Summary: Setelah pulang dari kasus pembunuhan polisi wanita di sungai, Ranpo tersenyum lebih cerah dari biasanya.
Bungou Stray Dogs milik Asagiri Kafka dan Harukawa Sango
Ranpo tahu ada yang salah dengan masa lalu Dazai--sejak dia pertama kali memindai pria itu sebagai rekrutan baru--sekitar dua tahun lalu.
Perbannya yang menutupi hampir seluruh permukaan kulit itu seolah menyembunyikan sekaligus menjelaskan sesuatu terang-terangan.
Ranpo menahan diri untuk tidak ikut-ikutan permainan tebak-tebakan dengan anggota agensi lain, membiarkan pekerjaan lama Dazai sebagai misteri. Karena kalau tebakan Ranpo nyatanya tepat, dia tidak bisa menebak bagaimana anggota lain bereaksi.
"Shachou~!" panggilnya riang sambil memasuki ruangan tempat sang direktur menikmati teh sorenya.
"Ranpo," gumam Fukuzawa tenang. "Apa kau butuh sesuatu?" Kadang-kadang Ranpo menghabiskan uang gajinya terlalu cepat untuk membeli manisan, kemudian meminta uang tambahan tanpa beban.
"Bukan begitu! Aku baru saja menyelesaikan sebuah kasus!" Ranpo tanpa segan menjadikan meja sebagai tempat duduknya.
Fukuzawa melirik dengan ujung mata, sudah biasa. "Oh, kudengar Atsushi yang mengantarmu. Kasus ditemukannya perempuan dengan luka tembak yang dihanyutkan ke sungai, 'kan?" Fukuzawa baru mendengar laporannya dari Haruno.
"Umm ... Iya, itu juga!"
"Juga?" Fukuzawa mengerutkan kening dengan bagaimana Ranpo bersikap seolah-olah bukan itu kasus utamanya.
"Maksudku adalah, kasus pekerjaan lama Dazai!"
Fukuzawa menghela napas. Dia sudah menyerah soal itu sejak petugas polisi tidak menemukan informasi apa pun terkait masa lalu Dazai. Lagipula, pemuda itu sudah lulus ujian masuk, jadi itu bukan hal yang penting lagi.
"Shachou, jangan berpikir bahwa masa lalu Dazai tidak penting untuk diketahui," Ranpo menebak dengan tepat pemikirannya barusan. "Justru, dia bisa diberi peran tertentu yang cukup penting terkait kepentingan Agensi Detektif Bersenjata ke depannya!"
"Seperti?"
"Penghubung antara kita dengan Port Mafia." Ranpo tersenyum dengan silau di matanya. "Ah, dan bisa dipastikan dia juga punya koneksi tertentu dengan Divisi Pengawas Orang Berkemampuan Khusus."
"Apa maksudmu?" Salah satu kesamaan Fukuzawa dengan Kunikida adalah, mereka selalu tidak sabaran dengan penjelasan yang pasti. Di mana Dazai dan Ranpo lumayan suka memaparkan sesuatu tidak langsung ke inti.
"Dazai dulunya adalah anggota Port Mafia, dan kemungkinan dia punya jabatan cukup tinggi."
"Dan dasar dari kesimpulan itu?" Fukuzawa berusaha tetap tenang. Sekarang, dia baru berpikir bahwa kadang-kadang tingkah laku Dazai terasa familiar dengan seseorang.
Ranpo lalu menceritakan secara ringkas bagaimana mereka bertemu Dazai yang sedang menghanyutkan diri di sungai.
"Waktu itu, si pelaku mengemukakan spekulasi yang cukup meyakinkan bahwa pembunuhnya adalah orang-orang Port Mafia, dan Dazai menyangkalnya."
"... Itu saja?"
"Ketika dia mulai menjelaskan cara kerja mafia asli, itu deskripsi yang sangat jelas seolah-olah dia berada di tempat untuk menyaksikannya berulang kali. Ah, atau justru dia yang melakukannya." Ranpo menggelengkan kepalanya dengan setengah hati.
Fukuzawa tercenung. Memang benar, detail semacam itu bukan sesuatu yang bisa dengan mudah diketahui orang luar. Bahkan dia agak terbiasa dengan metode Mori hanya setelah mereka melalui beberapa pertarungan bersama.
"Anggaplah Dazai memang anggota mafia. Lalu kenapa kamu pikir jabatannya cukup tinggi?"
"Ehm, ketika Kunikida memperingatkan Atsushi agar berhati-hati dengan Akutagawa, sekilas aku melihat Dazai agak gelisah."
"Itu bukan karena dia punya pengalaman buruk dengan Akutagawa?" sahut Fukuzawa.
"Kalau begitu seharusnya ekspresi yang dia tunjukkan adalah takut." Bukannya malah sesuatu yang mirip dengan rasa bersalah. "Dan agak aneh kalau Akutagawa yang terkenal kejam itu bersedia menghentikan serangan dan justru mau memberi tahu alasan mereka mengincar Atsushi, kan?"
Semua orang menerima saja ketika Dazai berkata bahwa Akutagawa mundur karena kekuatannya dinetralkan. Padahal kalau dipikir-pikir, mereka masih unggul dengan senjata dan tiga orang yang terluka parah di pihak Dazai. Akan lebih mudah jika Akutagawa mengambil paksa Atsushi saat itu, kan Dazai juga tidak terlalu jago berkelahi.
"Sekarang, Dazai selalu menyembunyikan potensi yang sebenarnya. Siapa yang tahu kalau kemampuan berkelahi dia tidak terlalu buruk?" Ranpo menyeringai. "Antara Akutagawa dengan Dazai ... mungkin yang dapat pengalaman buruk itu malah si anjing pembunuh Port Mafia?"
Dengan kata lain, Ranpo berspekulasi bahwa Dazai memiliki jabatan di atas Akutagawa ketika mereka masih sesama anggota mafia.
Fukuzawa melipat tangannya. Hanya ada satu cara untuk memverifikasi kebenaran deduksi Ranpo. "Panggil Dazai."
Klik, pintu kantor dibuka dari luar. Orang yang sedang mereka bicarakan, memegang gagang pintu dengan senyum tak bisa ditebaknya.
"Selamat sore Shachou, Ranpo-san, Kunikida-kun memintaku mengantar laporan kerusakan properti akibat serangan Black Lizard kemarin," Dazai membawa sebuah map cokelat di tangannya.
"Kau dengar pembicaraan kami barusan?" tanya Fukuzawa, berniat mempersingkat waktu kalau nyatanya Dazai sudah menguping sejak beberapa menit lalu.
"Hmm, tentang aku yang mantan eksekutif termuda Port Mafia?" Dazai tersenyum pasrah. "Oh, belum sampai sana?"
Fukuzawa mematung untuk beberapa detik. Ranpo mengangkat tangannya dengan ceria dan berseru, "Nah, belum sampai sana!"
"Sudah kuduga Ranpo-san benar-benar mengamati semuanya."
"Yah, begitulah."
"Karena masa laluku yang bersih, Ranpo-san menyimpulkan bahwa itu berkat campur tangan divisi pengawas?"
"He eh. Kau punya teman yang baik, huh?
Untuk pernyataan barusan, ekspresi Dazai sedikit mengeras. Namun, dia dengan cepat kembali rileks. "Kupikir cepat atau lambat akan ketahuan juga, sih, tapi sekarang memang waktu yang tepat."
"Karena masalah Atsushi akan membuat kita terlibat pertempuran lebih jauh dengan Port Mafia?" terka Ranpo.
Dazai mengangguk. "Dan agar hasilnya seimbang, kalian harus tahu informasi tentang kemampuan khusus mereka."
"Kalau begitu bikin dokumennya, segera," titah Fukuzawa.
"Baik ~"
Dazai meletakkan map yang dibawanya di meja. Balik kanan menuju pintu dengan kecepatan yang tidak biasa.
"Dazai."
Terlambat, Fukuzawa sudah terlanjur memanggilnya balik.
"... Ya?"
"Kau kenal Mori Ougai?"
"Pria logis yang menyebalkan."
Melihat kurangnya rasa takut pada Dazai ketika membicarakan orang nomor satu di Port Mafia itu, Fukuzawa menjadi yakin bahwa Dazai benar-benar punya posisi penting juga di sana. Namun, kalau begitu ...
"Kenapa kau keluar dari Port Mafia?"
"... Karena," Dazai merasa untuk sesaat lidahnya kelu. Tetapi kemudian dia melanjutkan kata-katanya, "Seorang teman yang sekarat memintaku untuk berpihak pada orang-orang baik. Katanya ... itu akan menjadikan hidup lebih indah." Lalu, pemuda itu berlalu setelah menutup pintu tanpa menimbulkan bunyi.
"Dan dia masih tetap ingin mati, hmm," gumam Ranpo.
"Ranpo." Kadang-kadang, Fukuzawa juga punya keinginan menjitak detektif hebat itu sekali-sekali.
'•_•
"Yosano-san, ayo main hanafuda ~" ajak Ranpo yang bosan. Dia menghidupkan laptop dan keceriaannya langsung lenyap. "Shachou, ada yang datang." Mereka sedang terlibat perang tiga penjuru dengan Port Mafia dan Guild.
"Orang mafia?" Kenji mengambil salinan dokumen di mana Dazai telah menuliskan secara singkat kemampuan masing-masing anggota Port Mafia. Anak itu mencocokkan foto Chuuya yang tertangkap kamera pengawas dengan deskripsi yang tertulis.
"Hmm, apa ini? Dazai-san menyebutnya 'gantungan topi'."
Yosano hampir tertawa mendengarnya. "Mungkin. Apa kemampuannya?"
"Mengendalikan gravitasi."
"Wow."
'•_•
"Dazai, kau sudah tahu rencana Atsushi, 'kan?" tanya Fukuzawa ketika memanggil anggotanya itu ke ruangan. Sekilas dia melihat tangan Dazai yang cedera pasca mobil yang ditumpanginya--bersama petugas divisi khusus--ditabrak.
"Iya, kerja sama dengan Port Mafia." Dazai mengiyakan. Dia diberitahu lebih dulu sebelum Fukuzawa, ngomong-ngomong.
"Bisa kau mengaturnya?"
"Aah, bisa, sih," Dazai menggaruk kepalanya dengan enggan. "Aku akan menghubungi Mori-san." Sebagai gantinya, Dazai meminta tugas dokumennya selama seminggu ditiadakan.
(Dan ketika Fukuzawa tahu bahwa Dazai masuk rumah sakit karena nekat mencari informasi tentang 'kanibalisme', dia diam-diam melunasi setengah hutang pemuda itu di Uzumaki.)
•~•
Ehm, maaf karena telah membuatmu membaca cerita aneh yang lebih mirip rewrite cerita aslinya ini ~
