Chapter 2 disini! Mungkin bingung kenapa milih Boruto, bukan Naruto? Well, karena Naruto udah terlalu mainstream dan...udah sih cuma karena mainstream. Dan sebenarnya dari karakter design, gw lebih suka Boruto (yang ada di eps 1). Dan karena rambutnya lebih panjang aja dari naruto, kan keren klo kena angin rambutnya bisa kemana2 :D

Jawab review dikit

Ittenryu69 : hmm mungkin ini boruto ooc karena dia agak pendiam (banyak mikir). Dan untuk story sebenarnya ini buatan sendiri, jadi gak ada referensi dari game atau yang lain. Pure ide sendiri klo dari segi story :)

Kalo gitu, Happy reading!


Boruto POV

"Kau bilang ini dimana?"

"Ini adalah Virtua Forest, bagian dari Planeptune." Dia menjelaskan.

Aku hanya bisa menyernyit bingung, memangnya ada nama tempat seperti itu?

Gadis yang bernama Nepgear sepertinya tahu jika aku seperti tidak mengikuti pembicaraan ini.

"Kau memangnya dari mana?" tanya gadis itu sembari berjalan beriringan bersamaku. Aku tidak tahu kemana arah perjalanan sehingga saat gadis itu menawarkan untuk ikut bersamanya, aku hanya mengangguk.

"Aku berasal dari Konoha. Kau tahu itu?" tanyaku sambil menoleh kearah Nepgear.

Dia hanya menggeleng, "Aku tidak tahu itu dan itu baru pertama kali kudengar."

Aku kembali berpikir, mungkinkah jika memang terjadi 'itu'. Aku hanya masih berspekulasi, petunjuk untuk 'itu' belum begitu banyak. Yang kumaksud 'itu' adalah aku ke dunia lain.

"Tanah yang kita pijaki ini namanya apa? Kau bilang ini adalah Planeptune, maksudku kontingen yang lebih luas," aku mencoba untuk bertanya tentang hal umum.

"Planeptune adalah sebuah nation, dari beberapa nation jika digabung adalah Gamindustri," dia menjelaskan. 'Beberapa nation?'

"Jadi ada nation selain Planeptune? Dan ini bukan di Bumi?" aku bertanya lagi.

"Iya, selain Planeptune ada tiga nation lagi yang ada di Gamindustri. Disini bukan bumi, dan aku baru mendengar lagi kata itu."

Aku hanya bisa diam, semakin aku bertanya malah semakin banyak yang memasuki otakku. Ini hanya akan membuat pusing, mungkin saja ada seseorang yang bisa menjelaskan sesuatu padaku. Aku menopang dagu sambil menatap kedepan.

"Ngomong-ngomong, tadi Boruto-kun mengalahkan Dogoo ya? Kamu cukup hebat mengalahkannya hanya dengan tongkat kayu," pernyataan itu membuatku menoleh. Aku dipanggil dengan nama dan 'kun'? Seperti di Jepang saja. Aku juga pernah mendengar kalau seseorang memanggilmu dengan nama, itu artinya dia ingin membuat suatu pendekatan seperti teman. Aku hanya diam selama lima detik.

"Apa itu makhluk berwarna biru tadi? Aku sebenarnya sedikit ketakutan tapi tubuhku bergerak dengan sendirinya," jadi makhluk tadi namanya Dogoo. Tentu saja aku ketakutan karena itu adalah pertarungan pertamaku.

"Itu cukup mengesankan, Dogoo adalah monster paling lemah di Virtua Forest," dia memujiku dengan pipi yang agak kemerahan. Mungkin dia cukup pemalu?

"Begitukah? Untunglah aku tidak bertemu monster yang lebih kuat," ucapku datar. Gadis itu hanya tertawa pelan.

"Apa kamu tidak apa-apa berjalan tanpa alas kaki seperti itu?" Ups, aku lupa jika aku hanya telanjang kaki sedari tadi.

"Umm…sebenarnya…"

Srek…srek…srek

"Hm? Suara apa itu?" Nepgear tiba-tiba siaga akan situasi. Aku hanya diam sambil mataku menyisir sekeliling. Dari ekor mataku, aku melihat semak yang sedikit bergoyang. Mataku terpaku pada semak tersebut. Nepgear juga sepertinya sudah mengunci targert yang sama.

Nepgear mengeluarkan sesuatu, sebuah gadget yang mirip seperti game console lalu dia mengetik melalui benda tersebut. Tiba-tiba muncullah sebuah benda yang mirip dengan pedang namun sedikit pendek.

"Pakailah ini Boruto-kun," kata gadis itu sambil menyerahkan pedang pendek itu. Aku hanya menurut dan mengambil benda yang dimaksud. Pedang yang cukup ringan karena mungkin dari ukuran yang cukup pendek. Tapi tetap saja aku masih belum terbiasa dengan benda ini, setidaknya ini lebih membantu daripada tongkat kayu.

Kita berdua mencoba mendekati semak itu. Nepgear mengeluarkan semacam pedang plasma yang dia menyebutnya 'beat saber' dan aku memegang pedang. Setelah cukup dekat, tiba-tiba dari semak tersebut keluar dua makhluk berwarna biru dengan ukuran sedikit lebih besar dari yang pertama kali kutemui.

"Dua Dogoo? Kita bisa mengabisinya Boruto-kun," dia melihatku dari ekor matanya. Aku hanya mengangguk. Dan rasa takut itu mulai menyusuri setiap inci tubuhku.

Nepgear dengan cepat melesat maju dengan ayunan beat saber yang menyamping menuju satu Dogoo yang ada didepannya. Dogoo itu langsung terbelah dan mati menjadi cairan gel. Sisanya adalah targetku. Aku masih sedikit ragu untuk maju sehingga aku butuh beberapa saat untuk memulai serangan.

Dogoo itu mulai melompat menuju kearahku, lalu aku memiliki sedikit ide. Disaat Dogoo itu berada diatas karena lompatannya, aku mencoba untuk mengayunkan pedangku dari atas kebawah. Ternyata seranganku berhasil namun masih belum membuat mati Dogoo. Aku sedikit panik dan dengan reflek aku sedikit mundur untuk membuat jarak.

Nepgear sepertinya tidak membantu, aku paham maksudnya. Dia ingin memberiku kesempatan untuk mengabisi targetku sendirian, meskipun tercetak raut wajah yang khawatir. Aku hanya mengangguk padanya menandakan semua berjalan sesuai rencana, aku tidak mau direpotkan oleh orang lain. Meski ada sedikit keringat dingin mulai mengaliri wajahku.

Aku mencoba maju lagi kali ini tanpa menunggu gerakan dari Dogoo dan membuat sebuah serangan menyamping persis seperti yang dilakukan oleh Nepgear. Sesuai dugaan, Dogoo targetku mengenai serangan tersebut dan mati menjadi cairan gel.

Aku hanya memandang kedepan dan tanpa kusadari sedari tadi nafasku sudah berat. Nepgear mendekatiku dengan perasaan senang, "Kamu mengalahkannya, Boruto-kun!"

Setelah memandangnya sebentar aku menjawab, "…sepertinya begitu."

"Untuk seorang pemula, itu adalah serangan yang cukup bagus," dia menambahkan. Aku kembali melihat gadis yang lebih pendek dariku itu. Sebenarnya aku sedikit tersanjung dan tanpa sadar aku menggaruk belakang kepalaku.

Dan tanpa disadari oleh kami berdua seekor makhluk biru yang ukurannya kali ini setinggi 2 meter tiba-tiba saja muncul dari belakang Nepgear.

Mataku terbelalak lebar dan aku tidak tahu harus berbuat apa. Nepgear masih belum menyadari keberadaan Dogoo raksasa itu. Kali ini bukan rasa takut, emosiku tercampur aduk.

Dalam waktu yang cepat, mata kananku terasa hangat dan tiba-tiba saja aku sudah tepat berada dibelakang Dogoo raksasa itu tanpa membalik badan. Aku bisa mendengar bunyi mencairnya dari Dogoo raksasa itu menjadi gel. Lalu setelah itu pandanganku menggelap...

...dan sebuah suara menggema di otakku.

'Blade Dance'

.

.

.

Yang aku tahu setelah itu adalah aku membuka mataku dan pandanganku masih dengan pohon rindang yang berada di hutan yang tidak gelap, Virtua Forest. Aku mencoba untuk bangkit tapi sebuah suara tiba-tiba mengintrupsiku.

"Kamu jangan bangun dulu Boruto-kun! Kamu masih butuh istirahat," yang ternyata adalah Nepgear. Aku tidak menyadari jika sedari tadi dia berada di sampingku. Aku kembali terbaring.

"Setidaknya aku ingin mencoba duduk," kataku sambil bangun dari telentangku. Aku merasa biasa tapi pandangan khawatir dari gadis itu sedikit membuatku tidak nyaman.

"Ada apa memangnya?" aku sedikit bingung.

"Tadi kamu saat sebelum pingsan…" Nepgear menjelaskan jika aku bergerak secepat kilat dan langsung mengabisi Dogoo raksasa dalam sedetik, yang mana itu sangat mengejutkan.

"Lalu sesaat aku melihat jika matamu berubah warna menjadi putih, maksudku mata kananmu," aku menaikkan alisku. Mataku? Tunggu, kalau tidak salah mata kananku terasa hangat. Apa karena itu?

Aku masih tetap terdiam, gadis itupun sama, tidak tahu lagi apa yang harus dikatakan.

"Hey Nepgear, bagaimana kalau ketempatmu itu, yang bernama Basilicom?"

Nepgear yang tadi menunduk, melihatku dengan tatapan biasa kembali. "Ya, mungkin kamu bisa menemukan jawaban dari pertanyaanmu."

"Kalau begitu, ayo kita berangkat," sembari mencoba berdiri.

"Kamu tidak apa-apa?" Nepgear masih mengkhawatirkan keadaanku. Itu terkesan cukup baik bagiku karena baru kali ini aku diperhatikan oleh seseorang.

"Aku baik-baik saja Nepgear," aku mengulurkan tanganku untuk membantunya berdiri.

.

.

.

Sampailah kami di tempat yang menurutku mirip dengan gereja namun dengan aksen yang futuristik dan modern. Nepgear mengatakan kalau disinilah yang namanya Basilicom, tempat dimana Goddess itu tinggal. Memang ada banyak sekali pertanyaan dibenakku sedari tadi. Aku tidak panik, dan memang tidak perlu, karena ini bukan mimpi dan mungkin ketakutan terbesarku akan terjawab.

Saat kami sudah menyusuri sebuah ruangan, yang aku pikir mungkin disini adalah ruang tengahnya, aku sedikit dikejutkan oleh sebuah suara.

"Ada yang ingin mengambil tubuh saudaraku! Gear, menjauh dari dia!" Aku dan Nepgear menoleh menuju sumber suara. Aku melihat seorang gadis lagi. Jika diperhatikan, dalam sekilas orang-orang pasti akan mengira jika dia adalah seperti saudara kembar dari Nepgear.

Gadis itu memakai hoodie jaket berwarna putih-ungu, stocking bermotif stripes berwarna putih-biru muda, sepatu berwarna ungu, dan dua klip rambut berbentuk d-pad yang ada di rambutnya. Rambutnya hanya sebahu berwarna sama dengan Nepgear, matanya pun sama. Gadis itu juga lebih pendek dari Nepgear. Lalu tadi dia menyebut Nepgear 'saudara', satu pertanyaan sudah terjawab.

Dia berlari kearahku, ingin menyerangku karena sepertinya aku dianggap lelaki mata keranjang olehnya. Aku tidak mengeluarkan sepatah kata pun sambil membuat pose bertahan.

Tapi sebelum hal buruk terjadi, Nepgear dengan cepat berada didepanku. "Jangan Sis! Dia tadi tersesat di Virtua Forest dan aku membantunya. Dia juga tadi sedikit menolongku."

Gadis yang tadi hendak menyerangku otomatis berhenti, lalu ada sepertinya ada orang lain lagi yang masuk.

"Neptune! Jangan suka membuat keributan! Sudah berapa kali aku member…Eh?" jadi dia (saudara Nepgear) bernama Neptune. Lalu yang memanggil Neptune barusan, adalah seorang gadis yang memiliki rambut berwarna coklat panjang dengan iris mata berwarna hijau. Dengan setelah baju berwarna hitam dan memakai jaket biru yang menurutku terlalu besar. Ditambah dengan boots berwarna sama dengan jaketnya. Dia memakai klip rambut yang berbentuk seperti daun.

"Kita tidak tahukan apa yang dia pikirkan! Mungkin saja dia ini diam sambil memikirkan hal-hal mesum!" Neptune yang tidak sedikitpun menurunkan volume nya masih berpikir demikian karena aku belum mengetakan apapun.

"Ada apa ini? Apa terjadi sesuatu?" seorang gadis lagi, kali ini memiliki rambut berwana jingga dengan mata berwarna sama. Dia memakai sweater putih(mungkin) dan rok mini dengan stocking hitam dan sepatu putih. Kenapa aku selalu mendeskripsikan setiap orang yang kulihat?

"Umm…siapa dia?" tanya gadis berambut coklat sambil menunjuk kearahku.

"Dia adalah Boruto. Kenalkan, ini Neptune, ini IF, dan ini Compa," Nepgear maju sambil memperkenalkanku. Untuk si saudara kembar, aku sudah tahu jika namanya adalah Neptune. Gadis berambut coklat adalah IF, lalu gadis terakhir adalah Compa.

"Namaku adalah Boruto Uzumaki," aku berinisiatif untuk mengeluarkan suaraku, tapi hanya itu yang kukatakan.

"Kenapa kau membawanya kemari, Nepgear?" tanya IF sedikit penasaran.

"Itu karena…dia agak aneh. Dia, seperti tidak berasal dari sini."

"Aha! Aku sudah tahu jika dia memiliki pemikiran aneh-aneh!" Neptune tiba-tiba saja mencoba menyerangku lagi.

Nepgear yang sepertinya salah ucap, mulai panik. "Bukan aneh seperti itu! Maksudku, situasinya. Aku berpikir kalau Histoire mungkin bisa menjawab."

Histoire? Kalau dari pernyataan Nepgear barusan, mungkin orang yang bernama Histoire ini tahu apa yang terjadi denganku.

Dan setelah itu, akupun diajak untuk menemui Histoire. Aku berharap setidaknya akan adanya petunjuk yang bisa diberikan kepadaku. Ya, aku berharap.


End of chap 2. Kalo ada yang masih bingung dengan mata putih Boruto, bisa dilihat di episode 1. "Jougan"(?) Tapi untuk kekuatan dari mata ini hanya buatan sendiri, bukan dari anime. Jadi ini "Jougan" versi story disini, tapi ga akan disebut "Jougan" di chap depan. Pahamkan?

Alright, pls review?