"TANJIRO KEMANA AJA?! KUPIKIR KAU SUDAH RESIGN!"

Agatsuma Zenitsu dapat hardikan kasar dari seorang dokter senior yang kebetulan berada di dekat sana. Tanjiro pasrah saja diberikan pelukan super ketat oleh sahabatnya sejak di bangku kuliah.

"Aku dinas luar. Menjadi suster seorang penderita SOSTS." Jelas Tanjiro. "Kau sendiri? Gimana poli THT?"

"Gila." Zenitsu memasang wajah masam. "Uzui-sensei pesonanya nggak masuk akal. Apa jangan-jangan dia pasang susuk, ya?"

"Sembarangan." Sembur Tanjiro.

"Lagian, mana ada poli THT pasiennya cewek semua?! Bahkan poli ginekologi (kandungan) saja kalah ramai. Keluhannya semua sama. Sakit tenggorokan lah, atau cuma sekedar bersihin telinga pakai vacuum. Beberapa ada yang memang positif sinusitis, sih. Aah, aku juga mau kalau jadi Uzui-sensei. Pasien cantik-cantik yang cari aku..."

"Masuk polinya Kanroji-sensei, sih." Balas Tanjiro jengah. Ia menyeruput udon-nya yang sudah mulai tidak panas.

"Cuma terima bidan dan suster cewek." Zenitsu melengos.

"Poli gigi?"

"Muu-tan mengusirku. Dia bilang dia tidak butuh suster."

"Heh, kalian! Ngeluh itu nggak bikin kaya, tahu!"

Hashibira Inosuke datang dengan seragam lecek dan plester di beberapa sisi tubuh. Ia nampak lelah sekali. Semalam hampir semua dokter dan sebagian besar suster dipaksa lembur karena terjadi kecelakaan masal. Sebuah pusat perbelanjaan kebakaran. Diberitakan 14 orang tewas dan 109 orang luka berat, sementara 225 orang luka ringan. Tanjiro tidak bisa datang karena dinas luarnya, dan sejam yang lalu Zenitsu baru saja mengeluh soal letihnya lompat sana-sini demi memberi pertolongan pada para dokter perihal diagnosa dan penanganan luka ringan hingga menengah.

"Otsukare, Inosuke." Tanjiro melempar senyum. "Ayo, makan bareng."

"Uhm." Inosuke mencomot lauk tempura dari paket makanan Tanjiro. "Jadi gimana kerjaan kalian?"

"Capek." Keduanya menjawab bersamaan.

"Capek, capek...ngomong nih sama dengkul!" Inosuke mengetuk-ngetuk lututnya. "Aku 12 kali lebih capek dari kalian, ya! Apalagi Gonpachiro nganggur, pasiennya cuma satu."

"Kau kira mengurus pasien penderita kanker itu gampang?" ucapannya disela seruputan udon lagi. "Mood pasienku labilnya amit-amit! Aku harus terus meyakinkannya untuk tetap menjalani terapi obat dan membuat kondisi psikisnya juga bahagia."

"Tugasmu membuat pasien sembuh, bukan membuat pasien bahagia."

Ketiga sejoli itu menoleh. Seorang lelaki tegap dengan rambut panjang pirang kemerahan datang dengan dua nampan makanan. Lelaki itu mengenakkan scrubs (seragam khusus personel medis yang hanya terdiri dari atasan dan bawahan sederhana) berwarna hjau terang mencolok.

"Rengoku-sensei!" Sapa Tanjiro. "Bagaimana operasinya."

"Lancar jaya mantap jiwa!" jawabnya senang. "Setidaknya aku punya waktu untuk makan siang dan mandi. Nanti sore aku ada jadwal operasi lagi."

"Pasti capek banget jadi dokter bedah, ya." Zenitsu mengerucutkan bibirnya. "Membuat banyak form prosedur operasi, berjam-jam nunduk diatas meja operasi, belum lagi harus follow up pasien dan menulis laporan."

"Yah, mau bagaimana lagi? Semua pekerjaan pasti ada capek dan nggak capeknya." Rengoku Kyojuro menjawab santai. "Kenapa dengan pasienmu, Kamado-shonen?"

"Ah? Giyuu-san agak sulit dibujuk untuk lebih ceria. Karena sudah dirawat dirumah, aku jadi kebawa perasaan dan nggak tega melihat wajah murungnya setiap kali pemeriksaan harian."

"Giyuu? Tomioka Giyuu?" Rengoku melongo. "Kau jadi susternya?"

"Iya." Tanjiro menjawab lugas. "Rengoku-sensei tahu dia?"

"Semua tim medis RS Kimetsu tahu dia. Pasien terlama yang dirawat disini. Sudah 4 dokter bedah dari 2 generasi dan 2 dokter onkologist yang menanganinya. Tapi, kanker memang sulit sekali diprediksi. Bagaimana keadaan terakhirnya?"

"Menurut laporannya Kocho-sensei, osteosarcoma yang diderita Giyuu-san mengalami transmutasi."

"Sudah coba cangkok stem cell?"

Tanjiro mengangguk.

"Kultur cell sintetik?"

"Giyuu-san menolak mentah-mentah. Semenjak ia sudah lepas alat bantu dan sudah bisa berdiri, Giyuu-san merasa dirinya sudah sembuh. Aku menghormati bahwa mungkin saja kehidupan di rumah sakit membuatnya kesepian. Tetapi Kocho-sensei bersikeras bahwa itu bisa menyembuhkan Giyuu-san."

Rengoku mengangguk paham. Ia menanadaskan makan siangnya dengan kilat. Zenitsu pamit karena jam istirahatnya sudah habis, dan Inosuke melenggang ke loker hendak mandi dan ganti pakaian. Tanjiro masih disana, menyantap sisa makan siangnya dengan tidak selera.

"Kalau misalkan..." Rengoku memecah hening. "Dari si pasien sendiri tidak ingin sembuh, tidak ada lagi yang bisa kau lakukan. Sebagai tim medis, kau harus menolong siapapun yang bisa kau tolong. Jangan buang-buang tenagamu untuk hal yang tidak perlu."

"Jadi memulihkan kondisi mental Giyuu-san bukan tugasku sebagai susternya?"

"Buat apa kita punya Poli Kesehatan Jiwa, kalau seorang suster bisa menyembuhkan trauma dan depresi?"

Tanjiro terperangah. "Benar juga."

"Kalau Tomioka-shonen bisa sembuh, itu merupakan prestasi kita semua. Tetapi kalau tidak, kita hanya bisa berusaha. Pada akhirnya, bahagia tidak bahagia itu soal keadaan saja. Tomioka-shonen pasti senang sekali kalau ia bisa sembuh."


Memukul Shinazugawa sampai dia jatuh.

Membuatnya menyanyi lagu Heal Heal untukku.

"Ada keluhan lain, Giyuu-san?" Tanjiro melepas ban pengikat alat tensi.

Giyuu menggeleng lemah.

Tanjiro memberinya tiga butir tablet dengan warna dan bentuk yang berbeda. Pemuda bersurai raven itu menegaknya dengan patuh satu persatu. Setelah itu, satu serum injeksi disuntikkan Tanjiro di lengan kanan Giyuu.

"Aku sudah mengisi daftar keinginanku di rekening hidup." Kata Giyuu.

"Hmm?" Tanjiro memasangkan plester di bekas suntikan pada tangan Giyuu. "Iya, Giyuu-san. Aku sudah baca. Kenapa kau mau memukul Shinazugawa-san?"

"Karena dia bajingan."

Tanjiro melongo. "Hah?"

"Dia bilang aku ini cecunguk lemah yang cengeng." Giyuu mencucu. "Dan kalau aku sudah berhasil sembuh, aku berjanji akan memukulnya. Lalu dia bilang, coba saja kalau kau bisa."

Tanjiro menghela nafas berat yang terdengar lelah. "Permintaanmu kali ini terkesan tidak masuk akal. Kau tidak bisa sembarangan memukul orang, Giyuu-san. Dan juga, mana ada orang yang mau nyanyi untukmu setelah kau pukul?"

Giyuu memainkan ujung rambutnya yang tergerai. "Mau dengar ceritaku sebentar?"

Shinazugawa Sanemi adalah dokter orthopedi (spesialis otot-tulang-sendi, jaringan sekitarnya dan cedera yang berkaitan dengannya) yang ada di RS Kimetsu. Karena letak polinya berada di lantai atas gedung rumah sakit, Tanjiro belum pernah berkunjung ke tempat si dokter tersebut. Saat kelas 2 SMP, Giyuu mengeluh sering merasa nyeri di bagian pungung tengah dan pundak. Giyuu pergi ke beragam dokter orthopedi sebelum dibawa ke RS Kimetsu, karena nyeri punggungnya tak kunjung sembuh meski sudah diberikan beragam obat dan fisioterapi. Urokodaki-san membawanya menemui Sanemi yang kala itu tidak terlihat seperti dokter—ia saat itu masih amat sangat muda (25 atau 26 tahun kalau tidak salah), mengenakkan yukata hijau gelap-putih, duduk berselonjor di kursi kerjanya sambil main game, jas dokternya tersampir di balik pintu. Giyuu yang setengah was-was diperiksa, dan setelah mendengar keluhan yang dideritanya Sanemi malah mengambil sekotak penuh jarum dan menyuruhnya buka baju. Alih-alih diobati dengan obat-obatan, Sanemi mengobatinya dengan metode akupuntur. Sebulan setelah rutih menjalani terapi, ia diminta melakukan tes MRI dan X-rays. Sanemi adalah dokter pertama yang mencurigai Giyuu mengidap osteosarcoma. Setelah itu ia dirujuk menemui dokter Kocho bersaudara dan mendekam di rumah sakit untuk pengobatan selama 7 tahun lamanya.

"Lalu?" Tanjiro menyahut.

"Aku membusuk disana. Hiburanku cuma Sabito dan Urokodaki-san yang datang berkunjung. Aku berhenti sekolah dan Urokodaki-san memanggilkan seorang tutor agar aku bisa menjalani home schooling sampai tingkat SMA."

"Uh-uhm..." Tanjiro menepis pelan tangan Giyuu yang mengelupasi kulit kering di sekitar kukunya.

"Terapi itu menyakitkan dan melelahkan..." Giyuu menerawang. "Aku pernah sekali menolak di kemo. Aku memilih menelan pahit-pahit rasa sakitku. Dokter hanya memberiku obat penahan sakit. Aku demam. Aku menangis sambil batuk-batuk. Sempat berpikir apakah lebih baik aku mati saja daripada jadi mayat hidup yang membebani Sabito dan Urokodaki-san."

Giyuu berhenti sebentar. Tanjiro mengambilkannya segelas air putih guna menenangkan sang pasien. Giyuu meneguk air putihnya dan terdiam sebentar. Tangannya gemetar, kepalanya tertunduk. Tanjiro meraih tangan pasi itu dan menggenggamnya. Hangat tangan Tanjiro membuat Giyuu terhenyak. Begitu tulus, begitu penuh kasih, begitu hidup. Hawa yang begitu ia idam-idamkan, sejak yang ia helap selama beberapa tahun terakhir hanyalah bahan kimia dan udara dingin dari pendingin ruangan dan perabotan rumah sakit.

"Pada suatu malam kondisiku drop. Sarcoma di punggungku menyebar sampai ke jaringan sumsum, merusak jaringan syaraf dan membuatku mendadak kejang. Dokter mengambil tindakan. Aku tidak ingat apa saja yang mereka lakukan pada tubuhku. Begitu sadar, cuma rasa sakit yang kurasakan. Seiring pulihnya badanku, rasa sakit yang kuderita semakin hebat."

Giyuu menggenggam tangan Tanjiro. Ah, entah sihir apa yang ia punya dari tangan atau darahnya. Sentuhan seminim ini saja sudah mampu memberikan kekokohan bagi jiwa Giyuu yang keropos digerus waktu dan penyakit. Dulu Giyuu paling tidak ingin mengingat saat-saat dirinya masih menjalani terapi. Sungguh tidak ada bagian indah dari seluruh kisah hidupnya saat berstatus pasien SOSTS.

"Shinazugawa-san datang ke kamarku suatu hari. Aku ketahuan sedang menangis. Dia mengejekku. Dia bilang aku cecunguk lemah yang cengeng."

Pandangan Giyuu mengabur. Matanya terasa panas. Tanjiro kelihatan berbayang. Lalu anak sungai kembar turun dari safir cemerlangnya. Giyuu menarik nafas dalam-dalam, berusaha membenahi suaranya agar tidak remuk dicengkram kesedihan. Tanjiro membiarkan sang pasien menangis. Menangis itu manusiawi, apalagi Giyuu tidak memiliki sanak keluarga yang banyak dan selalu ada untuknya. Tanjiro hanya berharap menangis bisa meringankan beban mental yang bercokol di batin Giyuu.

"Masa kalah dengan sel kanker sekecil itu? Hanya karena kau sakit sedikit sudah menyerah dan mau mati saja? Kocho dan Kanae begadang berminggu-minggu untuk mencari cara mengobatimu. Si tua bangka dan bocah jabrik itu banting tulang pontang-panting demi membiayai pengobatanmu. Belum lagi para dokter yang sudah puluhan jam membedah punggungmu. Jangan seenaknya kabur dan membuat usaha semua orang menjadi sia-sia!"

Giyuu menuturkan perkataan Sanemi kala itu dengan nada sumbang yang terpincang-pincang. Tanjiro mencelos. Kalau ia jadi Giyuu mungkin saja ia sudah mengamuk murka. Perkataannya jahat sekali, namun di satu sisi apa yang dikatakan Sanemi benar. Semua orang berusaha yang terbaik demi menyembuhkan Giyuu. Tanjiro mengambil selembar tisu dan menyeka airmata Giyuu, lalu selembar lagi untuk membersihkan ingusnya.

"Lalu, apa yang terjadi?"

"Aku marah." Giyuu tersedu. "Aku benar-benar kesal. Tapi aku tidak bisa apa-apa selain mengatainya bedebah dan berjanji suatu hari saat aku bisa berdiri, aku akan menghajarnya."

"Giyuu-san tipe yang pendendam ya?" Tanjiro tertawa hambar.

"Nggak juga, sebetulnya." Giyuu tertunduk malu. "Aku cuma mau membuktikan padanya kalau aku sudah sembuh."

"Apa hubungannya dengan kau mau dia menyanyi untukmu?"

Giyuu terdiam sejenak. "Ada suatu hari setelah menjalani serangkaian kemo, aku tidak sadarkan diri. Begitu sadar, aku lihat Shinazugawa duduk di sebelah ranjangku dan bermain ukulele. Dia menyanyikan aku sebuah lagu yang lebih terdengar seperti mantera. Petikan ukulelenya dan liriknya membuat sakit badanku hilang, lebih ampuh dari anestesi manapun. Aku tidak tahu persis apa judulnya. Tetapi ada banyak kata heal heal. Beres nyanyi dia langsung pergi. Lain waktu aku minta dia menyanyi lagi untukku, dia malah marah dan bilang mungkin sel otakku ikutan rusak kena kemo. Kanae-sensei bilang Shinazugawa-san itu orangnya tsundere."

"Kalau gitu, kesampingkan dulu aksi balas dendammu. Aku akan cari cara lain." Tanjiro kembali membuka catatan rekening hidup Tomioka Giyuu. "Ayo, pasti banyak to do list yang mau kau lakukan, bukan?"


20 Maret 2017

Minum 10 rasa boba tea [88 menit]

Jalan sore di taman Asakusa sambil lihat matahari terbenam [50 menit]

Pulang balik naik kereta, sekali duduk dan sekali berdiri [50 menit + 60 menit = 110 menit]

Masak malam malam untuk Sabito [45 menit]

Menelpon Urokodaki-san dan mengucapkan terima kasih [152 menit]

Total pengeluaran [445 menit]

Sisa saldo waktu [113.217 menit].


"Apa-apaan, ini?"

Sabito bersidekap. Sebelah alisnya menukik berkedut. Ia nampak kesal karena sepulangnya pria berambut peach itu menemukan saudara tirinya sudah bergelung tidur manis di atas futon sementara sang suster yang seharusnya menjaganya malah menyiapkan makan malam seperti seorang istri yang menyambut suaminya pulang.

"Ah, Giyuu-san yang minta untuk masak malam malam. Katanya Sabito-san pasti lapar."

"Kau dibayar untuk mengurusnya, bukan mengurus aku." Ucapnya dengan rahang mengeras. "Kau ini suster, bukan butler."

"Tidak masalah, kan? Sabito-san sendiri yang bilang anggap saja rumah sendiri."

Sabito tidak menjawab. Ia makan dalam hening dan nampak diburu-buru. Aksi diam Tanjiro menciptakan kecanggungan yang begitu dingin sehingga Sabito akhirnya angkat bicara.

"Mestinya kau tidak perlu repot-repot menuruti kemauannya Giyuu."

"Tidak apa-apa. Lagipula, Giyuu-san sudah lama di rumah sakit. Ia pasti ingin banyak mengeksplorasi dunia luar, kan?"

"Giyuu itu 21 tahun, bukan bocah 11 tahun. Berhenti berpikiran picik, Tanjiro."

Tanjiro tertohok mendengar kata-kata Sabito. "Eh? Picik? Aku?"

"Mengeksplorasi dunia luar? Lalu dengan mudahnya kau turuti semua keegoisannya?!" Sabito menggebrak meja. "Kau sendiri sudah dengar dari Kocho-sensei berapa lama lagi sisa hidupnya, kan?!"

"Karena aku tahu, makanya aku akan berusaha sebaik mungkin membuatnya baha—"

Lalu Tanjiro terdiam.

Tugasmu membuat pasien sembuh, bukan membuat pasien bahagia.

Jangan buang-buang tenagamu untuk hal yang tidak perlu.

Tomioka-shonen pasti senang sekali kalau ia bisa sembuh.

Kata-kata Rengoku tempo hari kembali seperti bumerang yang menghantam kepalanya. Ia terdiam, dan tertunduk malu. Sabito kembali menghabiskan makan malamnya.

"Aku mengerti perasaanmu." Katanya lagi. "Maaf sudah membentakmu."

Tanjiro mengangguk.

"Kalau aku tidak sayang Giyuu, aku tidak akan membayarmu untuk mengurusnya. Aku akan membayar seorang spesialis anestesi untuk membiusnya sampai mati. Itu akan lebih baik ketimbang terus menerus memaksanya terapi dan membuatnya tidur di rumah sakit sepanjang setengah hidupnya." Sabito berujar dingin.

"Kejam sekali. Tetapi masuk akal." Tanjiro membalas kelu. "Biaya pengobatan kanker tidak murah."

"Bukan masalah uangnya." Sabito menghela nafas. "Aku tidak tahan melihatnya menangis dan berteriak kesakitan setelah beres kemoterapi. Aku frustasi tidak diperbolehkan menyentuh saudaraku di saat ia membutuhkanku untuk tetap sadar. Aku kesal pada diriku sendiri, karena masih bisa berjuang kuliah sambil kerja dan menikmati kehidupan normal sementara Giyuu cuma bisa mendengar ceritaku sambil berbaring di ranjang rumah sakit."

"Sabito-san..."

"Bukan cuma kau yang ingin Giyuu bahagia, tahu." Rahang Sabito gemeletuk. Amarah dan kekecewaan yang bertumpuk tumpah dalam setiap kata-katanya. "Aku sudah mencoba segala yang aku bisa, namun semua usahaku—usaha kami semua hanya memberikannya 3% jaminan hidup. Bukan Giyuu yang menyerah, tetapi aku."

Tanjiro menarik nafas dalam-dalam. Dibalik ekspresinya yang dingin, ternyata Sabito sudah memupuk ketegaran sejak lama. Saat ia menuruti permintaan Giyuu untuk pulang dari rumah sakit, Sabito sudah mengemasi perasaannya. Pria bernetra lembayung itu sudah membenahi jiwanya. Ia tahu kemungkinan terburuk yang bisa ia dapat ketika menghentikan segala proses pengobatan saudara tirinya tersebut.

Sabito sudah siap jika sewaktu-waktu Giyuu meninggalkannya.

"Terima kasih sudah menemani Giyuu. Tetapi lebih baik kau fokus saja pada pekerjaanmu." Sabito bangkit dari kursinya. "Gochisousama deshita."

Tanjiro ditinggal sendirian. Tenggelam dalam beragam perkamen kemungkinan yang pecahan emosi dari kehidupan pasiennya.

TRING TRING

TRING TRING

"Uwaah!" Tanjiro terlonjak. Bel elektrik di sakunya berbunyi dan bergetar. Ia bergegas lari ke kamar Giyuu dan mendapati pria berambut panjang itu meringkuk sambil terbatuk-batuk hebat.

"Giyuu-san! Dadamu sakit? Kepalamu sakit? Atau punggung?" Tanjiro berusaha menenangkan Giyuu dan berpikir jernih. Ia menarik nafas lega begitu mengetahui batuk Giyuu perlahan mereda.

"Aku cuma merasa sedikit pusing dan lemas." Katanya tertatih-tatih.

"Karena Giyuu-san kelelahan." Ujar Tanjiro lembut. Ia memberikan Giyuu segelas air hangat untuk meredakan sesak setelah batuk.

"Tanjiro..."

"Ya?"

Tangan Giyuu panjang dan ramping. Pucat dan dingin, dengan bel elektrik berbentuk gelang di tangan kanannya. Ia menggenggam tangan Tanjiro yang hangat dengan lemah.

"Temani aku disini." Katanya. "Onegai."

Tanjiro tersenyum. Ia kembali membaringkan Giyuu dan memberikan posisi ternyaman baginya. Diusapnya surai kelam itu hingga sang pasien kembali terlelap dengan bunyi dengkur halus yang teratur.

Meski Rengoku dan Sabito berkata bahwa sebaiknya Tanjiro lebih memperhatikan kesehatan Giyuu dibandingkan kebahagiaannya, hal itu membuat hatinya perih.

Apa benar kembali sehat membuat Tomioka Giyuu bahagia?


Hai readers, chapter 2 done! Terasa lebih pendek dari yang pertama ya. Maklum dong authornya ngetik ngebut hahahaha. Dan memang author sebagai bucin sanemi pasti ingin menyusupkan kacchan versi kimetsu no yaiba /bukanwoy sebagai sidekick bumbu penggurih untuk giyuutan kita yang fuwa-fuwa bikin diabet ini. Lagu yang dimaksud Giyuu nanti author kasih tau di chapter depan, deh. Jadi jangan lupa fave follow dan review 120.960 yaaa.

See you in the next chapter!