Chap 8. Terima kasih yang masih setia membaca fic ini! Meski update yang sangat telat karena kuliah itu ternyata sulit guys. Huft. Well, fic masih harus lanjut kan?
Alright, Happy Reading!
Dia merasa belum mengantuk sama sekali. Sambil berjalan dengan mengalungkan handuk miliknya yang tadi digunakan saat mandi, pemuda kuning sampai pada sebuah balkon Basilicom.
'Beruntung juga aku bisa sampai disini,' pikirnya. Dirinya menghela nafas lelahnya dengan panjang. Lalu bersandar pada ujung pagar balkon yang terbuat dari kaca tebal.
"Futuristik…"
Tiba-tiba saja dia teringat mimpi itu. Mimpi bertemu dengan Eye of Hope. Apakah itu nyata terjadi padanya? Atau hanya imajinasi terdalam otaknya yang secara tak sengaja keluar?
"Oh…kamu baru pertama kali merasakan ini ya? Namaku adalah EoH, atau disebut Eye of Hope. Aku adalah mata kananmu,"
"Aku senang kamu cepat paham apa yang kukatakan. Oh tentang pertanyaanmu yang kedua, ini adalah alam bawah sadarmu. Dan ya, selama ini mata kananmu itu memang ada sesuatu yaitu diriku ini,"
Dia belum paham apapun. Tapi yang mengganjal pikirannya adalah mimik suara dari EoH yang menurut dirinya itu persis dengan yang pemuda kuning itu miliki, namun dengan suara yang lebih cerah. Apa EoH adalah kekuatan tersembunyi yang dia miliki? Kalau memang iya kenapa baru sekarang dia mengetahui itu?
Boruto mengacak rambutnya sendiri. Percuma saja jika hanya berdiam diri saja, dia tahu cara supaya dia mengetahui EoH lebih dalam. Tentu dengan bertemu dengannya lagi dalam mimpi, tapi apakah EoH bisa berkomunikasi dengannya tanpa harus melewati mimpi? Lagi-lagi pertanyaan demi pertanyaan terus muncul.
"Lebih baik aku beristirahat saja."
.
.
.
Besok paginya, Boruto bangun lebih awal dari yang biasanya. Hari ini adalah hari di mana mereka bertiga akan pulang ke Planeptune. Boruto baru menyadari bahwa rumah barunya sekarang adalah di sana. Terkadang dia masih berpikir apakah ini merupakan hal yang baik atau buruk.
'Benar-benar banyak sekali yang berubah sejak aku pindah ke sini.'
Pemuda kuning menuju balkon yang semalam dia kunjungi untuk menikmati udara pagi. Setelah dia bangun rasanya cukup segar jadi dia tidak memiliki niatan untuk berbaring lagi. Salah satu tanda tidur yang baik.
Setibanya di sana, Boruto menemukan seseorang, Vert. Sedang berdiri menghadap luar, persis pada tempat pemuda itu termenung samalam. Dia akhirnya mendekati wanita itu.
"Boruto, kan?" ucap Vert tanpa berbalik. Seolah mempunyai mata dibelakang kepalanya.
Pemuda itu berhenti begitu mendengarnya, namun dia berjalan kembali sambil menjawab dengan gumaman. "Hm"
"Apa tidurmu nyenyak semalam?" tanya Vert. Boruto memilih bersandar disebelah perempuan berambut pirang cerah tersebut dan memandang lurus ke bawah.
"Ya, terima kasih atas tempatnya."
Vert hanya terkikik geli, "…tidak perlu formal. Lagipula kalian sudah menyelamatkanku. Aku benar-benar berterima kasih pada kalian."
Boruto melirik lewat sudut matanya. "Aku tidak tahu apa yang kurasakan. Tapi, mungkin karena kau adalah teman dari Neptune makanya aku juga berusaha untuk menyelamatkanmu. Dan juga…"
"…dan juga?" tanya perempuan itu dengan nada peenasaran.
"…ummm, bukan apa-apa." Boruto hampir menyebut tentang kekuatan matanya yang bisa melihat kubah ungu, kubah yang mengurung Vert di dalamnya.
"Mou, membuat penasaran saja." Ucapnya cemberut. "Kamu memang benar-benar misterius."
Boruto hanya merespon dengan helaan nafas. Dia tahu kebiasaan menghela nafas bukanlah hal yang baik, namun dia tak begitu peduli. Ini bukan di bumi lagi pikirnya.
Vert membuka suaranya sambil melihat ke depan, "Apa kamu tahu? Meski aku tidak memiliki saudara perempuan seperti CPU yang lain, tapi aku sudah menganggap mereka adalah saudara dariku."
Pemuda kuning hanya menatap dengan alis terangkat, 'maksudnya?'
"Maksudnya adalah, karena aku adalah CPU yang tertua...maksudku figur yang paling dewasa dari 6ang lain. Jadi sudah pasti aku menganggap diriku sendiri sebagai kakak dari mereka. Seperti itu saja aku sudah kerepotan, bagaimana jika aku betulan memilki saudara? Mungkin akan lebih merepotkan lagi."
"Tapi hal yang seperti itu menurutku adalah hal yang baik. Sejak keempat nation memutuskan untuk bekerja sama, aku akhirnya tidak merasa kesepian lagi. Meski di sini ada Chika tapi tetap saja dia hanyalah Oracle di sini." Tambahnya. Boruto tidak mendengarnya terlalu serius, namun dia tahu garis besar yang ingin disampaikan oleh Vert.
Boruto tahu betul rasanya itu, rasa kesepian. Sisi baiknya memang bisa menghabiskan waktu sendirian tanpa ada orang lain yang berkomentar, namun di hati yang terdalam semua orang membutuhkan yang namanya teman. Itulah yang membuat hidup ini menjadi lebih berwarna, bukan seperti kehidupan abu-abu milik pemuda itu sebelum pindah ke Gamindustri.
"Aku…" tanpa disadari pemuda itu juga ingin mengatakan sesuatu. Vert hanya menoleh.
"Aku juga pernah merasakan itu. Tapi waktu itu aku berpikir bahwa aku tidak membutuhkan teman. Setelah mengalami suatu insiden, aku hanya menutup diriku pada yang lain. Meski tidak terlalu tertutup, tapi aku merasa menyesal sudah melakukan itu. Karena itulah saat aku pindah ke sini, aku mencoba untuk terbuka meski sulit." Daripada disebut berbicara, Vert mendengar itu seperti bisikan yang terucap jelas.
Perempuan yang sedikit lebih pendek dari Boruto itu hanya tersenyum sambil memejamkan matanya. "Hmm…, seperti itu? Sudahlah, bukankah pembicaraan ini sedikit gelap?"
Pemuda kuning hanya bergumam lagi sebagai respon. 'Yah, memang cukup gloomy.'
"Daripada itu, aku ingin mengajak kalian untuk ikut pesta kecil-kecilan yang sudah kusiapkan sebelum kalian pulang. Aku melakukannya karena kalian sudah menyelamatkanku."
Boruto memutar kepalanya menghadap Vert, "Pesta bukan tipeku."
Vert seperti bersiap untuk meninggalkan balkon, "Ara, bukannya kamu bilang ingin terbuka dengan yang lain?"
Setelah itu dia meninggalkan pemuda kuning yang masih menatapnya. Lalu pandangan pemuda itu kembali ke arah luar. 'Semoga saja aku kuat saat itu tiba.'
[lebay ah]
.
.
.
Menjelang siang, Boruto, Neptune, dan Nepgear sudah dalam perjalanan setelah meninggalkan Leanbox. Mereka tidak terlalu dikejar oleh waktu sehingga perjalanan mereka bisa dilakukan secara santai. Namun, Neptune seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Hey, apa yang lain akan baik-baik saja?"
Nepgear yang berada di sebelahnya memiringkan kepalanya, "Yang lain?"
"Itu lho, Noire dan Blanc. Tentang yang terjadi pada Vert." jelas Neptune.
"Hmm…sepertinya mereka akan baik-baik saja. Aku rasa Noire dan Blanc akan memperketat penjagaan, mereka cukup peduli dengan hal itu kan?"
Setelah insiden tersebut, mereka langsung menghubungi Lowee dan Lastation. Tentu saja Noire dan Blanc terkejut mendapat berita itu. Mereka akhirnya berniat untuk membantu mencari tahu siapa dalang dibalik semua ini.
Boruto belum ingin mengikuti pembicaraan karena tidak tahu juga ingin berkata apa. Jadi dia hanya memusatkan perhatian pada mereka berdua. Pemuda kuning berpikir Noire dan Blanc adalah CPU, namun dia tidak tahu keduanya berada di nation yang mana.
"Kenapa akhir-akhir ini aku malah pusing sih? Padahal setelah damai aku mendambakan kehidupanku yang penuh dengan pudding dan game konsol!" Protes Neptune terhadap takdir yang dihadapkannya. Nepgear hanya tertawa lemah.
Boruto mengerutkan alisnya, 'Kehidupan macam apa itu? Lagipula sharesnya masih belum sepenuhnya pulih dari penurunan.'
Tapi setelah itu pemuda kuning menyadari sesuatu.
"Apa dari kalian ada yang tahu tentang Eye of Hope?", ucap pemuda itu.
Kedua Nep yang ada di depannya menatap kepada dirinya lalu melihat satu sama lain dan menatap dirinya lagi. Boruto hanya mengangkat alis.
"Apa itu salah satu keluaran game terbaru?", dengan polosnya Neptune bertanya.
Boruto hampir tersandung dengan kakinya sendiri mendengar itu, untung saja dengan halus itu semua tidak terlihat. 'Sepertinya mereka juga baru mengetahuinya ya'
"Ehem, sebenarnya…"
.
.
.
"Eh? Boruto-kun sudah bertemu dengannya!?"
Pemuda kuning mengangguk pasti. Boruto sudah beberapa kali memikirkan untuk membicarakan ini pada Neptune dan Nepgear. Namun, karena mereka ternyata tidak tahu juga lebih baik dia ceritakan semuanya sejak awal. Dia juga teringat obrolan dirinya dengan Vert beberapa saat lalu.
"…Karena itulah saat aku pindah ke sini, aku mencoba untuk terbuka meski sulit."
Pemuda kuning termenung lagi. Dalam lubuk hatinya, jujur dia merasa bersyukur bertemu dengan Neptune dan Nepgear yang mengerti dengan keadaannya, terutama Nepgear. Kalau saja pemuda itu tidak bertemu dengannya saat pertama dia masuk ke dunia ini….
"…to!", Boruto sekilas mendengar sesuatu yang masuk ke inderanya.
"Hm?"
"Boruto!", dengan pandangan datar pemuda kuning melihat sang pemilik suara yaitu Neptune yang memasang raut wajah sedikit kesal kepadanya.
"Ada apa? Apa aku bengong tadi?"
Nepgear yang secara tidak disadari oleh pemuda kuning sudah berada disampingnya menyahut sambil tersenyum padanya, "Sepertinya kamu berpikir cukup dalam ya, Boruto-kun."
"Ma..maaf, aku tidak tahu. Aku hanya sedang…", Boruto seperti mencari kata-kata yang pas untuk menjelaskan situasinya sekarang.
"Aku tahu! Kau berpikiran macam-macam tentang Vert kan!?"
"Eh!? Apa itu benar Boruto-kun?"
Pemuda kuning memasang wajah malas ke depan, makin gak jelas situasinya. 'Padahal aku selalu menganggap mereka keren (saat bertarung), tapi dilain sisi juga aku merasa mereka sedikit bodoh'.
Boruto mengibaskan tangannya lalu dimasukkan kembali ke saku jaketnya, "Tentu saja tidak, untuk apa aku memikirkan itu? Lagipula, apa yang tadi kau ingin tanyakan?"
"Oh! Yang itu, apa kau sudah bertemu dengannya lagi setelah pertemuanmu yang pertama dengan EoH?"
'Oh akhirnya, pembicaraan yang sejalan', pikir Boruto senang. "Sayangnya tidak. Selain itu, sebagian besar pertanyaanmu adalah pertanyaan bagiku juga. Jadi untuk sekarang aku masih belum mendapat petunjuk apapun. Hanya saja…"
"Hanya saja?" Nepgear memiringkan kepalanya.
"…hanya saja aku berpikir kalau sekali bertarung dengan mata ini pasti akan merepotkan kalau selalu pingsan setelahnya."
Neptune terlihat membelakangi Boruto. Bahunya bergetar dengan tangan yang menahan perutnya sendiri, ternyata dia sedang menahan tawa.
"Umm, Sis?"
Jika saja Boruto adalah orang yang tidak memiliki etika, dia pasti sudah menghajar Neptune. Namun, karena Goddess cilik ini sudah membantunya dan Boruto tentu saja masih memiliki rasa kemanusiaan dengan tidak terlalu menjunjung tinggi emansipasi wanita, pemuda kuning hanya menghela nafas lelah. Hanya dari tertawanya saja pemuda itu sudah tahu di mana letak kelucuan kalimat barusan bagi Neptune.
"Aku hanya kesal, kau tahu? Aku juga ingin berpartisipasi meski itu merepotkan." Untuk pertama kalinya Boruto mengeluarkan nada cemberut bersamaan dengan nada cool nya.
"Kalau begitu, kenapa tidak melatih fisikmu saja, Boruto-kun? Mungkin penyebabmu pingsan adalah kekuatan matamu tidak berbanding dengan fisik yang kamu miliki." Jelas Nepgear. Boruto tertegun menatap gadis di sebelahnya.
'Kenapa aku tidak pernah memikirkan itu? Tentu saja itu adalah penyebabnya!' secercah harapan seperti menyinari pemuda itu. Pemuda kuning ingat akan suatu pernyataan bahwa, 'Bakat yang terlalu besar juga dapat menyerang kembali pemiliknya.'
"Tidak, Nepgear. Justru itulah solusi dari masalah terebut, aku bahkan sampai tidak pernah memikirkan itu. Terima kasih."
Nepgear terkikik malu, "S…sama sekali bukan masalah."
Sementara itu, Neptune masih saja menahan ketawanya sendiri.
"Kakakmu itu...apa selalu menyebalkan seperti itu?"
Stay tune for next! Sekali lagi, terima kasih yang sudah baca!
