-oO-TamaSa-Oo-

Disclaimer: Marvel

Rated: T

Pairing: STony (Steve x Tony) and others

Warning: Boyslove, AU, (really) OOC,Maybe typo(s)

Don't like, don't read!

-oO-TamaSa-Oo-

Steve memijat pangkal hidungnya. Rasanya penat, seharian ini dia tidak berhenti memandang layar monitor karena pekerjaannya yang menumpuk banyak. Bahkan jam makan siangnya ia habiskan di meja kerjanya sambil hanya memakan bekal sandwich yang kebetulan ia bawa tadi pagi. Nah, kenapa pekerjaannya bisa menumpuk sebanyak ini? Memangnya selama ini Steve bersantai ria di kantor? Kalau ditanya begitu dengan tegas Steve akan menjawab tidak. Steve berusaha selalu bertanggung jawab dalam pekerjaannya. Dia selalu menyelesaikan tugas-tugasnya secepat dan sesempurna yang ia bisa. Dia bahkan yakin para senior dan atasannya menyukai hasil kerjanya karena tidak pernah sekalipun ia mendengar komentar jelek dari mereka. Lalu, kenapa belakangan ini pekerjaannya jadi bertambah berkali lipat lebih banyak? Steve yakin, ini semua pasti ada hubungannya dengan Mr. Stark.

Ini semua terjadi sejak minggu lalu, beberapa hari setelah ia sedikit cekcok dengan Anthony di lift. Steve melihat Big Bossnya itu masuk ke ruang divisinya. Berhenti sebentar untuk melirik tajam pada Steve, dan kemudian masuk ke ruang kerja atasannya. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di ruangan tertutup itu. Yang pasti, setelah Anthony keluar dari ruang itu, semua tahu bagaimana wajah atasan mereka yang tegang adalah pertanda sesuatu yang buruk akan terjadi. Yang semua orang tidak sangka, ternyata hal buruk itu hanya terjadi pada pegawai baru di divisi mereka. Steven Rogers. Johny bahkan tertawa terpingkal-pingkal saat sadar hanya Steve yang dipersulit oleh atasan mereka.

"Penderitaanmu sudah dimulai dari sekarang rupanya," sahutnya sambil menepuk keras punggung Steve, menertawakan ketidakadilan yang harus dialami oleh Steve sendirian. Steve bahkan masih tidak percaya kalau ternyata atasannya yang ia kira baik hati dan tegas itu akan terpengaruh dengan perintah Anthony. Oke, Steve tahu, Anthony sedang menggunakan jabatannya untuk mempermainkan Steve saat ini. Mungkin menurutnya, Steve akan datang padanya dan bersujud meminta maaf padanya, sekaligus memohon agar dia menyuruh kepala divisi Steve untuk tidak menyiksanya lagi dengan seabrek pekerjaan tidak bermutu. Hah! Memangnya Steve akan semudah itu berputus asa?

"Rogers."

Steve segera menoleh ke belakang. Peggy Carter. Gadis cantik yang satu divisi dengannya. Tinggi dan seksi. Anggun. Pandai. Sempurna. Bahkan terlalu sempurna jika disandingkan denganku, batin Steve. Carter berjalan menghampiri Steve di meja kerjanya, membuat jantung Steve berdetak lebih cepat dibandingkan biasanya.

"Hy," balas Steve. Ia memutar kursinya menghadap Carter, mengarahkan perhatiannya penuh pada Carter sekalian menatap wajah cantiknya.

"Lembur lagi?" tanya Carter.

"Ya. Mr. Smith menyuruhku untuk membuat beberapa laporan tadi."

"Kurasa aku bisa membantumu agar pekerjaanmu cepat selesai," Carter menawari bantuan. Sangat menggiurkan untuk Steve, karena itu artinya dia bisa menghabiskan waktu berdua lebih lama dengan Carter. Tapi maaf saja, logika Steve masih bekerja saat ini.

"Tidak perlu. Pekerjaanku sudah hampir selesai. Aku hanya perlu membaca ulang untuk mengeceknya," tolak Steve.

"Kau tak perlu sungkan padaku. Aku tidak masalah jika harus membantumu dulu."

"No, Carter. Aku bisa menyelesaikan ini sendiri. Kau pulanglah. Aku tahu kau sendiri sudah lelah, jadi tidak perlu merepotkan dirimu."

"I'm serious!"

"Me too. Aku berterimakasih untuk tawaranmu. Tapi tidak apa, aku bisa menyelesaikannya sendiri. Tak perlu repot-repot."

"Oke," Peggy mengangkat kedua tangannya, menyerah dengan kekeraskepalaan Steve, "mungkin lain kali." Steve meringis, sedikit tidak enak hati.

"Padahal kupikir dengan begini aku bisa lebih dekat denganmu," gumam Peggy membuat perut Steve terasa geli. Apakah barusan dia salah dengar? Peggy baru saja menggodanya atau apa? Oh Steve, khayalan macam apa itu? Sepertinya kau perlu membasuh mukamu setelah ini. Steve terus berusaha mengalihkan pikirannya agar tidak terus-terusan berpikir yang macam-macam tentang gadis cantik di depannya ini.

"Bagaimana kalau besok kita makan siang berdua?" ajak Peggy tiba-tiba, mencoba meruntuhkan pertahanan Steve tanpa ia sadari. Steve melongo.

"Maksudmu?"

"Bagaimana kalau besok saat jam istirahat kantor kita makan siang berdua? Hanya berdua…?" Peggy agak tersipu kali ini. Tawaran yang sangat menggiurkan, tentu saja. Mana mungkin Steve menyia-nyiakannya begitu saja.

"Tentu, aku akan sangat senang bisa makan siang berdua denganmu…," Steve tersenyum antusias. Tanpa sadar telah membuat Peggy semakin tersipu karena ketampanannya yang semakin meningkat.

"Baiklah. Aku pergi dulu. Bye!"

"Bye, Carter. Good night…"

Dan seiring kepergian Peggy Carter, semua lelah dan kekesalan Steve melayang entah kemana karena janji kencan dengan gadis itu barusan.


Esoknya…

Steve tidak bisa menahan debar jantungnya saat bekerja. Sebentar-sebentar menatap jam dinding di ruangannya, menarik perhatian Si Usil Johny tentunya. Tapi Steve tidak menjawab apapun saat Johny menanyakan alasan dari sikap anehnya. Dan karena tidak menerima tanggapan yang berarti dari lawan bicaranya, akhirnya Johny mengobrol dengan rekan kerjanya yang lain. Johny itu pria cerewet, dan terlalu humoris. Menurutnya semua hal di dunia ini adalah lelucon. Sangat sulit untuknya bekerja dengan mulut terkatup rapat. Bahkan meskipun ia tahu pekerjaannya harus segera diselesaikan, dia justru memasang headset di telinganya, mengetik sambil bernyanyi. Tahu-tahu, dia menyelesaikan tugasnya tepat waktu. Sayangnya, Steve bukan tipe pegawai cerdas macam Johny, jadi dia tidak akan bekerja seperti cara kerja Johny. Steve itu tekun, hanya itu modalnya.

Ngomong-ngomong, gossip mengenai hubungan Steve dan Anthony semakin tidak karuan. Masalahnya, orang-orang menjudge jelek hanya pada Steve. Mereka semua mengira Steve telah melecehkan Tony, sehingga membuat Tony membully Steve dengan menggunakan kepala divisi di mana Steve ditempatkan. Padahal faktanya, tidak ada pelecehan apapun. Bahkan Steve yang sedang dibully di sini, dengan alasan yang tidak jelas sama sekali. Steve bingung, bagaimana gossip murahan seperti itu bisa beredar. Memangnya pelopor gossip itu tidak melihat bagaimana Anthony menyeringai setiap melihat Steve meskipun itu dari jarak yang jauh sekalipun. Mana ada korban pelecehan senyum-senyum gila saat melihat pria yang telah melecehkannya. Lagipula ya, sampai tujuh keturunan pun, Steve tidak akan mungkin tertarik pada sesama pria, apalagi pria seperti Anthony. Pria itu terlalu sialan. Really.

Tepat ketika jam istirahat, Steve menghentikan sejenak pekerjaannya. Ia akan melanjutkannya nanti, setelah makan siang. Steve bangkit berdiri, berpura-pura merenggangkan badannya, padahal sebenarnya matanya memperhatikan Peggy Carter. Dari jauh Peggy mengedikkan kepalanya, memberi kode pada Steve untuk pergi keluar sekarang. Steve tanpa menjawab kode dari Peggy segera mematikan computer kerjanya, membereskan meja, mengambil dompet di tasnya dan pergi keluar ruangan setelah menyapa Johny. Steve akan turun terlebih dahulu, baru Peggy akan menyusul kemudian. Akan muncul gossip murahan yang lain lagi kalau teman satu divisinya melihat Steve dan Peggy pergi berdua. Dan tentunya Steve tidak ingin Peggy merasa tidak nyaman setelah pergi berdua dengannya kan?

Dan lagi-lagi, entah jodoh atau apa, ketika Steve hendak masuk ke salah satu lift, ternyata sudah ada si bos sialan di dalam yang juga menatapnya terkejut. Steve antara ragu dan buru-buru, mau tidak mau tetap masuk ke dalam. Meskipun ia tahu, saat ini Anthony menatapnya tajam. Tapi Steve tidak peduli. Ia sudah membulatkan tekadnya tidak akan mau tahu soal Anthony, dan tidak akan menanggapi apapun perkataan pria itu. Lihat kejadian tempo lalu, ia hanya menanggapi sedikit, kesulitan yang harus ia tanggung jadi sebesar ini. Jadi ia pikir, jangan menanggapi pria ini, sedikitpun, bahkan meskipun sedang di lokasi kerja sekalipun, kecuali untuk urusan kerja. Ya, urusan pekerjaan.

Jujur saja, Tony sangat terkejut ketika liftnya berhenti sejenak di lantai yang ia tahu merupakan di mana Steve ditempatkan. Lebih terkejut lagi ternyata yang menunggu di depan lift adalah Steve. Apalagi ketika Steve memutuskan tetap masuk ke dalam padahal tahu kalau ada Tony di dalam. Tony bisa merasakan kedua tangannya sedikit gemetar. Bukan-bukan! Tony bukannya gugup seperti gadis ABG yang bertemu dengan lelaki idamannya. Tony hanya…. eum… gugup. Tony memang mudah panik kok. Apalagi jika dia berada di situasi yang membuat ia kebingungan harus berbuat apa. Tony itu jenius, masa' iya dia jadi bodoh begini hanya karena berada di ruangan yang sama dengan Steve. Astaga, ini hanya Steve. Pegawai baru bodoh yang sudah membuat masalah dengannya kemarin. Membuat masalah karena sudah menantang Anthony. Memang, sebenarnya Steve tidak pernah menantang Tony, itu hanya karena rasa angkuh Tony yang tidak suka dibantah oleh siapapun. Tony dan keangkuhannya, siapa yang bisa melawan? Tony mencoba melirik Steve yang berdiri di sampingnya. Tidak ada reaksi apapun dari Steve. Pria itu hanya diam, menatap lurus ke depan, seolah tak ada siapapun di lift selain dirinya sendiri. Sial! Rasanya Tony seperti mati kutu. Baru kali ini ada yang bisa membuatnya terlihat bodoh seperti ini. Dan dia benci diacuhkan seperti ini.

"Kau sangat ingin kusapa ya, Mr. Stark?"

Anthony terkejut bukan main begitu Steve memecah keheningan di antara mereka berdua. Ia menoleh, menatap Steve dengan setengah tidak percaya. Sementara Steve masih tetap menatap lurus ke depan, sama sekali tak menoleh ke Tony sedikitpun.

"Percaya diri sekali…," gumam Tony, balas cuek.

"Jika kau pikir aku tak tahu, maaf saja, dari tadi aku ingin tertawa melihat ekspresimu dari bayanganmu di sana," Steve menunjuk ke arah pintu lift, di mana terlihat bayangan Tony dengan jelas seperti cermin.

"Bukannya kau yang menyapaku dulu...," gumam Tony memutar bola matanya. Steve tertawa, tidak membalas perkataannya lagi. Bahkan ketika lift menunjuk angka 1 dimana mereka sampai di lantai yang mereka tuju. Steve masih tertawa, membuat Tony menahan rasa kesalnya mati-matian. Saat ini yang bisa Tony lakukan hanya menarik nafas panjang, memutuskan tidak akan menanggapi perkataan Steve yang terdengar merendahkannya. Lama-lama Steve menghentikan tawanya sendiri, sadar kalau Tony bersikap pasif kali ini. Ketika pintu lift terbuka dan Tony hendak keluar, buru-buru Steve menahan bahunya.

"Don't get away, Sir!"

"Kau pikir aku sedang menghindarimu?" Tony menepis tangan Steve dengan kasar. Ia tetap keluar dari lift, namun lagi-lagi Steve mengejar dan menahannya.

"Sepertinya begitu. Setelah kau mencari masalah denganku dan sekarang kita bertemu, you just shut your mouth like there was nothing between us."

"Begitu? Lalu katakan apa lagi sekarang masalahmu denganku?" Dengan angkuhnya, Tony mengangkat dagunya. Lagi-lagi menantang Steve sementara ia sendiri tahu pokok masalahnya adalah dia.

"Kau...," Steve menunjuk hidung Tony dengan geram, "camkan baik-baik perkataanku. Meskipun kau menyulitkanku, separah apapun itu, itu sama sekali tidak akan mempengaruhiku. Aku... tetap akan pada prinsipku."

"Oh, come on! Aku hanya memintamu meminta maaf padaku."

"Dan faktanya, aku tidak menemukan alasan untuk melakukan hal itu. Semua orang tahu, kau yg harus melakukannya!"

"Menurutmu aku akan melakukannya?" Tony tertawa sinis. Steve menggeram, tangannya terangkat seakan hendak mencekik leher Tony.

"Rasanya aku ingin menghajarmu saat ini. Apalagi melihat gaya congkakmu itu!"

"Silakan, aku sama sekali tidak akan menahanmu," Tony semakin menempel pada Steve. Dadanya sedikit berdebar ketika menempel dengan dada kekar Steve. Menganggap adrenalinnya terpancing, alih-alih sebagai hal yang romantis. Tony akui ia cukup tertarik pada pria pirang di depannya, -bukan hal yang romantis, sela Tony, tapi karena dia adalah orang pertama yang berani menentang Tony dengan gaya sok heroik. Steve menatap tajam tepat di kedua mata Anthony. Selama beberapa saat mereka hanya terdiam, dengan pandangan yang saling bertautan dan nafas yang bertabrakan. Tony meskipun gengsi untuk mengakui, sempat terbius dengan kedua safir Steve. Seolah menenggelamkannya ke dasar lautan. Menenggelamkan dalam artian sesungguhnya. Entah karena pria pirang di depannya itu memakai sepatu dengan hak tinggi, atau karena Tony berdiri dengan posisi yang tidak begitu benar -baca:tegak-, ternyata Steve sedikit lebih tinggi dibandingkan dirinya. Dan mendadak Tony langsung menanamkan doktrin di otaknya untuk jaga jarak dengan si Beruang Besar ini. Lihat caranya melotot padaku, gumam Tony dalam hati, aku benci caranya melotot padaku. Tony-lah yang terlebih dahulu memutuskan tautan mata mereka. Tony membuang wajahnya geram. Dari sudut matanya, Tony tahu, Steve masih tetap memperhatikannya. Dan lagi-lagi, Tony berusaha mengacuhkan fakta itu.

"Aku akan menganggap tidak terjadi apapun hari ini," Tony bergumam dingin. Tepat sekali, pintu lift terbuka. Dan tak menunggu lama, ia segera keluar dari sana. Meninggalkan Steve yang masih termangu di dalamnya.


Jika begitu datang Tony sudah menunjukkan wajah riangnya, Pepper sudah bisa menebak. Semalam kencannya dengan wanita -entah mana itu- pasti berhasil. Lihat itu senyumnya yang berseri-seri mirip bocah kecil yang baru diajak liburan oleh orangtuanya.

"Morning," sapa Tony sambil duduk di depan meja Pepper. Pepper tidak menjawab, hanya mengedikkan kedua alisnya sambil tetap mengingat-ingat pesta mana lagi yang dihadiri mantan kekasihnya itu.

"Kau sudah sarapan?" tanya Tony lagi. Pepper mengangguk, mengedikkan kepalanya menunjuk meja, di mana ada botol kaca berisi susu yang tinggal setengah. Tony mengangguk mengerti, hingga beberapa menit kemudian tidak ada kalimat yang keluar dari mulut keduanya. Pepper sibuk dengan laptopnya. Sedangkan Tony... Pepper meliriknya lagi, sibuk dengan smartphonenya sendiri.

"Hey you!" Pepper mengetuk meja, mencari perhatian dari Tony, dan itu berhasil.

"What?"

"Kurasa akan lebih baik kalau kau memeriksa berkas-berkas yang sudah kuletakkan di meja kerjamu."

"Tidak mau. Itu kan tugasmu."

"Tapi ini perusahaanmu, dude."

"Tapi kau CEOnya."

"Tapi yang kau lakukan saat ini sungguh tidak berguna. Kau hanya duduk di sini sambil bermain handphone. Damn you!"

"What happened with you? Ini masih terlalu pagi untuk marah-marah, you know?" Tony memberikan tatapan heran pada Pepper, sementara wanita itu mengurut-urut pangkal hidungnya dengan geram. Oh astaga...

"Cepat ke ruanganmu sekarang, Tony! Atau aku akan menerjunkanmu hingga ke dasar gedung dari atas sini...," geram Pepper menatap tajam Tony. Tony bungkam dan segera mundur teratur. Belakangan ini Pepper jadi sedikit buas.

Tony menutup pintu ruangan Pepper, masih tetap memikirkan sikap Pepper barusan. Mungkin Pepper bertengkar dengan kekasih barunya? Tapi, memangnya siapa yang mau jadi kekasihnya Pepper, apalagi dengan sifat galaknya sekarang? Tony terus mengingat semua keburukan Pepper tanpa menyadari dia sendiri pernah tergila-gila pada wanita itu.

Tony membuka pintu ruangannya, bergumam kecil tentang dinginnya suhu AC di dalam. Ia duduk di kursinya, mengambil salah satu berkas dokumen yang memang benar sudah diletakkan di meja kerjanya. Tony menarik nafas panjang, dan akhirnya memutuskan untuk membantu pekerjaan Pepper. Setidaknya moodnya sedang baik hari ini, bukan masalah.


Kau ingin menarik perhatian Tony? Dulu, kalau kau ingin melakukannya, kau cukup berdandan secantik mungkin, berpakaian sexy, dan jalan di depannya. Tunggu satu menit saja, dan dia pasti akan memanggilmu untuk janji kencan. Sekarang, tidak perlu menggodanya seperti itu. Cukup ucapkan kata 'Steve' atau 'Rogers' saat Mr. Stark melewatimu, maka secepat kilat dia akan berhenti dan menghampirimu. Seperti yang saat ini terjadi. Saat mendengar gerombolan karyawannya sedang membicarakan Steve, dengan cueknya Tony melupakan kharismanya sebagai seorang atasan dan langsung ikut-ikutan bergabung dengan gerombolan itu. Dan voila, dia mendapat informasi yang lumayan bagus. Rogers sedang berkencan dengan Peggy Carter, pegawai paling cantik di divisinya. Tony tahu sedikit tentang Carter, ya gadis itu memang cantik dan hot. Tony pernah makan malam dengannya dulu, tapi itu dengan Pepper dan beberapa rekan di divisi Carter.

Tony mengelus dagunya, dan tak lama ia menyeringai. Aku tahu apa yang harus aku lakukan, gumamnya dalam hati.

To be continued...

-oO-TamaSa-Oo-

Maafkan saya yang terlalu lama memposting lanjutan ini fic. Draftnya udah nyimpen lama di laptop saya, tapi sayanya aja yang terlalu banyak halangan (hhaa). Mending saya balesin dulu review dari chap 1.

Lenny Chan: hhaa. Maaf ya, udah PHPin kamu selama… astaga… hampir setahun ya.

Kyulennychan:Ini sama ya ama yg di atas? Walah maaf ya baru posting lanjutannya sekarang

Guest1: Makasih udah dibilang keren fic saya. Selanju tnya ditunggu reviewnya.

J'TrimFle: Makasih. Jangan bosen kasih review ya

Guest2: Ini pasti dapet link dari twit saya ya, makasih.

Clowdy1989: Maaf, lanjutannya jauh dari kata cepat.

YouMint: Nggak maksa kok reviewnya. Makasih ya. Selamat membaca lanjutannya.

Mara997: Makasih udah kasih semangat. Sok atuh dibaca lanjutannya. Keep reading and fighting!

Nah, saya sangat berterimakasih untuk reader yang udah baca, review, ngefollow, bahkan ngfave. Selanjutnya, jangan segan-segan ya buat ngasih review lagi buat saya, hhaa. Ciao!