Sorry karena update yang terlalu lama. Dan kemungkinan dibawah ada beberapa typo tapi selanjutnya akan di fix untuk itu.

Happy Reading!


"Hm…?"

Seorang pemuda akhirnya membuka kelopak matanya dengan perlahan. Cahaya matahari yang masuk ke matanya semakin membuat matanya terbuka.

"Boruto-kun! Akhirnya kamu sadar!" Pemuda itu mendengar suara lembut di sebelahnya.

Pemuda itu adalah Boruto. Dia baru saja sadar dari alam bawah sadarnya, namun sepertinya pemuda kuning masih belum dapat memahami situasinya sekarang. Lalu akhirnya dia beranjak bangun.

"Aku…ada di mana?" tanya Boruto sambil melihat sekeliling.

"Kita masih berada di Gapain Field. Tadi kita diserang oleh Fenrir Wolf." Ucap Nepgear menjelaskan.

Mata Boruto terbuka lebar karena sedikit panik, "Di mana makhluk itu sekarang?"

"Sudah kukalahkan, tentu saja." Dari belakang Boruto, terdapat Neptune yang sedang beristirahat.

Boruto memandang kebawah lagi, "…begitu, syukurlah."

Tiba-tiba dari sudut mata pemuda itu, dia melihat sekilas asap berwarna ungu. Boruto menengok dengan cepat lalu langsung berdiri mendekati sumber asap tipis tersebut.

"Boruto-kun? Kamu mau ke mana?"

"Kenapa kau tiba-tiba keluyuran, kepala kuning?"

Kedua gadis itu masih menatap bingung Boruto yang tetap berjalan. Akhirnya setelah saling pandang, keduanya mengikuti pemuda itu.

Sambil kedua gadis itu berjalan di belakang Boruto, pemuda kuning menambahkan, "…aku hanya merasa tadi ada sesuatu di sini."

Namun Neptune seperti menyangkal hal tersebut, "Mungkin saja kau berhalusinasi? Kau baru saja bangun dari pingsanmu lalu langsung pergi begitu saja."

Boruto memilih diam daripada menanggapi pernyataan itu.

"Lalu aku juga terkejut dengan kekuatanmu itu yang bisa mengalahkan Fenrir Wolf. Boruto, sebenarnya kau itu siapa?" Pertanyaan beruntun terus ditembakkan pada pemuda itu. Nepgear mulai khawatir dengan situasinya sekarang meski tidak gawat.

Boruto bukannya ingin memilih diam lagi, tapi karena dia juga tidak tahu harus menjawab seperti apa pertanyaan itu. Karena itulah yang sedang dia cari sekarang. Bagaimana dia bisa mendapat kekuatan itu, bagaimana dia bisa pindah ke dunia ini, bagaimana dia harus menghadapi itu semua. Akhirnya pemuda itu berhenti melangkah, diikuti oleh kedua gadis.

"Aku, juga tidak tahu. Karena sejak awal alasan aku berada di dunia ini juga tidak begitu bisa kupahami. Tapi satu hal yang pasti…." Boruto menoleh kebelakang, menatap kedua perempuan berwarna lilac itu.

"….aku selalu berusaha yang terbaik demi membantu kalian."

.

.

.

Ketiganya masih berjalan menyusuri Gapain Field karena Boruto masih mengikuti asap berwarna ungu yang bahkan tidak bisa dilihat oleh Neptune dan Nepgear. Keduanya tidak terlalu yakin dengan perkataan Boruto, namun kata-katanya saat beberapa waktu lalu membuat mereka berdua tertegun untuk sesaat. Selain itu, daripada tidak ada petunjuk apapun maka lebih baik mereka mengikuti intuisi dari pemuda kuning yang entah sekarang apa yang dia lihat.

Setelah beberapa saat, Boruto berhenti lagi.

"Aku rasa di sini ada sesuatu." Kata pemuda itu. Kedua Nep menatap bingung apa yang dimaksud oleh Boruto karena di depan mereka tidak ada apapun selain pepohonan.

"Apa kau sedang bercanda? Tidak ada apapun di sini." Neptune merasa kesal, tentu saja.

Boruto berbalik menghadap mereka, "…tapi disini aku melihat ada sebuah kubah berwarna ungu."

Nepgear membulatkan matanya, "Boruto-kun! Matamu!"

Neptune menoleh dengan cepat apa yang dimaksud oleh saudaranya. Mata kanan Boruto berwarna putih lagi, sama seperti saat melawan Fenrir Wolf.

"Mataku? Aku tidak menyadari itu." Boruto juga tak menyadari matanya berubah. Tangannya tergerak untuk mencoba merasakan sensasi mata tersebut. Sejak awal kedua gadis itu hanya mengikuti dibelakang pemuda kuning jadi mereka tidak melihat bagimana tampak depan keadaan pemuda kuning.

"Tapi kalau diperhatikan, Sis. Di sini aku merasakan sebuah energi yang familiar." Ucap Nepgear sambil mengeratkan kedua tangannya.

"Setelah kau bilang begitu, aku juga merasakannya."

Boruto mencoba untuk menyentuh kubah berbentuk setengah bola itu, tapi yang terjadi selanjutnya adalah tangannya seperti tersetrum sengatan listrik, secara reflek dia menarik lagi tangannya dengan cepat. "Ouw..!"

"Eh? Apa yang terjadi? Apa kamu tidak apa-apa, Boruto-kun?" Nepgear melangkah mendekati Boruto.

Boruto hanya menggeleng sambil memegang tangannya yang bekas setruman, "Aku hanya mencoba menyentuhnya tapi sepertinya kubah ini menyerang siapapun yang tersentuh dengannya. Sepertinya ada sesuatu di balik kubah ini, aku tidak tahu apa. Apa kalian pernah menghadapi masalah seperti ini?"

Keduanya menjawab tidak. Neptune menambah, "Aku bahkan tidak tahu kubah apa yang kau maksud."

"Hahahaha! Tentu saja karena kekkai itu tidak terlihat oleh mata biasa."

Mereka bertiga terkejut oleh suara. Ketiganya menoleh dan mendapati seorang wanita yang memakai tudung hitam, tudung itu menutipi seluruh bagian tubuhnya kecuali wajah wanita itu.

"Hei! Siapa kau!" Neptune secara reflek memasang pose siaga.

"Hmph, kalian sudah cukup berani mendekati kekkai milikku. Lady Maven tentu akan marah, karena itu aku akan menghabisi kalian." Wanita itu tidak menjawab pertanyaan Neptune. Boruto mengerutkan dahinya.

'Lady Maven?'

Neptune dan Nepgear saling memandang lalu mengangguk. Mereka berdua mengaktifkan HDD form milik mereka. Sebelumnya mereka sudah membuat rencana jika terjadi sesuatu seperti ini. Dikarenakan Boruto juga tidak mungkin harus bertarung dengan kekuatan penuh lagi akibat serangannya sendiri untuk Fenrir Wolf yang menguras seluruh staminanya. Jadi, keduanya yang akan mengurus wanita tudung.

Boruto sendiri sudah pernah melihat performa dari HDD form milik mereka berdua karena itu pemuda kuning berpikir situasinya tidak akan terlalu buruk.

Akhirnya pertarungan terjadi diantara mereka. Beberapa kali wanita tudung mencoba untuk menyerang Boruto karena hanya dia yang pasif dalam pertarungan tersebut, tapi aksi itu selalu dapat digagalkan oleh kombinasi dari kedua Nep. Setelah beberapa saat wanita tudung akhrinya merasa terpojok dengan beberapa luka yang sudah terlihat di beberapa bagian tubuhnya. [sorry gabisa bikin teks dengan bahasa pertarungan yang epic, tapi selanjutnya akan dicoba]

"Cih, aku tidak menyangka mereka sekuat ini. Selain itu, aku juga sudah tidak bisa menahan kekkainya terlalu lama akibat luka ini." Wanita tudung secara perlahan menempelkan kedua telapak tangannya satu sama lain.

"Aku tidak akan melepaskan kalian, Lady Maven pasti akan membalas perbuatan ini! Ingat itu!" lalu akhirnya wanita itupun kabur menghilang tanpa jejak.

"Heh! Dia hanya bisa berbicara saja!" Neptune merasa puas sambil menunjuk pedang odachinya ke arah tempat wanitu itu menghilang. Nepgear menghela nafas lega, lalu menoleh ke arah Boruto.

"Apa kamu baik-baik saja di sana?"

Boruto mendekati mereka dengan pelan. "Yah, terima kasih juga untuk kalian. Dan aku juga menemukan sesuatu."

Pemuda kuning menunjuk dengan jempolnya, di sana terdapat Vert yang sedang tidak sadarkan diri.

.

.

.

Mereka bertiga sedang berjalan menyusuri pepohonan Gapain Field yang rindang ditemani dengan angin sore yang lembut. Vert yang masih belum bangun dibopong oleh Boruto.

"Kenapa aku yang membawanya?" Boruto sedikit protes. Protes bukanlah kebiasaan dia, tapi entah kenapa dia melakukan ini secara tanpa sengaja.

"Karena disini kau yang paling sesuai dengan kerjaan begini. Kita berdua ini kan perempuan lagipula Vert itu lebih besar dari kami. Selain itu, kita juga sudah bekerja keras mengalahkan wanita itu!" Ucap panjang kali lebar oleh Neptune.

"Ugh…" Boruto hanya bisa diam, karena dia benar. Nepgear hanya tertawa pelan.

"Kalau Boruto-kun tidak kuat, langsung katakan saja ya,"

"Terima kasih Nepgear, aku masih kuat." Boruto menatap Nepgear sambil tersenyum tipis, tiba-tiba saja gadis itu memalingkan wajahnya ke arah lain.

Boruto hanya bingung atas reaksi barusan oleh gadis tersebut, 'tadi pipinya memerah? Ada apa dengannya?'

Saat pemuda kuning masih bingung, dia selanjutnya merasakan pergerakan dari balik punggungnya.

"Umm…" Mereka bertiga mendengar erangan dari Vert. Wanita bersurai pirang cerah inipun membuka matanya dengan pelan bersamaan dengan mencerna keadaannya sekarang.

"…aku….kenapa?" Suara Vert masih terdengar lemah. Kepalanya masih tersandar pada pundak Boruto.

"Tadi kita menyelamatkanmu. Kamu diculik oleh seseorang," Nepgear menjelaskan.

Vert masih memasang tatapan kosong, tapi sedetik kemudian dia membelalakkan matanya.

"Waktu itu! Aku hanya melihat sekilas ada seseorang di kamarku waktu itu, tapi setelah itu aku tidak ingat kejadian selanjutnya."

"Apa kau tidak ingat saat dirimu dikurung dalam kubah itu?" Boruto bertanya lewat sudut matanya.

"Dikurung? Kubah? Apa aku sampai dalam keadaan seperti itu?" Vert terkejut dengan pertanyaan itu.

Neptune mengangguk pasti, "Yep, dan kita tidak berbohong. Tapi yang terpenting, kita sudah menyelamatkanmu! Benarkan?"

Boruto mengangguk dan Nepgear juga demikian, "Benar!"

Vert merasa tidak enak sekarang karena diselamatkan oleh Goddess dari Nation lain. "Aku benar-benar minta maaf, ini pasti merepotkan kalian. Haahh…."

"Itu tidak benar, tentu saja aku akan menyelamatkanmu Vert karena kamu juga aku anggap kakakku sendiri." Nepgear tersenyum pada Vert.

Neptune juga ikut menimpali, "Ini juga karena kau tidak punya saudara seperti kami atau yang lainnya. Jadi tidak ada pilihan lainnya kan?"

Boruto mengangguk setuju, "Aku juga berusaha semampuku."

Vert mencoba menahan air matanya yang sudah terlanjur keluar. Akhirnya dia menangis terharu dengan puas selama perjalanan pulang ke Basilicom Leanbox. "Kalian, aku berterima kasih."

.

.

.

Boruto sedang berendam pada sebuah bak mandi berisi air hangat. Badannya cukup pegal setelah semua yang terjadi pada hari ini. Yang seharusnya hari ini mereka pulang, malah kelabakan untuk menyelamatkan seorang Goddess. Dia menghela nafas pelan. Kepalanya menerawang ke atas, masih mencari jawaban dari pertanyaan yang ada diotakknya.

# # #

"Lalu aku juga terkejut dengan kekuatanmu itu yang bisa mengalahkan Fenrir Wolf. Boruto, sebenarnya kau itu siapa?"

# # #

'Kekuatan mata' dan 'alasan dia disini' adalah hal yang paling dia cari sekarang. Tapi untuk sekarang sepertinya itu tidak mungkin terjadi.

Namun hal yang mengganjal diotaknya mendadak muncul. Waktu itu hanya dia yang bisa melihat kubah itu atau kekkai -yang didengar oleh Boruto-. Sementara itu, Neptune dan Nepgear tidak dapat melihat itu namun bisa merasakan.

# # #

"Tapi kalau diperhatikan, Sis. Di sini aku merasakan sebuah energi yang familiar."

# # #

Pemuda kuning berpikir mungkin saja mereka bisa merasakan itu karena ada Vert di dalamnya. Sebab Nepgear berkata 'energi yang familiar'. Oleh karenanya, jika saja Vert tidak di dalam kekkai itu, mungkin saja mereka tidak melihat dan merasakan apapun kekkai tersebut. Menyadari itu, Boruto merasakan kalau ini bisa menjadi sesuatu yang gawat.

"Tapi, karena mataku. Aku akhirnya bisa menyelamatkan Vert. Apa karena alasan itu aku berada di dunia ini? Apa hanya itu?"

Matanya menerawang tidak jelas lagi.