Gintama © Sorachi Hideaki
.
.
RECONCILE
.
.
Sebuah pesisir pantai yang tenang; hamparan pasir putih dan pahat elok batu karang, diserbu jutaan buih dan debur gelombang. Jejak kakimu ada di sana, ratusan jumlahnya, mengikuti lajur garis pantai, dan berakhir pada satu titik; sosokmu yang tengah mengembara dengan kaki telanjang.
Sudah sejauh ini kau mengembara. Melarikan diri dari medan perang yang bising oleh kelontang pedang dan derap langkah menerjang. Tubuh bergelimpang dan darah menggenang. Melarikan diri dari rasa bersalah yang ganas membayang, membayang, membayang seperti bayangan tubuhmu ketika disinari matahari—ke mana pun berlari, ia akan senantiasa mengikuti, tak mau pergi, tak mau pula menjauhi barang hanya semili. Kau hendak lari lebih jauh lagi, samudra lepas merintangi. Kau telah sampai pada titik terjauh yang mampu kau capai dengan kedua kaki.
Darat dan laut, hidup dan maut, termangu dirimu pada batas di antara keduanya.
Tragedi hari itu masih melekat kuat dalam benakmu. Batang leher terbelah dua. Sebentuk kepala menggelinding pasrah. Jeritan pedih memohon di ujung patah harapan. Pandangan bergulir ke samping dan jemari milikmu masih menggenggam sebilah pedang berlumur darah, dengan geletar yang tak sedikit pun berupaya disembunyikan.
Hari itu, kau telah membunuh Takasugi. Membunuh satu-satunya harapan yang ia miliki. Kau hendak melindungi, namun juga menghabisi. Kau tak lain hanyalah korban ketimpangan dunia. Kau ingin marah pada takdir yang seakan dimonopoli oleh kalangan penguasa. Hidup ini memang tak adil, pikirmu. Namun bukankah keadilan hanya ada dalam dongeng-dongeng utopia? Idealisme yang manusia ciptakan sendiri di dalam kepala?
Tak ada yang tahu betapa kau hancur hati dan ingin mati. Takasugi menghujat dan kau berlari, berlari, sampai di pesisir dan berharap tubuhmu limbung dihantam angin. Hanyut diseret gelombang. Mampus di dasar laut. Berharap itu semua mampu menebus rasa bersalahmu.
Tapi, menghapus rasa bersalah tak sesederhana merenggut nyawa dari raga. Kadangkala rasa bersalah itu masih erat melekat meski tubuhmu telah dipendam di liang lahat.
"Gintoki."
Acap kali ketika perasaan itu mencapai puncaknya dan menggedor-gedor batas yang mampu kau tahan, sebuah suara menggelitik dari dalam kepala, merasuk dalam sensor pendengaran seakan sang empunya benar-benar hadir di sana.
"Gintoki."
Untuk pertama kali dalam jangka waktu yang sudah tak terhitung lagi, kau menghentikan kedua kaki. Suara itu kini sampai pada taraf menghantui. Kau pejamkan mata erat-erat, kau tutup telinga rapat-rapat. Berusaha mengenyahkan suara itu dari dalam benak, namun suara itu justru bergema semakin keras.
Diam.
Diam!
Aku lelah.
Aku ingin sendiri.
"Gintoki!"
Sia-sia saja. Sebab pemuda itu sekonyong-konyong hadir di depan mata. Sebelah matanya dibebat dan masih saja mengucurkan darah, meski sepekan telah berlalu sejak matanya hancur oleh sebilah logam—atau sebulan. Atau setahun, entah. Kau telah kehilangan orientasi waktu sejak hari itu, namun kau yakin benar, rongga bekas bola mata itu seharusnya sudah lama sembuh.
Takasugi maju mendekat, kau mundur menghindar. Matanya yang tinggal sebelah itu, yang sehijau dedaunan di hutan lebat, menatapmu melankolis. Tatapan yang membangkitkan segala kenangan buruk tentang kau dan dirinya.
"Takasugi. Berhenti mengikutiku."
"Tak bisa."
"Kenapa?"
"Karena aku adalah kau."
"Kenapa kau tidak enyah saja."
"Sebab kau masih berutang janji padaku."
Pikiranmu lantas memutar ulang memori.
"Jangan bilang kau lupa."
"Terima kasih sudah mengingatkanku."
Kau meneguhkan hati, maju dan memberi Takasugi sebuah pelukan. Mendekap tubuhnya dan merasakan kepedihan menjalar dari ujung-ujung jemari. Mengalir memenuhi setiap jengkal urat nadi. Serana kau telan bulat-bulat, duka lara kau rengkuh erat-erat. Melebur menjadi satu dalam relung hayat. Kau lepas setelah selesai berdamai dengan getir di hati, lantas kau dan Takasugi bersama undur diri. Satu lawan satu, bertukar tatap penuh luapan emosi.
Kau meraih pedang yang terselip di pinggang. Menariknya perlahan. Angin berembus menerbangkan helai-helai perakmu, membingkai sorot nanar dari sepasang netra. Ada beragam makna terselip rapi di sana. Rindu, haru. Nelangsa, angkara. Kau raup semuanya jadi satu. Bersamaan dengan ombak yang menerjang, kau pun maju menyerang.
Kecipak langkah, leher terbelah, dan semuanya menjadi merah. Merah yang membunuh segala rasa bersalah.
.
.
Suatu hari, di tengah-tengah reruntuhan sisa-sisa kehidupan.
"Tidak semua hal buruk terjadi atas kesalahan kita. Mungkin ini terdengar cengeng, tapi dunia memang tidak adil. Terima saja, Bakasugi. Seluruh dunia tak selalu berada dalam kendalimu. Berhenti menyalahkan diri sendiri."
Kau bicara seperti angin; ringan, mengalir, harmoni dengan apa saja yang dilalui. Takasugi terbuai sepoi, seketika surut dari emosi. Kata-katamu segera tertanam dalam relung hati.
"Pastikan kau tidak cuma bicara, Gintoki."
.
.
Jejak kakimu semakin panjang menoreh lajur garis pantai. Apabila ditelusuri, jejak itu berpangkal dari seonggok tubuh tak berkepala, berjubah putih, nyaris terbenam dalam kubangan butir-butir pasir. Tengoklah sepelemparan batu jauhnya ke arah utara, sebentuk kepala tergolek di sana. Helai-helai peraknya basah oleh air laut, urat nadi tak lagi berdenyut, sementara matanya yang semerah darah merefleksikan maut. Bulir-bulir hemoglobin tersapu bersih oleh serbuan gelombang, memberi semburat rona merah pada pesisir biru nan cerah.
Entitas sang Shiroyasha telah hanyut diseret laut.
Adalah sosokmu yang telah lepas dari segala jerat rasa bersalah, melanjutkan langkah.
.
END
.
