"Pacarku saat ini sedang sangat sibuk dengan pekerjaanya, aku merasa kalau dia sama sekali tidak ingin menikah" ujar seorang laki laki sembari berbicara di hadapan seorang pria.

"Apa?, kalau begitu ya jangan menikah." ujar sang wanita yang duduk sambil memegang kopi di tagan kirinya.

"Tapi aku ingin menikah!" Ujar laki-laki tersebut dengan sedikit penekanan di akhir "Aku ingin seseorang mengatakan Selamat datang! apakah kau sudah mau makan? mau mandi? atau a.k.u? kau tau!"

Wanita yang mendengarkan pria didepannya hanya memandang datar "Kuno sekali, jadi kau benar-benar ingin menikah?" berdiri dan meninggalkan tempat duduknya.

"Toneri-san, kau tau kan kalau aku tidak terlalu serius dengan pekerjaaku.Itu adalah hal yang buruk"


LOVE FRIENDSHIP

Naruto dan kawan-kawan milik Masashi Kishimoto

WARNING : Yuri Alert!, OOC, AU, Typo, DLDR!


Chapter 1 : Marriage

"Senpai! selamat datang ~!"

Aku memandang datar perempuan di depanku, yah tidak salah juga kenapa dia ada didepanku. Meyambutku pulang? sungguh merepotkan.

"Apakah kau mau mandi? makan?, atau mau a.k.u?" ujarnya dengan nada imut.

"Makan" ujarku singkat, rasanya tadi siang aku sudah mendengar kata-kta ini dari Toneri-san yang meminta pendapatku mengenai perjalanan cinta miliknya, jadi seperti ini yang dia impikan ...

Meski begitu gadis ini adalah pasanganku secara sah ...

Bagaimana ini semua terjadi?

Flashback 2 Bulan yang lalu

Hari itu dimana aku menemui junior dari kampusku, bisa dibilang dia yang dekat denganku saat itu. Bukan berarti dia dekat denganku adalah sahabatku, hanya saja dia yang selalu menempel kepadaku. Jadi aku biarkan saja.

"Wow! Dokter, Pengacara, bekerja di perusahaan luar negeri?" ujarnya yang duduk di depanku sembari memegang surat yang dikirimkan oleh orang tuaku berisi profil tentang orang-orang yang dikenalnya untuk dijodohkan denganku, benar-benar merepotkan.

"Ya, ibuku terus mengirimku itu semua. Aku anak yang memalukan karena masih single" ujarku sembari menyesap kopi, entah kenapa aku rasa pahit dari kopi membuatku lebih tenang. "Mereka hanya ingin aku menikah dengan laki-laki yang bisa mereka sombongkan pada semua orang. Sungguh bodoh sekali"

"Keapa kau tidak bilang kalau kau sedang berpacaran dengan seseorang? yah meskipun kau tidak punya pacar ..." ujar Naruko lalu menyimpan amplop berisi data-data menjijikan itu lalu menatapku. Tunggu maksudnya memasukan sesuatu?

"Ahhh..."

"Tapi kurasa suatu saat mereka ingin kau mempertemukannya bukan?"

Lagi-lagi aku harus berpikir, kenapa dia ini memberikan saran tapi memberikan pula apa yang akan terjadi nantinya.

"Satu-satunya cara adalah meminta seorang laki-lakii untuk berpura-pura menjadi pacarmu..."

Tapi benar juga apa yang dikatakan Naruko, bisa saja bukan aku meminta teman kerjaku untuk pura-pura menjadi pacarku? bukankah ketika mereka memintaku untuk membawa pacar, ada kemungkinan perjodohan sialan ini bisa berhenti. "Tapi tidak peduli siapa dia, mereka pasti akan mengeluhkan pekerjaanya atau berapagajinya." ujarku lesu, tentu saja bukan mereka bisa melihatku seutuhnya?

"ARGH!! merepotkan sekali! kenapa mereka tidak bisa bahagia dengan aku menikah dengan seorang yang tidak memenuhi ekspetasi mereka?" aku merancau, yah aku tau. Ini sudah diambang batasku berpikir secara rasional, tpi aku tidak mau menikah dengan pecundang!.

"Kalau begitu, bagaimana denganku?"

aku berhenti merancau mencerna apa yang dikatakan Naruko, tunggu maksudnya apa?. "Hah?"ujarku tidak tidak paham.

"Hukum pernikahan sudah berubah bukan? pemerintah sudah mengesahkan hukum pernikahan sejenis sekarang" katanya menjelaskan. "Aku akan mengumpulkan semua dokumen yang diperlukan dan setelah itu kita akan menemui orang tuamu."

Tunggu-tunggu maksudnya aku dan dia?! "TIDAK, TIDAK, TIDAK"

"Orang tuamu mungkin akan menyerah saat mereka tahu kalau anaknya menikah dengan wanita, kau tahu kan senpai ~?" ujarnya kembali sembari membuat pose keren. "Ya, itu adalah ide yang bagus!"

"Eh?"

Yah entah aku yang bodoh atau bagaimana, akhirnya sebulan kemudian aku dan Naruko mengunjugi rumah orang tuaku di konoha dan mengatakan sesuai rencana yang sudah dibuat. Lalu bagaimana dengan reaksi orang tuaku? oh ya seperti yang kalian ketahui mereka kaget.

Tentu saja, kami rencana yang dibuat Naruko sangat luar biasa hingga kami berdua dinyatakan sebagai pasangan resmi. Sertifikasi pengakuan hubungan kami sudah legal. Dengan begitu, aku sudah menggagalkan rencana perikahan yang dibuat oleh orang tuaku.

Flashback End

Yah beginilah aku sekarang, hidup bersama Naruko. "Senpai silahkan" ujar Naruko memberikan semangkuk nasi.

Aku menerima mangkuk berisi nasi tersebut "Kenapa ini semua terjadi...?" ujarku datar menatap Naruko yang fokus kembali mengisi mangkuk kosong yang diisi nasi.

"Aku tidak bisa berbuat banyak, lagipula aku harus tinggal di Tokyo agar dokumennya bisa resmi" balas Naruko lalu berjalan ke arah panci yang aku rasa dia membuat kare.

Aku masih menatap datar nya datar, haruskah aku berterima kasih?

"Aku sangat beruntung. Apartemenku di Shibuya sedang di renovasi, jadi aku tidak tau apa yang harus kulakukan karena aku tidak punya cukup uang untuk pindah"

"Gadis ini..."

Naruko adalah seseorang yang bisa jatuh cinta pada wanita lain. Dia pernah mengatakan perasaanya padaku saat kita masih sekolah.

"Sekarang karena aku sudah menyetujui pernikahan palsu ini. Apa yang dia pikirkan sekarang? mau sampai kapan dia tinggal disini? apakah dia pikir dia bisa membuatku setuju dan membuat kita menjadi pasangan yang sebenarya?. Entah kenapa ini lebih memusingkan dibandingkan dengan perjodohan yang dilakukan orang tuaku."

"Tidak, tidak mungkin. Aku sudah menolak pengakuannya dulu. Setelah itu, hubungan kita hanya sebagai kakak dan adik kelas saja" Ujarku kembali dalam hati, aku melahap makanan yang sudah disiapkannya."Tapi jika dia masih memiliki perasaan padaku, maka ..."

Eh?

"Enak sekali" ujarku tidak percaya, apa benar ini masakannya?

"Eh? benarkah?! HORE!"

Aku melahap kembali makanan yang ada dimeja "Serius, ini semua enak sekali." sebenarnya aku masih tidak percaya, kulihat Naruko menatapku sembari tersenyum.

"Mau tambah?" ujarnya menawarkan.

"Ya."

.

.

.

.

"Senpai! kulkasmu kosong. Suatu hari kau harus bisa memasak sendiri paham?"

Ah memasak? "Mustahil" karena pada dasarnya aku tidak bisa melakukan itu. Yah sudah lama aku tidak merasakan makanan seperti ini, sejak aku tinggal sendiri.

"Senpai ..." kutolehkan pandanganku ke arah Naruko, kini ia mentapku lembut.

"Bolehkah aku tinggal disini untuk sementara? aku akan membantu semua pekerjaan rumah" aku yang mendengarkan permintaannya tadi bisa meraskan kalau tidak ada candaan dari kata-katanya barusan.

"Tentu saja aku tidak berencana unutk tinggal disini selamanya, hanya sampai aku punya uang cukup untuk pindah rumah dan ..." jedanya lalu tersenyum "rasanya pasti akan menyenangkan untuk bersikap layaknya pengantin baru untuk sementara."

Hening ...

Yah aku memikirkan dulu apa yang dia katakan, tapi apa yang sebelumnya dia katakan mungkin tidak ada salahnya aku membantunya kali ini.

"Yah aku tidak tahu apan orang tuaku akan berkunjung. Tapi hidup bersama akan menunjukan kalau kita benar-benar sudah menikah. Jadi mungkin kau boleh tinggal disini sementara"

Setelah apa yang aku ucapkan Naruko tersenyum lalu mendekat ke arahku "Kurasa tidak ada yang dirugikan untuk pengantin baru ini"

TO BE CONTINUED


AUTHOR NOTE :

Selesai juga chapter pertama, sebenarnya apa yang kali ini aku buat sih? mungkin membosankan yah? :'v

MIND TO RIVIEW?