Sekarang, Karena

.

Peringatan: OoC dan AR

Disclaimer: Joker Game oleh Koji Yanagi dan diadaptasi oleh production I. G, sedangkan saya hanya mampu membuat fanfiksi yang ditulis secara random di tengah-tengah pandemi.

.

Angst

Seorang gadis kecil tumbuh dewasa lebih cepat dari kenangan. Emma Grane, yang kini telah tumbuh sebagai gadis remaja yang lebih dewasa dari umurnya yang sebenarnya, masih terjebak dalam ingatannya saat ia masih anak-anak. Seorang gadis kecil yang ditinggikan di pundak seorang pria agar rambutnya yang seterang sinar matahari terbit menyentuh sulur-sulur angin. Ia biarkan itu menghembus rambutnya. Seharusnya, ia memang Emma Grane dengan amis ikan dan rambutnya lengket karena garam yang terbawa angin lautan. Kemudian ia rentangkan kedua tangannya, seakan-akan memeluk sebuah tempat yang luber dengan keindahan. Diandai-andai tangan kecilnya mampu memeluk dunia.

Perasaannya seakan-akan bisa meledak karena suka cita. Sebuah rasa bahagia teramat sangat yang sulit dicerna bagi dirinya yang masih anak-anak. Ia yang masih terlalu lugu untuk memahami karena terkadang kebahagiaan datang sebelum kesedihan.

Ia yang hanya memahami bahagia dengan sederhana. Lautan membuatnya bahagia. Emma Grane memang tidak pernah asing dengannya. Ayahnya adalah pelaut, seorang kapten kapal kargo, yang jarang ditemuinya. Ayahnya bisa melakukan satu kali perjalanan yang memakan waktu sampai berbulan-bulan setelah itu bahkan tidak pernah pulang lagi, maka kehadiran seorang pria baik hati yang ia panggil sebagai paman Osamu, yang ia temui di atas kapal, menghangatkan hatinya.

"Akan kubeli hiasan rambut yang itu, yang terbuat dari bunga-bunga kamboja berwarna merah muda," pria itu membelinya dari salah satu penduduk lokal tempat kapal mereka berlabuh, di Oahu, Hawaii, yang menjajakan dagangannya di dermaga di sepanjang Perairan Mutiara dan itu yang kemudian dipasangkan di kepala seorang anak perempuan yang ditinggalkan ibunya.

"Kalian datang dari mana?" penjual itu bertanya-tanya melihat pria Asia beranakkan seorang gadis kecil Kaukasia.

"Datang dari jauh."

"Untuk berapa hari di sini?"

"Tidak lama."

Hari-hari mereka membuat Emma Grane bahagia. Ia yang selalu mengenal pagi dengan siulan panjang dan lumba-lumba yang muncul ke permukaan lautan, jauh dari rumahnya, atau jika keduanya kesiangan ia dan paman Osamu akan mengamati ikan-ikan yang menggesekkan sisik mereka yang warna-warni seperti pelangi pada karang-karang di tepi dermaga. Ia yang juga mengenal siang dengan bau asam jeruk dan nanas yang bercampur asin garam, setelah itu paman Osamu selalu mengizinkannya untuk memakan haupia yang manis selama beberapa hari berturut-turut yang ia yakin bahkan ibunya sendiri tidak akan mengizinkannya. Emma Grane berencana bahwa besok ia akan meminta gula-gula kapas merah muda yang semeriah gaunnya.

Besok, pada hari ke-23 ia terbangun di kasur penginapan yang disewa paman Osamu yang masih sama sempit dan murah, setelah ia bermimpi terjatuh dari awan-awan seringan kapas berwarna merah muda yang tidak cukup mempunyai keinginan untuk menahannya. Emma Grane terbangun dan ia tahu bahwa ia ingin melihat lumba-lumba. Emma Grane terbangun dan ia tahu setelah itu ia ingin memakan gula-gula kapas seringan awan dalam mimpinya. Emma Grane terbangun, tetapi ia tidak tahu bahwa ia telah ditinggalkan.

Lalu, akan ada yang hilang; warna abu, bekas puntung rokok yang dibuang diam-diam, dan lumba-lumba yang berkejaran. "Apakah Anda lihat seorang paman yang kehilangan gadis kecilnya bergaun merah muda?" Emma Grane bertanya kepada seorang wanita penjual hiasan kepala. Namun, yang ia dapatkan hanya kesedihan.

Apakah gadis kecil itu menangis? Ia coba tidak. Kesedihan memang sesekali membuatnya meneteskan air mata. Namun, ia benar-benar menangis saat ini, saat ia lihat sepuluh kuku jarinya patah dan berdarah dalam usahanya yang sia-sia, menggurat sepanjang parapet dermaga, menolak pemilik penginapan, tempat seorang paman baik hati pernah ada, menyeretnya tubuh kecilnya yang telah ditukarkan dengan sesuatu yang lebih penting untuk orang dewasa dan Emma Grane tidak ingin tahu apa.

Namun, ia tahu tentang kesedihan teramat sangat, yang seperti suka cita, seakan-akan itu membuat perasaannya bisa meledak. Akan tetapi, gadis kecil itu tidak marah. Ia bahkan sanggup memaafkan. Apapun itu, ia hanya ingin paman Osamunya kembali.

Emma Grane tidak pernah mengenal harinya yang seperti ini sebelumnya, kemarin selama paman Osamu berada di sampingnya. Abu itu tidak membentuk ombak yang menderu-debur saat sebuah kapal berlayar di kejauhan dan ia tidak ingin tahu tempat itu berlabuh kemudian. Ia pun yang tidak pernah mengenal harinya setelah itu yang dibuka dengan abu lisong dalam asbak atau kopi pada cangkir. Asing, bagi dia yang tidak berumah di sini. Sebuah tempat seorang gadis kecil ditinggalkan dan tumbuh sendirian.

Berapa usianya sekarang? 12 atau 15 mungkin. Ia tidak menghitungnya yang ia hitung hanyalah jarak interval antara bunyi siulan dan lumba-lumba yang tidak pernah lagi muncul kepermukaan. Oleh karena, ia sebagai seorang gadis remaja lebih suka diingat hari ulang tahunnya, tetapi tidak usianya.

Maka, fajar ini ia meminta untuk dipanggilkan lumba-lumba kepada seorang prajurit angkatan laut yang, seakan-akan, melihat putrinya yang ia tinggalkan di rumah dalam sosok Emma Grane. Pria itu yang selalu datang hanya untuk melihatnya dipekerjakan di penginapan. Kedekatan mereka terjalin karena terbiasa, tetapi bagi Emma Grane pria itu tidak akan pernah bisa menggantikan paman Osamu di hatinya.

"Kau selalu menginginkan yang sulit, 'kan?" Emma Grane hanya bisa tersenyum hambar. Memanggil lumba-lumba jelas bukan hal yang sulit jika itu paman Osamu. "Kenapa kau tidak memintaku melakukan pekerjaan yang mudah saja?"

"Apa itu yang mudah?"

"Memanjatkan doa."

Emma Grane mengangguk pelan, "Aku juga selalu memanjatkan doa."

"Benarkah?"

"Ya, kepada karang-karang vesper yang membentuk tangga batu bersampah," lalu Emma Grane melanjutkan, "Apa yang Anda minta dalam doa yang mudah?"

"Semoga matahari hari ini benar-benar terbit."

Gadis remaja itu mengamini di dalam hati. Fajar hari ini berwarna abu, awan mendung menggantung rendah, mungkin hujan akan tumpah. Hujan yang membawa Kates dan Vals jatuh memahat bumi. Di fajar hari, pada dermaga, pada kapal-kapal angkatan laut milik Amerika dari gumpalan mega yang jauh. Dari arah laut, hujan dari awan mendung menghelakan ombak, menyapa dermaga, dan memeluk pantai.

Kemudian, Emma Grane mendengar teriakan dan sumpah serapah dari prajurit-prajurit angkatan laut dan bahkan warga sipil daerah ini. Hujan yang datang sebelum membubuhkan teja. Gadis remaja itu melihat salah satu sinarnya yang merah. Ia melihat darah dari seorang pria yang sesaat tadi berdiri di sampingnya, memecahkan kepalanya.

Emma Grane tidak tahu bahwa ia secara spontan mendapati bayangannya berlari, meskipun ia tahu tidak ada tempat untuk bersembunyi. Mungkin Tuhan benar-benar suka dengan doa yang mudah, yang sederhana di masa-masa perang. Doa yang ia sematkan pada pucuk karang, lalu ia lihat kilat sejenak sebelum bom-bom itu meledak. Lalu, ia biarkan warna abu memilih harinya, hari ini, dan Emma Grane tahu apapun alasannya tidak akan ada air mata lagi.

.

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca.