-oO-TamaSa-Oo-

Disclaimer: Marvel

Rated: T

Pairing: STony (Steve x Tony) and others

Warning: Boyslove, AU, (really) OOC,Maybe typo(s)

Don't like, don't read!

-oO-TamaSa-Oo-

Steve tidak pernah mempedulikan apapun yang dilakukan Mr. Stark padanya. Apapun, entah eksploitasi, -well agak berlebihan memang jika dibilang eksploitasi, diskriminasi, atau juga sindiran. Steve sadar diri, ini semua memang resiko yang harus dia tanggung kalau berani membuat masalah dengan bos besarnya. Itu awalnya… sebelum akhirnya dia menyadari sesuatu.

Tony memang ingin mengajaknya berperang.

Sebenarnya ada apa sih?

Steve tidak tahu, sebelumnya apakah Tony memang sering berkunjung ke divisinya. Steve adalah staf baru, ingat? Lagipula Steve memang sudah terbiasa dengan kebiasaan Tony yang datang ke ruangannya yang selalu berujung dengan menumpuknya berkas di meja kerjanya. Lagi-lagi, itu awalnya.

Entah sejak kapan, Steve akhirnya menyadari, belakangan ini Tony sangat sering mampir di meja kerja Peggy Carter, sebelum ia kembali ke ruangannya atau entah manapun itu. Steve tidak akan ambil pusing sebenarnya dengan sifat playboy bosnya yang sudah melegenda, masalahnya ini menyangkut Peggy, gadis idamannya. Apalagi Steve sering menangkap lirikan mata Tony yang mengarah padanya, sambil tangannya yang keparat itu menyentuh Peggy. Seolah, damn!, menantang Steve. Dan apa yang bisa dilakukan Steve tiap kali hal itu terjadi? Apa lagi? Tentu saja Steve tidak bisa berbuat apa-apa, karena Steve memang belum memiliki hubungan dengan Peggy. Lagipula Peggy tidak terlihat keberatan dengan tingkah Stark sama sekali. Shit! Lagi-lagi pria itu memanfaatkan kedudukannya untuk bersikap seenaknya sendiri. Well, belakangan ini Steve memang jadi lebih akrab dengan Peggy. Itulah yang jadi alasan juga kenapa Steve sampai se-stress ini, karena ia merasa hanya tinggal selangkah lagi ia bisa mendapatkan gadis cantik itu. Tapi apa yang Stark lakukan, dia justru merusak semuanya. Steve tidak tahu, dibalik kesalnya dirinya karena tingkah playboy Tony pada Carter, ada Tony yang justru tertawa terbahak-bahak di ruangannya.

-oO-TamaSa-Oo-

Tony melihat sekelilingnya dengan pandangan bosan. Saat ini ia sedang berada di salah satu restoran hotel yang hanya berjarak beberapa blok dari kantor. Ia ada jadwal meeting dengan salah satu klien penting dari Netherland yang ingin bekerjasama dengan perusahaannya. Kliennya itu menginap di hotel ini, dan pihak mereka meminta untuk mengadakan meeting di tempat ini. Sebenarnya jadwal meeting mereka adalah pukul 7pm tadi, tapi sudah lebih dari 20 menit berlalu dan mereka bahkan belum muncul sama sekali. Sial, sebenarnya apa yang mereka pikirkan? Tony hanya bisa menggeram dalam hati, merasa dipermainkan. Mereka pikir aku punya banyak waktu untuk disia-siakan? Awas saja, aku tidak akan menerima ajakan kerjasama kalian dengan mudah…

Ketika Tony sedang berusaha mengatur skenario apa yang akan ia gunakan untuk membalas perlakuan calon kliennya itu, tiba-tiba ada yang menepuk bahu kiri Tony. Saat Tony menoleh, ia melihat ada seorang pria bertubuh tinggi besar dan seorang wanita cantik di sebelahnya yang tersenyum pada Tony.

"Mr. Anthony Stark, right?" tanya pria itu dengan ragu. Tony buru-buru berdiri, membungkuk sedikit, dan mempersilahkan kedua tamunya untuk duduk bersamanya.

"Silakan duduk."

"Thank you so much. I'm really sorry for being late," pria tinggi besar itu duduk terlebih dahulu, baru kemudian disusul rekan wanitanya. Tony duduk kembali, tersenyum palsu.

"It's okay, just 25 minutes," jawab Tony. Pria itu menyisir rambut pirang panjangnya ke belakang, membuat Tony bisa melihat wajahnya dengan jelas. Sepertinya dia berusia sekitar 30an, dengan rambut pirang panjang sebahu, cukup tampan, tubuhnya tinggi besar, sedikit lebih besar jika dibandingkan si anak baru Roger. Eh, kenapa tiba-tiba Tony teringat dengan pria itu? Memangnya dia siapa sampai harus muncul di pikiran Tony?

"Mr. Stark? Did you hear me?" Tony sedikit tersentak ketika ada yang menyentuh punggung tangannya. Tony menunduk, menyadari bahwa ternyata pria di hadapannya ini yang sedang melakukannya.

"Are you okay?" tanyanya lagi. Tony menggeleng dengan kaku, dengan perlahan menarik tangannya agar pria itu tidak tersinggung.

"Kenalkan, namaku Chris, Chris Hemsworth," pria itu mengulurkan tangannya, mengajak bersalaman. Tentu saja Tony membalasnya. Tapi secepat Tony melakukannya, secepat itu juga Tony melepaskannya. Pria ini sedikit… weird, jadi Tony harus sedikit menjaga jarak dengannya.

"Dan dia adalah asistenku, Jane Foster." Tony hanya mengangguk singkat pada gadis cantik itu.

"Nah, lebih baik kita segera mulai saja perbincangan kita," Tony menepuk tangannya, ingin segera menyelesaikan pekerjaan ini dan cepat-cepat pulang. Ia sudah sangat merindukan tempat tidurnya yang nyaman.

-oO-TamaSa-Oo-

Damn! Damn! Damn!

Tony terus menyumpah dalam hati karena kondisinya saat ini yang sangat tidak menyenangkan. Ini jebakan, Tony yakin itu. Chris sedang berusaha mencari kesempatan untuk menggodanya. Dan bodohnya, Tony bisa terjebak dengan mudah dalam rayuannya. Tidak, memang pantas kalau Tony bisa tertipu, ini bukan rayuan. Cara yang dipakai Chris jauh lebih halus, dan klasik. Tony sudah sering menghadapi pria-pria gay sebelumnya, caranya nyaris sama. Yang perlu Tony lakukan hanya jangan sampai ia mabuk, karena ia yakin mereka akan menyentuh Tony kalau sampai ia mabuk.

Satu jam yang lalu, meeting mereka sudah selesai. Tony sudah akan berpamitan untuk pulang ke rumahnya, tapi Chris lebih dulu menahannya dengan mengajaknya minum di bar hotel. Itu menarik, kalau sejak awal Tony tidak curiga dengan orientasi Chris yang meragukan. Lagipula ia sudah sangat lelah hari ini, sehingga gadis secantik Jane Foster pun tak ingin ia goda. But, look at Tony now, Tony bahkan tak ingat apa yang dikatakan oleh Chris sehingga akhirnya mereka berdua justru berakhir di sebuah bar kecil yang terletak agak jauh dari hotel Chris tadi. Yeah, you're right. They are both. Jane Foster memutuskan untuk tetap tinggal di kamar hotel karena mengeluhkan kepalanya yang sedikit pening. Dan untuk meyakinkan semua orang kalau momen ini sangat manis, saat ini mereka sedang duduk berdampingan di depan meja bar, ditemani segelas bir, sambil berbincang berdua.

Tony tidak akan menyangkal. Sebenarnya Chris termasuk orang yang menyenangkan untuk diajak bicara. Dia tidak terlihat seperti orang yang ramah, tapi jelas sekali ia sedang berusaha terlihat lebih baik di mata Tony. Bukan berarti Tony sudah siap untuk melangkah lebih jauh soal orientasi seksualnya, he's justtrying to be kind. Dari obrolan mereka akhirnya Tony tahu, Chris is an American. Dia lahir dan dibesarkan di Oklahoma, tapi kemudian orangtuanya bercerai dan memutuskan ikut ayahnya ke Netherland untuk membantu mengurus perusahaan ayahnya di sana. Ia sering berlibur menemui ibunya, ia bahkan juga menceritakan bagaimana pertama kali ia bertemu dengan Jane Foster yang ternyata adalah tetangga ibunya. Mereka berdua pernah menjalin hubungan, tapi kemudian memutuskan untuk berpisah karena Chris sadar ia hanyalah seorang pria brengsek yang akan banyak menyulitkan Foster nantinya jika mereka memutuskan hidup bersama. Sounds familiar, isn't it? Chris sedikit mirip Tony. Dulu Tony berusaha keras membuat Pepper mengerti kalau hubungan mereka tidak akan berhasil, sesabar apapun Pepper dalam menghadapi sifat Tony, gadis itu hanya akan membuang waktunya sendiri. Itu pula yang membuat mereka berdua berpisah dan tetap berhubungan baik. Tony masih membutuhkan Pepper meskipun bukan sebagai pasangan. Mereka masih bisa menjadi saudara, dan rekan kerja yang saling menguntungkan. Okay, right! Tony memang jauh lebih diuntungkan di sini, ketimbang Pepper sendiri. Dan karena kebaikan Pepper itulah, Tony rela memberikan apapun untuk gadis itu. Untung saja Pepper bukanlah type gadis dengan sifat materialistis. Jadi lagi-lagi, Tony bersyukur memiliki Pepper di sampingnya.

Tapi semenyenangkan apapun berbincang dengan Chris, Tony tetap tidak bisa mengabaikan punggungnya yang mulai pegal. For God's Sake, dia benar-benar lelah hari ini! Apalagi mencium berbagai macam alkohol dan rokok sama sekali tak membantu, justru menambah pening di kepalanya. Dan bodohnya, Chris sama sekali tidak peka dengan keadaannya. Pria itu malah menyodorkan segelas minuman lagi pada Tony, berbicara sesuatu yang mana tidak begitu dipahami Tony.

-oO-TamaSa-Oo-

Steve akui, dirinya adalah pria rumahan yang jarang hang out. Ia lebih nyaman menghabiskan weekend di rumah, meminum secangkir kopi sambil menonton acara TV. Makanya ketika Johnny mengajaknya pergi ke sebuah bar untuk sedikit bersenang-senang bersama beberapa teman sekantor, Steve langsung menolak. Alasan utamanya, karena ia tidak pernah minum alkohol, dan memang tidak tertarik untuk melakukannya. Lagipula besok mereka masih harus pergi bekerja, bukan?

"Come on, man! I know you need this!" paksa Johnny saat mereka masih di parkiran kantor tadi sore.

"Dari mana kau tahu?" Steve menjawab sarkastis.

"Di dahimu tertulis dengan jelas kalau kau sedang patah hati!"

Shit! Dasar mulut besar!,Steve merutuk dalam hati, membenarkan perkataan Johnny meskipun hanya di dalam hati.

"Damn! Fredd sudah berjanji akan mentraktir kita semua malam ini. Dan kau akan menyia-nyiakan kesempatan ini?"

"Fredd? Untuk apa?"

"Pesta bujang. Kau lupa atau memang tak tahu kalau dia akan menikah besok? Astaga, kemana saja kau?"

"Sorry, ada banyak hal yang memenuhi otakku belakangan ini," Steve mengusap dahinya dengan lelah. Ada banyak masalah belakangan ini yang harus dia tanggung. Dan itu semua hanya karena perselisihannya dengan Mr. Stark. Hebat, bukan?

"Yeah, I knew it. Jadi biarkan pikiranmu relax kali ini. You need it, dude!" Johnny menepuk bahu Steve berkali-kali, meyakinkan Steve. Mau bagaimanapun Johnny sudah menganggap Steve sebagai sahabatnya. Ia juga turut tidak enak hati tiap kali Steve mengalami kesulitan sementara ia tidak membantu sama sekali.

Dan voila, ketika rombongan mereka sampai di bar, Steve langsung menyesali keputusannya untuk ikut dalam pesta bujang Fredd. Suasana bar yang ramai, bau alkohol di mana-mana, belum lagi gadis-gadis berpakaian mini yang kesana-kemari menggoda para pengunjung. Seharusnya aku sudah bisa menebak, rutuk Steve dalam hati. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan minum alkohol. Kalau sampai ia mabuk, akan menimbulkan banyak masalah.

Ketika Johnny dan yang lain sibuk memesan berbagai macam minuman keras, Steve hanya meminta segelas kola pada bartender. Steve tidak mempedulikan Johnny yang menatapnya dengan sorot tak percaya. Hanya butuh beberapa menit, hingga akhirnya mereka semua terlarut dalam obrolan seru mengenai persiapan pernikahan Fredd dan sifat liarnya dulu. Untuk sesaat, Steve terlarut dalam pikirannya. Kapankah ia akan mengundang teman kerjanya untuk pesta bujang seperti ini. Di mana besoknya dia mengikat janji suci dengan gadis yang dicintainya. Steve bahkan sudah membayangkan Peggy Carter-lah yang akan menjadi mempelai wanitanya. Bagaimana cantiknya Peggy saat memakai gaun pengantin, berjalan menelusuri karpet merah menuju ke arah Steve yang telah menantinya bersama pendeta. Tapi kemudian muncul bayangan Tony yang berdiri di depan pintu gereja sambil meneriakkan nama Peggy, dan Peggy pun menghampirinya, dan meninggalkan Steve hanya untuk Tony. Kemudian mereka berdua pergi sambil berteriak kalau mereka saling mencintai, tak peduli Steve sedang berlutut putus asa karena gagal menikah. Wait! Apa yang baru saja ia pikirkan?! Khayalan indahnya dengan Peggy hancur hanya karena ia mendadak teringat dengan wajah Tony.

"Aku yang salah lihat, atau memang pria yang di pojok sana adalah Mr. Stark?" pertanyaan Johnny membuat Steve tersadar dari khayalan indahnya. Ia menatap penuh tanya pada Johnny yang duduk di sebelahnya, sementara pria humoris itu mengarahkan pandangannya ke arah lain.

"Apa?"

"Arah jam 2!"

Steve memicingkan matanya, ada 2 orang pria di pojok sana yang sedang… apa itu? Bercumbu? What?! Bagaimana mungkin di tengah-tengah tempat umum seperti ini mereka melakukan itu? Tapi tunggu dulu, sepertinya ia tahu salah satu dari mereka. Pria itu terlihat seperti… si bastard Stark!

"Mr. Stark?!"

"I've told you last minute…" Johnny memutar bola matanya.

"He's gay?" Steve masih terkejut dengan apa yang dia lihat saat ini.

"Who says?"

"No one. But look, bagaimana bisa dia berciuman panas dengan seorang pria jika ia bukan gay?"

"Dia playboy, ingat?"

"With a man?" Steve masih memburu.

"Mungkin dia sedang mabuk?"

"Oke," Steve mengangguk, "mungkin dia mabuk. Dan mungkin kebetulan ia terlihat menggoda untuk pria gay yang ada di sebelahnya, sehingga akhirnya pria asing itu menciumnya." Sejujurnya ia masih ingin protes pada Johny lantaran terdengar seolah sedang membela Tony. Tapi Steve menahannya. Steve masih memperhatikan mereka berdua dari kejauhan. Bagaimana pria berambut pirang itu berusaha meraup bibir Tony dengan rakus sambil kedua tangannya menahan wajah Tony.

Yang membuat Steve heran, bagaimana bisa Tony terlihat menikmati pagutan itu. Hell, di mana harga dirinya selama ini sebagai seorang playboy tampan? Dan… bagaimana mungkin pria seperti itu berani mendekati Carter? Pria yang mulai sekarang harus diragukan kejantanannya? Steve mau tidak mau mulai membayangkan Tony yang berada di bawah dominasi pria itu. Ekspresi apa yang akan Tony perlihatkan saat pria itu mencumbunya di atas ranjang? Tunggu! What the-! Apa yang baru saja ia pikirkan? Dan mengapa ia terus bertanya 'bagaimana' sambil memikirkan pria sialan itu?

"Hahaa… sepertinya situasi di antara mereka berdua semakin memanas…," Johnny kembali berkomentar, tanpa sadar mengembalikan fokus sahabatnya. Steve memperhatikan Tony lagi. Ya, benar kata Johnny, ciuman di antara mereka semakin memanas. Teman pria Tony saat ini sudah mulai mencumbu leher dan tengkuk Tony dengan nafsu. Awalnya Steve pikir cumbuan itu mutual, sampai akhirnya Steve sadar saat Tony berusaha mendorong pria itu dengan kedua tangannya namun tak berhasil.

"Kali ini aku tahu, kenapa para wanita di kantor kita selalu menyebutnya seksi. Damn, he looks so sexy, and brave actually!" Johnny bergumam. Wajahnya memerah, entah untuk alasan apa.

"Man, sepertinya Mr. Stark sedang butuh bantuan." Steve semakin merasa tidak nyaman melihat Tony yang terus berusaha mendorong teman prianya.

"Bantuan? Kau yakin?"

"Ya," Steve bangkit berdiri, "aku akan kesana."

Dan dengan tergesa, tanpa peduli diperhatikan oleh teman-temannya yang bingung, Steve melangkahkan kakinya menuju Tony yang duduk di dekat bartender. Ketika sudah sampai, tanpa permisi ia mendorong tubuh pria berambut pirang itu menjauh dan menarik lengan Tony. Dan ya, yang ia lakukan berhasil menarik perhatian seisi bar, membuat mereka menghentikan aktivitas nya masing-masing karena tertarik dengan ulah Steve. Another gay drama, maybe.

"F*ckwhat's your problem?!" pria asing itu terlihat naik pitam dengan kelakuan Steve yang menginterupsinya.

"Rogers?" perkataan Tony seketika menghentikan amarahnya. Sedangkan Steve hanya menatap tajam Tony sementara tangannya masih menahan lengan atas Tony.

"What-… what are you doing?" tanya Tony dengan bingung. Ia semakin tidak mengerti ketika melihat rahang Steve yang mengeras.

"Seharusnya aku yang bertanya, Stark. What. Are. You. Doing. Just. Now?" Steve bisa melihat raut wajah Tony yang perlahan memerah. Pandangannya tak tentu, antara Steve dan orang-orang yang mulai mendekat mengelilingi mereka bertiga. Hell, mereka sedang tidak ada pekerjaan lain.

"It's not your bussines, kid!" Tony berusaha melepaskan tangan Steve yang menggenggam lengan atasnya dengan kuat, tapi nihil.

"Apapun yang berhubungan denganmu jadi urusanku saat ini…," geram Steve.

"What?"

"Kau mendengarnya dengan jelas!"

"Mengapa menjadi urusanmu?"

"Kau sendiri yang terlebih dahulu mencampuradukkan permasalahan di antara kita berdua. Aku hanya mengikuti kemauanmu!"

"Kau sadar saat ini kau sedang berbicara dengan siapa, Rogers?"

"Menurutmu?" tanya balik Steve.

"Jangan lupa dengan batasanmu! Aku berhak tahu urusanmu, tapi kau tidak sama sekali!"

"Oh ya?"

"Just stay away! From me!" usir Tony dengan kasar. Matanya menatap dingin pada Steve, benar-benar membuat Stee tak habis pikir. Sebenarnya apa yang ada di otak Tony selama ini?

"Kau menyuruhku pergi?"

"Aku menyuruhmu untuk tidak perlu ikut campur urusanku, sebenarnya!"

"I'm not!"

"Lalu apa yang baru saja kau lakukan? Kau bersikap seolah kau kekasihku…" What?! Are you going mad?

"Aku rasa kau sudah salah paham, Mr. Stark. Aku sama sekali tidak bermaksud ikut campur andai saja kau bisa menjaga sikapmu!" Steve menggeram. Kedua telapak tangannya mengepal erat, mati-matian menahan agar tidak menghajar mulut busuk Tony.

"Hoo… sikapku jadi urusanmu sekarang?"

"Ini buang waktu. Lebih baik kau ikut aku sekarang!" dengan kasar Steve menarik tangan Tony. Ia menyeret Tony yang terus menggerutu tidak jelas. Tak peduli dengan kerumunan orang di sekeliling mereka. Tak peduli juga dengan rintihan Tony karena merasa pergelangan tangannya sedikit terkilir. Steve baru berhenti ketika mereka berdua telah keluar dari bar, tepatnya di halaman depan.

"What the hell are you doin'?" umpat Tony. Steve melepaskan tangan Tony, dan akan menjawab pertanyaan Tony tapi sudah di interupsi oleh sang Bos.

"Mengapa kau mempermalukan kita berdua? Kau membuat keributan di dalam tanpa alasan yang jelas-"

"Alasanku tak jelas?"

"Jangan memotongku," padahal dia yang memotong perkataanku lebih dulu, Steve menggerutu, hanya di dalam hati, "tentu saja tidak jelas. Kau marah-marah hanya karena aku bermesraan dengan seorang pria! Memangnya apa masalahmu? Kau bersikap seolah kau adalah kekasihku, dan itu jauh lebih menjijikkan!"

"Kau yang menjiji-"

"Sudah kubilang jangan memotongku! Jangan memberi penjelasan apapun! Jika kau tidak suka dengan sikapku, kau cukup pergi, tak perlu ikut campur, tak perlu mengkritikmu atau menegurku. Aku atasanmu, aku yang menggajimu, dan itu untuk urusan pekerjaan, bukan untuk mengurusku. Aku memang mengerjaimu kemarin-kemarin, aku akui itu, tapi tidak untuk urusan pribadi."

Hahaha, it's so funny! Steve memutar bola matanya. Tony membuatnya muak. Sangat muak. Dia bilang dia tidak melibatkan masalah pribadi? Lalu soal pekerjaan tidak bermutunya yang menumpuk di kantor itu apa? Soal sikapnya yang mendadak mendekati Peggy Carter padahal ada begitu banyak wanita cantik di gedung mereka itu apa? Sepertinya bosnya ini benar-benar sudah kehilangan akal sehat.

"Argh… sudah! Mulai sekarang, jangan ikut campur urusanku lagi!" dan tanpa berpamitan Tony melangkah pergi, meninggalkan Steve yang terlihat bingung dengan perubahan sikap Tony. Kenapa Steve merasa mereka berdua seperti baru saja melakukan syuting drama romantis ya?

To be continued…

-oO-TamaSa-Oo-

Saya sangat berterimakasih atas apresiasinya para pembaca. Maaf ya kalau update-annya terlalu lama. Keyboard laptop saya rusak, dan sama sekali nggak bisa dipake buat ngetik. Dan kerusakan itu bener-bener membuat mood saya jatuh sejatuh-jatuhnya (halah!). Iya saya tahu, ngetik pake hp masih bisa, tapi kan ribet banget. Ngetiknya, ngeditnya, belum ngecek typonya. Nah, lalu kenapa akhirnya saya lanjutin? Beberapa waktu lalu, setelah sekian lama nggak nengok FFn, ternyata saya baru tahu kalau yang follow dan dave ni fic udah bertambah. Hhaa… kalian nggak tau seberapa berharganya itu buat saya (anjaaayy… lebay banget bahasa saya).

Nah shout out untuk para reviewer chapter kemarin:

Mara997 , J'Trimfle , Leny chan , Hatake Shinoda , Neot (terimakasih untuk sarannya. Saya baru sadar kalau enggak dibikin italic emang rancu bacanya) , boodf , Byakugou no Hime.

Untuk yang udah baca fic saya, makasih ya.

Untuk yang udah baca dan meluangkan waktu untuk review dan kasih semangat, makasih banyak.

Untuk yang udah fave dan follow fic ini ataupun saya, makasih banyak banget lah.

Jangan segan untuk review lagi yak! Ciao!