-oO-タマサ-Oo-
Disclaimer: Marvel
Rated: T
Pairing: STony (Steve x Tony) and others
Warning: Boyslove, AU, (really) OOC, Maybe typo(s)
Don't like, don't read!
-oO-タマサ-Oo-
••
••
"Kau sudah dengar Mr. Stark sudah kembali?"
Steve tak menanggapi pertanyaan Johnny, hanya memperhatikan layar komputernya sambil sesekali jarinya bergerak lincah di atas papan ketiknya. Johnny yang yakin kalau topik tentang 'Stark' pasti bisa menarik perhatian juniornya itu, mengingat pengalamannya beberapa hari lalu, jadi tidak puas dengan reaksi datar Steve.
"Kau tak mendatangi ruangannya?" tanya Johnny lagi. Steve mengernyitkan keningnya, meski matanya tetap fokus pada layar komputernya.
"Untuk apa?"
"Menanyakan kabarnya, setidaknya sebagai seorang teman?"
"Dia baik-baik saja," jawab Steve enteng.
"Darimana kau tahu?" tanya Johnny lagi. Steve mengangkat bahunya. Tentu saja ia tahu, karena kemarin Stark sudah datang ke rumahnya dan pria itu terlihat baik-baik saja. Secara fisik. Tapi seperti biasa, Steve tak akan mengatakannya secara langsung pada Johnny, karena pria itu selalu bereaksi berlebihan nantinya dan mengatakan hal-hal yang memalukan.
"Aku pikir kau akan lebih ekspresif dibanding kemarin," Johnny kembali berbicara. Ia memutar kursinya, bersikap layaknya anak-anak yang gagal mendapatkan mainan. Steve menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menoleh pada Johnny dan memberinya tatapan bingung. Ekspresif?
"Mengapa aku harus melakukannya?"
"Dia mantan kekasihmu!"
"Nah, kau sendiri yang mengatakannya, dia hanya mantan kekasihku. Kalau kau lupa dengan situasiku saat ini, akan kuingatkan lagi. Menurutmu apakah pantas jika staff biasa sepertiku mendatanginya hanya untuk menanyakan kabarnya?" Johnny hanya membisu mendengar pertanyaan Steve. Ia membuka mulutnya setengah, seolah ingin menjawab pertanyaan Steve tapi selama beberapa detik Steve menunggu, tak ada jawaban apapun keluar dari mulutnya. Steve mengangkat alisnya, mengedikkan kepalanya, lalu kembali menghadap layar komputernya.
Bukannya Steve tak ingin menemui Tony langsung. Steve tak akan membohongi dirinya lagi. Ya, ia merindukan Tony Stark, entah seberapa besar tapi Steve akui ia memang. Alasan selama beberapa hari ini ia selalu uring-uringan memang karena ia merindukan pria itu, dan mengkhawatirkannya. Steve tersenyum kecil, lucu sekali saat ia tahu kalau ia bisa merindukan pria brengsek itu, mengingat kebersamaan mereka selalu dihiasi dengan pertengkaran dan ejekan.
Kalau Steve merindukan Tony, lalu mengapa ia harus mengusir Tony kemarin dari rumahnya? Kalau boleh jujur, pertama kali Steve membuka pintu dan melihat wajah Tony, Steve sangat ingin menghambur ke tubuh Tony saat itu juga. Steve sangat ingin menghirup aroma tubuh Tony yang ia rindukan belakangan ini. Ia memang tidak pernah memeluk Tony sebelumnya, namun berada di dekatnya selama beberapa minggu membuatnya hafal dengan aroma cologne yang selalu dipakai Tony, aroma tubuh yang hanya dimiliki Tony. Dan sayangnya rasa rindu itu mendadak berubah menjadi rasa kesal yang tidak bisa Steve tahan tatkala melihat Tony muncul dengan senyum lebarnya seolah kejadian ia menghilang selama ini tak pernah terjadi. Steve tak bisa tak menggeram marah saat tak mendapatkan sorot penyesalan apapun di mata Tony saat itu. Setelah apa yang ia lakukan pada Steve?
Jadi jika Steve mengusir Tony kemarin, itu impas. Bahkan kalau dipikir lagi, itu sedikit tidak adil jika dibandingkan rasa khawatir yang terus muncul di pikiran Steve dan rasa malu karena harus mengelak dari sesuatu yang jelas-jelas obvious di hadapan Ms. Potts dan temannya –yang belakangan Steve baru tahu adalah Natasha Romanoff, wanita yang selalu dibicarakan teman-temannya.
"Dia tak menghubungimu sama sekali?" Johnny sepertinya benar-benar tidak puas dengan reaksi Steve karena ia masih merecoki Steve meskipun jelas-jelas yang ditanya terlihat tidak berminat berbincang dengannya. Steve hanya mengangkat kedua bahunya. Tony meneleponnya tadi pagi, dan sengaja tidak Steve jawab karena ia masih berada di perjalanan menuju kantor. Setelah itu, belum ada panggilan lagi dari Tony yang membuat Steve berpikir mungkin pria itu sedang sibuk dengan pekerjaannya yang selama beberapa hari ini ia tinggalkan.
Tapi Steve tak akan mengatakannya pada Johnny. Tentu saja.
"Aku yakin nanti dia akan memanggilmu ke ruangannya," komentar Johnny mengakhiri sesi tanya-tanya tersebut.
••
-oO-タマサ-Oo-
••
"Kau diusir?"
Tony mengangguk sambil bibirnya tersenyum kecut. Ia enggan menanggapi tawa mengejek yang diberikan Pepper karena meskipun ia menyangkal selihai apapun, faktanya memang itu yang terjadi. Jika mungkin Pepper mempermasalahkan harga diri Tony Stark yang tercoreng, yang ada di pikiran Tony sendiri justru berbeda. Tony telah memikirkan ini semalam suntuk, tapi meskipun begitu, tetap saja ia tak bisa menemukan alasan mengapa ia diusir secara tidak hormat oleh Steve. Dan sedikit banyak hal itu mengganggu pikiran Tony. Tony menggelengkan kepalanya. Rasanya ia tak habis pikir dengan apa yang sedang ia alami saat ini. Seorang playboy sepertinya, harus bertekuk lutut untuk seorang pria semacam Steve Rogers.
"Kau bilang dia mulai menerimaku, tapi mengapa dia justru mengusirku alih-alih memelukku dengan hangat?" protes Tony sambil berjalan menuju dinding kaca. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya. Pepper menyandarkan punggungnya di sofa dengan santai, menghela nafas panjang karena menyadari sifat kekanakan Tony mendadak muncul. For God's Sake, Tony sudah berusia hampir empat puluh tahun dan dia masih kesulitan menghadapi pemuda berusia dua puluh-an?
"Apa kau sungguh berharap kalau dia akan memelukmu lebih dulu?" tanya Pepper. Tony mengangguk cepat.
"Tentu saja. Itu yang selalu ada di serial romantis, bukan?"
"Apa aku pernah melakukan hal seperti itu padamu? Hal bodoh semacam berlari menghampirimu lalu memelukmu?"
"Never."
"Seorang wanita saja enggan melakukannya untukmu, apalagi pria sepertinya."
"Dia terlihat seperti pria lugu. Kupikir mungkin ia akan melakukannya."
"Dasar bodoh!"
Tony tak menjawab ejekan Pepper. Matanya menatap gedung-gedung kokoh di luar. Hiruk pikuk di luar gedung perusahaannya sama sekali tak mengganggunya karena memang terlalu jauh jaraknya dengan ruangan Pepper saat ini. Steve mungkin akan menyukai tempat ini juga, pikirnya. Tinggal satu atap dengannya selama beberapa minggu sudah membuatnya paham apa yang disukai oleh Steve dan apa yang tidak. Sesuatu yang sebenarnya membuat ia merasa terganggu.
Steve Rogers.
Tony mendengus. Bagaimana bisa bocah itu membolak-balikkan perasaan Tony hingga seperti ini? Padahal pertemuan pertama mereka jauh dari kata baik, begitupun pertemuan berikutnya.
"Jadi bagaimana, apa kau akan menemuinya?" Tony mengerjapkan matanya dan menoleh ke arah Pepper yang berjalan menghampirinya. Tony tersenyum kecil, memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku celana.
"Tentu. Kami berdua harus bicara empat mata. Banyak hal yang perlu diluruskan."
"Kalau begitu aku akan menghubungi Mr. Smith," baru saja Pepper akan berbalik ke meja kerjanya, namun Tony memanggilnya terlebih dulu.
"Tidak perlu," Tony tersenyum miring, "aku akan melakukannya sendiri."
••
-oO-タマサ-Oo-
••
Steve tahu sejak awal –tidak, ia hanya menebak tapi tebakannya mengenai pria itu memang tidak pernah salah sebelumnya, kalau Stark pasti akan meminta Steve datang ke ruangannya. Yang tidak bisa ia tebak sebelumnya adalah bagaimana cara ia meminta Steve datang. Karena Steve pikir, Tony pasti akan menggunakan Mr. Smith untuk menyuruhnya. Dan jujur saja, Tony Stark yang mendatangi ruangannya dan berbicara di depan pintu memanggil namanya, itu benar-benar... di luar dugaannya. Dan tebak siapa orang yang selalu bereaksi berlebihan dengan kehadiran Tony yang tanpa diundang itu?
Ya. Si mulut besar Johnny.
Steve yakin ia tidak salah mendengar umpatan keluar dari mulut Johnny sebelum akhirnya ia menutup mulut dengan telapak tangannya. Dan Steve tidak bodoh untuk mengartikan apa maksud wajah-tolol-menahan-tawa milik Johnny. Ya, melihat caranya memberondong Steve dengan berbagai macam pertanyaan tadi pagi yang berakhir sia-sia, damn! Steve yakin Johnny akan menggunakan ini untuk mengolok-olok Steve nanti.
"Mr. Rogers," ulang Stark lagi. Steve menghela nafas dan bangkit berdiri dari kursinya. Tak ia pedulikan tatapan tajam yang seluruh rekannya berikan ketika ia berjalan menghampiri Stark, apalagi Peggy. "Kita bicara di luar sebentar," tambah Stark saat Steve sudah berdiri di hadapannya, memimpin Steve untuk keluar dari ruangan tersebut. Tanpa kata Steve mengekor, tak lupa menutup pintu ruangannya lagi.
Ia pikir, Tony akan mengajaknya bicara di ruangan lain. Tapi tidak. Tony hanya berdiri di dekat pintu masuk, masih di lorong. Dan dilihat dari gelagatnya, jelas ia tak punya niat sama sekali untuk pergi dari tempat ini. Bukankah ia bisa mengajak Steve masuk ke ruangannya? Bukan berarti Steve ingin berduaan dengan Tony, hanya saja, bagaimana kalau ada pegawai lain yang lewat dan menggunjingkan Steve nanti?
"Ada apa?" tanya Steve langsung. Tony memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku celana, sementara kedua matanya menatap ke balik bahu Steve.
"It's about us," jawabnya singkat. Steve menghela nafas. Ia sudah menduganya.
"Really? Apa kita akan membahas itu di sini? Di lorong ini?"
"Aku yakin kau akan menolak jika aku memintamu datang ke ruanganku."
"Jujur saja, aku akan menolak sejak awal kalau tahu kau ingin membicarakan ini," ujar Steve dingin, "kupikir kau cukup profesional untuk tidak membicarakan tentang hubungan kita di lingkungan kerja". Steve tahu, mungkin perkataan Steve barusan secara tidak langsung telah memojokkan Stark, tetap saja ia tak peduli. Stark terlalu sering meremehkan Steve, seolah Steve hanya boleh menurutinya. Tidak, semua orang harus menuruti kemauannya.
Tapi semuak apapun ia pada Tony, tak bisa dipungkiri kalau Steve lega melihat kondisi Tony yang baik-baik saja. Yaah... kemarin pun ia sudah melihat sendiri bagaimana keadaan Tony, hanya saja hari ini dengan pikiran yang jauh lebih tenang, ia jadi bisa memastikan hal tersebut.
"Aku tak masalah membicarakan ini di rumahmu, jika saja kemarin kau tidak mengusirku langsung."
"Kau pikir apa yang akan orang lain lakukan jika mereka berada di posisiku?"
"Memelukku dan berbisik kalau kau sangat merindukanku?" Steve mengernyit mendengar pendapat Tony. Hell!
"Satu-satunya yang ingin kulakukan saat melihatmu adalah meninjumu tepat di hidung," gumam Steve dingin. Tony tertawa mendengar komentar Steve, meskipun Steve yakin tak ada yang lucu dari kalimatnya barusan.
"Kau senang sekali menyiksaku, secara fisik dan mental."
"Dan mengapa kau juga suka menyulitkanku, secara fisik dan mental?" balas Steve. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding dan melipat kedua tangannya di dada, "kau benar-benar datang ke sini hanya untuk membicarakan ini?" Jika jawabannya ya, itu artinya Tony sudah kehilangan akalnya. Tony tertawa kecil, menyisir rambutnya ke belakang dengan jari tangannya.
"Sayangnya, ya."
"Kalau begitu cukup sekian. Aku harus melanjutkan pekerjaanku," baru saja Steve hendak melangkah, Tony sudah berdiri menghalanginya lebih dulu.
"Wait-wait!" Steve memperhatikan kedua telapak tangan Tony yang kini menempel di dadanya, menahannya berjalan maju, "seriously, we need to talk."
"Kau tahu apa jawabanku."
"Steve please," Tony memperhatikan kedua mata Steve dengan serius, dan diam-diam membuat Steve terbius, "berhentilah bersikap menyebalkan seperti ini dan hadapilah dengan dewasa."
"Jadi menurutmu aku yang kekanakan?" tanya Steve sedikit tak terima.
"Kau mau mengelak? Lalu menurutmu apa yang kau lakukan saat ini?"
"Kau yang lebih dulu–," Steve menghentikan kalimatnya, menarik nafas panjang beberapa kali untuk menenangkan emosinya. Berdebat seperti ini hanya akan membuat mereka terlihat kekanakan. Jadi setelah ia rasa cukup tenang untuk bicara, ia melanjutkan, "baiklah. Tentukan tempat dan waktu". Lebih baik ia yang mengalah. Ia menepis tangan Tony yang masih menempel di dadanya dengan gerakan kasar, tak ambil pusing dengan ekpresi Tony yang terkejut.
"Kau tunggu aku di belakang gedung," Tony berdehem, "kita pulang bersama nanti."
••
-oO-タマサ-Oo-
••
Steve menopangkan dagu dengan telapak tangannya yang bersandar di jendela mobil. Pandangannya menerawang ke jalan, memperhatikan kendaraan lain dan pejalan kaki yang mereka lewati. Ia tak menimpali sama sekali saat Tony yang duduk di sebelahnya berbincang dengan Happy, sopir sekaligus asistennya. Tidak, bukannya ia bermaksud sombong dengan tidak menyapa pria tambun itu. Ia hanya mencoba memposisikan dirinya untuk tidak bersikap sok pintar meskipun ia adalah kekasih Tony, karena...
statusnya hanya sebagai kekasih pura-pura.
Steve tahu benar jalanan ini. Ini adalah jalan menuju mansion Tony. Apakah Tony akan mengajak Steve ke rumahnya lagi? Well, Steve tahu satu-satunya tempat yang bisa memberinya privasi hanya rumah Tony, mengingat begitu ketatnya penjagaan di sana. Hanya saja, jujur, Steve belum siap mental jika harus kembali ke rumah itu. Tidak, ia memang tidak punya pengalaman buruk di sana. Tentang bayangan Tony yang berbuat nista di meja makan, dan ciuman di malam terakhir Steve menginap, anggap saja itu bukan kenangan buruk.
"Mengapa harus di rumahmu?" Steve menyuarakan pendapatnya. Ia menyandarkan punggungnya dan menatap Tony, "mengapa tidak di rumahku saja?"
Tony langsung tertawa, "rumahmu? Dengan resiko kau langsung mengusirku jika aku secara tidak sengaja menyinggungmu?" Ia tertawa lagi. Steve mengangkat bahunya. Memang benar jika sewaktu-waktu ia bisa mengusir Tony. Tapi bukankah Tony bisa bersikap acuh seperti biasanya? "Tapi kalau ini bisa membuatmu puas, alasannya adalah karena dirumahku sepi," tambah Tony. Steve mengangguk ragu, berusaha menerima alasan yang baru saja disampaikan Tony.
Sepi...
Steve tersenyum kecil. Ia tak asing dengan rasa itu. Pulang ke rumah yang sepi setelah lelah bekerja, merupakan kenikmatan tersendiri bagi Steve. Yang ia butuhkan hanya ketenangan, di mana ia bisa menghabiskan banyak waktu dengan kegiatan yang berguna, seperti misalnya... berkebun. Bunga, satu-satunya yang membuatnya merasa dekat dengan mendiang ibunya, wanita pertama yang mengajarkannya arti cinta. Terserah jika orang lain menyebutnya sebagai pria muda yang membosankan..
Steve melirik Tony yang juga duduk bersandar di punggung kursi. Pria berlimpah harta semacam Tony ternyata merasakan hal yang sama sepertinya. Sepi. Tapi jelas mereka berdua punya cara yang berbeda dalam menanggapi sepi itu.
Tony... pria haus perhatian dan penuh sensasi, jelas punya cukup uang hanya untuk membeli 'keramaian'. Semua orang tahu bagaimana mudahnya Tony mengadakan pesta meskipun tidak jelas apa motifnya mengadakan pesta itu.
"Kau tidak tahu betapa senangnya aku melihatmu mencuri pandangan seperti itu," Tony tiba-tiba bersuara, membuyarkan lamunan Steve. Steve sempat tersentak lalu berdehem untuk menghilangkan rasa canggungnya. Saat ia mulai memahami apa maksud Tony berbicara begitu, ia menggelengkan kepalanya seolah Tony hanya terlalu percaya diri seperti biasanya, lalu memandang ke arah jalanan. Ia memang memperhatikan Tony barusan, tapi ia tak akan mengakuinya secara langsung.
"Kau terlalu percaya diri," timpal Steve. Tony hanya menanggapinya dengan tertawa kecil.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil mereka sampai di lokasi. Masih dengan penjagaan yang sama ketatnya, tapi kali ini Steve sudah tidak terlalu terkejut dengan itu. Ia sudah sering melakukannya dulu. Menjadi kekasih Tony Stark, dan tinggal di rumah yang sama, tidak membuatnya bisa begitu saja melewati penjagaan.
Mobil berhenti tepat di depan pintu masuk mansion. Steve membuka pintunya dan keluar dari mobil, mengernyitkan keningnya saat melihat Tony lebih memilih menunggu di dalam, membiarkan salah satu pengawalnya membukakan pintu mobil.
Hell! Dia bahkan bisa membuka pintu mobil dengan kedua tangannya!
Saat menginjakkan kakinya ke lantai, bulu kuduk Steve meremang. Bohong jika ia tak merindukan tempat ini. Ia mungkin hanya beberapa minggu di sini, tapi bagi Steve sendiri, udara pagi yang menyegarkan di tempat ini dan kebaikan para pelayan saat menjamunya, belum tentu bisa ia dapatkan di tempat lain. Dan yang paling penting, hanya di tempat ini, ia bisa melihat orang lain menyambutnya pulang –suasana yang hanya bisa ia rasakan sebelum ibunya meninggal.
"Kau ingin mandi dulu?" tanya Tony sambil berjalan menghampiri Steve.
"Apa? Kurasa tidak perlu."
"Mandilah. Masuk saja ke kamarmu, tempatnya masih sama. Di lemari juga ada beberapa pakaian, kau bisa memakainya dulu," Steve membuka mulutnya, hendak menolak, tapi Tony sudah menyelanya lebih dulu, "aku masih akan membicarakan sesuatu dengan Happy. Kita bicara di serambi belakang nanti."
Steve hanya bisa memberikan anggukan kaku sebagai jawaban. Ingin menyanggah pun, Tony sudah berjalan lebih dulu meninggalkannya bersama dengan Happy di sampingnya.
••
-oO-タマサ-Oo-
••
"Wine?"
Steve menggeleng saat Tony menyodorkan segelas wine padanya. Seperti yang pernah ia katakan dulu, ia tidak pernah minum alkohol, dan sama sekali tak ada niat untuk mencobanya. Dia mungkin akan mencobanya suatu saat nanti, tidak sekarang. Tidak jika ia ada di dekat Tony. Terakhir kali ia berhubungan dengan alkohol, ia jadi terlibat masalah dengan Tony Stark hingga sejauh ini. Padahal kalau diingat-ingat lagi, hanya Tony yang mabuk saat itu.
"Kau bisa menginap di sini nanti, kalau kau khawatir. Atau jika memang kau benar-benar enggan berada satu atap denganku lagi, masih ada pengawal yang bisa mengantarmu pulang dengan selamat," Tony berjalan ke tepi balkon dengan menumpukan kedua tangannya di atas pagar besi, memunggungi Steve. Tangan kanannya menggoyangkan gelas wine, mengaduk wine dengan potongan es batu di dalam gelas. Steve masih duduk di sofa, menggeleng lemah, namun sedetik kemudian baru sadar kalau Tony luput memperhatikannya.
"Aku bisa pulang sendiri," tolak Steve. Dan ngomong-ngomong tentang 'pengawal', ada hal yang ingin ia tanyakan pada Tony, "tentang pengawal, mengapa masih ada pengawalmu yang mengikutiku?"
"Kau bertanya mengapa?" Tony tak menoleh ke belakang sama sekali, "seperti yang kemarin kukatakan padamu saat aku mendatangi rumahmu, we're dating, are you really forgot it?" Steve sedikit gemetar mendengar kalimat Tony. Apakah mungkin karena suara Tony yang terdengar besar dan dalam? Terlebih ia mengatakannya dengan suara yang terdengar jelas mengingat suasana di sekitar mereka yang sangat sepi. Mungkin itu alasan ia bereaksi seaneh ini, tanpa sadar Steve mengangguk paham.
"Kupikir... hubungan kita sudah berakhir... I mean... Kita hanya berpura-pura berkencan selama ini untuk meredam publik."
"Lalu?"
"Media sudah tidak membicarakan tentang kita berdua lagi. Jadi kupikir..."
"Dan apakah aku pernah mengatakan padamu kalau hubungan kita berdua sudah berakhir?"
"Aku tidak ingat–," Steve mengusap leher belakangnya dengan canggung.
"Tidak," Tony berbalik dengan cepat, "kau bukannya tidak ingat. Kau hanya berusaha untuk menyangkalnya."
Steve tertawa sinis, menggelengkan kepalanya dan berkomentar, "kau tidak tahu apapun tentangku."
"Tidak. Memang itu faktanya. Kau menolak mengakui kalau jatuh cinta padaku, meskipun kau tahu jelas-jelas aku tertarik padamu," Tony masih menyandarkan pinggangnya pada pagar balkon. Setelah mengatakan kalimat barusan, Tony menenggak habis minumannya dalam sekali teguk, "kau mungkin tak percaya telah jatuh pada pesona playboy brengsek sepertiku. Benar bukan?"
Steve diam menatap kedua mata Tony dengan tajam. Ia ingin mengelak, memberikan alasan yang terdengar masuk akal agar Tony tak memperlihatkan sifat terlalu percaya dirinya. Tapi ia memilih diam, mencoba mendengarkan omong kosong apa yang ingin diucapkan Tony. Steve ingin membuktikan sendiri, sejenius apa otak Tony menganalisa isi hati Steve.
"Aku adalah pria brengsek, itu penilaianmu tentangku. Benar bukan? Kalau kau tak tahu, aku juga merasakan hal yang sama tentangmu. Hanya kau, satu-satunya pria yang kukenal yang tidak takut denganku, tidak terpengaruh dengan duniaku, meskipun jelas-jelas kau bekerja di perusahaanku. Apa yang kulihat darimu adalah kau hanya pria pembangkang yang berharga diri terlalu tinggi."
"Thank you," sela Steve sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"You're welcome," jawab Tony dan menarik nafas panjang lagi, "tapi yang aku tidak mengerti, bagaimana justru pria sepertimu yang membuatku terus memikirkanmu. Aku tidak akan menyangkalnya, tentang perasaanku padamu. Aku mungkin tidak sesering itu mengalaminya, tapi aku tahu itu apa. Aku pernah mengalaminya dulu...," Tony memelankan suaranya, menatap Steve tepat di kedua matanya. Steve masih membisu, menolak berkomentar apapun. Meski ia tahu ada banyak hal yang ia ingin sampaikan juga pada Tony. Steve meneguk ludahnya, saat perlahan Tony berjalan menuju meja kecil di samping Steve untuk meletakkan gelasnya yang kosong, lalu melangkah lebih dekat hingga berdiri tepat di depan Steve.
"Yeah... Aku mencintaimu... dengan cara yang hampir sama seperti Pepper dulu," Tony membungkukkan badannya hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Steve, "atau mungkin dengan cara yang berbeda tapi aku tak menyadarinya. Entahlah..."
••
To be continued...
••
-oO-タマサ-Oo-
••
3063 words, done!
Bener kan abis lebaran? Masih di bulan yang sama ini kan, jadi sama aja. Nah, bersamaan dengan ini saya mau ngasih tahu kalau story ini bakalan tamat. Mungkin chapter depan, mungkin juga dua chapter lagi. Dan setelah ini, saya bakalan bikin fanfic Shevine. Sumpah, udah gemes banget ama mereka.
Nah, terus kalau ini tamat, nggak bikin Stony lagi? Ya bikin lah, cuman nggak sekarang. Saya lagi nyari ide, sekalian nyelesaiin tanggungan story yang lain.
Dah ah, shoutout untuk Hatake Shinoda, Lenny548, Rei no Zero, dan BlackAzure29 karena udah meninggalkan review di chapter sebelumnya.
Terima kasih juga untuk yang udah fav dan follow...
Terima kasih untuk semua yang udah baca...
Mind to review again?
See you next chapter!
Ciao!
