Heya! Btw, gimana kabar kalian? Semoga baik-baik saja, terutama masa sekarang yang lagi pandemi seperti ini. Aku aja udah gk keluar rumah sampe sebulan, bayangkan SEBULAN! Tapi yah, mau gimana lagi kan? Stay safe and pray guys. Disini juga aku berdoa supaya pandemi ini bisa menghilang sebelum lebaran. Huft. Alright, langsung saja ini adalah chap 11 dari 'Boruto New Life'
Happy Reading!
Di dalam sebuah kamar, seorang gadis perlahan membuka matanya. Dirinya mencoba untuk menelusuri situasi yang ada. Badannya yang ramping ia coba gerakkan sampai bangun terduduk. Gadis itu mengusap matanya perlahan, tak lupa menguap sebentar. Netranya menangkap seorang lagi yang mirip dengannya namun dengan rambut yang lebih pendek, Neptune yang masih terlelap.
"Sis…" ujarnya pelan begitu melihat saudaranya sendiri, ia hanya bergumam bukan memanggil.
Kakinya ia tapakkan pada lantai kamar lalu memakai slippers bulu yang memang biasa dikenakan jika di dalam Basilicom. Dia memulai hari dengan mood yang baik.
"Yosh!"
.
.
.
Nepgear membawa nampan ditemani oleh Uni saat itu. Mereka berdua berjalan menuju kamar Boruto. Namun, Nepgear dapat melihat dengan sekilas jika mata Uni saat itu terlihat sedikit kosong.
"Uni-chan?"
Gadis berambut hitam itu tersadar sejenak dengan menegakkan kepala lalu menoleh pada si pemanggil. "Eh, ah. Ya?"
Nepgear memiringkan kepalanya, "Kamu sedang memikirkan sesuatu, Uni-chan? Hanya perasaanku saja sih."
Uni terdiam sejenak menatap teman lilacnya. Memilah kata-kata yang tepat untuk merespon pertanyaan tersebut.
"Aku tidak apa-apa kok. Kalau memang ada masalah juga aku pasti akan cerita kan?"
Gadis raven dapat melihat reaksi selanjutnya dari Nepgear, tersenyum sambil mengangguk. "Hum! Iya juga ya."
"Ngomong-ngomong, apa kita ajak juga Rom dan Ram?"
Dengan langkah improvisasi yang cepat, Uni mencoba untuk mengubah topik. Dan memang dia juga ingin mengajak kedua saudara kembar dari Blanc dengan dirinya dan Nepgear. Gadis itu tersenyum puas dalam hati, 'Kamu pintar, Uni!'
"Kenapa tidak? Aku senang jika pergi bersama dengan banyak orang. Lagipula CPU candidates sudah lama tidak melakukan hal seperti ini." Nepgear lebih melebarkan lagi senyumnya.
Setelah sampai pada tujuan pintu kamar yang dimaksud, Uni berniat untuk mengetuk pintu tersebut. Namun, ternyata pintu terbuka dengan sendirinya dan menampakkan Sang Oracle Planeptune, Histoire, sedang melayang keluar dari ruangan Boruto.
"Ah!" mendadak Histoire mengerem dirinya.
"Ah! Histoire-san! Selamat pagi." Masih beruntung mereka tidak saling menabrak.
"Oh, Nepgear dan Uni-san. Selamat pagi! Aku permisi ya…" Setelah itu, Histoire kembali melanjutkan acara melayangnya entah kemana. Nepgear dan Uni dengan sebentar masih menatap kepergian si Oracle.
"Apa ada hal penting yang dibicarakan ya dengan Boruto-kun?"
"Mungkin seperti itu, ayo kita masuk."
Saat keduanya sudah memasuki ruangan itu, mereka dapat melihat Boruto sedang menatap dari balik buku yang sedang dia baca. Pemuda itu membaca sambil berbaring, dengan selimut yang masih menutupi hampir seluruh tubuhnya.
Kedua gadis itu mendekatinya, "Kami membawa sarapan untukmu, Boruto-kun!"
Boruto mencoba untuk duduk. Pemuda kuning dapat melihat isi dari nampan yang dibawa oleh Nepgear. Semangkuk bubur panas, segelas air, dan satu benda yang mirip obat menurut Boruto. Menu seperti kemarin.
Pemuda kuning meringis sedikit begitu rasa pusing dikepalanya muncul. Nepgear bisa mendengar itu lalu berkata, "Obatnya diminum setelah sarapan nanti. Apa kamu bisa makan sendiri, Boruto-kun?"
Jawaban yang didapat adalah anggukan pelan. Boruto bukan malas ingin membuka suaranya, namun ia merasa tenggorokan miliknya sangat tidak enak digunakan untuk berbicara saat itu.
Nampan itu diterima dan diletakkan di pangkuan pemuda itu. Setelah semua persiapan selesai, Nepgear dan Uni izin pamit untuk membiarkan pemuda itu sendiri karena masih sakit. Namun baru beberapa langkah sebelum melewati kusen pintu, kedua gadis itu mendengar dentingan benda jatuh. Mereka berbalik dan mendapati Boruto sedang meringis kembali sambil memegang kepalanya. Sendok yang tadinya dia ingin gunakan terjatuh akibat rasa pusing yang lebih kuat muncul.
"Boruto-kun!"
"Boruto!?"
.
.
.
"Seharusnya bilang kalau kamu tidak kuat, Boruto-kun. Ini…" Pemuda itu membuka mulutnya agar makanan yang sedang disuapi oleh Nepgear dapat masuk.
Sambil mengunyah, pemuda itu memjawab, "Tadi aku masih merasa bisa, tapi rasa pusing ini…"
Nepgear mengambil sedikit bagian bubur pada sendok yang sedang dipegang olehnya, mempersiapkan suapan selanjutnya.
"Apa tadi kalian membicarakan hal yang penting?"
Boruto menaikkan alis sebelah, "…kalian?"
Nepgear memajukan sendoknya lagi di depan kepala kuning. "Kamu dan Histoire-san."
Setelah melahap isinya, Boruto mengerti, "Lebih kepada…hal yang membuatku penasaran."
"Apa aku boleh tahu hal itu?" Gadis itu menatap pemuda kuning dengan sedikit harap.
Boruto menaikkan alisnya lagi karena diberi tatapan seperti itu, "Aku hanya meminta tolong kepadanya untuk mencari tahu Lady Maven dan Eye of Hope."
"Lalu?" Tatapan itu ia berikan lagi pada Boruto.
Boruto mulai sweatdrop, 'Gadis ini, terlalu penasaran!' Tapi setelah itu dia menghela nafas.
"Haahh…Dia bilang bisa dilakukan dan memakan waktu 3 minggu. Meski sebenarnya aku butuh secepatnya."
"Ohh. Tipikal dia sekali." Nepgear hanya tersenyum dan terkikik geli setelah itu.
Uni sebenarnya masih ikut bersama mereka, jikalau terjadi sesuatu. Namun gadis raven lagi-lagi tidak fokus dengan apa yang ada di depannya saat ini, seperti sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri. Boruto sebenarnya memperhatikan itu dan masih memilih diam.
Selagi Nepgear masih mengurusi sarapan Boruto, disela-sela tersebut dia bertanya, "Ngomong-ngomong, apakah Noire-san akan datang, Uni-chan?"
Tidak ada sahutan. Pemuda kuning mencoba untuk menjelaskan kepada gadis lilac dengan menunjuk Uni menggunakan dagunya.
Nepgear berbalik mendapati tatapan kosong Uni, "Umm, Uni-chan? Halo?"
"Ah! Ya, ada apa Nepgear?" Gadis raven itu menatap Nepgear.
Nepgear memasang tatapan khawatir karena merasa ada yang tidak beres, "Aku tadi bertanya, apa kamu tadi mendengarnya?"
"Uhh…sebenarnya tidak. Tadi aku masih mengantuk karena semalam kurang tidur, ahaha…" Uni menggaruk pipinya sambil melirik ke arah lain.
Boruto yang masih mengunyah makanannya, sedikit menajamkan matanya, 'Dia sedang berbohong? Lalu, apa artinya dia juga tidak mendengar percakapan barusan?'
"Uni-chan, kamu benar tidak apa-apa?"
Entah kenapa Uni merasa dirinya terpojok diberikan tatapan penasaran oleh dua orang di depannya, meski Boruto masih teman baru baginya.
"Umm, iya. Sebenarnya aku ada masalah, tapi aku masih belum ingin mengatakannya." Dan akhrinya gadis itu menunduk. Terlihat seperti ingin menangis.
Boruto dan Nepgear tentu menjadi salah tingkah mengenai perubahan sikap gadis raven yang tiba-tiba seperti itu.
"Aku minta maaf, Uni-chan! Apa aku seharusnya tidak bertanya mengenai masalah itu?"
Boruto masih terdiam, namun raut wajahnya juga mengekspresikan sesuatu. Hanya saja dia tidak tahu apa ingin berkata apa.
Uni hanya menggeleng, "…bukan kok. Aku hanya terlalu memikirkannya saja. Kalian tidak perlu repot begitu."
"Tidak perlu dipaksakan, yang ada malah semakin buruk nantinya." Setelah memilah kata-kata yang pas, pemuda kuning akhirnya berbicara.
Gadis berambut hitam itu tertegun sejenak mencerna pernyataan barusan, lalu dia tersenyum pada Boruto. "Aku sudah tidak apa-apa sekarang. Jangan khawatir."
Mereka bertiga terdiam sejenak untuk menurunkan tensi suasana yang barusan terjadi. Uni membuka mulutnya, "Oh iya, tadi apa pertanyaannya?"
"Noire-san apakah akan datang?"
'Jadi Noire memang berasal dari Lastation. Aku akan bertemu dengan orang baru lagi.' Boruto menyimak mereka. Sebenarnya dirinya masih belum terbiasa dengan tiga goddess yang ia temui sejak kemarin. Namun, pemuda kuning setidaknya ingin mengetahui seperti apa CPU dan CPU candidates dari nation yang lain.
Uni sedikit tersenyum, "Hmm, tadi aku dapat pesan darinya. Nanti Onee-chan akan datang. Jadi kita bisa lebih kuat menghadapi invasi itu."
"Wah, itu berita bagus!"
Boruto menopang dagunya, 'Memang berita bagus, sisanya tinggal Vert dan umm…Blanc? Iya, Blanc. Terkadang aku bisa lupa dengan nama orang yang belum kutemui.'
"Nepgear."
"Hm, ya? Ada apa Boruto-kun?" Nepgear kembali menaruh atensinya pada pemuda kuning.
"Aku sudah kenyang."
Gadis lilac melihat mangkuk di pegangannya, masih tersisa sepertiga. "Tapi Boruto-kun…eh, baiklah. Jangan lupa membersihkan tubuhmu juga ya, kamu kemarin belum melakukannya."
"Hm." Boruto mengangguk pelan.
.
.
.
Menjelang siang, para CPU candidates melakukan jalan-jalan bersama ke pusat perbelanjaan sembari mempersiapkan untuk invasi yang mendatang.
"Nee Nee, Nepgear-chan! Bagaimana Boruto-san bisa ada di sini?" Sembari berjalan, Ram bertanya pada gadis berambut lilac.
Rom juga terlihat sama penasarannya dengan Ram, "Aku dengar dia dari dimensi lain…"
"Benar juga ya, hmm…" Nepgear membuat pose berpikir. Uni meski tidak berkata apapun sebenarnya juga penasaran sambil menatap Nepgear, kali ini pikirannya tidak sedang kemana-mana. Malahan gadis itu teringat dengan kejadian beberapa jam lalu.
#
Flashback
"Uni-chan, kita sebentar lagi bersiap dan ajak Rom-chan dan Ram-chan ya?"
"Tentu saja, Nepgear. Nanti aku yang akan mengajak mereka."
Lalu Nepgear beranjak pergi sambil membawa nampan dari kamar Boruto. Sedangkan Uni masih belum mengangkat tubuhnya dari bangku.
"Kau tidak ikut bersamanya?" Boruto memasang tatapan bingung padanya.
"Itu, apa pendapatmu tentang Nepgear?"
Boruto semakin mengerutkan dahinya, "Kenapa tiba-tiba?"
Gadis raven merasa pipinya memanas menanyakan hal tersebut, "Aku tidak tahu! Aku hanya penasaran kenapa dia bisa perhatian padamu, hanya itu saja..."
"Apa penyebabmu diam tadi karena memikirkan itu?"
"Eh? Tidak juga, sebenarnya itu masalah dengan Onee-chan. Tunggu, aku tidak bermaksud… Kenapa aku malah mengatakannya!?"
Uni terlihat sedikit panik. Namun setelah melihat ekspresi dari pemuda kuning, dia menepuk jidatnya. "Uhh…aku harap kamu tidak membahas ini dengan Nepgear."
Gadis itu dapat melihat raut wajah pemuda kuning yang mengerti dengan situasinya, "Hmm. Yah, semua orang punya masalah tersendiri."
Helaan nafas keluar dari mulut Uni. "Terima kasih. Umm, kamu belum jawab pertanyaanku."
Gadis raven menatap pemuda yang ada di depannya. Boruto hanya melihat ke atas seolah mencari jawaban diotaknya.
"Err…dia orang yang bertanggung jawab, terkadang dia bisa lugu. Aku tidak tahu kenapa dia begitu perhatian padaku, maksudnya dia juga perhatian kepada yang lain kan?"
"Aku tahu itu, tapi rasanya saat dia memberi perhatian kepadamu, itu rasanya berbeda! Aku penasaran bagian yang itu.."
Uni dapat melihat Boruto kembali mengerutkan keningnya, sepertinya pemuda itu tidak bisa menjawab pertanyaan barusan. Dia akhrinya menyerah.
"Hahh, ya sudah. Aku lebih baik bersiap."
Dirinya mulai beranjak. Sebelum keluar dari ruangan tersebut, dia berbalik sebentar. "Setidaknya jangan pernah membuat gadis seperti dia menangis. Nepgear itu gadis yang baik, terlalu baik bahkan."
Boruto hanya menatapnya, terlihat memahami maksud tersebut.
#
"Dia sendiri juga bilang tidak tahu kenapa bisa berada di sini. Apa kuceritakan saat kita pertama bertemu saja?"
"Itu juga boleh! Aku juga ingin tahu lebih banyak tentang Boruto-san!" Ram semakin bersemangat.
"Kenapa tidak tanya dia sendiri saja setelah kita berbelanja?" Uni akhirnya mengikuti percakapan.
Rom dan Ram saling bertatapan lalu menjawab, "Kami tidak ingin mengganggu saat dia sedang sakit. Aku merasa kasihan…"
"Ahh, benar. Tidak perlu cemas, kita juga akan membeli sesuatu untuknya." Nepgear tersenyum karena kepekaan mereka berdua. Uni pun demikian.
"Jadi bagaimana kalian bisa bertemu?"
Gadis berambut lilac itu tertawa lemah saat menjawab, "Bagaimana ya? Saat itu aku melakukan quest dan…"
.
.
.
Boruto sedang berbaring dengan buku yang masih berada di pegangannya. Meski matanya melirik satu per satu kata-kata yang ada dibuku tersebut, namun pikirannya sama sekali tidak mencerna kalimat pada halaman . Pemuda itu memikirkan mimpi yang terjadi sehari lalu.
'Kenapa Oriik menceritakan itu semua padaku? Apa ini berhubungan dengan Maven yang sempat wanita itu sebut saat di Leanbox? Apakah dia bawahannya? Kenapa Oriik memilihku menjadi reinkarnasinya?'
Boruto mengacak rambutnya. Mungkin saat ini dia tidak harus memikirkan itu, atau tidak perlu sama sekali. Dia menyadarinya sekarang, seharusnya dia tidak memikirkan itu terlalu dalam. Apa yang seharusnya dilakukan adalah fokus dengan situasinya sekarang. Yep, kali ini dia yakin semua pertanyaan itu pasti akan terjawab.
Saat sedang ingin memikirkan hal yang lain, tiba-tiba terlintas diotaknya mengenai Nepgear. Uni juga sempat bertanya pendapat tentang Nepgear kepadanya, yang pada akhirnya sepertinya tidak memuaskan rasa penasaran dari gadis raven.
#
"Err…dia orang yang bertanggung jawab, terkadang dia bisa lugu. Aku tidak tahu kenapa dia begitu perhatian padaku, maksudnya dia juga perhatian kepada yang lain kan?"
"Aku tahu itu, tapi rasanya saat dia memberi perhatian kepadamu, itu rasanya berbeda! Aku penasaran bagian yang itu.."
'Berbeda? Benarkah? Aku tak pernah memikirkan itu.'
"Hahh, ya sudah. Aku lebih baik bersiap."
#
'Kalau dipikir-pikir, sepertinya memang begitu.'
Meski dia ingat gadis itu pernah mengatakan kalau dia memang berhutang padanya karena menyelamatkan dari Dogoo besar tempo lalu. Akan tetapi, pemuda itu merasa seharusnya sang gadis sudah tidak perlu berhutang lagi padanya sekarang. Tidak dipungkiri gadis itu memang baik kepada semua orang, dan juga dirinya. Boruto merasa dirinyalah yang berhutang sekarang. Sejujurnya juga dia menikmati menghabiskan waktu bersama dengan Nepgear, seperti ada sensasi yang belum pernah dia rasakan. Dia belum dapat mendeskripsikan sensasi tersebut.
Pemuda itu tak sadar mengukir senyum kecil, 'Benar-benar…dia memang terlalu baik. Seperti Himawari…'
TBC
