-oO-タマサ-Oo-

Disclaimer: Marvel

Rated: T

Pairing: STony (Steve x Tony) and others

Genre: Romance

Warning: Boyslove, AU, (really) OOC, Maybe typo(s)

Don't like, don't read!

-oO-タマサ-Oo-

《•》

"Apa menu sarapan kita pagi ini?"

Steve hanya melirik Tony yang langsung mengambil tempat di salah satu kursi. Ia menata telur yang baru saja ia rebus ke atas roti tawar panggang di piringnya dan Tony, lalu meletakkan peralatan masaknya di dalam wastafel tanpa mencucinya.

"Morning, Mr. Stark," ia melepas apronnya dan meletakkannya di dekat rak dapur, menyapa pria yang lebih tua darinya terlebih dulu baru kemudian balik bertanya, "lada?"

"Yes, please," Tony mengangguk, dan sepertinya ia baru mengingat sesuatu, "mornin' honey". Rasanya senang bisa selalu menggoda Steve di pagi hari seperti ini. Lucu saja, mereka sudah menjalin hubungan selama beberapa minggu, berkenalan jauh lebih lama lagi, namun Steve masih belum juga terbiasa dengan panggilan tersebut. Dia justru tidak akan bereaksi macam-macam jika tanpa sengaja Tony menyebutnya 'kid' atau bahkan 'cap'. Tony tertawa kecil, siapa yang menyangka kalau pria sesempurna Steve —oh, come on, memang benar kan kalau Steve sosok pria sempurna?— ternyata sepolos itu dalam berpikir?

"Meeting-mu dengan Chris, jadi?" Steve duduk di samping Tony setelah menaburkan sedikit bubuk lada di atas telur Tony, dan mulai memakan sarapannya. Ia tersenyum puas saat merasakan nikmatnya sarapan sederhana yang ia buat. Namun lebih puas lagi karena ia masih memiliki kesempatan untuk sarapan bersama Tony.

"Sure," Tony menyuapkan potongan roti ke mulutnya, "dia ingin mempertemukanku dengan adik laki-lakinya—"

"His boyfriend?" Tony mengerling begitu mendengar suara pisau terantuk dengan piring.

"Dari mana kau tahu?"

)

Steve mengangkat kedua alisnya, "kau pernah menceritakannya padaku, kau lupa?". Tony mengernyitkan kening, masih belum ingat kapan ia pernah melakukannya. Terlalu banyak hal tak penting yang ia katakan pada Steve, sehingga ia bahkan tak ingat pernah mengatakan apa saja. Tony meminum sedikit jusnya dan berdehem.

"Aku masih tidak percaya saat dia mengaku kalau adik angkat yang pernah ia ceritakan dulu ternyata adalah kekasihnya juga." Tony tak pernah bertanya lebih dulu pada Chris siapa kekasihnya sekarang, karena ia takut Chris akan bertanya balik padanya mengenai hubungannya dengan Steve. Pria itu yang bercerita terlebih dulu, mengumbar bagaimana awal mula ia menyadari rasa sayang pada adiknya bukan sekedar keposesifan seorang kakak pada adiknya, melainkan karena ia memang tertarik pada adiknya dalam konteks seksual. Pantas saja Chris selalu terlihat antusias tiap kali membicarakan adiknya itu.

"Dan aku akan mengingatkanmu lagi, menurutku itu bukan hubungan incest…," Steve menyuap makanannya lagi, tersenyum kecil saat melihat Tony yang memasang wajah masam.

Oke, Tony mulai ingat sekarang kalau ia pernah berdebat cukup lama hanya untuk membicarakan ini. Tony menganggap Chris sedikit aneh karena mengencani adiknya sendiri, apalagi gender mereka yang sama-sama pria. Sementara di lain sisi, menurut Steve, jika Tony memperdebatkan gender, itu artinya Tony juga menghujat hubungan dirinya sendiri karena mereka sendiri juga pasangan gay. Lagipula, tidak ada hubungan darah apapun di antara Chris dan —siapa ya namanya, ah— Tom, dan artinya tak ada batasan apapun di antara mereka.

Jangan tanyakan bagaimana perdebatan itu berakhir, karena Tony sudah terbiasa menerima tatapan tajam dari Steve dan kata-katanya yang terlalu terus terang menjurus sadis.

"Aku mungkin akan menginap di hotel dekat kantor Chris nanti," Tony memilih mengalihkan pembicaraan. Sementara pria yang lebih muda darinya itu mengangguk sekali tanpa menatapnya balik.

"Baiklah… aku tidak akan menunggumu."

《•》

-oO-タマサ-Oo-

《•》

Pada akhirnya Steve tetap menunggu Tony.

Steve melirik jam dinding, hampir jam 12 malam dan Tony masih belum menghubunginya sama sekali, bahkan Happy juga. Ada apa dengan mereka berdua? Memangnya meeting mereka berlangsung sampai selama ini? Apa saja yang mereka bicarakan sebenarnya? Steve mungkin tak akan sekhawatir ini jika bukan Chris yang ditemui Tony. Chris, pria itu bukan hanya seorang pria gay (atau biseks, entahlah) tapi juga cenderung agresif, apalagi pada Tony. Mungkin benar Chris pernah berkata kalau ia sudah tidak tertarik lagi pada Tony —dalam konteks seksual. Hanya saja yang tidak bisa Steve hiraukan adalah ingatan bagaimana Chris pernah mencium Tony tepat di depan matanya dulu, dan juga fakta mengenai Chris yang tidak berhasil meniduri Tony.

Apa? Melihat Chris yang sangat agresif dulu, bagaimana bisa dia menyerah begitu saja dan berhenti mengejar Tony? Atau memang pria gay seperti itu? Tiba-tiba mendekati pria yang menarik minatnya, lalu meninggalkannya begitu saja karena merasa kesulitan untuk mendapatkannya? Oke, mungkin bukan hanya pria gay saja, kebanyakan pria memang begitu. Bahkan Tony yang dulu pasti juga akan bersikap begitu, Steve yakin.

Steve menghela nafas, ia terlalu mengkhawatirkan Tony hingga berpikiran terlalu jauh. Mungkin Tony memang menginap di hotel dekat kantor Chris bersama Happy. Tony sudah berubah banyak, ia tak mungkin mengkhianati Steve hanya untuk bersama pria semacam Chris. Kalau dengan wanita lain sih mungkin saja.

Steve bangkit berdiri dari sofa ruang tamu dan berjalan ke arah pintu depan untuk menguncinya. Ia sempat menyibakkan tirai jendela, jalanan sudah sepi, dan itu membuat Steve semakin yakin kalau Tony tak akan datang. Setelah itu Steve berjalan menuju kamarnya dan berbaring di atas ranjang. Besok ia masih harus berangkat kerja pagi-pagi, dan menunggu Tony semalaman jelas bukan ide yang tepat. Lagipula melihat nihilnya kabar dari Tony, pasti kekasihnya itu sudah lelah.

Ah!

Steve meraih ponsel di saku celananya dan menyalakannya. Lebih baik ia menghubungi Happy, karena tak akan ada habisnya meragukan keberadaan Tony seperti ini terus menerus. Baru pada dering kedua panggilan langsung diterima oleh Happy.

"Steve?"

"Happy," Steve berdehem sekali, "di mana kau sekarang?"

"Aku sedang check in di salah satu hotel di dekat kantor Mr. Hemsworth. Apa ada sesuatu yang terjadi?"

"No… i'm just… —where's Tony?"

"Sedang duduk di lobby. Meeting baru saja selesai."

"Dia baik-baik saja?"

"Moodnya sedikit buruk. Mr. Hiddleston menekannya sepanjang meeting, sementara kulihat kondisi Tony sendiri sangat tidak bagus dan kurang tidur." Steve tersipu saat mendengar penjelasan Happy. Dia dan Tony memang baru tidur jam 3 pagi, dan harus bangun tiga jam kemudian untuk bersiap berangkat kerja. Namun ia tak mungkin mengatakan alasannya pada Happy mengapa ia dan Tony kurang tidur semalam, kan?

"Apakah dia sudah makan malam?" Steve bangkit duduk dari tempatnya, "jangan biarkan dia minum kopi."

"Kenapa kau tidak menghubunginya sendiri?" Steve yakin Happy bicara sambil memutar matanya barusan.

"No need. Dia sudah terlalu lelah, aku hanya ingin memastikan kalau dia tidak akan pulang malam ini."

"Jadi kau menunggu kami sejak tadi?"

"Actually, just Tony. But technically, yes I did."

"Aku akan mengatakannya pada To—"

"No!" Steve tidak sadar kalau sudah mengeraskan suaranya, "don't do that! Aku sudah mengantuk dan tidak ingin terbangun hanya untuk membukakan pintu. Ceritakan saja padanya besok, aku tidak masalah dengan ini."

"Are you sure?"

"Absolutely, yes!" Steve segera memutuskan panggilan tersebut tanpa menunggu balasan dari Happy.

Apa barusan ia bertingkah seperti seorang remaja yang merajuk? Steve mengusap wajahnya dengan telapak tangannya. Semenjak berhubungan dengan Tony Stark, ia semakin sering bertingkah di luar kebiasaannya. Ini tidak baik, sungguh. Ia harus mengembalikan sifatnya yang tenang dan bijaksana, setidaknya agar Tony berhenti menyebutnya 'kid'.

《•》

-oO-タマサ-Oo-

《•》

Jika ada yang bertanya, "apakah Steve dan Tony menjadi sepasang kekasih?" maka saya (penulis) akan menjawabnya secara gamblang,

"OF COURSE! Sejak awal mereka sudah menjadi sepasang kekasih, right?"

Steve dan Tony memang menjalin hubungan palsu pada awalnya, meyakinkan diri mereka masing-masing kalau saling membenci satu sama lain. Pertengkaran kecil mereka di hari pertama bertemu di depan gedung kantor, dan perdebatan memalukan di bar yang membuat media menyoroti kehidupan mereka berdua, otomatis membuat kacau hidup mereka. Steve sungguh-sungguh saat mengatakan Tony sudah merusak hari-hari baiknya, meskipun belakangan ia juga merindukan keributan itu saat Tony menghilang selama seminggu.

Steve menyukai Tony. Menyukai bagaimana pria itu berbicara sambil memasukkan tangan ke dalam kantong celananya. Menyukai bagaimana pria tua itu mengangkat dagu saat berbicara. Menyukai bagaimana pria dengan brewok khasnya itu menyeringai menyebalkan saat Steve mendapati ia yang mencuri pandang pada Steve. Steve terlalu sibuk memperhatikan kelakuan Tony hingga sering melupakan fakta kalau pria brengsek itu adalah atasannya.

Steve yakin dirinya adalah pria baik yang sangat menghargai peraturan dan norma. Ia menghormati perempuan, tanpa memperdulikan usia dan latar belakang, sama seperti caranya menghormati mendiang ibunya. Ia tidak membenci hubungan sesama jenis, tapi juga tidak sepenuhnya mendukung. Hidup di negara bebas seperti ini nyatanya tak merubah pemikirannya tentang itu.

Ia pikir ia sudah sangat kuat berpegang pada prinsip itu, jadi mungkin itulah alasan mengapa sangat sulit untuknya mengakui perasaan pada Tony. Terlepas dari predikat dan sifat Tony yang bertolak belakang dengannya, jujur saja sampai kapanpun ia tak akan siap jika harus menyandang kata 'the gay couple' di belakang namanya. Lalu mengapa kemarin ia mau menjadi kekasih pura-pura Tony? Tidak, ia tidak pernah menerima status itu. Tony yang memaksanya sejak awal karena berpikir mereka bisa mengakhiri hubungan ini sewaktu-waktu jika situasi sudah membaik, yang mana perkataannya ada benarnya juga. Yang tidak benar adalah ketika Steve merasa hubungan palsunya dengan Tony sudah selesai, jauh di lubuk hatinya menyalahkan apa yang keluar dari mulutnya. Karena sejatinya, ia tak ingin ini semua berakhir begitu saja.

Malam itu, malam di mana ia berbincang dengan Tony di balkon belakang mansion Tony, Steve akhirnya menyadari bahwa penolakannya itu sama sekali tak berguna. Tony mungkin brengsek dan angkuh, tapi sifatnya itu justru membuat Steve selalu terikat dengan pria itu. Ia ingin menaklukkan Tony, membuat pria itu mengerti bahwa menjadi lugu dan setia dalam hal mencintai bukanlah hal buruk. Terlalu banyak yang memuja Tony selama ini, tanpa sadar mengubah pria itu menjadi gila perhatian meski orang-orang tak pernah memberikan apa yang ia minta dengan tulus. Jika Tony menyebut Steve 'bocah kemarin sore', maka Tony hanya seorang anak laki-laki kesepian dengan fisik pria 40 tahun.

《•》

-oO-タマサ-Oo-

《•》

Sejak awal bertemu, Tony tahu kalau Steve sudah menaklukkannya. Bukan hanya secara fisik, tapi juga dari segi mental. Pemuda itu berpendirian teguh —cenderung keras kepala, meski Tony tak pernah mendapati sifat Steve yang itu saat ia berinteraksi dengan rekan kerja di ruangannya. Steve cukup dihargai para seniornya, bukan karena skandalnya dengan pemilik perusahaan, namun justru karena sopan santun dan kemampuannya menerima pengarahan senior yang sangat baik. Tidak pernah terlihat ada beban di raut wajahnya, entah karena ia sangat menikmati pekerjaannya, atau bisa jadi karena ia terlalu pandai menutupi perasaannya. Hanya pada Tony, Steve akan berubah sikap. Pemuda itu akan melawannya, mengucapkan semua kalimat pedas untuk menjatuhkan Tony, meski tak pernah dihiraukan oleh Tony.

Tony itu menyebalkan, bahkan Tony sendiri mengakui itu. Tapi yang orang lain tidak tahu, Steve jauh lebih menyebalkan ketimbang Tony. Perbedaannya, Steve bisa menutupi sifat buruknya itu dengan wajah polos dan tingkah lakunya yang cenderung pendiam, sementara Tony memilih terbuka dan mengungkapkan isi hatinya secara langsung tanpa peduli itu akan menyakiti orang lain. Hanya pada Tony, Steve akan menunjukkan sifat keras kepala dan gengsi berlebihannya —ini fakta yang sangat disukai Tony.

Tony selalu menggambarkan Steve seperti televisi di rùmahnya yang tak pernah dinyalakan. Sempurna, tapi tak diperhitungkan, oleh Tony. Awal mula Tony menerima Steve sebagai pegawai magang di perusahaannya, Tony sudah menelusuri seluruh latar belakang Steve. Ada insiden kecil di pertemuan pertama mereka, ingat? Dan Tony sudah berniat ingin mempersulit Steve, sehingga ia merasa sangat penting untuk tahu latar belakang pemuda itu lebih dulu.

Bagian yang mengejutkan dari pemuda itu adalah… ternyata dia hanya pemuda biasa. Steve tampan, muda, dan memiliki kharisma untuk ukuran pria seusianya. Seharusnya ia bisa bekerja di perusahaan besar —setidaknya agency modelling tidak mungkin menolak pemuda menarik sepertinya begitu saja, alih-alih bekerja sebagai pegawai minimarket yang Tony bahkan tak pernah mendengar namanya sama sekali. Dia cerdas dan cekatan, Tony tak menampik itu. Mungkin dia hanya lulusan sekolah menengah, tapi sungguh, itu tak terlihat karena ditutupi kepandaiannya. Steve, mengabaikan semua kelebihannya, dan memilih untuk hidup sederhana, meskipun ia sanggup hidup sebagai pria playboy yang memanfaatkan banyak gadis.

Belakangan, setelah mengenal Steve, Tony menyadari kalau Steve hanyalah pemuda kesepian. Ia tinggal di rumah peninggalan ayahnya, sendirian semenjak tingkat menengah atas setelah ibunya gagal melawan kanker payudara yang ia derita. Sementara ayahnya adalah seorang tentara yang meninggal saat bertugas, di mana Steve masih berusia 6 tahun saat itu. Karena itulah, Steve terbiasa hidup mandiri. Di usianya yang masih muda, ia harus mencari uang sendiri, mengingat kesehatan ibunya yang terus menurun, belum lagi untuk mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari. Jangan tanya apakah Steve menyayangi ibunya atau tidak, karena jawabannya tentu saja ya. Tipikal anak laki-laki, melindungi dan menjaga ibunya dengan sepenuh hati. Ia menyayangi ibunya, sehingga rela mengorbankan masa kecilnya dan mengacuhkan kebutuhan dirinya sendiri untuk bersenang-senang.

Tony sering tertawa sendiri jika membicarakan ini. Sadar atau tidak, ia dan Steve sangat mirip dalam hal ini, hanya cara mereka mengusir rasa sepi sangat berbeda. Jika Steve cenderung menyendiri, maka Tony kebalikannya. Pesta, liburan, bahkan one night stand… semua Tony lakukan semata-mata untuk meyakinkan dirinya kalau ia tak sendirian. Ada ribuan orang yang memperhatikannya. Kepopuleran membuatnya bebas memilih dengan siapa akan menghabiskan malam.

Ya, meski jauh di lubuk hatinya ia terus mempertanyakan apa itu cinta sejati dan siapa yang akan sukarela memberinya cinta itu…

Mencintai seseorang bukanlah hal baru bagi Tony. Ia bukannya tak pernah mengalaminya, Pepper Potts buktinya. Pepper adalah wanita kedua setelah ibunya yang mencintai dirinya dengan tulus, dan memahami diri Tony dengan sangat baik. Belakangan, kebaikannya justru membuat Tony dirundung rasa bersalah karena selalu membuat Pepper jatuh dalam berbagai kesulitan. Tony membutuhkan dukungan Pepper dalam hidupnya, tapi cintanya yang besar membuat ia sadar kalau tak seharusnya hubungannya ini menyusahkan Pepper. Ia tak ingin siapapun melukai Pepper, bahkan jika pelakunya adalah Tony sendiri.

Siapa yang sangka kalau saat ini ia justru nyaman menganggap Pepper sebagai saudari perempuannya, alih-alih mantan kekasih terindahnya? Cinta bisa dalam bentuk apa saja, bukan?

Mencintai Steve adalah cerita yang berbeda. Pemuda itu terbiasa menutupi perasaannya, secara tak langsung memaksa Tony melakukan berbagai macam cara hanya agar mengerti apa yang Steve rasa dan pikirkan. Perbuatan yang sangat tidak-Tony-sekali. Tony terbiasa diperhatikan, bukannya memperhatikan seperti ini. Hanya Steve, yang melihat diri Tony dari sudut pandang berbeda, tak melulu mencari muka, dan memperlakukan Tony selayaknya orang biasa. Hanya Tony, bukan semata-mata embel-embel 'Stark' di belakang namanya.

Seberani dan seunik itu, dan orang masih bertanya bagaimana ia bisa jatuh cinta pada Steve Rogers?

《•》

-oO-タマサ-Oo-

《•》

"I love you."

Steve mengerjapkan matanya, menoleh pada Tony Stark yang mendekatinya di ranjang dan langsung berbaring di sampingnya.

"Hm," gumamnya sambil kembali menautkan pandangan pada buku yang dibawanya.

"Hanya 'hm'? Tidak ada balasan apapun?" Tony beringsut semakin merapat dan berakhir meletakkan kepalanya di pangkuan Steve. Steve tersenyum, mengusap kepala pria yang lebih tua darinya itu.

"Aku orang ke berapa yang kau nyatakan cinta hari ini?" tanya Steve sambil membalik halaman buku bacaannya. Matanya masih menelusuri tiap kalimat di buku, meski sejujurnya ia sudah kehilangan konsentrasi untuk sekedar memahami apa yang ia baca.

"Wait," Tony menggumam, "kau pikir aku semudah itu mengucapkan cinta pada orang lain?"

"Aku belum menghapus kata 'playboy' di belakang nama 'Anthony'mu."

"Jadi kau tidak percaya kalau aku mencintaimu?" Steve menunduk untuk memperhatikan Tony, tepat di kedua matanya.

"Not really," Steve menjawab sambil tersenyum kecil, membuat Tony gemas.

"Tapi katamu kau mencintaiku?"

"I am. Dan tentang kau yang merupakan kekasih pertamaku, ya, aku serius." Tony tergelak, membanting kepalanya sendiri pada paha Steve. Ia tak peduli jika kepalanya sedikit pening setelah melakukannya, "aku merasa terhormat, really," dan tertawa lagi saat melihat alis Steve yang mengerut tajam.

"Bangga sekali kau…"

"Of course. Semua orang di kantor membicarakanmu sejak hari pertama kau bekerja. Mereka memujimu. Kau tampan, kau baik dan berkharisma, smart… did you ever think, kau sesempurna itu! Bahkan aku, Anthony Edward Stark, si jenius-kaya-playboy-dan dermawan yang terkenal, takluk padamu!"

Steve tertawa kecil, "kau memang tak bisa berhenti memuji dirimu sendiri ya?"

"Aku juga sesempurna kau, kalau kau lupa itu," Tony membela diri. Steve menggeleng, memang sulit menghilangkan watak angkuh Tony. Tapi Steve memang sudah tidak keberatan menghadapi Tony yang begini.

"Terima kasih kalau begitu," bisik Steve. Tony menggeleng, mengangkat tangannya dan menyentuh sebelah pipi Steve.

"No. Thank you."

Selama beberapa saat mereka saling berpandangan, meresapi dalamnya kedua mata sang kekasih, membiarkan diri mereka tenggelam semakin dalam. Kali ini tidak masalah, Steve menyeru dalam hati, jika tenggelam bersama Tony, semuanya jadi terasa benar. Tidak ada salahnya jika ia bersikap picisan begini pada Tony.

"Ngomong-ngomong," Tony berdehem, memecahkan suasana romantis di antara mereka berdua, "kapan kau akan menyetujui permintaanku?"

"Permintaan apa?" Steve mengernyit.

"Mengenai kau yang menjadi asistenku?" Tony tersenyum lebar melihat Steve yang memutar bola matanya.

"Aku menolak," jawab Steve cepat, "aku sudah berungkali mengatakannya padamu."

"Rogers," Tony berbisik, diam-diam Steve merinding mendengar suaranya yang berat, "aku melakukan ini karena aku peduli padamu."

"Mr. Stark," Steve membalas memanggil kekasihnya dengan nama belakangnya, "jika kau peduli padaku, maka kau akan mendukungku dari bawah. Orang-orang akan menghinaku jika mendadak aku menjadi asisten pribadimu."

"Setidaknya aku ingin kau ada di sampingku saat bekerja."

"Tidak-tidak," Steve menutup bukunya rapat. Percuma saja, obrolan ini tidak akan selesai dengan cepat, "kau pikir aku tidak punya kehidupan lain di luar sana? I mean, setidaknya biarkan aku berbaur dengan teman kantor!"

"Kau masih bisa berkumpul dengan teman-temanmu. Aku tidak melarang sama sekali—"

"Kau berusaha menjauhkanku dari mereka saat ini, apa kau tidak menyadarinya?"

"Baiklah," Tony segera bangkit duduk dan langsung menepuk paha Steve, "lupakan apa yang kukatakan tadi. Aku tidak akan memaksamu lagi." Steve masih menatap Tony dengan tatapan dingin. Ia yakin Tony masih akan mengajaknya berdebat sebentar lagi. Pria di hadapannya ini tidak pernah mau mengalah, apalagi untuk urusan berdebat. Dan hebatnya, dia selalu memiliki topik yang bisa diributkan dengan Steve. Tony cenderung memaksakan keinginannya pada Steve, dalam berbagai hal. Ia selalu menjanjikan berbagai macam hasil positif jika menurutinya. Mulut pebisnis, licin.

"What? Why're you staring me? Kau tidak percaya kalau aku bisa mengalah?"

"Tentu saja."

Tony tergelak. Nyatanya ia belum sepenuhnya berhasil menaklukkan Steve Rogers.

《•》

-oO-タマサ-Oo-

《•》

"Come on, Steve, kau sungguh tidak ingin mentraktirku?"

Steve memutar matanya dan mendengus. Johnny dan mulut besarnya yang sulit dikendalikan. Steve terlampau paham apa maksud Johnny bertanya seperti itu di hadapan teman-teman divisinya. Dan Steve berharap, Johnny tidak akan bertanya mengenai hal 'itu'.

"Memangnya ada apa? Steve berulangtahun?" Sam bertanya. Ia jelas tak mungkin menyia-nyiakan kesempatan seperti ini, mengingat saat ulangtahunnya dulu ia harus merelakan lebih dari separuh gajinya untuk mentraktir teman-teman.

"Tidak-tidak," Johnny berinisiatif menjawab, yang Steve yakini hanya akan memberikan jawaban ngawur, atau pun tentang 'itu' —oh semoga saja bukan, "dia akan meresmikan hubungannya dengan Mr. Stark."

Fuck, Johnny!

"Sungguh? Kalian akan bertunangan?" kali ini Peggy yang bertanya. Lihat, bahkan seorang Peggy Carter saja akan langsung terpengaruh dengan gosip yang dilontarkan Johnny. Steve menggeleng pelan, meski mulutnya masih membisu.

"Kau tak perlu malu mengakuinya, dude," Johnny mendekatinya dan menepuk pundak kanannya, seolah sebagai sosok sahabat yang baik, "kami turut senang mendengarnya."

"Fuck off," umpat Steve sambil tersenyum. Yang lain langsung bersorak karena baru pertama kali mendengar Steve mengumpat. Johnny dengan gaya dramatisnya, menyentuh dadanya dengan kedua telapak tangan dan memasang wajah terkejut.

"Tega sekali kau mengumpat padaku."

"Jangan menyebarkan berita tidak benar. Aku tidak merasa kalau akan bertunangan dengan pria itu."

"'Pria itu'? Kau menyebut kekasihmu dengan kata itu?"

"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan? Aku benar-benar tidak mengerti."

"Benar, bukan? Kau akan bertunangan dengan Mr. Stark?"

Steve hanya diam. Dari tadi otaknya berusaha keras mengingat apakah pernah mengatakan hal ini pada Johnny. Seingatnya ia sudah berhati-hati untuk tidak mengucapkan kata 'pertunangan' pada siapapun, kecuali Pepper Potts, karena tak ingin memancing keributan di kantor. Hubungannya dengan Tony Stark tidak baik awalnya lalu tiba-tiba mereka menjadi sepasang kekasih, dan bahkan sekarang mereka bertunangan, padahal belum genap setahun dari pertama pertemuan mereka.

But, by the way, bagaimana Johnny bisa tahu hal ini?

"Lihat, dia berusaha keras mencari alasan bohong," Peggy menyilangkan tangan di dada, menatap Steve tepat di kedua matanya. Dan Steve akui, dari cara Peggy menatapnya, Steve gugup dan khawatir kalau wanita cantik itu sudah paham situasinya.

"I'm not," Steve menggeleng. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku, sungguh, ia takut kalau salah bicara.

"Jadi benar kau akan bertunangan? Serius?" Sam mendekatinya.

"Kata siapa?" tanya Steve balik, masih berusaha berkelit.

"Come on, Steve," Johnny menepuk pundak Steve berkali-kali, lagi, "mengapa kau menutupinya dari kami? Apa yang kau khawatirkan?"

"Aku tidak menutupi apapun!"

"Lalu soal pertunangan kau dengan Mr. Stark?"

"Kau mendengar berita itu darimana?"

"Kau lupa jika aku adalah informan terbaik di gedung ini?" Johnny terkekeh yang disambut dengusan teman-temannya.

"It's okay, Steve. Jika memang berita itu benar, kami menyambut baik. Sebagai temanmu, kami semua akan mendukungmu," Peggy menatap Steve dalam, berusaha menenangkan pria yang lebih muda darinya itu. Ia tahu benar bagaimana karakter Steve. Pria itu memang sepolos penampilannya, tidak berbeda sama sekali.

"I just—," Steve menelan ludahnya kasar, "i'm sorry, guys. Aku hanya berpikir, apapun yang menyangkut kami berdua selalu menimbulkan keributan, dan sedikit banyak hal tersebut mempengaruhiku…"

"Kau tahu benar apa resikonya menjadi kekasih orang terkenal kan?" Martha menyela. Ia memperbaiki letak kacamatanya dan kembali berbicara, "sampai kapanpun orang-orang tidak akan berhenti membicarakan Mr. Stark, entah untuk hal baik atau justru buruk. Jangan ambil pusing, karena itu tak akan ada habisnya…"

"Itu benar. Apa kalian akan bertunangan secara diam-diam?" Steve mengangkat bahunya, menyerah. Tak ada gunanya ia berkelit, teman-teman sudah tahu jawaban sebenarnya.

Mengenai pertunangan, Tony yang meminta agar acara tersebut dilakukan secara privat. Bukannya ia malu mengakui Steve sebagai tunangannya —Tony berungkali meyakinkannya kalau ia ingin memberitahu seluruh dunia kalau ia dan Steve akhirnya melangkah ke jenjang yang lebih serius, mengingat perjalanan cinta mereka yang sedikit unik jika dibandingkan pasangan lain. Masalahnya ada pada media. Tony takut kalau ada beberapa media yang akan memojokkan Steve dan membuat kekasihnya itu merasa tak nyaman. Dugaan Tony benar, karena belum apa-apa Steve sudah gerah ketika ada yang mengulik hubungannya, seperti yang saat ini teman-temannya lakukan.

"When will it?"

"Dua minggu lagi," jawab Steve singkat. Teman-temannya mengangguk mengerti.

"Lama sekali," Martha berceletuk, "kau yakin selama dua minggu ini sanggup menutupi berita ini?"

Steve terkekeh, mengusap rambutnya ke belakang, "not really. Kami baru membicarakan ini dua hari lalu dan sekarang kalian bahkan sudah tahu hal ini. Padahal aku belum menceritakan ini pada siapapun selain Mrs. Potts."

"Dan hebatnya bagaimana kau bisa tahu hal ini, Johnny?" Sam mendekati Johnny dan menyudutkannya. Sementara Johnny tersenyum lebar seolah apa yang ia ketahui bukanlah hal besar.

"Hanya asal menebak, " Johnny terbelalak saat teman-temannya masih menatapnya tajam, "seriously! Aku hanya menebak tadi. Aku bahkan tidak menyangka kalau tebakanku ternyata benar?! Padahal tujuan awalku hanya ingin menggodanya…"

"Tebakan yang tepat, sayangnya," diam-diam Steve mengumpat lagi, meski hanya di dalam hati, "tapi maafkan aku jika nantinya kami tidak bisa mengundang kalian. Bukannya aku menganggap kalian tidak penting—"

"It's okay, man," Peggy masih dengan menyilangkan tangan di dada, "kami memahamimu. Kami juga akan melakukan hal yang sama jika berada di posisimu."

"No!" sahut Sam, "aku sih justru akan memamerkannya ke semua orang!"

"Really, Sam? Kau benar-benar tidak mengerti maksud perkataanku?". Sam tersenyum bodoh.

"Thanks, guys," Steve tak bisa menutupi raut lega di wajahnya, "a lot."

Jika ada yang mengatakan Steve terlalu terburu-buru memutuskan bertunangan dengan Tony Stark, Steve tidak akan menyangkalnya. Sama seperti ia yang merasa belum begitu mengenal karakter Tony, hal tersebut juga berlaku pada Tony. Namun jika terus berkutat pada hal tersebut, Steve sendiri tidak bisa memastikan berapa lama waktu yang mereka butuhkan untuk saling mengenal satu sama lain lalu memutuskan untuk bertahan atau selesai. Karena bagi Steve, selama apapun, itu tak akan pernah cukup. Bagi Steve, seiring berjalannya waktu, mereka pasti mampu memahami satu sama lain. Waktu lah yang akan mengajari mereka.

Steve melemparkan pandangan pada jendela di belakangnya, memperhatikan gedung-gedung tinggi di luar sana dengan senyum tersungging di wajah tampannya. Ya, ia tahu cinta saja tidak cukup. Orang-orang di sekitarnya tak pernah berhenti mengatakan kalimat tersebut. Tapi satu hal yang ia yakini, jika ia dan Tony mau belajar memahami dan menerima, maka cinta saja pun, itu lebih dari cukup.

Steve tersentak saat merasakan ponsel di saku celananya bergetar. Ia mengambil ponselnya dan melihat siapa orang yang menghubunginya.

IRON MAN

Steve tersenyum. Itu nama kontak yang sekarang ia berikan untuk Tony. Pria bermental baja. Lihat, ia tak pernah berhenti menghubungi Steve meski tahu kalau Steve akan memarahinya karena mengganggu waktunya istirahat. Ia selalu memiliki alasan tak masuk akal untuk melakukan itu. Saat ia ingin menerima panggilan tersebut, ucapan Johnny terlebih dulu menginterupsinya.

"Keep calm, guys! Kita masih bisa mengacau di hari pernikahan Steve nanti."

Steve berdecih. Fuck you, Johnny!

END

《•》

-oO-タマサ-Oo-

《•》

4033 words, done!

Hai hai hai! Maafkan saya karena baru up lanjutannya di sini. Terakhir saya ngepost di WP, agak males kalo harus edit lagi buat dipost di sini. Eh ternyata keterusan sampe hari ini. Seriously, kalo bukan karena salah satu dari reader sini yang mampir buat ngasih komentar di WP, mungkin sampai kapanpun saya nggak akan up ini chapter.

Soal waktu yg sangat lama, kemaren saya sempat hiatus selama beberapa bulan, nggak tau deh kalo hampir setahun. Masalah keluarga, pekerjaan, dan kesehatan yg nggak begitu baik, belum lagi ditinggal wamil ama Yoseob dan Kyungsoo, membuat saya kehilangan mood untuk nulis meski sekedar cuman corat-coret di binder. Saya udah biasa kok kek gini. Semangat nulis, bosen, hiatus, trus muncul lagi bawa story baru, siklusnya selalu begitu. Jadi maaf ya kalo karena keruwetan saya, semua pembaca jadi kena imbasnya karena harus digantungin kek kemaren.

Nah, ini memang episode terakhir dari The Boss, gaes. Kalian nggak salah baca title kok. Tapi tenang aja, karena saya udah bikin The Boss Season 2. Chapter pertama dari season 2 ini bahkan udah saya post di WP (lagi-lagi). Hhaa...

Shoutout kali ini ditujukan untuk BlackAzure29, KekepUC, Rei no Zero, Luzz, dan Hatake Shinoda yang udah ninggalin review utk chapter kemaren.

Makasih untuk semua pembaca, terlebih yang udah ngikutin The Boss dari chapter pertama sampe terakhir ini. Makasih untuk yg udah fav dan follow The Boss ataupun saya. Makasih karena udah ngasih kesempatan saya buat nuangin kehaluan saya soal Stony di sini. Sampai jumpa di cerita Stony saya yang laen.

Pokoknya jgn lupa entar mampir di The Boss season 2, lah...

See you,

Ciao!