Sekarang, Karena
.
Peringatan: OoC, AU, AT, AR
Disclaimer: Joker Game oleh Koji Yanagi dan diadaptasi oleh production I. G, sedangkan saya hanya mampu membuat fanfiksi yang ditulis secara random di tengah-tengah pandemi.
.
Western
Sinar matahari bulan Juli di Jokertown, alias Kota Pelawak, ini seakan-akan membakar telapak kakinya. Namun, pikirnya, 92 derajat Fahrenheit di barat jauh negara bagian tengah benua merah ini tidak akan pernah bisa mengalahkannya. Kaki kanan depan, kaki kiri belakang, kaki kiri depan, kaki kanan belakang, dan seterusnya dan ia terus berlari mengejar sang rancher di bawah terik sinar matahari pagi.
Sang rancher yang menunggangi kuda kebanggaannya, Black Mamba, sebuah nama yang seharusnya tidak diberikan untuk seekor kuda dan itu sama sekali tidak berwarna hitam. Kuda itu, sebenarnya, berbulu perpaduan antara abu-abu dan coklat dan berlari hampir secepat badai. Namun, butuh hamper tiga tahun lamanya untuk menjinakkan makhluk pemalu itu yang bahkan terlalu malu untuk melihat bayangannya sendiri di tanah Jokertown dan ia pun mulai menghitung usianya sendiri.
"Miyoshi, ayo lebih cepat!" ia bisa mendengar sang rancher berteriak dari atas punggung kudanya. Pria itu menoleh ke belakang tanpa kehilangan kontrol atas tali kekangnya, dan satu tangannya yang lain memastikan topi cowboy-nya tidak diterbangkan angin, dan dengan senapan Hartford Coach 1878 melintang di punggungnya.
"Sialan!" si kucing menggerutu yang di telinga sang rancher terdengar seperti geraman penuh semangat. "Yuuki sialan!" ia bukan kucing dengan sepatu boots di kakinya pun keempatnya tidak menjangkau sejauh kaki kuda yang diberi tapal. Ah, kakinya mulai gatal karena kepanasan.
Miyoshi, si kucing, selalu bertanya-tanya, kenapa sang rancher tidak memelihara anjing saja? Retrievers, misalnya. Itu lebih cocok untuk diajak berburu. Namun, tentu saja tidak akan ada yang paham jalan pikiran seorang pria yang menamai kudanya sama dengan nama ular paling mematikan itu.
Ia terus berlari. Menggerutu sepanjang perjalanan tidak sama dengan menolak insting kucingnya untuk berburu, bahkan Yuuki tidak sepenuhnya tahu sesuatu yang bisa atau mungkin bisa dilakukan Miyoshi. Setidaknya ia punya sembilan nyawa dan menukar salah satunya dengan adrenalin jelas bukan masalah besar. Oleh karena, ia tahu kali ini mereka mengincar sesuatu yang indah dan asing di tanah ini.
Buruannya datang dari timur jauh, Yuuki yang berkata demikian. Miyoshi pun mendengar bahwa itu jauh dari kata buas. Yuuki mendekripsikannya sebagai yang indah dan tidak berdaya dan Miyoshi memberikannya afirmasi positif untuk kali ini.
Hal itu dikarenakan setelah lebih dari tujuh kilometer ia berlari, setelah melewati persimpangan Stillman dan Lincoln dan menyusuri sepanjang jalan Snake Eyes Street, pupil vertikalnya menemukan seekor ayam jantan. Itu yang berdiri sendirian di tengah-tengah lahan gandum yang tumbuh liar. Miyoshi mendengar kokok kerasnya disebabkan ayam jantan itu menanggapi stimulus saat Yuuki dari kejauhan melemparkan segenggam legum untuk membujuknya agar mendekat.
"Lihat baik-baik, Miyoshi." Yuuki berkata kepadanya yang berdiri di samping kaki kuda. Sang rancher memanuver senapan di punggungnya dan memanggul Hartford Coach 1878 di bahu kanan, menarik pelocok senapan dan mengintainya.
Miyoshi melihat ayam jantan itu mulai mendekat untuk memakan umpan tanpa curiga. Ia sepakat bahwa ayam jantan itu jinak dan benar-benar indah. Berjalan perlahan-lahan ke arah mereka dan semakin itu mendekat semakin Miyoshi tahu, meskipun jinak ayam jantan itu berbadan besar dan dengan ekornya sangat panjang. Mungkin itu yang memperlambat pergerakannya.
"Itu Onagadori. Indah bukan, Miyoshi?"
Jika Miyoshi bisa menghitungnya, maka ia tahu ekornya berjumlah delapan belas helai dan panjangnya delapan kali tubuh Miyoshi. Ayam jantan itu berbulu hitam pada bagian dadanya dan berjengger merah, warnanya yang kuat membuat kontras dengan warna gandum yang pucat, dan kedua mata bulat itu menatap lugu selaras dengan moncong senapan. Sekali lagi, Miyoshi benar-benar setuju dengan Yuuki.
Ayam jantan itu yang jauh tersesat dari tanah asalnya hanya akan sendirian di sini karena tidak akan bisa berkembang biak. Yuuki berpendapat itu hanya akan merusak keindahannya dengan perkawinan silang dengan ras ayam lokal yang membosankan di peternakan pun si kucing Miyoshi tidak akan mengizinkannya. Miyoshi lebih memilih untuk membuatnya menjadi indah dan tetap indah di atas meja, atau mungkin di permukaan dinding, di dalam rumah yang aman milik sang rancher. Keindahannya tidak akan dikikis waktu atau dinodai dengan ras lain. Miyoshi yakin karena ia yang akan memastikannya dan Yuuki menarik pelatuknya.
.
Drama
Letnan Dua, sebuah pangkat, yang tersemat di depan nama Tobisaki Hiroyuki mati di sebuah penjara militer Jepang. Itu yang dibunuh setelah ia dengan segenap harga dirinya sebagai tentara Kekaisaran Jepang melaksanakan sebuah kontrak lisan yang semasanya ia hidup telah berubah menjadi prinsipnya. Ia yang sudah seharusnya memang rela berkorban untuk negara atau untuk sesama kamerad di medan perang dan mereka pun akan melakukan hal yang serupa kepadanya. Namun, seperti ular lidah bercabang, pria itu belajar bahwa manusia memang tidak pernah bisa dipercaya.
Kontrak lisan itu, yang telah dihayati secara hierarkis ditubuh tentara kekaisaran jepang, tidak lebih dari sekadar kata-kata. Pada akhirnya, itupun yang dengan mudah dihancurkan, tidak lain hanya dengan pangkat dan derajat. Satu perintah itu menghancurkannya dan keping-kepingan tajamnyalah yang membunuhnya. Tobisaki Hiroyuki kini hanya menjadi sekadar Tobisaki Hiroyuki tanpa lencana militer delapan rim-nya dan tanpa pangkat yang mendahuluinya dan ia biarkan raganya mengeras, melepuh, dan membusuk di balik jeruji penjara.
"Kau bukan lagi manusia," dan ia tahu bahwa ia tidak berkata dusta. Itu yang ia dengar dari bibirnya yang tipis di antara suara serak dan pelan.
Pada suatu malam, di antara ketukan ritmis yang dihasilkan oleh ubin dingin dan tongkat jalan yang terbuat dari kayu walnut hitam. Dari arah lorong penjara, muncul seorang pria baruh baya dan kepada Tobisaki Hiroyuki ia berkata, "Aku bisa memberimu hidup yang lain," di antara melankoli dan fantasi.
Tobisaki Hiroyuki merasa dirinya seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Pria paruh baya yang mengangkat mayatnya dan menjejalkan fantasi yang membangkitkan dirinya itu membuatnya dengan gegabah kembali mengamini kata-kata seorang pria, terlebih lagi yang baru saja ditemuinya. Ia bahkan sanggup melalui rintangan yang mungkin tidak akan mampu ia pikul apabila dirinya masih manusia.
Kemudian, ia hempaskan tubuhnya seperti pesawat kertas yang berjatuhan menuju laut yang berkejaran dengan salju yang membekukan. Kemudian, esok adalah alienasi dan kekosongan. Kemudian, lusa ia dengar kembali fantasinya sendiri, sebagai Odagiri.
Itu yang kompleks. Odagiri sebagai satu dari delapan monster yang tidak memercayai satu sama lain. Mereka yang hanya berpegang teguh kepada diri sendiri, tetapi anehnya selalu bertemu di sini di kantor Pusat Kebudayaan Asia Timur Raya. Odigiri seakan melihat mereka di tengah asap dari rokok di sela-sela jemari dan asam pada mulut mereka dan itu memberikan warna kelabu pada fantasinya.
Seperti efek narkose, asapnya kemudian lenyap seiring mata api yang kemudian padam. Lalu, semuanya hitam kelam dan tetap sendiri. Tobisaki Hiroyuki lebih memilih untuk tidak ingin hidup lagi.
.
