Boruto dan Hyperdimension Neptunia bukan milik Author
Happy reading!
Seorang pemuda sedang berjalan pulang setelah melaksanakan kegiatan sekolah. Dia hanya berjalan sendiri sore itu…dan memang selalu sendirian jika pulang. Pemuda itu berjalan dengan kepala sedikit tertunduk pertanda dia sedang melamunkan sesuatu namun tidak melepas konsentrasinya selagi berjalan. Rambut kuningnya berkibar karena angin sore yang meniup tidak terlalu kencang. Kedua mata birunya masih menatap lurus kearah trotoar jalanan, pandangan yang sedikit kosong. Pemuda ini lalu menutup mata dan menghela napas lewat hidungnya.
Papan kayu yang bertuliskan 'Uzumaki' sudah terpampang jelas didepannya, ini adalah rumahnya. Pemuda itu lalu masuk pagar setelah itu menutupnya. Begitu sudah di dalam dia sedikit berteriak, "Aku pulang!".
Dia sudah tahu jika sahutan tersebut pasti tidak ada yang menjawab, dia tinggal sendiri. Sudah lima tahun sejak kejadian itu menimpanya, kejadian dimana orang tuanya dan adiknya meninggal. Setelah melepas sepatu, Pemuda itu menghela napas lagi lalu menapakkan kakinya menuju kamar . Dia tidak begitu ingin mengingat itu sekarang. Dia sudah berumur 17 tahun, sudah seharusnya dia menghadapi masa ini dan melupakan yang sudah lalu.
Kamar itu tidak terlalu besar tapi cukup nyaman. Rumah ini memang sudah sudah dia tinggali sejak kecil. Sejak kejadian itu, Pemuda ini sempat bingung akan masa depannya (setelah bersedih selama beberapa hari). Dikarenakan dia memiliki otak yang cukup cerdas, dia mendapat beasiswa untuk pendidikan dan biaya hidup (karena sudah yatim piatu) sehingga dia masih bersekolah sampai sekarang. Dalam program itu sebenarnya ada pilihan untuk tinggal di asrama, namun dia menolak itu karena masih ingin tinggal di rumah yang lama.
Setelah selesai menaruh barangnya, dia bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sambil menyegarkan pikirannya. Setelah selesai, dia mengambil pakaian casual yang dia gunakan di rumah, tak lupa memakai jaket hitam karena musim di luar sedang dingin.
Dia mendudukkan dirinya diatas kursi yang menghadap kearah meja belajarnya. Di meja itu terdapat komputer yang dia beli saat mendapat biaya beasiswa, lalu menyalakannya. Akhir-akhir ini, pemuda itu sempat berpikir kepada dirinya sendiri. Apakah dia memiliki cita-cita? Apakah dia sudah memiliki tujuan hidup?
"Apa yang aku inginkan? Apa yang aku perjuangkan sekarang?", pemuda itu melakukan monolog dengan dirinya sendiri.
"Aku merasa hidupku yang sekarang begitu kosong." pemuda itu menatap lurus lagi ke depan. Sebenarnya kehidupannya yang sekarang tidaklah buruk, tapi tidak bisa dikatakan bagus juga. Selama bersekolah, dia tidak begitu banyak berbicara kepada teman-temannya. Meski saat pekerjaan kelompok, pemuda itu pasti akan berbicara jika hal itu memang diperlukan. Teman-temannya semuanya mengerti itu dan memilih tidak mengusik kehidupan pemuda itu. Toh yang penting tidak terlalu pendiam amat lah. Jadi, pemuda itu sebenarnya tidak memiliki teman yang pasti atau bahkan tidak memiliki teman sama sekali. Dan pemuda itu baru menyadarinya sekarang, bahwa dia selalu sendirian.
"Tou-chan, Kaa-chan, Himawari. Aku baru tahu kalu aku ternyata selama ini sendirian. Hiks…" tanpa sadar pemuda itu meneteskan air matanya. Setelah kejadian itu, yang mana waktu itu umur pemuda itu adalah 12 tahun, dia memilih SMP yang tidak dipilih oleh teman-teman SDnya. Dia tidak begitu mengerti kenapa dia mengambil keputusan tersebut. Namun yang dia tahu, saat itu dia hanya ingin sendiri. Mencoba menelan semua kenyataan pahit tersebut, dan itu berlanjut hingga dia sudah SMA.
Pemuda itu masih menangis tertunduk sambil tangannya menutup kedua matanya, hingga dia mendapat pesan misterius yang muncul di layar komputernya. Pemuda itu mendongak, dengan mata yang masih basah karena air mata. Lalu dia segera mengambil tissue untuk memebersihkan sisa air mata itu, untuk membaca pesan apa yang dikirim khusus untuknya. Setelah selesai, dia mengklik pesan itu dan membacanya dengan tenang.
'Dunia ini sedang dalam bahaya! Apakah kamu akan menolongnya?'
". . ." pemuda itu terdiam.
"Huh? Apa maksudnya ini?"
Pemuda itu merasa dirinya seperti sudah di-prank. Disaat perasaannya tadi sedang dalam kesedihan yang mendalam, lalu muncullah pesan ini.
"Dasar, ini sih seperti iklan game yang sudah publish lalu ingin menggaet pemainnya. Tapi tunggu dulu, aku sudah lama sekali tidak bermain game kan? Jadi tidak apalah kucoba, mungkin saja ini game yang bagus."
Sebenarnya dalam pesan tersebut terdapat pilihan 'Ya' dan 'Tidak', serta dengan alamat pengirim yang tidak begitu jelas. Pemuda itu mengarahkan kursornya lalu memilih opsi 'Ya'.
Tiba-tiba saja layar komputernya memancarkan sinar putih terang yang hampir membutakan kedua mata pemuda itu. Sang pemuda langsung menutup matanya dengan cepat dan tangannya juga ikut menutupi wajahnya. Lalu secara tiba-tiba(lagi) mata sebelah kanannya terasa sangat panas hingga membuatnya kesakitan.
"AAAAHHHHH! Mataku! Ada apa inii!" selagi pemuda itu meringis, tubuhnya seperti melayang entah kemana karena dia sendiri pun sekarang tidak bisa melihat. Setelah sekitar 5 detik, rasa panas itu menghilang dan pemuda itu sudah merasa tidak kesakitan lagi. Saat dia mencoba membuka matanya, bukan layar komputer yang ada didepannya, melainkan langit biru yang cerah.
Pemuda itu dengan cepat membelalakkan matanya dan langsung bangkit terduduk, jadi selama ini dia sedang terbaring. Dia menyadari dia bukan diatas kursi, namun rumput yang tidak terlalu panjang. Dia melihat sekeliling, dia tidak mengenal tempat ini.
"Aku ada dimana?"
.
.Timeskip
.
Pemuda itu sudah berjalan hampir sekitar 15 menit dengan tanpa alas kaki dan tanpa alat apapun yang bisa membantunya sekarang ini. Yang dia tahu, dia bangun didalam daerah hutan yang tidak gelap dan dengan baju yang masih sama saat seperti di kamar. Otaknya masih belum bisa mencerna apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya dan kenapa dia bisa berada disini. Saat dia sedang mencoba memahami situasinya sekarang, dia mendengar suara.
Blop…blop…blop
Dia mengarahkan pandangannya menuju sumber suara, lalu dia melihat makhluk kecil berukuran kucing berwarna biru dengan bentuk sepeti slime dalam game dengan bagian atas mencuat berbentuk runcing. Pemuda itu melihat kalau wajah dari makhluk itu seperti perpaduan beruang dan anjing? Tapi itu bisa dikesampingkan dulu. Pemuda itu masih siaga di tempatnya. Makhluk itu melompat-lompat menghampiri dirinya, setelah semakin dekat pemuda itu langsung merasakan adanya bahaya dari makhluk tersebut sehingga dia langsung berlari menuju pohon terdekat lalu mengambil ranting yang cukup kokoh yang dia jadikan sebagai senjata.
Makhluk biru itu masih melompat menuju pemuda itu untuk menyerang, sedangkan pemuda itu sedikit ketakutan karena dia tidak pernah sekalipun melakukan yang namanya perkelahian apalagi pertarungan. Namun karena ketakutan itulah, badannya bergerak sendiri lalu dengan sekuat tenaga dia memukul makhluk tersebut tepat pada bagian kepalanya.
"Hyaah!", yang mengejutkan, makhluk itu terlempar dan mencair menjadi gel yang menandakan kalau makhluk tersebut sudah mati.
Pemuda itu duduk tersungkur, keringat dingin membasahi wajahnya. Lalu menatap tangannya sendiri. "Aku mengalahkannya," ucapnya pelan. Yang tidak pemuda itu tahu, ada seseorang yang sudah mengamatinya sedari tadi.
"Apa kau tidak apa-apa?" suara yang tak dikenal itu membuat terkejut sang pemuda.
Pemuda itu menoleh dengan cepat dan dia melihat seorang gadis yang memiliki mata dan rambut berwarna lilac, rambut itu terurai sepanjang punggungnya dan gadis itu memiliki kulit yang putih. Dengan baju yang dia kenakan mirip seperti sailor dress berwarna putih dengan aksen ungu, mengenakan stocking yang memiliki corak stripes berwarna putih-ungu juga, ditambah dengan klip rambut yang berbentuk d-pad. Lalu memakai sejenis sepatu boots dengan corak yang senada putih-ungu.
Gadis itu sedikit membungkuk agar menyamakan tingginya dengan pemuda itu. Pemuda itu mencoba bangkit, tapi sebuah uluran tangan menghentikannya. Pemuda itu menerima uluran tersebut. "Terima kasih, dan aku tidak apa-apa. Kau siapa?"
Gadis itu hanya tersenyum lembut setelah membantu pemuda itu berdiri. Setelah itu, gadis itu meletakkan kedua tangannya di balik tubuhnya. "Namaku adalah Nepgear. Apa aku boleh tahu namamu?"
Pemuda itu tertegun sedikit sambil menjawab pertanyaan gadis itu dengan datar, "Tentu, namaku adalah Boruto Uzumaki."
