Sekarang, Karena

.

Peringatan: OoC dan AR

Disclaimer: Joker Game oleh Koji Yanagi dan diadaptasi oleh production I. G, sedangkan saya hanya mampu membuat fanfiksi yang ditulis secara random di tengah-tengah pandemi.

.

Humor(1)

Seorang lelaki penghubung antara militer kekaisaran Jepang dan D-agency itu bukan orang yang menarik, entah siapa yang berpikir sebaliknya. Dia hanya lebih tinggi dari seluruh personel agen D dan terlihat lebih kekar, tetapi bebal, keras kepala, dan naif. Sehingga satu pertanyaan muncul ke permukaan, bagaimana bisa manusia seperti itu masih tetap hidup di dalam dunia yang kejam? Mungkin memang ada satu penggerak utama yang maha pengasih, tetapi itupun masih dipertanyakan eksistensinya. Namun, berawal dari situlah mereka mengerti bahwa orang yang bebal memang hidup lebih lama.

Para agen D dibuat tertawa karena dunia ini memang menjadi lucu, atau sudah seperti itu sedari dulu, tetapi mereka benar-benar merasakan kelucuannya setelah mengenal Sakuma. Bagaimana tidak? Bagi mereka, segala tingkah dan ucapan Sakuma itu menggelikan dan tentu saja mengundang tawa, terlebih lagi pemikiran lelaki itu. Jika Sakuma bisa diambil otaknya dan kemudian itu diletakkan di dalam aquarium seperti ikan mas Oranda, maka mereka yakin akan tertawa setiap kali melihatnya. Hal itu disebabkan bukan hanya karena kelucuannya, melainkan juga karena keanehannya.

"Hatano … Hatano?" Jitsui memandang Hatano dengan heran. Pasalnya, gelombang suaranya seakan-akan tidak pernah sampai ke telinga pria itu. Ia tahu bahwa seharusnya Hatano tidak pernah lengah. Namun, kiranya memang setiap hal memiliki anomali.

"Ya, ya, Jitsui. Jangan kaukira aku tidak mendengarmu."

"Benarkah? Kau tidak terlihat seperti itu?"

"Aku sedang berpikir, Jitsui."

"Kau, Hatano, berpikir?" sekali lagi, Jitsui memandang Hatano dengan keheranan yang tidak kentara. "Kurasa sebuah tindakan spontan lebih cocok untukmu dari pada harus berpikir.

"Maka dari itu, bukankah ini berarti ada satu hal yang sifatnya krusial."

Jitsui berpikir sejenak. Perkataan Hatano tadi sedikit ada benarnya. "Jadi, Hatano? Apa yang sedang kaupikirkan?"

"Ah, itu. Kupikir ... bahwa dulu, selama kita mengikuti pelatihan di D-Agency, ada yang luput dan tidak diajarkan pada kelas farmakologi," lalu Hatano menghela napas. "Tidak kusangka ternyata sang Demon King bisa melakukan kesalahan juga."

"Kurasa karena kau tidak pernah mengikuti kelas dengan sungguh-sungguh." Jitsui menjawabnya dengan nada setengah mengejek dan setengah tertarik. "Lalu, apa sesuatu yang luput itu, Hatano?"

"Aku sekali waktu pernah melakukan percobaan ..."

Lalu Miyoshi yang duduk di hadapan mereka di meja kafetaria mendengus. "Kau, Hatano, melakukan percobaan?"

"Hei, aku lebih suka praktik dari pada duduk di kelas dan hanya mendapat teori. Ya, aku melakukan percobaan dan kalian tahu bahwa air minum yang sesuai standar kesehatan berguna tidak hanya bagi tubuh manusia, tetapi juga berguna bagi tubuh cacing?"

"Secara syarat kimia, pH normal, TDS tidak lebih dari 500 mg/l, tidak mengandung timbal, boleh mengandung sedikit Fe atau sedikit Mn tidak lebih dari 0,5mg/l atau NO2 kelas 1-3 tidak lebih dari 0,06mg/l atau No3 kelas 1-2 tidak lebih dari 10mg/l atau NO3 kelas 3-4 tidak lebih dari 20mg/l."(2) Miyoshi menjawabnya dengan informasi yang tidak ada seorang pun yang peduli dan dengan secepat kereta api Tōkaidō Shinkansen. Egonya tidak menghendaki untuk kalah. "Cacing bisa bertahan di dalamnya tujuh hari bahkan tanpa makanan," lanjutnya.

"Ya, kau benar, tapi bukan itu maksud pertanyaanku," Hatano berkata dengan jengkel. "Tahukah kalian, apa yang terjadi pada cacing saat aku memasukkannya bukan ke dalam gelas berisi air mineral, melainkan ke dalam gelas berisi alkohol; cognac, vodka, atau apapun itu?"

"Mabuk?" dan tidak ada yang lebih bodoh dari jawaban Kaminaga.

"Tidak bisakah kau sedikit ilmiah?" Hatano membalas perkataan Kaminaga dengan kesal.

"Apa yang terjadi Hatano?" Jitsui menimpali.

"Tepat saat tubuh cacing menyentuh alkohol. Aku melihatnya ... sebuah kembang api cacing. Tubuhnya meledak menjadi seukuran mikropartikel. Jadi, setelah itu, aku menarik kesimpulan bahwa ..."

"Air mineral baik untuk kesehatan," dan lagi-lagi Kaminaga lah yang berkata demikian.

Hatano memandang pria itu dengan sinis. "Bukan, Bodoh. Aku menarik kesimpulan bahwa untuk mencegah cacingan minumlah alkohol."

Lalu, jeda. Ketujuh koleganya merasa waktunya terbuang hanya untuk mendengar lelucon Hatano, sedangkan Kaminaga ... respons pria itu sungguh tidak dinyana. Ia tertawa terbahak-bahak, hingga Fukumoto khawatir pria itu akan kencing di celana atau tersedak lalu mati.

"Hatano, kau mabuk." Jitsui berkata dengan jengkel.

"Kurasa sedikit," lalu mengangkat gelas tulip berisi cognac murahan, yang warnanya sama dengan air kencingnya di pagi hari, dan menenggak isinya, entah untuk yang keberapa kali. "Jadi, aku selalu bertanya-tanya. Apakah seorang penghubung militer kekaisaran Jepang juga cacingan? Seharusnya, ia bisa mencegah itu jika tidak terus-menerus menolak ajakan Miyoshi untuk minum-minum."

Miyoshi mendesis marah. Topik yang berkaitan dengan penolakan Sakuma selalu terdengar seperti ejekan di telinganya. "Kau ..."

"Sudah, sudah," Amari menengahi sebagai salah seorang pria tertua di antara para agen D yang seharusnya lebih bijaksana. "Mungkin dia hanya tidak ingin menyusahkan kita saat mabuk. Tidak semua orang kuat minum. Kau bisa ambil sisi positifnya, Miyoshi."

"Jangan menasihatiku!" Miyoshi berkata demikian.

"Tetapi, Hatano, kurasa asumsimu tadi kurang tepat. Setidaknya, jika Sakuma-san itu cacingan perutnya akan menjadi buncit dan tidak akan menjadi sebagus itu. Ya, paling tidak lebih bagus dari pada milikmu sebagai orang yang notabene kuat minum," salah seorang agen D berkata demikian.

Tujuh pasang mata menatap satu orang yang berkata demikian, Tazaki, dengan tidak percaya. "Kau membelanya?" dan Hatano menjawab dengan kesal. Jika itu Kaminaga atau Amari yang berkata demikian, maka sudah dapat dipastikan ia akan menendang tulang kering mereka dari bawah meja. Namun, itu Tazaki yang bahkan Hatano pun segan.

"Memang jika dipikir-pikir itu adalah fakta," dan kata-kata tambahan Jitsui seperti bensin yang disiram ke dalam nyala api.

Namun, pada akhirnya Hatano bisa mengendalikan dirinya dan hanya menyeringai. "Apa gunanya? Aku bertaruh tetap akan menang jika adu kekuatan," ia berkata demikian sebagai salah seorang pria yang pragmatis dan ketujuh koleganya mengiyakan.

"Jika dipikir-pikir," Hatano mulai lagi dan ia menirukan perkataan Jitsui. "Kukira jika ada satu penggerak utama, maka ia tidak tahu tentang konsep heroine."

Sekali itu, dan Amari langsung mengangguk setuju. Ia, sebagai seorang pecinta wanita tentu tidak bisa lebih setuju dari pada ini. "Ah, wanita. Mereka manis dan hangat. Bahkan, satu dari mereka kurasa bisa mencerahkan suasana D-agency yang agak muram dan maskulin. Namun, Sakuma-san, dia ... bagaimana aku merangkainya dengan kata-kata?" Amari sedikit tertawa saat berkata demikian.

"Maksudmu, kau tidak masalah apabila Sakuma-san itu wanita? Apakah ini hanya tentang jenis kelamin?" Miyoshi berkata dengan sinis.

"Aku tidak menyangka, Miyoshi, ternyata kau orang yang peduli dengan inner beauty." Hatano berkata dengan takjub, "itupun jika Sakuma-san memilikinya."

"Hei, jangan salah sangka dulu," dan Amari cepat-cepat meluruskan sebelum Hatano dan Miyoshi memanas. "Oleh karena itu aku kesulitan merangkainya dengan kata-kata. Itu karena ... kurasa Sakuma-san mencerahkan suasana tidak seperti wanita yang bagaikan sinar matahari, tetapi seperti seberkas sinar kegelapan."

"Ya, kurasa itu yang disebut Miyoshi sebagai inner beauty." lalu Hatano tertawa berderai. "Bukankah itu paradoks?"

"Apakah itu artinya ilmu yang kaumiliki kurang luas, Hatano?" dan Miyoshi balas mengoloknya. "Kurasa manusia mempunyai dua telinga agar kau lebih banyak mendengarkan, maka aku rasa teori itu sama pentingnya dengan praktik."

Beberapa koleganya mengiyakan perkataan Miyoshi, bahkan Fukumoto berkata, "Ya."

"Kurasa Hatano tidak tahu bahwa ada peran lain yang berseberangan dengan heroine. Femme fatale." Jitsui memverifikasi perkataan Miyoshi dan pria itu lalu mengangguk dengan angkuh.

Namun, Tazaki berbicara untuk sekadar mengingatkan, "Aku hanya tidak ingin kalian lupa, agar kalian tidak kecewa, bahwa Sakuma-san masih tetap seorang laki-laki di sini dan sampai saat ini."

"Kalau begitu homme fatale." Miyoshi mengoreksi dan masih bersikukuh.

Hatano mendengus karena merasa diremehkan. Tentu saja ia tahu yang dimaksud dengan istilah itu. "Lalu apa? Apa menariknya?" ya, itu adalah suatu bentuk pertanyaan dasar yang selalu Hatano pertanyakan. Namun, jawaban para koleganya ternyata mengejutkan.

"Ya ... ya ... menarik," Fukumoto adalah seorang pria yang sulit mengapresiasi sesuatu hanya dengan kata-kata. Namun, itu membuat Hatano semakin mencecarnya.

"Ya, apa menariknya?"

"Hatano," Jitsui menimpali, "Acap kali seorang karakter anti-hero itu menarik. Dia yang tindakan dan pemikirannya berseberangan, tetapi di sini ia tidak sepenuhnya berada di sisi gelap," dan Fukumoto mengangguk-angguk karena perkataan Jitsui seakan-akan pria mewakili dirinya.

"Itu yang aku katakan tadi." Amari melanjutkan, "Sinar kegelapan."

"Kurasa inilah yang seharusnya disebut dengan paradoks," dan Miyoshi menambahkan, "Karena ternyata kegelapan itulah protagonisnya." Miyoshi tidak pernah menjadi humoris, tetapi perkataannya mampu mengundang gelak tawa.

"Ah, aku jadi teringat salah satu komik dari Benua Merah. Si ksatria kegelapan dan anti-heronya." Jitsui berkata demikian.

"The Joker."(3) Fukumoto menimpali.

"Tepat."

"Ya, kurasa aku tahu letak benang merahnya." Hatano kemudian berseloroh, "Keduanya pandai melucu."

"Setidaknya kita memang dibuat tertawa karena pemikirannya, 'kan. Terlebih lagi pemikirannnya tentang rela mati untuk orang lain, apa-apaan itu?"

"Ya, kau benar, Miyoshi," dan anehnya ternyata obrolan tentang Sakuma pulalah yang dapat membuat Hatano dan Miyoshi sepaham. Setidaknya kali ini. "Jika suatu saat aku sudah cukup hilang ingatan untuk bertahan hidup kurasa satu-satunya cara untuk mati yang bisa kulakukan adalah memanjat tebing ego Sakuma-san lalu terjun menuju IQ-nya."

Jika sesaat tadi Kaminaga lah yang terbahak-bahak, maka saat ini Amari yang berlaku demikian. Mulutnya bahkan seperti cerobong asap karena rokok yang dihisapnya. "Oh, astaga," dan pria itu sampai kehilangan kata-kata.

"Hatano, kalau begitu, bolehkah aku ucapkan 'selamat datang di neraka'?" Jitsui berkata demikian dan membuat tawa Amari semakin menjadi-jadi lalu mengaduh karena Hatano benar-benar menendang tulang keringnya.

"Terima kasih, Jitsui, atas sambutannya. Namun, bukankah itu berarti kau sudah terlebih dahulu berada di sana?"

"Tidak sebelum Miyoshi, kurasa." Jitsui berkata dengan tenang.

Miyoshi mencibir kata-kata Jitsui dan menanggapinya. "Kurasa kalian tidak tahu bahwa ada ungkapan yang terbaik mati pertama."

"Kalau begitu Sakuma-san akan menjadi yang terakhir."

"Namun, bukankah Sakuma-san adalah anti-heronya di sini? Itu berarti ia akan selalu berada di tempat yang berseberangan, 'kan?" kata-kata Tazaki membuat Miyoshi dan Hatano mendesah kecewa dan karena itu mereka diam-diam menyalahkan Jitsui.

Namun tidak lama karena setelah itu Jitsui berkata sembari menyeringai, "lalu sang penggerak utama memasang papan peringatan 'maaf sudah penuh'."

"Kalau begitu ..." Kaminaga kali ini angkat bicara. "Kurasa aku tidak akan ikut pergi ke neraka. Sebenarnya, aku lebih memilih kelahiran kembali," jika pria itu sedang bercanda, maka ia bercanda dengan serius.

Dengan raut heran Hatano membalasnya, "dan bertemu kembali dengan Sakuma-san? Apa menariknya?"

Bahkan tanpa berpikir dua kali Kaminaga menjawab, "selain otot perutnya ... menurutku pantatnya." Kaminaga terkekeh tanpa rasa bersalah karena telah sengaja menyalah artikan pertanyaan Hatano.

Perkataan Kaminaga bahkan membuat Odagiri yang sama pendiamnya dengan Fukumoto tersedak dan anehnya masih bisa bersyukur karena ia hanya tersedak ludahnya sendiri dan bukan tersedak cognac. "Apa-apaan itu?" Odagiri pada akhirnya ikut ambil bagian hanya karena perkataan Kaminaga. "Jangan bilang kau ... kalau kau ..."

Kaminaga menyela perkataan Odagiri yang terbata-bata, "kukira kautahu, Odagiri, sebagai salah seorang bekas prajurit. Don't ask don't tell," lalu pria itu mengedikkan bahunya dengan main-main tanpa memberi klarifikasi.

Miyoshi menatap Kaminaga dengan tajam. "Kukira sesaat tadi kau juga berandai-andai Sakuma-san menjadi wanita," dan sekali ini Miyoshi menjilat perkataannya sendiri.

"Ah, kurasa akan lebih mudah jika dia terlahir kembali menjadi wanita," lalu Kaminaga memulai monolognya.

"Sakuko-san, apakah kaujatuh dari surga?"

Tidak ada wanita yang tidak luluh oleh seorang perayu ulung semacam Kaminaga. Lalu, Sakuko dengan tawanya yang terkikik menjawab, "tidak, Kaminaga-kun. Aku tidak jatuh dari surga. Aku bukan malaikat. Aku..."

Namun, Miyoshi dengan secepat kilat menginterupsinya sebelum monolog Kaminaga semakin membuatnya mual, meskipun Jitsui dan Amari mendengarkan monolog Kaminaga dengan raut muka tertarik. "Apa kau bodoh, Kaminaga? Kurasa apapun jenis kelaminnya Sakuma-san tidak akan pernah sepintar itu untuk memahami rayuanmu."

"Hei, aku sudah dikatai bodoh dua kali hari ini."

Lalu Hatano menyahutnya, "Aku tidak keberatan membuatnya menjadi tiga kali atau lebih. Kau benar-benar bodoh, Kaminaga. Kaukira hanya malaikat yang jatuh dari surga?"

"Apa maksudmu, Hatano?" Kaminaga bertanya-tanya.

"Kau benar-benar bodoh karena tidak tahu bahwa iblis pun jatuh dari sana."

"Anti-hero, Kaminaga. Jangan lupakan itu." Tazaki tidak jemu untuk sekali lagi mengingatkan. Oleh karena itu Kaminaga mendesah kecewa, tetapi sebaliknya Hatano kali ini tertawa puas.

Mendadak Fukumoto menangkap sebuah fallacy dalam percakapan terakhir mereka dan untuk pertama kalinya mengungkapkan kalimat panjang, "Bukankah takdir Sakuma-san selalu berlawanan? Apakah itu membuat dia menjadi orang yang hidup di antara orang yang mati?"

"Sialan!" Hatano yang merasa berkali-kali dicurangi.

Namun, Miyoshi teringat akan Final yang memberikannya empat gerakan. Final yang memberikannya kegelapan, kesendirian, dan rasa putus asa karena orang-orang yang hidup ini dipaksa memahami satu hal, "Jika memang ada satu penggerak Utama, maka ia hanya memberikan satu ending. Ia menamainya sebagai kematian."

"Siapa yang mati?" Sakuma adalah seorang morning person. Ia sudah mengulang paginya untuk yang kedua kali ketika para agen D berada di kafetaria dengan gelas tulip berisi cognac murahan dan mendengarkan detik-detik jam di kafetaria yang masih sama seperti kemarin. Lelaki itu yang tiba-tiba masuk ke dalam kafetaria karena mendapati lampunya masih menyala pada pukul 4 pagi ini.

"Kau, Sakuma-san."

"Aku?" ada kebingungan yang kentara dalam suaranya.

"Ya, kau sebagai manusia."

Sakuma mendecakkan lidah. "Kalian membicarakan aku?" Sakuma menerjemahkan diamnya mereka sebagai ya. "Tidak kusangka kalian, yang mengaku sebagai pria, ternyata suka bergosip."

"Sakuma-san, siapa bilang hanya wanita yang bergosip? Kaulihat bahkan para pria pun juga melakukannya. Pasalnya, pria akan gagal menjadi pria karena dia mengingkari sisi femininnya."

"Kau …" Sakuma berkata dengan jengkel dan kejengkelannya hanya disambut tawa mengejek oleh para Agen D.

"Ah, hanya karena tidak ingin membuatmu salah sangka, Sakuma-san. Kami ini tidak seksis, kami hanyalah sekumpulan pria yang feminis.(4)

.

Catatan:

1. Jika suatu saat Anda tersesat di sini dan membaca fanfiksi pertama saya yang bergenre humor ini dan sama sekali tidak tertawa, maka jelas kesalahan terletak pada saya.

2. Terima kasih untuk google yang memberitahu tentang standar baku air minum.

3. Konsep tentang joker sudah dimulai sejak tahun 1928, tetapi muncul di komiknya pada tahun 1940.

4. Terinspirasi dari kata-kata seorang tokoh antagonis dari anime Gintama, Takechi Henpeita.

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca.