Alright, Happy reading!


Boruto POV

Disaat aku sedang berjalan dengan yang lainnya, aku bertanya kepada gadis disebelahku, Nepgear. "Umm..Nepgear, saat kau bertemu denganku, sebelumnya kau sedang apa?"

"Hm? Aku sedang melakukan quest, memangnya ada apa?" Gadis itu memberikan tatapan bertanya-tanya.

"Tidak ada apa apa," jawabku lalu kembali menatap kedepan. Aku masih bisa merasakan tatapan itu masih tertuju padaku, tapi aku tidak terlalu memperdulikannya. 'Quest' ya? Seperti game RPG, meskipun aku tidak pernah memainkan satu.

Saat memasuki ruangan yang tidak kukenal, pemandangan yang cukup aneh terjadi didepan mataku. Terdapat seseorang perempuan yang duduk diatas buku terbang. Memang sejak aku berada disini semua hal menjadi tidak masuk diakal. Perempuan yang berada disana lebih mirip peri dibanding dengan manusia karena ukurannya.

"Histoire! Ada tamu aneh datang!" Neptune yang berada dibelakangku memanggil seseorang yang mungkin memang didepanku.

Perempuan yang dimaksud oleh Neptune memalingkan wajahnya kepada kami, aku berasumsi dia tadinya sibuk. Histoire langsung menatapku ketika melihat kami.

Aku yang ditatap berpikir mungkin aku harus memperkenalkan diri.

"Namaku Boruto Uzumaki, sebuah kehormatan bertemu denganmu."

"Tidak perlu terlalu formal, namaku adalah Histoire, Oracle Planeptune," jawabnya.

"Oracle?" tanpa sadar aku bertanya.

"Oracle adalah sosok yang bertanggung jawab demi nationnya, selain CPU," jelas Histoire. Lalu ada satu istilah baru lagi yang muncul.

"Maaf jika aku tidak tahu. Apa itu CPU?" Aku tidak ingin disebut orang kurang ajar, karena itu aku bertanya sesopan mungkin.

"CPU adalah Console Patron Unit yang juga bertanggung jawab terhadap nationnya, tapi berbeda tugas denganku. Contohnya adalah Neptune," jelasnya lagi.

"Yap! Itulah aku," Neptune dengan bangga menunjukkan dirinya didepanku.

"Tapi kamu tidak pernah mengerjakan tugasmu sebagai Goddess, yang mana berakibat pada penurunan share dari Planeptune," Histoire terlihat menasehati Neptune.

"Pasti akan aku kerjakan jika memang aku lagi mau!" Neptune sedikit membantah.

"Dan itu tidak pernah terjadi." kalimat terakhir Histoire tidak hanya membungkam Neptune, namun juga lainnya. Bedanya meraka mengangguk setuju dengan pernyataan Histoire.

"Lalu anak muda, ada apa kamu ingin kesini?" Histoire meluruskan topik yang sempat berbelok. 'Anak muda'? Jangan-jangan dia lebih tua dari yang terlihat.

Aku mulai menceritakan bagaimana aku bisa berada disini, tepat dari saat aku dikamar rumahku. Histoire tidak memotong sedikitpun saat aku bercerita.

"Begitulah aku bisa berada disini, yang aku khawatirkan adalah aku benar-benar pindah kedunia lain, yaitu kesini," aku menyelesaikan ceritaku. Aku memang membiarkan selain Histoire untuk mendengarkan ceritaku agar lebih mudah saja untuk kedepannya.

"Hmm…" Histoire menyentuh dagunya dengan telunjuk. "Kalau memang seperti itu yang terjadi denganmu, aku tidak bisa mengatakan kejadian lain selain 'pindah ke dunia lain'."

Itulah yang dia katakan, aku merasa otakku berhenti sejenak.

Beberapa saat dia menambahkan, "karena menurutku ini adalah kejadian yang baru pertama kali terjadi, tapi…"

Tiba-tiba saja dia menggantungkan kalimatnya.

"Jika kuamati dari waktu kamu pindah kesini, sensasi yang terjadi sama seperti tiga tahun yang lalu."

"Apa maksudmu Histoire?" Compa yang daritadi mendengarkan memberikan pertanyaan.

"Tiga tahun lalu, terdapat sensasi yang kuibaratkan dua benda yang saling bertubrukan atau memang dipaksa bertubrukan. Lalu sensasi itu terjadi lagi tadi yang bersamaan dengan munculnya pemuda ini."

"Err...tapi, itu tidak menjelaskan apapun," kali ini IF yang tidak mengerti, memang yang lain juga tidak mengerti sih.

Aku yang paham artinya mencoba menjelaskan,"dua benda bertubrukan, kemungkinan besar adalah dua dunia yang saling bersentuhan sehingga tercipta gerbang yang dapat menghubungkan dua dunia tersebut. Apa seperti itu?"

"Ya, itulah kejadian yang kemungkinannya paling besar," Histoire menyetujui.

Nepgear menyela, "Tapi, kalau memang seperti itu. Seseorang yang muncul pada waktu tiga tahun lalu itu siapa?"

"Karena sensasi itu terasa sangat lemah, aku tidak bisa menjelaskan banyak. Petunjuk yang terlalu sedikit. Oleh sebab itu aku bilang ini mugnkin adalah kejadian yang pertama, karena dia muncul", yang dimaksud 'dia' adalah aku.

"Begitu ya…" Nepgear terlihat masih penasaran dengan kejadian yang mirip terjadi denganku itu.

.

.

.

Akhirnya aku mengetahui sedikit tentang dunia ini. Setelah melakukan pembicaraan yang rumit, Histoire menyuruhku untuk tinggal di Basilicom yang mana aku menyetujui. Selain aku tidak punya tempat tinggal untuk duniaku yang sekarang, aku juga bisa bertanya sesuatu tentang Gamindustri pada orang-orang (gadis-gadis) disini.

Aku diantar menuju kamar milikku oleh Nepgear. Saat kami sedang berjalan, aku merasakan tatapan gadis itu dari ekor mataku. Aku menoleh padanya, namun dia buru-buru melihat kearah lain.

"Ada apa?" lebih baik kutanya agar lebih jelas daripada hanya diam saja.

"T..tidak. Aku hanya penasaran dengan garis pipimu itu," aku menaikkan alisku. Sebenarnya aku ingin memilih diam saja. Tapi aku juga membayangkan jika seseorang hanya diam saat ditanya rasanya agak memalukan bukan?

"Ini? Mungkin ini tanda lahir? Karena ayahku juga memilikinya. Bisa dibilang ini hasil keturunan, apa menurutmu itu aneh?"

"Sama sekali tidak, aku menganggap itu unik," dia tersenyum padaku. Ternyata ada juga orang sependapat denganku.

"Tadi kalau tidak salah Histoire menyebut Goddess. Apa dia itu CPU juga?" pertanyaan yang terlintas dibenakku, aku tidak sempat bertanya pada saat berbicara dengan Histoire.

"Ya, dan aku juga Goddess," come to think of it, Nepgear adalah saudara dari Neptune. Aku baru memahaminya.

"Jadi kau juga CPU?"

Dia menggeleng,"bukan, setiap nation hanya memiliki satu CPU saja. Aku hanya CPU candidate. Yang berarti aku adalah penerus untuk CPU selanjutnya menggantikan kakakku."

Neptune yang terlihat seperti anak kecil adalah kakak dari Nepgear? Aku hanya ingin mengatakannya sekali lagi kalau memang sejak aku berada disini semua hal menjadi tidak masuk diakal. Tapi, setelah aku pindah kesini juga aku merasa kalau aku sedikit banyak bicara. Jujur itu bukanlah karakterku.

Beberapa saat setelahnya aku dihadapkan pada sebuah pintu.

"Nah ini adalah kamarmu, Boruto-kun. Kamarku adalah yang diujung, jadi jika kamu membutuhkan sesuatu bisa cek saja kesana atau biasanya aku ada dibawah," jelasnya sambil menunjuk kamar yang dimaksud. Kamar-kamar disini memang ada dilantai atasnya dari ruangan tempatku sempat mengobrol dengan Histoire.

"Um...terima kasih sudah membantuku banyak. Aku tidak tahu harus berbuat apa, jadi kalau kau minta bantuan juga bisa datang padaku selama aku bisa membantu pastinya," tentu saja mendapatkan sesuatu sesulit tempat tinggal, apalagi dibantu oleh orang lain. Aku merasa hanya seperti beban.

"Tidak apa-apa Boruto-kun! Aku, maksudku kita memang membantu karena keinginan dari kita sendiri. Dan untuk tawaranmu, aku sangat menghargai itu. Untuk sekarang kamu beristirahat saja dulu," ucapnya sambil tersenyum.

"...Baiklah," aku melambaikan tangan kepada Nepgear lalu mulai masuk kedalam kamar.

"Selamat beristirahat," itu adalah kalimat terakhir yang kudengar sebelum menutup pintuku.

.

.

.

Dari jendela terlihat kalau hari sudah petang. Aku hanya berbaring di spring bed yang sudah tersedia setelah aku membersihkan diri. Aku lupa jika aku hanya memakai satu setelan baju plus jaket. Menurutku itu tak masalah, itu bisa dipikirkan untuk besok.

Aku pindah ke dunia lain, dan beberapa kali aku memikirkan itu, aku masih belum sepenuhnya percaya. Aku juga berpikir bagaimana dengan 'dunia sebelah sana' setelah kehilaganku, akankah berubah banyak? Hmm sepertinya tidak juga. Lagipula aku tidak bisa melakukan apapun, menangis tersedu-sedu juga bahkan tidak mengembalikan keluargaku. Mungkin memang aku harus menghadapi masa sekarang dan melupakan yang lalu, yeah.

Semua hal yang kualami sampai sekarang tanpa sadar membuat tubuhku lelah dan aku pun tertidur.

.

.

.

Aku terbangun di sebuah ruangan yang tidak familiar bagiku. Oh benar, aku kan tidur di Basilicom. Ruangan ini begitu gelap karena tadi belum sempat kunyalakan lampunya. Selain itu, diluar terlihat jika ini masih malam.

Aku memegang perutku, aku belum makan hari ini. Aku ingin menemui Nepgear tapi aku sedikit sungkan. Tapi lebih gawat lagi jika aku tidak makan.

Aku keluar dari kamarku, lorong ini cukup terang namun seperti tidak ada orang. Mungkin yang lain masih tidur. Aku menuju pintu kamar Nepgear lalu mengetoknya, tidak ada respon. Mungkin dia ada dibawah? Tapi sesaat aku ingin membalikkan tubuhku, aku sedikit dikejutkan oleh suara.

"Boruto-kun?"

Aku menoleh dengan cepat dan tak kusangka didepanku sudah muncul gadis yang sedang kucari.

"Sedang apa kamu tengah malam begini? Apa butuh sesuatu?" Nepgear memiringkan kepalanya.

"Sebenarnya aku daritadi belum makan, jadi…" aku merasa cukup malu sekarang, tanpa sadar aku menggaruk belakang kepalaku yang tidak gatal.

"Oh...tidak! Kenapa kamu tidak bilang daritadi? Lebih baik sekarang ikuti aku," gadis itu sedikit panik. Aku tak menyangka reaksinya akan seperti itu. Aku mengikutinya dengan berjalan beriringan.

Aku berpikir sejenak. Nepgear juga, sedang apa tengah malam begini?

"Aku tadi mengurus sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaanku sebagai CPU, lalu saat aku ingin kembali ke kamar, ada kamu." Hm? Dia bisa membaca pikiranku?

"Oh begitu, CPU candidate juga bertanggung jawab untuk nationnya ya?" Aku sedikit menimpali.

"Iya, karena aku adalah penerus. Jadi, sebagai persiapan?"

Aku sedikit mengangguk tanda bahwa aku mengikuti pembicaraan ini.

Setelah aku selesai makan, aku mencuci piring bagianku. Ini adalah caraku berterimakasih jika disuguhi makanan ditempat orang lain.

Saat aku kembali ke ruang tengah, aku melihat Nepgear sudah tertidur diatas sebuah sofa. Kepalanya tersandar pada sebuah cushion besar. Well, dia sudah bekerja seharian dan juga sudah membantuku. Setidaknya aku ingin membantunya juga, selain setelah mencuci piring.

Secara pelan aku mengangkatnya dengan bridal style, dan aku tak menyangka aku bisa mengangkatnya. Tubuhnya ternyata tidak berat maupun ringan. Saat sedang berjalan menuju kamarnya, aku melihat wajahnya sekilas. Dia tampak seperti….tersenyum? Aku tidak terlalu menghiraukannya.

Setelah kubaringkan di tempat tidurnya, aku memakaikan selimut untuknya lalu aku keluar.

Sesaat sebelum keluar, aku berhenti sebentar sambil berbalik.

"Selamat malam," ucapku pelan.


End of chap 3.

Mungkin ada yang blum nyadar kalo Boruto disini agak pinter menghadapi situasi, ada yang nyadar juga? Karena di part awal kan emang otak dia udah encer jadi gak aneh klo dia bisa cepat memahami pembicaraan. Ini cuma sedikit catatan aja sih. Anyway, thanks yang masih baca sampai sekarang! Meski ini adalah crossover yang paling aneh yang kalian lihat, tapi mencoba hal baru bukan sesuatu yang salah bukan. Apalagi MC nya disini itu Boruto, tambah kacau deh XD. Ups cuma bercanda.

Review?