban kerja yang meningkat seperti hari-hari lalu ketika dia harus menggarap satu naskah full untuk seorang penulis yang berakibat pada stres. namun jika itu hanya karena stres, Baekhyun akan terlepas dengan rutinitas buruk itu tidak lebih dari tiga hari, dengan alasan tubuhnya yang tidak betah dengan jam biologis yang terlalu melenceng dari rutinitas 'baik'. Nyatanya kebiasaan buruk yang ditangkap Yuta akhir-akhir ini, hampir genap seminggu berjalan dan terus menuju satu garis-lurus dengan efek buruk pada fisik si teman baby blue nya. Kantong mata sipit yang awalnya hanya sipit kini mulai muncul warna hitam yang terus menebal di tiap hari. Kepribadiannya yang mudah menyatu dengan orang baru, bahkan berganti dengan dirinya yang hanya terdiam pada satu tempat di sudut bar dengan satu minuman koktail. tidak segan beberapa kali Yuta menemukan sahabatnya menerima selipan tembakau yang dulu selalu menjadi musuh terbesar seorang Byun Baekhyun yang 'kasual' namun lugu.

Satu definisi yang tepat untuk Baekhyun, 'kacau'. Kecurigaan Yuta diperjelas dengan konsentrasi si cerdas Baekhyun yang mulai menurun, beberapa kali Baekhyun tampak tak fokus pada percakapan mereka dan berakhir dengan Jongin yang merasa jengah dengan 'kebodohan' Baekhyun yang tiba-tiba muncul.

Jika sudah begini, Yuta―tidak bisa untuk tidak menyalahkan ide sialan-nya tentang menanggapi keinginan lisensi milik Baekhyun. ya, Yuta sudah lebih paham asal muasal kelakuan aneh teman mungil-nya itu sejak kabar naskah si sahabat yang telah naik cetak ribuan eksampler. Intinya, perubahan Baekhyun bukan lagi tentang musim anas yang semakin melembab, tapi karena buku sialan milik temannya yang sudah mulai naik cetak satu bulan yang lalu. Semakin lama buku itu dipasang di setiap harinya, warna pucat dan lingkaran hitam di mata Baekhyun semakin parah, ini lah hasil akhir pengamatan Yuta tentang sahabatnya.

"Ada yang ingin kau ceritakan, Byun?", tanya Yuta yang beralih menjadi pihak yang frustasi!

Bahu kecil yang tampak lebih ringkih semenjak musim panas berakhir (menurut Yuta) tampak menegang. Menyisakan obsidian yang sayu, bukan karena alkohol yang diminumnya, bahkan orang bodoh akan tahu bahwa sayu itu terjadi karena kurang tidur.

"Bagaimana kabar naskah-mu?", yang harus kalian tau dari seorang Yuta adalah, dia tak mudah menyerah jika itu berkaitan dengan orang-orang yang dianggapnya penting!

"..."

"something happen with that?", kini Yuta merasakan sedikit tegang atas reaksi bisu dari sahabat mungilnya.

"…"

"Aku tahu ada yang tidak beres, sejak musim panas berjalan kurasa, aku tidak memaksamu untuk bercerita padaku, aku hanya merasa perlu tau alasan kesehatan mu yang memburuk".

Tak ada jawaban konkrit dari mulut Baekhyun, bahkan sekedar alasan bualan tak ada sedikitpun untuk keluar. Sebaliknya, mata sipit itu benar semakin tak tampak jernih, tertutup kubangan air yang siap luruh bersama bibir dan bahu nya yang bergetar. Yuta tak sebodoh itu untuk kembali bertanya dan menuntut jawaban verbal, karena sejak awal dia sangat paham dengan apa yang terjadi pada si bungsu Byun. tanpa aba-aba apapun, Baekhyun meninggalkan kursinya, memutari meja bartender, lalu memasuki ruangan tempat Yuta meracik semua minuman. -pun dengan Yuta yang tak memprotes segala tindakan Baekhyun yang jelas-jelas melanggar peraturan 'staff only', setidaknya Baekhyun dan bos nya-Yixing, sedikit saling mengenal.

"Slightly better?", sembari Yuta menggosok punggung Baekhyun usai menerima satu pelukan keras dengan sangat lembut, seumpama ibu yang menenangkan anaknya.

"ehm…"

.

.

Langkah kaki kecil itu dibawanya menuju lift diujung koridor lantai teratas milik pimpinan perusahaan, Choi Minho. Ditangannya tampak amplop coklat dengan logo sebuah yayasan dan organisasi yang kini benar menjadi alasan dirinya tak sesemangat hari kemarin. Sangat berbeda dengan wajah sumringah pimpinan perusahaan dan juga pimpinan editorial itu.

Ting!

Masih dengan wajah tanpa minat, Baekhyun memasuki lift, lantai tiga adalah tujuan utamanya, ruang yang menjadi para editor bekerja. Seorang karyawan menyapanya, sepertinya dia juga datang dari lantai yang sama dengan Baekhyun, tapi karna dirinya yang sibuk ber-gloomy sendu, dirinya mengabaikan senior yang semestinya ia sapa.

"Hai, Byun-ssi! Kau dari ruangan Tuan Kim? Ku dengar kau mendapatkan surat dari organisasi psikologi SNU, congratss dude!", si pria yang juga mungil seperti Baekhyun itu menyongsongkan jabatan tangan usai menekan tombol lantai yang dia tuju, 3.

sebaliknya, sebuah cengiran bodoh tampak muncul membalut wajah Baekhyun, "your wecome, semoga kabar baik juga dengan Mr. Dae!".

Ting!

tanpa mengindahkan wajah memerah yang merambati pada wajah mugil senior kerjanya, Minseok, Baekhyun menyeret langkah menuju meja kerja disebuah ruang dengan label, fiksi departemen. Meja yang berhadapan dengan tiga karyawan lainnya, dengan masing-masing sekat pemisah setinggi bahu orang dewasa. Di masing-masing meja, tampak para pemiliknya sedang berkutat dengan projek masing-masing, Seulgi dan Yerin. Sepertinya Jondae sedang berada ditempat lain, karena meski tas dan coat nya tampak tergeletak diatas kursinya, nyatanya pria yang menurut Baekhyun memiliki dagu kotak itu sedang tidak ada dikursi kerjanya. entahlah, Baekhyun tak mau ambil pusing.

Usainya Baekhyun tiba di kursi kerjanya, tanpa berniat duduk, Baekhyun mengambil tas dan mantel 'telinga corgi' miliknya, tanpa mengucapkan salam pada dua rekan kerjanya yang lain, toh mereka sibuk dengan project mereka. selayaknya unta dipadang pasir, langkahnya lesu meninggalkan tempat kerja.

masih dengan kebiasaan hari yang lalu bahkan setelah adegan menangis bombay dalam pelukan Yuta, Baekhyun untuk kesekian-puluh kalinya membawa langkah kakinya menuju Bar yang terletak di daerah Mapo, searah dengan Hongdae-street, yang merupakan segelintir kecil dari keramaian Hongdae di separo terakhir hari. Gedungnya hampir tidak tampak dari jalanan, jika tidak karena tiang telpon di depan gedung dengan pamflet B-clean and Wash, dengan huruf B yang kelewat tebal dan besar, orang hanya akan mengiranya sebagai jalan tikus sebuah rumah. tapi jangan cela apapun itu, karena itu adalah 'konsep'-jika kata bos pemilik Bar, itu adalah daya tarik. Tapi Yuta mengusik kalimat bos nya itu dengan mengatakan, "konsep pantat kuda! bilang saja kalau ingin promosi tempat laundry miliknya!".

Hari belum petang ketika Baekhyun sampai di depan rumah ke-tiga miliknya, tentu saja urutanya setelah apartemen dan kantornya. Beberapa karyawan masih tampak berbenah dengan kursi dan pemanas, bahkan dua penjaga yang biasa berjaga di depan pintu masih belum siap dengan seragam hitam ketatnya. Tanpa bertanya, Baekhyun melangkahkan kaki untuk masuk, sudah dikatakan, Bar ini adalah rumah ketiga bagi Baekhyun, jadi wajar kan jika dirinya masuk tanpa permisi.

Meja konter tampak diisi oleh pegawai berambut hitam legam dengan potongan koma yang tegas, namanya Taeyong. Pegawai lama, tapi senioritasnya masih di bawah Yuta atau katakan saja asisten dari Yuta, tugas utamanya masih waitress. Merasa diperhatikan, Taeyong menoleh pada Baekhyun. senyumnya terkembang meski tak seluwes Yuta, tapi Baekhyun tau dia memiliki jiwa dominan yang baik.

"Hyung! ", kain lap dan nampan yang dia pegang akhirnya ditaruh,memilih melambaikan tangan kepada pelanggan sekaligus sahabat seniornya.

"Yuta Hyung masih digudang, mau minum sesuatu? ", Taeyong menjelaskan kepada Baekhyun bahkan tanpa dirinya mengatakan apa-pun.

"Gluehwein", kata Baekhyun usai mendaratkan pantatnya pada kursi yang dia turunkan dari atas meja bar.

"Hah?", kerutan tajam pada dahi Taeyong tercetak jelas sebagai tanggapan permintaan Baekhyun yang usil.

Takk!

"jangan usil dengan asistenku!", satu pukulan dari papan yang dipegang Yuta mendarat mulus pada kepala Baekhyun.

"Bukankah kau di gudang? ", tanya Baekhyun usai mengaduh tentang benjolan yang mungkin muncul pada tempat yang terkena pukulan.

"Kau pikir gudang bos ku cuma satu?", jawab Yuta yang telah memasuki wilayah kekuasaanya. Meja bar. Taeyong yang merasa tidak diperlukan bagi ke dua seniornya, memilih menyibukan diri dengan es dan beberapa minuman yang Yuta minta untuk dirinya cek.

"dimana Jongin?", tanya Baekhyun usai menerima satu cola hangat dari Yuta.

"Masih dibelakang, kau tau kan, make-up. Dia perlu waktu yang lama untuk itu", jawab Yuta selagi menata gelas sloki pada nampan di depanya.

"Ehmm… Yuta-chan… kau sibuk?", kata Baekhyun yang kini terdengar seperti mencicit. Yuta yang mendengar nada asing itu hanya dapat menukik alisnya, merasa heran dan euwh 'apa itu embel-embel chan? menjijikan.

"Kali ini tentang apa? Dan hilangkan cicitan menggelikan mu Byun", jawab Yuta yang kembali membagi fokus dengan glass shaker terakhirnya.

"Temanku mendapatkan surat dari SNU, untuk seminar. Lalu dia bertanya kepadaku, bagaimana cara menolaknya, ada saran?",

"SNU? Kampus mu? hhm… kenapa ditolak?", Yuta malah balik bertanya.

"Karena takut lisensi… ah maksudku dia sibuk dan itu melelahkan baginya. Jadi ya…, dia menolak",

"Bukankah kau sangat menginginkan menjadi seorang pembicara?",

"Iya, tapi bagaimana jika mereka tau tentang lisensiku?―hah!", Baekhyun memukul mulutnya sendiri menyesali bagaimana otaknya tak sinkron dengan rencana yang dirinya buat.

.

.

.

Sebuah mobil Audi R8 terpakir mulus di depan gedung berlantai 7. Suara decitan yang menguar dari ban antiknya menandakan bagaimana si pengemudi sedang sibuk, terburu waktu. sepasang kaki jenjang yang dibalut celana kerja bermerek tampak meninggalkan mobil dan bergegas memasuki gedung dengan lima lantai.

hampir semua mata memandang takjub ke arah si jangkung pemilik Audi. bukan sekadar terpesona karena wajah dan badan bugar si jangkung, tapi lebih dari itu nama depan dan belakang yang disandang adalah satu dari sekian hal yang membuat semua orang memuja dirinya. Park Chanyeol. seorang dosen, mungkin namanya tak sering muncul dalam dunia bisnis dan politikus. namun berbeda jika kalian membahas mengenai pendidikan. namanya menjadi 'ambassador' tak resmi dalam dunia pendidikan saat ini. dalam usia yang belum mencapai 25tahun dirinya telah menerima sebagai lulusan psikologi SNU. dalam daftar terakhir pendidikannya, pria jangkung itu menjadi penyandang gelar Doctor of Education Management.

langkah panjangnya berhenti pada sebuah ruangan yang berada dilantai teratas gedung. meja karyawan didepan ruangan tampak kosong, tanpa ragu pria Park itu mendorong pintu tanpa ketukan, sudah terlalu biasa menghancurkan ketenangan si pemimpin perusahaan penerbitan itu.

"apa yang…Yak!", suara keras Junmyeon yang tampak mendekatkan sebuah cermin, memanfaatkan satu penusuk gigi pada sela-sela giginya. sepertinya dia baru saja menikmati makan siangnya lebih awal, kata Chanyeol dalam hati-hati.

sebelum kata sapaan tanda perjumpaan, si tamu tak undang telah lebih dahulu meletakkan satu kertas ber-label perusahaan penerbitan.

"Aku tidak percaya kau mengirimkan surat penolakan sebagai pembicara di Kampus ku, Hyung?",

Jumyeon yang merasa sejak awal telah memprediksi ketidakterimaan yang mungkin akan dilayangkan mantan junior di kampus itu hanya dapat menggulirkan bola mata. cukup merefleksikan satu kalimat, sudah kuduga

"Aku juga tidak menyangka Yeol, tapi itu penolakan langsung dari penulisnya. aku tidak bisa memaksa, oke?", Junmyeon mencoba menjadi pihak atas yang mendominasi sebuah negosiasi.

"Tapi tidak bisa mendadak seperti ini, Kim! seminar satu minggu lagi, bahkan sebelumnya kau mengirimkan surat persetujuan bukan?",

"Oke. itu kesalahanku yang terburu-buru memberi balasan, aku awalnya mengira dia akan tersanjung dengan undangan itu tapi nyatanya dia memilih menolak. jujur, aku lebih sayang editor ku, Yeol…" jawab Junmyeon yang entah dimana dia meletakkan kata 'mendominasi negosiasi' jika nyatanya sekarang dia hanya bisa mengatakan, maaf aku yang salah―oke?

"Dia editor mu?", tanya Chanyeol penuh selidik yang hanya dijawab dengan deheman serta anggukan dari si pemilik ruangan. Si jenius Park hanya sedikit tidak percaya jika pemateri yang dia inginkan untuk tampil dalam seminar psikologi adalah seorang editor, alih-alih dosen atau pakar klinis.

"Bisa aku menemuinya…?",

TBC~~ Anyyeoongg :*

haloo.. :) terima kasih sudah menyukai tulisan ku huhu aku bahagia ada yang komen huhu

oke, then.. ehmm sebenernya aku ingin mengingatkan ini Rate T oke? jadi tenang gak ada yang jalang dan sebagainya hahaha aku pun gak akan tega bikin si Bayik jadi macam itu.. huhu ini karena keadaan oke? haha dan kemudian, untuk beberapa hal seperti manajemen penerbitan, gelar dokter, maupun musim di korea beberapa sangat mungkin aku salah. aku hanya mengandalkan sedikit pengetahuan ku dan google (tentu saja haha).

Finally, Thanks yang udah baca~~ Love you so much!