Previous

"Apa ada yang mengganggu pikiranmu lagi?" tanya gadis itu.

Boruto menerawang, "Tidak juga. Hm? Atau mungkin ada…"

Nepgear terlihat penasaran, "Apa itu? Apa itu?"

'Geez, ini sudah malam Nepgear. Sabarlah sedikit.'

"Aku mungkin hanya ingin agar saat invasi itu tiba, kekuatan mataku tidak bangkit."

Yang tidak mereka berdua sadari, ada satu orang yang mendengar pembicaraan mereka saat itu.


Sorry untuk update yang lama. Sebelum itu, semoga kalian selalu aman dari pandemi yang dialami sekarang. Mungkin dalam beberapa bulan kedepan, kata-kata barusan sudah tidak akan bermakna lagi. Semoga. Alright, stay safe all and pray. Lalu terima kasih juga yang masih stay dengan fic ini, fic yang masih jauh dari sempurna. Well, kalian baca aja aku udah seneng banget! Oke, sekian dan

Happy Reading!


"Tapi sebelum itu…," Boruto menegakkan badannya yang tadinya bersandar. Nepgear terlihat kebingungan.

Yang selanjutnya pemuda kuning lakukan membuat Nepgear sedikit menegang. Boruto secara lantang membuka suara, "Sepertinya ada yang mendengar pembicaraan kita."

Gadis lilac melihat sekeliling, namun tidak menemukan siapa-siapa. Tapi saat gadis itu melihat pria yang berada di depannya, atensi sang pemuda menatap pada lorong yang tidak begitu gelap, lorong yang menghubungkan kamar-kamar. Boruto masih secara intens mengarahkan pandangannya ke arah tersebut, diikuti oleh Nepgear setelah itu.

Dari kegelapan, muncul siluet berwarna hitam.

"Bagaimana kamu bisa tahu kalau aku di sini?" Boruto dapat melihat warna kemerahan yang sedang mewarnai pipi gadis raven. Sepertinya malu karena sudah ketahuan.

"Uni-chan?" Nepgear terdengar seperti menarik nafasnya.

Pemuda kuning kembali menyandarkan badannya pada kursi, "Tidak juga, aku hanya mengetes. Hanya intuisiku saja yang mengatakan jika sedang ada seseorang disekitar."

Uni melebarkan matanya, "Jadi maksudmu hanya menjebakku?"

Boruto menggeleng pelan, "Bukan begitu. Jika memang kau tidak keluar, aku hanya perlu menyimpulkan kalau intuisiku salah. Tapi kau sendiri yang memang keluar kan? Lagipula menguping bukan kebiasaan bagus."

Uni semakin memerah, yang dikatakan olehnya ada benarnya. Gadis itu masih berdiri dengan tangan semakin mengepal, namun setelah itu dilemaskannya kembali sambil menghelas nafas. Baik, dia sudah kalah.

"Haahhh…Aku mengerti. Kalau begitu, kalian tadi membicarakan apa? Terlihat serius sekali…"

Nepgear menepuk tangannya pada kursi disebelahnya sambil tersenyum, mengajak Uni.

Lalu dijawab anggukan oleh gadis raven.

Boruto hanya mengendikkan bahu.

.

.

.

"Aku sebenarnya hanya penasaran, apa maksudnya dengan 'kekuatan mata yang bangkit'?" Uni duduk disebelah Nepgear dan menghadap Boruto. Cangkir yang ada di depannya mengepulkan asap ringan yang tercium bau harum teh di dalamnya.

Nepgear menatap Boruto, sedangkan Boruto melihat kearah lain. Pemuda kuning seperti sedang mencari kata-kata yang pas untuk memulai isu pemuda tersebut. Atau, menimbang apakah soal 'kekuatan mata' tersebut diceritakan atau tidak. Itu yang dapat Nepgear rasakan.

"Aku sendiri juga tidak begitu mengerti, karena itulah aku besok akan bertanya pada Histoire."

Uni mengerutkan alisnya, 'Huh? Apa maksudnya itu?'

"Umm, Uni-chan, bagaimana kalau kita membahas yang lain saja? Kan kita sudah beberapa waktu tidak ketemu." Entah hanya firasatnya atau tidak, Nepgear merasa Boruto memang masih kebingungan untuk berbicara sesuatu tentang pemuda kuning itu sendiri. Uni memandanginya, dan dari raut wajah gadis itu terlihat mengerti.

"Apa kau adalah CPU, Uni?" Gadis raven menatap Boruto. Entah kenapa gadis itu sedikit malu sekarang. Apa karena Boruto baru memanggil namanya untuk pertama kali?

"Ehh..., Aku adalah CPU candidate, sama seperti Nepgear. Onee-chan yang CPU." Setelah itu Uni dengan cepat meminum tehnya. Masih merasa kurang nyaman.

Nepgear menaruh telunjuk pada dagunya, "Noire-san tidak ikut kemari juga?"

"Tidak tahu. Katanya sih mungkin dia akan datang saat 'itu' tiba. Tapi untuk jaga-jaga, dia bilang untuk mengirimku ke sini dahulu." Lalu dia meminum tehnya lagi.

Boruto berdiri dan mencuci gelasnya setelah tehnya habis, dia masih dapat mendengar percakapan tersebut.

'Jadi yang di Lastation itu Noire. Kalau begitu, Blanc yang di Lowee?'

"Blanc-san dan Vert-san tidak ke sini juga. Aku tidak yakin apa kita bisa menghadapi 'itu'." Nepgear terlihat sedikit menunduk.

Boruto lalu berjalan mendekati gadis itu. Tangannya tanpa sadar mengelus pucuk kepala Nepgear, "Aku yakin kita tidak selemah itu. Apa yang dikatakan Neptune mungkin ada benarnya, kita hanya perlu melibas mereka."

'…atau memang itu yang kuharapkan.'

Nepgear menatap Boruto, pemuda itu melihat jika sinar dalam mata gadis itu seperti kembali lagi. Boruto mulai berjalan lagi setelah itu, "Aku mau tidur, selamat malam."

Nepgear dan Uni menatap kepergian pemuda itu. Uni bergumam, "Dia terlihat peduli padamu."

Nepgear menoleh, "Kamu mengatakan sesuatu, Uni?"

"Eh!? Tidak, bukan apa-apa. Oh iya, bagaimana kalau besok kita ke pusat perbelanjaan?"

"Aku rasa itu ide bagus! Kita bisa mengajak Rom-chan dan Ram-chan."

Uni menghela nafas dalam hati.

.

.

.

Boruto merasakan situasi disekitarnya terasa kembali lagi seperti beberapa hari yang lalu, sebuah ruang kosong dimana hanya ada kegelapan di sana. Dia berada di sini lagi. Seringkali dia ingin mencoba melihat tangannya sendiri, tapi seolah cahaya pun terserap dalam kegelapan tersebut sehingga tangannya tak terlihat. Kali ini dia tampak tenang, dan menunggu.

Lalu yang ditunggu olehnya akhirnya sampai, sebuah cahaya yang cahaya itu sendiri menyebutnya Eye of Hope. Seperti biasa atau baru kali kedua, EoH menyambutnya dengan sapaan santai.

"Yo!" Cahaya itu memanggil. Boruto sebenarnya masih belum terbiasa dengan sikap friendly dari EoH, mungkin karena dia bola cahaya?

"Bagaimana caranya agar kita bisa selalu bertemu seperti ini?" pemuda kuning langsung melancarkan pertanyaan seolah sudah dipikirkan terlebih dahulu.

"Whoa, whoa, santailah sobat! Apa kamu memang orang yang tidak suka basa-basi?" EoH terlihat mundur sedikit.

Boruto terdiam, dirinya masih belum pandai bergaul. Hal semacam ini mungkin dapat menjadi pelajaran kecil baginya.

"Sepertinya kamu sudah tenang, lagipula kamu sedang tertidur kan? Anggap saja ini akan menjadi mimpi yang panjang. Heheh…"

'Bahkan bola cahaya seperti dia bisa terkekeh?' Jika saja pemuda kuning bukanlah orang yang pendiam, dia pasti sudah tertawa.

"Mimpi yang panjang? Kenapa seperti itu?" Boruto mendudukkan dirinya pada lantai gelap yang tak terlihat, mencoba membuat dirinya santai.

EoH menyuarakan kata-kata berikutnya dengan nada serius, "Karena aku akan menceritakan diriku sebelum masuk kedalam dirimu, atau lebih tepatnya matamu. Selain itu, mungkin ini akan berhubungan dengan Maven"

Pemuda kuning menahan nafas. Yep, mungkin memang akan menjadi mimpi yang panjang.

Boruto akhirnya dapat mengetahui nama asli dari EoH, yaitu Oriik. Oriik mengatakannya sendiri jika dia adalah CPU candidates dari Tari nation. Hal yang mengejutkan bagi pemuda kuning.

"CPU candidates? Berarti kau adalah Goddess?"

"Lebih tepatnya God, karena aku adalah laki-laki. Goddess dan God berada pada ras yang sama." Jelas EoH, atau Oriik.

Ada hal yang mengganjal sedikit oleh Boruto, "CPU candidates, berarti ada yang lainnya?"

"Bagus jika kamu menyadarinya. Benar, yang satunya lagi adalah Maven. Sebenarnya dia adalah kakakku. Oh, aku belum menyebut CPU dari Tari. Dia adalah Rei Ryghts."

Lagi-lagi nama serta istilah baru muncul. Tari nation saja masih belum dia pahami, lalu ada nama baru pula. Boruto menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Oriik tentu tahu betul jika Boruto masih belum dapat mencerna semua cerita barusan, namun itu harus dilakukan sebelum waktunya menipis. "Aku tahu kamu masih belum paham seluruhnya. Tapi sebenarnya itu semua mungkin bisa kamu tanyakan pada Histoire."

Pemuda kuning hanya memandang Oriik dengan pandangan biasa, terlihat mengerti.

"Nah, sekarang adalah bagaimana aku bisa berada dalam dirimu, benar kan?" dan Boruto masih belum mengeluarkan suaranya lagi.

Boruto mendengar lagi cerita bahwa Tari nation sebenarnya ingin dipecah menjadi tiga nation. Agar Rei, Maven, dan Oriik dapat memiliki masing-masing nation untuk dipimpinnya. Namun hal itu sama sekali tidak disetujui oleh Rei, dengan mengatakan bahwa mereka berdua harus mampu menyaingi kekuatan dari pemimpin Tari sendiri, yaitu Rei.

"Itu sebenarnya sudah menjadi ide yang sangat bagus. Dengan memecah menjadi tiga, pengendalian tanah Gamindustri pasti akan semakin mudah. Bahkan usulan tersebut juga disetujui oleh para rakyat Tari. Tapi Rei berkata bahwa itu semua justru akan menurunkan kekuatannya dan bilang bahwa dialah satu-satunya pemimpin tanah Gamindustri…"

"Hal yang terjadi selanjutnya adalah aku dan Maven bertarung bersama melawan Rei. Kita berdua sebenarnya tahu jika dengan kekuatan individual saja pasti akan kalah. Namun jika bertarung bersama, kemungkinan untuk menang itu masih ada. Tapi saat bertarung, aku malah merasa Maven juga memiliki perasaan yang sama dengan Rei, yaitu ingin menguasai Gamindustri sendiri. Menyebabkan kombinasi kami kacau dan akhirnya kita kalah."

Yang selanjutnya dapat Boruto dengar, meski Rei memenangkan pertaruangan tersebut, tapi rakyat Tari sudah terlanjur tidak lagi mempercayai Rei sebagai Goddess. Membuat pada akhirnya Tari berada pada ujung kehancuran. Rei akhirnya tidak memiliki kekuatan lagi sehingga dirinya mati sebagai Goddess bersamaan dengan hancurnya Tari.

"Dengan kekuatan yang tersisa, aku dan Maven berpindah dimensi karena dimensi kami yang sebelumnya sudah tidak tersisa apapun lagi. Nation yang sudah hancur pun takkan bisa dibangkitkan lagi meski oleh CPU candidate."

Singkatnya menurut Oriik, Maven berpindah ke dimensi dirinya ada sekarang. Sedangkan saat itu Oriik berpindah ke dimensi Boruto ada sejak lahir, yaitu Bumi.

"Saat pertama kali aku melihatmu waktu kecil, aku merasa bahwa kamu adalah orang yang cocok untuk meneruskanku karena diriku sendiri yang saat itu sudah tak bisa melakukan apapun lagi, kecuali satu hal." Oriik menjeda kalimatnya sebentar.

Boruto mulai penasaran, "…dan satu hal itu?"

Selanjutnya Oriik berkata, "Itu adalah…"

"…membuatmu menjadi reinkarnasiku yang selanjutnya."

.

"Wuah!" Boruto mendadak terbangun dari tidur dengan posisi akhir terduduk. Dirinya berkeringat dingin serta nafasnya tidak beraturan. Apa ini efek dari mengobrol dengan EoH?

'Oh ya, nama dia kan Oriik.' Pemuda kuning mulai menenang. Namun kepalanya terasa sangat pusing sehingga dia menidurkan dirinya lagi dan menarik selimut sampai mulutnya. Entah kenapa dirinya juga merasa menggigil.

.

.

.

"Suhu nya sekitar 39 derajat. Boruto-san terkena demam."

Compa sudah selesai mengecek keadaan dari Boruto. Pemuda kuning masih belum merubah posisinya sejak dari dia membuka matanya. Dirinya diperhatikan oleh sejumlah orang di kamarnya tersebut. Neptune, Nepgear, Uni, Rom, Ram, dan IF. Lalu Histoire juga mendatanginya setelah mendapat kabar.

"Apa Boruto-san akan baik-baik saja?" tanya Ram.

"Hai desu, dia mungkin hanya mengalami drop. Apa karena latihannya yang kemarin?" Compa memiringkan kepalanya.

IF terlihat setuju, "Kemungkinan besar begitu. Boruto-san, seharusnya kamu tidak memaksakan diri begitu."

'Yang dikatakan oleh mereka berdua mungkin ada benarnya,' Boruto bahkan dapat merasakan lidahnya sendiri yang pahit.

"Maaf, aku merepotkan kalian…"

"Hei, hei! Tidak perlu merasa bersalah seperti itu! Nanti kalau kuberikan pudding milikku, pasti kau akan langsung sembuh!" Neptune juga berusaha menghibur, meski itu bukan solusi yang membantu.

Uni hanya sweatdrop, "Neptune, pudding bukanlah obat."

Lalu setelah itu, suasana sedikit riuh sembari Compa mencari obat untuk Boruto.

Nepgear memasang wajah khawatir, gadis itu akhirnya mendekati pemuda kuning. "Boruto-kun…"

Boruto menoleh dan mendapati gadis itu mengerutkan alisnya. "Aku terlihat tidak berdaya sekarang."

Gadis lilac menggeleng, menyanggah pernyataan barusan. "Boruto-kun sebenarnya sudah melakukan terlalu banyak untuk Planeptune, jadi seharusnya ini tidak masalah."

Pemuda di depannya terlihat melebarkan matanya sedikit, seolah berpikir 'benarkah?' pada Nepgear.

"Aku dan Uni akan berbelanja sesuatu, apa ada yang kamu inginkan, Boruto-kun?"

Boruto sebenarnya masih belum nyaman diperlakukan baik oleh Nepgear, tapi seharusnya dirinya sudah mulai membiasakan. Pemuda itu akhirnya berpikir, "Kalau begitu hamburger."

"Apa kamu bercanda? Lebih baik kita membeli sesuatu yang membuatmu menjadi lebih baik, benarkan Nepgear?"

Keduanya melihat sumber suara, Uni terlihat mengacak pinggang.

"Tapi Nepgear bilang sesuatu yang kuinginkan."

"Umm…tapi Uni-chan benar, Boruto-kun. Pilih sesuatu yang lain saja, ya?"

Pemuda kuning hanya bisa menghela nafas, sakit memang menyusahkan.

Namun di dalam hatinya yang terdalam, dirinya entah kenapa merasa hangat karena diperhatikan oleh orang-orang disekelilingnya.


TBC