Haikyuu adalah milik Haruichi Furudate.
Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari penulisan fiksi penggemar ini.
Enjoy!
"Sugawara, aku serius. Kau tidak perlu selalu mengunjungiku setiap minggunya."
Yang dihadiahi perkataan seperti itu menoleh dengan wajah tersinggung. "Enak saja kau minta begitu, Yaku."
"Ayolah, kita sudah dua puluh satu tahun, apa sih yang kau khawatirkan akan terjadi denganku?"
Sugawara yang sedang memakan kue dari toples milik Yaku menelan kuenya susah payah sebelum menyahut. "Banyak. Umurmu sudah dua puluh satu tahun dan belum bertemu dengan soulmate-mu lalu kau juga tidak bertumbuh tinggi terlalu banyak sejak kita masih di sekolah menengah atas. Ah, masih banyam faktor yang membuatku khawatir dengan dirimu, tahu?"
Yang diomeli (walau ada beberapa hinaan di dalamnya) menghela napas pelan lalu memukul Sugawara dengan bantal sofa miliknya. "Enak saja kau mengataiku cebol!" Hantaman diberikan lagi, Sugawara mengaduh jahil karena ia senang dapat membuat Yaku merasa kesal.
"Berhenti memukuliku, Yaku!" pada akhirnya Sugawara berseru protes karena Yaku tak kunjung berhenti menghantamnya menggunakan bantal sofa.
Yaku kembali duduk di tempatnya seraya mendengus kasar tanda bahwa ia kesal, benar-benar kesal dengan temannya berambut abu-abu ini.
"Suga, aku akan berangkat sebentar lagi. Aku ada kelas sebentar lagi."
"Oh, itu alasanmu berpakaian rapi? Ku kira kau ingin ikut kencan buta."
Bantal sofa dilempar sekali lagi dan menghantam tubuh Sugawara yang tertawa seraya menghindar lari ke dapur, meninggalkan Yaku yang lagi-lagi mendengus kesal dengan perilaku jahil Sugawara. Yaku mendengus kesal seraya melirik pergelangan tangan kanannya dan memikirkan ucapan Sugawara tentang soulmate-nya. Sudah dua puluh satu tahun, lima belas hari, dan empat ratus tujuh puluh delapan menit berlalu, namun ia masih belum bertemu dengan soulmate-nya sementara teman-temannya menemukan milik mereka saat sekolah menengah atas maupun saat memasuki ranah perkuliahan.
Yah, Yaku harus lebih sabar lagi.
Langit menyaoa sore Yaku dengan menurunkan rintik-rintik kecil ketika Yaku keluar dari lobi fakultasnya. Yaku memaksakan dirinya untuk berjalan pulang, mumpung masih gerimis. Namun, langit tidak bersahabat dan lebih memilih untuk menumpahkan lebih banyak air, maka dengan terpaksa Yaku mampir untuk berteduh di depan sebuah toko kecil di dekat kampusnya, ia membeli minuman kotakan dan roti untuk mengganjal perutnya yang belum terisi oleh makan siang seraya menunggu hujan teduh.
Ketika Yaku telah menghabiskan roti dan minumannya, seorang lelaki berlari-lari dengan tasnya yang digunakan untuk menutupi kepalanya agar tidak kehujanan mendekat ke toko tempatnya berteduh. Yaku memilih bergeser dari tempatnya berdiri untuk memberi laki-laki itu ruang agar laki-laki dengan rambut hitam tersebut dapat ikut berteduh. Yaku memilih memerhatikan orang tersebut, takut-takut orang tersebut adalah orang jahat karena Sugawara pernah memberitahunya bahwa ia harus berhati-hati dalam segala kondisi. Laki-laki tersebut melepas kemejanya yang basah, menyisakan kaos putih yang juga agak basah melekat di tubuhnya, kemeja tadi diikatkan ke pinggang lalu ia meorogoh tasnya mencari-cari sesuatu.
"Oh sial, sapu tanganku."
Yaku berkedip sebelum merogoh tasnya dan mengambil tisu dengan ukuran travel pack dari dalam tasnya. "Aku tidak punya sapu tangan sih, tapi mungkin kau butuh tisu sebagai penggantinya?" tanya Yaku seraya menyodorkannya kepada orang yang tidak ia kenal tersebut. Jika Sugawara mengetahui hal ini mungkin Yaku sudah dimarahinya habis-habisan karena berbicara bahkan menawarkan tisu kepada orang yang sama sekali tidak ia kenal.
"Ah, terima kasih." Dengan canggung orang tersebutmenerima tisu yang diberikan oleh Yaku dan mengembalikan bungkusnya setelah menarik beberapa lembar tisu untuk mengeringkan wajahnya serta bagian tubuh lain yang tidak terasa enak jika basah.
"Namamu?"
Yaku kali ini menoleh dan menatap langsung netra orang tersebut. "Morisuke. Morisuke Yaku."
"Kuroo Tetsurou, salam kenal," balas orang tersebut seraya mengulurkan tangannya mengajak Yaku berjabat tangan. Yaku menjawab uluran tangan tersebut seraya balas berucap, "Yap, salam kenal."
Yaku sempat melirik pergelangan tangan miliknya ketika ia menarik tangannya setelah berjabat tangan. Dua puluh satu, lima belas, dan seribu sebelas. Yaku menghela napasnya lalu mengeluarkan ponsel pintarnya dan mulai memainkannya, walau hanya sekadar mengabari Sugawara jika ia akan pulang mungkin malam karena terjebak hujan dan memberi tahu temannya semasa sekolah menengah atas itu agar tidak khawatir tentang dirinya karena ia baik-baik saja dan meminta Sugawara menghabiskan waktunya dengan baik bersama soulmate-nya karena soulmate Sugawara akan berangkat dinas ke kota sebelah untuk beberapa hari.
Tiga puluh menit lebih berlalu dan hujan belum juga reda. Padahal Yaku ingin cepat-cepat pulang dan menonton serial yang baru saja ia unduh kemarin sore. Yaku mengambil selembar tisu untuk menyeka tangannya yang basah oleh keringat, Yaku memang gampang berkeringat. Matanya kembali tidak sengaja melihat angka yang tertulis di pergelangan tangannya. Dua puluh satu, lima belas, dan seribu sebelas. Awalnya, Yaku biasa saja, namun sedetik kemudian dia hampir memekik terkejut. Ini sudah tiga puluh menit berlalu, namun angka yang menunjukkan menit tidak berubah. Yaku yakin sekali saat ia membeli roti dan minuman tadi angka tersebut masih berubah ketika ia menyerahkan uang kepada adik manis penjaga toko.
Mungkin...
Yaku melirik orang di sebelahnya dengan dada berdebar, namun cepat-cepat menggeleng. Tidak mungkin 'kan? Bisa saja orang lain yang juga sedang mampir di toko tersebut tadi.
"Ada apa?" Kuroo bertanya karena heran melihat Yaku menggelengkan kepalanya secara tiba-tiba. Yaku memberikan tatapan ragu yang di mata Kuroo terlihat seperti tatapan minta tolong. "Kenapa? Kau kedinginan?" tanyanya.
Gelengan diberikan Yaku sebagai jawaban. "Boleh aku bertanya?" tanya Yaku. "Mungkin agak sedikit pribadi tapi aku benar-benar perlu menanyakan hal ini."
Kuroo mengangguk sebagai pertanda setuju.
"Boleh aku tahu berapa saja angka yang tertulis di pergelangan tanganmu?"
Yang berambut hitam melihat pergelangan tangannya, setelahnya mematung melihatnya, membuat Yaku semakian tidak karuan rasa di dadanya. Kuroo menoleh menatap Yaku yang benar-benar gugup sekarang lalu menyebutkan jawaban dari pertanyaan Yaku.
"Dua puluh satu, lima belas, dan seribu sebelas."
author note;
aku kembali menyapa dengan kuroyaku!
aku jelaskan sedikit soal ketentuan kau menemukan soulmate-mu ya. jadi di universe ini, di pergelangan tanganmu akan tertulis tahun sebanyak kau belum menemukan belahan jiwamu, harinya akan terhitung setiap tahun jadi jika berganti tahun maka akan diulang dari hari pertama lagi. begitu pula dengan menit yang akan dimulai dari menit pertama lagi jika berganti hari.
ini ngide bangetsih astaga maksa banget. tapi, serius aku kepikiran nulis ini. awalnya mau nulis mereka berantem ketika ketemu tapi aku capek sendiri bikin mereka adu mulut jadi aku pilih yang lebih kalem aja. hehe. semoga suka!
