Yosh! Chapter selanjutnya sudah datang guys. Sorry for late update!
Happy Reading!
Sebuah hari dimana matahari masih bersinar dengan terik dengan sedikit berawan. Sebuah hari yang tepat untuk melakukan aktivitas.
Boruto memegang erat pedang ninja nya. Keringat membasahi pelipis serta pipinya. Nafasnya juga terasa berat. Mata biru laut milik pemuda itu tetap dia fokuskan pada target di depannya, yaitu Dogoo setinggi satu meter yang berjarak sekitar 10 langkah.
Pemuda kuning mengambil nafas lalu melangkah maju dengan cepat. Di saat yang bersamaan, dia melancangkan gerakan mengayunkan pedang dengan kedua tangannya secara menyamping, hal yang paling bisa dia lakukan dalam menyerang. Dogoo tak berkutik dengan serangan tersebut, lalu muncul angka virtual sebesar 561 poin.
Setelah serangan itu berakhir, Boruto duduk tersungkur. Dia mencoba mengatur ritme nafasnya yang sudah tidak terkontrol sedari tadi. Suasana disekitarnya pun berubah menjadi sebuah ruangan besar yang berada di dalam Basilicom Planeptune, Dogoo yang barusan diserangnya juga ikut menghilang. Ternyata Boruto melatih dirinya dengan sebuah alat proyeksi yang dikembangkan oleh Leanbox atau Vert itu sendiri, alat yang mampu memanipulasi diri sendiri serta latar sekitarnya.
"Huff…Aku…sudah…lelah…," Boruto menyimpan kembali pedangnya lalu merubah posisinya menjadi berbaring. Dia sudah berlatih selama satu jam. Tak jauh dari pemuda itu, Nepgear datang membawa minuman yang memang dibawakan untuknya. Sedangkan Compa dan IF mengamati dari jarak yang tidak terlalu jauh.
"Boruto-san terlihat berlatih dengan keras," komentar oleh gadis berambut jingga, Compa.
"Aku dengar dia ingin melatih fisiknya. Untuk manusia biasa, bertarung selama satu jam itu sudah sedikit tidak normal. Tapi dia melakukannya sudah sampai 3 hari berturut-turut." IF ikut menimpali.
"Apa menurutmu dia akan berkembang dengan cepat?"
"Entahlah, kita belum bisa melihat hasilnya kalau hanya 3 hari," raut tidak yakin ditampilkan oleh IF.
Boruto duduk kembali melihat Nepgear, lalu menerima minuman tersebut.
"Terima kasih, Nepgear." Dan setelah itu dia langsung meneguk dengan santai.
Gadis disebelahnya hanya tersenyum lembut, "Tidak perlu, aku juga mulai berlatih karena kamu yang memulainya."
Pemuda kuning masih mengalirkan tenggorokannya dengan minumannya, tapi tatapannya dia lemparkan ke gadis lilac itu.
"Lagipula, satu jam juga termasuk berlebihan menurutku. Apa tidak masalah?"
Boruto menggeleng, setelah minum. "Aku masih bisa beraktivitas setelah beristirahat, tapi batasku sepertinya cuma segitu."
"Kalau begitu beristirahatlah sekarang, Boruto-kun,"
.
.
.
Pemuda kuning menyelesaikan mandi paginya. Sekarang dia berjalan pada lorong yang menuju ke ruang tengah Basilicom. Rambutnya masih belum kering, namun air sudah tidak ada air yang menetes dari surai pirang milik sang pemuda.
"Uni-chan! Lalu ada Rom-chan dan Ram-chan! Ada apa kalian ke sini?"
Boruto mendengar suara Nepgear yang berasal dari ruang tengah. 'Uni? Rom? Ram?'
Sesampainya disana pemuda itu melihat tiga orang yang terlihat asing baginya, sedang berbicara dengan Nepgear. Sedangkan Compa dan IF duduk di meja makan memperhatikan keempat orang tersebut, lalu tak lupa Neptune yang masih asik dengan game consolenya.
Begitu tatapan Nepgear tertuju pada pemuda kuning, ketiga orang yang masih asing bagi pemuda itu pun mengikuti atensi gadis lilac. Dapat terlihat ekspresi dari ketiganya, mata membulat.
'Inikah Uni, Rom, dan Ram?' pikir pemuda kuning.
"Oh? Boruto-kun! Ini adalah teman-temanku dari Lastation dan Lowee. Ini Uni-chan. Kemudian yang kembar ini adalah Rom-chan dan Ram-chan." Nepgear terlihat bersemangat.
"H..halo, aku Uni dari Lastation." Uni meletakkan kedua tangan di depannya. Gadis itu memiliki kulit putih dengan rambut hitam sepunggung diikat twintail yang diberi pita hitam. Mata berwarna merah gelap dan memakai gaun hitam. Sepatunya dan sarung tangannya berwarna hitam.
"Namaku Ram! Dan ini Rom!" Boruto kali ini memperhatikan si kecil kembar. Ram memiliki rambut coklat panjang yang lurus dengan mata biru gelap ditambah dengan topi mantel merah terang. Dia memakai mantel berwarna merah terang, tights putih dan sepatu merah terang. Sedangkan Rom memiliki penampilan yang hampir sama dengan Ram, yang membedakan adalah rambutnya lebih pendek serta mantel yang dia kenakan berwarna biru muda. Selain itu, pemuda kuning dapat langsung mengetahui sifat dari keduanya. Ram lebih ceria lalu Rom sedikit pemalu.
"Namaku Boruto Uzumaki, salam kenal." Dan setelah itu dia tak tahu ingin berkata apa lagi. Namun, Ram dan Rom mulai mendekatinya.
"Nee, Boruto-san! Ingin bermain bersama kami?"
"Boruto-san ingin bermain?"
Keduanya mengamit masing-masing tangan pemuda itu. Boruto mulai salah tingkah dengan gerakan tiba-tiba tersebut. Siapa yang menyangka keduanya langsung mengajak bermain? Terlebih pada orang yang masih baru bagi mereka.
"E…eh. Aku masih harus istirahat. Tadi aku berlatih dengan pedang jadi aku harus melemaskan ototku sekarang." Bukannya Boruto ingin menolak, namun raganya memang membutuhkan pendinginan. Pemuda kuning menatap Nepgear.
"Apa mereka sudah tahu tentangku?" tanya pemuda itu.
Nepgear mengangguk namun tangannya dia gunakan untuk menggaruk pipinya yang tidak gatal, "Aku dan Sis sudah bercerita sedikit. Ahaha."
Boruto mengangkat alis, 'Apa waktu di tempat Vert? Bukannya aku sudah bilang untuk lebih baik tidak dulu membahas diriku pada orang lain?'
"Jadi Boruto-san, bagaimana kalau menggambar?"
Whoops, dia lupa bahwa keduanya masih belum melepaskan genggaman pada tangan pemuda kuning. Boruto dengan pasrah menatap keduanya.
"Menggambar apa ya?"
.
.
.
Uni dan Nepgear akhirnya duduk mengikuti Compa dan IF. Neptune terlihat masih belum selesai dengan permainannya.
"Ngomong-ngomong kenapa kalian kesini, Uni-chan?" Nepgear melanjutkan pembicaraan yang tadi sempat terhambat. Compa menikmati minuman yang dia buat sendiri sambil ikut mendengar.
"Ah iya, katanya di Planeptune akan ada invasi dari Dogoo."
Burrrph! Terdengar oleh mereka seperti semburan yang keluar dari mulut. Mari tidak kita bahas. IF membantu mengambil tissue bersamaan mengajukan pertanyaan, "Apa maksudnya?"
Uni mencoba menjelaskan, "Hmm jadi seperti ini. Awalnya, Guild dari Planeptune mengirim pesan ke Guild Lowee dan Guild Lastation. Setelah itu, Guild membuat sebuah pesan ke Oracle dan sampailah ke Onee-chan. Dan akhrinya dia mengirimku untuk ke sini, namun sebelum itu aku mendapat kabar Rom dan Ram juga menuju ke sini."
Nepgear mulai memahami jika situasi di Planeptune mulai serius, "Invasi Dogoo ya, baru pertama kali ini terjadi. Informan Guild hebat juga ya."
"Tapi, kenapa aku baru mengetahui ini? Biasanya aku selalu mendapat informasi yang seperti itu. Haahh, begitu aku tidak datang untuk satu hari berita yang genting jadi terlewat." Jelas IF sedikit frustrasi.
"Kapan kira-kira invasi itu datang?" Nepgear bertanya.
"Umm, sekitar lima hari lagi mungkin? Kalau tempatnya nanti di Virtua Forest dengan arah menuju ke sini."
Compa sedikit bergetar, "Agak menakutkan juga ya, padahal kalau sedikit pasti bisa dibereskan."
Dari seberang matanya, IF melihat Histoire mendekat. Yang membuat perempuan beriris hijau ini penasaran, adalah kecepatan Histoire saat menuju ke arah mereka dengan tergesa-gesa.
"IF, apa kamu sudah mendengar kabarnya?" tanya Histoire, yang lain pun menoleh ke arah yang sama.
"Apakah tentang Dogoo, Hitoire-sama?" IF memastikan.
Sang Oracle mengangguk pelan, "Aku baru mendapat kabar setelah Uni, Rom, dan Ram tiba di sini. Sepertinya ini tidak bisa dianggap ringan sama sekali."
Uni akhirnya membuka mulut, "Kalau begitu, bagaimana jika kita diskusikan saat malam?"
Semuanya terlihat setuju dengan usulan tersebut. Histoire undur diri karena urusan yang harus lakukan masih ada, tak lupa dia memarahi Neptune karena daritadi yang dilakukan olehnya hanya bermain.
Nepgear penasaran bagaimana Boruto yang sedang berurusan dengan Rom dan Ram. Mereka bertiga duduk mengelilingi meja di lantai beralaskan karpet. Gadis lilac melihat pemuda kuning sedang tertidur dengan wajah berada di atas sebuah kertas dengan gambar yang belum selesai, sedangkan Rom dan Ram tidak terlalu peduli dengan Boruto dan masih asyik dengan kegiatan mereka. Kelihatannya mereka berdua membiarkan pemuda itu tidur.
"Aku mau mengambil sesuatu sebentar," Nepgear mengijinkan diri. Lainnya mengangguk dan melanjutkan obrolan yang lebih ringan.
Tak lama setelah itu, Nepgear kembali dengan sebuah selimut tipis serta bantal kecil. Dia lalu memakaikan selimut tersebut pada tubuh sang pemuda dan menyelipkan bantal antara meja dan kepala Boruto. Uni memperhatikan kelakuan temannya itu.
"Nee, apa mereka memang sedekat itu?" tanpa sadar, gadis berambut hitam itu bertanya. Keduanya, Compa dan IF, menoleh lalu memahami apa yang dimaksud.
"Entahlah, aku tidak pernah mengulik apapun. Jadi aku hanya bilang mungkin?" IF mengendikkan bahu.
Sedangkan Compa matanya terlihat berbinar, "Jadi kamu menyadarinya juga? Terlihat manis bukan? Aku bahkan pernah melihat Boruto-san menggendong Gear-chan seperti seorang putri! Seperti shoujo-manga yang pernah kubaca!"
"Eh? Benarkah itu, Compa?" Gadis beriris hijau membulatkan matanya.
Uni terlihat memerah pipinya, "W..w..waa…Itu, p..pernah terjadi?"
Compa mengangguk mantap. Beberapa saat kemudian Nepgear kembali kepada mereka, namun gadis itu merasakan suasana yang berbeda ketika dirinya kembali.
"A..ada apa ini? Apa aku melewatkan sesuatu?"
.
.
.
"Hee, jadi akan ada invasi dari makhluk itu? Tinggal di libas saja kan?" Neptune mengepalkan tangannya ke udara. Dia baru saja mendengar tentang berita tersebut setelah makan malam. Boruto terlihat memegang gelas ditangannya dengan erat, pemuda itu sejujurnya juga terkejut.
"Tapi, ini bukan hal yang sepele. Kabarnya jumlahnya mencapai ribuan." Jelas Histoire.
"Menurutku dengan kekuatan kita yang hanya segini, sepertinya akan sulit. Ditambah, Dogoo seperti apa yang akan kita lawan juga masih belum diketahui kan?" opini keluar dari CPU candidate Lastation, Uni.
IF bersuara kali ini, "Mari kita buat serangan bertahap."
Yang lain memasang tatapan bingung, sehingga gadis itu melanjutkan lagi, "Begini, pertama mari kita buat serangan…"
Dan sampai seterusnya hingga penjelasan oleh IF selesai.
.
.
.
Boruto berdiri menatap jendela luar yang terlihat sudah gelap, di sana dia bisa melihat kerlap-kerlip Planeptune saat malam hari. Pemuda itu sedang menunggu air yang sedang dimasak hingga mendidih. Di ruang tengah sudah tidak ada siapapun kecuali dirinya. Uni, Rom, dan Ram menetap hingga invasi itu datang.
'Invasi Dogoo, huh. Setiap hari ada saja yang membuatku repot.'
Badannya masih belum pulih dari rasa pegal akibat dari latihan selama tiga hari berturut-turut.
"Apa memang aku sudah berlebihan ya…?" pemuda itu menghela nafas.
"Berlebihan apa, Boruto-kun?"
Boruto menengok dengan cepat, dirinya tak mengira masih ada yang bangun jam segini. Nepgear memiringkan kepalanya lalu menyadari apa yang sudah dia lakukan. "M..maaf! Aku tidak bermaksud mengejutkanmu. Aku tadi hanya mengecek apa Rom dan Ram sudah tidur atau belum, lalu…"
Pemuda kuning menganggukkan kepalanya paham. "Sekalian jika ingin menikmati teh."
Mereka duduk pada meja makan, dengan cangkir masing-masing berisi teh hangat. Kesunyian seperti orang ketiga dalam suasana seperti ini.
"Jadi…maksudnya berlebihan tadi apa?"
Boruto menoleh, tangannya masih dia simpan dalam saku celana selagi duduk. "Ng? Itu, latihan."
"Kukira aku bisa melewati ini, tapi rasanya untuk sekarang masih mustahil."
Gadis yang berada di depannya memasang ekspresi 'oh'. Lalu kedua tangannya mulai menggenggam cangkir berisi cairan hangat tersebut.
"Waktu aku bercerita tentang kamu pada saat Sis menghubungi Lastation dan Lowee, kita hanya bilang kalau kamu adalah orang baik yang selalu membantu saat bertarung, tidak lebih. Makanya soal tentang 'itu' masih aman kok."
Boruto belum melepas pandangannya dari sang gadis, "Begitu…"
"Apa ada yang mengganggu pikiranmu lagi?" tanya gadis itu.
Boruto menerawang, "Tidak juga. Hm? Atau mungkin ada…"
Nepgear terlihat penasaran sambil memajukan kepalanya, "Apa itu? Apa itu?"
'Geez, ini sudah malam Nepgear.'
"Aku mungkin hanya ingin agar saat invasi itu tiba, kekuatan mataku tidak bangkit."
Yang mungkin tidak mereka berdua sadari, ada satu orang yang mendengar pembicaraan mereka saat itu. Benar-benar ada orang ketiga.
.
.
.
TBC
