A/N: Kamen Rider Decade adalah hak cipta Toei dan Shotaro Ishinomori-san. Maaf kalau OOC

Day with Him After Graduation

Genre: Romance, yaoi, lemon

Rating: M

Chara: Tsukasa x Kaito

Wisuda adalah momen yang diinginkan oleh semua mahasiswa. Dinyatakan lulus oleh rektor, mendapat gelar sarjana, melempar toga ke atas langit, mendapat sertifikat tanda lulus dan ijazah, dan pada akhirnya mereka siap terjun ke masyarakat. Momen ini hanya terjadi sekali dalam seumur hidup. Pada tanggal 5 Maret 20xx di Universitas Keio, Tsukasa Kadoya dan Daiki Kaito telah dinyatakan lulus. Tsukasa Kadoya merupakan mahasiswa jurusan estetis dan ilmu seni dengan skripsi terbaik kedua. Sedangkan Daiki Kaito merupakan mahasiswa jurusan arkeologi dan etnologi. Kaito dicap sebagai mahasiswa bermasalah di jurusannya sendiri. Ia pernah bolos kuliah, malak bekal makan siang, maling barang-barang bagus milik temannya, dan pernah bekerja sebagai host pada malam hari hingga akhirnya ketahuan dosen. Tsukasa dan Kaito sudah menjadi rival sejak pertama kali kuliah. Pria yang gemar membawa kamera twin lens reflex dan sang bad boy tersebut saling bertemu di kafetaria.

"Yo!" Kaito menyapa Tsukasa duluan. Namun Tsukasa cuek saja.

"Lo lulus kan, maling?" tanya Tsukasa dengan ekspresi ragu-ragu.

"Luluslah, gua studi di kampus juga sudah kelamaan. Kira-kira 5 setengah tahun. Kalau nggak lulus-lulus kakak gua bakal ngusir gua dari rumah."

"Bagus." jawab Tsukasa datar. "Jaa, bagaimana kalau kita rayakan kelulusan kita dengan makan sushi? Cukup kita berdua saja."

"Weh, mau banget makan sushi. Jarang gua makan enak," ujar Kaito sumringah. "Biasanya sih gua malak bekal junior-junior gua, karena makanan di kafetaria kampus sekarang semakin mahal harganya."

Tsukasa geleng-geleng kepala melihat tingkah rival sekaligus temannya itu. "Gua tahu restoran sushi terenak sekitar kampus. Harganya juga tidak terlalu mahal. Tapi sebelumnya kita foto bareng dulu di depan gedung kampus, buat kenang-kenangan."

Tiba di restoran sushi, Tsukasa memesan seporsi sushi nigiri maguro, salmon, unagi, tako, california roll, dua gelas teh hijau, dan puding coklat sebagai makanan penutup. 20 menit kemudian semua hidangan tiba. Air liur dari mulut Kaito keluar karena ngiler melihatnya. Secara spontan Tsukasa mengelap mulut Kaito. (so sweeeeeeettt)

"Lu kelihatan bloon kalau keluar air liur, nggak enak dipandang."

"Duh makasih ya, sayang. Jadi malu."

"Hoi, kita masih PDKT. Jangan panggil sayang dululah." ujar Tsukasa sambil memukul pipi Kaito dengan sumpit.

"Maaf, kebablasan gua. Hehehe." jawab Kaito semringah. "Nih aku suapin nigiri maguro-nya, aaa..."

Tsukasa membuka mulut dan memakan maguro sushi yang diberikan Kaito. Di sebelah kanan meja mereka tampak 3 orang wanita fujoshi meleleh hatinya melihat mereka bermesraan. Tsukasa sudah terbiasa menghadapi para fujoshi maupun fudanshi, jadi ia cuek saja. Di sisi lain, Tsukasa cenderung bangga karena kebahagiaan para fujoshi itu merupakan bukti bahwa ia mencintai Kaito dengan tulus. Mereka merupakan lambang cinta sejati (eaaa).

Setelah makan siang, Tsukasa dan Kaito jalan-jalan ke taman yang pernah mereka kunjungi saat awal semester. Dulu pepohonan dan bunga-bunga disana masih sedikit dan masih lapang. Kini taman tersebut telah banyak berubah. Sekarang taman tersebut sudah memiliki banyak fasilitas, seperti perosotan, ayunan, jungkat-jungkit, kursi taman, dan dekorasi lainnya. Mereka menghabiskan waktu bermain polisi dan maling. Kaito menepuk pantatnya dan menjulurkan lidah pada Tsukasa, lalu berlari secepat mungkin bak maling dikejar polisi. Tsukasa pun mengejar Kaito. Mereka saling kejar-kejaran di sekeliling taman bagaikan pasangan sejoli.

Di dekat kursi taman terdapat pohon bunga sepatu yang indah. Ini adalah tempat istirahat favorit mereka berdua. Pohon bunga sepatu yang dulunya masih kecil kini telah tumbuh besar dan berdaun lebat. Tsukasa memetik, lalu memasang bunga sepatu merah ke telinga Kaito sambil menikmati pemandangan. Kaito tersipu malu. Kaito hendak mengatakan sesuatu pada Tsukasa, namun ia memotong pembicaraan dengan mengajak Kaito nonton film. Film yang mereka tonton bergenre action romance.

--oo--

Di bioskop mereka berdua mengantri lama sekali, karena minggu ini banyak film yang bagus. Setelah mendapatkan tiket Kaito membelikan popcorn ukuran besar dan dua gelas jus lemon. Selama film diputarkan Tsukasa terus mengobrol dengan Kaito (tumben nih Tsukasa jadi sedikit lebih bawel xD). Biasanya Kaito duluan yang memulai pembicaraan saat nonton film.

"Kau lihat orang itu, Kaito?" Tsukasa menunjuk sang tokoh utama di layar lebar. "Gua bersedia menjadi pahlawan yang akan menyelamatkanmu. Tapi bohong."

"Ahahaha, dasar." Kaito tertawa sekaligus salah tingkah. "Tapi menurut gua antagonis di film Sacrifice ini keren banget. Gua pengen jadi dia."

Tepat pukul 20.00 film telah selesai tayang. Lampu-lampu dinyalakan kembali. Semua orang telah meninggalkan ruang bioskop, kecuali Tsukasa dan Kaito. Mereka berdua saling menatap dalam diam. Mereka sama-sama ingin menyatakan cinta, namun rasa gengsi yang melekat dalam hati menghalanginya.

"Ngomong-ngomong... Gua ingin mengatakan sesuatu pada lu, tapi..." ujar Tsukasa dengan wajah memerah. "Tapi... Daripada lu jadi penjahat, kenapa lu... Uh, lebih baik lu... Jadi pasangan hidup gua aja. Sungguh, mengatakan ini saja sulitnya minta ampun."

"Lu tsundere sih, wkwkwk." goda Kaito. Tamparan dari Tsukasa pun mendarat di pipi Kaito. "Sebenarnya habis ke taman tuh gua mau bilang sesuatu... Kalau gua ada perasaan sama lu. Dulu setiap pulang kuliah kepikiran lu terus. Bahkan bayangan lu terngiang-ngiang di kepala gua sebelum tidur. Udah empat tahun gua pendam. Gua suka sama lu, sungguh. Maaf ya baru bilang sekarang."

Tsukasa terdiam, lalu memegang bahu Kaito. Kaito merasakan tangan Tsukasa amat dingin, seperti hatinya. Tsukasa menatap mata Kaito dengan serius.

"Maukah kau menjadi pasanganku, sehidup semati?" ucap Tsukasa dengan bahasa formal.

"Tentu saja. Gua, eh, aku mau menjadi pasanganmu."

"Mulai sekarang jaga matamu terhadap cewek maupun cowok lain. Jangan nakal kau, ya. Aku sudah tahu berbagai macam kebiasaan burukmu. Salah satunya menjadi playboy."

"Duh senangnya diperhatikan olehmu, wkwkwk." Kaito memeluk erat Tsukasa.

"Sekarang saatnya kita kembali ke apartemenku." ajak Tsukasa kepada Kaito.

"Eh?"

"Aku ingin kau menginap di apartemenku sekali saja. Saat ini aku tidak ingin sendirian." Tsukasa mendekatkan wajah Kaito dan mencium keningnya. Mereka berpegangan tangan, berjalan dengan pelan meninggalkan ruang bioskop bagai pengantin pria dan wanita yang hendak menuju tempat pelaminan (ululululu, makin romantis saja ya pemirsa). Dulu saat Tsukasa dan Kaito masih kuliah mereka hanya jalan-jalan dengan naik bus. Namun pada kencan pertamanya Tsukasa membawa motor sendiri. Sepanjang perjalanan Tsukasa membonceng Kaito. Kaito memeluk erat pria penyuka warna magenta itu, seolah ia takut kehilangan sang kekasih.

Satu jam kemudian tibalah mereka di apartemen bercat kuning gading dan hanya memiliki 3 lantai. Dari awal kuliah hingga lulus Tsukasa tidak pernah pindah apartemen karena letaknya strategis dengan minimarket dan kedai kopi. Tsukasa memarkirkan motornya di lahan parkir samping apartemen. Kamar Tsukasa berada di lantai 3. Saat Kaito memasuki kamar Tsukasa, kamarnya amat rapi dan bersih. Mantan preman kampus tersebut takjub dengan kekasihnya. Kaito pikir Tsukasa adalah orang yang tidak suka bersih-bersih kamar. Ternyata yang terjadi malah sebaliknya.

"Pinjam dapurnya ya, Tsukasa. Aku akan membuat nasi goreng telur yang enak."

"Ok, ditunggu." jawab Tsukasa sambil menyimpan toga.

Ketika Tsukasa mencoba nasi goreng telur buatan Kaito, ia merasa ada yang janggal. Kejanggalan tersebut adalah rasanya yang hambar. Kaito lupa menambahkan garam saat menggoreng nasi. Jatuh cinta membuat Kaito kehilangan konsentrasi. Meskipun demikian, Tsukasa memaklumi kesalahan Kaito. Ia tidak marah ataupun mengomel.

Selesai makan malam kedua pria bersurai coklat muda itu melakukan makeout. Tsukasa melepas kancing kemeja Kaito perlahan-lahan, lalu menarik celana jeans hitamnya. Kaito tidak menggunakan boxer sama sekali sehingga Tsukasa terkejut melihat "barang kesayangan" Kaito mendadak berdiri. Sepertinya Kaito horny berat, pemirsa (digampar Kaito).

Kaito: Malu ehhh

Author: Hilih, sok-sok malu sia mah. Anyway by the way langkah selanjutnya apa, ya? Nulis fanfic lemon benar-benar menguras otak. Aku nggak mau pembaca merasa jijik :(

Kaito: Perlu aku praktekin ke kamu langsung? (nyengir)

Author: HEH LU UDAH JADIAN SAMA TSUKASA, YA!! YAKALI AKU TERIMA AJAKAN LAKNATMU ITU!! DAH BALIK KE CERITANYA LAGI!

Kaito: Iyaa dah, iyaa :p

Tsukasa menanggalkan kaos hitamnya. Mulut Kaito ternganga akan roti sobek Tsukasa yang indah dan seksi. Akibat nafsunya semakin liar, Kaito membuka celana bahan yang masih dikenakan Tsukasa secara spontan. Kaito cengar cengir melihat boxer abu-abu yang dikenakannya, karena ada sesuatu yang menonjol. Ia mulai iseng terhadap 'timun' Tsukasa dengan memainkannya.

"O-oi! Aku baru setengah telanjang kok udah mainin punyaku?"

"Gapapa pemanasan." jawab Kaito girang.

"Kalau begitu..." Tsukasa "Buat diriku puas, Kaito. Aku menginginkanmu malam ini."

Tidak segan-segan Kaito menjilat dan mengulum milik Tsukasa yang mulai memanjang dan keras seperti batu. Kini giliran Tsukasa menyerang Kaito dari belakang. Ia melepaskan boxer-nya, lalu menyodomi Kaito melalui anus. Tsukasa mengguncang tubuh Kaito, mulai dengan gerakan lambat hingga cepat bak mencelupkan kantong teh ke cangkir. Nafas mereka tersengal-sengal. Mereka saling mengerang lalu cairan putih muncrat menodai ranjang. Mereka lanjut ronde kedua. Tsukasa berbaring di ranjang, sedangkan Kaito di atas tubuh Tsukasa. Posisi man on top ini adalah posisi favorit Kaito, seolah ia berada di puncak gunung. Meski tubuh mereka penuh keringat, mereka terlihat bahagia setelah bersanggama di malam minggu. Tiada yang mengganggu (lah kok kayak lirik lagu, ya).

"Ahh senangnya hari ini. Sekujur tubuhku sakit, tapi aku puas." ujar Kaito sambil memegang wajah Tsukasa. "Terima kasih, sayang."

"Kali ini aja ya... bermain... di ranjangnya." jawab Tsukasa dengan wajah memerah. "Aku tidak mau melakukannya lagi karena... Bukannya aku malu, tapi... Tapi aku jijik melihat rambut halus di sekitar barangmu berantakan. Apa kau tidak pernah mencukurnya, Kaito?"

"Dih gitu!" Kaito manyun karena komentar pedasnya Tsukasa. "Iya deh, besok aku cukur."

"Bagusss," jawab Tsukasa tersenyum. "Kalau kamu mau mencukurnya baru aku puas bermain bersamamu."

"Ya ampun sampai segitunya." Kaito menepuk dahinya.

"Oh jadi kamu tidak mau lagi bercumbu denganku?"

"Jangan gitu dong, sayang. Kapan-kapan kita bermain lagi, ya."

"Tapi di rumahmu, ya. Itupun kalau kakakmu sedang dinas keluar kota."

"Yes!" Kaito memeluk erat dan mencium pipi Tsukasa.

"Pelukanmu terlalu erat, tahu!"

"Biarin, wek!" balas Kaito sambil menjulurkan lidah. "Itu tanda aku mencintaimu, Tsukasa."

"Dah tidur, tidur. Udah jam 01.00 dinihari, nih. Ngantuk habis bersanggama sama kamu."

--oo--

Keesokan harinya Kaito pulang diam-diam dari apartemen Tsukasa tanpa meninggalkan pesan. Sampai hari wisuda nanti tiba, Tsukasa tak henti-hentinya menunggu untuk bertemu dengan Kaito. Selama sebulan penuh ia menyibukkan dirinya dengan bekerja untuk mengusir kegalauan. Setelah gajian Tsukasa membelikan buket bunga mawar biru plastik dan liontin perak untuk Kaito.

7 Mei 20xx, hari dimana pasangan sejoli itu diwisuda pun tiba. Hari itu juga merupakan hari ulang tahun Kaito. Usai upacara wisuda Tsukasa menunggu Kaito dekat studio foto. Tiba-tiba kedua matanya gelap, ia pun kebingungan. Rupanya Kaito yang menutup matanya sambil memberikan kejutan. Bukankah seharusnya aku yang memberikanmu kejutan? Yare-yare.

"Domo!" sapa Kaito sambil tersenyum. "Ingat hari ini hari apa?"

"Nggak ingat tuh." jawab Tsukasa pura-pura. Namun sebenarnya ia ingat.

"Aaah, kau pasti sengaja melupakannya ya? Kamu tega, sayang!" jawab Kaito pundung (sedih).

"Duh aku ingat nggak, yaa?" ledek Tsukasa sambil pura-pura berpikir.

"Ingat plis, ingatt!" Kaito memohon-mohon sambil menarik jas hitam Tsukasa.

"Aku tahu! Ini hari dimana Jerman menyerah kepada Sekutu, kan?" (yang dimaksud Tsukasa itu tanggal 7 Mei 1949)

"BUKANNNNN!! BUKAN ITUUUUU!!"

"Ummm... Hari apa, ya? Ah ya, hari spesialmu. Hari dimana kamu lahir."

"Mou! Kenapa baru ingat coba?" Kaito memasang wajah cemberut. Lalu raut wajahnya berubah menjadi semringah ketika Tsukasa menyodorkan kotak hadiah besar berwarna cyan dan diikat dengan pita berwarna putih. "Uwoooh."

"Selamat ulang tahun, pencuri cyan-ku tersayang." ujar Tsukasa sambil tersenyum. "Semoga kamu panjang umur, mendapat pekerjaan yang layak, sukses, dan jangan mencuri lagi."

"Siap, sayangku!" Kaito mencium bibir Tsukasa.

Untuk sementara Tsukasa dan Kaito jaga jarak. Bara api cinta mereka tidak akan pernah padam meskipun terpisah. Cinta mereka abadi bagaikan pohon Sakura yang bermekaran. Semoga suatu hari nanti mereka dipertemukan kembali, entah dimana dan kapan.

THE END