-oO-TamaSa-Oo-

Disclaimer: Marvel

Rated: T

Pairing: STony (Steve x Tony) and others

Warning: Boyslove, AU, (really) OOC, Maybe typo(s)

Don't like, don't read!

-oO-TamaSa-Oo-

BUGH!

Terdengar suara pukulan diiringi ambruknya Tony yang terjatuh di lantai. Tony mendudukkan dirinya, mengusap ujung bibirnya yang terasa nyeri dengan punggung tangannya. Ia tersenyum sinis saat melihat ada setitik darah yang menempel di tangannya. Tony melirik pria berambut pirang yang kini berdiri di hadapannya. Tatapannya tajam menusuk, seperti biasanya. Jujur saja, Tony sudah kebal dengan cara pandang yang seperti itu. Itu tak mempengaruhinya sama sekali.

"Kau menjijikkan, Stark!" hanya ada satu pria di dunia ini yang berani menghina Tony secara langsung. Steve Rogers.

"Omong kosong apa yang kau inginkan, hah!? Berkencan?!" masih dengan nada membentak Steve berbicara padanya. Pelan-pelan Tony bangkit berdiri, matanya memandang ke arah lain, menolak memandang pria yang memarahinya saat ini.

"I tried to protect you..."

"Bagian mana dari omong kosongmu di sana yang bisa melindungiku? Tell me!" Tony membisu, tak menjawab pertanyaan Steve. Sekalipun ia menjelaskan, apakah Steve akan mendengarkan? Melihat emosinya yang membuncah saat ini, sepertinya sangat tidak mungkin Steve mau mendengarnya.

"Lihat? Kau bahkan tidak bisa menjelaskan apapun padaku!" Steve mengusap kasar rambutnya ke belakang, membuat Tony menelan ludahnya gugup. Steve yang seperti itu terlihat lebih tampan dibanding biasanya. Wajahnya yang tegang itu justru membuatnya terlihat lebih dewasa. Oh, Tony mulai gila sepertinya. Mungkin lebih baik Steve meninjunya lagi untuk mengembalikan akal sehat Tony yang mendadak hilang.

"Tenangkan saja pikiranmu," Tony akhirnya bicara lagi, "kita tidak bisa bicara jika kau emosi seperti ini."

"Aku masih bisa mendengarmu, Stark!" bantah Steve keras kepala. Tony mengangkat sebelah alisnya. Masih bisa mendengar Tony katanya? Lihat saja kedua telapak tangan Steve yang mengepal sekarang. Tony yakin, apapun yang akan ia katakan pasti akan berakhir dengan sebuah tinjuan lain yang entah akan bersarang di bagian tubuhnya yang mana.

"Semua orang sekarang tahu jika kau adalah kekasihku. Terima saja fakta itu, suka atau tidak suka. Malam ini jangan pulang ke rumahmu karena aku yakin sebagian dari mereka masih ingin mendengar penjelasan dari mulutmu-"

"Kau pikir ini semua karena ulah siapa?" sela Steve menggeram. Tony tak mengacuhkan pertanyaan Steve. Ia kembali berbicara.

"Kau akan ikut denganku. Selama beberapa hari ini kau harus menginap di rumahku hingga suasana benar-benar tenang," Tony segera mundur ketika melihat Steve yang mendadak mendekatinya dengan tangan terkepal. Benar kan? Bicara dengan orang yang emosi hanya akan berakhir dengan pukulan. Meskipun beberapa menit yang lalu ia sempat membatin agar Steve memukulnya lagi, ia tidak serius. Ia tidak mau dipukul lagi oleh Steve. Ini saja mulutnya masih terasa kebas karena pukulan Steve tadi tidak main-main.

"Oke, kau bebas memilih, ikut denganku atau kembali pulang ke rumahmu. Tapi yang jelas aku akan kesulitan membantumu jika kau memutuskan untuk tetap pulang ke rumahmu," Tony bisa menangkap gelagat Steve yang kebingungan. Jujur saja, Tony berharap Steve memilih ikut dengannya. Permasalahan ini tidak akan selesai jika Steve terus menghindarinya. Saat ini publik hanya tahu jika Tony dan Steve adalah sepasang kekasih, meski itu hanya pura-pura. Jika publik tahu Steve dan Tony berada di rumah yang sama, mereka akan mempercayai isu yang dibuat Tony. Meskipun mungkin sebagian dari mereka akan menghujat Steve karena menganggap Steve hanya mengincar uang Tony, mereka jelas tidak bisa berbuat apa-apa. Pepper Potts yang merupakan orang terdekat Tony saja tidak mempermasalahkan hubungan Tony dan Steve, lalu kenapa orang lain harus ikut campur?

"Baiklah," Steve bersedekap, sudah dalam mode dingin rupanya, "ada berapa kamar di rumahmu?"

-oO-Tamasa-Oo-

Steve sudah cukup terkejut saat melihat betapa ketatnya pengamanan di rumah –bukan, ini bukan rumah, tapi mansion!– milik Tony. Ada sebuah pos penjagaan di gerbang masuk, dan Steve enggan menghitung jumlah pengawal yang sedang berjaga di sana. Apalagi ketika sudah di depan pintu masuk mansion. Belum cukup dengan pintu berkode, Tony juga menempatkan dua pengawal untuk berjaga di sana.

Begitu masuk ke dalam mansion, Steve tidak bisa menahan dirinya untuk tidak berdecak kagum. Tony memilih konsep yang sesuai dengan dirinya, berkelas tapi simple. Tidak terlihat banyak perabotan di tiap ruangannya. Sofa kulit beludru berwarna abu-abu, sebuah layar LED berukuran 52", sebuah mini bar di pojok ruangan, dan sebuah pigura berukuran 2x3 meter berisi foto Tony yang berdiri di belakang sepasang lansia yang sedang duduk. Mungkin itu orangtuanya. Kalau dari wajahnya, mereka terlihat jauh lebih ramah ketimbang putra mereka.

Nah, ini hanya ruang santai. Steve tidak bisa membayangkan bagaimana isi ruangan yang lainnya.

Dengan sabar Tony menjelaskan tiap-tiap ruangan di rumahnya. Ruang makan, dapur, perpustakaan, workshop khusus milik Tony –Steve sedikit tidak percaya kalau Tony punya ruangan praktek khusus untuknya, ruang fitness, dan kolam renang. Tony juga menunjukkan beberapa pelayannya yang akan mengurus semua kebutuhan Steve selama tinggal di sana. Yang terakhir, Tony menunjukkan ruangan yang akan menjadi kamar tidur Steve di lantai dua. Cukup luas untuk dibilang kamar, ukurannya nyaris tiga kali lipat dari kamar Steve di rumah. Ada kamar mandi di dalam kamar, jadi Steve tak perlu mempermasalahkan soal privasi di rumah itu.

"Aku tidak tahu seleramu soal tata ruang, jadi aku hanya memberimu perabotan seadanya," jika yang Tony bilang seadanya adalah seperti ini, Steve tak bisa membayangkan bagaimana isi kamar Tony yang sudah pasti jauh lebih lengkap. Sebuah ranjang ukuran king size, LED TV ukuran besar –hanya 36", tapi menurut Steve itu terlalu besar untuk diletakkan di kamar, satu set PC canggih dan meja kerjanya, sedikit barbel ukuran kecil, dan ketika Steve berjalan menuju balkon dan menggeser pintu kaca, pepohonan menyapanya. Ini malam hari tapi Steve bisa membayangkan betapa indahnya tempat ini saat pagi hari. Tapi ada satu hal yang membuatnya ingin bertanya sedari tadi. Sebuah foto berukuran besar di atas kepala ranjangnya.

"Kau...," Steve menunjuk foto besar itu, "darimana kau mendapatkan foto itu?" Itu foto Steve, yang bahkan Steve tidak ingat pernah berpose seperti itu. Memang foto itu terlihat seperti foto candid. Steve memakai kemeja polos berwarna biru muda yang sedikit ketat, tengah tersenyum entah pada siapa. Steve merinding melihat fotonya sendiri, senyum itu seperti senyum seorang gadis yang sedang sok manis di hadapan pria yang disukainya. Menjijikkan.

"Aku tidak ingat." Jawaban yang menggantung. Steve menghela nafas panjang, ingatkan ia nanti untuk menurunkan foto itu saat Tony sudah pergi. Steve melirik Tony yang sedang bersedekap sambil menyandarkan dirinya di kusen pintu.

"Thank you, Sir," sebenarnya Steve enggan mengatakannya, tapi ia harus. Tony sudah berusaha menolongnya, meski sampai sekarang ia bingung bantuan macam apa yang sedang diberikan Tony. Tony hanya tersenyum miring dan mengangguk sebagai balasan, kemudian beranjak pergi dari kamar Steve. Baru saja Steve ingin menutup pintu, Tony kembali muncul.

"Kalau kau sudah membersihkan diri, segeralah turun. Aku sudah memesan makanan untuk makan malam."

-oO-Tamasa-Oo-

Sudah 3 hari Steve menginap di rumah Tony. Semua tebakan Tony benar mengenai beberapa wartawan yang merasa belum puas dengan semua penjelasan Tony saat jumpa pers. Mengenai publik yang mengetahui hubungan Tony dan Steve yang bukan hanya sekedar atasan dan bawahan, well... ada berbagai macam reaksi dari mereka.

Mengenai Tony, orang-orang menganggap jika Tony Stark hanya sedang mencari selingan baru dalam hidupnya yang serba sempurna. Ada yang mengatakan kalau sifat player Tony hanya untuk menutupi orientasi seks Tony yang menyimpang. Tapi tidak sedikit yang berharap Steve Rogers bisa mengubah sifat buruk Tony. Wajar jika mereka punya pemikiran sampai ke sana. Semenjak keributan yang terjadi antara Tony dan Steve, Tony semakin jarang melakukan one night stand bersama wanita asing di luar sana, belakangan ini malah tidak sama sekali. Tawaran untuk itu tetap ada, karena setiap ia bertemu dengan wanita, entah itu di mana, mereka seolah tak henti memberi kode ingin menghabiskan malam bersama Tony. Sayangnya, Tony tak menanggapinya. Bukannya ia sudah tertarik dengan wanita lagi, for God's sake ia masih normal! Ia hanya... sebut saja kehilangan mood.

Beda lagi dengan Steve. Jika sebagian besar orang tidak mempermasalahkan Tony yang berubah haluan, hal sebaliknya justru terjadi pada Steve. Tony tak perlu menjabarkan bagaimana penilaian buruk mereka, karena jujur saja Tony sendiri bingung dengan pemikiran liar mereka. Tony tidak terkejut jika Steve semakin terpuruk melihat masih ada yang menjelek-jelekkan dirinya sampai sejauh itu. Steve terus mengomel, mengatakan jika solusi yang dipakai Tony tak bekerja sama sekali. Dan Tony terus meyakinkan Steve untuk tak perlu ambil pusing dengan komentar orang yang tidak penting.

"Malam ini aku pulang larut," Tony tak tahu mengapa ia harus mengatakan itu pada Steve saat sarapan pagi ini. Steve yang mengoleskan selai kacang di atas roti panggangnya menghentikan aktivitasnya untuk sesaat, menoleh ke arah Tony yang sedang duduk di hadapannya.

"Aku harus bertemu dengan Chris Hemsworth lagi untuk melanjutkan pembicaraan mengenai kerjasama," lanjut Tony. Dan sampai detik ini Tony tetap tak mengerti mengapa ia harus menjelaskan serinci ini pada Steve. Steve bukan siapa-siapa –oh, Steve adalah kekasih Tony.

"Chris?" Steve membeo, "bukankah Chris adalah pria yang pernah menciummu di bar?" Lagi-lagi Steve mengingatkan ia akan peristiwa paling bodoh yang pernah Tony alami.

"Ya," Tony menjawab singkat. Steve meletakkan pisau makannya dengan kasar hingga berdenting. Melihat reaksi Steve, sepertinya akan ada sesi perdebatan lagi antara Tony dan Steve pagi ini.

"Kau pura-pura lupa atau memang aku harus mengingatkanmu, dia adalah pria yang membuat kita berada di situasi ini. Dan kau masih ingin melanjutkan kerjasama dengannya?"

"Bukan dengannya," Tony menghela nafas, "tapi dengan perusahaannya. Keuntungan yang akan diberikan bukan jumlah yang sedikit. Lagipula, semua permasalahan yang kita hadapi saat ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan pekerjaan," Tony berusaha untuk tidak terpancing emosi. Cukup satu orang saja yang emosi, jangan keduanya.

"Oke, silakan lanjutkan saja pertemuanmu dengannya," Steve melanjutkan sarapannya. Dengan cepat ia menyuapkan sepotong roti ke mulutnya, "aku berani bertaruh–" menelan makanannya, "jika di pertemuan kalian nanti akan berujung dengan adegan pemerkosaan."

"What the hell, Steve! Bisakah kau untuk tidak membicarakan itu di meja makan?" Tony menyuapkan roti ke mulutnya dengan cepat. Ia ingin segera menghabiskan makanannya sebelum pembicaraan ini menghilangkan selera makannya.

"Aku mengatakan fakta padamu, hanya agar kau lebih berhati-hati nanti."

"Tapi saat kau mengatakannya, aku jadi membayangkan sedang berbaring di atas meja ini dengan tubuh telanjang sementara Chris ada di atasku!" Steve tersedak tepat setelah Tony menyelesaikan kalimat frontalnya. Tony tertawa geli sembari mengambilkan minuman untuk Steve. Ia hanya berbohong. Sebenarnya ia tak pernah membayangkan hal itu sama sekali. Tapi menggoda Steve yang emosi begini cukup menyenangkan untuknya.

"Kau menjijikkan, Stark!" komentar Steve saat ia sudah tidak terbatuk lagi. Tony tertawa kecil. Belakangan ini Steve sering sekali mengoloknya seperti itu. Meskipun sakit hati, tapi Tony lebih suka mendengar Steve mengatakan kalimat seperti itu ketimbang mengatakan kalau ia membenci Tony.

"By the way, aku akan tetap bertemu dengan Chris."

"Terserah kau!"

"Don't be jealous, dear.."

"Fuck you, Stark!"

-oO-Tamasa-Oo-

Steve merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku. Ia memperhatikan sekeliling kamarnya dengan pandangan menerawang. Kamar barunya ini memang luas, tapi jujur saja ia lebih nyaman dengan kamar lamanya. Suasana di rumahnya sangat tenang, membuatnya rileks dari penat di kantor. Bukan berarti di sini ia tidak mendapat ketenangan. Di sini pun tenang, hanya saja ia selalu merasa kesepian. Ia rindu bertegur sapa dengan tetangganya di rumah.

Steve beranjak dari tempat duduknya, setelah mematikan mesin PC. Perutnya mulai terasa lapar. Sebenarnya sudah dari tadi pelayan memanggilnya untuk makan malam, tapi ia merasa tanggung jika harus makan malam sebelum menyelesaikan pekerjaannya. Steve menuruni tangga, berjalan menuju meja makan di tengah keheningan. Ia duduk di salah satu kursi, mengambil makanan yang tersedia di meja.

Steve mulai makan sambil memikirkan pembicaraannya tadi pagi dengan Tony. Pembicaraan mengenai kecurigaan Steve jika Chris akan melecehkan Tony lagi. Steve menggeleng, masih tak percaya dengan Tony yang memutuskan untuk melanjutkan kerjasama dengan pria mesum itu. Sepertinya Tony sudah terlanjur kecanduan karena ciumannya dengan Chris kemarin. Bisa jadi itu alasan Tony sebenarnya.

Steve menyuap makanan lagi. Kalau Tony dan Chris berhubungan, kira-kira siapa ya yang akan menjadi wanitanya? Chris? Tidak mungkin. Pria itu sangat maskulin, jadi tidak mungkin dia yang jadi wanitanya. Tony? Pria itu memang sedikit kekanakan, tapi juga tidak feminim. Lagipula dia itu playboy, mana mungkin dia mau di posisi wanita? Steve jadi membayangkan Tony yang sedang bercumbu dengan Chris, dalam keadaan topless, di atas ranjang. Oh tunggu, mereka berdua tipe pria agresif, jadi tidak mungkin melakukan itu di atas ranjang karena itu terlalu mainstream. Mereka pasti melakukannya di... di atas pantry, atau di meja makan, seperti yang Tony bilang tadi pagi.

Steve menyendok makanannya, tapi sebelum ia membuka mulutnya, bayangan tubuh Tony yang sedang berbaring di atas meja makan membuatnya mual seketika. Apalagi dengan cairan mereka yang bertebaran di mana-mana. Menjijikkan sekali. Steve batal melanjutkan makannya. Ia letakkan kembali sendoknya. Nafsu makannya hilang sudah. Semua hanya karena ia memikirkan hal tolol barusan.

Steve menghabiskan minumannya, kemudian beranjak berdiri. Ia tahu ini di liar kebiasaannya yang selalu menghabiskan makanan tanpa memilih-milih. Hanya sekali ini saja, biarkan ia melanggar komitmennya. Ia tidak ingin makan di sini lagi. Atau setidaknya Tony harus mengganti meja makan dengan model berbeda. Jika Tony menolak, ia tak peduli. Toh ia masih bisa makan di tempat lain, kan?

To be continued...

-oO-Tamasa-Oo-

Mood saya agak membaik karena ngeliat jumlah reader di WP yang udah lebih dari 1000. Respon di FFn juga bagus karena yang follow dan fav juga nambah lagi. Hhee...

Shoutout untuk : J'Trimfle, Kyulennychan, Rei no Zero, dan lxmnbharat yang udah review di chapter sebelumnya.

Terimakasih untuk yang udah baca.

Terimakasih untuk yang udah fav dan follow.

Mind to review again?

See you next chapter!

Ciao!