.

.

.

"Aw, awh!"

"Mmm…"

"Berhenti, Jek! Awh!"

"Jangan gerak dulu, Ngil. Nanti tambah sakit."

"Sa-sakit, Jek. Nghh..."

"Tahan sebentar. Sedikit lagi."

"AHHH."

.

.

.

.

.

.

.

.

"Selesai."

"Lo sengaja nyiksa gue ya, Jek?!"

"Makanya jadi orang itu hati-hati. Memangnya salah siapa yang nggak merhatiin aman atau nggak pohonnya? Udah kelihatan ada lumutnya, masih aja dipanjat. Jatuh kan akhirnya."

Tengil a.k.a Erika Guruh hanya bisa mendengus ketika sang pacar selesai mengurut pergelangan kakinya yang terkilir karena jatuh dari pohon.

"Bersyukurlah kaki kamu nggak patah, Ngil," kata Viktor Yamada -pacar Erika- sambil meletakkan kembali minyak urut ke tempatnya.

"Tapi lo juga kagak usah kasar-kasar ngurutnya. Sekarang jadi nyut-nyut, kan!"

"Halah, besok juga udah sembuh. Yang penting seharian ini kamu nggak usah kemana-mana." Erika hanya mencebikkan bibirnya mendengar ucapan sang pacar.

"Hari ini gue harus ngumpulin lanjutan skripsi gue, Jek."

"Nggak usah ngeles, Ngil. Sejak kapan kamu peduli dengan tugas?"

"Lo nggak bersyukur apa kalau gue udah berubah?" sungut Erika kesal.

"Aku baru bersyukur kalau kamu udah berubah manis kepadaku. Apalagi kalau nurut sama aku. Manis banget, deh." Mendengar balasan Viktor, Erika langsung beringsut menjauhi Viktor dengan susah payah dan melemparkan pandangan ngeri kepadanya.

"Lo kesambet apaan, Jek?" tanya Erika ngeri.

"Kesambet cintanya kamu."

"JEKKK!!!"

"Bercanda. "

"Lo lagi ngegombal ceritanya?!"

"Apa aja deh yang ada di pikiran kamu."

.

.

.

THE END