Hello semua. Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang melaksanakan! Sorry untuk update kali ini mungkin agak lama karena ide lagi stuck (duh). Tapi, tenang aja cerita ini selalu update sampai selesai kok. Mungkin chap yang sekarang bakalan ada typo karena belum dicek, tapi di waktu lain bakal diperbaiki klo memang ada kesalahan. :D
Happy Reading!
.
"Hmm…Neptune ada di mana ya?"
Seorang wanita dengan anggunnya berjalan menyusuri Basilicom Planeptune sambil celingukan. Dia terlihat seperti sedang mencari seseorang. Kakinya yang langsing ia langkahkan dengan pelan tapi pasti sembari matanya menyusuri setiap titik.
Saat berjalan di lorong, dirinya mendengar sesuatu. Sesuatu seperti orang yang bersin namun dengan suara yang berat atau yah…maskulin.
"Suara siapa itu?" Wanita itu bermonolog, bertanya kepada dirinya sendiri. Setelah ia mengetahui asal suara tersebut, didekatilah pintu yang ia pikir sebuah kamar. Ia cukup mengetahui seluk beluk dari Basilicom Planeptune karena dirinya beberapa kali sering berkunjung. Yap, wanita ini bukan dari Planeptune.
Karena dirinya sudah terbiasa, akhirnya dibukalah pintu itu dengan santai.
Namun, hal yang dilihat selanjutnya membuat wajahnya memanas.
Wanita itu melihat seorang pria berambut pirang yang posisinya sekarang membelakangi dirinya, terduduk. Pria tersebut hanya mengenakan celana hitam panjang tanpa atasan. Rambutnya masih terlihat sedikit basah. Jika dilihat dengan seksama, pria itu sedang mengenakan kaos kaki hitam.
"Ah!" Wanita itu tak bisa menyembunyikan keterkejutannya sehingga membuat suara memekik, lalu dengan cepat menutup mulutnya.
Hal sial yang terjadi selanjutnya adalah, pria itu akhirnya berbalik melihatnya karena suara barusan.
.
.
.
"Neptune! Jelaskan padaku apa artinya ini!" Wanita itu sekarang face-to-face dengan Goddess cilik aka Neptune, sambil berkacak pinggang di depannya.
"Eeehh? Apa maksudnya apa?" Neptune dengan malas meladeni wanita di depannya. Acara makan pudding miliknya terganggu akibat wanita tersebut.
"Ini! Jelaskan padaku siapa dia!" Ia menunjuk Boruto yang sedang menatap keduanya juga, tidak mengatakan apapun.
"Bukannya waktu itu sudah ya? Hmm…oh, aku ingat baru mengenalkan Boruto hanya pada Uni-chan! Ehehehe…" Neptune menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ehem, perkenalkan dia adalah Boruto seorang manusia biasa! Dan Boruto, perkenalkan dia adalah Noire dari Lastation. Dia ini adalah goddess pekerja keras yang bahkan sampai tidak memiliki teman! Aku heran apa hidupnya tidak membosankan ya?"
Boruto mengamati wanita yang disebut oleh Neptune, Noire. Noire memiliki kulit putih serta rambut hitam panjang diikat twintail dengan pita biru. Matanya merah gelap mengingatkannya pada Uni. Ia memakai gaun seperti maid berwarna hitam dengan rok putih dan memakai sarung tangan hitam yang hampir menutupi seluruh lengannya. Ia juga memakai stocking boots hitam sampai paha.
'Dia cukup mirip dengan Uni…'
"Apa!? Siapa yang kau bilang tidak memiliki teman? Aku hanya mengerjakan apa yang harus kulakukan." Noire menegakkan badannya.
Neptune mengibaskan tangannya dengan santai, "Sudahlah akui saja sisi gelapmu itu. Tapi aku bertaruh kau akan berteman dengan si kepala kuning ini."
"Huh? Aku tidak mau berteman dengan si mesum ini!"
Boruto sedikit membulatkan matanya, 'Tunggu sebentar, apa?'
"Hey, hey, Noire. Kau tidak perlu marah-marah seperti itu! Apa yang terjadi sih sebenarnya, Boruto?"
"Umm, mungkin pertemuan pertama kita berada pada…timing yang salah." Boruto melihat ke arah lain. Sedangkan Neptune dapat melihat garis merah pada pipi Noire belum menghilang sejak tadi.
"Ahh, timing yang 'salah' ya?" Neptune terlihat mengerti.
Pemuda kuning mulai sweatdrop, "Tolong singkirkan pemikiran dewasamu."
"Lagian juga, gimana badanmu? Bukannya masih tidak sehat?"
"Yah, sudah lebih mendingan. Tidak perlu cemas." Ujar pemuda itu santai.
"Dan Noire! Kenapa kau marah-marah padanya?" kali ini Neptune menatap gadis berambut hitam.
"Dia menunjukkan tubuhnya padaku! Tubuhnya! Padahal aku baru saja datang ke sini."
Boruto mencoba mempertahankan argumennya, "Tunggu dulu, tadi aku baru saja mandi setelah sakit. Jadi, yah, itu bukan kesalahanku."
"Kalau begitu seharusnya kamu mengunci pintunya!" Noire tidak kalah.
'Ini menjadi merepotkan.' Pikir pemuda kuning.
"Setiap orang yang menuju kamarku pasti mengetuk pintunya."
Neptune daritadi merasa lelah mengurusi mereka, "Sudahlah Noire, aku juga berpikir kalau di sini yang salah memang kau."
"Tapikan dia…uugh. Baiklah. Tapi aku merasa dia juga harus meminta maaf kepadaku!"
Boruto memasang tatapan malas.
'Tipe tsundere, tipe yang aku tidak bisa bilang suka. Meski mirip, tapi benar-benar berbeda dengan Uni.'
.
.
.
Di lain tempat, keempat CPU candidates sedang membawa masing-masing satu paperbag berisi hasil belanja mereka.
"Hmm…semua sudah terbeli. Apa ada yang kurang ya?" Nepgear meneliti isi paperbag bawaannya.
Ram yang sedang berjalan di sebelah Rom menyeletuk, "Nepgear-chan, katanya ingin membeli sesuatu untuk Boruto-san?"
"Goodness! Aku memang merasa ada yang kelupaan! Tapi, kira-kira apa ya?"
"Tunggu, selama ini kamu belum merencanakannya, Nepgear?" Uni sebenarnya masih ingat gadis lilac ingin membeli sesuatu untuk Boruto, namun Uni tidak mengetahui kalau Nepgear melupakan hal tersebut.
"Bagaimana kalau makanan? Semua orang suka dengan makanan." Rom menyarankan dengan suara lembut melihat Nepgear. Ram mengangguk di sebelahnya.
"Mungkin biar cepat, kita sekalian makan siang. Karena sudah jam segini."
Mereka berempat akhirnya mendatangi sebuah restoran yang memiliki varian menu lumayan banyak. Mereka akan makan di sana lalu akan memesan makanan lagi untuk dibawa pulang. Makanan yang dibawa pulang tidak hanya untuk Boruto saja, namun juga untuk yang lain seperti Neptune, Compa, dan IF, atau bahkan Histoire jika memang dia ingin.
Setelah pesanan datang, mereka berempat dengan segera menikmati hidangan masing-masing. Selagi makan, mereka juga berdiskusi untuk pesanan apa yang akan dibawa untuk pulang.
"Kalau Neptune sih apa saja tidak masalah, asalkan selain terong kan?"
Nepgear tertawa lemah, "Traumanya terhadap satu jenis sayuran itu benar-benar mengkhawatirkan."
"Andai Onee-chan di sini juga, kita pasti akan memberi sesuatu juga untuknya kan, Rom-chan?"
"Kamu benar, Ram-chan."
"Oh iya, kenapa Blanc-san tidak ke sini juga?" tanya Nepgear penasaran.
Rom dan Ram saling bertatapan. Raut wajah Ram menjadi down, "Kami tidak tahu, Onee-chan bilang kalau dia sedang bekerja sambil di depan komputer miliknya. Tapi tidak pernah memberi tahu kami pasti apa yang sedang dia kerjakan."
"Saat kami bersikeras ingin mengetahui apa yang dikerjakan oleh Onee-chan, dia menjadi marah." Tambah Rom.
"Aneh juga ya, karena pekerjaan." Saat Nepgear menoleh kearah Uni. Gadis berambut hitam itu menatap makanannya dengan pandangan kosong seperti sedang terpikirkan oleh sesuatu. Sama seperti saat di ruangan Boruto.
"Mmm, Uni…"
"Nepgear-chan! Di sana ada tempat bermain! Apa aku dan Rom-chan boleh ke sana?" Saat dirinya ingin memanggil Uni, tiba-tiba terpotong oleh panggilan dari Ram. Ram dan Rom sudah menyelesaikan makannya, sedangkan Nepgear dan Uni masih belum habis.
Nepgear tersenyum ke arah mereka, "Boleh, tapi jangan berlari dulu ya…"
Akhirnya si kembar Rom dan Ram mulai beranjak, "Yaaay!"
Saat masih menatap kepergian keduanya. Uni akhirnya membuka suaranya.
"Nepgear…"
Gadis lilac menoleh ke arah Uni kembali, 'Oh iya…'
"Ada apa, Uni-chan? Apa kamu mau menceritakaanya sekarang?"
Gadis raven dengan ragu-ragu mengangguk. Hidangan yang ada di depan mereka sedikit dibiarkan untuk sementara.
"Aku hanya terganggu soal Onee-chan."
'Eh? Kamu juga, Uni-chan?'
Tapi dia tidak mengatakan apapun, masih mendengarkan apa yang selanjutnya ingin dikatakan oleh Uni.
"Aku merasa kalau Onee-chan tidak puas kalau aku sebagai adiknya."
Nepgear tentu saja terkejut, "Apa maksudnya?"
"Dia tidak pernah memuji hasil kerjaku! Bahkan dia sering menuntut seharusnya pekerjaanku sebagai CPU candidates melebihi ekspektasinya. Padahal seharusnya dia tahu kalau itu tidak mungkin." Uni memandang kearah lain. Nepgear dapat melihat kalau mata merah milik Uni bergetar.
"Uni-chan…"
Nepgear tidak pernah merasakan hal tersebut, jadi hanya bisa terdiam. Posisinya padahal sama dengan Uni, yaitu sebagai CPU candidate. Namun bedanya, dirinya tidak pernah dimarahi oleh kakaknya sendiri secara Neptune juga jarang melakukan tugasnya sebagai CPU. Tapi yang namanya adik juga pasti ingin mendapat perhatian dari kakaknya sendiri, bahkan dirinya terkadang merasa demikian.
"Yang aku ingin hanyalah pengakuan dari Onee-chan."
Ingin sekali rasanya Nepgear membantu sahabatnya tersebut, tapi apalah daya. Dia sendiri sama sekali tidak menemukan solusi.
"Aku tahu kamu ingin membantu, tapi cukup hanya dengan mendengar ceritaku rasanya sudah sedikit lebih baik." Uni mecoba untuk tersenyum. Gadis lilac hanya bisa menatapnya.
"Maaf aku tidak bisa membantu…"
"Sudahlah, mungkin nanti juga akan terselesaikan."
"Perkataanmu ada benarnya juga."
Keduanya tersenyum lagi. Setelah Rom dan Ram kembali, akhirnya mereka pulang ke Basilicom Planeptune.
.
.
.
Boruto sedang membaca buku novel di atas ranjang dengan posisi duduk. Kakinya ia selimutkan agar dirinya tetap merasa hangat. Badannya sudah merasa enakan dengan suhu tubuh saat terakhir dicek adalah 37 derajat. Memang belum sembuh, selain itu rasa pusing di kepalanya terkadang masih muncul.
Saat matanya masih memaknai setiap kata dalam buku tersebut, tiba-tiba pintu terbuka dan muncullah Noire di sana.
"Katakan kepadaku, dimana Uni?"
Pemuda kuning menghela nafas sebentar, "Ketuk dulu sebelum masuk."
Noire belum bergeming, seolah masih menunggu jawaban.
"Kenapa tidak tanya Neptune?" Well, malah pertanyaan lagi yang terlempar ke arah gadis berambut hitam.
Noire menyilangkan tangannya, "Neptune bilang untuk bertanya padamu. Apa kalian malah saling melempar jawaban dariku?"
'Itu bisa jadi ide bagus sih, tapi aku bercanda.'
"Uni sedang di pusat perbelanjaan bersama Nepgear, Rom, dan Ram." Boruto tak lagi menatap Noire, melainkan ke arah bukunya kembali.
Noire tak mengatakan apapun lalu langsung pergi begitu saja. Pemuda kuning menatap kusen pintu yang sudah tidak ada orangnya tersebut.
'Biarlah…'
Beberapa menit kemudian Boruto mendengar suara.
Tok! Tok!
Dari sana pemuda itu dapat melihat Nepgear sedang tersenyum padanya sambil menunjukkan sesuatu. Lalu gadis itu mulai mendekatinya. Dia hanya sendiri saat itu.
"Ini, Boruto-kun. Aku membelikanmu makanan hangat."
Boruto menerima bungkusan tersebut, dari baunya dia langsung dapat menebak apa isinya.
"…miso ramen?" Pemuda itu tanpa sadar bergumam.
"miso ramen?" Nepgear memiringkan kepalanya. Boruto baru menyadari itu.
"Maksudku, apa ini adalah sejenis mi yang diberi kuah?"
Gadis lilac secara mendadak membulatkan matanya, merasa kagum. "Benar! Bagaimana kamu tahu? Apa kamu sering memakannya?"
"Bukan, tapi Tou-chan yang sering memakannya." Nepgear dapat melihat perubahan ekspresi dari pemuda di depannya, matanya sedikit memperlihatkan kesedihan.
"Maaf Boruto-kun! Aku tidak bermaksud…"
"…Tidak usah berlebihan. Aku hanya teringat masa kecil saja."
#
"Tou-chan! Kita akan kemana?"
"Ke Kedai Ichiraku, dattebayo!"
"Kedai Ichiraku? Apa di sana enak?"
"Tentu saja, akan Tou-chan buktikan kalau tempat itu memiliki makanan terenak sedunia!"
#
Boruto masih mengingatnya seperti baru kemarin terjadi. Saat pertama kali dia dan ayahnya pergi menuju kedai ramen hanya berdua setelah pulang sekolah. Dia memesan soyu, sedangkan ayahnya miso. Pemuda kuning merasakan air matanya seperti ingin keluar.
"Baiklah ini aku makan." Akhirnya Boruto beranjak dari kasurnya menuju pada sebuah meja yang memang sudah ada untuk obat serta minuman bagi pemuda itu.
"Eh? Boruto-kun bukannya masih sakit?"
"Demamku masih belum sembuh, tapi badanku sudah lebih baik."
Hanya perasaannya saja atau tidak. Saat dirinya berbicara dengan Nepgear, ia merasa berbicara banyak pun tidak masalah. Padahal ia selalu irit kata setiap berada pada kondisi mengobrol dengan orang lain.
Setelah duduk, ia membuka bungkusan tersebut lalu nampaklah mi dengan kuah berwarna kuning. Yap, seperti dugaannya, ini adalah miso ramen.
Nepgear hanya mengamati pergerakan sang pemuda dari sisi ranjang. Gadis itu sekilas melihat Boruto menangis, tapi dia pun ragu terhadap itu. 'Apa Boruto-kun baru saja menangis?'
"Apa kau sudah makan, Nepgear?"
"Aku masih kenyang kok, yang ini tadi kita bawa pulang." Lalu gadis itu tersenyum lagi, Nepgear sebenarnya suka dengan sifat Boruto yang satu ini, yaitu peduli dengan sekitarnya.
Boruto hanya ber'oh' ria lalu mulai mencobanya.
'Kalau dipikir-pikir, aku sudah tidak pernah makan ramen sejak insiden itu. Aku heran, di tempat seperti ini bahkan ada yang menjual miso ramen.'
'Mungkin kapan-kapan aku mengajak Nepgear untuk…huh?'
Pemuda kuning menggelengkan kepalanya, terlihat menepis pemikiran barusan.
"Ada apa?" gadis itu bertanya karena seperti ada hal yang aneh.
Boruto terdiam sebentar, lalu berkata, "…tidak."
Nepgear sebenarnya penasaran, namun tidak terlalu dia pikirkan.
Gadis itu kemudian mengajukan pertanyaan, "Apa pendapatmu mengenai Uni-chan?"
Pemuda kuning menoleh lalu memberi raut wajah tidak mengerti. 'Kenapa tiba-tiba?'
Beberapa saat kemudian dia akhirnya menjawab, "Tidak terlalu spesial, dia gadis yang baik. Tapi aku sepertinya bermasalah dengan Noire."
"Noire-san sudah datang? Kenapa kamu ada masalah dengannya?" tanya Nepgear.
Boruto memalingkan wajahnya, "Yah, ada suatu hal yang terjadi. Tapi tidak usah terlalu pikirkan."
Nepgear menjeda sebentar lalu memasang tampang sedih, "Aku merasa kasihan dengan Uni-chan."
'Uh huh. Aku masih mendengarkan.' Pemuda itu membatin.
"Dia merasa tidak diakui oleh Noire-san, padahal dia sudah bekerja keras sebagai CPU. Dia bilang kalau hasil kerjanya seharusnya melebihi ekspektasi dari Noire-san. Meski itu tidak mungkin."
Pemuda kuning menghela nafas melalui hidungnya. "Aku pikir semua kakak seperti itu terhadap adiknya, atau Noire memang ingin membuat Uni menjadi CPU yang ideal, setidaknya bagi Noire sendiri."
Boruto memainkan cairan kuah kental dengan sumpit.
"M..mungkin itu ada benarnya juga…Tapi, apakah Noire-san seharusnya bertindak seperti itu?"
Pemuda itu terdiam sebentar. "Noire mungkin ingin Uni mencontoh seperti dirinya. Seorang kakak tidak mungkin menunjukkan sisi lemahnya pada adiknya sendiri."
Nepgear hanya bisa terdiam. Gadis itu berpikir seolah Boruto pernah menjadi seorang kakak.
"Boruto-kun punya adik?" Nepgear bertanya sedikit hati-hati.
Boruto mengambil waktunya sebentar untuk minum air lalu menjawab, "Ya. Pernah."
.
TBC
