Chap 5.
Happy Reading!
Boruto menyelesaikan jalan sorenya setelah mengelilingi Leanbox kurang lebih 2 jam. Dia hanya berjalan sendirian sore itu. Meski begitu, Leanbox adalah tempat yang cukup ramai dengan segala bangunan megahnya.
'Seperti New York tapi lebih modern', pikirnya.
Perjalanan sorenya yang dia lakukan sendiri mengingatkan dia pada saat sore sebelum dia berpindah ke dunia lain. Waktu itu adalah sore yang cukup biasa tanpa ada kejadian khusus atau spesial sehingga pemuda kuning itu tidak begitu ingat alurnya saat pulang dari sekolah waktu itu.
Setelah sampai pada Basilicom Leanbox, pemuda kuning disapa duluan oleh Nepgear yang masih menonton Neptune dan Vert saling beradu strategi. Nepgear hanya duduk di sofa sambil memegang sebuang cangkir yang menurut Boruto itu adalah teh.
"Boruto-kun! Sudah selesai berkelilingnya?" tanya gadis berambut lilac panjang.
"Ya, dan sekarang aku butuh istirahat," dirinya mendudukkan diri pada sofa juga di sebelah Nepgear. Gadis itu hanya tersenyum pada pemuda kuning. Dia teringat saat tadi menimbang ingin membuat apa tiba-tiba saja Boruto bangun dan berkata pada dirinya sendiri jika ingin jalan-jalan. Cukup aneh memang.
"Ingin aku buatkan sesuatu?" Nepgear menawarkan.
"Sesuatu?" Pemuda kuning menaruh atensinya pada gadis itu.
"Iya, apa kamu punya makanan kesukaan? Aku bisa saja membuatnya," ternyata Nepgear menawarkan masakan pada Boruto. Boruto sebenarnya menaikkan alis, tapi pikirnya itu bukanlah ide yang buruk. Apa dia akan menggunakan dapur Basilicom Leanbox untuk membuat masakan tersebut? Kalau dipikir-pikir lagi, kemungkinan besar Neptune dan Nepgear sering berkunjung kesini jadi Vert tidak mempermasalahkan apapun selama mungkin itu tidak terlalu jauh, pikirnya.
Lagipula pemuda kuning juga belum pernah sekalipun mencoba masakan dari gadis itu. Jadi ya, kenapa tidak?
"Buat saja sesuatu tapi berbahan dasar telur," ucap Boruto. Nepgear yang berada disebelahnya membuat pose berpikir.
"Hmm…oke. Tunggu saja ya," dan gadis itu pun ngacir ke dapur. Boruto kembali menatap dua Goddess yang masih beradu strategi dengan tatapan malas. 'Mau sampai kapan mereka berdua akan main? Bukannya ini hampir 6 jam?'
"Aku baru kalah dua kali darimu Neptune! Hanya seginikah kemampuanmu?"
"Tentu tidak! Tadi aku hanya menahan diri! Selain itu, kekalahanmu lebih memalukan dari kekalahanku yang ke-42!"
"Teruslah mengoceh, karena skill itu bukan dari mulut."
Dan begitulah seterusnya.
.
.
.
"Bagaimana rasanya?" Nepgear bertenya dengan mata penuh harap. Dia membuat omelette dengan isi nasi bumbu. Omelette itu tentu saja dia beri saus tomat dengan tulisan 'BORUTO'. [Author: Gw sebenarnya ngakak disini. Sorry]
Boruto masih mengunyah dengan tenangnya, pemuda itu berpindah dari ruang tengah ke dapur karena di tempat ini lebih tenang. (tidak ada dua serangga berisik)
"Cukup bagus, aku suka. Aku tidak tahu kalau kau bisa masak." Boruto mengatakan itu dengan nada datar. Yang tidak gadis itu sangka, pemuda itu mengatakannya sambil tersenyum simpul padanya. Nepgear merasa pipinya menghangat karena pujian itu.
"Be..begitukah? Terima..kasih. Sebenarnya aku sudah cukup lama bisa memasak, tapi jarang kutunjukkan pada siapapun. Jadi aku masih gugup begitu kamu mencobanya." Pemuda kuning tertegun sesaat. Sesuatu seperti ada yang masuk kepikirannya, namun tak lama dia mengunyah kembali.
"Dedikasi juga membuahkan hasil, kau tahu itu kan?" Boruto mencoba membangun semangat gadis itu. Entahlah, menurutnya Nepgear hanya seperti kurang memiliki sikap percaya diri. Sehingga saat gadis itu menunjukkan skillnya, dia pasti akan merendah. Yang Boruto pikir itu tidak cukup bagus.
Mau tak mau, Boruto harus sedikit memperbanyak kuota bicaranya agar bisa menaikkan semangat sang gadis. Untuk sekarang belum terlalu worth it.
.
.
.
Rembulan menerangi gelapnya malam kala itu. Boruto terpaksa harus menginap di Basilicom Leanbox. Tidak hanya dia sih, hal itu juga berlaku bagi Neptune dan Nepgear. Sebenarnya ini semua penyebabnya jelas. (game lah apalagi)
"Sebenarnya hanya ada dua kamar lagi yang tersisa. Jadi kalian bisa berbagi sesuka hati kalian," ucap Vert kepada mereka bertiga.
"…atau, apa Boruto ingin tidur bersamaku, hmm?" Dengan tiba-tiba Boruto ditarik oleh Vert. Tentu saja membuat pemuda itu terkejut.
"Eh? Etto…" Pemuda kuning hanya bisa diam seribu Bahasa. Secara tiba-tiba ada seseorang yang membuat gerakan membelah diantara mereka berdua, pelakunya adalah Neptune.
"Hya! Kau tidak usah macam-macam lagi! Dia ini adalah bawahanku, takkan kubiarkan siapapun mengambilnya!"
'Hah? Sejak kapan aku jadi bawahannya?' pikir Boruto sebelum berterimakasih pada Neptune. Jadi motifnya selama ini adalah Boruto merupakan servant dari Goddess cilik yaitu Neptune. Sementara itu, Nepgear hanya bisa tersenyum lemah mengahadapi situasi didepannya seperti ini.
Setelah semua perdebatan itu, akhirnya Boruto mendapat satu kamar untuknya sendiri setelah itu dua bersaudara Nep berada pada ruang yang sama. Pemuda kuning hanya tiduran saja saat itu, matanya tak sedikitpun menutup atau ada tanda-tanda rasa kantuk. Dia menghela nafas pelan.
Selama ini dia masih berpikir, kenapa dia bisa berpindah sampai kesini? Apakah ada sesuatu di dunia ini? Atau apakah tujuan hidupnya berada di antah berantah dunia ini? Masih banyak pertanyaan yang terlintas dipikirannya dan seperti bercabang sehingga muncul pertanyaan baru. Memusingkan saja.
Tok! Tok!
Boruto menengok kearah sumber suara yaitu pintu. Ada seseorang yang mengetoknya dari balik sana. Pemuda itu pun bangun dan mendekat kearah pintu.
"Siapa?" tanyanya dengan nada datar. Semoga saja bukan Vert, harap pemuda itu.
"Ini aku," suara yang familiar bagi pemuda itu. Boruto membuka pintunya, dan disana berdirilah Nepgear.
Pemuda itu hanya berdiri menatap gadis itu, 'Akhir-akhir ini aku sering saja berbicara padanya, aku bukannya tidak menyukainya. Hanya saja aku seperti selalu dipertemukan oleh gadis ini. Entah dimanapun kapanpun. Yah, bukan masalah besar. Lagipula aku tidak terlalu ingin beradaptasi terhadap orang baru.'
"Tidak bisa tidur?" tanya pemuda itu.
Gadis itu hanya mengangguk pelan. "Aku tidak tahu kenapa aku menuju kamarmu."
Pemuda kuning akhirnya memberikan gestur agar Nepgear ikut masuk. Boruto langsung merebahkan dirinya menatap langit-langit. Tangannya dia silangkan untuk kapalanya. Sementara Nepgear hanya duduk pada sisi ranjang.
Untuk sesaat hanya ada keheningan diantara mereka. Tidak ada inisiasi dari siapapun. Boruto sebenarnya santai saja, karena dia juga irit bicara jadi tak masalah jika gadis tersebut hanya ingin ditemani tanpa mengobrol sepatahkatapun. Gadis itu juga sepertinya tidak begitu ada tanda-tanda bicara, dia hanya menunduk. Badan rampingnya membelakangi pemuda kuning.
"Mempunyai teman itu rasanya seperti apa?" Tanpa aba-aba, Boruto tanpa sadar mengeluarkan kata-kata itu. Sebenarnya itu hanya ada pikirannya, namun tanpa sadar sudah terucap oleh pemuda itu. Matanya masih menatap langit-langit.
Nepgear tentu saja berbalik setelah mendengar itu, "…mempunyai teman?"
Pemuda itu masih diam, seperti menunggu jawaban.
"Aku….tak pernah memikirkannya," ucap gadis itu. Boruto hanya bergumam kecil.
"…begitu."
Nepgear juga tahu kenapa dia bertanya seperti itu, setelah mendengar cerita pemuda itu. Gadis itu tahu jika selama ini Boruto tidak memiliki teman satu pun. Dan waktu yang pemuda itu lewati tidak lah sebentar. Mata gadis itu sedikit bergetar dan menatap nanar sang pemuda.
Tanpa sadar gadis itu mendekat, menyenderkan dirinya disebelah pemuda kuning, "Apa kamu merasa kesepian Boruto-kun?"
Boruto hanya menatap Nepgear lewat ekor matanya, hanya menatap. Dia sebenarnya tidak memikirkan jawaban, namun lebih ke 'kenapa dia sedekat ini?'. Tapi matanya dia arahkan lagi menuju langit-langit kamar.
"Entahlah, tapi sepertinya aku menangis waktu itu," ucapnya jujur. Pemuda itu bukanlah orang yang hobi berbohong. Apalagi terhadap gadis yang berada didepannya ini. Entah kenapa selama dia menceritakan apapun tentang dirinya, pemuda itu tidak pernah sekalipun mempermasalahkannya. Bukannya yang seperti itu bagus? Apalagi perasaan lega juga akan terasa.
Gadis itu hanya diam masih menatap nanar pemuda kuning. 'Dibalik sikapnya yang hanya biasa saja, ternyata dia selalu memendam perasaan itu.'
"Apa kau tidak kembali ke kamarmu?" tanya pemuda itu.
"Aku ingin sedikit lebih lama disini."
Yah, pemuda itu juga tak mempermasalahkannya.
.
Well sepertinya alur ceritanya melambat lagi, sangat mohon maaf karena habis sakit. Pusingnya aja ini masih kerasa dikit, jadi sekarang lagi pemulihan. Selain dari itu, ini lagi masanya masuk kuliah jadi mungkin gk akan upload sesering ini lagi. Apalagi sebenarnya ini ada rencana untuk mentranslate fic ini ke bahasa inggris. Makin pusing deh. But wait, akan diusahakan tetep upload kok. Karena lelaki itu selalu menyelesaikan apa yang sudah dimulai. LOL
alright, thats it for now. Bye
