H O W L I N G

Author : Dandelionleon (Ig : dandelionleon_)

A Chanbaek Fanfiction

Summary : Dua Alpha itu menikah untuk berebut status tertinggi di Wolvas. Hubungan itu bukan untuk saling mencintai, namun saling menyakiti. Hingga penyesalan hadir di akhir perpisahan. "Kesalahanku adalah membencimu. Mengusirmu dari hidupku adalah kebodohanku. Menyakitimu adalah penyesalan terdalamku. Bisa kah kau mendengar teriakan kesedihanku? Aku tidak akan melepaskanmu ketika kau kembali."

(Inspired by VICTON's Song – Howling)


I N T R O : The Start

Mata tegas itu menatap orang tuanya dengan pandangan tidak percaya dan bercampur marah. Kehidupannya di campur tangani dengan seenaknya sejak ia masih kecil. Mulai dari tata krama, pendidikan, hobi bahkan sifatnya yang kasar dan dingin, semua di tempa seolah dirinya adalah robot buatan manusia. Sekarang, kehidupan pribadinya juga di haruskan mengikuti kemauan sang ayah yang benar-benar tidak bisa di bantah apapun kemauannya.

"Park Chanyeol, kau harus segera menikahi Byun Baekhyun."

Tangannya terkepal kuat, urat-uratnya menonjol dengan tegas, seolah menunjukkan ia bisa menghantam siapa saja saat ini.

"Kenapa? Aku masih dua puluh empat tahun, ayah." Pertanyaannya bernada datar, namun rahangnya begitu tegas terlihat, ia benar-benar sedang menahan kemarahannya saat ini.

"Kau adalah calon pemimpin baru di kelompok kita. Kau harus segera melanjutkan_"

"Byun Baekhyun itu laki-laki bukan? Bagaimana bisa?"

Tuan Park mengangkat bahunya acuh, seolah pertanyaan putranya bukanlah pertanyaan penting. Ia menyesap tehnya lalu tersenyum miring terhadap putra pertamanya itu.

"Ini hanya pernikahan untuk bisnis. Keluarga Byun sangat berpengaruh saat ini. Lagi pula memiliki dua Alpha terkuat akan sangat menguntungkan bagi kita."

Egois. Satu sifat sang ayah yang benar-benar Chanyeol benci hingga saat ini. Bukan kah Alpha tidak bisa menikah dengan Alpha? Lagi pula Chanyeol sudah memiliki kekasih yang menurutnya adalah mate sejatinya.

"Ayah, aku sudah memiliki pasangan. Lagi pula, kau tidak bisa sembarangan menikahkan seseorang, terlebih dia bukan mate_"

"Setelah dua tahun, kalian bisa bercerai. Ini hanya kesepakatan sementara. Tuan Byun juga mengerti. Lagi pula, dengan menikahi Baekhyun, hanya kau yang akan menjadi Alpha terkuat di Wolvas."

Wajah Chanyeol melembut, otaknya memikirkan ucapan sang ayah, sedikit membenarkan. Menurut kabar, Baekhyun salah satu Alpha terkuat. Bahkan ia memiliki satu kekuatan magis yang mampu mengalahkan seratus prajurit sekaligus. Terakhir kali Chanyeol bertemu dengan Baekhyun adalah ketika mereka berusia 8 tahun, tidak begitu mengingat rupanya, namun kekuatan Baekhyun saat pertandingan pedang saat itu benar-benar masih bisa Chanyeol rasakan kekuatannya. Jika ia menikahi Baekhyun, maka statusnya pasti berada di atas lelaki itu.

Kepalanya sontak mengangguk, membuat senyuman Tuan Park terkembang lebar.

"Aku hanya ingin membuatmu menjadi satu-satunya yang terkuat."

"Baiklah, kapan pernikahannya di mulai?"

.

.

Acara pernikahan di atur dengan mudah oleh keluarga Park. Pernikahan itu di langsungkan pada sebuah villa besar milik keluarga Park. Chanyeol sama sekali belum melihat calon pengantinnya sejak perjodohan sepihak-menurut Chanyeol- itu di langsungkan. Tuksedo hitam membalut sempurna tubuh tingginya. Para tamu menatapnya kagum, namun Chanyeol begitu acuh. Ia sibuk memikirkan bagaimana ia bertemu kekasihnya nanti. Bersyukur kekasihnya sedang berada di luar negeri untuk urusan bisnisnya, jika tidak, mungkin acara ini akan hancur akibat kemarahannya.

"Aku tidak menyangka secepat ini kau menikah tuan muda."

"Jongin?"

Pelayan pribadinya itu tersenyum hangat, ia memeluk Chanyeol layaknya saudaranya sendiri.

"Menikahi seorang pria pasti berat untukmu. Ketahuilah, Baekhyun tidak seseram seperti yang ada dalam pikiranmu." Bisik Jongin seraya terkekeh geli. Dengan kasar Chanyeol melepas pelukan itu.

"Kau sudah pernah melihatnya?"

"Kau belum? Kau calon suaminya bukan?" Tanya Jongin balik, masih dengan nada jahilnya. Untuk ukuran seorang pelayan, Jongin memang kurang ajar. Untung saja Chanyeol sudah biasa menghadapi sifatnya itu sejak kecil.

"Diamlah, pikiranku sedang kacau. Aku bertaruh dia sosok laki-laki lemah gemulai, cih. Memikirkannya saja membuatku muak." Desis Chanyeol. Jika saja tidak mengingat keuntungan yang ia dapat dari pernikahan ini, mungkin Chanyeol sudah memilih kabur saja.

"Baiklah, marahnya kau lanjut saja nanti. Acaranya akan di mulai. Jangan sampai gugup mengucapkan janji suci."

"Sialan kau!" Jongin tertawa bahagia karena berhasil memancing kekesalan Tuan mudanya itu. Lelaki itu berlalu, meninggalkan Chanyeol yang sedang bersungut seorang diri.

Chanyeol berjalan menuju altar saat MC memulai acara ini. Para tamu undangan sudah duduk di meja kursi masing-masing. Pintu terbuka, wajah yang pertama ia lihat adalah wajah tuan Byun, disusul dengan seorang lelaki yang tampak asing di matanya. Wajahnya tampak datar, namun pandangannya begitu tajam, menatap Chanyeol tak terbaca. Tangan itu ia genggam, mereka melakukan ritual singkat sebagai bukti bahwa mereka akan terikat dalam satu hubungan. Chanyeol menyayat sedikit tangannya, di susul dengan Baekhyun. Darah mereka menyatu di dalam sebuah kendi kecil. Kepala suku mengucapkan beberapa kata-kata kuno yang Chanyeol yakini sebagai syarat penyatuan mereka.

"Dengan ini, Byun Baekhyun berhasil menjadi mate Park Chanyeol."

Riuh tepuk tangan terdengar, Chanyeol tersenyum sebagai formalitas. Ia melirik 'suami' nya sekilas. Sosok itu balik melihatnya dengan terang-terangan lalu tersenyum begitu manis. Jauh dari ekspektasi awal ia melihat sosok Baekhyun.

"Senang bertemu denganmu Park, ku harap pernikahan ini akan berjalan lancar."

Entah mengapa Baekhyun terlihat begitu polos. Apakah ia tidak tahu dengan perjanjian ini? Chanyeol mengangguk pelan lalu menjabat tangan Baekhyun sebagai tanda kerja sama.

"Aku harap setelah ini kita bisa membicarakan semuanya." Bisik Chanyeol rendah.

"Semuanya?"

"Tidak usah berpura-pura bodoh, Baekhyun."

Baekhyun menaikkan sebelah alisnya skeptis. Ekspresinya tampak tenang, namun sudut bibirnya terangkat samar.

"Kau tahu bukan? Pernikahan ini tidak ku inginkan?"

Pertanyaan itu sontak membuat ekspresi Baekhyun berubah sedikit tertarik. Ia melipat kedua tangannya lalu menatap Chanyeol penuh perhatian. Dagunya mendongak dengan angkuh. Senyuman main-main terkembang dari bibirnya yang ranum.

"Apa? Tetapi ayah bilang karena kau menyukaiku makanya pernikahan ini berlangsung."

Tawa sinis terdengar dari bibir Chanyeol, ia menunduk, mensejajarkan wajahnya pada wajah Baekhyun. Seolah tidak ingin kalah, ia mencoba mengintimidasi Baekhyun dengan tatapan tajamnya.

"Aku tidak tahu, kau berpura-pura bodoh atau bagaimana Baekhyun. Ingat satu hal, kita hanya menikah, bukan berarti nanti kau bisa ikut campur dalam urusan pribadiku."

Raut wajah Baekhyun masih tidak dapat Chanyeol baca. Sebenarnya apa yang ada dalam pikirannya saat ini?

"Ternyata memang benar, begini sosok Park Chanyeol." Baekhyun menunduk, raut wajahnya berubah menyedihkan. Chanyeol benar-benar bingung akan perubahan nada bicara Baekhyun yang semula rendah, menjadi menyedihkan seperti itu.

"Terserah. Kita hanya dekat ketika di hadapan publik, jika tidak, jangan berbicara kepadaku." Chanyeol segera pergi dari sana, meninggalkan Baekhyun yang menatapnya dalam diam.

Manik mata sehitam malam itu berubah menjadi kuning keemasan. Sudut bibir kirinya terangkat ke atas dengan tajam. Ia melonggarkan dasinya yang sejak tadi seakan mencekik lehernya dengan sangat kuat.

"Kita lihat saja siapa yang berhasil memenangkan ini semua, Park. Cara kasarmu, atau justru kecerdikanku." Ujarnya rendah. Baekhyun menatap rembulan yang membulat dengan sempurna dari jendela besar villa. Ia menutup kedua matanya.

"Je te contrôlerai, Park Chanyeol."


To Be Continued

Author note : Hai, lama tidak berjumpa. Maaf tulisanku terlalu kaku setelah lama vakum. Jika kalian bingung kenapa ini sangat singkat, ini hanya intro, aku ingin melihat bagaimana respon kalian. Semoga kalian menyukai karya baru Leon ini. Berikan kritik dan komentar kalian, apakah aku harus melanjutkan Chapter 1 atau tidak? Jangan lupa tanggapannya. Terima kasih!