Napasnya terengah-engah di antara malam yang hening. Desisannya terdengar sesekali, kentara sekali sedang menahan rasa sakit. Tangan berbalut sarung tangan yang menekan perut bagian kiri itu pelan-pelan mulai menampakan darah segar, merembes dari sela-sela jari—yang entah kenapa, meski sudah terasa rapat, namun tetap saja tertembus. Keringat mulai bercucuran dari dahi.

Nikolai Gogol mendongak. Di antara rasa sakit yang terus menjalar, ia tertawa pahit. Kebodohannya dalam menjalankan strategi tersebut memang patut ditertawakan—bagaimana mungkin ia melupakan institusi seorang Fyodor Dostoyevsky yang tak pernah menumpul? Bukannya berhasil menikam pemuda yang merupakan rekannya tersebut, justru dirinya sendiri yang tertikam. Gerakan Fyodor terlalu cepat sampai-sampai ketika ia menyadarinya, sebilah pisau dingin sudah menusuk perutnya di sebelah kiri, dalam sekali.

"Bodoh sekali, Kolya," begitu sang Russian berkata, sebelum meninggalkan Nikolai sendirian dengan ekspresi dingin. Suara pisau yang bergema kala jatuh menyentuh lantai masih terbayang dalam kepala, karena suaranya berbarengan dengan kaki Nikolai yang mendadak lungkai.

Sekali lagi Nikolai tertawa. Pelan, makin pelan, lalu terhenti begitu saja. Kepalanya kembali tertunduk—sudah lelah menghadap atas rupanya. Napasnya masih terengah, dan ia kembali meringis kala lukanya terasa ngilu. Merah di bagian kiri pakaiannya yang berwarna putih makin pekat saja rasanya. Darah yang merembes semakin banyak, barangkali mulai menggenang di lantai.

Kalau sudah begini, sudah tidak ada harapan. Ia bakalan mati sebentar lagi. Itu hal pasti, mengingat ia tengah sendirian sekarang. Kalaupun ada orang juga ... belum tentu ia akan ditolong. Nikolai menghela napas.

"Beneran mati, ya ...?" irisnya mulai menyipit. Tangannya yang bebas perlahan-lahan mengambil penutup mata berbentuk kartu yang setia bertengger di mata kanan, lantas dibiarkan terkulai begitu saja di samping tubuh. Sementara bibirnya mulai mengukir seulas senyum.

Kalau ia mati hari ini, artinya ia benar-benar akan bebas, kan? Keinginannya untuk melepaskan diri dari sangkar yang selama ini membelegu jiwanya akan terkabul, ia bebas. Apa ia harus berterima kasih pada Fyodor juga, ya, karena sudah berbaik hati membukakan sangkarnya meski dengan cara yang tak terduga sekaligus menyakitkan?

"Huft ..."

Tangannya yang menekan luka pelan-pelan mulai mengendur, bersamaan dengan napasnya yang mulai memelan. Senyum tipis barusan masih terukir di wajahnya, sementara matanya makin menyipit, hingga pada akhirnya tertutup sempurna.

Apa sudah waktunya untuk mengucapkan selamat tinggal?

.

.

.

Bebas

By Vira D Ace

Bungou Stray Dogs belong to Asagiri Kafka and Harukawa Sango

Thank you for reading!

.

.

.

Thanks to Derai yang kemaren nyeletuk, jadinya pengen bikin drabble ini (yang mana hasilnya gaje, as always, dan karena yakin ini ga bakalan hurt jadinya kukasih genre general ;w;)

Btw diriku pernah baca teori, soal Fyo yg nggak bisa bunuh pengguna kemampuan lainnya pake Tsumi to Batsu (nggak tau beneran ato nggak, pokoknya peganganku (?) di sana-)