-oO-タマサ-Oo-
Disclaimer: Marvel
Rated: T
Pairing: STony (Steve x Tony) and others
Warning: Boyslove, AU, (really) OOC, Maybe typo(s)
Don't like, don't read!
I suggested you to read previous chapter again because perhaps you have forgot about the plot.
-oO-タマサ-Oo-
"Good afternoon, Mr. Stark!"
Tony mengulurkan tangannya untuk menjabat pria yang kini berdiri di hadapannya. Senyum lebar terpatri di wajah tampannya, sama halmya dengan pria yang menyapanya.
"Good afternoon, Mr. Hemsworth."
"Silakan duduk," Chris Hemsworth mempersilahkan Tony untuk duduk di kursi. Setelah Tony duduk, ia menyusul duduk di hadapan Tony.
"How are you?" tanya Chris. Tony tersenyum.
"I'm fine. What about you?"
"Me too. Sejak terakhir pertemuan kita beberapa hari yang lalu, aku memang kurang tidur. But so far, I'm okay…," jawab Chris sambil tertawa kecil. Tony mengernyitkan keningnya.
"Apakah ini karena isu hubungan kita? Maafkan aku jika pemberitaan ini mengganggumu…," kata Tony sambil mengeluarkan laptopnya. Chris melambaikan tangan sambil tersenyum kecil. Meskipun sulit untuk mengakuinya, tapi Tony merasa kalau Chris terlihat jauh lebih tampan dengan senyumnya itu.
"Bukan masalah. Sejujurnya aku justru terbantu dengan gosip itu, bukankah aku sudah mengatakannya padamu?" Itu memang benar. Saat pertemuan Tony dengan Chris beberapa hari lalu, Chris memang berkata begitu pada Tony. Hanya saja Chris tak menjelaskan secara detail apa maksudnya, dan Tony juga tak ada keinginan sama sekali untuk menanyakan apa maksud perkataan Chris waktu itu. Itu bukan urusannya.
"Lalu…," Chris mengikuti Tony dengan membuka laptopnya sendiri yang sedari tadi ada di hadapannya. "Bagaimana dengan Mr. Rogers?" pertanyaan Chris membuat Tony tersedak ludahnya sendiri.
"Ada apa dengan Rogers?" tanya Tony balik.
"Dia masih di rumahmu?"
"Oh," Tony mengangguk paham. Ia membuka laptop dan menyalakannya, "dia sudah kembali ke rumahnya."
"Really?" tanya Chris dengan nada tak percaya, "kupikir ia akan tetap tinggal di rumahmu". Tony tertawa mendengar perkataan Chris. Sejujurnya ia pun ingin begitu, tapi melihat sifat Steve yang keras kepala, mana mungkin ia bersedia? Lagipula untuk apa ia menahan Steve lebih lama di rumahnya, toh pria itu sepertinya tak ingin berlama-lama di dekat Tony.
Ya, sejak beberapa hari yang lalu, Steve tiba-tiba berperilaku aneh. Steve berusaha menghindari Tony, dengan menggunakan berbagai macam alasan. Ia bahkan menolak sarapan dan makan malam bersama Tony di meja makan, dan memilih untuk makan di kamarnya atau di dekat kolam renang. Tony yakin, ia tak pernah melakukan kesalahan fatal pada Steve. Ia bahkan sudah mengganti meja makan dengan model yang sangat berbeda dengan sebelumnya tanpa pernah menanyakan alasan mengapa Steve bersikeras menggantinya. Kalau mengenai mulut Tony yang suka berbicara seenaknya, yaahh… Tony memang tak bisa mengendalikannya. Tapi Tony bisa memastikan kalau ia tak pernah menghina Steve lagi semenjak pria itu tinggal di rumahnya.
Saking yakinnya, Tony bahkan menginterogasi seluruh pegawai di rumahnya, mencari informasi barangkali ada salah satu dari mereka yang pernah berbicara dengan Steve dan tanpa sengaja telah menyinggungnya. Siapa yang tahu kalau ada yang tak suka dengan berita hubungan Tony dan Steve yang beredar karena merasa mungkin saja Steve hanya mengincar harta Tony. Wajar kalau mereka berpikiran begitu. Tony juga tak pernah menjelaskan pada mereka kalau status hubungan mereka hanya pura-pura. What's for? Kalau ia menceritakan hal tersebut, mereka bisa saja memperlakukan Steve secara tidak hormat. Untungnya, berdasarkan pengakuan Bertha –kepala pelayan di rumahnya, Steve tak pernah berinteraksi pada siapapun selain dengan Bertha.
Sebenarnya, sehari sebelum Steve berpamitan pada Tony, mereka berdua sempat mengobrol di balkon kamar Steve. Tony sengaja mendatanginya lebih dulu, agar Steve tak bisa mencari alasan lagi untuk menghindarinya. Saat itu, tak satupun pertanyaan mengenai perubahan sikap Steve keluar dari mulut Tony. Ia hanya bertanya mengenai pekerjaan Steve, hubungannya dengan Peggy Carter, bahkan latar belakang keluarga Steve.
Dari obrolan mereka, akhirnya Tony bisa mengenal Steve lebih dalam. Seperti saat pertama kali ia bertemu Steve, pria itu memang tipe pria yang tangguh. Ia mengalami banyak kesulitan di hidupnya, tapi tak pernah sekalipun ia mengeluh, setidaknya di hadapan orang lain. Tujuan hidupnya hanya ingin membahagiakan ibunya. Tapi semenjak ibunya meninggal, ia jadi merubah tujuan hidupnya. Ia ingin sukses dengan caranya sendiri, dan berharap dengan kesuksesannya kelak, ia bisa membantu banyak orang.
Impian simple. Tapi jelas butuh perjuangan untuk mewujudkannya.
"Mengenai pemasaran produk di lokasi ini, aku memiliki seorang adik yang bisa membantu kita. Dia cukup terkenal di sana, karena ayahnya dulu adalah mantan gubernur," Tony seperti tersadar saat mendengar penjelasan Chris.
"Baru saja kau mengatakan apa?"
"Kau tidak menyimak perkataanku, Mr. Stark?" tanya Chris heran.
"Tidak," elak Tony, "aku merasa tidak yakin dengan apa yang baru saja kau katakan". Kalau tidak salah, ia mengatakan tentang adiknya yang bisa membantu mereka. Tapi mengapa kemudian ia mengatakan 'orangtuanya' bukan 'orangtua kami'?
"Oh, aku memiliki adik angkat. Kedua orangtuanya meninggal sejak kecil, jadi kemudian ayahku mengadopsinya. Ayahnya dulu adalah mantan gubernur–"
"–Oke," potong Tony langsung, "aku sudah paham". Meeting mereka tidak akan selesai jika terus membicarakan hal-hal di luar pekerjaan. "Kita lanjutkan yang tadi," tambah Tony. Chris mengangguk mengerti.
Dan perbincangan Chris dan Tony pun berlanjut. Mereka berdua baru saja memutuskan untuk memilih kota-kota mana saja yang akan jadi pusat promosi untuk produk baru mereka. Perusahaan Tony mengeluarkan smartphone baru, sementara perusahaan Chris merupakan pembuat aplikasi dan software. Tony secara khusus telah membuat desain baru untuk smartphone-nya, dan Chris mewakili perusahaannya ingin beberapa aplikasi buatannya dipasang di smartphone tersebut. Tony sudah memilah aplikasi mana yang layak untuk dipasang pada pertemuan sebelumnya.
Mengenai aplikasi, sebenarnya Tony sanggup membuat aplikasi sendiri. Otak jeniusnya saja sudah cukup untuk jadi modal. Masalahnya, sulit dipungkiri kalau perusahaan Chris memiliki banyak aplikasi yang populer di berbagai kalangan masyarakat, dan semuanya merupakan aplikasi berbayar. Melihat jutaan pengguna aplikasi-aplikasi tersebut, tentu saja hal itu juga berpengaruh pada penggunaan ponsel yang meningkat. Bayangkan saja, jika biasanya selama ini mereka harus membayar mahal untuk aplikasi buatan Chris, kali ini mereka bisa mendapatkan gratis di Starkphone. Apalagi semua orang tahu bagaimana kualitas fisik produk buatan Stark Corp. Tidak pernah mengecewakan.
"Aku akan menginstruksikan Pepper agar segera mengurus semuanya," kata Tony sambil mematikan laptopnya. Ia menghabiskan kopinya, ingin segera mengakhiri pertemuan ini. Moodnya tidak begitu bagus. Sedari tadi ia tak bisa berhenti memikirkan Steve, sepertinya karena di awal bertemu Chris sudah membahas tentangnya. Tony masih tak habis pikir dengan keputusan Steve yang tiba-tiba ingin kembali ke rumahnya, jika tak ingin dibilang kecewa. Meskipun setiap hati kecilnya bertanya 'mengapa', ia tetap tak bisa menemukan jawabannya.
"Aku akan menghubungi untuk jadwal pertemuan berikutnya," kata Chris turut menutup laptopnya dan menyimpannya dalam tas kerja, "bagaimana kalau kau menemaniku mengobrol di sini? Kau terlihat seperti orang yang sedang memikul hidup ratusan orang di pundakmu..."
"Jumlah pegawai di perusahaanku ada lebih dari sekedar itu, Chris."
"Hanya kiasan, dude."
Tony tahu kalau Chris hanya bercanda saat berkata seperti itu. Tapi apa yang Chris katakan adalah benar. Ia ingin menyampaikan semua beban pikirannya, tapi tak tahu harus pada siapa. Hal yang membuatnya tak tenang kali ini merupakan hal yang sensitif. Tony buta mengenai hubungan sesama jenis, meskipun ia seorang playboy. Hubungan sesama jenis? Oh God, lihat, Tony bahkan sudah menganggap serius hubungannya dengan Steve sampai sejauh ini. Tapi pada siapa ia harus bercerita, sementara orang yang dekat dengannya hanya Pepper dan Happy. Dan ia cukup peka untuk tidak mengganggu mereka berdua karena mereka sudah cukup sibuk mengurus media karena isu bodoh kemarin dan perusahaan.
"Kalau kau keberatan tak apa, mungkin lebih baik kau beristirahat," Tony tersentak mendengar perkataan Chris. Astaga, lagi-lagi ia melamun. Tony mengusap wajahnya kasar menggunakan kedua telapak tangan, berharap pikirannya yang berantakan turut hilang.
"Tidak. Kurasa kau benar Chris." Chris mengedikkan alisnya, "aku harus mengatakan ini pada seseorang sebelum kepalaku meledak."
-oO-タマサ-Oo-
Tony berjalan dengan santai menyusuri lorong kantor. Di belakangnya, Happy sedang membacakan jadwal meeting yang harus dihadiri Tony selama sehari nanti. Beberapa ia setujui, lebih banyak ia tolak dan meminta agar beberapa pegawai dari divisi pemasaran atau keuangan yang menggantikannya. For God's sake, ia adalah orang paling penting di perusahaan ini. Tidak mungkin ia harus menghadiri semua rapat tidak penting itu! Bukannya ia meremehkan pekerjaan, ia hanya ingin orang benar-benar menghargai posisinya.
Entah sedang beruntung atau sial –sejujurnya Tony tak berharap hal ini akan terjadi– dari sekian banyak pegawai di gedung ini, mengapa ia harus bertemu dengan satu-satunya orang yang paling tak ingin ia temui saat ini? Ini masih pagi, tapi ia sudah melihat Steve Rogers berjalan di belakang Mr. Smith, sambil membawa banyak berkas di kedua tangannya. Steve terlihat kesulitan membawa tumpukan berkas yang berantakan itu. Dasar bodoh, bukankah ia bisa meminta Mr. Smith berhenti sebentar agar bisa memperbaiki posisi berkas? Tanpa sadar Tony tetap berjalan mengarah Steve dan memperhatikannya dengan tajam, tanpa Steve sadari. Tony baru berhenti saat ia sudah sampai tepat di hadapan Steve, dan saat itu juga akhirnya Steve menyadari keberadaan Tony. Tony menahan senyumnya saat melihat ekspresi terkejut Steve.
"Mr. Stark," Mr. Smith menyapa Tony sambil membungkuk. Tony mengangguk kecil, pandangannya lurus ke mata biru Steve. Steve menatapnya balik, entah Tony tak tahu apa yang ada di pikirannya. Tony menggeleng kepalanya, memilih membantu merapikan tumpukan berkas di tangan Steve.
"Kau bisa memintanya berhenti berjalan sebentar untuk memperbaiki ini," ucap Tony berusaha tenang. Ia bahkan tak tahu mengapa dadanya berdebar saat menatap wajah Steve dari dekat dan mencium bau cologne-nya. Steve tak menjawab sepatah katapun, hanya mengangguk.
"Baiklah," Tony menarik jasnya ke bawah, "lanjutkan pekerjaan kalian," ucap Tony sambil berlalu pergi, diikuti Happy di belakangnya. Diam-diam Tony menghela nafas panjang, yang tentunya menarik perhatian Happy.
"What happen?" tanya Happy. Ia sengaja berjalan sedikit lebih cepat agar bisa menyamai Tony.
"What?" tanya Tony balik.
"Mengapa kau bersikap aneh setelah bertemu Rogers?" Tony tersenyum sinis. Tumben pria ini langsung sadar sikap aneh Tony barusan karena setelah bertemu Rogers. Biasanya pria ini selalu salah paham dengan kondisi sekitarnya.
"I'm not."
"Kau bohong! Aku bisa melihatnya!" Happy menoleh ke belakang, diikuti oleh Tony. Steve dan Mr. Smith sudah berjalan kembali, kemudian masuk menuju ke salah satu ruangan. Tony tersenyum kecut. Reaksi Steve saat bertemu dengannya tadi sedikit mengecewakan Tony. Jujur saja, meskipun ia sering berdebat dengan Steve, justru itu yang membuatnya merindukan berbincang dengan pria itu. Steve bukan orang yang pemarah, itu yang belakangan ia tahu dari Steve. Ia hanya akan bersikap sarkatis pada Tony, wajar saja, pertemuan pertama mereka tidak diawali dengan sesuatu yang baik. Yang membuat Tony menyayangkan situasi tadi adalah, ia berharap sikap Steve akan berubah lebih baik padanya, mengingat mereka sudah cukup dekat sejak tinggal bersama di mansion Tony.
Jika dilihat dari reaksinya tadi, sepertinya Steve tidak merasakan hal yang sama seperti Tony. Dan hal itu membuat Tony merasa menjadi orang paling tolol sedunia. Mengapa ia harus segusar ini setelah bertemu Steve? Mengapa ia harus merasa frustasi hanya karena memikirkan alasan Steve meninggalkannya? Sementara pria itu bahkan terlihat biasa saja saat jauh dari Tony. Wait... lagi-lagi Tony bersikap seperti wanita labil! Memangnya apa yang ia harapkan dari Steve? Pria itu punya hubungan apa dengan Tony? Kekasih?
Hey, Tony membelalakkan matanya, mereka memang sepasang kekasih!
Mereka masih sepasang kekasih!
-oO-タマサ-Oo-
Steve membanting berkas-berkas ke meja kerjanya dengan gerakan kasar, yang tentu saja menarik perhatian pria tengil yang duduk di sebelahnya, Johnny. Johnny menggeser kursinya ke belakang, senyum jahil tersungging di wajah tampannya.
"What's up, dude?" tanya Johnny. Steve menggeleng. Tanpa menoleh ia duduk di kursinya. Johnny menarik kursinya lagi agar lebih dekat. Wajah jahilnya mendadak hilang, digantikan dengan raut khawatir.
"Kau oke?"
"I'm okay," jawab Steve. Diletakkan dagunya ke atas meja. Matanya menatap kosong ke layar komputernya yang mati. Ia baru saja mendampingi Mr. Smith untuk rapat kepala divisi. Ia sedikit penat karena terbawa suasana tegang di antara para kepala divisi yang menghadiri rapat. Tapi kalau boleh jujur, bukan rapat itu yng membuatnya sepenat ini. Ia tak bisa berkonsentrasi sepanjang rapat karena ada hal lain yang mengganggu pikirannya.
Ya, ini tentang Stark, selalu tentang pria itu...
Tapi ia tak akan mengatakannya pada Johnny, karena pria itu pasti akan mengoloknya, seperti biasa. Kemudian ia akan mengatakan omong kosong semacam hubungan antara dirinya dan Tony yang mungkin mulai mempengaruhinya. Menggelikan, bukan? Memangnya apa yang spesial dari hubungan Steve dengan Tony? Itu hanya pura-pura, meskipun orang-orang tak tahu fakta itu.
"Oke, aku tak akan bertanya," Johnny mengangkat kedua tangannya, "aku sudah tahu jawabannya. Pasti ini tentang Mr. Stark, ya kan?" Lihat, mulut berisik Johnny memang yang terbaik, apalagi jika itu digunakan untuk menjatuhkan mood Steve yang memang sudah buruk dari sebelumnya.
"Shut up!"
"Kau bertemu dengannya tadi?" sepertinya Johnny tak paham arti dari kata 'shut up' yang baru saja diucapkan Steve. "Memangnya ada apa antara kau dan Mr. Stark? Kupikir hubungan kalian mulai membaik sejak kau mengungsi di rumahnya..."
"Memang."
"Lalu mengapa aku merasa kau seperti sedang menghindar darinya selama beberapa hari ini?" Johnny tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Steve dan Tony, dia benar-benar tidak tahu. Dan Steve tak berminat mengatakannya pada siapapun, apalagi Johnny.
"Aku tidak menghindarinya."
"Ya, seharusnya kau tidak menghindarinya," Johnny menepuk-nepuk sebelah bahu Steve dengan gaya sok menghibur, "dia sudah banyak berbuat baik padamu, bukan?" lanjut Johnny. Steve mengernyitkan keningnya. Baik? Tony baik? Bagian mana dari perbuatan Tony yang baik untuk Steve? Oke, saat berada di rumahnya, Tony memperlakukan Steve dengan baik layaknya tamu kehormatan. Yang jadi masala, Steve tidak merasakan perubahan baik sejak ia tinggal di sana selaib meredanya isu hubungan Steve dan Tony yang menguntungkan satu pihak saja. Bahkan sejak kembali dari sana, Steve masih kesulitan tidur karena terus teringat dengan suasana kamarnya di mansion itu, ingat dengan malam sebelum ia memutuskan untuk pergi di mana ia mengobrol lama dengan Tony, ingat di mana–
"Oh," Johnny tiba-tiba memukul punggung Steve dengan keras hingga Steve merasa kebas di punggungnya, "dia berselingkuh?". Steve menggeleng tak percaya saat mendengar pertanyaan Johnny. Tony berselingkuh, itu bukan sesuatu yang asing di telinganya. Pria itu playboy, semua orang tahu itu, termasuk Steve. Melihat dari sikap Tony yang menggoda Peggy Carter hanya untuk menyakiti hati Steve, Steve sudah bisa mengambil kesimpulan kalau pria itu akan melakukan apa saja untuk menjatuhkan rivalnya. Ia bahkan tak punya beban sedikit pun untuk menggoda wanita manapun kemudian meninggalkannya seolah tak ada salahnya kalau ia menaklukkan hati para wanita.
Steve tak peduli jika ada yang menyebutnya pria tak tahu terima kasih. Ia masih bisa menganggap buruk Tony meski perlakuannya telah berubah pada Steve. Steve yakin, jika orang lain berada di pihaknya, mereka pasti juga akan memberikan reaksi yang sama. Ini saja sudah lewat beberapa hari sejak kejadian di balkon kamarnya itu, dan Steve masih tidak bisa melupakannya, apalagi mengendalikan dirinya saat bertemu Tony. Steve heran, bagaimana bisa Tony bersikap biasa saja seolah tak terjadi apa-apa, padahal ia yang terlebih dulu mencium Steve—
Eh?
Ya, kalian tidak salah baca.
Tony sudah mencium Steve. Di bibir. Tepat di balkon kamar Steve.
To be continued...
-oO-タマサ-Oo-
2428 words, done!
Saya sempat putus asa karena feel yang tiba-tiba hilang. Saya pingin nerusin ini, tapi mood saya nggak membaik. Saya pingin bikin ini discontinue, tapi kok ya nyesek. Tapi terimakasih untuk Shevine. Kemaren saya sempat bilang pingin nulis story Shevine, tapi kemudian saya ngerasa gak sreg kalo tanggungan yang ini belum diberesin.
Ceritanya kalo ini udah tamat, saya bikin satu thread baru di mana isinya cuman oneshoot atau twoshoot Shevine. Shevine tu siapa sih? Itu nama pairing buat Blake Shelton dan Adam Levine. Kalo penasaran, coba gih ngeYoutube. Kalo nggak penasaran, ya nggak usah. Hhaa. Saya juga pingin bikin story BL Shawn Mendes ama vokalisnya The Vamps. Nah kan, gila kan saya?
Asudahlah...
Langsung saja, shoutout untuk J'TrimFle, Kyulennychan, dan Guest (thanks for double-nya) karena sudah meninggalkan review di chapter sebelumnya...
Terimakasih juga untuk yang udah fav dan follow...
Terimakasih untuk yang cuman baca aja...
Mind to review again?
See you next chapter!
Ciao!
