Mohon maaf karena update yang begitu lama, karena udah dibilang kalo ini adalah minggu masuk kuliah jadi tugas menumpuk, huhuhu T_T. Tapi entah bagaimana semua bisa diselesaikan dan akhirnya sempet juga buat lanjutin fic ini, yeah.

Oke daripada kelamaan basa basi mending langsung kalian terjun saja.

Happy Reading!


Pagi ini sepertinya bukan pagi yang cukup baik seperti biasanya. Seorang wanita sedang berlari menggendong seorang wanita (ya, wanita lain) dan nampak terburu-buru dengan nafas yang masih taratur. Pemandangan disekitarnya adalah lahan hutan dengan pohon yang tidak terlalu lebat. Langit masih terbilang gelap namun sudah dapat dikatakan fajar. Cahaya bulan masih terlihat menyinari dan menembus celah-celah daun.

Wanita yang sedang menggendong itu berjalan sedikit berlari. "Rencana Lady Maven ternyata berjalan lancar. Ternyata bisa semudah ini, hihihi…" wanita itu berbicara pelan dengan dirinya sendiri.

Setelah beberapa saat dia berhenti pada sebuah pohon lalu meletakkan wanita pingsan itu disana. "Dimana aku membuatnya ya? Apa disini saja? Hmm…oke"

Setelah itu, wanita tersebut menyentuhkan tangannya ke tanah lalu terjadilah sesuatu. Sekelilingnya tiba-tiba saja terbentuk seperti sebuah kekkai berwarna ungu gelap membentuk setengah lingkaran mengelilingi mereka. Wanita itu tersenyum puas.

"Teknik ini ternyata bagus juga. Dengan begini yang diluar perangkap ini tak bisa melihat kedalam, tapi itu tidak berlaku untuk sebaliknya, hihihi. Kalau begitu saatnya rencana selanjutnya." Wanita tersebut meninggalkan orang pingsan itu disana dengan raut wajah tersenyum. Dengan mudahnya dia melewati kekkai tersebut tanpa masalah lalu pergi begitu saja.

.

.

.

Nepgear membuka matanya setelah mendapat intuisi dari tubuhnya sendiri ketika menjelang pagi. Dia membukanya secara perlahan lalu didepannya terlihat seperti siluet berwarna kuning. Penglihatannya tidak begitu jelas, dan masih mengumpulkan nyawa juga. Setelah jelas dia membelalakkan matanya.

"Oh Goddness! Aku tertidur disini semalam!" ternyata kemarin malam saat Nepgear ingin menetap sebentar di kamarnya Boruto, dia malah tertidur. Nepgear bangun terduduk dengan cepat karena dia merasa wajahnya memanas.

Gadis itu melihat pemuda yang masih tidur disebelahnya. Boruto masih tidur dengan tenangnya, tanpa dengkuran.

'Boruto-kun bisa tidur tanpa dengkuran, menurutku itu lucu,' lalu tanpa sadar dia tersenyum lembut pada pemuda tersebut dan menyentuh garis pipi tanda lahir milik Boruto dengan pelan. Yah, itu unik.

'Apa yang kulakukan. Aku tidak bisa berlama-lama disini.'

Nepgear menggeleng pelan lalu menyadarkan dirinya. Gadis itu akhirnya keluar meninggalkan Boruto yang masih belum membuka matanya.

.

.

.

Nepgear melangkahkan kakinya menuju ruang tengah, benar ini masih di Leanbox. Lalu rencananya hari ini mereka bertiga akan pulang. Di ruang tengah, gadis itu bertemu dengan Neptune yang asik makan manisan.

"Hey! Tumben sekali kau bangun lebih telat dariku." Neptune memberi tatapan pada adiknya sambil menunjuk dengan manisan yang sedang dia makan.

"Ah itu, kemarin aku tidak bisa tidur jadi aku tidur sedikit telat." Jawabnya sedikit cepat, wajahnya masih memerah karena mengingat malam itu.

"Lalu kemarin kau tidur dimana? Aku tidak melihatmu semalam," Skakmat. Wajahnya makin memerah. Dia sebenarnya takut menceritakan yang sebenarnya karena bisa saja Boruto yang terluka akibat serangan dari Neptune meski yang salah disini adalah Nepgear itu sendiri. Neptune adalah tipe kakak yang overprotective terhadap adiknya sendiri, terutama pria mesum, jadi siapapun yang berani macam-macam dengan Nepgear, harus berurusan dengan Neptune untuk merasakan akibatnya.

Nepgear jadi ragu sendiri apakah harus menjawab pertanyaan mendadak itu. Akhirnya dia memilih jujur daripada membuat kebohongan yang bertumpuk-tumpuk. (ngerti maksudnya?)

"A…aku, tertidur di kamar….Boruto-kun"

Untuk sesaat suasana menjadi hening. Nepgear melah takut karena Neptune tidak lagi mengunyah apa yang sedang dia makan. Gadis itu menelan ludah.

Tapi yang terjadi selanjutnya adalah hal yang mengejutkan, Neptune melanjutkan makannya lagi dengan santai. "Oh, begitu."

"Eh? Sis, kamu tidak marah?" Nepgear kebingungan sendiri dan masih belum mencerna apa yang barusan terjadi.

"Kau berpikir begitu? Awalnya aku berpikir dia itu sama seperti pria mesum yang lain. Tapi setelah melakukan petualangan bersamanya selama seminggu, aku menyadari jika Boruto tidaklah seperti itu. Tapi! Aku tidak marah kali ini karena moodku sedang baik, dan lain kali kalian melakukannya lagi aku tidak tahu akan marah lagi atau tidak!" ucapnya tegas. Nepgear tertegun dengan saudaranya sendiri. Berarti Boruto hampir saja menjadi sasaran bagi Neptune untuk merasakan 'akibat' yang tadi sudah disebutkan.

"Be..begitu. Terima kasih, Sis," Nepgear tersenyum kearah kakaknya.

Sang kakak yang dilempar senyum malah terlihat peduli dan sibuk lagi dengan makanannya.

Tiba-tiba Chika datang menghampiri mereka. "Apa dari kalian berdua ada yang melihat Vert?"

Neptune dan Nepgear saling padang satu sama lain lalu memandang Chika kembali, menggeleng, Neptune menjawab, "tidak, aku tidak melihat siapapun pagi ini kecuali kalian berdua."

"Memangnya ada sesuatu?" Nepgear kali ini bertanya.

"Aku tidak tahu, tapi saat aku ingin mencarinya dia tidak ada dimana pun. Padahal mencarinya adalah hal paling mudah yang kulakukan." Kedua kakak-beradik itu saling pandang lagi, kali ini dengan ekspresi yang terkejut.

"Benarkah? Kalau begitu aku akan membantu mencarinya! Ayo Sis!" Nepgear berinisiatif untuk turun tangan terhadap masalah ini. Neptune terlihat malas tapi seperti tidak ada pilihan lain.

"Itu akan sangat membantu, terima kasih."

.

.

.

Sebelum mereka berdua mulai mencari, mereka membangunkan Boruto terlebih dahulu untuk mempercepat proses pencarian. Untung saja pemuda kuning mengangguk saja tanpa ada pertanyaan apapun.

Mereka mencari dari segala sisi Basilicom. Segala upaya dan tenaga sudah dikerahkan tapi tidak hasilnya nihil, Vert belum ditemukan. Mereka akhirnya berkumpul lagi di ruang tengah.

"Kita sudah mencari selama satu jam, dan Vert belum ditemukan," Chika menggigit jarinya, khawatir.

Tidak ada yang merespon pernyataan Chika selama beberapa detik, sampai Boruto membuka suaranya.

"Ini hanya perkiraanku, Vert mungkin hilang bukan disini," semua mata tertuju pada pemuda tersebut, sedikit terkejut.

Chika yang pertama kali merespon dengan nada panik, "Maksudmu, dia diculik?"

Boruto berusaha untuk tetap membuat situasi disini tetap tenang, "Aku tidak bilang begitu, tapi itu bisa menjadi salah satu penyebab."

Chika malah semakin panik. Nepgear juga berusaha tetap menenangkan situasi, "Tempat yang paling dekat dari sini adalah Gapain Field. Apa kita harus mencari juga kesana?"

Melihat Chika yang sepertinya masih belum dapat menenangkan dirinya sendiri, Boruto yang akhirnya membuat keputusan, "Kalau itu adalah cara terbaik, mari kita lakukan."

"Wanita ini juga sepertinya belum bisa diandalkan," tambah Neptune, menunjuk Chika.

.

.

.

Mereka bertiga melakukan pencarian secara Bersama, tidak berpencar. Sudah sekitar lima belas menit berjalan dalam hutan dengan pohon yang tidak begitu lebat. Mereka tidak menemukan sesuatu yang menunjukkan sedikitpun petunjuk adanya Vert disana.

Saat mata mereka masih menyusuri lahan hutan itu, tiba-tiba dari depan muncul monster besar berukuran tinggi dua meter di hadapan mereka. Monster serigala. Mereka terkejut.

"Apa! Fenrir Wolf ada disini!? Yang benar saja!" Neptune kali ini yang mulai panik. Nepgear hanya bersiap dengan beam sabernya meski sedikit takut. Boruto kali ini tahu bahwa monster dihadapannya bukanlah monster sembarangan. Bisa saja mereka mati disini.

Fenrir Wolf adalah monster serigala dengan bulu berwarna biru gelap keabu-abuan. Memiliki cakar yang besar dan pada kaki bagian belakang terdapat mata pisau yang menempel seperti untuk senjata tambahan.

Mereka bertiga dan Fenrir Wolf masih menatap satu sama lain, seperti menunggu adanya aksi kejutan. Boruto merasa rasa takutnya mulai merasuki setiap inci tubuhnya, membayangkan monster itu akan mencabik-cabik dirinya membuat seperti berbagai emosi bercampur menjadi satu. Dia akan mati.

Mata kanannya terasa hangat. Tanpa Boruto sadari, dia sudah berlari menuju Fenrir Wolf lalu melakukan serangan tebasan berbentuk zig-zag melewati monster serigala itu. Kali ini Boruto melihatnya dengan jelas karena kecepatannya masih bisa dia lihat sampai dia merasakan pandangannya menggelap…

…lagi-lagi sebuah suara menggema dalam otaknya.

'Slash Break'

Brukk, dan akhirnya Boruto sudah tak sadarkan diri.

Neptune dan Nepgear masih mencoba memahami apa yang barusan terjadi, terutama Neptune. Karena ini adalah kali pertama dia melihat kekuatan Boruto yang misterius itu. Sedangkan Nepgear menutup mulutnya dengan tangannya.

"Oh Goddness. Setelah seminggu akhirnya terjadi lagi."

"Apa maksud dari…."

Tapi ucapan Neptune terhentikan oleh teriakan dari Fenrir Wolf yang ternyata belum mati namun terlihat sekarat. "Roaaaaarrrr!"

"Oh tidak! Makhluk ini belum mati! , kita harus mengalahkannya," Neptune dengan cepat mengeluarkan broadswordnya lalu memasang posisi Bersama Nepgear. Lalu mereka berdua mulai menyerang, menyelesaikan urusan mereka.

.

.

.

Boruto berdiri di sebuah ruang gelap yang tidak dia kenal. Sepanjang mata memandang hanyalah kegelapan yang kosong. Dia mencoba untuk berjalan menyusuri ruang gelap itu.

Beberapa saat kemudian, muncullah sebuah cahaya yang tidak terlalu silau mendatanginya. Seperti sebuah bola cahaya. Boruto sedikit cemas dengan kedatangan cahaya itu.

"Yo, akhirnya kita bertemu," suara itu menyapanya. Boruto kali ini malah merasa bingung, menaikkan alis. Karena cahaya itu seperti memanggilnya dengan sapaan akrab.

"Umm, halo? Tunggu, apa maksudnya kita akhirnya bertemu?"

"Soal itu? Iya, selama aku berada disini, ini adalah pertama kalinya kita bertemu. Aku selalu mengawasimu, lho." Ucap cahaya itu. Boruto sedikit membulatkan matanya.

"Kau siapa? Dan dimana ini?" Boruto mencoba memahami situasinya sekarang. Pemuda kuning juga melihat sekeliling sekali lagi, masih ruang kosong yang gelap.

"Oh…kamu baru pertama kali merasakan ini ya? Namaku adalah EoH, atau disebut Eye of Hope. Aku adalah mata kananmu," hanya satu pertanyaan yang dijawab olehnya.

'Eye of Hope? Mata kananku?' Boruto mencoba menafsir kata-kata itu.

"Jadi selama ini memang mata kananku itu ada apa-apanya?" Pemuda kuning menyentuh sendiri matanya.

"Aku senang kamu cepat paham apa yang kukatakan. Oh tentang pertanyaanmu yang kedua, ini adalah alam bawah sadarmu. Dan ya, selama ini mata kananmu itu memang ada sesuatu yaitu diriku ini," ucapnya dengan nada santai.

"Sebenarnya itu bisa dibicarakan nanti. Nah sekarang kamu pergilah dulu," Boruto seperti merasakan sebuah senyum sedang dilempar kearahnya.

"Pergi? Apa maksudnya?"

Setelah Boruto mengatakan itu, dirinya dengan cahaya itu terasa semakin menjauh dan terus menjauh hingga kesadaran pemuda itu mulai terkumpul.


Bersambung...