Makan jajanan di depan stasiun [105 menit]
Pergi ke game centre dan main sampai dapat banyak tiket yang bisa dijadikan selempang [270 menit]
Buat stiker foto di photobox [12 menit]
Belajar main badminton di sport centre [95 menit]
Nonton Bloody Monday Live Action back to back episodes [420 menit]
Total pengeluaran [902 menit]
Sisa saldo waktu [88.230 menit]
"Tanjiro-kun,"
Kamado Tanjiro dibuat panas dingin. Meski laporan harian kesehatan Tomioka Giyuu terlihat baik-baik saja (dari segi pengukuran denyut nadi, tensi, suhu tubuh dan beberapa pemeriksaan rutin yang harus dilaporkan setiap harinya), wajah kedua Kocho bersaudara terlihat tidak segar. Kocho Kanae-sensei adalah direktur bagian onkologi yang sering melalang buana ke rumah sakit lain untuk studi banding. Beliau adalah orang pertama yang membawa sistem cangkok stem cell dan kultur sel sintetik sebagai metode pengobatan kanker di Jepang. Kedua metode ini tercatat telah menyebuhkan dua lusin pasien pengidap kanker, dua diantaranya dalah kanker otak stadium akhir. Untuk pertama kalinya setelah Giyuu dipulangkan, ia membantu adiknya menganalisa data terkini kondisi dari si pengidap SOSTS tersebut.
"Sudah bicara sama Tomioka untuk pengobatan CAR-T?" tanya Kanae lembut.
"CAR-T?" Tanjiro mengerenyit. "Apa itu?"
"Neechan, Tomioka menolak." Sela Kocho-sensei.
"Oh, CAR-T itu kultur sel sintetik?" ucap Tanjiro polos.
"Chimeric Antigen Receptor T cell. Lebih gampangnya, kita bisa memprogram sel tubuhnya Tomioka untuk melawan kankernya sendiri." Kanae-san menjelaskan lebih lanjut. "Apa alasannya dia menolak?"
"Tidak ada donor."
Tanjiro terdiam.
"Aku sudah menawarkannya. Ia tampak senang saat tahu ada metode yang lebih mutakhir dan presentasi sembuhnya tinggi. Saat kami semua dalam proses pencarian donor, kami menemui titik buntu." Kocho-sensei menjawab muram. "Dari 30 kandidat, tidak ada satu pun yang cocok."
"Sudah sampai mencoba ke 30 orang?" Tanjiro terhenyak. "Mustahil..."
"Bukankah Tomioka punya kakak?" Kanae bersidekap.
"Kakak tiri. Tidak ada hubungan darah sama sekali." Kocho-sensei menambahkan. "Kecocokannya cuma 34%. Sudah dicoba menggunakan selnya Sabito, tetapi tidak ada reaksi sama sekali."
"Tetapi Giyuu-san terlihat sehat. Cuma sedikit lemas saja. Rambutnya bahkan panjang dan lebat. Ia tidak tampak seperti penderita kanker."
Kanae menatap Tanjiro dengan pandangan kasihan. "Karena setiap injeksi yang kau berikan kepadanya mengandung keratin dosis tinggi. Dan juga serum antibodi supaya kankernya tidak menyebar. Ditambah sedikit penangkal sakit. Kalau kau stop total injeksi itu, mungkin dalam seminggu Tomioka bisa lumpuh total."
"Ah, kankernya bertransmutasi." Tanjiro menggumam pilu.
"Apa selama ini Tomioka sering mengeluh sesak nafas atau linu pundak?'
Tanjiro menggeleng. "Cuma batuk kalau malam. Batuk kering. Tidak bisa berbaring telentang juga, tetapi masih bisa miring. Kalau berdiri atau berjalan terlalu lama, punggungnya terasa nyeri. Aku belum menemukan tanda-tanda yang lebih buruk karena sejauh ini monitor kondisi fisiknya normal."
"Besok, coba kau bawa Tomioka ke laboratorium dan radiologi. Kita akan melakukan MRI dan tes darah." Kanae mendengus lelah. "Masa bodoh apa yang akan dikatakan bocah itu. Aku cuma mau tahu keadaannya saja."
"Kalau begitu, boleh aku membawa Giyuu-san ke polinya Shinazugawa-sensei?" tanya Tanjiro.
"Untuk apa?"
"Pergelangan kakinya terkilir saat kami..." Tanjiro menelan ludah. "...jalan-jalan."
Tidak. Tanjiro tidak akan bilang pada Kocho-sensei bersaudara kalau pergelangan kakinya Giyuu terkilir karena main badminton. Mereka bisa mati berdiri kalau tahu pengidap SOSTS selama bertahun-tahun kini memaksakan diri bermain olahraga penuh lompat-lompat dan lari-lari semacam BADMINTON. Dan lagi, tentu saja Giyuu tidak terkilir. Tanjiro harus memiliki alasan yang cukup logis dan kuat untuk membawa Giyuu menemui Shinazugawa Sanemi-sensei tanpa menimbulkan keributan. Tentu saja perlu digaris bawahi, setelah itu Giyuu tidak bisa tidur karena rasa sakit yang begitu menyiksa di area punggung dan pundaknya. Tetapi setelah Tanjiro memeriksa tanda-tanda vital tubuh si pasien, semuanya masih normal. Tanjiro berasumsi mungkin Giyuu cuma kelelahan. Mana tega ia mengirim kembali pemuda itu ke ruang rawat setelah melihat betapa bersinar matanya saat bermain raket hari itu?
Giyuu sudah sembuh. Dan akan kembali prima.
Hal itu diucapkan Tanjiro dalam benaknya berkali-kali seperti mantra penolak bala.
"Silakan buat janji." Kocho Shinobu, sang adik yang lebih sering disapa Kocho-sensei oleh tim medis RS Kimetsu menggedikkan bahu. "Stok obat dan injeksi masih ada?"
"Soal itu, resep yang diberikan Kocho-sensei dua minggu lagi bakalan habis. Apakah ada perubahan resep atau Giyuu-san bisa menebus obat yang sama dari laboratorium?" tanya Tanjiro lagi.
"Kita akan tentukan setelah tes labnya Tomioka keluar." Kanae menyimpulkan pembicaraan tersebut. "Kau boleh keluar, Tanjiro-kun. Terima kasih."
Tanjiro mohon pamit kepada dua bersaudara tersebut. Pikirannya keruh, sulit baginya untuk berpikir mengapa begitu sukar membasmi kanker yang ada di tubuh Giyuu. 34% persentasi kecocokan memang tidak besar, namun bukan sesuatu yang terlalu beresiko untuk dicoba. Namun Sabito ternyata bukan donor yang cocok untuk saudara tirinya. Wajar saja tanggapannya begitu getir ketika mengetahui Tanjiro tidak hanya berusaha membuat Giyuu kembali sehat, namun juga bahagia. Sabito mungkin orang pertama dan satu-satunya yang terus mencoba melakukan hal itu sepanjang hidupnya hingga saat ini. 3% harapan hidup adalah keputusan final dimana jika Giyuu dipulangkan dan menghentikan semua terapinya. Pernyataan itu menghantam keduanya dengan begitu keras. Tanjiro juga sempat berpikir mungkin saja Giyuu menyerah karena sudah tidak ingin menyusahkan saudara tirinya tersebut.
79 hari adalah waktu yang terlalu singkat.
Apa yang akan terjadi jika 79 harinya sudah habis? Giyuu yang saat ini terlihat sehat walafiat akan mendadak drop, dan kemudian kembali ke fase awal saat ia bahkan hanya bisa berbaring dan bernafas?
Padahal baru 18 hari Tanjiro merawat Giyuu. Karena ide-ide konyolnya, kini Giyuu terlihat lebih segar dan lebih ceria meski tampang teflonnya masih belum banyak berubah. Tersisa 61 hari, bahkan bisa jadi kurang dari itu. Apa yang mesti ia lakukan agar setidaknya Giyuu bisa hidup lebih bahagia dengan jangka waktu lebih lama?
Vonis dokter itu bukan ketetapan Tuhan. Pasti ada yang bisa berubah.
Lebih lama.
Atau bisa jadi lebih sebentar.
"Tanjiro! Apa-apaan mukamu begitu, heh!"
Kanzaki Aoi menghampirinya dan memberikan tabokan penuh energi ke pundak Tanjiro. Gadis berkuncir dua itu adalah suster juga seperti dirinya dan Zenitsu. Ia bertugas di UGD dan Tanjiro belum pernah mendengar ia mengeluh sedikit pun mengenai pekerjaannya.
"Ah? Nggak apa-apa. Cuma lagi galau aja." Jawab Tanjiro seadanya.
"Mau makan bareng?" Aoi tersenyum tipis. "Inosuke di kantin. Ada Yushiro sama Murata juga."
"Zenitsu?"
"Si kampret itu sudah selesai istirahat. Dasar pengkhianat."
"Ayo, deh."
Mereka berjalan ke arah kantin. Ternyata Yushiro yang selalu berinisiatif tinggi sudah memesan makanan untuk lima orang—terlebih kalau ada Inosuke. Setelah Tanjiro datang, ia minta maaf singkat dan bertanya apakah Tanjiro mau makan makanan lain. Pemuda berambut burgundy itu menggeleng singkat dan memilih menyantap tororo udon yang disodorkan kepadanya.
"Semenjak dinas luar, mukanya Kentaro kusut banget." Inosuke mendecih jijik. "Kayak orang kesurupan."
"Inosuke! Jangan bilang begitu." Tegur Murata. "Merawat seorang cancer survivor itu tidak mudah, tahu."
"Oh, kau dibayar untuk merawat seseorang di luar?" tanya Yushiro.
Tanjiro mengangguk.
"Siapa nama pasienmu?" tanya Yushiro lagi.
"Tomoyama Yugino." Celetuk Inosuke sambil mencomot tempura lauk punya Aoi.
"Oy, kora!" Aoi menampar tangan Inosuke guna melindungi jatah makan siangnya yang masih tersisa.
"Tomioka Giyuu." Jawab Tanjiro mengoreksi. "Karena Yushiro-kun kerja di bagian radiologi, kau pasti tahu dia, kan?"
"Oh." Yushiro hanya menjawab singkat. Ia kembali menikmati makan siangnya.
"Makan yang benar, Tanjidon. Kalau kau sakit nanti siapa yang merawat Tomohiro?" tegur Inosuke. Kebiasaannya sering lupa dan salah menyebut nama orang sudah menjadi ciri khas Inosuke.
Tanjiro mengangguk. Ia melanjutkan makan siangnya dengan tenang. Dari jauh, ia melihat Kanae menggandeng seorang dokter berambut putih jabrik, bertubuh kokoh dan berwajah masam ke salah satu konter penjual penganan manis. Keduanya duduk di pojok dan bercengkrama seperti sepasang kekasih. Menyadari kemana arah pandang Tanjiro, keempat temannya ikutan menoleh.
"Couple of the year." Lirih Yushiro dengan nada menyindir.
"Nggak. Menurutku lebih manis Kanroji-sensei dengan Iguro-san." Aoi membantah.
"Iguro-san?" Tanjiro mengerenyit bingung. "Iguro-san kepala bagian farmasi?"
"Kau nggak tahu kalau mereka pacaran?" tanya Murata dan Aoi bersamaan.
Tanjiro menggeleng. "Kanae-san sama sensei itu juga?"
"Mereka sudah nikah, kali." Aoi membalas. "Shinazugawa-sensei tampangnya aja yang seram. Ternyata hatinya lembuuuuut banget kayak linen segar sehabis laundryyy~. Tahu nggak? Mereka baru dua bulan pacaran lalu Shinazugawa-sensei melamar Kanae-sensei, lho!" S
"Oh, makanya Kanae-sensei tidak dipanggil 'Kocho-sensei'?" tanya Tanjiro kurang antusias.
"Kan ada adiknya." Yushiro menyeletuk.
"Uhm uhm!" Aoi mengangguk-angguk semangat. "Inosuke, kapan kita bisa kayak mereka?"
"Apanya?" balas Inosuke dengan polosnya. "Kau mau aku licin juga kayak habis dicuci?"
"Kayak mereka. Nikah."
"Kheh!" Inosuke memasang tampang seakan-akan sedang tersedak.
Murata, Tanjiro dan Yushiro dibuat terpingkal-pingkal. Pasangan suster-paramedis ini memang sudah diketahui seisi rumah sakit kalau mereka pacaran. Dan drama percintaan disambut dengan hangat dan meriah dalam kehidupan medis yang jumpalitan. Direktur Ubuyashiki (yang lebih sering dipanggil oyakata-sama oleh sebagian besar dokter) memang tidak melarang pegawainya menjalin hubungan asmara bahkan sampai jenjang pernikahan, selama pasangan tersebut tidak bekerja di satu departemen. Zenitsu pernah bercerita kalau istrinya Uzui-san yang sama-sama dokter THT dipaksa mengajukan permohonan transfer karena kebijakan tersebut. Rumor juga mengatakan kalau Uzui-sensei punya 3 istri.
DRRRT!
DRRRT!
DRRRT!
"Moshi-moshi, Giyuu-san?" Tanjiro sigap mengangkat telepon masuk begitu merasakan ponselnya bergetar dan nomor Giyuu yang tertera di layarnya.
"Tanjiro, ini aku." Suara berat Sabito terdengar di sebrang. "Kocho-sensei praktek hari ini?"
"Iya, kenapa?"
"Giyuu tumbang. Aku menemukannya muntah-muntah dan mimisan."
Tanjiro menghela nafas dalam-dalam.
Semenjak menjadi suster pribadi Tomioka Giyuu, jadwal kerjanya adalah 5 hari rawat intensif, satu hari ia harus pergi ke rumah sakit menyerahkan laporan, dan hari berikutnya ia bisa libur dengan syarat ia harus siaga kapan pun. Kadang, saat libur pun tidak dirasa baginya karena Tanjiro tinggal di rumah Giyuu bersamanya dan Sabito. Saat Tanjiro harus pergi ke rumah sakit, Sabito bertugas menjaganya.
Dan kali ini Tanjiro lengah.
Obat dan injeksi sudah diminum sesuai anjuran. Tidak ada yang salah. Giyuu masih dapat makan normal pada pagi dan siang hari. Lalu menjelang sore ia muntah hebat hingga keluar bile reflux atau keluarnya cairan empedu bersama muntahan. Tak hanya muntah, kedua hidungnya berdarah. Dan dengan sigap Sabito langsung melarikan saudara tirinya ke rumah sakit Kimetsu.
Tomioka Giyuu terlihat begitu pucat. Bahkan bibirnya sampai hampir berwarna ungu. Bekas muntah dan mimisannya sudah dibersihkan. Kini ia hanya bisa terbaring miring dengan infus di tangan kanannya. Serangkaian kabel yang terhubung dengan alat-alat rumit menempel di dadanya. Giyuu masih sadar, dan Tanjiro menggenggam lemah tangan pemuda berambut raven itu guna menenangkannya.
Atau menenangkan dirinya sendiri.
"...men..." lirih Tanjiro, berusaha menelan isak tangisnya agar Giyuu tidak melihat. "Gomen. Padahal aku sudah berjanji tidak akan membuatmu kembali lagi..."
Giyuu tidak menjawab. Ia memejamkan matanya, dan mengeratkan genggamannya.
Kocho Shinobu datang setengah berlari. Tanjiro melepas genggaman tangan Giyuu dengan hati-hati supaya sang dokter onkologist bisa mengecek keadaan si pemuda bersurai legam tersebut. Meski raut wajahnya sulit terbaca, tarikan nafas lega terdengar dengan jelas.
"Ia cuma kelelahan. Mungkin beberapa hari ini ia mengalami aktivitas fisik yang terlalu berat untuk tubuhnya selama ini." Bibirnya menarik seulas senyum, tetapi penekanan ucapannya sukses menghujam Tanjiro seperti sebilah tombak. "Biarkan dia menginap sehari. Besok siang semoga ia sudah bisa dibawa pulang."
"Kami punya Tanjiro. Tidak bisakah Giyuu dibawa pulang sekarang dan istirahat dirumah?" tanya Sabito sengit.
"Tidak." Kocho-sensei menolak tegas. "Saudaramu itu pengidap SOSTS. Kemungkinan terburuk bisa jadi osteosarcoma-nya merusak jaringan lain. Kalaupun itu terjadi, kami bisa dengan cepat menanganinya karena tidak berlomba dengan waktu di dalam perjalanan."
Selain pandai menganalisa, Kocho-sensei juga pandai menyindir. Sabito hanya mendecih kesal dan memutuskan membiarkan Giyuu menginap satu malam di rumah sakit dengan syarat jika ia sudah baikan, maka Sabito berhak membawanya pulang. Kocho-sensei mengangguk setuju dan membiarkan si kakak tiri pergi ke bagian administrasi.
"Tanjiro-kun," Kocho-sensei menepuk pundak Tanjiro. "Jaga dia sementara waktu, ya."
Tanjiro mengangguk. Ia menarik bangku dan duduk di sebelah Giyuu. Pemuda itu tertidur. bunyi nafasnya teratur sekali. Tanjiro merapikan surai legam panjang itu dan menyadari bahwa Giyuu punya bulu mata yang panjang, hidung mencuat dan bibir tipis berlekuk. Wajahnya bulat, tetapi tulang pipinya tinggi dan rahangnya lugas. Tanjiro tidak pernah benar-benar memperhatikan wajah Giyuu hingga ia kini melihat dari dekat. Tampang datarnya memang kadang terlihat menyebalkan, namun kalau dilihat saat ia tidur, ekspresi damainya benar-benar pemandangan yang indah.
61 hari lagi...
Tanjiro harus apa untuk membuat pemuda tampan ini menikmati 61 hari terakhir hidupnya?
"Nnnn..."
Giyuu merengut, lalu membuka matanya perlahan. Safir cemerlang itu bertemu tatap dengan Tanjiro yang tampak begitu khawatir.
"Sudah merasa enakan, Giyuu-san?" tanya Tanjiro lembut.
"Aku sudah tulis...di rekening..." gumam Giyuu lirih. "..to do list yang ingin kulakukan besok..."
"Kalau kau sudah sehat, aku akan mengabulkannya." Tanjiro menggenggam tangan Giyuu. "Berjanjilah untuk berjuang agar kembali sehat, Giyuu-san."
Giyuu mengangguk, pelan sekali. Lalu ia menarik nafas dan memejamkan matanya. Pemuda itu kembali lelap dalam tidurnya. Kardiogramnya lemah, tetapi stabil. Tanjiro tidak bisa menahan diri untuk menghela nafas lega. Ia membelai puncak kepala Giyuu dan dalam hati, mengucap segala doa yang bisa ia panjatkan agar Tomioka Giyuu bisa mendapat barang beberapa hari tambahan dalam hidupnya.
Baru 18 hari, namun to do list yang telah dilakukannya begitu banyak. Ada beberapa yang terpaksa dilewatkan sementara karena waktu dan kondisi Giyuu tidak memungkinkan, tetapi Tanjiro berusaha membuatnya terkabul sedikit demi sedikit. Mungkin kali ini, Giyuu sedikit terlalu memaksakan diri. Tanjiro berjanji akan lebih waspada.
Bagaimanapun caranya, Giyuu harus bisa bahagia.
"Selamat pagi Tomioka-san. Bagaimana keadaanmu?"
"Mana Tanjiro?"
Suster yang bertugas mengecek keadaan Giyuu pagi ini adalah gadis manis bertubuh mungil. Tetapi Giyuu tidak peduli. Ia butuh Tanjiro. Ia tidak mau menjawab pertanyaan tidak penting semisal bagian mana yang sakit atau apa keluhan hari ini berulang kali pada orang yang berbeda-beda. Tanjiro tahu ia selalu sakit punggung selepas bangun tidur. Tanjiro juga tahu bahwa Giyuu akan merasa kesemutan di area pinggang ke bawah saat merasa ingin buang air kecil. Tanjiro juga tahu kalau setiap injeksi memberikan linu luar biasa bagi selarasan punggungnya, dan belaian lembut di kepala hingga punggung bisa membuat Giyuu beristirahat dengan tenang sehabis injeksi rutin.
"Kamado-san sedang istirahat. Dia menjagamu sepanjang malam dan Kocho-sensei menyuruhnya rehat sejenak di ruangan lantai 3." Jawab si suster itu.
"Oh." Giyuu mengelus dadanya. Ia lega karena ternyata Tanjiro tidak meninggalkannya.
"Dadamu sakit, Tomioka-san?"
"Tidak."
"Ada keluhan nyeri punggung?"
"Selalu."
"Dari skala 1 sampai 10, seberapa sakit punggungmu?"
Giyuu berpikir sejenak, sebelum mengacungkan angka 4.
"Sekitar jam 10, Kocho-sensei dan Kanae-sensei akan datang memeriksa keadaanmu. Jika butuh sesuatu, silakan tekan bel di pinggir kasurmu, ya."
Giyuu cuma mengangguk singkat.
"Selamat istirahat." Suster itu mengusap lembut bahu Giyuu dan menyingkirkan segumpal rontokan rambut di sana.
Suster tersebut pergi. Giyuu ditinggal sendirian. Meski sakit punggung adalah pendamping hidupnya selama tujuh tahun belakangan, ada skala dimana sakit punggungnya luar biasa bahkan hingga membuat Giyuu terbaring tak berdaya seperti orang stroke. Ia berusaha menggerakkan kaki dan pundaknya perlahan-lahan. Nyeri, namun masih di tahap nyeri yang bisa ia tahan. Safir cemerlangnya melirik selang infus yang terhubung pada tiang. Bukan pada gantungan di dinding. Kali ini Giyuu bahkan tidak dipasangkan kardiogram dan alat bantu nafas.
Kakinya yang kurus dan telanjang turun menapak lantai rumah sakit yang dinginnya luar biasa. Perlahan, kini Tomioka Giyuu berdiri sambil memegangi tiang infusnya. Satu langkah, dua langkah, sepuluh langkah, sampai akhirnya ia berhasil keluar kamarnya sendiri dan berjalan sampai di pertigaan lorong. Belum banyak suster dan dokter yang lalu lalang, meski ada beberapa orang non staff medis yang tampak keheranan melihat keadaan Giyuu.
POLI ORTHOPEDI, LANTAI 5 RUANGAN 11.
Giyuu memasuki lift dan menekan tombol. Tidak lama hingga akhirnya ia sampai. Arahan RS Kimetsu benar-benar efektif, karena kini Giyuu mendapati dirinya berdiri di ruangan 11 lantai 5 yang ruang tunggunya penuh sesak dengan pasien. Tidak ada satu pun bangkunya yang kosong. Sebagian besar pasiennya adalah manula yang bahkan terlihat seperti artifak jaman batu. Pamor Sanemi melejit hingga ia punya banyak julukan: master akupuntur, dokter sakti minim obat, tukang pijat plus plus, thai massage therapist atau accupressure specialist, dan yang lebih mengerikan—dukun teluh.
"Moriyama-san juga berobat ke Sanechan?" tanya seorang nenek-nenek pada seorang nenek-nenek lain.
"Iya. Shinazugawa-sensei metodenya cocok sekali denganku. Hanya datang dua kali, tanpa obat. Reumatikku berkurang drastis, lho."
"Ohohohoho~ bulan lalu aku bahkan jalan harus pakai tongkat. Sekarang, aku bahkan bisa gendong cucuku, lho!"
Komentar para pasiennya lebih terdengar seperti testimoni klinik tongchay.
Giyuu mengepalkan tangan. Ia memantapkan tekad. Menerobos antrian para manula yang menyuarakan protes dan teriakan panik para suster karena melihat penampilan Giyuu yang ketara sekali merupakan pasien yang kabur dari kamarnya. Pemuda berambut hitam panjang itu mendorong pintu dengan paksa dan menemukan Shinazugawa Sanemi ada di sana—tinggi kekar, tegap, rambutnya putih jabrik, bekas luka dimana-mana, tidak pakai jas dokter, cuma sehelai kemeja hijau gelap dan celana panjang cokelat yang modelnya bagus juga.
"Bisa baca papan di pintuku, nggak?!" hardiknya. "Oh, Tomioka."
Nada suaranya mendadak turun. Dari berteriak menjadi rendah mencemooh.
"Aku sibuk, kau bisa kembali lagi nan—"
GREB!
BUAAAKHHH!
BRAAAK!
"Gyaaaaa! Tolong! Ada pasien gila! Tolong!"
Kakek yang tadi sedang konsultasi dengan Sanemi lari keluar sambil menjerit ketakutan. Sementara sang dokter orthopedi terjungkal jatuh menabrak meja setelah menerima pukulan hook penuh tenaga dari pasien pengidap SOTS. Giyuu merasa tangan kanannya kebas. Bahkan seluruh pundaknya. Dari kaki kanannya ia merasakan tetesan hangat, dan ia tahu bahwa infusnya sudah lepas saat ia melayangkan tinju ke wajah Sanemi. Jarumnya tercabut dan memberinya luka besar berdarah.
"GIYUU-SAN!"
Giyuu menoleh. Tanjiro berlari sampai kehabisan nafas. Mereka bertemu pandang di depan pintu poli orthopedi. Tanpa mempedulikan wajah ngeri Tanjiro dan beberapa dokter serta suster lain yang ikut mengecek, Giyuu mengacungkan tinju kanannya yang berdarah.
"Yatta..." Senyum tipis penuh kemenangan tersungging di bibirnya. "Aku berhasil memukulnya, Tanjiro."
"Buh! Hahaha...ahahahahahahahahah!"
Giyuu menoleh. Sanemi menyeka darah di sudut bibirnya sambil tertawa keras. Suaranya yang berat dan retak membuat bunyi tertawanya terdengar sangat jahat. Ia berdiri perlahan sekedar untuk merapikan kembali pakaiannya dan merenggangkan kepalanya.
"Itu sama sekali tidak sakit, Tomioka!" raungnya. "Cuma segitu kemampuanmu?"
Giyuu cuma mengerjapkan matanya. Lalu tubuhnya oleng ke belakang. Tanjiro dan Sanemi sigap belari mendekat dan si dokter orthopedi sukses menangkap tubuh Tomioka Giyuu sebelum menghantam lantai.
"Datang-datang main pukul, bikin drama lalu pingsan." Sanemi mendengus. "Dasar bedebah."
"Sumimasen, Shinazugawa-sensei. Aku tidak becus menjaganya." Tanjiro menunduk malu. Ia memeriksa lengan Giyuu yang berdarah akibat koyak terkena jarum infus.
TUK!
"Memang tidak becus." Sanemi menjitak kening Tanjiro pelan. "Kau, bocah! Ikut aku ke kantornya oyakata-sama. Aku ada urusan denganmu juga."
"Tapi—"
"Sekarang, kembalikan Tomioka ke ranjangnya dulu sebelum setengah antrian pasienku mati kena serangan jantung!"
Terima kasih sudah mau membaca sampai chapter 3. Aku bucin Sanemi soalnya, jadi aku merasa harus memasukkan si kang ngegass itu meski pair utamanya tetap GiyuuTan. Sebenernya di chapter sebelumnya udah dijelasin kenapa Giyuu mau pukul Sanemi, kan? Mungkin akan dijelaskan lagi sisanya di chapter berikutnya kalo ingat /dilindes.
Aku berencana menamatkan fic ini dalam waktu dekat kalau ada waktu dan niat. Kerja sebagai hotelier membuatku lelah dengan dunia ini, pengennya rebahan aja beres kerja tuh. Anyway, jangan lupa review fave dan follow 120960 ya! See you in the next chapter!
