-oO-タマサ-Oo-

Disclaimer: Marvel

Rated: T

Pairing: STony (Steve x Tony) and others

Warning: Boyslove, AU, (really) OOC, Maybe typo(s)

Don't like, don't read!

-oO-タマサ-Oo-

"Memangnya apa yang salah dari ciuman?"

Pepper berjalan dengan cepat mendekati Tony yang duduk bersandar di sofa. Begitu sampai di hadapan Tony, ia menyilangkan tangan di dada.

"Mungkin kau lupa kalau yang kau cium adalah seorang pria," lanjut Pepper. Tony tersenyum kecil. Ia menggelengkan kepalanya, membantah perkataan mantan kekasihnya.

"Tentu saja aku ingat," jawab Tony santai. Pepper menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan pola pikir pria di hadapannya. Ya, dari dulu ia memang harus berpikir keras jika ingin mengerti pikiran Tony karena jalan pikirannya sangat berbeda dengan jalan pikiran pria pada umumnya.

"Apa sebenarnya yang ada di pikiranmu hingga kau berani menciumnya?" Pepper membanting dirinya ke sofa. Nada bicaranya sudah mulai melunak, sadar kalau Tony tak akan terpengaruh sekeras apapun ia memarahinya. Tony terkekeh, menepuk pundak Pepper kemudian memijatnya seolah ingin membantu menenangkan emosi wanita cantik itu. Hanya sepersekian detik waktu yang dibutuhkan Pepper untuk langsung menepis tangan Tony.

"Oke," Tony mengangkat kedua tangannya pertanda menyerah, "dia terlihat begitu tampan malam itu. Apalagi setelah dia menceritakan bagaimana kehidupannya selama ini... entah mengapa... tiba-tiba aku mengaguminya...," Pepper mungkin tidak percaya Tony bisa mengatakan kalimat barusan. Tony sendiri saja tidak percaya jika dirinya bisa mengatakan kalimat seperti itu. Ia tidak pernah secara terang-terangan mengakui rasa kagumnya pada seseorang seumur hidupnya, kecuali pada ibunya dan Pepper. Mereka berdua adalah wanita paling spesial di hidup Tony. Tapi Steve Rogers? Tony belum bisa mengatakan kalau Steve adalah orang spesial di hidupnya, meskipun ia akui sejak kehadiran Steve hidupnya jadi sedikit berubah.

"Kau sadar dengan apa yang baru saja kau katakan?" Pepper menggoncang pundak Tony, wajahnya menunjukkan sorot tak percaya.

"Aku sadar Pepper, sangat sadar."

"Lalu jelaskan padaku, mengapa kau bisa bersikap seperti ini? This is really... not you..."

"I don't know Pepper. Jangan memberiku pertanyaan yang aku sendiri tak tahu jawabannya," Tony mengusap wajahnya dengan telapak tangannya. Ada banyak pertanyaan yang berlarian kesana kemari di otaknya. Tony kehilangan fokus tiap kali pertanyaan semacam itu muncul, membuatnya tak bisa menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Ia benci dirinya yang seperti ini, yang tak bisa menyelesaikan masalah sepele padahal jelas-jelas ia memiliki otak jenius.

"Sudahlah," Tony merangkul pundak Pepper dari samping, "jangan pikirkan itu. Kau punya banyak pekerjaan penting yang harus diselesaikan, aren't you?". Pepper menyingkirkan tangan Tony dari pundaknya, menatap Tony dengan sinis.

" Lalu untuk apa kau menceritakan itu padaku?" Tony mengangkat bahunya menjawab pertanyaan Pepper. Pepper berdecak lidah. "Aku tahu kau sudah pusing memikirkan tentang ciuman itu, jadi kau bercerita padaku dan berharap aku bisa menjelaskan apa yang terjadi padamu. Bukan begitu?". Tony meringia mendengar penjelasan Pepper. Lihat, wanita di sampingnya ini sangat pandai membaca situasi. Buktinya, tanpa dijelaskan pun ia sudah tahu apa yang sebenarnya ingin disampaikan Tony sejak tadi.

"I love you, Pepper. Really," ucap Tony serius. Pepper tertawa kecil.

"Thanks, but that words doesn't work anymore to me...," balas Pepper tanpa pikir panjang. Tony menghela nafas. Ia harus menjauhkan Pepper dari Natasha. Terlalu banyak bergaul dengan wanita dingin itu berakibat buruk pada Pepper. Ia benar-benar sudah berubah banyak. Kemana perginya Pepper yang baik hati... yang selalu bersikap lembut dan perhatian... yang selalu menenangkannya saat ia punya masalah?

"Menurutmu, what's wrong with me?" tanya Tony kembali fokus pada permasalahannya. Pepper tak menjawab. Ia hanya mengelus-elus dagunya, berpikir selama beberapa menit hingga rasanya Tony mulai tak tahan dengan kesunyian di antara mereka berdua. Tony baru akan membuka mulut untuk mengeluarkan protesnya saat tiba-tiba Pepper bersuara.

"Kurasa kau jatuh cinta padanya."

Tony memperhatikan Pepper tanpa berkedip, sebelum akhirnya ia tertawa terbahak-bahak. Jatuh cinta? Tony? Pada Steve? Itu adalah kalimat paling konyol yang pernah ia dengar seumur hidupnya.

"Kurasa kau butuh istirahat Pepper. Kau mulai bicara tidak jelas..."

"I'm not. Kau bertanya apa ada yang salah dengan dirimu, bukan? Tidak ada yang salah, kau hanya sedang jatuh cinta!"

"Pepper," Tony mengusap wajahnya kasar, "aku mungkin tadi berkata padamu kalau aku mengaguminya, tapi bukan berarti aku jatuh cinta padanya!" Pepper menatap Tony dengan sorot mata datar. Mulutnya terkatup rapat, tidak memberi sanggahan pada perkataan Tony barusan. Beberapa menit mereka saling terdiam lagi. Tony masih enggan mengajukan pertanyaan pada Pepper lagi, karena ia yakin wanita itu pasti hanya akan mengatakan omong kosong lagi. Tony menyandarkan punggungnya ke sofa, hampir memejamkan matanya saat ia mendengar suara tawa kecil dari wanita cantik di sebelahnya.

"Stark," Tony menoleh, "sudahkah kukatakan padamu kalau kau adalah pria paling rumit yang pernah aku temui?"

"Bukan hal baru, right?" balas Tony sambil tersenyum kecil.

"Kau sendiri tidak yakin dengan perasaanmu, apalagi orang lain?"

"Kau wanita, pasti sudah terbiasa dengan hal seperti ini!"

"Aku memang seorang wanita. Tapi apakah kau lupa kalau aku hanya jatuh cinta sekali selama hidupku dan sialnya ternyata pria itu hanyalah seorang jutawan brengsek yang manja dan aneh?" Tony tidak bodoh untuk menyadari kalau yang dibicarakan Pepper adalah dirinya. Tony hanya meringis sebagai balasan. Mendengar nada sarkasme dalam kalimat Pepper sedikit banyak membuatnya menyesal. Seharusnya hubungan cinta di antara mereka tidak terjadi, jadi Pepper tidak akan mengungkit masalah ini berkali-kali. "Aku punya solusi untukmu, tapi aku tidak yakin kau mau melakukannya atau tidak...," lanjut Pepper.

"Mengapa aku harus tidak yakin?"

"Ini tidak akan berhasil kalau kau sendiri melanggarnya."

"Memangnya apa solusimu?" tanya Tony penasaran. Pepper tersenyum miring. Tony mengernyit, ia berani bersumpah baru saja melihat kedua mata Pepper berkilat.

"Menghilanglah."

-oO-タマサ-Oo-

Steve sedang berjalan bersama kawan-kawannya melewati gerombolan kecil pegawai wanita, saat ia mendengar salah satu dari mereka mengatakan sesuatu tentang 'Tony Stark' dan 'menghilang'. Steve mengernyitkan keningnya. Apa ia tidak salah dengar? Tony menghilang? Pria itu tidak mungkin menghilang, meskipun ide menculik pemilik Stark Corporation terdengar menjanjikan.

Steve ingin berhenti dan menghampiri untuk menanyakan tentang topik yang mereka bicarakan. Tapi karena harga diri Steve jauh lebih tinggi dibanding apapun, dan bergosip jelas di luar kebiasaannya, tentu saja ia urung melakukannya. Untuk apa ia melakukan hal bodoh seperti itu? Hanya untuk Tony Stark? Rugi sekali!

Jika Steve enggan menghampiri gerombolan pegawai wanita itu, beda lagi ceritanya dengan Johnny. Pria yang berperawakan mirip dengannya itu, dengan tidak maskulinnya justru menghampiri mereka dan langsung melebur dalam perbincangan. Steve membuka mulutnya saking tidak percayanya dengan tingkah Johnny. Lihat itu, dia bahkan tertawa bersama mereka dengan salah satu tangannya yang merangkul pundak seorang wanita –Steve bahkan tidak bisa mengingat namanya– di sana.

Steve sulit untuk mengatakan ini, tapi mengapa di matanya Johnny terlihat luwes sekali berbaur dengan sekumpulan wanita penggosip itu? Saat Steve menoleh ke arah teman-temannya yang berdiri di sampingnya, kernyitan di dahinya semakin parah. Dilihat dari cara mereka yang hanya terkikik geli mendapati kelakuan absurd Johnny, Steve rasa mereka sudah terbiasa dengan itu.

"Aku bertaruh ini adalah kali pertama kau melihat Johnny dalam mode begitu, aren't you?" Sam –rekan satu divisinya– sepertinya tak tahan untuk bertanya pada Steve, melihat raut bingung campur heran terus terpampang di wajah tampan Steve.

"Apa dia selalu melakukan itu?"

"Menurutmu, dari mana dia bisa tahu semua rahasia yang dimiliki seluruh pegawai di gedung ini?" tanya Sam balik. Steve bisa merasakan pelipisnya berkedut.

Steve memilih menarik teman-temannya untuk segera pergi dari sana karena tak ingin menarik perhatian lebih banyak dari pegawai lain yang melewati mereka. Ia tak peduli dengan Johnny, tidak di saat Johnny sedang terkekeh bahagia bersama para penggosip itu –tunggu! Apa barusan Johnny tertawa sambil menutup mulutnya menggunakan telapak tangan

Saat Steve masuk ke dalam ruangannya, ia menyadari masih ada sekitar 20 menit waktu yang tersisa dari jam istirahat sehingga ia memutuskan untuk mengobrol bersama rekan-rekannya. Johnny kembali lima menit kemudian, berjalan dengan gagah seolah ia yang dengan centil menghampiri para wanita centil di lorong tadi hanyalah ilusi belaka.

"Apa kau selalu melakukan itu?" Steve tak tahan untuk mengulangi pertanyaannya, ditujukan langsung pada subyek yang sejak tadi membuatnya bergidik merinding dengan kelakuan out of character-nya.

"What?" tanya Johnny balik. Ia mengangkat sebelah alisnya, jelas bingung karena baru datang langsung disodori pertanyaan tak jelas.

"Apa kau selalu bergosip seperti itu?"

"Itu membuatku menjadi manusia paling update di gedung ini," ujar Johnny bangga. Steve menggeleng, kurang paham dengan keuntungan menjadi orang pertama yang mengetahui rahasia orang lain. Itu mungkin bisa ia gunakan untuk memeras pegawai yang menyebalkan, jika Johnny cukup jahat seperti pemeran antagonis di serial tv. Tapi tidak, Steve tak berminat sama sekali untuk melakukannya. Johnny memperbaiki posisi dasi dan kemejanya dengan benar, sebelum akhirnya mulai bicara lagi, "apa menurutmu yang tadi kami bicarakan?"

"Elisabeth dari divisi keuangan?" Sam menebak. Johnny mengangkat sebelah alisnya. Yah, semua orang tahu kalau Sam tertarik pada wanita berbokong besar itu.

"Hubungan rumit antara Natasha dan Banner?" tebak Fredd yang mengundang tawa kecil rekan-rekan yang lain. Steve belum pernah sekalipun bertemu langsung dengan wanita bernama Natasha itu. Hanya dengan mendengar pendapat orang-orang mengenai kecantikan dan sifat dinginnya, belum lagi kedekatannya dengan jajaran pimpinan perusahaan, Steve memutuskan untuk tak ingin mencari masalah dengan wanita itu. Lagipula pria se'ukuran' Tony saja sudah membuat kehidupannya jungkir balik. Saat Steve pikir mungkin dua orang itu yang tadi dibicarakan Johnny, reaksi Johnny ternyata hanya menggeleng. Beberapa pria di sana mencoba menebak, dan selalu mendapat reaksi yang sama dari Johnny, hingga akhirnya Steve pun mulai menyela sesi tebak-tebakan tak bermutu di antara mereka.

"Tony Stark," jawab Steve singkat. Johnny mengubah senyumnya menjadi senyum kelewat lebar.

"You're really love him, right?" Steve memutar kedua matanya mendengar pertanyaan Johnny. Ia mulai terbiasa dengan godaan Johnny, atau mungkin bisa disebut kebal.

"Shut up!"

"Kau serius menyuruhku diam? Kau tidak ingin mendengar kabar terbaru tentangnya?" buru Johnny lagi. Steve menutup mulutnya rapat. Ia benci mengakui ini, tapi sejujurnya ia cukup penasaran dengan kabar terbaru tentang Tony. Ia tak bertemu atau berpapasan dengan pria itu sejak terakhir ia mengikuti rapat bersama Mr. Smith, yang artinya sudah tiga hari yang lalu. Itu mungkin bukan waktu yang lama, tapi jika mengingat kadar 'kebetulan' antara Tony dan Steve yang sedikit di atas kewajaran, itu tentu jadi hal yang aneh. Bukan berarti dia berharap bisa berpapasan dengan atasannya itu setiap waktu ya..

"Bukankah kau masih tinggal bersama kekasihmu itu, Steve?" Steve rasanya ingin merobek mulut pria yang baru saja bertanya padanya. Tapi yang bisa ia lakukan hanya memberikan deathglare pada Fredd, yang hanya dibalas dengan cengiran lebar oleh pria tinggi itu.

"Dia bukan kekasihku."

"Jadi hubungan kalian sudah berakhir? Secepat ini?" kali ini Sam yang bertanya, "mengapa media massa tidak memberitakan apapun? Bukankah seharusnya hal ini jadi berita paling heboh lagi, sama halnya saat Mr. Stark mengumumkan kalau sedang berkencan denganmu?" Steve mengeraskan rahangnya. Tidak ada yang berakhir di sini, karena sejak awal kencan itu hanya palsu. Tidak ada pembicaraan tentang hal ini kemarin, saat Steve berpamitan pada Tony untuk kembali pulang ke rumahnya. Stark juga tak mengatakan apapun selain Bertha yang akan membantunya mengemas barang dan Happy yang akan mengantarnya pulang. Jadi Steve mengambil kesimpulan, ia dan Tony sudah sepakat untuk mengakhiri kerjasama –Steve tak bisa menyebut apa yang mereka jalani kemarin sebagai hubungan– di antara mereka. Toh media juga sudah tidak meributkan tentang Steve lagi.

"Jangan bicara seolah aku adalah artis papan atas yang layak diperbincangkan," komentar Steve akhirnya dengan nada dingin. Ia memainkan arloji di tangan kirinya dengan cuek, sebelum akhirnya ia ingat kalau arloji yang ia pakai adalah pemberian Tony saat ia masih tinggal di rumahnya. Steve termenung. Ia bahkan masih ingat bagaimana dengan gugupnya Tony menjelaskan kalau ia hanya merasa aneh melihat pegawai pria seperti Steve tak memakai jam tangan di pergelangan tangannya, alih-alih seorang pria yang memberi kado untuk kekasihnya.

Di balik semua tingkah absurd dan menyebalkan Tony, sebenarnya pria itu adalah pria yang baik. Dia peka dan perhatian terhadap orang-orang di sekitarnya. Hanya saja ia memang menyampaikan perhatiannya itu dengan cara yang berbeda. Hal itu yang sering membuat orang lain salah paham menilainya –yah, atau mungkin hanya Steve yang salah paham selama ini. Steve bahkan baru sadar kalau ia sendiri tidak sepeduli itu pada orang lain di sekitarnya.

"Kau tidak. Tapi Mr. Stark memiliki reputasi setara dengan aktor papan atas," selaan Fredd membuat Steve kembali dari lamunannya, "atau mungkin lebih," imbuhnya. Steve mengangguk. Itu memang benar, seharusnya keluarnya Steve dari rumah Tony Stark jadi berita besar, sama besarnya dengan berita kencan mereka. Apalagi ia sadar, beberapa paparazzi masih sering menguntitnya hingga ke rumah. Steve bahkan sudah siap untuk itu. Bukan berarti ia sedang cari sensasi ya...

"Kembali pada Tony," Steve mencoba kembali pada titik permasalahan, "ada apa dengannya?". Steve mencoba mengabaikan seringai jahil di bibir Johnny. Ia tak ingin repot-repot memikirkan alasan Johnny menatapnya seperti itu.

"Kau sudah memanggilnya seakrab itu?" komentar Johnny tidak nyambung. Steve memutar kedua matanya. "Aku yakin kalian masih saling bertukar kabar meskipun sudah putus hubungan, am I right?" tambah Johnny.

"Hentikan omong kosongmu!"

"Oke-oke," Johnny mengangkat kedua tangannya, "Mr. Stark menghilang, kau tentu sudah tahu itu kan?" Menghilang? Steve belum tahu apapun mengenai itu. Tapi seperti yang ia perkirakan sejak awal, sangat mustahil jika Tony menghilang begitu saja.

"Sejujurnya aku tidak peduli," gumam Steve. Ia memang sudah tak peduli lagi apapun yang dilakukan pria itu. Tidak lagi. Ia tak punya alasan untuk itu, lagipula.

"Oh ya?" dari cara bertanya Johnny, jelas pria itu tak percaya begitu saja dengan pernyataan dingin Steve.

"Di antara kami sudah tidak ada hubungan apapun selain atasan dan bawahan," setidaknya itulah yang sedang dijalani Steve saat ini. Ia tidak mengharap penjelasan apapun dari Tony, karena ia sendiri tak yakin dengan apa yang mereka berdua jalani selama beberapa minggu ini. Kalau ia boleh jujur, sebenarnya ia sedikit penasaran dengan keberadaan Tony dan apa alasan ia melakukan ini semua.

"Kita abaikan saja kebohongan yang dilakukan Steve," Johnny membelakangi Steve, menghadap teman-temannya seolah ia adalah moderator dari diskusi penting yang sedang dilakukan kumpulan pria itu. "Yang ingin kusampaikan adalah... bos besar kita sedang liburan sepertinya..." Steve mengangkat kedua alisnya, tapi kemudian tersenyum miring. Sangat Tony sekali. Ia tak akan terkejut kalau Johnny mengatakan pria itu juga membawa beberapa wanita bersamanya. "–dan ia juga membawa beberapa pegawai wanita untuk ikut dengannya," imbuh Johnny. Steve tanpa sadar menganga saking terkejutnya. Ia bahkan lupa jika beberapa detik sebelumnya sempat membatin kalau ia tak akan terkejut.

"Liburan selalu identik dengan wanita, bukan?" Steve merasa tangannya gatal dan berniat untuk melempar kursi kosong di sebelahnya ke arah Sam. Entah mengapa ia jadi emosi, apalagi mendengar perkataan Sam selanjutnya, "dan Stark sudah identik dengan wanita". Jangan tanya mengapa Steve ingin melakukan kekerasan saat ini.

" Siapa saja yang ikut dengannya?" Greg yang sedari tadi hanya diam mulai ikut terlibat dalam pembicaraan.

"Catherine..., Alicia..., Hellen..., dan–"

"Jangan bilang Elisabeth!" sela Sam.

"–si Seksi Elisabeth." Johnny menyebut nama terakhir sambil tersenyum lebar.

Steve tak mengacuhkan umpatan yang keluar dari mulut Sam. Ia masih kehilangan kata-kata saat mendengar nama-nama wanita yang disebutkan Johnny. Well, ia sudah tahu dengan predikat playboy yang disandang Tony –orang-orang membicarakan hal itu secara terang-terangan. Ia akui ia pernah mempercayai itu. Hanya pada awalnya. Karena belakangan, saat ia tinggal di rumah Tony, tak pernah sekalipun Tony pulang membawa wanita untuk jadi teman tidurnya. Jadi kesimpulan Steve, tidak semua yang ia dengar tentang Tony adalah benar.

Atau mungkin Tony sekedar menjaga sikap karena ada Steve yang merupakan tamu di rumahnya.

Steve tertawa sinis, tak peduli teman-temannya memperhatikan dirinya dengan tatapan bingung. Ia bahkan melupakan fakta itu. Ia tinggal di rumah Tony sebagai tamu yang menumpang tidur. Ia berada di sana bukan karena statusnya sebagai kekasih Tony Stark. Orang lain menganggapnya begitu, tapi bagaimana dengan Tony sendiri? Bagaimana dia menganggap Steve selama ini?

Bagaimana dengan Steve sendiri? Bagaimana ia menganggap Tony selama ini? Bukankah ia sendiri keberatan dengan keputusan Tony tentang statusnya sebagai kekasih pura-pura Tony? Ia selalu menganggap kalau semua perbuatan Tony hanya menimbulkan kesulitan di hidupnya, bukan? Ia bahkan marah pada Tony dan memukulnya saat itu. Apa artinya itu semua?

Steve menyisir rambutnya ke belakang. Mengapa ia memikirkan ini? Mengapa ia harus merasa kecewa pada Tony? Kecewa karena apa? Karena Tony tak bereaksi apa-apa saat Steve keluar dari rumahnya? Karena Tony yang masih baik-baik saja setelah mencium Steve? Karena Tony yang memilih menghilang dari hadapan Steve bersama wanita-wanita yang bisa ia tiduri kapanpun? Karena hubungan –kerja sama, koreksi Steve dalam hati– mereka yang berakhir tanpa kejelasan? Steve bahkan bingung apakah ini sudah bisa disebut berakhir...

Jika pada akhirnya seharian itu Steve tidak bisa fokus mengerjakan apapun, Steve hanya bisa mengkambinghitamkan Anthony Stark yang telah memancing emosinya. Pria itu selalu bisa menghancurkan mood Steve, sadar atau tidak sadar, secara langsung maupun tidak langsung.

To be continued...

-oO-タマサ-Oo-

2731 words, done!

Humor saya... astaga...

Saya bisa pastikan kalau story ini nggak akan lebih dari 15 chapter. Bisa jadi malah kurang. Tergantung Tony ama Steve, mereka berdua bisa diluluhin apa nggak.

Shoutout untuk: Kyulennychan, J'TrimFle, Irrne-chan, dan donat keju (well, tenang aja, nggak akan discontinued kok) karena udah ninggalin review di chapter sebelumnya.

Thanks untuk fav dan follow...

Thanks untuk yang mampir baca aja...

Mind to review again?

See you next chapter...Ciao!