Chap 4. Happy Reading!


Sudah seminggu sejak Boruto mengalami kejadian 'pindah kedunia lain'. Dan dalam seminggu juga dia membantu Neptune dan Nepgear melakukan quest, meskipun dia masih sedikit ragu akan kemampuannya dalam menghabisi monster di Virtua Forest. Kali ini senjata yang pemuda itu gunakan adalah pedang ninja, bentuknya mirip seperti katana namun pedang ninja adalah pedang yang lurus. Pemuda itu sudah sedikit melatih senjatanya sendiri dengan beberapa saran dari Nepgear karena tipe senjata mereka yang hampir mirip.

Selain menghabisi monster, ada juga quest mencari sebuah barang/item yang sedikit sulit ditemukan. Boruto sedikit dipusingkan selain menghabisi monster, yaitu kelakuan Neptune yang mirip anak kecil membuat dia dan Nepgear sering sekali menepuk jidatnya. Mengerjakan kegiatan outdoor memang bukan kebiasaan pemuda itu, namun untuk menghadapi kenyataan dia harus berubah. Beradaptasi bahasa simpelnya, meski sedikit sulit bagi pemuda berambut pirang itu.

Setelah melaporkan quest yang sudah diselesaikan di guild, mereka bertiga berjalan pulang menuju Basilicom. Compa dan IF juga melakukan quest, tapi mereka melakukan quest yang berbeda dengan kelompok Neptune.

"Hey, lusa aku akan pergi ke Leanbox. Apa kamu mau ikut?" Neptune tiba-tiba saja melempar pertanyaan kepada Boruto sambil menyikutnya.

Pemuda itu menoleh, "Leanbox? Apa itu sebuah nation seperti Planeptune?"

"Iya, perjalanannya mungkin tidak sebentar untuk sampai kesana. Sis, mau melakukan apa disana?" Nepgear menjawab pertanyaan Boruto.

"Aku ingin menantang Vert bertarung dalam sebuah game RPG yang baru saja rilis! Kita sudah berjanji akan melakukannya dan aku sudah membeli game itu kemarin!" jelas Neptune. Pernyataan ini jelas membuat pusing lagi saudaranya sendiri, tapi kebiasaan ini memang sudah sering kali terjadi.

Boruto hanya diam, 'RPG? bukankah kalau bertarung seharusnya genre action? Dan juga siapa itu Vert?'

"Jadi bagaimana? Kamu ikut atau tidak? Bukannya kamu mau mempelajari dunia ini?" Neptune menyikut lagi.

"Hmm…", Boruto terlihat berpikir sejenak. Dia sudah seminggu disini dan mulai familiar dengan Planeptune. Pemuda pirang itu berpikir seharusnya tidak ada masalah jika seperti itu. "...baiklah. Tapi siapa itu Vert?"

"Vert adalah CPU dari Leanbox, Boruto-kun," jelas Nepgear.

"Oke! Jadi kau setuju untuk ikut denganku."

.

.

.

Boruto, Nepgear, dan Neptune melakukan perjalanan menuju Leanbox. Compa dan IF tidak ikut mereka kali ini karena tidak ada yang mereka lakukan juga saat sampai kesana.

Leanbox adalah nation yang terlihat seperti kota modern dan futuristik. Boruto hampir selalu melihat keatas karena gedungnya yang begitu megah. Desa Konoha yang sederhana tidak dapat dibandingkan dengan Leanbox. Bagai membandingnkan pesawat jet dengan pisang(?)

Saat sudah sampai di Basilicom Leanbox, dan Neptune dengan seenaknya masuk tanpa permisi, mereka bertiga bertemu dengan seorang wanita berambut hijau mint panjang yang diponytail. Baju yang dia kenakan adalah gaun hitam yang sedikit terbuka dengan sepatu boots hitam panjang hingga pahanya. Wanita itu juga memakai sarung tangan hitam di lengannya.

"Kukira siapa, ternyata kalian, Neptune dan Nepgear. Hm?" Wanita itu mengunci tatapannya pada Boruto. "Siapa pria yang kalian bawa kesini?"

Boruto sedikit membungkuk untuk memperkenalkan diri, "Namaku adalah Boruto Uzumaki. Aku disini karena diajak oleh Neptune."

"Aku adalah Oracle Leanbox, Chika Hakozaki. Lalu, Neptune, mau apa kau kemari?" kali ini Chika menatap Neptune.

"Aku ingin menantang Vert dalam game RPG yang baru saja rilis! Dimana dia?" Neptune terlihat bersemangat dengan mata berseri-seri.

"Kau cari saja didalam, karena aku ada urusan." Chika sepertinya agak malas meladeni Neptune. Selalu seperti ini jika ada game terbaru. Dia juga tahu kalau Vert memang sangat suka bermain game, terlebih RPG. Meskipun Chika tak pernah memprotesnya karena perfoma Vert dalam menjalani peran sebagai Goddess dapat dikatakan cukup bagus.

Boruto POV

Kita memasuki sebuah ruangan yang cukup besar dan dalam ruangan tersebut terdapat beberapa furnitur yang terpasang mirip seperti ruang tengah dalam rumah. Yang menarik perhatianku adalah sebuah TV yang besar, dilengkapi dengan sofa kulit yang sudah terpasang rapi.

Aku dan Nepgear menunggu disana (karena disuruh oleh Neptune) selagi Neptune mencari Vert.

Aku melihat sekeliling. Tidak hanya luarnya saja yang futuristik, tapi bagian dalamnya juga. Benar-benar berbeda dengan duniaku.

Aku menoleh setelah mendengar langkah kaki dari dua orang. Neptune dan seorang wanita yang terlihat dewasa. Dia memiliki kulit putih dengan rambut pirang terang dan mata biru gelap yang sayu. Memakai dress putih-hijau dengan aksen emas, dan sarung tangan putih serta sepatu hak putih panjang. Yang cukup menarik adalah bagian dadanya yang cukup err…besar. Aku menggelengkan kepalaku pelan.

"Kali ini aku tidak akan kalah!" ujar Neptune menantang.

"Aku juga tidak berniat seperti itu, sebagai pro player, aku akan membuatmu tunduk padaku hari ini," kata wanita tersebut yang kuprediksi dialah Vert. Kelakuannya malah terlihat tidak dewasa.

Mereka berdua memasuki ruangan tengah dengan laptop masing-masing (yang entah didapat darimana). Tapi sebelum itu Vert melihat kearahku.

"Oh? Siapa namamu pria tampan? Aku adalah Vert, CPU Leanbox." Tiba-tiba Vert mendekat kearahku dan dia memeluk lengan kananku. Terdapat sedikit setruman dalam diriku karena menyentuh bagian sensitifnya [Author : OMG ini kan rated T. Maafkan aku guys]

"N..namaku Boruto Uzumaki. Aku kesini karena diajak oleh Neptune," jawabku sedikit terbata. Sial.

Dari seberang meja aku melihat Nepgear. Dia melihat kearahku dengan tatapan banyak arti, dari takut, sedikit tidak suka, dan…khawatir? Aku tidak tahu kenapa tapi yang jelas pupil gadis itu sedikit bergetar.

"Maafkan aku Vert. Bisakah kau melepasku?" Aku melihat kearah lain. Aku tidak bisa berlama-lama seperti, pria manapun juga pasti merasakan hal yang sama.

"Oh dear, sebelum itu. Maukah kamu menjadi adikku? Aku akan selalu memanjakanmu dan memberikan 'service' terbaik untukmu," dia mengatakan hal tersebut dengan mata penuh nafsu. [Author : Ayolah ini rated T!]

"Cukup sampai disitu, Miss Busty! Cepat lepaskan dia atau kita tidak akan memulai pertarungan ini," Neptune datang disaat yang tepat, sesaat setelahnya Vert melepasku. Dia mendesah pelan tapi setelah itu dia mengedipkan sebelah matanya padaku. Aku meneguk ludah, dan mencoba menenangkan diriku.

Aku sedikit bernafas lega dan berterimakasih pada Neptune dalam hati. Akhirnya keduanya mulai bersiap untuk bermain.

Dengan cepat aku mendudukkan diriku disebelah Nepgear.

"Aku takut. Selamatkan aku," ucapku agak sedikit bergetar. Dibandingkan dengan Vert, aku lebih memilih Nepgear.

Tunggu, apa maksudnya aku berpikir begitu? Aku menggelengkan kepalaku lagi.

Nepgear, yang berada disisiku, hanya tertawa lemah.

"Kau tidak apa-apa, Nepgear?" tanyaku karena merasa ada yang tidak biasa.

Dia menggeleng cepat, "aku tidak apa-apa, sungguh."

Aku pun hanya tidak terlalu menghiraukan hal itu, meski aku sedikit curiga. Aku menghela nafas, "semua perjalanan tadi membuatku sedikit lelah."

"Kalau begitu ceritakan padaku tentang duniamu, Boruto-kun," Huh? Duniaku? Sebenarnya aku sedikit ragu, aku tidak tahu kenapa. Tapi orang-orang di Basilicom Planeptune memberiku banyak informasi mengenai dunia baru yang kutinggali sekarang. Aku pun merasa sedikit nyaman untuk sekedar berbicara dengan Nepgear dan teman-temannya.

Aku menyenderkan diriku pada sofa, "entahlah, mungkin bagimu akan terdengar membosankan."

"Belum tentu, Boruto-kun. Kamu belum menceritakan apapun," Nepgear tetap kukuh ingin mendengarkan. Masih sama seperti sebelumnya yaitu aku sedang ragu, namun selama kurang lebih sepekan Nepgear berusaha terbuka padaku. Dia bahkan sama sekali tak segan membantuku, meskipun aku juga melakukan yang sebaliknya. Tapi yang menjadi pikiranku adalah, kenapa dia membantuku sejauh itu?

"Nepgear, boleh aku bertanya satu hal?"

Dia memiringkan kepalanya menatapku dari samping, "bertanya apa?"

Baiklah ini dia, "Kenapa kau tanpa ragu selalu membantuku, maksudku aku ini masih orang asing bagimu. Kenapa kau berbuat demi untukku sejauh itu? Bagaimana kalau aku adalah orang jahat yang berencana untuk menusukmu dari belakang selama ini?"

Aku menatapnya, dia sedikit terdiam. Tapi matanya juga menatap kearahku, sedikit membulat. Lalu dia mengalihkan pandangannya kearah lain seperti sedang mencari alasan yang tepat untuk pertanyaanku. Mungkin aku sedikit berlebihan. "Maaf, bukan berarti aku tidak menghargaimu atau apa, aku hanya..."

"Tidak apa-apa Boruto-kun! Aku cuma...sedikit terkejut saja," ujarnya. Dan senyum simpul itu lagi, dia lemparkan kearahku.

"Aku, juga tidak tahu kenapa aku melakukannya. Padahal waktu itu aku sedang sendiri, waktu kita pertama kali bertemu." Aku mengangguk padanya.

"Saat itu, aku hanya mendengar suara. Setelah kuperhatikan, kamu sedang melawan Dogoo kecil. Aku mengira kamu sedang melakukan quest juga sama sepertiku, tapi kamu terlihat tidak punya senjata dan malah menggunakan kayu." Dia tertawa pelan. Aku masih belum melepas pandanganku padanya.

"Tapi itu bukan berarti tidak keren! Kebanyakan orang malah lari jika hanya melawan Dogoo seukuran itu. Jadi saat kamu kamu sudah mengalahkannya aku memberimu senjata meski kamu terlihat tidak terlihat suka dengan itu." Oh, pedang pendek itu.

"Itu tidak benar, kau membantuku banyak hanya dengan itu," komentarku terhadap opininya. Pedang itu masih kusimpan sampai sekarang. "Lalu?"

"Umm, karena kamu menyelamatkanku juga dari Dogoo besar itu. Aku seperti berhutang padamu, makanya aku mulai percaya padamu saat itu." Aku hampir lupa kejadian itu karena itu terjadi begitu cepat. Sebenarnya aku masih merinding mengingat itu. Kenapa juga dia berhutang padaku? Aku tahu dia pasti bisa mengalahkannya dengan mudah karena setelah sepekan bersama melakukan quest, kemampuan gadis ini dalam bertarung tidaklah jelek sama sekali. Berbeda denganku yang baru familiar dengan pedang.

"Begitulah jawabanku, Boruto-kun. Jadi bagaimana kalau sekarang giliranmu yang bercerita tentang duniamu?" Dia tersenyum padaku lagi.

Aku menerawang keatas, yah tidak ada salahnya.

.

.

.

Nepgear POV

Aku sedang menonton Sis dan Vert bermain bersama. Layar keduanya terlihat jelas dalam pandanganku sehingga aku bisa melihat keduanya sedang apa dan apa yang sedang dilakukan dalam game RPG tersebut. Tapi bukan itu intensku sekarang, tapi apa yang diceritakan Boruto-kun barusan.

# # #

Flashback

"Aku menjalani kehidupanku dengan biasa, sebagai anak dari keluarga kecil yang cukup bahagia."

"Tidak ada yang spesial sih kehidupanku saat itu, sampai pada umurku yang saat itu 12 tahun. Aku mengalami kejadian itu."

"Hidupku terasa kosong selama lima tahun, tanpa ada siapapun yang menemani."

# # #

Aku tidak tahu dia ternyata mengalami hal seperti itu. Dia selalu sendirian, sangat berbalik denganku yang selalu ditemani oleh Compa dan IF, terutama Sis yang sangat protektif terhadapku. Bahkan dari nation yang lain juga aku memiliki hubungan yang baik. Setelah dia menceritakan itu aku menjadi semakin ingin lebih dekat dengannya. Eh? Maksudnya aku ingin selalu mensupportnya dalam keadaan apapun! Kenapa aku berpikir demikian? Aku merasa malu sendiri.

Aku melihat pria yang sedang tidur dengan tenang disampingku. Dia sepertinya cukup lelah setelah melakukan perjalanan ke Leanbox. Aku hanya menatapnya sambil menyenderkan badanku pada sofa. Dari sini aku dapat melihat mukanya cukup jelas.

Rambut kuningnya yang sedikit berantakan, yang menurutku itu terkesan keren. Di wajahnya juga, ada yang selalu menjadi perhatianku, dua garis pipi yang dia sebut mungkin tanda lahir. Dan matanya yang berwarna biru saphhire, meski sedang tertutup sekarang. Melihat semua itu rasanya sangat nyaman.

Aku baru menyadari apa yang sedang kulakukan. Aku buru-buru terbangun dari sandaranku dan menggelengkan kepalaku cepat, kenapa aku melakukan itu? Jantungku berpacu begitu cepat dan aku merasa wajahku sedikit memanas. Rasanya aneh sekali yang terjadi dalam diriku ini.

"Lebih baik aku membuat sesuatu untuk mengalihkan ini," ucapku pada diri sendiri dengan nada pelan.

Dan juga mereka berdua yang masih berkutat dengan gamenya.


review?