Watashi no Jiyuu

By: (c) Hikari No Aoi

Naruto (c) Masashi Kishimoto

Rate : T

Genre : Romance / hurt

Warn: Standard Applied

Main pair: Sasuke x Hinata

Special thanks for: ClikAku, 96, yuni, Hitora and imnotevil13, Hinata Centric, dindachan06, chika kyuchan, Tryanayuhara, Taomio, yulia, Zizah, nico2510, suyamti, asmeva, Nata_Slytherin, user36627711, marlia182, lovely_sasuhina, Batukarangazm, kinoi_kimmy, -, Hanasita_Mayu, LiaArgasuta.

DONT LIKE DONT READ DONT FLAME!

.

.

.

Happy reading and hope you like it!

Chapter Two: Langit Kelabu

.

.

.

Hinata memandang jendela luar kamarnya yang menampakkan lebatnya salju turun hari ini. Beberapa saat yang lalu ia mendapat pesan bahwa Ino belum bisa mengunjunginya karena cuaca yang benar-benar tidak bersahabat, dan Hinata maklum. Belum lagi miniatur Sai yang masih balita kurang kebal dengan cuaca dingin ekstrem seperti ini menjadi pertimbangan lain Ino untuk tetap membesuknya atau tidak. Inojin sangat rentan. Dan Hinata paham.

Hinata menghela napas. Sejak bercerai, memang ia jadi sensitif, Semua hal seolah-olah berkaitan dengan hidupnya seakan terus menyindir dengan halus. Pernikahan Ino dan Sai yang langgeng, tidak seperti dirinya misalnya. Inojin-Putra mereka yang sangat menggemaskan seolah menjadi pelengkap bahtera rumah tangga yang dibina, dan tidak seperti dirinya yang bahkan dijamah saja bisa dihitung jari dalam beberapa bulan. Dan masih banyak lagi contoh lain yang kadang membuat Hinata merasa muak sendiri.

Kadang ia ingin bertanya, Kak Neji bagaimana rasanya disana?

Pintu kamar yang terbuka perlahan membuat Hinata mengalihkan pandangannya. Disana, ia menemukan sesosok pemuda yang entahlah bagaimana Hinata menyebutnya, Dewasa? Atau masih remaja? Yang jelas ia lebih muda, tengah melepas mantel hitamnya dan menggantungnya disudut ruangan. Rambutnya basah, dan kepulan asap jelas sekali terlihat ketika pemuda itu bertanya mengenai keadannya untuk menyapa.

"Bisa tidur lagi kan?" Tanyanya membuka suara.

Hinata mengangguk. "Iya, belum lama aku bangun untuk sarapan dan minum obat."

Sasuke tak menjawab, dan ia membelakangi Hinata dan mulai fokus mengeluarkan beberapa belanjaan yang ia beli tadi saat keluar.

Setelah percakapan mereka semalam, terutama pertanyaannya mengenai mantan suami Hinata-Naruto yang menjenguknya atau tidak saat pingsan, Pemuda Uchiha itu hanya menatapnya tajam dan mendecih kesal sebelum ia keluar kamar dan meninggalkannya sendirian didalam kamar rumah sakit tanpa adanya penjelasan. Pergi kemana, tidur dimana, sedang apa adalah hal yang Hinata pikirkan tentang Sasuke karena cuaca yang masih hujan salju sebelum Amethystnya terpejam lagi. Bagaimanapun juga, Hinata merasa khawatir. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan pada Sasuke, namun tak bisa diungkapkannya. Entah mengapa, sosoknya terlalu misterius dan Hinata belum memutuskan untuk mengetahui kepribadian bungsu Uchiha tersebut lebih jauh.

"Perusahaanku akan membuka cabang di Paris," Aroma teh yang menenangkan tercium tak lama setelah Sasuke menyeduhnya dengan air panas diatas nakas. Hinata menebak, itu adalah teh Chamomile terbaik yang bisa dinikmati saat suasana dingin seperti ini. "Sekitar seminggu lagi."

Hinata mengalihkan fokusnya, menatap punggung pemuda Uchiha yang tampak lebar dan menunjukkan betapa kokohknya karekter tak mau kalah yang dimilikinya. "Selamat, Aku dengar memang saham Uchiha Corp cukup diminati diluar negri."

"Menurutmu begitu Nona Hinata?"

"M-memang apa lagi?"

Sasuke berbalik, memberikan segelas teh panas yang siap dinikmati kepada wanita bersurai biru tua tersebut, dan duduk nyaman di kursi kosong sebelahnya. "Semuanya sudah sesuai rencana, tapi ada kendala tiba-tiba."

Hinata berterimakasih. Namun fokusnya kembali pada sang pemuda bermata hitam jelaga dari pada teh menggiurkan yang ada diatas pangkuannya. "Kendala?"

"Hm, kau tahu Orochiamaru's way kan?"

Hinata mengangguk.

"Dua hari lalu Kakashi datang dan membuat kehebohan, Kabuto yang merupakan sekretaris pribadiku ternyata adalah seorang penghianat yang bekerja untuk Orochimaru's Way. Kuakui, permainannya menyusup sangat rapi sekali." Sasuke kemudian menyeruput tehnya sekali, dan melanjutkan pembicaraannya. "Butuh waktu untuk mengguggat perusahaan menyebalkan itu, sedangkan data-dataku masih belum lengkap untuk pembukaan cabang besok."

Kini, Hinata mulai memahami arah pembicaraan yang Sasuke ingin sampaikan. "Jadi, maksudmu... aku diminta menjadi se-sekretarismu?"

Sasuke tersenyum tipis. "Menurutku itu posisi yang bagus Nona Hinata."

Menarik napas dalam, Hinata kemudian menunduk dan menatap segelas teh panas yang belum ia sentuh sedikitpun. "Um, ta-tapi bidangku bukan disana."

"Bidang?" Sasuke mengernyit.

"Iya, kau tahu. Aku lulusan Bahasa, dan tidak ada bakat sama sekali menjadi sekretaris."

Pemuda berambut raven tersebut menyandarkan punggungnya kebagian belakang kursi dan mulai meminum kembali tehnya. "Siapa bilang tidak ada hubungannya?"

Hinata giliran mengernyit. Sambil mulai menikmati teh chamomilenya, wanita berusia dua puluh lima tahun tersebut hanya terdiam sambil memperlihatkan Sasuke yang seolah sudah memiliki jawaban memuaskan.

"Dua tahun menjadi seorang istri, bukankah itu bisa dibilang pengalaman Asisten juga?"

Hinata tersedak.

.

.

.

Watashi no Jiyuu

.

.

.

Haruno Sakura meneliti beberapa lembar kertas yang ada ditangan kanannya. Mengamati dengan cermat sejumlah angka dari hasil lab yang menyetakan betapa berntungnya kondisi pasiennya yang bernama Hinata. "Tidak ada apa-apa, tapi memang kondisimu sudah bukan gejala lagi, melainkan Tipes dengan level yang medium."

Sang pasien, diam mendengarkan dengan seksama.

"Jangan makan makanan instan lagi dan cobalah mengatur pola hidup sehat kembali ya Nyonya, pastikan juga meminum secara teratur obatnya dan beristirahat dengan cukup.

Hinata mengangguk, berterimakasih kepada sang dokter yang telah merawatnya selama dua hari terakhir dan membuat kondisinya jauh lebih baik dari sebelumnya. "Apa perlu kontrol?"

"Jika masih demam dan merasa lelah bahkan tidak bisa bangun, silahkan kembali lagi. Tapi jika keringat dinginnya sudah mendingan, tidak perlu."

"Baik dokter, terimakasih banyak."

"Hati-Hati ya, lekas sembuh."

"Baik."

Hinata kemudian bangkit dan keluar dari kamar rawat inap VIPnya. Ia tak memiliki banyak barang bawaan. Hampir tidak ada malah. Hanya telpon genggam dan baju yang ia kenakan saja yang Hinata bawa. Ketika Hinata berbalik setelah menutup pintu, terlihat Sasuke yang sudah siap dengan sebuah kunci mobil ditangannya.

"Ada pesan khusus?"

Hinata menggeleng. "Hanya perlu banyak istirahat dan sebuah hutang budi padamu, Sasuke-san."

Sasuke terkekeh. "Ini bukan apa-apa, ayo kuantar." Ujar Sasuke yang langsung berjalan duluan.

Satu jam yang lalu Hinata mengabari Ino bahwa ia sudah baik-baik saja dan bisa pulang hari ini. Ia juga sangat berterimakasih karena Ino sudah membawanya kerumah sakit dan menolong Hinata saat itu. Namun karena hari ini salju masih turun lebat, Hinata meminta Ino untuk tetap dirumah saja dengan Inojin seusai bekerja dari pada mengantarnya. Ia juga menjelaskan bahwa sudah ada Sasuke yang membantu mengantarnya pulang supaya sahabat berambut pirangnya itu tidak merasa khawatir.

"Apa hari ini tidak ada meeting?" Hinata membuka pembicaraan saat mereka bedua sudah memasuki Lift. Jujur, ini adalah kali pertama Hinata melihat Sasuke mengenakan pakaian kasual dengan setelan sweater warna biru dongker dan celana krem yang terlihat elegan. Jangan lupakan mantel merah batanya yang meninggalkan kesan tabrak warna ngasal, tapi tetap sangat berkelas.

"Tidak, aku menundanya karena akhir-akhir ini cuaca sangat tidak bersahabat."

Hinata mengangguk maklum.

"Aku bukan berarti memerasmu, dengan menjadikan sekretarisku sebagai ganti biaya rumah sakit, Nona Hinata."

"A-aku tahu, tapi tetap saja hanya itu pilihan yang aku punya kan?"

Pintu Lift terbuka. Sasuke menekan tombol penahan agar Hinata bisa mengambil waktu untuk keluar. "Tidak juga, itu sebuah penawaran. Lagipula masih ada beberapa hari untuk mengambil keputusan."

"Terimakasih." Hinata berjalan duluan, lalu membiarkan Sasuke menyusulnya kemudian. "Apa Hyuuga dahulu pernah berhutang padamu?"

"Perusahaan Hyuuga, atau kakakmu?"

"Kakakku."

Sasuke mengambil nafas pendek, dan memasukkan kedua tangannya kedalam saku mantel. "Ada, tapi dia memintaku untuk merahasiakannya."

Tidak adil.

"Kalau begitu aku akan mencari tahu."

Sasuke tersenyum. "Silahkan,"

Seorang satpam segera menyiapkan sebuah payung ketika melihat ada pengunjung yang keluar dari rumah sakit. Dengan sigap, diantarkannya Sasuke dan Hinata menuju mobil mereka yang terparkir rapi tepat di depan Rumah Sakit. "Hari ini saljunya tebal, mohon berhati-hati jalannya licin."

Hinata mengangguk dan mengucapkan terimakasih. Entahlah, sudah berapa kali Hinata mengucapkan kata 'terimakasih' tersebut hari ini. Namun sekali lagi, Hinata tak menampik bahwa dadanya kini dialiri sebuah perasaan hangat yang seolah mengatakan semuanya akan baik-baik saja kedepannya.

Beda dengan Wanita dewasa yang terlihat menawan tersebut, Sasuke tak berkomentar apapun dan memilih untuk segera melajukan kendaraannya dengan kecepatan yang tak seberapa. Pembicaraan mereka berhenti sampai disana. Selama perjalanan menuju rumah Hinata, mereka berdua lebih memilih untuk tenggelam dalam pemikiran masing-masing sambil terus mengamati langit kelabu yang menampakkan lebatnya salju turun saat itu.

.

.

.

Watashi no Jiyuu

.

.

.

Flashback tiga tahun lalu

Seorang laki-laki dewasa tengah menatap layar ponselnya bosan sambil sesekali melirik adiknya yang tengah asyik bermain Game Mobile dengan suara yang nyaring. Waktu masih menunjukkan pukul 11.45 sedikit kepagian untuk makan siang.

"Kenapa hari ini kakak yang menjemputku?"

Itachi meletakkan ponselnya keatas meja kafe. Lalu menyeruput dengan puas frappuccino sang adik yang tergeletak begitu saja disampingnya karena ditinggal sang empu yang fokus memainkan gadgetnya. "Punyaku, baka!"

"Aku yang bayar."

Sasuke mendengus.

"Belikan yang baru!"

Itachi menjulurkan lidahnya. "Malas, ambil sendiri sana."

"Aniki!" Hampir saja sebuah tas sekolah melayang andai sebuah suara tak mengentikan pergerakan Sasuke.

"Astaga, apa ini perkelahian dua Uchiha bersaudara?" Mereka berdua menoleh dan mendapati seorang laki-laki bersurai cokelat panjang, menaruh tas kerja miliknya dan mulai duduk disebrang meja mereka. "Harusnya aku juga mengajak Hinata."

Itachi terkekeh. "Apa itu, adikmu yang imut seharusnya tidak terlibat."

Neji menghela napas, pura-pura terbebani. "Iya, apalagi dia sedang stress menyusun skripsi saat ini."

Itachi mencondongkan tubuhnya, melupakan skandal minuman sang adik dan memilih untuk fokus pada koleganya tersebut. "Hei, ngomong-ngomong rumornya benar?"

Neji memutar bola matanya, dan menyandarkan kepalanya pada satu lengan yang ia letakkan pada punggung sofa yang ada dibelakangnya. "Aku masih syok."

Sasuke mendengus, mengambil lagi minuman miliknya yang tinggal setengah lalu Ia meraih headphone dalam tasnya dan kembali lagi fokus pada gadget hitam kesayangannya. "Cih."

"Astaga, jadi benar? Ckckck, kalau aku jadi kau aku akan melempar kepala presdir itu dengan pemukul baseball."

"Makanya, aku kesini mau minta saran darimu. Hinata masih terlalu muda untuk sebuah pernikahan, ia masih dua puluh dua. Sedang menempuh ujian akhir pula!" Neji mengeluarkan uneg-unegnya. "Ini gila."

Itachi mengalihkan pandangan matanya, mengelus dagunya dan memasang pose seolah tengah berfikir keras. "Bagaimana ini, haruskah kita mulai dengan menu Americano?"

Neji meninju bahu Itachi lumayan keras.

"Hei!"

"Kau tahu aku pecinta Matcha,"

"Oke, oke." Itachi mengangkat kedua tangannya tanda ia menyerah, lalu bangkit untuk memesan minum yang diminta. "Lain kali kalau mau curhat, ajak Hinata sekalian. Selama ini kau hanya cerita, tapi tak pernah memperkenalkannya dengan benar."

"Berisik. Pesan saja sana,"

Itachi hanya menggidikkan bahu kemudian berlalu. Meninggalkan Neji dan Sasuke yang kini sibuk dengan ponselnya masing-masing. Sekelebat ide kemudian terlintas dibenak sang Hyuuga tatkala manik amethystnya tak sengaja menatap sosok Sasuke yang masih terbalut seragam sekolahnya. "Kalau tidak salah, namamu Sasuke kan?"

Merasa teman kakaknya menatapnya dengan intens, Sasuke kemudian melepas headphone miliknya dan menatap Neji Hyuuga-yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu. Yang ternyata merupakan sebuah permintaan rahasia yang menjadi bagian dari sebuah cerita panjang dalam masa depannya kemudian. "Ya?"

"Apa kau kenal Hyuuga Hinata?"

Hyuuga Hi—apa katanya? "Siapa?"

"Hinata." Ulang Neji. "Lalu, aku mau bertanya lagi. Kau kenal Christian Ronaldo kan?"

Sasuke langsung menaruh ponselnya dan fokus pada ucapan Neji. Mengabaikan game online yang kini masih berlanjut pertandingannya didunia virtual sana. AFK? Terserah.

Pria bertubuh kekar itu tersenyum simpul, kemudian mencondongkan tubuhnya untuk berbisik begitu umpan yang ia lemparkan disambut dengan gembira oleh si Uchiha muda. "Sebenarnya, aku punya kontak nomor pribadinya. Minggu depan ada pertandingan, dan ia mengundangku untuk datang."

Kedua Onyxs Sasuke berbinar.

.

.

.

Watashi no Jiyuu

.

.

.

Hinata berdehem, ketika Sasuke menghentikan mobilnya pada sebuah mini market yang terletak sedikit berseberangan dengan rumahnya. Menurut perkiraannya, Apakah mungkin seorang Uchiha Sasuke akan berbelanja mengingat ia adalah orang yang bisa melakukan—hampir segalanya? "Aku akan menunggu dimobil saja."

Sasuke mematikan mesin, dan melepas sabuk pengaman yang terpasang pada bagian depan tubuhnya dengan lugas. "Tidak ada yang ingin kau beli?"

Hinata tampak menimbang. "Kurasa tidak."

Sasuke mengangguk paham, ia kemudian menghidupkan kembali mesinnya serta penghangat mobil sebelum turun untuk membeli sesuatu—yang lagi-lagi membuat Hinata menghembuskan napas pendek. Memang masih terlalu dini untuk menduga, namun ia yakin bahwa kakaknya telah melakukan sesuatu pasti pada si Uchiha muda yang usianya saja belum genap memasuki kepala dua. Karena merubah watak seseorang terutama kolega bisnis pasti harus ada transaksi 'jual-beli' untuk itu, dan Hinata masih belum tahu mengapa setelah kematian Neji yang amat memukulnya, bangkit perceraiannya dengan Naruto yang baru saja membuat seluruh hidupnya hancur, kini malah datang lagi seorang Uchiha yang entah memiliki tujuan apa padanya.

Hinata memejamkan matanya. Ini tidak akan mudah. Petama, ini menyangkut soal usia, Sasuke masih pada tahap termpramen dan masa puber adalah masalah utamanya. Menghadapi remaja itu susah-susah gampang tergantung bagaimana ia mengatur emosinya itu sendiri, namun dasar hormon pertumbuhan, egois mereka kadang menjadi hal yang tak terduga. Tapi Jika ini memang menyangkut bisnis, sudah pasti itu lebih parah lagi karena si Uchiha muda itu pasti memiliki kekuasaan dimana baru lulus sekolah menengah saja ia sudah berhasil mengembangkan anak perusahaan sendiri—yang berarti ia bisa dijatuhkan kapan saja andai gegabah dalam memilih langkah.

Wanita berambut indigo itu mengusap pelipisnya. Mungkin ia harus segera mempertimbangkan untuk mencari sebuah pekerjaan di kota kecil lain. Hidup menyendiri di Kyoto pinggiran tenyata masih belum mampu untuk menyelesaikan masalahnya yang semrawut—yah meski Hinata hanya lari dan menghindarinya saja sih. Tapi tunggu, jadi bukankah ini memang saat yang tepat untuk memulai hidup yang baru lagi? Entahlah. Hinata masih mencoba mencari jalan lain. Ia akan mengambil tawaran Sasuke—yang terasa seperti buah simalakama, jika memang sudah benar-benar tidak ada solusi lain lagi.

Entah sudah berapa lama Hinata berkecamuk dengan pemikirannya sendiri, hingga sosok pemuda bermantel merah bata membuka pintu mobilnya dan memasukkan beberapa kantong belanjaan kebagian belakang kursi penumpang menyadarkan lamunannya. "A-apa perlu kubantu?"

Sasuke membuka pintu kemudi dan duduk untuk memasang sabuk pengamannya lagi. "Tidak apa-apa. Kau yakin tidak ada yang dibutuhkan? Kita bisa mampir Nona Hinata."

"Aku bak-baik saja."

"Baiklah," Kemudian bungsu dari Uchiha bersaudara tersebut mulai menginjak pedal gas dan melanjutkan kembali perjalanan. Tepat saat lampu merah, ponsel Sasuke berdering tanda ada panggilan masuk. Dan Hinata mengalihkan pandangannya kesamping, mempersilahkan Sasuke mengangkatnya dengan mencoba fokus pada pemandangan putih disekelilingnya sambil kembali membatin, musim dingin ini kapan akan segera berakhirnya?

"Tidak, aku sedang sibuk sekarang."

Ngomong-omong, tanggal berapa sekarang? Hinata meraih saku roknya dan mengambil ponselnya untuk mengecek. Tepat saat kedua manik gadingnya menatap tanggal di kalender, jawaban Sasuke diseberang telepon sukses membuatnya menoleh.

"Iya, aku akan makan malam dengan seseorang. Ini hari spesialnya." Dan Sasuke ikut menoleh, melempar senyum sesaat pada Hinata yang sekarang tampak syok menatapnya dengan tatapan tak percaya. "Jadi tak usah menungguku pulang, bu."

"—hm, Ulangtahun Hinata."

Hinata tambah syok.

"—Uchiha Hinata."

.

.

.

Watashi No Jiyuu: Chap II TBC

.

.

.

Cerita ini saya persembahkan untuk semua penggemar SasuHina baik dari FFn, maupun Wattpad sekaligus someone yang menjad inspirasi saya menulis kembali setelah sekian lama. Lockdown atau karantina wilayah ini membuat saya tersadar bahwa saya tenyata memiliki pembaca setia yang masih mendukung saya hingga saat ini dan saya sangat berterimakasih sekali. Untuk beberapa hari kedepan saya berusaha mencoba meyelesaikan cerita ini. Mohon bimbingannya Minna-san ^^ see you later!