Mr. Opportunity

.

Park Chanyeol-Byun Baekhyun

.

BL/no GS!

.

TypoS Everywhere!

.

Happy Reading!

I hope you like this story!

so, very Thank you for your like and follow, Guys!

.

Enjoooy!

Agustus 2018

Entah semua bermula darimana, apakah semenjak aku menemukan kontaknya dalam ponsel ayah angkatku, ataukah karena pertemuan buruk kami ditempat menjijikan dimana dia membuat janji temu dengan pria tua yang sayangnya ku panggil ayah. hari ini aku bertemu kembali dengan pemuda yang ku tebak lebih muda dariku. Hal yang membedakan dengan pertemuan pertama kami adalah pada style nya hari. Pada malam di kasino saat itu, pemuda dihadapanku tampak rapi dan terawat. Cardigan yang dikenakan saat itu bukan yang bermerk namun menunjukkan bahwa dia berusaha berpenampilan baik.

Tapi hari ini sepertinya dia ingin mengubah image nya menjadi nyentrik?

Kaos kuning dengan logo matahari sebesar dada? jangan lupakan bagaimana dengan cerutu rokok dan kacamata hitam? baiklah ini musim panas yang hampir berakhir mungkin logo matahari bisa mewakili simbol dari kehidupan musim panas yang selalu membakar gairah, tapi dengan snakers biru langitnya? apakah pemuda yang duduk didepanku ini bercita-cita menjadi penyanyi RnB?

Sedikitnya aku lebih menyukai dandanan kala itu, yang bahkan mungkin ketika dia menjadi bitch. Karena sungguh, ini menyakiti mata suci yang terbiasa dengan tampilan sederhana yang sopan, bahkan mahasiswa ku yang belum lulus pun memiliki dandanan lebih baik!

Hari ini adalah tiba pertemuan-ku dengan salah satu penulis sekaligus editor yang beberapa waktu lalu menolak tawaran menjadi pembicara dalam kajian bulanan di kampus ku. aku adalah pemegang jurusan, dan kajian semacam ini telah menjadi rutinitas dengan pemateri yang terus berubah namun tetap dalam bidang yang sama.

"Selamat siang!", sapa si pemuda berkaos matahari nyentrik, dalam imajinasi-ku seolah matahari di dadanya ikut menyengir dan mengatakan hai!—baiklah lupakan si kuning nyentrik setidaknya dia masih memahami bagaimana menyapa dan membungkuk.

"Silahkan duduk", hanya sapa basa basi-ku untuk menghargai bagaimana dia menyapaku. Dan tunggu, apakah dia berpura-pura tidak mengingatku? Ketika mata sipit itu seolah menunjukkan bahwa dia adalah orang baru, dan ini ertemuan pertama kami—aku adalah seorang dalam jurusan psikologi—aku tahu mana kedipan menggoda, kelilipan atau kepolosan. baiklah, mari kita ikuti aturan permainan yang dirinya buat!

"—Saya sedikit terkejut jika pemateri yang saya hubungi adalah seorang yang juga menjadi editor di tempat senior sa—",

"Permisi pelayan!",

apa? makhluk di depanku memotong ucapanku untuk memanggil pelayan?

"Maaf, Tuan. Tidak-kah sebaiknya kita seimbang dengan minuman dihadapan kita? tenang aku akan membayar with myself―tidak menggunakan cek dari anda.", dengan cengiran yang entah bagaimana sangat menyebalkan. dia mengintrupsi ucapanku, yang bahkan beberapa dosen di atas ku akan mengatakan kata permisi sebelumnya. Baiklah, mungkin aku tidak sopan dengan tidak menawarkan minuman atau hidangan apapun karena pada dasarnya aku adalah tuan rumah yang mengajaknya bertemu. Tapi tidak dengan memotong pembicaraan bukan? dan apa tadi? cek? apa berarti dia tidak benar melupakan pertemuan kami di kasino saat itu?

"—ice americano dan strawberry cake, please...", ucapnya mengakhiri pesanannya dilanjutkan dengan pelayan yang mengundurkan diri.

"Jadi kau tidak lupa denganku?', tanyaku yang benar menuntut jawaban.

Tampak dia memutar bola mata, "Tentu saja, Tuan!, bagaimana aku bisa melupakan Mr. Cek 10juta won! tenanglah itu adalah perkenalan diri yang sangat berkesan", celotehnya benar membuatku semakin takjub betapa bar-bar nya dia.

"Jadi Tuan Byun.."

"Cukup Baekhyun! Kau memegang kartu nama ku.", sungguh aku tidak berpikir dari mana makhluk semacam ini berasal? dan bagaimana tua bangka itu bisa mau dengan pemuda semacam ini?"

"...apa alasan anda menolak permintaan kuliah tersebut? ku pikir anda tertarik dengan sertifikat penghargaan yang kami tawarkan. itu akan menjadi poin tambahan untuk bidang pendidikan anda.."

"Bingo! itu poin pentingnya!", jawab pemuda itu. jarinya menjentik seolah apa dia adalah juri utama, penentu jawaban tepat atau tidak tepat.

Sedikit di luar prediksi awalku yang berpikir bahwa negosiasi ini akan berakhir dengan lancar dan cepat selesai. tidak ingin menyombongkan lebih dari kebenaran, sejak awal diriku menjabat sebagai pemegang jurusan, ini adalah penolakan telak tanpa alasan logis. Menolak sertifikasi? apakah dia gila?

aah!

"Seperti nya ini sesuai dengan pemikiran mu sebagai 'ayam penjilat'? kau lulus karena si tua Park, bukan?", hanya sedikit gertakan, seharusnya tidak masalah. toh, cafe tempat kami bertemu termasuk sepi.

"Kalau kau sudah tau, berarti tak ada alasan untuk mengundangku dalam acara 'berpendidikan' itu kan? I'm trully incompetent! i'm just chicken licker!",

Tiap manusia selalu memiliki batas kesabaran. Dapat dikatakan, ini adalah batas tahap pertama dari kesabaran dari dalam diriku. Sudah seperti menghadapi pemateri profesor dari luar negeri saja.

"Bagaimana jika kukatakan, bahwa kesediaan mu adalah bayaran tutup mulutku atas jalan buruk mu?―pertimbangkan buku-buku kesayangan mu jika aku boleh mengingatkan", aku bukan orang kotor sebenarnya. Bahkan haram bagi diriku untuk menggunakan kelemahan seseorang untuk memaksa. Tapi katakanlah, jika yang ingin kau tangkap adalah belut, tak cukup dengan cara halus untuk menyeimbangi tubuhnya yang licin.

"uwaah! kau mengancamku? jangan-jangan ayah mu lah yang sebenarnya mengirimmu untuk membalas ancaman dariku?", pria didepanku terdengar menyalak. tak dapat disalahkan, itu adalah jawaban alamiah dari seorang korban ancaman bukan? haha.

"Anggap saja iya, jadi?", garis kemenangan telah melambai didepan mata, jadi apa yang harus aku lakukan? dead-smirk.

"Oke fine! you won, asshole! jangan tuntut aku dengan penampilan! tak ada jas, tuxedo, dasi dan fantofel! ―aku mau 2 box rice Chicken Katsu―dengan saus kare! Tidak ada mentimun!―sialan!",

Apakah dia sudah belajar menjadi pemateri yang dibayar mahal? alih-alih menuntut tempat yang mewah atau bayaran tinggi, dia meminta lunch box?

Menarik.

.

.

Hari telah beranjak senja, udara musim gugur nyatanya memaksa tiap orang sibuk dengan mantel tebalnya tak terkecuali dengan sosok mungil yang tampak pontang-panting berlarian disepanjang koridor. Wajahnya menunjukan kata 'marah' yang bercampur dengan lelah. Dengan nafas putus-putus, tangannya terulur untuk membuka pintu bertulis, 14b waiting room program study. Usai pintu terbuka, mata sipit itu tampak tertuju pada sosok jangkung yang tamak serius dengan bendel kertas ditangannya.

"Kau benar-benar psikopat! bagaimana bisa kau mengganti jadwal dan susunan acara? Seperti kau mengganti dalaman!", Baekhyun benar menuangkan semua ketidakterimaan yang menjadi umpatan sejak berita bahwa acara pagi yang harusnya menjadi narasumber sebuah kajian psikologis klinis berakhir dengan dirinya yang harus menjadi narasumber pembanding disebuah program radio berbasis on air. Jangan tanya darimana Baekhyun tahu acara tersebut, meskipiun dirinya adalah mahasiswa drop out, tapi berbicara tentang materi keilmuan adalah cemilan yang baginya sangat menggugah selera.

"Nice sweeter…", dan hanya orang gila yang menjawab sebuah umpatan dengan kata-kata cheesy, batin Baekhyun yang benar tak terpengaruh dengan omong kosong. dirinya memilih melangkah masuk dan berhenti didepan si jangkung yang terakhir mereka bertemu adalah di sebuah kafe tempo hari.

"Sepertinya kau sangat menanti program semacam ini? tak heran jika kau terkenal, Tuan Muda Park…", nada sindiran? tentu saja untuk pria yang menurut Baekhyun benar-benar jelmaan monster―meski terkadang visual nya tidak dapat dipungkiri menjadi cerminan seorang dewan. Terlampau tampan!

"Bingo! kita harus selektif, tentu saja. Seperti kau yang memilih turtle neck dibanding kaos matahari mu! lepas mantel mu dan biarkan So Hyun sedikit membuatmu layak", jawab Chanyeol tanpa beranjak dari kursinya.

"Big no! sudah kubilang, tidak ada complain tentang…"

"Ini make up, Byun. Bukan pakaian dan fantofel―meski aku merasa tidak setuju dengan kaos kaki beruang mu!", kata Chanyeol yang benar tahu bahwa ucapannya akan ditolak oleh si belut Byun, seperti tempo hari dipertemuan kedua mereka.

Lima menit sebelum acara. Baekhyun dan Chanyeol telah bersiap dengan kursi dan earphone masing-masing. Tak ada penonton bayaran seperti pada talk show televisi. Sebagai gantinya, beberapa orang yang Baekhyun tebak sebagai kumpulan operator, dan mungkin penulis naskah yang dipegangnya saat ini.

Dulu sekali dimasa perkuliahan, Baekhyun dikenal sebagai si hyperaktive moderator. artinya, menjadi moderator yang benar-benar aktif. Tentang materi maupun bagaimana dia me-nyetir para audiens. Di tangan seorang Byun, panel moderasi yang sebenarnya membosankan akan berakhir menyenangkan.Itu dulu. Sebelum dirinya tenggelam dalam rutinitas kerja yang secara perlahan telah membatasi ruang gerak antara dirinya dan naskah―tentu saja.

"Jika kau gugup, hanya ikuti naskah", bisik Park Chanyeol yang sama sekali tak tampak gugup. Berbeda dengan Baekhyun yang sibuk dengan botol air di depannya.

God, damn… bagaimana bisa makhluk menyebalkan disampingnya menyuruh dirinya mengikuti naskah yang bahkan baru dipegangnya tak lebih dari 20menit yang lalu.

Pandangan Baekhyun mengedar pada ruang radio yang hampir sama dengan gambaran ruang radio dalam drama yang sering nenek-nya dulu tonton. Beberapa microphone berjejer melingkar, lumayan leluasa untuk menangkap siapapun yang sedang bersiap di bagian sound dan musik operator. Selagi Baekhyun duduk dengan segepok kegugupannya, seorang pria yang Baekhyun tebak berumur 28tahun memasuki ruangan. Pakaiannya tampak kasual dengan turtle neck putih dipadu luaran berwarna abu terang, kaca mata tampak menggantung tegas meluntur kan kesan nerd yang biasa tergambar pada manusia berkaca mata. Satu kata untuk menggambar sosok ini. Dewasa. Dari jarak dekat, bisa terlihat bahwa riasan tipis menghiasi wajah tirus nya. Aah jadi, meskipun seorang penyiar hanya bekerja dengan suara tapi mereka masih saja memperhatikan penampilan, batin Baekhyun.

Tanpa Baekhyun sadari sosok yang baru memasuki ruangan tampak menghampiri kearahnya―atau, hanya menuju kerah sosok disebelahnya, tentu saja Park Chanyeol.

"Hai, Yeol! tak biasanya kau mau ikut turun tangan dengan program mingguan ini", pria itu dan Chanyeol bersalaman. Tampak akrab, seperti ini bukan pertemuan pertama mereka—tentu saja, disini Baekhyun lah yang menjadi orang baru.

"Tentu saja, hyung. Dia orang baru di departemenku. Aku takut dia kurang nyaman", jawab Chanyeol seraya memberi gesture menunjukkan sosok lain yang dimaksud—Baekhyun.

"Lee Teuk, salam kenal. tak ada yang pernah mengecewakan pilihan seorang Park Chanyeol, bukan?",

Ada perdebatan dalam diri Baekhyun untuk menanggapi kalimat dari sosok yang bernama Lee Teuk—yang memperkenalkan diri sebagai penyiar tetap dalam program Hello Clinis yang sedang Ia datangi bersama Park Chanyeol. Baekhyun tahu, orang yang kini duduk di kursi tunggal yang menjadi ujung dalam lingkaran microphone yang Baekhyun tebak telah menjadi hak paten sebagai kursi 'penyiar', bukanlah kata yang sengaja diucapkan untuk menyindir orang baru semacam dirinya. Namun tetap saja, ada perasaan menyebalkan yang lebih mendominasi—daripada perasaan tersanjung karena disebut sebagai orang yang 'pasti sesuai selera seorang Park yang tidak pernah mengecewakan pendengar'. Oh shit!

Sepuluh menit usai perbincangan mereka berdua—minus Baekhyun selesai. Operator menunjukkan gesture bahwa acara akan dimulai dalam hitungan ketiga. Dalam hati Baekhyun terus melafalkan kata, onair—onair sebagai bentuk pengingat bahwa apa yang dia ucapkan akan langusng di dengar ribuan pendengar tanpa bisa ditarik. Sebenarnya Baekhyun sedikit—banyak merasa aneh dengan keputusan pria Park yang membawanya untuk program onair. Bukankah terlalu beresiko untuk membawa orang baru, yang bahkan kelulusannya adalah buah dari sogokkan? Entahlah, mungkin hari ini si bungsu Park ini sedangkan menyimpan otaknya dalam saku sampai lupa siapa Baekhyun dalam pandangannya dulu.

Psikologi remja Budaya Pop, menjadi judul pembahasan hari ini. Baekhyun benar bersyukur, setidaknya buku yang diangkat tidak jauh dari pembahasan remaja dan pop kultur. Jika boleh Baekhyun berasumsi, mungkin kebodohan Park membawa dirinya dalam acara ini adalah bahwa bukunya masih memiliki 'sedikit' hubungan dengan tema ini.

"—kita disini telah ditemani oleh penulis muda berbakat, yang beberapa pekan ini bukunya telah dirilis dan mendapat sambutan hangat dari para praktisi dan mahasiswa, dialah penulis Byun Baekhyun dengan karya-nya Spring with mind. dan selain itu, kita akan ditemani dengan pembanding kita sebagai praktisi—sekaligus konselor ilmu psikologi Kang Haneul—", ketika satu nama terucap dari bibir tipis seorang Lee Teuk, Baekhyun kembali merasa tercengang dengan nama yang muncul. Kang Haneul? Baiklah, mungkin hanya Baekhyun yang harus pura-pura, bahkan dengan terangnya Park Chanyeol mengirim tanda untuk tidak bertanya. Terserah!, pikir Baekhyun seraya menutup materi yang sejak tadi dia tekuk melingkar, menggulungnya gemas, saking bosannya menunggu acara dimulai.

.

.

Tepat di jam 7 malam, dua orang dengan tinggi badan berbeda tampak berjalan keluar dari sebuah ruang penyiaran radio menuju area basement. Dengan mobil mewah audi milik si jangkung mereka sepakat untuk memecah keramaian kota Seoul bersama untuk pulang untuk mendapat apa yang menjadi bayaran si pendek.

Jangan sangka bahkan perjalanan pulang mereka terjadi dengan sederhana. Usai siaran yang dijadwalkan selama 60 menit itu, Chanyeol tidak langsung menunjukkan ikhtikat untuk pulang atau menyelesaikan agenda 'Baekhyun menjadi pemateri', yang terjadi adalah Chanyeol yang menyeret Baekhyun untuk bertemu dengan pimpinan program yang mereka ikuti. Chanyeol bilang, itu adalah rutinitas. Baekhyun yang masih berada dalam aura positif karena acara on air yang dirinya hadiri berakhir dengan sangat sukses, akhirnya hanya menuruti apa yang dikata Chanyeol sebagai rutinitas. Menemui seorang pria berumur 40 tahunan, Chanyeol memperkenalkannya sebagai Choi Minki. Dalam perkiraan Baekhyun, pertemuan itu tidak akan lebih dari tiga puluh menit. Tapi nyatanya, Baekhyun dipaksa menelan ekspetasi busuknya. Pertemuan itu hampir menghabiskan 60 menit lain di dalam hidupnya hari itu. Tidak sepenuhnya Baekhyun memahami apa yang menjadi perbincangan. Menit pertama memang berisi basa basi yang sudah diduga Baekhyun, namun tiga sepertempat lainnya adalah perbincangan dari keilmuan hingga politik. Entah berapa umur mereka—Baekhyun pikir kedua orang dengan umur berbeda itu mungkin saja sebenarnya adalah manusia-manusia tua seperti ayahnya. Bersyukurlah pada handphone milik Lee Minki yang menunjukkan penggilan penting. Pertemuan berakhir, dan tak ada alasan lain untuk menambah waktu terulur.

Dengan wajah ogah-ogahan, Baekhyun masih mengikuti langkah lebar si bungsu Park.

"Kenapa kau mengikutiku?", tanya si Park ketika langkah mereka sama terhenti di depan sebuah mobil audi mewah. What hell! Ada perempatan siku imajiner yang benar muncul dalam benak si brunette.

"Demi Tuhan! Kau menyuruhku untuk mengikuti langkah lebar—menyebalkanmu! Dan sekarang kau mengejekku karena mengikutimu? Apakah otak mu masih tertinggal di ruangan si Minki?", dengusan kesal tidak lagi bisa dicegah. Ada sedikit ekspresi terhenyak dari Chanyeol. Sesungguhnya dia benar lupa tentang fakta Baekhyun yang bersamanya. Maklum, dia biasa sendiri—dimana pun, dan saat apapun.

"Baiklah, kau bisa pulang sekarang... terima kasih untuk hari ini", ini bukan kalimat basa-basi dari seorang Park Chanyeol. Dia bersungguh-sungguh dengan itu. Baekhyun sedikit terhenyak, dia tahu, mana yang tulus dan tidak. Baekhyun juga mengakui, tiap kalimatnya yang meninggi di depan si Park ini adalah karena bentuk gencatan senjata tak kasat mata. Tapi kali ini, Baekhyun mengakui untuk sebentar mengakhiri gencatan tersebut. Tangan mungil nya terulur ke arah si Tinggi. Tidak ada kata apapun, menjadikan tanda tanya bagi Chanyeol.

"Apa?", tidak ada nada tinggi, ingat secara tak kasat mata mereka saling menghentikan gencatan senjata—sementara.

"Double chicken katsu dengan saus kare, kau belum membayarnya.". apa yang kau pikirkan ketika partner mu tanpa sadar melakukan hal polos yang tidak akan mungkin dilakukan oleh seorang dengan bakat 'profesional'? Chanyeol pikir, itu menggemaskan!

Dua puluh menit adalah waktu yang biasa dibutuhkan Chanyeol untuk sampai pada apartemen 'cukup' mewahnya. Dengan mobil audi tentu saja, dan seorang pria mungil yang meminta jatah 'bayaran' atas kerja kerasnya kali ini—setidaknya itu apa yang dipikirkan seorang Park Chanyeol terhadap partner kerja nya hari ini.

Pintu terbuka, sebuah ruang besar yang tampak bersih. Tidak terlalu mencolok untuk ukuran tempat tinggal seorang keluarga terpandang, tapi pastinya tetap tak selevel dengan kehidupan seorang Byun Baekhyun.

Pemandangan awal yang Baekhyun tangkap adalah satu set sofa berwarna abu-abu dengan televisi Led didepannya, yang Baekhyun pikir seharga gajinya selama tiga atau lima bulan. Mahal. Lalu sebuah counter dapur yang selalu dia bayangkan untuk ia miliki. Jika kalian bertanya padanya mengenai kesan pertama seorang Byun, tentu saja, ia iri. Setelah sekilas menjelajahkan mata sipitnya pada ruang apartemen si jangkung, netranya menangkap sepasang sandal lantai dengan kepala Micky Mouse.

"Itu milik kakak perempuanku, kau bisa menggunakannya. Dan tunggu pesananmu di sofa depan", tunjuk Chanyeol pada sofa yang benar ingin Baekhyun coba.

Sesungguhnya, Baekhyun bukanlah tokoh miskin yang terlalu takjub dengan kemewahan, hanya saja, semua yang Chanyeol miliki nyatanya terasa 'hangat' dan menyenangkan. Bermula dari sebuah mobil. Meski Baekhyun bukan orang yang memilik benda semacam itu, tapi dalam kesehariannya Baekhyun terbiasa dengan kemewahan milik kenalannya yang merupakan atasan Yuta—Yixing. Ingat mobil yang digunakan Baekhyun untuk datang ke casino tempat dia menemui Jisung Park? Itu adalah mobil dengan bak mewah dengan spesifikasi mesin yang biasa digunakan untuk medan sulit, terlalu mahal jika hanya digunakan untuk angkut box anggur yang ringan. Atau bos tempatnya bekerja yang juga merupakan kekasih Yixing, Junmyeon adalah bos penerbitan yang sukses. Tempat tinggalnya adalah sebuah rumah dengan halaman luas, beberapa kali dalam sebulan Baekhyun akan berkunjung masalah pekerjaan atau sekedar barbeqeu bersama dengan teman yang lain. Bahkan dimasa lalu, kemewahan adalah mimpi yang pernah singgah dalam otak kecilnya, tanpa pernah dia sadari bahwa dia pemeran utama dalam mimpinya kala itu.

Ting!

Sebuah suara pertemuan antara piring dan meja, menghentikan lamunan Baekhyun. Aroma kare sukses menarik perhatian seorang Baekhyun yang lapar. Tanpa sebuah tawaran dari tuan rumah, Baekhyun datang menghampiri. Netranya hanya terpaku pada dua piring dengan sajian berwarna coklat.

"Kau benar lapar?", entah pertanyaan atau sindiran. Baekhyun terlalu malas untuk tersinggung.

"Bayangkan saja ketika kau harus berangkat di jam makan siang, tapi pekerjaan mu baru selesai di jam makan malam. Satu-satunya yang kau dengar adalah keluhan tentang kaos kaki beruang. Cih. Kau pikir pembicaraan mengenai politik dan pendidikan itu mengenyangkan?", Baekhyun tidak benar marah, itu hanya kebiasaan mengomel miliknya ketika dia terlambat makan.

"Maaf kan aku, kupikir permintaan mu tentang katsu hanya guyonan", kata Chanyeol disertai dengan kekehan ringan. Masih merasa takjub dengan bagaimana Baekhyun memprotes chicken katsu yang dia pinta ketika dipertemuan pertama mereka.

"Tidak ada bercandaan mengenai makanan! Ingat itu!", seraya menunjuk sumpit di sebelah mangkok nasinya kearah Chanyeol. itu tidak sopan, tapi biarkanlah, bukan Baekhyun jika tidak seperti itu.

Tanpa segan, Baekhyun mulai menyuapkan sendok nya pada nasi hangat dan saus kare. Melahapnya dengan suapan besar. Chanyeol yang melihatnya hanya dapat bergidik ngeri. Bukankah itu panas?

Namun dibalik itu, Chanyeol dapat menangkap rona merah pada pipi Baekyun, seolah Baekhyun adalah seorang korban kelaparan yang kini semakin membaik karena sesuap nasi. Sejujurnya, ada rasa bangga yang menyeruak dalam hati Chanyeol melihat betapa wajah yang biasa mengeluarkan kesinisan kini terganti dengan senyum menyenangkan.

"Nasi hangat—bukankah itu makjubkan?", kalimat Baekhyun usai beberapa suapan ditelan dengan benar. Berhasil keluar dari lamunannya, Chanyeol mencoba memasang wajah datar seperti biasa, tidak benar ingin menunjukkan bahwa dia sempat tertarik dengan makhluk di depannya.

"Menakjubkan? Seperti saat kau melihat apartemenku?", ada senyum mengejek dari Chanyeol, karena dia benar menangkap pancaran takjub saat pertama kali Baekhyun memasuki apartemen miliknya.

"tsk! Sudah kuduga kau tak pernah tahu simbol nasi". Selalu sarkastik, adalah tanda bahwa Baekhyun sedang dalam keadaan baik.

"Katakan", entah karena merasa penasaran atau hanya tidak ingin mendengar nada mengejek dari Baekhyun, Chanyeol mengaku tidak pernah mendengar apa yang dikatakan oleh si mungil di depannya. Jika Chanyeol ingat, Ibu nya bahkan tidak pernah menceritakan dogeng tentang nasi.

"Terdapat tiga jenis keadaan nasi jika kau tahu, nasi dingin, nasi hangat dan nasi panas. Jika kau berpikir ketiga nasi ini sama, maka kau sangat tidak sopan dengan Dewa padi!", ada sedikit jeda yang Baekhyun buat. Menyelinapkan satu potong katsu yang paling kecil diantara potongan katsu yang lain.

"Nasi hangat adalah pemilik kekuasaan tertinggi. Simbol kehangatan dan kemakmuran. Kau tahu kenapa, karena nasih hangat hanya akan kau temui ketika kau sedang bahagia, hidup berkecukupan, dan terpenting ketika kau dalam keadaan baik. Jika kau sadar, nasi hangat hanya tersaji dalam keluarga yang sedang berkumpul. Karena apa? Seorang ibu akan menyajikan nasi ketika keluarga mereka sudah berkumpul. Awalnya sangat panas karena baru keluar dari rice cooker tapi sebuah keluarga yang harmonis akan melakukan makan bersama usai mereka usai berdoa. Kau pikir keluarga harmonis hanya berdoa secepat kilat. Kau salah! Ada waktu canda tawa diantara mereka. Tanpa terasa nasi tak lagi panas tapi tidak sampai mendingin. Dia hangat karena doa dan kebersamaan mereka. Aah kau tahu kenapa seorang ibu akan sangat berbangga ketika sedang membuka nasi yang baru saja matang untuk disajikan? Tentu saja, karena nasi yang matang dengan sempurna adalah kepuasaan tersendiri", senyum simpul Baekhyun sunggingkan seraya memasukan satu potongan katsu dengan saus kari yang benar terasa creamy.

"Bagaimana dengan nasi panas? Kau pikir itu simbol orang sibuk, karena dia langsung memakannya dari rice cooker tanpa berdoa?", ada nada ejekkan dalam sindiran Chanyeol, namun hanya gelengan lemas yang Baekhyun berikan.

"Benar tidak sopan kau itu!—Nasi panas adalah simbol perpisahan dan pengusiran. Kau pikir, apa yang dipikirkan seseorang ketika menyuruhmu sesegera mungkin menghabiskan nasi yang masih panas mengepul? Jika bukan penolakan untuk bertemu dengan mu lebih lama? Cih aku tahu selain menyebalkan kau juga tak peka!".

"Terakhir adalah nasi dingin.. nasi untuk mereka yang dipenuhi kesepian, kesedihan, dan penyesalan. Bukankah dunia ini sangat adil? Tuhan mengiriman nasi dingin untuk mereka yang kesepian, agar mereka bisa memakannya dengan tenang. Mereka bisa memakannya dengan sangat pelan. Tak yakin apakah mereka benar bisa tertelan dengan baik—sejalan tenggorokan mereka yang terus menyempit karena kesepian yang terus tertelan tanpa mereka inginkan".

—TBC.

.

.

.

.

Hai! aku senang bisa Up! terima kasih buat komen nya :* . Btw, simbol nasi hangat itu hanya imajinasi ya.. dan semua pengetahuan ilmu, maupun broadcasting disini hanya sependek pemahamanku. maaf jika salah...

— Love you All —