-oO-TamaSa-Oo-
Disclaimer: Marvel
Rated: T
Pairing: STony (Steve x Tony) and others
Warning: Boyslove, AU, (really) OOC,Maybe typo(s)
Don't like, don't read!
-oO-TamaSa-Oo-
Steve tidak bisa untuk tidak gelisah kali ini. Kedua telapak tangannya saling meremas, sementara keringat dingin terus menetes dari pelipisnya. Ia terus berjalan kesana kemari, tak peduli orang-orang di ruangannya menatap dengan aneh. Johnny masih duduk di meja kerjanya yang bersebelahan dengan meja kerja Steve, memperhatikan tingkah laku Steve yang menggelikan menurutnya. Sudah lebih dari 15 menit ia melakukan hal itu, dan sepertinya akan terus berlanjut hingga beberapa menit ke depan. Steve bahkan tak menggubris saat Mr. Smith menyuruhnya untuk bekerja ketimbang membuang tenaga tanpa alasan yang jelas. Mulutnya meracau, diselingi dengan umpatan yang Johnny bahkan tak percaya bisa keluar dari mulut pria bertampang lugu macam Steve.
"Keep calm, brat! Kau tidak akan bisa berpikir jernih kalau terus bertingkah seperti itu!" Johnny tidak tahan untuk menegur pria yang berperawakan seperti dirinya itu. Yang ditegur menatapnya balik dengan sinis, tapi ia tetap menuruti perkataan kawannya.
"Para paparazzi itu benar-benar gila! Bagaimana mungkin mereka mengikuti Stark ke rumahku?" keluh Steve dengan ekspresi heran. Johnny tertawa kecil.
"Itu memang pekerjaan mereka, man!"
"Tapi ini rumahku! Aku bahkan bukan seorang aktor atau pengusaha kaya!"
"You're not. Tapi saat ini kau dirumorkan memiliki hubungan sesama jenis dengan seorang jutawan kondang!"
"But as you said, that's just a rumour!"
"Mereka tidak tahu kan kalau itu hanya gosip? Makanya mereka mencari kebenaran tentang itu," jelas Johnny. Steve berdecak kesal. Penjelasan Johnny masuk akal, dan Steve benci itu. Kehidupan pribadinya mulai diusik, hanya karena mereka ingin tahu tentang Stark. Tapi ngomong-ngomong, ada pertanyaan yang terus melintas di pikirannya. Apakah Tony sudah mendengar berita ini? Kalau iya, mengapa Tony tidak menghubungi Steve sama sekali? Pria itu bahkan tidak memberitahu Steve tentang pengawal yang menjemputnya tadi pagi.
"There's something I really want to know," Johnny menggeser kursinya lebih dekat pada Steve. Wajahnya terlihat serius, "apa yang ia lakukan di rumahmu?" bisiknya. Steve mendengus.
"Nothing."
"Impossible! Seorang Tony Stark tidak akan mungkin datang ke rumah seorang rakyat jelata sepertimu kalau bukan karena sesuatu!" Steve rasanya ingin memberi bogeman pada Johnny karena mulutnya yang licin itu. Pria ini sepertinya tidak pernah berpikir sebelum berbicara.
"Aku bahkan berusaha mati-matian untuk tidak menghajarnya saat melihatnya di depan rumahku."
"Apakah sama sekali tidak ada yang kalian bicarakan berdua?"
"Sebenarnya ada."
"What's that?"
"Sayangnya aku tidak akan mengatakannya padamu," Steve memutuskan untuk tidak akan menceritakan pada siapapun mengenai perbincangannya dengan Tony Stark di kediamannya kemarin. Lagipula itu bukanlah hal yang penting. Tony hanya mengunjunginya dalam waktu singkat, jadi apa yang bisa dibicarakan. Bukannya Steve ingin Tony lebih berlama-lama di rumah Steve, bukan seperti itu. Bukankah kemarin juga Steve yang mengusir Tony terlebih dahulu?
"Kau tidak ingin membicarakannya denganku, apakah karena sebenarnya kalian tidak membicarakan apapun?"
"Apa maksudmu?"
"Jangan-jangan kalian tidak membicarakan apapun kemarin? Jangan-jangan kalian berdua...," Steve meninju lengan Johnny dengan cepat. Johnny tak sempat mengelak, membuatnya meringis sambil mengelus lengannya yang terasa nyeri. Steve benar-benar meninjunya, bukan dalam konteks bercanda.
"Aku hanya bertanya, dude!" keluh Johnny, masih tak sadar kalau ia yang salah.
"Kau beruntung aku tidak memukulmu tepat di mulut!" bisik Steve. Dengan gusar ia menoleh kesana kemari, berharap tidak ada orang yang mendengar pertanyaan bodoh dari Johnny barusan. Dan syukurlah, semua rekan kerjanya sudah mulai sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
"Kau berharap kami berdua akan melakukan apa jika bukan berbincang?" masih dengan berbisik Steve bertanya.
"Bercinta?"
Dan sebuah tinjuan kembali mendarat di lengan Johnny.
-oO-Tamasa-Oo-
Tony merapikan jasnya sekali lagi, menatap dalam pada bayangannya di cermin. Ini hanya akan berjalan seperti biasanya, ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Tidak ada alasan untuk menjadi takut. Lagipula ia tidak sendiri. Ada Pepper yang akan membantunya berbicara, jadi buat apa ia takut? Oh, tunggu, dia tidak sedang takut. Ia hanya... sedikit gugup. Mungkin ini yang orang bilang gejala 'demam panggung'.
Tony tersentak saat mendengar pintu ruangannya diketuk. Ia mengambil ponsel dan kacamata hitam yang ada di atas meja kerjanya, kemudian berjalan menuju pintu dan membukanya. Seorang pengawalnya sudah berdiri di depan pintu.
"Persiapan sudah selesai, Mr. Stark."
"Alright," Tony keluar dari ruangannya kemudian berjalan lebih dulu dengan diikuti pengawalnya di belakang.
"Di mana Steve Rogers?" tanya Tony sambil memakai kacamata hitamnya.
"Di ruangan kerjanya, Sir."
"Dia tidak bersiap-siap?"
"He did. But...," pengawal itu tampak ragu melanjutkan perkataannya. Tony yang menyadari itu memelankan langkahnya.
"What happen?"
"I think you have to look out for him first, Sir. Mr. Rogers terlihat tidak begitu baik," Tony menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang. Ia memperhatikan pengawalnya dengan tajam dari balik kacamata hitamnya. Tapi melihat pengawalnya yang tetap menunjukkan ekspresi dingin, mau tak mau Tony jadi percaya pada perkataannya. Sesuatu terjadi pada Rogers.
Dengan tergesa Tony menuju lift, memencet tombol angka di mana ruangan divisi Steve berada. Selama di dalam lift ia terus menerka bagaimana keadaan Steve. Steve pasti sudah mendengar berita yang beredar mengenai keberadaan Tony di kediaman Steve kemarin. Dan Tony yakin Steve pasti terkejut saat mengetahui para paparazzi yang mulai mengusik kehidupan pribadinya. Hal ini yang membuat Tony mempercepat jadwal jumpa pers yang sebenarnya dua hari lagi menjadi hari ini. Melihat pemberitaan yang mulai merebak, dengan isi berita yang tidak jelas, membuat Tony mau tak mau membatalkan pertemuannya dengan klien dan memilih melakukan jumpa pers. Ini demi nama baiknya, dan nama baik Rogers juga. Well, sebenarnya Tony tak peduli soal nama baiknya, karena sebelumnya dia sudah dicap sebagai seorang playboy. Berkencan dengan pria hanya akan dianggap kalau ia sedang mencoba inovasi baru- Tony tertawa geli saat memikirkannya.
Sebenarnya Tony melakukan ini semua untuk Steve, meskipun ia sendiri keberatan untuk mengakuinya. Tentu saja ia keberatan, karena setiap ia bertanya pada dirinya sendiri mengapa ia mau repot-repot melakukan semua ini, ia tak menemukan jawabannya. Ia tahu Pepper juga ingin menanyakan hal yang sama padanya. Tapi sebelum mulut Pepper terbuka, Tony bahkan sudah menyahut "aku pun tidak tahu" untuk menjawabnya. Pepper jelas tak akan mungkin menerima jawaban itu, tapi dia bisa berbuat apa?
Tony akui, kunjungannya ke rumah Steve kemarin sangat mempengaruhinya, meskipun ia tahu tak banyak yang mereka berdua bicarakan saat itu. Yang Tony tak mengerti, Tony sendiri tak bisa memahami dirinya sendiri saat ini. Apa yang sebenarnya Tony inginkan? Semenjak awal perselisihannya dengan Steve saat bocah itu menabraknya di hari wawancara kerjanya, Tony merasa seluruh atensinya hanya terfokus pada pemuda itu. Awalnya memang ia merasa harga dirinya terinjak saat ada seorang pemuda biasa yang membangkang padanya. Tapi belakangan ia merasa apa yang ia lakukan pada Steve selama ini cukup keterlaluan. Segala kesulitan ini... yang berasal dari kekeraskepalaan Tony.
Selain itu, ada seorang lagi yang membuat Tony tidak enak hati. Orang itu adalah Peggy Carter. Tony tahu, ia sedikit kelewatan saat menggoda gadis itu. Meskipun Carter menanggapi dengan sekedarnya, tapi ia tetap sedikit merasa bersalah. Apalagi ia mendekati Carter semata-mata karena hubungan Steve dengan gadis itu yang cukup dekat.
Oke, Tony tahu ia terlihat sangat aneh sekarang. Semua orang tahu kalau ia adalah seorang playboy kelas kakap. Ia meniduri segala macam wanita, bahkan meskipun mereka adalah istri orang. Ia tak pernah peduli latar belakang mereka. Apalagi bagaimana pandangan orang lain terhadapnya karena sifat cueknya. Tapi ini berbeda. Tony tahu wanita seperti apa Peggy Carter. Wanita itu tidak bisa disamakan dengan wanita lain yang selalu dijumpainya. Carter itu wanita berkarakter. Dia bukan tipe gadis murahan, cenderung jual mahal. Tony tahu sulit untuk meluluhkan hatinya, apalagi menidurinya. Itulah alasan mengapa Tony tak pernah menggodanya. Mana mau dia bersusah payah menggoda wanita itu, sementara jelas-jelas ada banyak wanita yang ingin memuaskannya.
Dan masalahnya, karena emosi sesaatnya tempo lalu, Tony justru menghancurkan hubungan di antara Steve dan Carter. Tony meremehkan perjuangan Steve hingga sanggup meluluhkan hati wanita itu. Itu yang membuatnya merasa bersalah.
Tanpa Tony sadari, ia telah sampai di depan ruangan divisi Steve. Ia langsung masuk ke dalam, menuju meja kerja Steve. Sementara Steve sedang duduk di meja kerjanya ditemani seorang teman prianya. Tony mengernyit melihat teman Steve menepuk-nepuk punggung Steve yang sedang menyandarkan kepalanya di atas meja. Merasa aneh dengan suasana di antara mereka berdua tentu saja. Ia tak mengacuhkan degupan keras di dadanya barusan, mungkin karena terkejut melihat Steve.
"Steve Rogers," Tony bukan memanggil. Ia hanya menyebutkan nama Rogers dengan nada datar. Itu saja sudah cukup untuk membuat kedua pria di hadapannya langsung menoleh ke belakang. Tony bisa menangkap kalau Rogers terkejut dengan kehadirannya.
"Bisa tinggalkan kami berdua?" tanya Tony saat dilihat teman Rogers tidak beranjak dari tempatnya. Teman Steve seolah tersadar dari trance-nya, segera berdiri dan tanpa mengatakan apapun mengambil tas kerjanya di meja dan berlalu pergi. Begitu pria itu keluar dari ruangan, Tony kembali bersuara.
"Apa yang baru saja kalian lakukan?" Tony memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"What?" tanya Steve balik.
"Kalian berdua... tadi terlihat seperti–," Tony menelan ludahnya susah payah, seolah ada duri yang menancap di tenggorokannya, "–pasangan gay," lanjut Tony dengan memasang wajah aneh. Steve sempat tertegun mendengar perkataan Tony, hingga setelah ia sadar apa maksud Tony, ia langsung mengumpat. Ia bahkan tak peduli jika ia sedang mengumpat pada pemilik perusahaan tempat ia bekerja.
"Mulutmu itu sepertinya ingin dirobek," gumam Steve sambil matanya menatap tajam Tony, sementara bosnya itu terlihat tidak ambil pusing dengan sikap kurang ajar Steve.
"Memangnya kami melakukan apa sampai membuat kami terlihat seperti pasangan gay?"
"Dia menyentuh punggungmu," jawab Tony cepat. Steve mengernyitkan keningnya.
"Apa yang salah dari itu? Kau bahkan pernah berciuman dengan pria!"
"Aku mabuk! Kau pikir aku melakukannya dengan sukarela?" Tony mulai menaikkan nada bicaranya karena Steve mengungkit kejadian di bar lagi.
"Kalau kau tidak rela dia menciummu, lalu mengapa kau memarahiku saat aku memisahkanmu darinya?"
"Aku tidak ingat," Tony mengangkat bahunya, "aku mabuk". Steve enggan membalas perkataan Tony. Ia melempar pandangan ke arah lain, sambil tangannya bersedekap. Untuk beberapa lama mereka terdiam, hingga tawa Tony memecahkan suasana hening di antara mereka. Steve melirik Tony, sepertinya bingung dengan alasan Tony tertawa.
"We're so gay...," gumam Tony. Steve mengernyitkan keningnya. Ia pasti sudah salah dengar. Baru saja Tony menyebut mereka berdua apa?
"Kita bahkan berdebat seolah kita adalah pasangan kekasih...," Steve tertawa sinis mendengar perkataan Tony. Tony tahu, pasti Steve memganggapnya aneh sekarang.
"Mengapa kau kemari?" tanya Steve segera mengalihkan pembicaraan.
"Ini mengenai jumpa pers sebentar lagi–"
"Ah, akhirnya kau membicarakan itu juga, aku sempat berpikir untuk pergi dari tempat ini kalau saja kau tak datang kemari," Steve memotong perkataan Tony, meluapkan rencana kecil yang ada di pikirannya sedari tadi.
"Mengenai acara nanti, kau tidak perlu mengatakan apapun," jawab Tony tak menanggapi perkataan Steve sebelumnya.
"Bagaimana kalau mereka memberikan pertanyaan padaku? Apakah aku harus diam saja?"
"Sure!"
"Kau gila!" Steve menggeleng-gelengkan kepalanya, benar-benar tak habis pikir, "untuk apa aku ada di sana, jika pendapatku bahkan tak dibutuhkan?"
"Setidaknya kalau kau ada di sana, kita bisa meyakinkan mereka kalau apa yang kukatakan nanti adalah kebenaran," Tony bisa melihat gerakan Steve menghela nafas. Pria itu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kerjanya sambil mengusap wajah.
"Terserah, kau saja..."
-oO-Tamasa-Oo-
Steve menyipitkan matanya saat ia berjalan menuju ruangan tempat diadakannya jumpa pers. Ada banyak kilatan kamera yang menyorot ke arahnya, tentu saja membuatnya risih. Ia duduk tepat di samping Tony. Oh, itu bukan keinginan Steve. Sebenarnya tadi Steve ingin duduk di bangku ketiga sebelah kanan Tony, tapi atasannya itu sudah memberi isyarat untuk duduk tepat si sebelah kanannya. Steve melirik Pepper Potts yang duduk di sebelah kiri Tony. Wanita itu tengah berbicara dengan seorang pria bertubuh gemuk. Sebenarnya Steve ingin menyapa Ms. Potts, tapi melihat raut wajah wanita itu yang serius, Steve memutuskan untuk tidak menyapa mereka berdua.
"Beberapa hari yang lalu kita masih berada pada tensi yang tinggi tiap kali bertemu," Steve menoleh saat mendengar Tony tiba-tiba berbicara. Tony tak menatapnya, ia hanya memperhatikan layar ponselnya tanpa niat sedikitpun untuk menatap lawan bicaranya. "Siapa sangka sekarang kita bisa duduk di meja yang sama tanpa niat saling membunuh," lanjut Tony. Steve tertawa kecil.
"Kalau jumpa pers ini tidak bisa meredam ulah mereka, mungkin niat itu akan kembali muncul Mr. Stark."
"Kau membuatku takut, Mr. Rogers," Steve bisa mendengar nada mengolok Tony, dan ia tak mempedulikannya. Ia serius mengenai perkataannya barusan.
Ketika acara dimulai, Steve hanya diam. Ia berusaha keras mengikuti arah pembicaraan antara Tony dan para wartawan. Dan Steve akui, meskipun menyebalkan, tapi Tony adalah seorang pembicara yang handal. Dia selalu bisa memberikan jawaban yang tepat dan lugas pada mereka. Yah, dia menjadi pengusaha kaya pasti bukan tanpa alasan kan?
"Mr. Stark, ini mengenai isu yang beredar tentang anda dan Mr. Rogers–," Steve sedikit menegang ketika salah seorang wartawan mengajukan pertanyaan tentangnya. Steve melirik Tony, tapi pria itu bahkan tidak menunjukkan ekspresi yang berarti.
"Oh ya," Tony tertawa kecil, "aku yakin kalian pasti penasaran mengenai hubunganku dengan Steve," Steve menelan ludahnya saat Tony menyebutkan namanya.
" Mengenai itu... well," Steve menoleh, menatap pada Tony yang kini juga menatapnya balik, "aku dan Steve memang sedang berkencan..."
Jika tadi sebelum acara dimulai Tony berkata mereka berdua bisa duduk tanpa saling membunuh, itu salah. Karena sekarang Steve sedang berusaha mati-matian untuk tidak menusukkan pulpen di atas meja pada atasannya itu.
To be continued...
-oO-Tamasa-Oo-
Berkali-kali ane akan meminta maaf tiap memberikan lanjutan cerita ini karena selalu lama. Hidup saya nggak selalu lancar, brat.
Shoutout untuk J'Trimfle, fuuuton, stewpiedash, dan Kyulennychan yang udah ngeramein kolom komentar.
Terimakasih juga untuk yang fav dan follow story ini ataupun ane.
Terimakasih juga untuk yang cuman baca aja. Hhaa.
Sampai jumpa di chapter depan!
Mind to review?
Ciao!
