Anak Lelaki di Ambang Jendela
.
.
Alkisah, tersebutlah Kerajaan Peri yang telah lama berperang dengan bangsa manusia. Hingga pada suatu masa, Putri Kerajaan Peri jatuh cinta kepada Kesatria dari kerajaan bangsa manusia. Keduanya kemudian bersatu di dalam ikatan pernikahan. Kedua kerajaan pun akhirnya mencapai perdamaian.
Akan tetapi, kedamaian tak berlangsung lama. Raja para manusia ingin menguasai kekuatan dan sihir yang dimiliki para peri, untuk dirinya sendiri. Untuk kepentingan bangsanya, meski harus menghalalkan segala cara. Sang Kesatria pun tak mampu berbuat apa-apa untuk mencegahnya.
Sang Putri yang kecewa, akhirnya pergi meninggalkan kerajaan suaminya, kembali ke Kerajaan Peri. Tak rela kaumnya menjadi alat perang bagi bangsa manusia. Bersamanya, ia membawa Pangeran Kecil, putra pertamanya. Berpisah dengan pasangan jiwa, serta dua belahan hatinya yang lain: adik-adik sang Pangeran Pertama.
.
.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
Animasi "BoBoiBoy" beserta seluruh karakter di dalamnya adalah milik Animonsta Studios/Monsta(c)
Fanfiction "Anak Lelaki di Ambang Jendela" ditulis oleh kurohimeNoir. Penulis tidak mengambil keuntungan material apa pun atas fanfiction ini.
Kingdom!AU. Red Carrot Siblings. KasFang (brotp). Spesial ulang tahun Fang #HBDOurPrivateShadow.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
.
.
Fang menatap malas keluar jendela kaca yang setengah terbuka. Dia masih berada di dalam kelas, seharusnya masih memusatkan perhatian kepada guru yang sedang menjelaskan perihal sejarah negerinya sebelum masa-masa kejayaan. Namun, bocah lelaki sebelas tahun itu memilih untuk membiarkan wajahnya tersangga tangan kanan yang bertelekan meja. Membiarkan angannya mengembara.
Telinganya masih menangkap jelas tentang peristiwa masa lalu yang pernah terjadi di tanah ini. Namun, benaknya dipenuhi cerita dongeng itu. Kisah khayalan yang pernah didengarnya semasa kecil.
Remaja putra itu mendesah. Kalau kisah itu sekadar khayalan, apakah orang yang menceritakannya pun hanyalah buah imajinasinya semata? Karena hanya dia yang pernah bertemu, melihat, dan berbincang-bincang dengan orang itu.
"Hai! Namaku Kassim. Hahahaha ... Kenapa kaget begitu? Jangan khawatir, aku hanya meminjam wajah ini sebentar."
Fang mengulum senyum, terkenang sosok misterius yang tiba-tiba menemuinya hampir lima tahun lalu. Ketika ia terbangun tepat tengah malam di hari ulang tahunnya yang ketujuh, lantas membuka jendela untuk menikmati angin malam.
"Anggap saja aku hanyalah peri yang ingin berteman dengan anak manusia sepertimu."
Pengenalan diri yang makin Fang dewasa, makin terasa sebagai suatu kebohongan. Waktu itu, makhluk apa pun yang mengaku bernama Kassim itu, mengatakannya karena Fang kecil ketakutan melihat 'orang asing' yang datang dengan wajah yang sangat dikenalnya.
Namun, keramahannya, kebaikannya, kelembutannya, menaklukkan hati Fang cilik secepat kilat. Dia bercerita tentang kisah dongeng penuh keajaiban, tentang hutan, tentang tempat-tempat di penjuru negeri yang belum pernah dikunjungi Fang. Dia juga memberi Fang hadiah ulang tahun yang unik. Waktu itu, Fang diberi kue yang belum pernah dia makan sebelumnya. Rasanya manis dan sangat enak.
Kemudian, Kassim datang lagi setahun setelahnya, selalu di tempat yang sama pada tengah malam. Begitu pula tahun berikutnya, berikutnya, dan tahun berikutnya lagi. Setiap kali datang, ia selalu membawa kisah-kisah menarik dan makanan enak untuk merayakan hari ulang tahun Fang. Membuat Fang merasa sangat istimewa di hari yang penting baginya.
Kalau boleh dirangkum dalam satu ungkapan, Fang sangat menyukainya.
TENG. TENG. TENG.
Bel tanda berakhirnya waktu sekolah berdentang, menyentak Fang sedikit. Akhirnya detik-detik panjang nan membosankan berlalu sudah. Fang membereskan buku-buku dan alat-alat tulisnya di atas meja dengan cepat. Lantas mengikuti alur kelas, mengucapkan salam kepada gurunya untuk terakhir kali hari itu.
"Fang, Fang! Selamat ulang tahun, ya!"
Diawali gadis kecil yang kebetulan bertempat duduk tepat di depannya, ucapan senada berdatangan dari anak-anak lain. Fang tersenyum sambil mengucapkan terima kasih dengan ramah.
"Tapi sayang sekali, ya," gadis berambut hitam dengan kucir dua yang pertama memberi ucapan selamat tadi, berkata tiba-tiba. "Harusnya ulang tahun Fang besok. Tapi tiap tahun kita nggak bisa kasih ucapan pas harinya."
"Iya, sih."
"Fang pasti sedih, ya."
"Mana pas hari ultahnya nggak bisa ke mana-mana."
Kawan-kawan Fang memberikan ucapan simpati sambung menyambung. Kedua netra beriris merah menajam di balik kacamata, tidak menyukai dirinya dikasihani.
"Biasa saja." Fang berdiri sembari menyandang tas sekolahnya. "Lagipula hari ulang tahun tidak sepenting itu, 'kan. Cuma usia kita yang bertambah."
Teman-teman Fang saling pandang. Tidak ada di antara mereka yang begitu tak bersemangat tentang perayaan ulang tahun. Apalagi, di hari itu biasanya mereka akan berkumpul bersama keluarga, mendapatkan hadiah dan kejutan istimewa.
Teringat hal yang tak mau berhenti mengganggu pikirannya walau sudah coba disingkirkannya jauh-jauh, kedua tangan Fang terkepal tanpa sadar. Kemarahan dan kekecewaannya tak pernah bisa benar-benar hilang sekuat apa pun ia menginginkannya.
Pada saat itulah, sepasang matanya membulat demi melihat sesuatu yang tak biasa di sekitar pijakannya. Tipis saja, tetapi ada semacam materi hitam mirip asap menguar dari sana.
Detak jantung Fang menguat setingkat. Sesuatu terasa mengalir di seluruh tubuhnya, hangat dan perlahan menderas. Fang tak pernah paham apa itu. Yang jelas, ia tahu hal tersebut ada hubungannya dengan materi hitam yang dilihatnya tadi. Sesuatu yang kadang terjadi apabila Fang tak bisa mengendalikan emosinya, entah kesedihan atau amarah.
Beruntung, Fang tahu bagaimana caranya mengatasi ini, sebelum ada orang lain yang melihatnya. Ia hanya perlu memejamkan mata, lalu bernapas dengan tenang. Aliran hangat itu pun mulai reda, makin lama tak terasa lagi. Fang tahu, itu berarti materi hitam tadi pun pasti sudah hilang. Artinya ia sudah bisa membuka mata.
"Fang?"
Fang tersentak sedikit ketika mendadak melihat salah satu kawannya telah berdiri tepat di hadapannya. Si gadis berkucir dua yang gemar memakai topi rajut dua warna, biru dan kuning.
"Kamu nggak apa-apa?" Sepasang netra sebening safir menatap Fang cemas. "Maaf, ya? Padahal kami tahu, Fang nggak suka membicarakan soal ini."
Kali ini ekspresi gadis manis itu dipenuhi penyesalan. Fang memandang berkeliling dan mendapati kawan-kawan sekelasnya pun memasang raut wajah serupa. Lagi-lagi perasaan ganjil itu menyentak batin Fang. Ia tak pernah menyukai ini. Namun, paling tidak, ia sudah cukup lega bisa mengendalikan diri. Dengan begitu, tak ada kawannya yang terluka.
"Nggak apa-apa." Fang melepaskan satu senyum samar yang biasa. Satu senyum yang digunakan untuk menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja. "Ya sudah, aku duluan, ya."
Fang segera berlalu, tak ingin tenggelam di dalam tatapan kawan-kawannya yang terbalut simpati. Makin tak ingin ia jika sampai mereka tahu, ulang tahunnya selalu jauh dari kebersamaan dan kehangatan keluarga.
Bukan berarti orang tua dan abang semata wayangnya tak peduli kepada dirinya. Hanya saja, mereka terlalu sibuk.
Ayahnya seorang jenderal militer yang mengabdi kepada Kerajaan Gogobugi. Waktu yang dipersembahkannya untuk negeri ini memang harus melebihi yang diberikannya kepada keluarga atau diri sendiri. Begitu pula abangnya yang berbeda usia sembilan tahun, Kaizo. Ia kini mengikuti jejak sang ayah dan telah berhasil menjadi seorang kapten di usia yang terbilang masih muda.
Dan ibunya ... Sepanjang ingatan Fang, ia tak pernah mengenal kasih sayang seorang ibu. Ayahnya, abangnya, para pelayan di rumahnya, semua tak ada yang pernah mau berbicara tentang hal itu. Tiap kali Fang mencoba menanyakannya, wajah mereka semua selalu terhias mendung tebal. Fang tidak menyukai itu, jadi dia berhenti.
Itu sudah lama sekali.
.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
.
Malam menjelang, dan Fang masih sendirian di dalam rumahnya yang megah. Besok, tanggal tiga belas bulan empat, adalah hari yang boleh jadi dibenci hampir seluruh rakyat Gogobugi. Yang sialnya bagi Fang, hari itu bertepatan dengan hari ulang tahunnya.
Tiga belas dan empat. Kombinasi dua angka sial dalam tradisi modern dan tradisi lama. Di hari itu pula, seluruh warga Gogobugi akan mengurung diri sehari penuh di dalam rumah masing-masing. Di jalan-jalan hanya akan ada patroli keamanan, salah satu alasan kenapa ayah dan abangnya selalu sibuk sejak malam sebelumnya, hingga satu hari tersebut berlalu.
Tradisi konyol.
Fang mendengkus. Tiba-tiba teringat, saat kecil ia pernah menanyakan kepada pengasuhnya, mengapa semua orang tidak boleh keluar rumah pada saat hari ulang tahunnya. Padahal ia ingin merayakan hari istimewa itu bersama kawan-kawannya.
Jawaban yang diperoleh Fang pada waktu itu takkan masuk ke dalam logikanya saat ini. Pengasuhnya mengatakan, pada hari itu Ratu Peri Jahat akan datang dan menculik anak-anak yang tidak terlindung di dalam rumah-rumah mereka. Takhayul konyol yang biasa dipakai orang-orang dewasa untuk menakut-nakuti anak kecil supaya mau diam di rumah. Namun, waktu itu Fang percaya.
Ratu Peri ...
Mendadak Fang teringat lagi dongeng yang pernah didengarnya sewaktu kecil. Di dalam dongeng itu ada seorang putri dari Kerajaan Peri. Apakah sang Putri telah menjadi Ratu? Apakah putri itu dan Ratu Peri Jahat adalah orang yang sama? Apakah dongeng itu dan tradisi berdiam diri di hari ketiga belas bulan empat ini ada hubungannya?
Fang hanya bisa menebak-nebak apa jawabannya.
.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
.
Tuk. Tuk. Tuk.
Fang terusik dari tidurnya yang memang tak begitu nyenyak malam itu. Ia terbangun dengan mata yang masih berat oleh kantuk, tetapi dipaksakannya untuk bangkit. Lantas duduk di tepi ranjang.
Tuk. Tuk. Tuk.
Suara ketukan pelan berirama itu terdengar lagi. Kali ini kesadaran Fang sudah lebih utuh. Ia mengedarkan pandang berkeliling sembari coba mempertajam pendengarannya. Suara itu sepertinya berasal dari arah jendela.
Siapa yang ada di balik jendelanya malam-malam begini? Sementara Fang masih terbenam ragu di dalam pemikirannya sendiri, suara ketukan berirama itu masih terdengar.
Tuk. Tuk. Tuk.
Seraut wajah tak terlupakan, terbayang di pelupuk mata. Tergoda oleh rasa penasarannya, Fang bergegas mendekati ambang jendela. Dibukanya tirai berwarna lavender dalam satu gerakan. Di balik kaca jendela hanya tampak kegelapan. Bahkan rembulan yang masih berbentuk sabit pun enggan beranjak dari persembunyiannya di balik awan.
Dengan sigap, anak remaja itu segera membuka jendela. Hanya beberapa langkah keluar, terdapat pohon persik yang telah lama tumbuh dengan penuh. Barangkali nyaris sepuluh meter tingginya. Di batang pohon itulah, tampak seseorang bersandar santai sambil bersedekap. Sepasang matanya yang beriris merah menatap Fang dengan lembut.
"Abang—"
Ucapan Fang terputus. Tadinya ia mengira telah melihat Kaizo. Kegembiraan memenuhi dadanya, berpikir Kaizo sengaja meluangkan waktu menemuinya menjelang pergantian hari, hanya demi mengucapkan selamat ulang tahun.
Namun, tatapan lembut itu bukan milik Kaizo. Pun senyum yang terukir tak lama setelahnya. Seolah yang ada di hadapannya hanyalah raga sang kakak, tetapi dihuni oleh entitas lain.
"... Abang ... Kassim?" Fang berkata ragu.
Sosok itu mendekat ke ambang jendela sambil memberi salut dengan sebelah tangannya.
"Apa kabar, Fang?" sapanya ramah. "Lama tak jumpa."
Fang terus mengikuti Kassim dengan tatapan matanya, hingga pemuda yang bagaikan pinang dibelah dua dengan Kaizo itu tiba di dekatnya. Dengan gerakan yang sangat ringan, Kassim meletakkan telapak tangan kanannya di kusen jendela bagian bawah, lantas menjadikannya tumpuan untuk menolak tubuhnya ke atas, hingga ia bisa duduk santai di ambang jendela.
"Aku baik. Kalau Abang?"
"Seperti yang kamu lihat, aku sehat-sehat saja."
Kassim tertawa kecil. Fang terpana. Dia takkan pernah terbiasa melihat wajah yang sama dengan wajah abangnya tertawa seramah itu.
"Kenapa melihatku seperti itu?" Kassim mengangkat sebelah alis.
Fang tersentak sedetik. "Tidak. Hanya saja ... Abang sama sekali nggak berubah, ya?"
Terakhir kali bertemu setahun lalu, juga pada malam menjelang hari ulang tahun Fang, Kassim mengenakan bandana merah yang juga masih dipakainya saat ini. Begitu pula pada tahun-tahun sebelumnya, sejak Fang berusia tujuh tahun. Ketika bertemu untuk kedua kalinya dahulu, Fang kecil pernah bertanya, mengapa Kassim memakai bandana yang sama. Dia hanya menjawab, bandana itu adalah benda penting pemberian seseorang.
Di luar itu, tentu saja, sikap dan pembawaan Kassim yang riang, masih sama seperti ketika pertama mereka bertemu. Sesuatu yang membuat Fang bisa membedakan Kassim dengan abangnya dalam sekali pandang.
"Kalau kamu, sudah lebih tinggi sepertinya—"
Kata-kata Kassim terhenti oleh alunan suara lonceng dari kejauhan. Itu adalah lonceng besar di Alun-Alun Kota yang selalu berdentang dua belas kali menandai pergantian hari. Dari tempat ini hanya terdengar sayup-sayup, dikarenakan jarak yang cukup jauh.
"Selamat ulang tahun yang kedua belas, Fang."
Senyum Fang terbit mendengar ucapan tepat di awal hari ulang tahunnya. Lagi-lagi, ayah dan abangnya takkan mendapatkan kesempatan untuk menjadi orang pertama yang memberinya selamat pada hari ini.
"Terima kasih, Abang Kassim."
Senyum Kassim kembali terbit sementara ia menatap Fang dalam-dalam.
"Nah, tahun ini kamu ingin minta hadiah apa dariku?" tanyanya penuh minat.
"Nggak usah. Abang datang saja aku sudah senang—"
"Mana boleh begitu." Kassim membiarkan keningnya berkerut. "Selama ini kamu selalu menolak tawaranku. Pokoknya, kali ini kamu harus minta sesuatu."
"Memangnya Abang bisa kabulkan saat ini juga?"
"Kenapa nggak? Kalaupun nggak bisa, akan kusimpan untuk hadiah ulang tahunmu yang akan datang."
"Hahaha ... Abang seenaknya saja."
Setelah berdebat sedikit lagi, Fang meminta waktu untuk berpikir. Sepuluh detik. Dua puluh detik. Satu menit.
"Oke." Berkata Fang akhirnya. "Kalau begitu, aku ingin Abang menjawab pertanyaanku."
"Hm?" Kedua alis Kassim terangkat. "Pertanyaan apa?"
Fang tersenyum samar. "Yang pertama, Abang ini sebenarnya siapa? Nggak mungkin peri yang menyamar dengan memakai wajah abangku seperti yang pernah Abang bilang kepada seorang anak polos berusia tujuh tahun waktu itu, 'kan?"
Kassim terkekeh. Ia menarik napas dalam-dalam, sebelum bersiap untuk menjawab satu pertanyaan itu.
"Setelah lima tahun berlalu, akhirnya kamu menanyakannya juga."
Fang tidak menyahut ketika Kassim setelah itu menatapnya dalam diam. Sebenarnya Fang bisa saja menduga-duga, tetapi ia—jujur saja—takut untuk memikirkannya lebih dalam.
"Kamu yakin, mau mendengarnya sekarang?"
Fang hanya mengangguk.
"Baiklah." Kassim menarik napas sejenak. "Kamu masih ingat, kisah dongeng yang sering kuceritakan padamu?"
"Ingat."
"Sebenarnya itu hanya cerita karanganku." Kassim menatap Fang dalam-dalam. "Itu bukan cerita dongeng, tapi sebuah metafora."
Fang mengerutkan kening.
"Cerita itu adalah pengandaian dari kisah nyata sebuah keluarga."
Kassim tersenyum tipis. Kali ini terlihat sedih. Kening Fang makin berkerut. Kali ini sebuah dugaan menguat di benaknya, memicu jantungnya berdegup lebih kencang.
"Keluarga?" Fang memberanikan diri untuk bertanya.
"Iya, Fang." Kassim kembali memusatkan perhatian kepada bocah yang tengah beranjak remaja di hadapannya. "Sang Kesatria di dalam cerita itu adalah seorang jendral yang benar-benar ada di Kerajaan Gogobugi. Sedangkan sang Putri Kerajaan Peri adalah putri tunggal pemimpin suku Kiseki, yang turun-temurun memiliki kemampuan khusus."
Kassim menjeda sejenak, sementara Fang menaruh perhatian penuh pada kisahnya.
"Kemampuan khusus," Fang mengulang dua kata itu, lebih ditujukan pada diri sendiri. "Sihir?"
"Kerajaan ini menyebutnya begitu." Kassim terkekeh samar. "Tapi di tempat asalnya, kekuatan itu disebut sebagai 'kuasa'."
Fang menatap Kassim lekat-lekat. "Dan Abang Kassim punya 'kuasa' itu?"
"Ya, tentu. Karena 'Pangeran Pertama' di dalam cerita itu ... sebenarnya adalah aku."
Sesuai dugaannya, Kassim sama sekali tak melihat keterkejutan di dalam ekspresi Fang.
"Berarti ... Abang Kassim punya wajah yang mirip dengan Abang Kaizo itu karena ..."
Fang memutus ucapannya. Kassim tersenyum. Diulurkannya tangan kanan untuk mengacak pelan rambut Fang yang masih berantakan sehabis bangun tidur.
"Kamu memang sangat cerdas," katanya kemudian. "Benar. Aku adalah saudara kembar Kaizo. Dan juga abangmu yang satu lagi, ... Fang."
Kedua mata Fang sudah berkaca-kaca sejak beberapa detik sebelumnya. Tanpa berucap sepatah kata pun, ia lebih mendekatkan diri ke jendela dan langsung memeluk Kassim.
"Kamu ... percaya?" Kassim membalas pelukan itu perlahan.
Fang mengangguk, lantas mempererat pelukannya. "Aku nggak pernah merasa asing dengan Abang Kassim. Seolah-olah kita sudah saling kenal sejak lama."
"Ahahaha ... Tentu saja! Aku dulu sering menggendongmu waktu kamu masih bayi."
Kassim membiarkan sang adik bermanja-manja kepadanya sampai beberapa saat setelah itu. Apa boleh buat, dia sendiri juga sangat rindu.
"Abang?" Fang melepaskan pelukannya setelah dua-tiga menit berlalu. "Kenapa Ibu pergi hanya membawa Abang? Apakah hanya Abang Kassim yang punya kuasa? Bagaimana denganku dan Abang Kaizo?"
Kassim menghela napas panjang, lantas melepaskan pandang ke langit malam lepas. Bintang-bintang yang bersinar malam ini tak seberapa jumlahnya. Namun, bulan sabit perlahan keluar dari tabir awan tipis sambung menyambung.
"Fang, coba lempar apa saja ke arahku," pinta Kassim tiba-tiba.
"Eh? Tapi—"
"Sudah, lakukan saja."
Fang memilih sebuah buku dari rak tak jauh darinya. Lumayan tebal, pasti sakit kalau kena. Tapi Kassim sendiri yang memintanya, 'kan?
"Ayo, Fang. Lempar sekuat tenaga."
Fang menuruti permintaan itu. Namun, sebelum buku bersampul cokelat itu menghantam wajah Kassim, sebentuk dinding energi biru mendadak muncul menghalagi.
"Kereeen~" Fang menatap abangnya takjub. "Apa aku juga bisa melakukannya?"
Kassim tersenyum saja melihat antusiasme sang adik.
"Selama lima tahun belakangan ini, aku berinisiatif datang ke ibukota ini setiap tanggal 13 bulan 4. Memanfaatkan keadaan negeri yang berdiam diri ini, yang memang memperbanyak patroli tetapi juga menciptakan celah di sana-sini. Aku mengawasi kalian berdua, Kai dan juga dirimu. Adik-adikku."
"Jadi bukan karena khusus ingin mengucapkan selamat ulang tahun padaku?"
Kassim tertawa kecil ketika melihat Fang sedikit mengerucutkan bibirnya. Diacaknya rambut sang adik dengan gemas.
"Tentu saja, itu juga." Kassim mengedipkan sebelah mata. "Sekali mendayung, dua-tiga pulau terlampaui. Kan?"
"Heee ..."
Kassim mengacak rambut adiknya lagi. Kali ini Fang jengah dan menepis tangan abangnya sambil mengeluh. Lagi-lagi Kassim tertawa.
"Tapi ... mungkin tahun ini terakhir kalinya aku datang."
Ucapan Kassim selanjutnya membuat Fang tanpa sadar menahan napas. Sesuatu berdesir tajam di dadanya.
"Kenapa?" kejarnya.
"Karena," Kassim menjeda sejenak, "hari ini aku akan memberimu pilihan."
"Pilihan?"
Tangan kanan Kassim terulur, ditepuknya puncak kepala adiknya dengan lembut.
"Tadi kamu bertanya, apakah Kai dan dirimu sendiri punya kuasa. Jawabannya ... Kai punya. Kuasa yang sama denganku, tetapi lebih kuat. Aku ... juga sudah menemuinya dan bicara padanya. Dan dia sudah memilih untuk mengabdikan diri kepada negeri ini."
Tatapan mata Fang menajam. "Lalu aku—"
Pemuda kecil itu mendadak terdiam. Diangkatnya tangan kanan hingga ia bisa bebas memandangi telapaknya. Beberapa detik ia bertahan seperti itu, sebelum tatapannya kembali mengendur. Sama tiba-tibanya, tangan kanan itu tergenggam dengan cepat. Sedikit bergetar.
"Kalau benar aku punya kuasa ... sepertinya itu beda dengan kuasa Abang ..."
Kassim menghela napas, pendek saja. "Hmm ... Begitu, ya? Kuasa yang mengalir di dalam garis keturunan keluarga ibu kita, hanya ada dua macam. Kalau bukan kuasa manipulasi energi seperti milikku, berarti—"
"Kegelapan."
Kassim tersentak sedikit ketika kalimatnya dipotong. Saat itu sang adik telah menentang tatapannya, sedikit berkaca-kaca. Pemuda itu tertegun sejenak. Sungguh, perilaku Fang yang disaksikannya hari ini sedikit terlalu dewasa untuk anak seusianya.
Apakah hidup sebagai putra seorang petinggi militer negeri ini—yang juga berdarah bangsawan—telah membuatnya seperti itu? Apakah Fang kelak akan tumbuh sama seperti Kaizo?
Entah mengapa, untuk adik kecilnya ini, Kassim benar-benar tidak rela.
"Abang ... aku takut," lirih ucapan itu terucap dari mulut Fang. "Mungkin ... kuasaku sudah bangkit ... Tapi, itu ... menakutkan ... Selama ini, aku memang masih bisa mengendalikannya. Tapi bagaimana kalau kekuatan itu nanti melukai orang lain?"
Fang menunduk dalam-dalam. Mungkin akan terus seperti itu andai ia tak merasakan kepalanya ditepuk lembut. Anak itu mengangkat wajah kembali. Dilihatnya Kassim tersenyum.
"Kalau begitu, ikutlah denganku. Aku akan mempertemukanmu dengan Ibu. Lalu, kita bisa bersama-sama melatihmu untuk mengendalikan kuasa itu."
Ragu menodai wajah Fang yang mendadak berubah sendu. "Tapi ..."
Anak itu kembali terdiam. Bisa bertemu dengan ibu yang sangat dirindukannya terdengar seperti penawaran terbaik yang pernah ada. Ditambah ia bisa belajar mengendalikan kekuatannya dengan bimbingan orang yang tepat. Ia tak perlu takut lagi akan melukai siapa pun. Tapi ...
"Kamu nggak mau berpisah dari Ayah dan Kai?"
Ucapan Kassim menyentak Fang.
"Aku mengerti, Fang. Saat ini, pilihannya ada di tanganmu. Apa pun itu, aku akan menerimanya."
Kassim menepuk kepala adiknya sekali lagi sembari melepas satu senyum menenangkan. Ia lantas melompat turun, kembali menjejak tanah.
"Nah, kurasa sudah saatnya aku pergi."
Fang tersentak. Sinar matanya masih dipenuhi dilema. Kassim melihat itu dan tersenyum maklum.
"Sampai jumpa, Fang. Apa pun yang terjadi, aku dan Ibu sangat menyayangimu."
Fang tersentak. Di hadapannya, Kassim melambaikan tangan. Kemudian berbalik dan mulai melangkah perlahan. Fang terus memandangi punggung sang kakak dalam detik-detik yang terasa lambat. Kalimat terakhir Kassim merasuk begitu dalam, menimbulkan gelenyar hangat di dalam dadanya.
Kedua tangan Fang terkepal erat. Detik-detik baru beberapa menit meninggalkan tengah malam. Sosok Kassim masih tertangkap oleh matanya, tetapi makin menjauh. Jika dirinya tetap berdiam diri, maka sosok itu akan menghilang ke dalam kegelapan malam. Dan Fang tidak akan tahu, kapan mereka bisa bertemu lagi.
"Abang Kassim!"
Pada akhirnya, Fang berseru. Kassim berhenti, lantas berbalik kembali. Saat itu, Fang telah memutuskan untuk melewati ambang jendelanya, lantas melompat turun ke tanah yang dingin. Entah sejak kapan, anak itu juga sudah mengenakan mantel hangat berwarna ungu tua miliknya. Kassim tersenyum lembut ketika Fang segera berlari kecil ke arahnya.
"Aku ikut!"
.
.
TAMAT
.
.
.
* Author's Note *
.
Akhirnyaaa bisa publish jugaaa~ TTATT
Tanggalnya cantik, btw~ uwu *plak*
Fic spesial ultah ini memang telat pakai banget, tapi aku tetap ingin menyelesaikannya. Kalau enggak, berasa ada yang mengganjal. Dan pasti nanti kepikiran terus kalau mau nulis yang lain.
Di sini, hanya ada Kassim dan Fang. Tak apalah sesekali. Hope you like it~
Akhir kata, happy happy birthday, Fang. Semoga di lanjutan series BoBoiBoy yang akan datang, Fang mendapatkan lebih banyak waktu onscreen, dan juga pengembangan karakternya bersama abang tercinta. :-)
.
Regards,
kurohimeNoir
05.05.2020
