Naruto oleh Masashi Kishimoto

Reuni oleh bellassson

Selamat membaca


"Selamat datang!" suara pegawai restoran Yakiniku-Q menggema. Seorang wanita cantik dan modis mengamati sekitar dengan seksama dengan membuka setengah kacamata hitam. Hari Jumat restoran lebih ramai dari biasanya. Kebanyakan adalah salaryman yang rela membuang ribuan yen demi melepas penat sebelum akhir pekan.

Bibirnya menyunggingkan senyum saat melihat seseorang dengan dandanan berbeda di meja ujung. Tak membutuhkan waktu lama karena hanya sedikit pengunjung yang tidak memakai setelan jas. Segera mendatangi meja yang terisi seorang pria gempal sibuk membolak-balik daging di atas panggangan.

"Halo, Chouji!" sapanya riang. Pria bernama Chouji memalingkan wajah dari daging yang baru masak ke arah suara.

"Ino!" panggilnya, "Lama tak jumpa."

Ino segera duduk di hadapan Chouji sembari membuka mantel yang melindungi dari angin musim dingin, dilipat rapi kemudian diletakkan di keranjang di bawah meja bersama dengan tas.

"Sudah lama?" tanya Ino. Tangannya membuat tanda 'memanggil pelayan'. Salah satu pelayan terdekat segera datang, bersiap dengan catatan pesanan dan pulpen.

"Tidak," Chouji melahap sepotong daging yang baru masak, "Tidak begitu lama," lanjutnya dengan suara tak jelas karena mengunyah.

"Bisakah kau makan pelan-pelan..." Ino beralih ke pelayan yang baru datang, "Tolong draft beer-nya." si pelayan segera mencatat pesanan.

"Tolong tambah birnya." Chouji menyerahkan gelas kosong.

"Baik, tolong tunggu sebentar." pelayan tadi berbalik setelah menulis pesanan. Gelas kosong milik Chouji diambil untuk digantikan gelas baru. Ia sempat beralih ke meja lain sebelum berjalan cepat menuju dapur.

Meski sudah didatangkan pekerja ekstra, sepertinya tenaga mereka belum cukup mengimbangi ramainya pengunjung yang datang.

"Kau bilang tak lama, tapi sudah menghabiskan segelas bir." Ino membuka menu yang ada di meja. Padahal Chouji sudah memesan paket spesial untuk bersama, tapi sekian lama tak mengunjungi restoran yakiniku langganan, Ino mencari menu baru yang patut diicip.

"Sebenarnya tadi gelas keduaku." ujar Chouji, santai.

"Hei, kau tidak akan mabuk duluan sebelum anggota kita lengkap, kan?" Ino memperhatikan wajah Chouji, sudah berwarna kemerahan akibat alkohol.

"Tenang saja, aku kuat kok." ujarnya.

Ino menatap tak percaya. Teringat seminggu setelah seijinshiki(*), Chouji, Ino dan temannya satu lagi melakukan pesta dengan minum alkohol untuk pertama kali. Tiga kali bersulang, Chouji sudah kolaps. Terpaksa harus diantar pulang. Tidak tahu, apakah sekarang perutnya sudah kebal alkohol atau masih sama seperti dulu.

"Ngomong-ngomong, dia belum datang?" tanya Ino, masih sibuk memilih menu. Terlalu banyak menu baru yang ingin dicoba sampai bingung memilih. Mengingat dia juga harus menjaga pola makan. Kalau ketahuan manager bisa-bisa kena semprot.

"Shikamaru? Dia bilang akan sedikit telat karena masih ada urusan. Kau tak lihat di grup LINE?" Chouji balik bertanya.

"Sudah kuduga. Diberkahilah Tuan Pengacara, Nara Shikamaru. Karirnya sedang naik daun." Ino menuang air putih dingin yang disediakan gratis.

"Kau sendiri bagaimana?" tanya Chouji, "kudengar kau juga sedang di puncak karir sebagai model. Kemarin aku melihat gosip kau dengan aktor Sasuke."

Ino hampir tersedak, tawanya kemudian lepas, "Hahaha, mana mungkin aku dengan dia. Lagipula dia sudah punya kekasih. Kami hanya kebetulan bertemu karena pekerjaan." Tangan Ino mengambil tisu untuk mengelap tetesan air yang tumpah di meja, "Memang pencari gosip itu suka seenaknya menyimpulkan."

Dua gelas penuh draft beer sudah datang. Ino memesan gyouza. Tak lama setelah pelayan pergi dengan kertas pesanan, seseorang datang menyapa.

"Hei, maaf aku terlambat." Pemilik suara itu lantas duduk di sebelah Chouji.

Chouji dan Ino serempak menoleh ke sumber suara.

"Shikamaru!" teriak mereka.

Pria berjas rapi dengan rambut kucir ke atas, membuka ikatan dasi yang terasa mencekik sepanjang hari. "Merepotkan sekali menggunakan pakaian ini." gumamnya, kemudian meletakkan mantel panjang di keranjang bawah meja.

"Kau tak berubah, ya?" ujar Ino.

"Apa?" tanya Shikamaru hendak memesan draft beer.

"Ucapan 'merepotkan' itu." Ino terkekeh pelan.

Shikamaru menghela napas, "merepotkan."

"Tuh 'kan!" Ino meledek.

"Sudahlah, ini dagingnya." Chouji membagikan daging matang kepada Shikamaru dan Ino, lengkap dengan sausnya.

"Bagaimana kabar kalian?" tanya Shikamaru, minum air putih sebagai pembuka.

"Model terkenal sepertiku selalu saja sibuk." ujar Ino, antara mengeluh dan bangga.

"Kudengar kau menang Food Fighter di Amerika?" Shikamaru bertanya kepada sahabat di samping. Mendengar Ino bisa berbangga diri menandakan kabarnya baik. Tangannya menyumpit sepotong daging yang dicocol saus pedas, kemudian dilahap.

"Benar! Lawan disana sangat tangguh, aku hampir kolaps di akhir waktu." kata Chouji juga melakukan hal yang sama dengan Shikamaru. Berbincang seperti ini paling enak ditemani makanan seperti yakiniku.

"Maaf telah menunggu! Silahkan draft beer-nya!" terdengar suara riang pelayan meletakkan segelas penuh draft beer di hadapan Shikamaru. Shikamaru, Ino dan Chouji segera menoleh mendengar suara familiar.

"Paman!" teriak ketiganya baru melihat pemilik restoran Yakiniku-Q yang sudah menjadi langganan sejak generasi ayah mereka. Tak banyak berubah, hanya rambutnya beruban sejak terakhir mereka pesta seijinshiki. Meski sudah berusia, ia masih semangat bekerja layaknya sepuluh tahun yang lalu.

"Bagaimana kabar Paman?" tanya Shikamaru.

"Seperti yang kalian lihat!" jawabnya. Sifat riangnya tak pernah berubah. "Silahkan paket spesial, daging terbaik hari ini, aku berikan kepada kalian," meletakkan sepiring daging di atas meja, "aku yang traktir."

Mata ketiganya berbinar menatap daging segar berbumbu di atas meja. Gratis pula. Chouji sudah meneteskan air liur ingin segera memasak di atas panggangan.

"Terima kasih, Paman!" teriak ketiganya.

"Sekian lama tak bertemu, kalian sudah lebih dewasa. Senang rasanya melihat kalian sehat dan sukses. Aku seperti melihat anakku tumbuh." Ia menitikkan air mata, langsung diseka dengan jari telunjuk. Padahal anaknya sendiri sedang berproses untuk meneruskan restoran yakiniku-nya

"Paman berlebihan." kata Ino tersenyum geli.

"Aku akan kembali bekerja." katanya setelah teriakan anak sulungnya memanggil dari dapur minta pertolongan. "selamat menikmati reuni kalian!"

"Selamat bekerja, Paman!" teriak Ino sambil melambaikan tangan.

Makanan sudah lengkap dan minuman sudah datang, saatnya untuk...

"Bersulang untuk reuni kita!" Bunyi tiga mulut gelas saling bersentuhan. Ketiganya meneguk nikmat draft beer hingga habis setengah.

"AH! Memang paling nikmat minum bir setelah lelah bekerja." ujar Ino, kemudian mengambil daging hasil masakan Chouji lalu dicocol saus pedas, kesukaannya. "Hm~ ditambah yakiniku yang baru masak. Aku bisa mati bahagia."

"Ino kau berlebihan." kata Shikamaru.

Chouji dan Shikamaru juga menikmati yakiniku sambil sesekali bercerita random. Ino lanjut melahap sepotong gyouza yang baru datang.

"Hm~ Ini juga nikmat. Kalian coba deh, sepertinya menu baru." Ino menyodorkan sembilan gyouza dalam satu piring kepada sahabatnya. Shikamaru mengambil sepotong, dicocol ke saus. Chouji menyusul setelah menghabiskan daging kesekian.

"Waktu cepat sekali berlalu, ya." Shikamaru meletakkan sumpit untuk minum birnya.

"Sepertinya baru kemarin kita bertemu seperti ini." Chouji ikut mengenang ke masa tujuh tahun yang lalu. Pesta seijinshiki yang bertepatan dengan perpisahan Shikamaru ke Inggris dan Ino ke Amerika untuk melanjutkan studi. Chouji yang berniat menjadi Food Fighter, lebih sering berkelana ke berbagai tempat.

"Waktu itu kita juga berjanji akan menjadi sukses kalau bertemu." Ino yang terbawa suasana menimpali.

"Sekarang kita sudah menepati janji." Chouji melanjutkan.

Suasana tiba-tiba menjadi hening. Mereka mengenang masa dari awal pertemuan hingga dewasa selalu bersama, meneruskan persahabatan generasi sebelumnya. Tak terasa juga kebersamaan mereka sudah berlangsung sangat lama. Seperti yang diharapkan Ayah mereka.

"Kenapa jadi hening, sih? Ini kan perayaan kesuksesan kita. Ayo bersulang lagi!" Ino menyadarkan kedua sahabatnya. Diangkat tinggi gelas berisi setengah bir, mengajak bersulang.

"Bersulang!"

"Bagaimana pekerjaan kalian?" tanya Chouji melahap beberapa potong daging sekaligus,

"Merepotkan, seperti biasa." keluh Shikamaru. "Ada beberapa klien dengan kasus berat. Harus segera diselesaikan. Kalau kau, Chouji?"

"Tiada hari tanpa makan." ujarnya. Memang sebagai Food Fighter yang sudah memenangkan berbagai penghargaan makan dalam jumlah banyak atau besar, sudah sewajarnya hidupnya dikelilingi oleh makanan. "Aku bisa mencoba berbagai makanan enak dari seluruh dunia. Beberapa kali aku juga diundang mengisi acara di televisi."

"Tapi tentu saja, yakiniku yang paling enak." lanjut Chouji meletakkan beberapa potong jeroan di atas panggangan.

"Kau akan tambah lebar kalau makan terus" kata Shikamaru.

"Belakangan ini beratku memang naik. Sebenarnya aku sedang melakukan program diet," jawabnya, "tapi, karena hari ini spesial jadi aku akan makan enak sepuasnya."

"Benar, Chouji!" Ino menimpali, dengan mulut masih mengunyah gyouza. "Diet itu dimulai besok."

"Bagaimana pekerjaanmu, Ino" giliran Ino yang ditanya.

"Sibuk! Pemotretan, wawancara, beberapa kali syuting." gantian Ino mengeluh. " Tapi aku senang karena bisa mencoba pakaian dari designer terkenal. Selain itu aku juga bisa bertemu dengan model dan aktor tampan." mata Ino berbinar membayangkan model-model tampan yang pernah bekerja dengannya.

Sifat Ino yang lemah dengan pria berwajah tampan tak berubah.

"Tapi aku jadi tak bisa makan enak dengan leluasa. Segalanya dibatasi. Beratku juga gampang naik. Aku sebal!" Ino melampiaskan segala amarah yang terpendam dengan melahap yakiniku.

"Makanlah selagi kau bisa makan." kata Chouji memberikan potongan daging matang ke piring Ino.

"Terima kasih, Chouji!"

Shikamaru mengambil gyouza milik Ino, mengabaikan dua sahabat yang sejak kapan satu suara dalam urusan diet dan makanan. Shikamaru tersenyum melihat kedua sahabatnya, "Kalian tak banyak berubah. Aku senang sekali."

Chouji dan Ino menghentikan makan untuk sekedar menoleh ke Shikamaru. Chouji melirik Ino, Ino balas melirik Chouji. Shikamaru memandang heran dua sahabatnya.

"Shikamaru..." panggil Ino.

"Apa?"

"Apa pekerjaanmu sebagai pengacara membuat otakmu geser? Kau yang berbeda dari biasanya." kata Ino curiga.

"Apaan sih, merepotkan!" kata Shikamaru. Chouji dan Ino terkekeh geli melihat Shikamaru memalingkan wajah yang merona. "Lanjutkan saja makan kalian." perintahnya.

Chouji dan Ino berhenti tertawa, mereka semangat menghabiskan sisa daging.

"Paman! Aku tambah birnya!" teriak Ino. "Hari ini aku mau makan dan mabuk sepuasnya!"

"Aku juga, Paman!" Chouji ikut-ikutan.

"Aku tak bertanggung jawab dengan nasib kalian nanti." kata Shikamaru.

Tiga sahabat yang lama tak berjumpa, bertemu kembali. Meski keadaan telah berubah, persahabatan mereka tetap sama.


Catatan:

(*) seijinshiki: upacara kedewasaan bagi orang Jepang yang telah mencapai usia 20 tahun, yang dianggap sebagai usia dewasa dalam hukum Jepang. Upacara diselenggarakan di hotel, gedung pertemuan atau aula serbaguna milik pemerintah lokal. Seijinshiki jatuh pada hari Senin minggu kedua bulan Januari.

[sumber: wikipedia]


Terima kasih