Chap 13.
Happy Reading!
Boruto menatap dirinya sendiri di cermin dalam kamar. Mata birunya menelusuri tiap sudut tubuhnya sendiri dari rambut, kepala, wajah, dan badan. Dia hanya sekedar ingin mengecek kesembuhannya dari demam yang kemarin dia alami. Hari ini dirinya sudah merasa sembuh, namun masih butuh beberapa pemulihan.
'Aku masih berpikir demam ini mungkin akibat dari aku mengobrol dengan Oriik. Tapi itu sama dengan terlalu cepat mengambil kesimpulan karena waktu itu badanku juga sempat drop dari latihan selama 3 hari.'
"…"
'Sebenarnya dia belum menyelesaikan ceritanya saat itu, bagaimana bisa Maven pindah menuju ke dunia ini sedangkan Oriik ke duniaku? Lalu entah dalam waktu dekat atau tidak, aku pasti akan bertemu dengan Maven.'
"…"
'Aku juga sempat memiliki asumsi kalau invasi Dogoo adalah ulahnya…'
Rentetan demi rentetan pemikiran sedang berputar-putar dalam otaknya. Pemuda itu akhirnya menutup matanya, mengatur nafas, lalu membuka matanya kembali.
.
.
.
"Iffy, soal rencanamu, apa kamu sudah menyiapkannya?" Di tengah suasana sarapan pagi, Compa bertanya kepada IF.
"Sudah, tidak mungkin aku melupakannya." IF tersenyum pada Compa.
"Aku harap besok berhasil…" Nepgear memasang tatapan tidak percaya diri.
Neptune yang berada di sebelahnya merespon dengan nada santai, "Ck ck ck. Tidakkah sudah kubilang kalau Dogoo itu hanya perlu dilibas saja? Aku yakin semua akan baik-baik saja!"
"Tapi…" Nepgear masih belum melepas ketidakyakinannya.
Uni kali ini ikut merespon, "Nepgear! Apa yang dibilang kakakmu itu ada benarnya. Terkadang kita tidak perlu berpikir macam-macam pada hal yang rumit."
"Aku juga berpikir Uni benar. Nepgear, apa kamu lupa dengan kemampuanku?" Noire kali ini sedikit membanggakan dirinya.
Setelah terdiam sebentar, gadis itu akhirnya paham, "..b…benar juga ya."
Boruto selagi mengunyah hanya memperhatikan mereka semua. Pemuda kuning teringat dengan rencana IF beberapa hari lalu yang sempat disinggung oleh Compa barusan.
#
"Mari kita buat serangan bertahap." Kata gadis beriris hijau dengan yakin.
"Apa maksudnya? Apa kamu punya rencana IF?" Histoire bertanya.
"Mungkin ini bukan taktik, tapi setidaknya ini akan membantu."
IF menjelaskan jika dirinya akan memasang banyak ranjau darat.
Namun, Uni terlihat tidak begitu yakin, "Ranjau? Memangnya kamu sudah tahu akan kemana arah pergerakan Dogoo itu?"
Justru IF malah tersenyum balik, "Jangan remehkan keahlian dan intelku. Aku sudah mendapat beberapa infomasi setelah kamu memberitahu kalau akan ada invasi Dogoo. Jadi masalah tempatnya ada di mana, itu sudah kita pastikan."
Boruto menaikkan alis, 'Secepat itu?'
"Selanjutnya kita hanya perlu menyerang secara biasa. Serangan jarak dekat bagian depan, yang jarak jauh men-support. Jika memang keadaanya tidak terkontrol, CPU atau CPU candidate menggunakan kekuatan goddess."
Compa terlihat sumringah, "Hebat sekali! Aku tidak tahu kamu langsung bisa memikirkan cara seperti ini."
"Hey, sudah kubilang ini bukan taktik. Aku berbicara begini supaya kita tidak menyerang tanpa rencana yang matang. Setidaknya untuk gambaran." Timpal IF.
Lainnya terlihat manganggukkan kepala mereka. Neptune membuka suara, "Menurutku juga ini rencana yang bagus!"
"Kalau begitu tinggal kupersiapkan saja ya."
#
"Boruto-kun?" Pemuda kuning menoleh ke arah sumber suara, Nepgear. Gadis itu berada di sebelah Boruto.
"Ada apa?"
"Apa kamu merasa pusing lagi? Kenapa diam saja?" Tatapan itu dia dapat lagi, tatapan kekhawatiran.
Boruto hanya menggeleng. "Aku hanya memikirkan tentang besok."
"Apa menurut kamu besok kita akan baik-baik saja?"
Pemuda itu menatap bingung gadis di sebelahnya. "Apa ada yang mengganggumu?"
Nepgear melihat ke arah lain, "Tidak juga, hanya saja aku merasakan firasat buruk…"
'Ah, iya juga. Dia pernah bilang begitu juga ya malam itu.'
"Aku yakin semua baik-baik saja. Aku juga percaya dengan kekuatan yang kita miliki sekarang, meski sebenarnya aku tidak berhak mengatakan ini karena aku adalah yang terlemah." Ucap pemuda kuning.
"Eeh? Aku tidak berpikir kalau kamu lemah! Aku selalu terbantu kok…"
'Hmm…begitukah?'
"Ngomong-ngomong, apa kamu hari ini ada rencana?" Nepgear terlihat mulai menautkan jari-jarinya sendiri sambil menunduk.
Boruto hanya sedikit menerawang, "Tidak juga. Aku hanya butuh sedikit pemulihan lagi setelah sembuh."
"Ka..kalau begitu. Apa kamu mau jalan-jalan?" Gadis lilac melihat sang pemuda dengan tatapan berharap.
"Hmm…jalan-jalan ringan sih tidak masalah. Kapan?"
'Dan kenapa dia menatapku seperti itu?'
Nepgear terlihat senang, "Siang menjelang sore."
.
.
.
Yang tidak Boruto ketahui adalah, Compa dan IF juga ikut bersama mereka.
"Boruto-san! Meski dari pagi aku sudah lihat kalau kamu sehat, tapi aku tetap merasa senang karena pasienku benar-benar sembuh!" Compa terlihat gembira.
IF tersenyum tipis, "Aku tidak menyangka Compa benar-benar menyembuhkan seseorang."
"Ah…seharusnya aku yang berterima kasih. Obatmu cukup efektif." Pemuda kuning tentu tak lupa dengan membalas budi dengan ucapan terima kasih.
"Karena itulah aku mengajaknya untuk berjalan-jalan. Hehehe." Ucap Nepgear, terdapat suasana cerah dalam ucapannya.
Dalam perjalanan, ternyata Nepgear sama sekali tidak merencanakan ke arah mana destinasi tujuan mereka berempat.
"Nepgear, seharusnya kamu merencanakannya terlebih dahulu…" IF terlihat menepuk jidatnya.
Boruto menggelengkan kepalanya, "Nepgear…"
Hanya Compa yang terlihat tidak masalah dengan ini, "Aww, tidak apa-apa Nepgear. Aku malah jadi ingat kita pernah mengalami kejadian seperti ini kan, IF?"
"Kalau dipikir-pikir, ternyata iya. Siapa sangka bakal terjadi sekarang lagi?"
Nepgear terlihat bersalah, alisnya terlihat bertautan. "Aku minta maaf, aku hanya ingin kita menghabiskan waktu bersama…"
"He..hey! Jangan bersedih begitu! Aku bukan kesal atau apa. Aku paham maksudmu kok!" IF terlihat panik. Boruto masih mengamati percakapan didepan dirinya.
Tiba-tiba Compa memiliki ide, "Bagaimana kalu kita membeli sesuatu yang dibutuhkan untuk besok saja? Sepertinya Boruto-san belum memiliki alat komunikasi."
'Hm? Ide yang tidak buruk, aku juga tak sengaja membawa sebagian uangku.' Boruto selama ini sudah menyimpan hasil uang dari quest yang dijalaninya. Pemuda itu sama sekali belum memiliki pikiran untuk membeli barang sesuai keinginannya saat itu.
"Itu ide yang bagus. Seperti N-gear milik Nepgear?" balas IF.
Nepgear yang semula berwajah suntuk tiba-tiba mengeluarkan aura cerah dengan mata berseri-seri. "Aku ada beberapa rekomendasi! Atau Planeptune baru saja mengeluarkan smartphone terbaru dengan chip tercepat saat ini!"
'Whoa. Apa ini? Nepgear terlihat berubah?'
IF mengeluarkan ekspresi puas, seperti mengetahui kalau hal ini sudah dalam prediksinya, "Ini dia, sang maniak sudah keluar dari sarangnya. Boruto-san, mungkin kamu tidak tahu kalau Nepgear sangat tergila-gila dengan sistem suatu mesin atau sejenisnya."
"Aku benar-benar tidak tahu…"
"Tapi tidak perlu khawatir Boruto-san! Kalau soal teknologi, Nepgear memang ahlinya!" Compa tak lupa menambahkan.
Gadis berambut lilac tersadar dengan apa yang dilakukannya, "Goodness! Aku minta maaf! Aku terlalu bersemangat kalau berbicara soal mesin atau teknologi."
"Tidak apa, aku hanya terkejut saja. Kalau begitu, saran smartphone untuk keperluan sehari-hari."
Lalu akhirnya mereka mengunjungi salah satu mall. Boruto memang bukan orang yang geek dengan teknologi, tapi untuk hal-hal dasar dia memang mengetahuinya. Namun, sepertinya hal tersebut tidak berlaku di sini karena untuk part nya saja dan value nya sangat berbeda dengan di bumi. Untungnya Nepgear membantu menjelaskan agar dapat cepat dimengerti oleh pemuda kuning.
Setelah beberapa waktu, Boruto sudah mendapatkan smartphone yang dia butuhkan. Bukan yang terbaik, tapi setidaknya dia sudah mendapatkan apa yang pemuda itu butuhkan. Sedangkan Nepgear masih mengamati beberapa produk terknologi dengan mata berbinar. Boruto memperhatikan gerak-gerik gadis itu.
"Dia benar-benar gadis yang polos kan?"
Pemuda kuning menoleh, ia mendapati IF yang juga mengamati Nepgear. Boruto memilih diam.
"Dia selalu seperti ini. Ketika ada sesuatu besar yang akan dihadapi, dia pasti akan melakukan kegiatan berjalan-jalan santai. Seperti sekarang, kita akan mengahadapi para Dogoo besok."
Boruto masih memperhatikan gadis itu, "Dia mirip dengan adikku. Polos dan selalu membantu orang lain."
"Tapi, bukankah kamu pernah bilang kalau…kau tahu?" gadis di sebelahnya memastikan.
"Ya, itu lima tahun lalu."
.
.
.
Sore sudah menjelang ditandai dengan adanya garis jingga pada langit hari itu. Boruto dan kawan-kawan menyusuri trotoar dengan santai dalam perjalanan pulang.
Tidak ada yang aneh saat itu, sampai mereka menerima sebuah brosur dari seseorang. IF nampak sedikt curiga dengan orang tersebut karena menggunakan jubah hitam. Namun, tidak dia pikirkan lebih jauh. Justru isi dari brosur yang lebih memikat atensi bukan hanya IF, tapi juga yang lain.
"Apa isinya, Nepgear?"
Compa yang bertanya pada sang gadis. Mata gadis itu terlihat kesana kemari, membaca satu per satu kata dalam kertas kecil itu.
-DIJUAL! Robot berbentuk manusia dengan kode M-123 yang dapat mengurus pekerjaan rumah! Dapatkan sekarang juga!-
"Waaahh, robot manusia…aku jadi ingin membelinya."
Mata Nepgear terlihat berseri kembali. Sedangkan Compa sweatdrop, "Uhm, Nepgear. Haloo…?"
Sementara itu, entah kenapa hal ini membuat IF tidak tenang, "Kenapa ini malah mencurigakan menurutku, tapi tidak terlalu juga sih. Hmm…"
Di lain sisi, Boruto sama sekali tidak mengatakan apapun sambil masih mengantongi tangannya di dalam saku jaket. Tanpa intuisi apapun, pemuda itu menoleh ke belakang. Ia menaikkan alisnya.
Orang berjubah hitam sudah tidak ada lagi di sana.
'Apa hanya imajinasiku saja?'
.
.
.
Malam itu jam menunjukkan waktu untuk beristirahat. Besok adalah hari dimana mereka semua harus bertarung melawan invasi Dogoo.
Pada malam yang sama, seorang gadis terlihat masih belum menutup matanya. Nepgear terlihat gelisah dalam keadaan berbaring. Padahal sudah sekitar satu jam dia merebahkan dirinya di kasur bersama dengan sang kakak, Neptune.
"Onee-chan…"
"Hm?" Anehnya, Neptune juga belum tidur saat itu.
"Aku masih takut…"
"Aku tahu."
"Tapi,…"
Neptune berbalik menatap adiknya sendiri, "Aku pasti akan menjagamu apapun yang terjadi. Kita tidak sendirian menghadapi ini jadi jangan khawatir, oke?"
Diusapnya dengan lembut pucuk kepala lilac sang gadis. Nepgear perlahan tersenyum dan mulai tenang.
Di lain ruang, Boruto menyilangkan tangan di belakang kepalanya sambil berbaring. Terlihat sesuatu juga mengganggu pikirannya.
'Apa yang Nepgear pikirkan tentang firasat buruknya? Kenapa aku malah ikut terpengaruh juga?'
Pemuda kuning tiba-tiba teringat dengan apa yang dikatakan oleh gadis tersebut.
#
"Apa ada yang mengganggumu?"
Nepgear melihat ke arah lain, "Tidak juga, hanya saja aku merasakan firasat buruk…"
#
Memang secara sekilas, kalimat gadis itu seperti memiliki arti kosong. Namun, bagian per bagian kalimat itu seperti memasuki otaknya dan mulai dipahami oleh pikiran pemuda kuning. Ia tiba-tiba merasa ragu.
#
"Hee, jadi akan ada invasi dari makhluk itu? Tinggal di libas saja kan?"
#
Boruto sedikit tersadar dengan perkataan Neptune.
'Benar, jangan memusingkan hal yang tidak perlu. Lebih baik aku cepat tidur. Aku juga sudah siap untuk besok.'
"…"
'Dan juga, aku berharap mata ini tidak bangkit besok.'
#
Flashback
"Itu artinya, dia adalah mascot."
"Mascot?"
Histoire menjelaskan, "Mascot sebenarnya berasal dari Ancient Goddess atau Goddess yang sudah dulu hidup. Dia adalah perwujudan untuk melindungi dan membuat keseimbangan dari nation yang dia kehendaki secara pasif. Gampangnya, melindungi nation dari balik layar."
"Hmm…," Boruto mengelus dagunya sendiri.
"Tapi, menurut pengamatanku, karena Eye of Hope sudah tidak memiliki nation yang dia lindungi, dia akhirnya memberikan kekuatannya padamu agar bisa kamu gunakan untuk melawan Lady Maven."
Pemuda itu masih setengah mengerti, "Kenapa hanya EoH yang menjadi mascot? Sedangkan Maven sepertinya masih memiliki fisik sebagai Goddess yang dalam waktu dekat mungkin kita akan menghadapinya."
"Jika memang sudah waktunya, dia akan berubah menjadi mascot. Setidaknya itu yang aku tahu."
Sebenarnya masih ada yang tidak Boruto pahami. Akan tetapi penjelasan dari Histoire sampai saat ini sudah sedikit membuka pikirannya. Sudah ada beberapa petunjuk yang terlihat.
Terlihat jika Histoire bersiap untuk beranjak, "Kalau begitu, sisanya serahkan padaku."
"Maaf merepotkan."
"Tidak perlu formal. Semoga lekas sembuh dan permisi."
Dan akhirnya sang Oracle pun pergi, namun setelah itu terdapat suara lain.
"Ah! Histoire-san! Selamat pagi."
"Oh, Nepgear dan Uni-san. Selamat pagi! Aku permisi ya…"
#
Kejadian saat dia sakit waktu itu. Boruto meminta tolong kepada Histoire untuk mencari tahu tentang Maven. Dan sepertinya ada kemajuan, pemuda itu akhirnya secara perlahan mengerti mengenai keberadaan Oriik yang ada dalam matanya.
'Saatnya tidur'
TBC
