-oO-TamaSa-Oo-

Disclaimer: Marvel

Rated: T

Pairing: STony (Steve x Tony) and others

Warning: Boyslove, AU, (really) OOC,Maybe typo(s)

Don't like, don't read!

-oO-TamaSa-Oo-

Steve membanting dirinya di kasur. Satu hari yang melelahkan sudah terlewati. Melelahkan... karena sekarang ia punya kebiasaan baru tiap pulang kerja -mencari jalan keluar dari para wartawan. Seriously... benar-benar jalan keluar! Karena setiap hari para wartawan (yang terlalu rajin) sudah menanti dia ataupun Tony Stark di depan pintu masuk gedung kantor mereka. Hal itu tidak akan berarti apapun untuk Stark, tentu saja, karena dia punya puluhan bodyguard yang akan menghalau mereka. Sedangkan Steve?

Setidaknya berikan beberapa bodyguard juga untukku, Stark, karena semua ini adalah ulahmu, rutuk Steve dalam hati. Steve hampir memejamkan matanya, jika saja ia tidak mendengar notifikasi di handphonenya. Sebuah pesan singkat. Steve membukanya, dan sedikit bingung ketika melihat yang mengirimnya adalah nomor baru.

We need to talk.

Steve mengernyitkan keningnya, tidak mengerti maksud dari pesan itu. Steve mengangkat bahunya, tak mau peduli, kemudian meletakkan handphonenya di meja nakas. Baru saja ia ingin berbaring, handphonenya berdering kembali. Steve segera mengambilnya. Sebuah pesan lagi.

Aku di depan rumahmu sekarang.

Steve makin bingung. Apa-apaan orang ini? Dia bahkan tidak memberitahu identitasnya, benar-benar tidak tahu diri. Steve bangkit dari ranjangnya, mencoba keluar dari kamarnya dan pelan-pelan menuju ke ruang tamu. Ia berdiri di balik dinding, mengintip sedikit melalui jendela. Steve terkejut saat melihat siapa orang yang sedang menunggunya di luar. It's really... weird! What is Anthony Stark doing here? Apakah tidak cukup ia menghancurkan kehidupannya di kantor, hingga bahkan ia ingin merusak kehidupan pribadinya.

Steve berdiri tanpa melakukan apapun selama puluhan detik, memikirkan apakah ada baiknya ia keluar menemui bosnya. Di otaknya memikirkan berbagai kemungkinan, menduga alasan apa yang membawa Stark ke rumahnya. Apa yang dia mau dari Steve kali ini? Permintaan maaf lagi? Tapi darimana Stark bisa tahu alamat rumah Steve? Oh iya, pria itu kan pemilik perusahaan, tentu saja dia punya seluruh data para pegawainya. Steve meraba saku celananya, mencari handphonenya, tapi kemudian ia teringat kalau tadi ia meletakkannya di atas meja kamarnya. Ia melangkah kembali ke kamarnya, mengambil handphonenya. Lagi-lagi ada pesan masuk. Dari nomor yang sama.

Cepat keluar. Kau kira aku tak tahu saat kau baru saja mengintipku?

Jangan pernah berpikir kalau kau bisa sembunyi dariku.

Steve tersedak. What the-!! Memangnya siapa yang mau bersembunyi darinya? Memangnya dia pikir Steve pengecut? Steve menarik nafas panjang, berusaha menahan emosinya. Dengan mantap ia melangkah menuju pintu depan rumahnya. Ketika ia membuka pintu, raut wajah kesal bosnya sudah menyapanya terlebih dahulu. Di hadapannya, Tony dengan gaya khasnya -kedua tangan di saku celananya dan dada yang dibusungkan- terlihat seperti hendak meluapkan kemarahan padanya tapi berusaha ditahan.

"Bagaimana kau bisa sampai di sini?" Steve hendak menampar mulutnya sendiri karena tanpa sadar telah mengajukan pertanyaan bodoh.

"Kau lupa kalau aku adalah bosmu?" jawaban yang sudah ditebak Steve sejak awal.

"Apa yang kau inginkan?" tanya Steve tanpa basa-basi. Ia menyenderkan punggungnya ke pintu, sama sekali tak berminat mempersilahkan bosnya untuk duduk di ruang tamu. Tony tertawa kecil, sudah terbiasa dengan sikap dingin pegawainya itu.

"There's something that I wanna talk with you. About us!" Steve tidak tahu apa alasan Tony mengernyitkan keningnya setelah berucap demikian.

"There's nothing!" jawab Steve dingin. Ia bersedekap, menunjukkan sikap defensif.

"Ada, kau sendiri pasti tahu itu apa, don't you?"

"Cepat katakan!"

"Kau tidak berniat menjamuku di dalam?" Tony mengarahkan dagunya ke ruang belakang Steve.

"Tidak perlu! Ini bukan di kantor, aku tidak punya kewajiban untuk memperlakukanmu seperti seorang raja."

"Bagaimana kalau kukatakan kedatanganku ke sini adalah sebagai seorang atasan yang sedang mengunjungi pegawai barunya?" Steve memutar bola matanya.

"Untuk?"

"Survei."

"Jangan mempermainkanku Mr. Stark," bisik Steve mulai kehabisan kesabaran. Tony tertawa, membuat Steve mengernyit. Memangnya apa yang lucu?

"Setidaknya perlakukan tamumu dengan baik, kid. Dimana sopan santunmu?" Steve menggeram. Aku hanya bersikap sopan pada orang yang layak, batin Steve. Tapi pada akhirnya ia tetap menyingkir dari pintu, membiarkan bosnya masuk ke dalam rumah. Stark tersenyum, dengan angkuh ia berjalan, kemudian ia duduk di sofa. Steve masih berdiri di tempatnya, menatap dingin pada Stark selama beberapa saat, hingga akhirnya ia menghela nafas panjang.

"Wait me here, akan kubuatkan minuman."

"Tidak perlu. Aku tidak lama," lagi-lagi Steve menahan nafasnya, menahan mulutnya untuk tidak mengumpat.

-oO-Tamasa-Oo-

Tony tak bisa menahan senyumnya saat melihat bahu Steve yang menegang. Rasanya menyenangkan bisa menarik ulur emosi pria itu, apalagi jelas terlihat pria itu sangat terganggu dengan keberadaan Tony saat ini. Tony mengulurkan tangannya, menunjuk sofa di depannya dengan santai.

"Sit down, please. Kau tak perlu setegang itu," pria berambut pirang itu tak menjawab, ia hanya duduk di sofa yang ditunjuk Tony, memasang tampang super serius. Tony balas menatap pria itu. Oke, sedikit turun ke bawah sebenarnya, di mana dada Steve sedikit terlihat karena kancing kemeja bagian atas yang terbuka. Ya, Steve masih memakai kemeja kantornya, meski tanpa dasi yang terpasang. Dan entah kenapa, sekarang Tony jadi memperhatikan Steve dari sudut pandang yang berbeda. Padahal sebelumnya ia tidak pernah peduli pada pria manapun. Mungkin efek berciuman dengan pria tempo lalu?

"Kau baru pulang dari kantor?" Tony merutuki mulutnya yang mengeluarkan pertanyaan basi. Ia bisa melihat kening Steve yang berkerut.

"Menurutmu?"

"Berarti iya," putus Tony akhirnya, tapi kemudian ia bertanya lagi, "kemana kau mampir saat pulang tadi?"

"What?"

"Jam pulang kantor adalah jam 5 petang. Aku yakin kalau kau juga tidak mendapat pekerjaan berlebih dari Mr. Smith, bukan?" -karena aku menyuruhnya untuk tidak terlalu membebanimu dengan pekerjaan kantor, sela Tony bicara dalam hati, "rumahmu juga tidak terlalu jauh dari kantor jika diakses menggunakan kendaraan umum. It's 9 o'clock and you're still wearing that shirt, I mean... apakah kau tidak langsung pulang tadi?" Tony bahkan tidak sadar kalau ia sudah menanyakan sesuatu yang bukan urusannya. Steve menatapnya tajam, tepat di kedua matanya.

"Aku harus menghindar dari wartawan. Kau lupa itu?" dan kini Tony tahu apa alasan tatapan tajam itu. Kalau boleh jujur, hal ini juga yang membuat Tony menyambangi rumah Steve. Tapi bisakah Tony merundingkan hal ini dengan Steve secara baik-baik, tanpa ada cekcok? Mengingat kadar kebencian Steve pada Tony sepertinya juga mulai meningkat. Yaahh... sebelumnya Tony juga membenci Steve, sekarang pun masih, tapi terima kasih pada Pepper yang telah memberikan pencerahan. Tanpa diketahui siapapun, termasuk Pepper, akhirnya Tony mendatangi rumah Steve. Maksud hati ingin mencari solusi permasalahan mereka yang berlarut-larut. Masalahnya, ia sendiri bingung harus memulai dari mana.

"Maaf soal wartawan-wartawan itu," Tony akhirnya bersuara kembali setelah beberapa menit membisu. Meskipun hanya lirih di bagian 'maaf', "aku tidak bisa mengendalikan mereka..."

"Akhirnya ada hal yang tidak bisa dilakukan oleh uangmu," Tony bisa merasakan kebencian Steve dari nada bicaranya.

"Sebenarnya aku bisa memberikanmu beberapa pengawal," lanjut Tony, memutuskan untuk tidak menggubris jawaban Steve barusan, "hitung-hitung balas budi karena kau telah menolongku di bar waktu itu." Pepper hebat bukan? Dia bisa membuat Tony mengakui perbuatan Steve adalah bentuk pertolongan. Bahkan di depan orang yang bersangkutan langsung.

"That's good idea. Tapi akan lebih bagus kalau kau memberikan keterangan resmi pada mereka, katakan kalau kita berdua tidak memiliki hubungan romantis sama sekali," Steve menyandarkan punggungnya ke sofa, berusaha membuat dirinya sendiri rileks.

"I already did it."

"You didn't! Kau hanya menghindari mereka, tanpa memberikan penjelasan apapun. Kau tidak melihat berita hoax yang mereka buat tentang kita di internet?" Tony akui apa yang dia lakukan adalah salah, apalagi permasalahan kali ini sudah menyeret orang luar -Steve masih orang luar menurut Tony, meskipun faktanya mereka berdua mulai 'akrab' belakangan ini. Tony tidak bisa membiarkan media bertingkah sesuka hati mereka hingga akhirnya mereka bosan dan berhenti, seperti biasanya. Hal apapun tidak akan berpengaruh banyak pada karir dan kehidupan pribadi Tony, mengingat riwayat hidup Tony yang selalu penuh sensasi. Tapi bagaimana dengan Steve?

"Bagaimana kalau kita mengadakan jumpa pers? Sepertinya memang hanya itu satu-satunya cara...," Tony meminta pendapat. Steve menggeleng.

"Not us, just you!"

"Why? Kupikir ini menyangkut kau juga!"

"Aku terlibat karena kau, Mr. Stark!"

"Dengan kau yang mendatangiku terlebih dahulu saat di bar, itu artinya kau sengaja melibatkan diri," Steve langsung terdiam, membuat Tony tersenyum puas. Bangga sekali bisa membuat pria di hadapannya itu bungkam.

"Tapi, ngomong-ngomong," Tony kembali berucap, "terimakasih sudah membantuku waktu itu. Kau sudah menyelamatkanku dari pria itu. Seandainya kau tidak ada, mungkin aku akan berakhir diperkosa olehnya," kemudian ia tertawa, seolah ada yang lucu dari kalimatnya.

"Kau bukan gay?" tanya Steve. Tony tertawa kecil.

"Of course, I'm not. Wait -did you think that I'm a gay?"

"Kalian berciuman mesra saat itu, tentu saja aku berpikir kalau kalian pasangan gay!"

"Jadi kau berpikir kalau dua pria saling berciuman artinya mereka adalah gay?" Tony tak bisa menahan sorot matanya untuk tidak menatap heran pada Steve. Polos sekali bocah ini? Memangnya dia tidak pernah melihat para aktor yang terkadang bersikap mesra hanya untuk menyenangkan fans? Apa itu namanya... fanservice? Steve mengangkat bahunya, karena memang itu yang dipercayainya selama ini.

"Kurasa aku harus menciummu, agar kau tahu sebuah french kiss tidak bisa membuatmu memberi penilaian orang lain dengan mudah..."

Situasi langsung terasa canggung setelah Tony mengatakan kalimat barusan. Steve menatapnya aneh, mungkin tidak menyangka kalau Tony akan berkata seperti itu. Sedangkan Tony, pria itu sedikit gugup, menyadari kalau lagi-lagi ia memberikan pernyataan bodoh. Sungguh itu tadi spontanitas. Tony bahkan tidak punya pikiran akan mencium Steve, meskipun sepertinya itu terlihat menggiurkan. Bagaimana kalau Tony mencumbu pria itu? Wait -What?! Fuck! Apa yang baru saja ia pikirkan?!

Tony mengerjapkan matanya. Steve masih duduk di hadapannya. Masih menatapnya dengan sorot antara jijik dan aneh.

"Aku hanya bercanda soal menciummu," Tony memecah keheningan di antara mereka yang dibalas Steve dengan dengusan, terlihat tidak peduli.

"Kurasa lebih baik kau pulang sekarang, Mr. Stark. Aku benar-benar lelah." Tony mengernyit. Hey, dia baru saja mengusirku?

"Tapi pembicaraan kita belum selesai –"

"Kita bisa membicarakannya besok," sela Steve. Ia bangkit berdiri, berjalan menuju pintu depan rumahnya.

"Bagaimana dengan bodyguard?"

"Mereka hanya perlu membantuku saat aku di kantor, bukan begitu?" Steve mengedikkan bahunya, membuat Tony mau tak mau setuju. Ia bangkit berdiri, merapikan pakaiannya.

"Baiklah... besok datanglah ke ruanganku," ucapnya sambil berjalan melewati Steve, Steve tak menjawab. "Terimakasih untuk waktunya," tambahnya. Ia keluar dari rumah Steve, dan langsung memasuki mobilnya. Ia sempat menurunkan kaca mobil sedikit hanya untuk melambai, kemudian benar-benar pergi meninggalkan rumah Steve.

Tony tidak tahu, meskipun Steve mengusirnya, tapi ketika ia berlalu pergi dengan mobilnya, Steve masih menatapnya dalam diam. Bahkan ia terus menatap kosong meskipun mobil Tony telah menghilang dari pandangan.

-oO-Tamasa-Oo-

Tony tidak mengingkari perkataannya.

Ketika Steve hendak berangkat kerja keesokan harinya, ia terkejut mendapati sebuah mobil mewah terparkir di depan rumahnya. Dua orang pria memakai pakaian serba hitam dan bertubuh besar menunggu di samping mobil. Steve bertanya siapa mereka, jawabannya mereka adalah suruhan Anthony Stark. Meskipun ia ingin protes saat itu juga karena sangat memalukan untuknya jika harus menumpang mobil atasannya, tapi pada akhirnya ia menurut karena tak ingin terlambat sampai di kantor. Apalagi jika alasannya hanya karena perdebatan di antara mereka.

Sampai di kantor, Steve tidak langsung turun dari mobil. Ia mengintip dari balik jendela mobil untuk melihat suasana di depan pintu masuk gedung. Masih banyak wartawan yang berkumpul di sana, membuat Steve tak habis pikir. Memangnya mereka tak punya hal lain yang bisa diberitakan? Memangnya mereka tidak bosan berdiri di sana berjam-jam hanya untuk sesuatu yang jelas tidak ada. Maksudnya... sudah jelas Steve dan Tony tidak ada hubungan apa-apa selain urusan pekerjaan. Tony juga bukanlah seorang gay seperti dugaan Steve sebelumnya.

Steve masih menimbang, haruskah ia keluar sekarang? Ini adalah kali kedua ia muncul terang-terangan di hadapan mereka semenjak berita ini muncul. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana kalau mereka bertanya macam-macam. Salah seorang pengawal membuka pintu mobil, meminta Steve untuk segera bergegas, karena sepertinya para wartawan mulai menyadari kedatangan si sumber berita.

Ketika Steve berjalan dengan didampingi para bodyguardnya, ia bisa mendengar bermacam-macam pertanyaan yang diajukan oleh mereka. Mulai dari kebenaran isu hubungan Steve dan Tony hingga gosip mengenai Steve yang mengincar jabatan tinggi di perusahaan. Steve tak menanggapi mereka semua sekali, ia hanya menunduk untuk menghindar dari jepretan kamera. Tapi ada satu pertanyaan yang membuat ia langsung menghentikan langkahnya.

"Apa tujuan Mr. Stark mendatangi kediaman anda, Mr. Rogers?"

Tunggu!

Bagaimana mereka bisa tahu?

To be continued...

-oO-Tamasa-Oo-

Dikit?

Iya... maaf yaa...

Lama?

Iya saya tau kok. Maaf lagi ya...

Terimakasih udah mau bersabar nunggu lanjutan ini fic. Saya kesulitan bagi waktu karena kesibukan pekerjaan saya. Belum lagi... seperti biasa... mood swing saya juga.

Shoutout untuk J'TrimFle, fuuuton lagi (terimakasih banyak untuk sarannya), Lenny chan, wolf, guest, Mara997 (ilobeyoutoo :D), Ochie's Fujo.

Terima kasih banyak udah mampir di lapak saya.

Jadi, mind to review?

Ciao!