-oO-タマサ-Oo-
••
Disclaimer: Marvel
Rated: T
Pairing: STony (Steve x Tony) and others
Warning: Boyslove, AU, (really) OOC, Maybe typo(s)
Don't like, don't read!
••
-oO-タマサ-Oo-
••
"Jangan memesan makanan kalau hanya untuk kau buat mainan."
Steve mendongakkan kepala dan mengangkat alisnya saat melihat Peggy Carter sudah berdiri di hadapannya. Pria itu menaruh sendok ke atas piring, sempat terkejut melihat makanannya yang sudah berantakan. Bagaimana mungkin ia tidak sadar dengan yang ia lakukan sedari tadi?
"Boleh aku bergabung?" tanya Peggy. Steve mengangguk, menepikan minumannya agar Peggy punya cukup tempat untuk meletakkan makanan dan minuman di atas meja. Peggy tersenyum tipis, duduk di hadapan Steve sambil merapikan roknya. Steve sempat menahan nafas saat mencium aroma parfum Peggy yang lembut. "Kau sendiri? Di mana teman-temanmu?"
"Mereka di kafe depan," Steve menjawab, "Sam sedang berulangtahun, dan mendadak semua orang merasa akrab dengannya dan ingin ditraktir."
"Poor Sam," Peggy mendengus kecil, "dan mengapa kau malah berada di sini, bukannya ikut dengan mereka?" Steve terdiam menatap Peggy. Ia sedang ingin sendiri sebenarnya. Ada banyak hal yang harus ia pikirkan. Itulah alasan ia memilih makan siang di kantin perusahaan alih-alih di kafe depan bersama teman-temannya. Ia butuh waktu untuk memikirkan –Steve benci mengakui ini– pria brengsek yang sudah memporak-porandakan isi otaknya beberapa hari ini.
"Aku... tidak ingin menyusahkan Sam di hari spesial ini...," itu benar. Meski bukan alasan utama ia berada di sini, "i mean, you know, aku anak baru yang selalu mengganggunya karena sering bertanya."
"Kau tidak sesering itu bertanya," sela Peggy, "bahkan menurutku kau cukup cekatan untuk seorang junior." Steve tersenyum canggung sambil menggaruk belakang kepalanya. Ia tak menyangka kalau Peggy akan memperhatikannya sampai sedetail itu. Ia pikir dengan munculnya berita mengenai hubungannya dengan Tony Stark, mungkin saja akan membuat Peggy membencinya karena merasa dipermainkan. Meskipun sebenarnya Steve tidak ada niat sama sekali untuk menyakiti hati wanita manapun, termasuk Peggy.
Steve menyuapkan sedikit makanan ke mulutnya. Ia tak peduli dengan rasanya yang acak, sadar diri kalau semua karena ulahnya sendiri. Sambil mulutnya mengunyah, Steve memperhatikan Peggy. Wanita ini masih tetap cantik dan mempesona seperti biasanya. Tatapan yang tajam, yang selalu bisa membuat orang manapun berada dalam kendalinya. Cara bersikapnya yang anggun... Steve tersenyum miring, ia masih mengagumi wanita di hadapannya dengan kadar yang sama.
Kagum...
Steve mengerjap. Kagum? Tidak, ia menyukai Peggy. Rasa ini bukan sekedar kagum. Tapi kemana perginya debar yang selalu ia rasakan tiap melihat wajah Peggy? Mengapa ia tak gemetar sama sekali saat melihat senyum menawan di bibir merah Peggy? Mengapa ia tak bisa melihat sisi sensual Peggy seperti dulu? Apa yang terjadi padanya?
"Steve? Are you okay?" Steve tersentak saat tangannya disentuh. Steve menatap tangannya, dan menyadari kalau Peggy lah pelakunya, "dari tadi kau terlihat tidak fokus."
"Aku tidak apa-apa...," Steve menggeleng, menarik tangannya dan mengusap wajahnya kasar, "hanya memikirkan sesuatu."
"About Mr. Stark?" Jantung Steve berdetak cepat saat Peggy menyebut nama pria itu.
"What?" ia tak bisa tak tertawa setelahnya, "untuk apa aku memikirkannya?" dan ia memilih menyangkal alih-alih mengakuinya secara jantan.
"Karena dia belum kembali sejak menghilang lima hari yang lalu."
"Sudah atau belum, itu bukan urusanku."
"Hubungan kalian sudah berakhir? Atau ini hanyalah pertengkaran pertama kalian?" Steve bisa menangkap nada humor di suara Peggy, dan jujur saja itu membuatnya tersinggung. Mengapa orang-orang menganggap serius hubungan Steve dan Tony, sementara mereka berdua tidak?
"Hubungan di antara kami hanya sekedar atasan dan bawahan, tidak lebih," Steve memilih untuk memberikan jawaban yang sama seperti yang ia katakan pada teman-temannya, "mungkin aku pernah tinggal di rumahnya selama beberapa minggu, tapi aku sudah kembali ke rumahku sendiri sejak... sekitar seminggu atau dua minggu yang lalu, intinya hubungan kami sudah selesai. Tapi jika ini membuatmu puas, ya, aku sedang memikirkannya." Tidak ada gunanya berbohong pada wanita secerdas Peggy. Peggy adalah tipe orang yang sangat pandai membaca situasi. Meskipun sepertinya ia memiliki pemikiran yang sama dengan orang-orang tentang hubungan Steve dan Tony, tapi sejauh ini ia selalu benar dalam menilai karakter orang. Jangan tanya Steve tahu dari mana itu semua.
"Dia belum menghubungimu?" tanya Peggy. Steve tertawa, rasanya aneh mendengar Peggy menanyakan hal seperti itu.
"Mengapa dia harus menghubungiku? Aku sudah tidak ada hubungan dengannya!"
"Apa kau tidak penasaran kemana ia pergi?" Steve meremas sendok di tangannya. Kemarin Johnny juga mengajukan pertanyaan yang sama padanya, dan ia akui ia mulai penasaran dengan keberadaan Tony. Jika sebelumnya orang-orang berpikir Tony sedang liburan bersama beberapa pegawai wanita, maka saat ini pemikiran itu terbantahkan. Karena dua hari setelah isu itu muncul, para pegawai wanita yang –katanya– sedang liburan bersama Tony sudah masuk kerja seperti biasa. Fakta yang mereka katakan jauh lebih mengejutkan.
Mereka memang diundang oleh Tony Stark untuk berlibur di salah satu villa milik pria itu, tapi tak pernah sedetikpun mereka melihat kehadiran pria itu. Liburan yang mereka pikir akan penuh dengan momen 'bercinta bersama Tony Stark yang seksi' hanya berujung dengan suasana liburan ala sekumpulan gadis sekolah. Dalam artian, tanpa pesta dan seks.
Dan Steve antara merasa lega karena Tony ternyata tidak berbuat macam-macam dengan pegawai wanitanya dan merasa bersalah karena telah menuduh Tony seburuk itu.
Jika dihitung, ini adalah hari kelima Tony menghilang tanpa kabar. Besok adalah akhir pekan, dan sudah bisa dipastikan Tony akan meneruskan liburannya –jika dia memang sedang liburan. Steve menghela nafas. Bagaimana caranya agar bisa mengetahui keberadaan Tony tanpa harus meneleponnya lebih dahulu?
"Kau pernah mencoba menanyakannya pada Ms. Potts?"
"Aku tidak akan melakukannya," jawab Steve cepat. Ia lebih memilih mati penasaran daripada melakukan hal bodoh seperti itu.
"Hanya Ms. Potts yang tahu keberadaan Mr. Stark. Setidaknya kau bisa memastikan kalau kekasihmu baik-baik saja, bukan?"
"He's not my boyfriend anymore."
"Ex-boyfriend."
"Dia baik-baik saja. Dia punya puluhan pengawal yang melindunginya 24 jam." Dua di antara mereka bahkan masih mengikuti Steve diam-diam saat berangkat dan pulang kerja. Entah apa tujuan Tony menyuruh mereka melakukan itu.
"I knew it!" Peggy menggebrak meja, membuat seluruh pengunjung kantin menatapnya karena merasa terganggu, "dengar, aku bisa membantumu menemui Ms. Potts."
"Aku tidak akan melakukannya," ulang Steve.
"Kau akan melakukannya," Peggy menatap tajam Steve, "ada berkas yang harus diserahkan pada Ms. Potts sore ini. Seharusnya aku yang mengantarkannya, tapi aku ingin kau melakukannya untukku."
"What?"
"Aku sudah menyelesaikannya. Jadi nanti ambil berkasnya di mejaku, dan serahkan segera pada Ms. Potts. Kau bisa menggunakan kesempatan itu untuk bertanya padanya. Jika beruntung, kau bisa bicara empat mata dengannya."
"Jika tidak?"
"Mungkin akan ada teman Ms. Potts yang ikut mengomentari pertanyaanmu."
"I.will.not.doing.that!"
"You have to, Steve. Kau tidak sadar semua orang mulai terganggu dengan tingkahmu yang uring-uringan. Dan –mungkin kau tidak menyadarinya– kau melakukannya sejak Tony Stark menghilang. Tanpa mengatakan apapun, orang akan tahu apa isi hatimu!" Steve menatap Peggy tanpa berkedip. Benarkah yang dikatakan Peggy barusan? Apakah sejelas itu? Ia sama sekali tak sadar telah bersikap di luar kebiasaannya selama beberapa hari ini. Just because that stupid man...
Hebat sekali pengaruh Tony Stark ya...
"Cobalah untuk jujur pada dirimu sendiri," Steve memperhatikan Peggy yang tersenyum lembut padanya, kemudian beralih pada makanan di piringnya –lagi-lagi mengomentari penampilan makananya yang menjijikkan di dalam hati, "tidak semua tentang pria itu selalu buruk."
Well, Peggy, Steve tersenyum lelah, apapun yang berkaitan dengan Tony Stark selalu buruk bagi Steve.
••
-oO-タマサ-Oo-
••
This is stupid.
Steve berbalik membelakangi pintu dan menggeram. Ini tidak akan berhasil, really. Ia masih berada di depan ruangan dan ia sudah kehilangan semua kata-kata yang ia siapkan sejak tadi. Apa alasan yang ingin ia katakan pada Ms. Potts tadi? Oh iya, Peggy Carter harus mendatangi rapat mendadak dengan salah satu supplier bahan baku. Semoga Ms. Potts tidak memberinya pertanyaan macam-macam meski sebenarnya akan lebih aneh lagi jika wanita itu tidak bertanya mengenai ini sama sekali.
Lalu bagaimana dia harus menyapa? Ia mungkin sudah sering berbincang dengan Ms. Potts sebelumnya, meski hanya obrolan singkat, tapi itu karena ada Tony yang memulai pembicaraan terlebih dulu. Steve menghela nafas. Jika ia terus berdebat dengan pikirannya sendiri seperti ini, maka ia tak akan segera masuk ke dalam.
Steve menarik nafas panjang dan memantapkan hati untuk mengetuk pintu, sedikit teringat saat tes wawancara kerja yang ia lakukan saat melamar kerja dulu. Ketegangan yang ia rasakan saat ini nyaris sama dengan saat itu. Ia merapikan pakaiannya saat mendengar sahutan dari dalam. Steve membuka pintu ruangan dan masuk. Di dalam, Ms. Potts sedang duduk di kursi kerjanya. Sementara di sudut lain, seorang wanita cantik berambut merah sedang duduk di sofa sambil menyilangkan tangan di dada. Ia menatap dingin Steve, membuat Steve segera mengalihkan pandangan dan berjalan menuju meja Ms. Potts.
"Ini laporan yang sudah dikerjakan Peggy Carter," Steve menyerahkan berkas yang ia bawa ke meja Ms. Potts.
"Mengapa kau yang menyerahkan ini? Ke mana memangnya Ms. Carter?"
"Peggy Carter mendadak harus bertemu dengan salah satu supplier. Ada masalah dengan harga bahan yang tidak sesuai kesepakatan awal bulan ini."
"Allright," Ms. Potts mengangguk dengan ragu, "kau boleh kembali ke ruanganmu," lanjut wanita itu sambil membaca berkasnya. Steve hanya diam, belum beranjak dari tempatnya berdiri. Ini adalah kesempatannya bertanya, tapi bagaimana cara untuk memulainya?
"Sepertinya dia ingin bertanya padamu, Pepper," Steve tersentak dan menoleh ke arah wanita berambut merah yang sedang duduk di sofa. Bibirnya tersenyum miring, mengolok sifat ragu-ragu Steve tanpa kata.
"Oh ya? Ada yang ingin kau ketahui dariku?" tanya Ms. Potts sambil meletakkan berkasnya ke atas meja. Ia menyilangkan kedua telapak tangannya dan menopang dagu, menatap Steve penuh minat. Steve mendadak kehilangan kata-kata, balas menatap Ms. Potts lalu beralih pada wanita berambut merah.
"Apa ini tentang Tony Stark?"
"No," jawab Steve cepat sebelum akhirnya ia menyadari kalau memang ingin menanyakan kabar Tony, "i mean... yeah..."
"Kau tidak perlu gugup," Steve entah mengapa merasa lebih canggung dari sebelumnya setelah melihat senyum lebar Ms. Potts, "kau ingin tahu keberadaan Tony, am I right?". Steve menelan ludahnya. Pepper Potts bukan wanita sembarangan, harusnya Steve ingat itu. Tony jelas tidak akan mungkin sembarangan memilih orang yang sama sekali bukan keluarganya sebagai pimpinan perusahaannya kalau bukan karena orang itu adalah orang yang sangat cerdas. Tidak banyak wanita cerdas yang pernah Steve temui. Selama ini, ia pikir hanya Peggy Carter satu-satunya wanita yang cerdas dan berkarakter. Tapi setelah ia bertemu dan berbincang dengan Pepper Potts, well, Peggy mungkin masih kalah jika dibandingkan wanita ini. Bahkan soal membaca isi hati Steve seperti saat ini.
Atau mungkin memang Steve saja yang terlalu mudah dibaca...
"Aku tidak akan menanyakan keberadaannya." Steve menyadari mata Ms. Potts membelalak selama satu detik sebelum ia mengembalikan ekspresinya menjadi santai seperti sebelumnya.
"Really?"
"Awalnya ya. Tapi setelah kupikir beberapa kali, aku hanya perlu tahu bagaimana kondisinya saat ini," pada akhirnya hanya itu yang bisa Steve katakan. Ia masih belum yakin dengan hubungannya dengan Tony. Ia mungkin sudah menyadari apa sebenarnya yang ada di hatinya, meskipun ia selalu menyangkalnya, tapi jujur saja, ia masih belum percaya mengapa hal seperti itu bisa terjadi pada dirinya.
"He's fine," jawab Pepper sambil mengedikkan bahunya. Ia tersenyum sangat singkat pada Steve, sebelum akhirnya menunduk untuk membaca kembali berkasnya. Hanya perasaan Steve atau memang Ms. Potts menolak berbicara dengan Steve lagi? Mengapa? Apa yang salah dari perkataan Steve?
"Dia tak menghubungiku sama sekali...," jika dia baik-baik saja, mengapa tak menghubungi Steve sama sekali? Itu yang membuat Steve semakin yakin kalau hubungannya dengan Tony memang sudah selesai. Ms. Potts membalik halaman berkas yang ia baca, membuat Steve mengerutkan keningnya.
"Kau sudah coba menghubunginya?" Steve tak menjawab, hanya diam. Sejak awal ia tak pernah mencoba menghubungi Tony terlebih dahulu, meski ia sangat penasaran dengan keadaan pria itu. Terlalu banyak alasan yang ia cari. Tapi yang paling penting, menurutnya ini menyangkut harga diri. Ia tak ingin terlihat seperti menganggap serius hubungannya dengan Tony, karena memang tidak ada yang berarti dalam hubungan mereka. Tony memang pernah menciumnya, tapi ia juga tak menjelaskan apapun mengenai perasaannya, bahkan hingga hari terakhir Steve tinggal di rumahnya. Kemungkinannya, Tony memang tak menganggap serius hubungan mereka, ini hanya di depan kamera. Soal ciuman itu, well, Tony memang mudah mencium orang lain kan, bahkan pada pria yang baru ia kenal seperti Hemsworth tempo lalu.
Steve menarik nafas dalam-dalam. Belakangan ini, tiap kali ia memikirkan Tony, mendadak bernafas pun rasanya berat. Ia terus-terusan mengelak memikirkan Tony, menjaga sikap seolah ia tak peduli, tapi bagaimana dengan perbuataannya saat ini? Ia mendatangi Pepper Potts, menanyakan langsung kabar pria itu pada orang terdekatnya, bagaimana jika Ms. Potts memberitahu Tony mengenai ini?
"Melihat sikap diammu, kuanggap kau belum menghubunginya sama sekali," Ms. Potts menatapnya datar. Dalam hati Steve membenarkan tebakannya, "sedikit mengecewakan melihat hubungan kalian yang membaik belakangan ini."
"Tapi hubungan di antara kami sudah selesai."
"Oh ya?"
"Aku sudah tidak tinggal di rumahnya sejak beberapa minggu lalu. Dan sejak itu pula belum ada obrolan apapun di antara kami. Yaah... sebenarnya Mr. Stark tidak memiliki kewajiban untuk menjelaskan tentang ini semua. Dia sudah memperlakukanku cukup baik di rumahnya, dari yang awalnya hanya sekedar ingin membantuku menghindari papparazi."
"Oke, aku paham," sela Ms. Potts. Steve sempat menahan nafas karena berpikir mungkin Ms. Potts akan menyudutkannya. Tapi setelah menunggu beberapa lama, wanita cantik itu tak kunjung mengatakan apapun. Oke, mungkin lebih baik ia segera kembali ke ruangannya sekarang. Jelas-jelas Ms. Potts tak ingin melanjutkan pembicaraan ini dengannya. Membahas Tony, dengan orang yang memiliki hubungan dekat dengannya tentu tak akan berakhir baik. Ia tahu itu sejak awal. Ia hanya berharap semoga saja Ms. Potts bisa berpikir dari sudut pandang Steve, meski ia sendiri ragu wanita itu mau melakukannya. Setidaknya ia sudah menyampaikan apa yang ada di pikirannya.
"Kurasa aku akan kembali ke ruanganku sekarang. Terima kasih karena sudah memberitahuku keadaan Mr. Stark," Steve menundukkan kepalanya pada Ms. Potts dan wanita berambut merah yang sedari tadi hanya diam memperhatikannya. Steve tak mau repot-repot menebak apa yang ada di pikirannya, toh Steve tak mengenalnya sama sekali. Jadi ia segera melangkah ke pintu, keluar dari ruangan itu untuk kembali menuju ruangannya sendiri.
••
-oO-タマサ-Oo-
••
Tony tak bisa menahan senyum lebarnya sedari tadi. Ia bahkan bersiul sambil tangannya memutar setir dengan lincah. Ia mendahului mobil-mobil di hadapannya tanpa peduli keselamatannya. Tony mungkin jarang menyetir mobil sendiri –untuk apa, toh ia punya sopir pribadi yang siap mengantarnya kapanpun, tapi bukan berarti ia lupa cara menyetir mobil sendiri. Ia hanya... sebut saja sering lupa diri sehingga berakhir dengan ngebut di jalan.
Tony sedikit mengurangi kecepatannya saat mobilnya sudah mulai memasuki kawasan yang tidak begitu asing untuknya. Ia melewatkan satu belokan, melaju pelan selama beberapa beberapa ratus meter dan berhenti di depan salah satu rumah. Ia mematikan mesin mobil dan menatap pada pintu masuk tersebut yang tertutup rapat.
Well, rumah ini tidak berubah sama sekali sejak terakhir kali ia berkunjung. Yang berbeda hanya bunga-bunga di halaman rumah yang mulai bermekaran. Oh, Tony tidak ingin terlalu mendramatisir, tapi jika dilihat seolah alam pun mengerti dan mendukung perasaan Tony saat ini.
Tony tertawa kecil. Sejak kapan ia jadi melodrama seperti ini?
Saat keluar dari mobil, sambil merapikan pakaiannya Tony berjalan menuju pintu depan. Mengetuk pintu tiga kali dan menunggu dengan sabar hingga ia mendengar suara langkah kaki diseret dari dalam rumah. Tony menarik nafas panjang saat pintu dibuka, tersenyum kelewat lebar begitu melihat pemilik rumah menatapnya terkejut. Tentu saja ia terkejut. Ia pasti tak menyangka seorang Tony Stark berdiri di hadapannya saat ini, apalagi setelah menghilang tanpa kabar selama seminggu lebih.
"Tony Stark," ujar si pemilik rumah dengan nada tak percaya.
"Hai."
"What-," ada jeda sebentar, "-what are you doing here?" Tony tertawa kecil mendengar pertanyaan itu. Setengah karena geli, setengah lagi karena mendadak jantungnya berdebar mendengar suara pria itu. Sudah lama ia tak berbincang dengan pria itu, terakhir kali adalah saat mereka berpapasan di lorong kantor.
"Berkunjung?"
"Aku sedang tidak ingin menerima tamu. Pergilah." Tony bisa memastikan, hanya pria di hadapannya ini yang bisa memperlakukan Tony sedingin ini, selain Pepper dan Natasha tentunya. Pria itu bahkan tidak segan-segan menghilangkan nada sinis di kalimatnya. Oke, ini berarti rencananya tidak akan berjalan semudah yang ia pikirkan. Ia kira, ia akan disambut dengan pelukan hangat dan ucapan 'I love you' atau 'I miss you' dari pria itu. Perasaan mereka sama, setidaknya itu yang Tony yakini.
"Mengapa jika aku yang berkunjung ke rumahmu, reaksimu selalu seburuk ini?"
"Entahlah," pria itu mengangkat bahunya, "karena hanya di tempat ini aku bisa memperlakukanmu sesuka hatiku?"
"Itu terdengar menyenangkan," Tony tersenyum kecil sambil menyisir rambutnya ke belakang, "aku tidak keberatan kau perlakukan sesukamu." Pipinya yang bersemu merah tak luput dari pandangan Tony. Dan itu menjadi semacam hiburan tersendiri bagi Tony.
"Jangan bicara omong kosong!" suara pria itu terdengar sedikit bergetar, jelas terpengaruh dengan perkataan Tony barusan, "just say what do you want!"
"Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku sedang berkunjung."
"Dan seperti yang kukatakan sebelumnya juga, aku sedang tidak ingin menerima tamu, bahkan jika itu atasanku di kantor."
"Aku ke sini bukan sebagai atasanmu, tapi sebagai kekasihmu. We're dating, remember?"
Dan jika si pemilik rumah –alias Steve– hanya tersenyum sinis dan langsung menutup pintu rumahnya, tanpa peduli mungkin saja Tony terkejut dengan debaman pintu, maka yang bisa Tony lakukan hanya menatap pintu rumah Steve dengan sadis, seolah ia bisa mendobrak pintu itu hanya dengan tatapannya.
••
To be continued...
••
-oO-タマサ-Oo-
••
2833 words, done!
Lama? Sebenernya saya udah update chapter ini di WP sejak 2 bulan lalu, tapi lupa buat update di sini.
Maaf... Hhaa...
Shoutout untuk J'TrimFle, Lenny548, Hatake Shinoda, Sans, dan fakkeu karena udah ninggalin review di chapter sebelumnya.
Untuk yang udah fav dan follow, Je T'aime
Mind to review again?
See you next chapter...
Ciao!
