"SOSTS?"
Dokter Kocho mengangguk. "Spinal Osteosarcoma Transmutation Syndrome. Bahasa mudahnya, kanker tulang punggung yang mengalami transmutasi."
Tanjiro dibuat ngeri ketika dokternya yang mungil dan pintar itu menyodorkannya diktat-diktat yang tebal dan berat, beserta printed-out dokumen dengan post it warna-warni di beberapa halamannya. Sebagai seorang suster pediatrik yang baru saja lulus, riwayat penyakit dan seberapa sulit penyakit itu disembuhkan selalu membuatnya merinding. Dr. Kocho Shinobu mungkin saja terlihat seperti bocah SMP, tetapi ia benar-benar cerdas. Ia dan saudarinya dr. Kocho Kanae adalah dua orang onkologist (dokter spesialis kanker) yang paling dibanggakan di rumah sakit Kimetsu, kalau ungkapan 'dibanggakan di seluruh Jepang' terdengar sangat angkuh. Hasil risetnya dengan beberapa dokter di Australia, Jerman dan Singapura berhasil mengembangkan beragam cara membasmi dan menyembuhkan penyakit kanker pasien. Saat sang onkologist membuka lowongan suster, Kamado Tanjiro langsung mengajukan diri. Butuh proses wawancara dan penyerahan portofolio yang panjang, namun segalanya berakhir bahagia. Kebetulan, memang sedang butuh suster laki-laki.
"Aku belum pernah menangani kasus seperti ini sebelumnya. Ini memusingkan." menggebrak mejanya dengan geram. "Seharusnya osteosarcoma tidak menyebabkan kerusakan pada sel darah. Namun pada kasusnya Tomioka-san, gejala yang ditimbulkan lebih mirip leukimia."
"Apa tidak terjadi salah diagnosa?" gumam Tanjiro.
"Tidak. Dia sudah 5 kali melalui tes darah dan tes sumsum tulang. Hasilnya negatif. Jumlah sel darah putihnya normal, namun serum dan sel darah merahnya justru menurun drastis. Hasil MRI dan CT-scan menunjukkan dia memang mengalami osteosarcoma namun terjadi di tulang punggung bagian T2 dan T3."
menunjukkan hasil X-rays dari pasien yang dibicarakan. Ada bagian hitam seperti gumpalan besar di bagian yang dilingkari dengan tinta merah. juga menunjukkan riwayat pengobatan apa yang sudah dijalani si pasien. Operasi, kemoterapi, dan masih banyak lagi. Tanjiro meringis, membayangkan si pasien benar-benar tangguh karena menjalani semua prosedur tersebut. Namun dalam lembar setelahnya, hasil tes tubuhnya menujukkan tanda-tanda lain. Tumor di tulang punggungnya memang tidak tumbuh lagi, melainkan mengembangkan gejala seperti sesak nafas, mual, muntah, demam, mimisan, pingsan, kejang dan mati syaraf di beberapa bagian tubuh. Keadaan terakhir, kondisinya stabil. Ia sudah bisa makan dan melepas segala alat bantu meski dikhawatirkan tidak sanggup beraktifitas normal. Menurut riset, ia masih diharuskan menjalani tiga kali lagi pengobatan guna membasmi total sel kanker dalam tubuhnya meski saat ini bisa dikatakan bahwa ia sudah sehat. Tanjro terus memindai laporan tersebut dan halaman terakhir hanya mencetak satu angka besar.
3%
"3%?" Tanjiro mengerenyit. "3% gagal?"
"3% hidup." membalas muram. "Tomioka-san menyerah. Dia memilih pulang dan menikmati sisa hidupnya yang tidak banyak."
"Perjuangannya bukan main-main..."
Tanjiro kembali membalik halaman awal. Tomioka Giyuu—nama lengkap si pasien, sudah divonis mengidap osteosarcoma sejak berusia 14 tahun. Dan dalam laporan terapinya yang terakhir, tercantum bahwa 2 bulan lagi ia berusia 21 tahun. Tujuh tahun menjalani terapi kanker bukanlah perkara mudah. Jangan dibayangkan berapa uang yang telah dihabiskan keluarganya untuk biaya berobat.
"Memang. Aku ingin dia meneruskan terapinya." menuding Tanjiro. "Dan tugasmu, merawat serta meyakinkannya."
"Eh?! Apa tidak masalah?" Tanjiro menggaruk pipinya dengan canggung. "Mungkin saja keluarganya tidak punya uang lagi, kan? Lagipula bukankah kita harus menghormati keputusan pasien? 3% bukankah angka yang terlalu sedikit untuk persentase harapan hidup?"
"Menghormati keputusannya untuk mati pelan-pelan dan tak mau berusaha? Aku disumpah untuk menyelamatkan hidup seseorang, bukan untuk membiarkannya mati." Jawab dingin. "Besok, Tomioka-san akan dibawa pulang ke rumahnya. Aku sudah menulis namamu sebagai suster untuknya."
"Jadi, aku akan merawatnya di rumahnya?"
"Benar sekali." tersenyum. "Yakinkan dia untuk menjalankan kembali terapinya sebelum waktunya habis."
"waktunya habis? Jadi sudah jatuh vonis berapa lama dia hidup?"
mengangguk. "Kau harus cepat, Kamado-kun."
Vonis hanyalah angka. Namun dalam menyangkut nyawa manusia, Tanjiro dibuat gemetar oleh angka. Ia mengumpulkan segenap keberaniannya untuk bertanya.
"Berapa lama...yang Tomioka-san punya?"
menghela nafas pendek.
"79 hari."
Fajrikyoya, proudly present
120.960
Pair: TOMIOKA GIYUU X KAMADO TANJIRO.
Genre: Main aman, jadi di T aja.
Disclaimer: Kimetsu no Yaiba belongs to Koyoharo Getoge. I just made fanfic based on the character for fun.
Warning: AU. OOC. Typo(s). Abal. Alay. Gajelas. Tidak menggunakan Kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dapat mengandung banyak istilah yang disadur dan dicatut dari mana saja dan bisa jadi tidak diterjemahkan atau disalah artikan karena author juga manusia dan ini bukan karya tulis profesional. Medical condition yang dijabarkan bisa dibilang semi fiksi dan bercampur baur dengan teori sotoy dan imajinasi author yang rada gendheng. Seperti biasa, bisa saja mengandung plot twist upside down bak roller coaster. Dapat menyebabkan mual, gemes, dan baper berkepanjangan karena karakter fiksi. Sudah dikasih warning sebanyak ini dan masih lanjut? Ya monggo, silakan.
"Betulan pulang?"
Sabito mengangguk.
Tomioka Giyuu menunduk, tersenyum tipis. Tidak ada lagi bau karbol. Tidak ada lagi seprai putih membosankan. Tidak ada lagi bunyi kardiogram. Tidak ada lagi alat-alat aneh yang akan dimasukkan ke tubuhnya. Giyuu meraba lututnya dan kebahagiaan kecilnya pias seketika. Sudah berapa lama ia tidak berjalan hingga kini kakinya terasa lemah? Sabito masih memasang wajah keras. Ia duduk di ranjang Giyuu dan menyandarkan kepala bersurai legam itu ke pundaknya.
"Sudahlah, bukan akhir dunia." Ucapnya menghibur.
"Maafkan aku...aku tidak berjuang sekuat tenaga." Giyuu bergumam, retak suaranya. Menyadari bahwa setelah sekian tahun dan entah berapa banyak biaya yang dihabiskan, ia tetap tidak kunjung sembuh.
"Jangan minta maaf. Tidak semua orang sanggup menjalani terapi selama yang kau jalani. Berbanggalah." Sabito mengacak-acak rambut Giyuu. "Aku sudah menyiapkan seorang pediatris untukmu."
"Aku bukan orang jompo." Giyuu menepis tangan Sabito. "Aku bahkan masih sanggup menyetir mobil untuk menjemputmu ke kantor."
"Jangan macam-macam! Aku nggak mau kau tidak terurus setelah ini!" Sabito menggertak.
Giyuu cuma bisa menunduk. Pada dasarnya Sabito benar. Ia masih sakit, dan seorang suster datang mengurus bukanlah perkara sepele. Lelaki berambut peach itu mengemasi barang-barang Giyuu dan berjalan membukakan pintu ketika mendengar suara ketukan. Si suster rupanya laki-laki. Mengenakkan celana panjang dan atasan lengan pendek berwarna biru pupus. Dahinya tinggi. Rambutnya gelap kemerahan seperti anggur. Tubuhnya pendek tetapi tampak kokoh, seperti anak SMA yang aktif di klub olahraga. Sabito mengobrol dengan si suster cukup panjang dan Giyuu sudah biasa diabaikan. Ia cuma meraih ponselnya, berpikir apa yang harus dilakukannya untuk mengusir bosan sementara dua orang tersebut masih berbicara.
"Tomioka-san, silakan. Aku akan membantu."
Si suster berdahi lebar itu membawakannya kursi roda.
Untuk pertama kalinya, Tomioka Giyuu merasa dilecehkan.
BRAK!
Kaki jenjang Giyuu menendang kursi roda tak bersalah itu hingga menggelosor ke ujung ruangan, menabrak dinding. Si suster hanya menganga tak percaya. Giyuu menurunkan kedua kakinya menapak lantai dan berjalan keluar kamar dengan postur sok gagah. Ia bisa jalan sendiri. Ia sembuh! Siapa yang butuh kursi roda?! Kursi roda cuma buat orang sakit dan orang cacat!
"Tomioka-san!"
"Tomioka-san!"
"Tomioka-san! Tung—"
"Berhenti ikuti aku! Aku bukan orang sa—"
ZRUKK!
Tangan si suster dengan sigap menahan kedua pinggang Giyuu agar sang lelaki bersurai hitam tidak kolaps ke lantai. Lututnya gemetaran. Lengannya juga. Giyuu mencengkram pundak si suster agar tetap berdisi meski sempoyongan. Suster tersebut memapahnya dan mendudukkannya ke kursi pancang terdekat. Ia berjongkok di depan Giyuu dan menatapnya dengan tatapan lembut penuh pengertian.
"Senang ya, bisa keluar dari sini?" katanya. "Kalau aku tahu Tomioka-san mau jalan, harusnya tidak kubawakan kursi roda. Maafkan aku."
Rahang Giyuu mengeras. Ucapan si suster terasa seperti menampar wajahnya. Ia meletakkan tangannya yang hangat dan halus di tangan Giyuu yang mengepal. Tidak hanya sel tulangnya yang rusak, namun semangatnya juga. Dokter yang kemarin menawarkan asupan keratin dosis tinggi untuk menguatkan jaringan lunak tubuh sehingga Giyuu masih bisa memiliki rambut panjang hitam, kulit bebas ruam dan kuku yang terbilang sehat sebagai efek sampingnya.
"Namaku Kamado Tanjiro. Aku akan membantu Tomioka-san agar bisa pulih kembali. Jadi, nanti Tomioka-san bisa jalan-jalan keluar main hujan, main salju, dan yang paling penting, tidak perlu kembali lagi ke ranjang rumah sakit."
Tidak perlu kembali lagi ke rumah sakit?
Janji yang benar-benar sesumbar.
"Sabito-san siapanya Tomioka-san?"
Sabito menoleh. Ah, ia belum memperkenalkan dirinya lebih detail pada Tanjiro. Berhubung si suster akan tinggal bersama mereka selama beberapa lama. Tidak ada salahnya menjelaskan sedikit banyak latar belakang keluarga.
"Bagaimana menjelaskannya, ya..." Sabito merenung sejenak. "Saudara tiri, mungkin?"
"Kalau saudara tiri berarti kalian satu bapak atau satu ibu saja, kan?" Tanjiro menebak.
"Bukan begitu." Sabito menggeleng. "Ayahnya Giyuu duda 2 anak. Sementara ibuku janda anak 1. Kami bertemu saat kedua orangtua kami menikah."
"Lalu, kemana kakaknya Tomioka-san?"
"Sudah meninggal." Sabito menjawab kelam. "Bersama dengan ibuku dan ayahnya Giyuu. Kecelakaan beruntun saat mereka mengantar Tsutako-neesan ke upacara wisuda. Orangtua kami tewas di tempat, sementara Tsutako-neesan tidak bertahan lebih dari 2 hari."
"Pasti sepi ya, tinggal berdua saja?"
Sabito mengangguk pelan sekali. "Kami tinggal di rumah Urokodaki-san sampai lulus sekolah. Dan saat tinggal disana, kami baru tahu kalau Giyuu ternyata sakit parah."
"U—" Tanjiro tergagap. "Urokodaki-san itu maksudnya Urokodaki Sakonji-san? Pengacara paling sukses di Jepang?!"
"Oh, kau tahu dia?" Sabito menoleh.
"Tentu saja tahu! Beberapa tahun silam, ayahku datang ke pengadilan. Bossnya di kantor merekonstruksi laporan keuangan perusahaan dan nama ayahku ditumbalkan untuk membersihkan kejahatannya. Ayahku tidak terima, dan saat mengajukan kasusnya ke pengadilan, Urokodaki-sensei menawarkan diri membela ayahku."
"Aaah, kasus money laundry perusahaan Gureshi, ya?" Sabito mengangguk-angguk. "Kasus besar itu aku juga tahu. Bagaimana kabar ayahmu sekarang?"
"Sehat walafiat. Pulang kerja main dengan adik-adikku." Tanjiro tersenyum.
"Urokodaki-san itu notaris ayahnya Giyuu. Beliau yang memegang segala harta orangtua kami sampai kami cukup dewasa untuk mengelolanya sendiri. Surat tanah, uang, sertifikat rumah, semuanya. Beliau mengurus kebutuhan kami berdua, termasuk biaya pengobatan Giyuu."
Sampai di rumah, Giyuu langsung berbaring di sofa dan menonton acara televisi. Sabito menjamu Tanjiro dengan segelas kopi dari mesin pembuat kopi otomatis dan menemaninya berkeliling rumah. Rumah yang mereka tinggali lumayan besar namun kuno sekali, bergaya Jepang tradisional. Hampir semua pintunya berupa pintu geser kecuali kamar mandi. Kamar Sabito ada di lantai dua, sementara kamar Giyuu di lantai 1. Tanjiro diberi kamar yang bersebrangan langsung dengan kamar Giyuu sehingga aksesnya jauh lebih mudah.
"Tokoro de..." Tanjiro menyeruput pelan kopinya. "Sabito-san kesibukannya apa? Kuliah? Kerja?"
"Dua-duanya." Sabito membalas singkat. "Aku mahasiswa semester akhir di jurusan public relation. Sekalian pelan-pelan belajar jadi broker."
"Sugoi ne..." Tanjiro bergumam. "Dulu semasa sekolah aku juga mencoba sekolah sambil bekerja. Tetapi karena kuliahku sibuk, jadi terpaksa berhenti. Paling cuma bantu teman di event organizer."
"Aku butuh uang dalam jumlah yang sangat banyak." Sabito menyahut. "Pengobatan Giyuu mahalnya minta ampun. Melacur juga nggak akan mungkin menutupinya."
"Hah?!" Tanjiro melongo keheranan.
Sabito menyeringai. "Bercanda."
Tanjiro menghela nafas lega. Meskipun Sabito memang terbilang lumayan tampan, mana mungkin ia akan benar-benar menjual harga dirinya untuk sejumlah uang, kan?
"Jadi intinya, kami berdua bekerja keras dengan jalan yang berbeda." Sabito mulai bangkit, membawa gelasnya yang kosong ke wastafel dan mencucinya. "Kau tidak perlu terus menerus pakai seragam dinasmu, Tanjiro. Anggap saja rumah sendiri. Apapun yang kau butuhkan untuk Giyuu, bilang saja."
"Uhm. Terima kasih."
Seusai ramah tamah secukupnya, Sabito pamit keluar. Ia pergi mengendarai mobilnya, meninggalkan Tanjiro berdua saja dengan Giyuu. Tugas pertama Tanjiro adalah membuat jurnal kesehatan Tomioka Giyuu. Setiap hari sebanyak dua kali, Tanjiro diminta mengambil sampel darah Giyuu. Dan juga mengukur denyut nadi, tekanan darah, bunyi nafas dan keadaan fisik lainnya. Ada serangkaian obat yang begitu ketat dosisnya. Beberapa ada yang berupa tablet oral, namun ada pula yang berupa injeksi yang tidak boleh terlewatkan sama sekali. Jurnal tersebut akan ia scan dan dikirimkan setiap harinya pada onkologist dan di bagian lab. Meski memasang wajah tidak suka, Giyuu tetap menuruti apapun yang Tanjiro katakan.
"Tanjiro, kan?" Giyuu berucap tiba-tiba. "Namamu Tanjiro, kan?"
"Iya." Tanjiro tersenyum. "Kau butuh sesuatu, Giyuu-san?"
Giyuu menggeleng.
"Aku ini memang sustermu. Tapi kalau kau butuh hal lain diluar profesiku, aku akan mengusahakannya."
"Seperti?"
Tanjiro berpikir sejenak, lalu menggedikkan bahunya dengan acuh. "Entahlah. Mungkin kau mau makan sesuatu? Aku bisa buatkan makanan yang aman untuk kondisi badanmu."
"Aku orang sehat. Aku makan apa saja."
"Tidak boleh! Orang sehat tanpa penyakit apapun juga bakalan sakit kalau makan apa saja." Tanjiro menasehati. "Seperti kalau makan ekstrudat kebanyakan, pasti sakit tenggorokan karena serbuk MSG yang tidak larut dengan air bisa mengiritasi dinding kerongkongan."
"Ekstrudat itu apa?" Alis Giyuu bertaut bingung.
"Penganan kering yang gurih-gurih. Keripik, misalkan."
"Oh." Giyuu nampak tidak begitu peduli. "Kalau gitu tinggal minum air yang banyak habis makan keripik."
"Kalau Giyuu-san makan 20 gram keripik dan harus minum minimal 2 liter air, berapa yang harus kau minum jika makan 200 gram keripik?"
Pundak Giyuu melorot kesal. "Aku nggak akan minum 20 liter air. Aku bukan sapi perah."
"Kalau begitu jangan makan keripik banyak-banyak."
"Sedikit boleh?"
"Boleh."
Giyuu kemudian menatap Tanjiro sejenak. "Kau bisa main basket?"
"Bisa."
"Sepakbola?"
"Bisa."
"Badminton?"
"Sedikit."
"Surfing?"
"Nggak."
"Sepeda?"
"Tentu saja."
"Kalau cuacanya cerah..." Giyuu menatap jendela. Langit jingga perlahan berubah menjadi ungu gelap bertabur bintang. Pemandangan petang musim semi memang selalu terlihat indah. "Aku mau main sepeda."
"Boleh."
Giyuu terdiam. Ia duduk meringkuk memeluk lututnya. Wajahnya tenggelam di rambut panjangnya yang kusut.
"Apa lagi yang bisa kulakukan dalam waktu 79 hari?"
Tanjiro membeku. Ia merasa dadanya seperti ditombak sebilah sembilu dingin. Ia tidak barang sedikitpun mengatakan vonis usia Giyuu. Mungkin dokter sudah mengatakannya lebih dulu, dan bisa jadi hal itu yang mendasari mengapa Tomioka Giyuu berlagak seperti orang sehat.
Ia tahu bahwa meski kini ia tidak lagi terbaring di ranjang, kanker masih bersarang di tubuhnya. Giyuu tahu bahwa ia sedang diambang ajal. Tujuh tahun terapi bukanlah waktu yang sebentar.
Giyuu cuma ingin merasakan seperti apa hidup yang sesungguhnya.
Kalau ini serial anime, pasti ada bola lampu imajiner yang menyala di atas kepala Tanjiro. Karena si suster berdahi lebar itu tiba-tiba mendapat ide brilian. Ia berlari ke kamarnya dan mengambil sebuah buku tulis kosong dan pena warna-warni. Giyuu dibuat merengut kebingungan karenanya. Tanjiro dengan semangat menulis pada halaman pertama.
REKENING KEHIDUPAN TOMIOKA GIYUU
"Apa ini?" Giyuu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"79 hari adalah waktu yang sangat singkat. Jadi, untuk membuatnya banyak lebih baik kita sebut saja 113.760 menit." Tanjiro menulis angka tersebut besar-besar dan menghiasnya dengan pena warna. "Anggap saja seperti nominal uang. Dan Giyuu-san sedang ikutan challenge untuk menghabiskan uang tersebut."
Tanjiro lalu menggambar tabel dengan kolom TO DO LIST dan DATE, TOTAL BALANCE serta TIME CONSUMED. Ia menerangkan bahwa tugas Giyuu adalah menulis sebanyak mungkin hal apa yang ingin ia lakukan. Mau itu main sepeda, makan di luar, main hujan-hujanan—apapun. Dan Tanjiro akan berperan sebagai teller yang mengisi tanggal dan berapa banyak waktu yang sudah dihabiskan dalam setiap kegiatan dalam hitungan menit.
"Kalau jumlah waktunya lebih banyak sementara TO DO LIST-nya sudah habis, Giyuu-san menang. Giyuu-san menang melawan penyakitmu. Giyuu-san menang melawan vonis dokter. Giyuu-san 100% sembuh."
Giyuu mengerjapkan matanya. Ia menatap Tanjiro dan tabel ajaib itu bergantian. Namun tangan pucat itu akhirnya bergerak dan menulis sesuatu yang sedikit, dan sangat sederhana.
Membuatkan Sabito makan malam sebelum sampai rumah.
Bilang terima kasih atas segalanya.
Tanjiro tersenyum lebar. "Itu saja?"
"Lantas aku harus tulis berapa banyak?" Giyuu menjawab jengah. "Mau kau rubah menjadi menit sekalipun, 79 hari ya 79 hari. Aku bakalan mati! Aku cuma pura-pura sehat untuk membohongi diriku sendiri! Puas kau, hah?!"
Tanjiro hanya menatap Giyuu tanpa arti. Pemuda gondrong itu terengah-engah karena berteriak. Ia mengusap dadanya dan membenahi nafasnya. Tanjiro membalasnya dengan senyum ramah dan hangat, sama seperti pertama kali mereka ketemu.
"Baiklah." Ujar Tanjiro. "Sabito-san sukanya makan apa?"
"Tadaima. Giyuu? Tanjiro?"
Sepi sekali. Sabito berjalan menyusuri rumah dan menemukan dua orang yang sedari tadi dipanggilnya tengah duduk di ruang tengah. Di meja pendek terdapat sebuah panci dan kompor portable. Mangkok-mangkok kecil dan penanak nasi juga ada di sana. Giyuu tertidur dengan siku terlipat di meja. Tanjiro tengah main ponsel ketika Sabito datang.
"Giyuu-san! Sabito-san pulang." Tanjiro mengguncang lembut pundak Giyuu. Namun pemuda itu cuma menggumam pelan. Ia tidak mau bangun.
"Biarkan saja." Sabito duduk di sebelah Giyuu. "Kalian masak apa?"
"Makan malam. Giyuu-san tiba-tiba minta nabe. Jadi kami buat apa saja yang ada di kulkas."
"Oh."
Dengan hati-hati Sabito membuka tutup pancinya. Harum gurih miso dan aneka sayuran tampak lezat, menggugah seleranya. Ia menaruh tutup pancinya dan mulai mengambil porsi untuknya sendiri.
"Giyuu-san bilang ia ingin buat nabe yang pakai kuah miso untuk Sabito-san. Katanya ini makanan kesukaannya Sabito-san." katanya. "Giyuu-san ingin bilang terima kasih atas kerja kerasmu."
"Hmm." Sabito tampak tidak tersentuh. Ia meniup-niup sendoknya dan mulai makan dengan tenang. "Kau juga makan. Pasti capek mengurus Giyuu seharian ini."
"Tidak juga."
Tanjiro bergabung dengan Sabito menyantap makan malam. Tak lama, Giyuu mengangkat kepalanya dengan wajah lecek. Ia menggaruk-garuk kepalanya dan mengucek-ucek wajahnya. Segaris liur membekas di sudut bibirnya.
"Ngg..." Giyuu menggumam limbung. "Sabito belum pulang?"
"Pakai matamu yang benar, bodoh." Hardik Sabito dingin.
Dengan mata yang masih kuyu, Giyuu melihat Tanjiro mengambilkan nasi untuknya dan untuk Sabito. Panci nabe isinya tinggal setengah, bahkan kurang dari itu. Keduanya makan dalam diam. Tanjiro juga mengambilkan porsi kecil untuk Giyuu dan mengedipkan sebelah matanya, menggedikkan kepalanya ke arah Sabito. Kode halus bagi Giyuu yang ternyata tidak peka sama sekali.
"Tanjiro, matamu kelilipan?" tanyanya polos.
Kamado Tanjiro menempelkan wajahnya ke meja. Kesal bercampur gemas dengan sikap Giyuu.
"Giyuu, kau mau makan, nggak?" sambar Sabito. "Keburu aku habiskan."
"Ah, uhm..."
Giyuu menyeruput kuah nabe di mangkuknya. Rasa gurihnya mengingatkan Giyuu akan sesuatu.
"Sabito."
"Haah?" Sabito menoleh. Sumpit ada di ujung mulutnya.
Giyuu menunduk. Ia malu mengatakan hal ini, tetapi ia patut berterima kasih atas segala pengorbanan yang dilakukan Sabito untuknya. Sejak Giyuu sakit, divonis kanker hingga hari ini. Ia belum mengucapkannya karena belum sempat. Lebih banyak kata maaf yang terlontar karena bagi Giyuu, dirinya malah menjadi beban yang begitu berat bagi hidup Sabito. Tetapi di 79 hari terakhir hidupnya, setidaknya Giyuu ingin bersyukur pada satu-satunya keluarga yang masih dia punya.
"Otsukaresama deshita..." bisiknya. Pelan sekali sampai hampir tidak terdengar. "Dan juga, terima kasih banyak. Maaf aku—"
SRUK!
Sabito memotong kalimat Giyuu. Ia menarik saudara tirinya menuju dekap erat yang tremor karena terlalu banyak haru di dalamnya. Dielusnya kepala Giyuu dan ia bergumam,
"Sudah kubilang, jangan minta maaf! Untukmu, untuk kesembuhanmu, aku akan melakukan apapun. Dan aku tidak akan menyesal. Jadi...jadi jangan minta maaf karena kau tidak bersalah!"
Pandangan Giyuu mengabur. Matanya terasa basah, juga pipi dan hidungnya. Dadanya terasa menghangat ketika ia membalas pelukan Sabito. Meskipun mereka saudara tiri, tidak punya hubungan darah sama sekali, Giyuu benar-benar bersyukur karena Sabito menyayanginya dengan segenap hati dan jiwa.
Melihat pemandangan manis itu, Tanjiro tersenyum.
13 Maret 2017.
Membuatkan Sabito makan malam sebelum sampai rumah. [90 menit]
Bilang terima kasih atas segalanya. [8 menit]
Total pengeluaran [98 menit].
Sisa saldo waktu [113.662 menit].
Halo semuanya, fajrikyoya disini!
Oh well, jangan melototin saya karena nambah fic baru saat fic-fic lama banyak yang belum tamat, dong. Jadi takuut /kabur /balik lagi
Sebenarnya ide fanfic ini dibuat untuk tododeku. Tapi eh tapi setelah PM-PM an sama shirocchin-sensei, akhirnya aku memutuskan untuk ikutan event GiyuuTan sparkle. Sedih sih karena fanfic Kimetsu indo asupannya dikit. Jadi aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menyuguhkan asupan untuk readers sekalian. Bagi yang sudah baca sampai sini, makasih banget lho. Soalnya ini fic pertama di fandom ini. Jangan lupa fave, follow dan review juga yaa!
Alright, see you in the next chapter!
