.

.

SuLay : Husby Love

PIP! PIP!

Seorang pemuda manis bersurai cokelat hazelnut tengah memainkan ponselnya, sesekali jari cantiknya yang terpoles kuteks merah muda terang dengan beberapa kristal di atasnya menari di atas layar ponsel. Tangan kirinya tak berhenti meraih cookies di sampingnya, dengan mulut masih sibuk mengunyah cookies dalam toples di depannya.

CKLEK

"Hello, hello!"

Pemuda itu menoleh, mendapati seorang pria tampan masuk ke dalam ruangan tempatnya berdiam diri tersebut, kemudian berjalan ke arahnya sambil melepas trench coat nya—meninggalkan trench coat itu layu di atas sofa. CHU! Pemuda itu cepat mengecup pipi pemuda manis kita yang tadi, yang membalas dengan senyuman.

"Cepat sekali pulangnya. Memangnya tidak ada kelas lagi?"tanya pemuda manis tadi, digelengi pemuda tampan di depannya.

"Anak-anak itu... berkilah karena sebentar lagi libur musim panas. Yasudah, aku percepat saja kuliahnya."ucap pemuda itu, dengan tangan yang bergerak cepat menyingkirkan dasi hitam pada lehernya.

"Sini, sini."

Pemuda manis tadi menaruh ponselnya, kemudian bergerak ke arahnya dan segera membantu pria itu melepas dasinya. Pemuda tampan di depannya menghela nafas berat, menatap pemuda manis di depannya dengan senyum lelah.

"Kau kelelahan, Junmyeon. Kau tahu? Kau harus istirahat sejenak. Anak-anak itu akan mengerti bahwa profesor muda mereka juga manusia."gumam pemuda manis itu, penuh perhatian—namun didapati gelengan dari lawan bicaranya.

Brief introduction here. Kim Junmyeon, pria tampan pekerja keras yang baru saja masuk ke ruangan tadi, adalah seorang profesor muda dan sekaligus peraih gelar PhD termuda di Korea Selatan ketika dia masih berumur 22 tahun—sekarang dia mendekati 30. Junmyeon saat ini mengampu mata kuliah Teknik Mekanik di Seoul National University, universitas yang termasuk dalam list top 10 university di Korea Selatan. Junmyeon sendiri adalah seorang pria mapan yang atraktif dan merupakan salah satu dari profesor favorit di universitasnya—dan tentunya digilai mahasiswi.

Kemudian, pemuda manis di depannya yang sedari tadi sangat welcoming. Zhang Yixing adalah seorang pemuda manis atraktif yang menarik hati pria old-fashioned seperti Kim Junmyeon. Yixing adalah seorang model fashion terkenal yang pekerjaannya adalah mengelilingi dunia untuk membawakan pakaian designer-designer terkenal di atas catwalk. Yixing adalah model terkenal yang sudah diakui seantero Asia Timur, beberapa kali menjadi mentor dalam ajang Asia's Next Top Model terlepas jenis kelaminnya. Yixing sendiri sedang mengambil cuti menikah saat ini.

Menikah?

Yap, Kim Junmyeon dan Zhang Yixing adalah pasangan suami-suami yang baru saja disahkan setelah sebulan lalu menikah secara privat—hanya mengundang keluarga dan kolega—di sebuah gereja megah di Taiwan. Keduanya sendiri baru bertemu beberapa bulan lalu di acara gala dinner Oh Coorporation yang menarik itu—Yixing adalah salah satu model rekanan kekasih CEO coorporation tersebut, dan Junmyeon adalah salah satu tamu eksklusif yang diundang di sana sekaligus teman dekat dari CEO perusahaan itu. Pertemuan mereka sendiri cukup canggung, dimana Junmyeon yang sama sekali tidak berpengalaman soal cinta akibat kesibukannya, bertemu dengan Zhang Yixing yang ikut tertarik padanya—menghadiahkan kejadian lamaran dadakan Junmyeon tiga bulan setelahnya dengan alasan "tidak cukup kalau hanya pacaran".

Back to story.

"Aku harus mempersiapkan berita acara kuliah untuk lusa dan juga mengatur teleconference asosiasi profesor mekanik besok siang. Malam ini aku harus menyelesaikan editorial dua jurnal yang sudah menunggu untuk diakreditasi sejak lima bulan lalu. Aku sudah mencoba menghubungi team-ku, tapi mereka pun sudah mendapat jobdesk dan mau tidak mau aku harus merelakan weekendku. Maafkan aku, Yixing."gumam Junmyeon, dengan nada kelelahan yang kentara.

Yixing tersenyum maklum, kemudian memutuskan untuk membuat kopi cappucino untuk Junmyeon selagi pria itu mulai bergerak untuk bersih-bersih cepat. Yixing cukup khawatir dengan kesibukan Junmyeon yang sangat tidak tahu diri, tapi apa mau dikata. Junmyeon menjadi Ketua Asosiasi Profesor yang baru dilantik dua bulan lalu juga bukan tanpa alasan. Junmyeon bisa meraih PhD dan profesornya di bawah usia 30 tahun dengan kejeniusan dan kegigihannya—bagaimana ia berjuang untuk menyelesaikan segala kuliahnya dengan cepat dan sukses meraih magna cumlaude pada setiap kelulusannya, bagaimana ia berjuang untuk mendapat penerimaan di dalam forum profesor di universitas yang sejak awal tidak menerima orang muda seperti Junmyeon yang dianggap tidak kompeten dan tidak objektif, dan bagaimana pada akhirnya pengangkatan Junmyeon sebagai profesor di kampus dan disusul oleh pengajuan dirinya sebagai Ketua Asosiasi Profesor oleh dewan profesor di universitasnya yang memercayai penuh kompetensi dan integritas Junmyeon. Semua itu bukan tanpa alasan.

Junmyeon memang figur yang sangat patut dicontoh, terutama ia juga selalu memberi inspiring speech di akhir kuliahnya, memfasilitasi segala keingintahuan mahasiswa tidak peduli apakah mereka mengganggu tidurnya atau tidak, dan juga selalu membawa mahasiswa bimbingannya menjadi lulusan terbaik. Lelaki seperti Junmyeon memang ajaib dan one and only in the world.

Tapi, Yixing juga khawatir. Dia bahkan pernah harus membatalkan jadwal catwalknya secara mendadak di Republik Ceko dan harus pulang ke Korea untuk mengurus Junmyeon yang dikabarkan sakit oleh Baekhyun, sepupu dari Junmyeon. Junmyeon tidak mau mengabari Yixing karena ia memahami kesibukan Yixing, tapi memang dasar Yixing yang sangat mengkhawatirkan Junmyeon, ia tetap akan pulang. "Aku tidak akan kehilangan pekerjaan hanya dengan men-cancel jadwal catwalking dalam seminggu.", begitu kata Yixing—membuat Junmyeon tersentuh karenanya.

Setelah selesai membuatkan cappucino, Yixing bergerak ke arah ruang kerja suaminya yang pintunya terbuka sedikit. Ia memasuki ruangan itu, mendapati Junmyeon yang tengah bersandar pada kursi kerjanya, memijat pelipisnya pelan. Ia menaruh kopi cappucino itu di sampingnya, kemudian kedua tangannya bergerak lembut dan memijat pelipis suaminya itu.

"Terimakasih, sayang."ucap Junmyeon, diangguki Yixing.

"Sama-sama."

Mereka pun hening sejenak, dimana Junmyeon memejamkan matanya sejenak dengan Yixing yang lihai memijat pelipisnya. Setelah keterdiaman itu, Yixing memutuskan membuka suara.

"Setelah ini aku akan menemani Baekhyun berbelanja ke department store di Cheongdam-dong. Kuharap kau tak keberatan."ucap Yixing, diangguki Junmyeon.

"Tentu saja, pergilah. Jangan lupa terus memakai cincin kawinmu."ucap Junmyeon, diselingi nada candaan di sana.

"Baiklah, sayang. Terimakasih."

Dan Yixing melanjutkan pijitnya.

.

"Kyaaaaa, Yixing gege!"

Byun Baekhyun, pria manis rendah hati yang merupakan sepupu Junmyeon—sekaligus seorang sekretaris di Oh Coorporation—menyambut Yixing dengan begitu heboh di pintu depan sebuah department store terkenal. Yixing menyambutnya dengan senyuman dan memeluk pria manis itu dengan ramah.

"It's been a long time, gege! Ingat, gege, you owe me bubble tea!"pekik Baekhyun dengan ceria.

"Ayo, ayo!"

Kedua pemuda manis atraktif itu pun berjalan masuk ke dalam, dengan candaan dan keceriaan yang menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.

.

"Menurut gege bagus ini atau ini?"

Tampak Baekhyun yang tengah memperlihatkan dua pilihan faux coat dengan warna cerah—sky blue dan green tosca—pada Yixing. Yixing sendiri memegang dua cup bubble tea yang mereka beli sebelumnya—sebagai bagian dari hutang Yixing padanya. Yixing memikirkan pilihan untuk Baekhyun, sedang empunya berkaca di depan cermin besar sambil mencocokkan dua faux coat tersebut pada tubuhnya.

"Honestly, Baek, kamu cocok dengan coat yang manapun."ucap Yixing, kemudian menyesapi bubble tea nya.

"Tapi aku mau pilih satu saja, gege! Bisa saja, sih, beli dua-duanya. Tapi, aku sudah punya faux coat warna lain di rumah dan belum ada planning untuk pakai dua warna baru!"ucap Baekhyun, kebingungan di depan cermin.

"Kalau begitu, yang green tosca saja. Mencocokkan dengan warna kuteksmu yang kuning, kurasa lebih matching."ucap Yixing.

Baekhyun mencocokkan faux coat warna green tosca yang ia bawa, kemudian mencocokkan dengan warna kuteksnya yang kuning menyala. Ia mengangguk paham, kemudian memberi blow kiss pada Yixing dan segera berjalan ke arah fitting room. Yixing sendiri memilih untuk duduk dan menunggu Baekhyun menyelesaikan urusannya.

Setelah beberapa menit menunggu, Baekhyun pun mendatanginya dengan membawa sebuah paper bag berukuran sedang. Setelahnya, Yixing menyerahkan bubble tea milik Baekhyun, dengan satu tangan Baekhyun mengapit lengan kanan Yixing. Mereka berdua pun berjalan dengan excited, pergi dari butik fashion tadi.

.

Yixing dan Baekhyun tengah berhenti di bookstore, mencari buku incaran Baekhyun di sana. Yixing sendiri hanya mengekori Baekhyun, tidak berminat untuk membeli buku di sana. Ia melihat-lihat tumpukan buku mekanik di depannya, kemudian pandangannya terpaku pada sesuatu.

Buku-buku tulisan Junmyeon berjejer di depannya, tepatnya di atas rak mekanik bestseller.

Yixing tersenyum kecil. Junmyeon memang figur hebat yang membuktikan segala hal mustahil itu pasti bisa dilakukan selama ada niat. Ia ingat bagaimana Junmyeon selalu menganggarkan waktu satu jam sehari untuk menulis buku, dan ia melakukannya dengan konsisten sehingga ia sudah memproduksi buku-buku hebat. Hubungan antara Yixing dan Junmyeon sendiri agak tertutup ke publik—karena Junmyeon yang meminta untuk tidak terlalu mengumbar—dan sejauh ini hubungan mereka baik-baik saja.

"Gege?"

Yixing menoleh cepat, mendapati Baekhyun yang mengamatinya dengan wajah tanda tanya, sambil menggenggam sebuah novel dengan lengan yang membawa paper bagnya tadi. Yixing tersenyum kecil, pandangannya kembali teralih pada buku-buku di depannya. Baekhyun melihat buku-buku itu, lantas bergumam paham.

"Is there anything you want to tell me?"tanya Baekhyun, memahami kesulitan samar pada wajah Yixing.

"Can you help me?"

.

Setelah melakukan sharing dengan Baekhyun, Yixing pun berakhir dengan menangis dalam diam. Kini, mereka tengah duduk di bagian smoking area dari McDonalds—bermaksud untuk mencari udara non AC di luar agar Yixing merasa lebih baik.

"You are awesome, gege. Kau menyayangi Junmyeon hyung lebih dari siapapun."ucap Baekhyun, dengan Yixing yang menyeka air matanya.

"Tapi dia terlalu sibuk, Baek. Ia sendiri melupakan kesehatannya. Aku hanya ingin dia berhenti sejenak dari pekerjaannya walau hanya semalam, karena dia memang tidak berhenti bekerja. Aku tahu dia menyayangi mahasiswanya dan sangat menyukai bidang yang ia geluti, tapi dia selalu lupa diri."

Baekhyun mengangguk, kemudian menggenggam tangan Yixing dengan penuh perhatian. Yixing tersenyum kecil pada Baekhyun, bersyukur bahwa pemuda manis ini selalu penuh pemahaman dan empati yang tinggi. Baekhyun mulai terpikir sesuatu, kemudian menatap Yixing.

"Kalau aku memberi saran, maukah gege mendengarkan?"

Yixing terdiam, kemudian mengangguk. Setelahnya, Baekhyun meraih ponselnya, dan langsung membuka sesuatu. Aplikasi TikTok. Ia pun langsung membuka sebuah video dan memperlihatkannya pada Yixing.

Beragam ekspresi muncul pada wajah Yixing, namun warna kemerahan kentara menghiasi pipinya yang masih agak basah.

"Aku tahu konteksnya berbeda, tapi gege harus menarik perhatian dia sepenuhnya dan membuat dia istirahat. Gege juga harus memanjakan dia supaya dia bisa tahu bahwa gege menyayanginya. I mean, Junmyeon hyung terlalu lelah dengan pekerjaannya, jangan sampai dia lupa bahwa gege perhatian padanya dan mau meringankan stresnya. He is not doing it alone."ucap Baekhyun, dengan senyuman penyemangat.

Yixing menghela nafas pelan, kemudian menatap ke luar. Tatapan kosongnya melihat mobil-mobil yang berlalu lalang di depan department store tersebut. Ia menatap Baekhyun, yang kemudian tersenyum manis—bermaksud untuk menyenangkan hati Yixing. Yixing terkekeh pelan, kemudian tersenyum juga.

"Terimakasih sarannya, sayang."

.

Yixing berpamitan untuk pulang lebih dulu pada Baekhyun, yang masih melanjutkan cuci matanya di department store. Setelah sampai di apartment, Yixing melirik ke sekelilingnya. Tidak ada tanda-tanda Junmyeon.

"Myeonie?"panggil Yixing.

"Ah, iya. Kemarin itu aku sudah mencoba mengirim filenya, tapi sepertinya tidak dibalas."

Terdengar suara-suara dari arah ruang kerjanya. Yixing pun berjalan ke sana dan membuka pintu ruang kerja itu sedikit. Tampak Junmyeon tengah berkutat dengan begitu banyak tumpukan map di sampingnya, lengkap dengan beberapa buku terbuka dan laptop yang menyala terang. Kopi cappucino yang Yixing sediakan sudah ludes diminum, wajahnya terlihat sangat kelelahan.

Yixing nyaris menangis. Ia tidak tega melihat Junmyeon kelelahan seperti ini.

Yixing memikirkan saran yang diberi Baekhyun. Oke, Yixing memang bukan user TikTok—dia bahkan tidak pernah mengupdate Instagramnya sekalipun sebagai model terkemuka yang punya membintangi advertisments sana-sini—dan dia pun tidak terlalu tertarik untuk mengikuti trend. Yixing terdiam.

Tidak punya TikTok bukan berarti tidak boleh melakukan hal serupa.

Maka, Yixing berjalan ke arah kamar mandinya yang terletak di dapur. Ia akan menyenangkan Junmyeon sejenak, membuatnya rileks dan lupa sejenak akan pekerjaan gilanya.

.

Junmyeon manggut kelelahan, tangannya tak henti memijit pelipisnya yang mulai agak kemerahan karena terlalu sering dipijit. Tangan kanannya memegang sebuah file beberapa lembar, matanya menyipit serius—membaca isi file itu. Cahaya laptop yang terang tidak diimbangi lampu ruangan yang terang pula, bisa-bisa matanya rusak gara-gara itu.

Junmyeon menatap cangkir kopi kosong di sampingnya. Ia memutuskan untuk mengambil minum lagi, hitung-hitung membantunya berpikir.

Junmyeon berjalan keluar ruangan menuju dapur, berjalan menuju coffee brewer milik Yixing. Ia mulai menyeduh kopi cappucinonya, menunggu dengan sedikit tidak sabaran. Pekerjaannya sudah hampir selesai, dan dia berniat untuk menyelesaikannya sebelum besok siang.

"Myeonie?"

Terdengar suara lembut dari belakangnya. Junmyeon menyadari suara itu adalah suara Yixing. Setelah bergumam "ya sayang?", kemudian Junmyeon mengambil kopinya yang sudah jadi. Ia meneguknya sambil membalikkan badannya menghadap sumber suara.

BYUR! Tiba-tiba Junmyeon menyemburkan kopi pada mulutnya, mengotori counter dapur, lantai, dan kemeja yang tengah yang ia kenakan. Matanya terbuka lebar, menatap pemandangan indah bagaikan representasi Surga yang seakan nyaris mencabut nyawanya.

Yixing berdiri di depannya, naked, dengan handuk mengitari lehernya. Satu tangannya menutup bagian dadanya, satunya lagi menutup bagian privatnya. Wajahnya sungguh kemerahan, dengan mulut yang dibekap rapat—tidak mau berkomentar apa-apa. Junmyeon masih menganga, ia bahkan melupakan cangkir cappucino yang telah ia taruh di meja dengan sembarangan.

"I-ini sebenarnya challenge TikTok, ta-tapi aku tidak punya TikTok. Tapi a—tapi tidak ada salahnya mencoba, kan?"ucap Yixing, dengan nada gugup yang sangat kentara.

Junmyeon menarik nafas, kemudian tersenyum tampan. Ia berjalan ke arah Yixing pelan, kemudian berdiri di depannya. Kedua tangannya langsung menggendong Yixing—koala hug—kemudian kepalanya ia tenggelamkan pada ceruk leher Yixing.

"May I?"

"Yes."

.

Yixing tersenyum manis saat ini, dengan Junmyeon yang membalas senyumannya dan memberi kecupan ringan di pada keningnya. Kini, mereka tengah berbaring pada kasur king size mereka.

Tidak ada yang berbicara di situ. Hanya Junmyeon yang fokus mengamati wajah indah Yixing yang tengah memejamkan mata, satu tangannya mengusap punggung mulus Yixing yang kini telah ternodai beberapa kissmark mahakaryanya, dan selimut yang menutupi setengah tubuh mereka.

"Pekerjaanku belum selesai, by the way."gumam Junmyeon, memecah kesunyian itu.

"Kau harus ingat istirahat, sayang. Kau tahu aku sangat mengkhawatirkanmu. Kau selalu lupa diri ketika bekerja. Kau bukan robot. Aku yang menyaksikan usaha kerasmu, dan tolong, jangan terlalu keras pada dirimu sendiri."ucap Yixing, mengutarakan isi pikirannya pada Junmyeon.

Junmyeon menghela nafas pelan, kemudian tersenyum dan mengangguk. Ia menyandarkan kepalanya dengan nyaman pada bantal, membiarkan lengan kirinya yang kekar menjadi bantal kepala Yixing. Sekali lagi, ia mengecup kening Yixing dengan lembut.

"Aku memang tidak salah menikahimu, Xing. Kau terlalu sempurna untukku."gumam Junmyeon, dikekehi Yixing.

"Aku juga mencintaimu."

Dan mereka larut dalam ciuman yang memabukkan.

SuLay : Husby Love — END

.

Hueee I love them so much :""" nyaris jantungan liat interaction mereka di IG kemaren huhuhu MY HEARTEU

Jangan lupa review dan favorit, yaaaa!

HUANG AND WU