NOMIN FANFICTION

LEE JENO X NA JAEMIN

NCT DREAM

Original Story By :

fungichan22_ a.k.a aaaloy22_

Cerita ini terinspirasi dari Drama Korea Scarlett Heart Ryeo, Rooftop Prince dan The Tale of Nokdu

Enjoy and Happy Reading


Jaemin menatap horor tampilannya di depan cermin. Setelah terbangun kemarin dari kejadian mustahil yang baru saja menimpanya, sebenarnya Jaemin belum benar-benar sadar. Ia masih belum percaya dirinya terlempar lebih dari lima ratus tahun dari masanya.

Otaknya memberontak dengan hal mustahil yang diluar nalar. Bagaimana bisa Jaemin melewati berbagai jaman secara tiba-tiba. Banyak yang dipikirkan Jaemin, apakah ia baru saja melewati lorong waktu?

"Nana, saya perhatikan anda menjadi sering melamun." Ucap wanita yang sedang memasang gache (wig/sanggul) di rambut panjang Jaemin.

Kang Mina, wanita itu adalah orang yang menjadi pelayan pribadi Jaemin. Meskipun Jaemin adalah seorang gisaeng, tapi ia memiliki pangkat tertinggi sehingga berhak memiliki seorang pelayan.

Nana adalah panggilan Jaemin yang diberikan Nyonya Song. Identitas Jaemin yang seorang pria dirahasiakan dengan rapat. Hanya Mina, Nyonya Song dan tiga orang pelayan pribadi Nyonya Song yang mengetahui jika Jaemin adalah seorang pria.

Jaemin memandang lekat tampilannya di pantulan cermin. Entah hanya perasaanya saja, tapi Jaemin merasa fitur wajahnya menjadi lebih lembut nyaris seperti wanita meskipun rupanya tetap sama. Jakun di lehernya bahkan tidak terlihat sama sekali, padahal di masanya Jaemin begitu bangga dengan jakunnya yang menonjol dan terlihat seksi.

Saat meraba kulit tangannya Jaemin merinding, sangat putih dan halus seperti wanita. Bisep dan perut sixpack kebanggaan yang selalu membuat penggemarnya menjerit histeris kini lenyap. Suaranya pun menjadi benar-benar lembut, benar-benar seperti wanita. Padahal Jaemin sudah memastikan jika masih ada sesuatu yang menggantung di selangkangannya. Belum lagi sumpalan kain yang dipakaikan Mina di dadanya, Jaemin sangat malu melihat tampilannya sendiri.

"Mina, bisa ceritakan mengapa aku bisa menjadi gisaeng? Aku benar-benar tidak mengingat apapun." Dusta Jaemin. Padahal ia memang benar-benar tidak tahu bukan tidak ingat. Entah sampai kapan Jaemin harus berpura-pura hilang ingatan.

"Tentu saja."

Mina merapikan sanggul buatannya di kepala Jaemin. Ia terlihat puas dengan hasil karyanya, Jaemin terlihat sangat cantik. Jaemin mengenakan jeogori hitam dengan motif bunga berwarna ungu, serasi dengan warna chima yang juga berwarna ungu. Tidak lupa dengan riasan wajah tegas khas seorang gisaeng. Dan rambutnya yang ditata sedemikian rupa dengan binyeo (tusuk konde).

"Anda adalah gisaeng dengan pangkat tertinggi di rumah bordil Chosun. Lima tahun lalu adalah pertama kali anda menginjakkan kaki di tempat ini." Mina memulai ceritanya.

"Nyonya Song menemukan anda yang tampak tidak tahu tujuan di perbatasan sepulang dari seberang. Nyonya Song mengatakan pada saya, jika beliau seperti melihat sebuah cahaya saat melihat anda. Akhirnya Nyonya Song membawa anda pergi saat anda mengatakan bahwa anda adalah seorang yatim piatu."

Jaemin mencerna setiap kalimat yang diucapkan Mina. Ia tidak menyangka jika hidupnya di masa lalu begitu malang.

"Dua hari tinggal bersama anda, Nyonya Song mengetahui jika anda sangat tertarik dengan seni. Anda sangat pandai menari dan membawakan berbagai alat musik. Sejak saat itu Nyonya Song meminta anda menjadi salah satu gisaeng miliknya, meskipun beliau tahu jika anda bukan wanita."

Mina tersenyum melihat raut wajah Jaemin yang tampak berfikir. Ia tahu jika Jaemin bingung dengan apa yang dikatakannya.

"Setelah mendapat beberapa pelatihan dari Nyonya Song, dua bulan kemudian anda mendapat pekerjaan anda sebagai gisaeng. Saat itu saya ingat, anda diizinkan ikut serta dalam acara pesta perayaan yang diadakan Menteri Pertahanan Seo."

"Lalu apa saja yang pernah aku lakukan?" Jaemin bertanya panik saat mengetahui jika sepertinya ia adalah gisaeng berpengalaman. Ia bergidik ngeri saat membayangkan hal apa saja yang pernah ia lakukan.

Mina tersenyum, "Anda hanya menari dan memainkan alat musik, paling jauh anda hanya menemani para pejabat di acara jamuan minum teh. Anda selalu menolak saat ada yang mengajak anda naik ke atas ranjang."

Jaemin menghembuskan nafas lega. Ternyata ia di masa lalu cukup pintar menjaga diri meskipun seorang gisaeng.

"Lalu apakah anda tahu..." Mina menggantung ucapannya, membuat Jaemin penasaran.

"Anda adalah satu-satunya gisaeng yang belum pernah naik ke atas ranjang di Joseon. Hal ini hingga menjadi desas desus di kalangan luar. Selain bakat luar biasa dan kecantikan anda, hal itulah yang menjadikan anda sangat digilai semua pria di Joseon."

Heol! Jaemin bergidik ngeri saat membayangkan ia dikerubungi oleh banyak pria. Di masanya, Jaemin lebih sering dikerubungi gadis-gadis.

"Jika anda sudah siap, sebaiknya kita lekas pergi." Ucap Mina menyadarkan lamunan Jaemin.

Jaemin dan Mina berjalan mengelilingi pasar membeli beberapa potong kain dan hiasan rambut. Sebagai seorang gisaeng nomor satu, tentu saja Jaemin harus selalu tampil dengan penampilan terbaik.

Untuk pertama kalinya, Jaemin menatap kagum suasana di sekelilingnya. Hiruk pikuk pasar kuno benar-benar merebut atensinya. Suasananya seperti sebuah festival dengan orang-orangnya menggunakan pakaian tradisional, begitu menurut pikiran Jaemin.

Disana, penampilan Jaemin sangatlah mencolok. Pakaian dan hiasan rambutnya yang mewah, sedangkan wajahnya tersamar dibalik topi dengan kain transparan yang menjuntai. Penampilannya sukses membuat semua pasang mata mengarah padanya. Terutama para pria, mereka memandang dengan tatapan memuja saat melihat Jaemin.

"Mina, kenapa mereka terus melihat ke arah kita? Aku benar-benar merasa risih."

"Bukankah itu sudah sering terjadi? Anda hanya perlu bersikap tenang."

Tidak dimasa depan atau dimasa lalu, Jaemin terus saja menjadi pusat perhatian. Saat dirinya dibawa Mina untuk mencoba beberapa jenis kain, kerumunan orang-orang seakan menjauh. Memberi jalan untuk Jaemin agar bisa berjalan.

"Nana! Bolehkah aku berkencan denganmu? Aku akan membayar berapapun jika kau bersedia!"

Seorang pria tiba-tiba berteriak membuat pusat perhatian teralih padanya. Jaemin yang mengerti jika ucapan pria itu untuknya, hanya menatap Mina meminta pertolongan.

"Maaf Tuan. Tolong beri Nona kami privasi untuk saat ini. Jika anda memiliki waktu, datanglah ke Chosun." Dengan sopan Mina menjauhkan pria itu yang ingin mendekati Jaemin.

"Tapi aku tidak pernah diizinkan bertemu dengan Nana! Apa uangku tidak cukup hah?"

Sedikit terjadi keributan karena pria itu terus memaksa untuk mendekat pada Jaemin. Mina dengan sigap menghadang, tapi tubuhnya hampir terhempas karena pria itu menyentak tangan Mina.

Melihat Mina diperlakukan seperti itu, Jaemin geram. Ia lalu menangkap tubuh Mina yang hampir oleng dan menyembunyikan Mina di belakang tubuhnya. Sebelum bicara Jaemin menyingkap kain transparan yang menutupi wajahnya, sehingga wajahnya benar-benar terlihat jelas.

"Maaf jika saya lancang Tuan. Tapi untuk saat ini bukan waktu kami menerima tamu. Jika Tuan berkenan, anda bisa pergi ke Chosun. Saya benar-benar meminta kemurahan hati Tuan."

Jaemin membungkuk dengan senyum lembut meskipun dalam hati terus mengumpat kasar. Ia sangat membenci orang dengan sikap tidak tahu diri dan pemaksa seperti pria di depannya itu. Tidak peduli menjadi pusat perhatian, Jaemin hanya ingin segera pergi.

Tanpa mengatakan apapun, pria yang tadi bersikeras ingin mendekati Jaemin pergi begitu saja. Mungkin karena malu telah ditolak Jaemin, pria itu memilih pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.

"Mina, ayo cari tempat lain."

Jaemin berjalan membelah kerumunan diikuti Mina. Orang-orang yang menyaksikan menatap kagum pada Jaemin yang tetap bersikap tenang dan anggun. Padahal kenyataannya, Jaemin bisa saja langsung memukuli pria itu sampai babak belur. Tapi itu tidak mungkin terjadi. Karena di masa ini identitas Jaemin adalah seorang wanita.

Langkah Jaemin terhenti saat ada seorang wanita tua menghentikannya. Wanita dengan pakaian lusuh dan topi dari serat kayu itu memegang tangan Jaemin.

"Berhenti!" Ucap wanita tua itu.

"Maaf?" Jaemin bertanya bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Mina yang berdiri di belakangnya akan melepaskan tangan wanita tua itu dari tangan Jaemin, tapi Jaemin mencegahnya.

"Benar-benar anak malang..."

Jaemin mengernyit bingung dengan wanita tua aneh itu...

"Ini bukan masamu. Tidak seharusnya kau berada disini."

DEG

DEG

DEG

Jantung Jaemin berdetak kencang. Wanita tua itu pasti tahu sesuatu.

"A-Apa maksud anda?" Mencoba berpikir tenang, Jaemin bertanya ragu. Tangannya tiba-tiba gemetar dan berkeringat.

"Jika selama tiga bulan kau tidak kembali, maka dirimu dimasa yang sebenarnya akan mati."

Jaemin membulatkan matanya. Apa maksudnya? Jadi ia akan mati jika tidak segera kembali ke masanya? Lalu bagaimana cara ia agar bisa kembali bertemu teman-teman dan keluarganya?

"La-Lalu? Bagaimana cara agar aku bisa kembali?"

"Cinta dari langit. Kau akan kembali jika menemukannya."

Setelah mengatakannya pada Jaemin, wanita tua itu berlalu pergi. Meninggalkan Jaemin yang terpaku, mencerna apa yang baru saja dikatakan wanita tua itu.

"Cinta dari langit..." Jaemin menggumamkan kata-kata yang dikatakan wanita tua itu. Mina yang bingung menyentuh lengan Jaemin.

"Nana, apa yang terjadi?" Tanya Mina khawatir saat melihat Jaemin yang tampak linglung.

"Cinta dari langit... Mina! Kemana perginya wanita tua tadi?" Jaemin mengedarkan pandangannya mencari keberadaan wanita tua itu. Ia bahkan mencoba menerobos kerumunan untuk mencari, tapi Jaemin tidak bisa menemukannya.

"Oh My God! I'm going crazy!"

Mina mengernyit bingung mendengar Jaemin mengatakan sesuatu yang tidak ia mengerti. Tapi Mina bisa mengetahui, jika Nona kebanggaan Chosun sedang tidak baik-baik saja.

Wajah Jaemin memucat saat mendengar apa yang baru saja Nyonya Song katakan. Malam akan segera tiba, waktunya Jaemin untuk bekerja. Kepalanya terus membayangkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi. Apalagi di luar sudah mulai banyak orang-orang yang datang ke Chosun.

"Nana, malam ini kau harus melakukan yang terbaik. Perdana Menteri dan puteranya akan bertamu malam ini. Jangan membuat tamu istimewa kita kecewa." Ucap Nyonya Song kemudian pergi.

Jaemin merasa jika jiwanya melayang begitu saja. Mengabaikan dua orang wanita yang sedang meriasnya yang terus memuji kecantikannya. Otak cerdas Jaemin dipaksa berpikir keras, ia harus berpikir apa yang akan ia tampilkan di depan Perdana Menteri dan puteranya.

Tidak mungkin Jaemin melakukan tarian boom, break dance atau akrobat, atau mungkin melakukan tarian menggunakan hoverboard. Jaemin akan dicap orang gila jika berani-berani melakukan hal ekstrim semacam itu. Jaemin ingin sekali menangis, baru terhitung dua hari ia berada di Joseon tapi Jaemin merasa sudah seperti dua tahun.

Sebagai seorang seniman Jaemin tidak ingin mencoreng nama baiknya dengan penampilan buruk. Di masanya Jaemin adalah seorang selebriti serba bisa, maka di masa ini pun Jaemin harus bisa melakukannya. Tapi mengingat jika identitasnya saat ini sebagai seorang wanita, kepercayaan diri yang ia bangun seakan sia-sia dan selalu sukses membuatnya kembali terpuruk.

"Nana, rombongan Perdana Menteri sudah menuju kemari."

Salah satu gisaeng muda disana memberitahu Jaemin yang masih bersiap. Dua orang yang membantu Jaemin bersiap segera membereskan peralatan yang mereka pakai untuk merias Jaemin.

"A-Ah Ya! Aku akan segera menyambut mereka." Ucap Jaemin. Gisaeng muda itu membungkuk hormat pada Jaemin lalu pergi.

Jaemin melirik pada dua orang wanita yang tadi meriasnya. " Kalian boleh pergi. Aku akan keluar sebentar lagi."

Setelah mendengar perintah Jaemin, dua wanita itu pergi meninggalkan Jaemin sendirian di kamarnya. Sepeninggal dua wanita itu Jaemin berguling dan menendang meja kecil di sampingnya, mengabaikan jika bisa saja tatanan rambutnya rusak dan hanbok yang dikenakannya kusut. Jaemin tidak peduli.

"Tuhan! Apa yang harus akau lalukan? Aku benar-benar tidak mengerti apapun!" Racau Jaemin.

Bolehkah Jaemin membunuh dirinya sendiri saat ini juga?

"Selamat datang di Chosun Tuan Perdana Menteri beserta Putera."

Seluruh gisaeng di Chosun menyambut kedatangan Perdana Menteri Joseon beserta puteranya. Mereka datang menggunakan tandu yang dikawal oleh beberapa pengawal. Di barisan gisaeng paling depan, ada Jaemin yang berdiri di samping Nyonya Song.

"Suatu kehormatan Tuan Perdana Menteri beserta Putera kembali mengunjungi rumah kami." Nyonya Song berjalan menghampiri sang Perdana Menteri yang baru saja keluar dari tandu.

"Tidak usah terlalu berlebihan Nyonya Song. Aku senang bisa menghabiskan waktu luang di tempat milikmu." Ucap si Perdana Menteri sambil mengamati wajah-wajah gisaeng yang berjajar rapi menyambutnya.

Jaemin menyenggol Mina yang ada di samping kirinya. Mengerti dengan kode dari Jaemin, Mina sedikit berbisik.

"Itu adalah Perdana Menteri Joseon, Jung Junyeol. Di belakangnya adalah putera tunggalnya, Jung Jaehyun."

Mendengar nama yang familiar, Jaemin sedikit menegakkan kepalanya. Ia ingin melihat putera si Perdana Menteri. Jaemin cukup kesulitan saat wajah putera Perdana Menteri terhalang oleh Nyonya Song yang tampak berbincang dengan Tuan Jung.

"Jaeh-" Jaemin nyaris berteriak saat melihat wajah yang sangat ia kenal. Ingin sekali ia berteriak dan berlari ke arah orang itu. Putera dari Perdana Menteri Jung adalah Hyung nya di NCT, Jung Jaehyun.

Mencoba kembali menguasai dirinya, Jaemin mencoba kembali bersikap rasional. Otak cerdasnya berpikir, ia sedang berada di masa yang berbeda. Jung Jaehyun di masa ini dan di masanya kemungkinan besar tidak akan sama. Kemungkinan terbesar Jaehyun di masa ini hanya mengenal Jaemin sebagai sosok Nana si gisaeng nomor satu. Begitulah argumen yang ada di kepala Jaemin.

"Nana, layani Tuan Jung beserta Putera ke tempat yang sudah disiapkan." Jaemin tersentak mendengar perintah dari Nyonya Song. Ia sedikit melamun membuat fokusnya buyar.

"Dimengerti, Nyonya."

Segera Jaemin melangkahkan kakinya mendekati Tuan Jung dan Jaehyun. Jantungnya berdegup kencang, bingung dengan apa yang akan ia lakukan. Tapi sebisa mungkin Jaemin bertindak sesuai nalurinya.

"Izinkan saya mengantar dan menemani anda." Jaemin membungkuk hormat di hadapan Tuan Jung dan Jaehyun.

Tuan Jung mengamati penampilan Jaemin. Chima berwarna maroon yang dikenakannya begitu transparan, menampilkan kulit putihnya yang tampak sangat halus. Dipadukan chima berwarna hitam dengan motif bunga. Rambutnya ditata sedemikian rupa dengan riasan wajah yang membuatnya menjadi yang paling bersinar.

"Hahaha... Aku selalu puas dengan pelayananmu." Tuan Jung merangkul bahu Jaemin.

Jika boleh jujur, Jaemin sangatlah risih. Ia seorang pria, tapi dipaksa bersikap anggun. Ingin sekali ia membanting pria tua yang merangkulnya itu ke tanah. Tapi jika Jaemin melakukannya, bisa dipastikan esok hari kepalanya sudah tergantung di depan gerbang istana. Mungkin berbeda cerita jika Jaehyun yang merangkulnya. Jaemin akan agak merasa tenang.

Jaemin dan Tuan Jung masuk ke dalam ruangan yang sudah dipersiapkan. Di belakang mereka ada Jaehyun dan beberapa anak buah Tuan Jung yang ikut masuk didampingi gisaeng-gisaeng yang pangkatnya lebih rendah. Kecuali Jaehyun yang berjalan sendiri tanpa seorang gisaeng.

Ruangan yang ada di Chosun memiliki sekat untuk memisahkan ruang bagi tamu satu dengan tamu lain. Kecuali untuk tamu istimewa, mereka akan dipersiapkan kamar khusus yang menyatu dengan kamar tidur yang diberi sekat. Ruangannya pun sangat luas, bisa menampung lebih dari dua puluh orang.

Tuan Jung duduk beralaskan bantal dengan kain sutra sesampai di ruangan yang sudah dipersiapkan. Di sisi kirinya ada Jaemin yang menuangkan arak untuknya. Sedangkan Jaehyun duduk berseberangan dengan Jaemin.

"Nana, apa kau mempersiapkan sesuatu untukku?" Tanya Tuan Jung.

Jaemin tersenyum, hingga detik ini ia masih tidak tahu akan melakukan apa untuk menghibur Tuan Jung. Di depan mereka gisaeng-gisaeng yang pangkatnya lebih rendah sedang menampilkan tarian-tarian diiringi alat musik. Suara gelak tawa dari para tamu membuat Jaemin ingin membenturkan kepalanya ke meja.

"Tentu saja Tuan. Anda adalah tamu terhormat kami." Jaemin berucap syukur dengan kemampuan aktingnya. Disaat genting seperti ini ia masih bisa bersikap tenang.

"Kalau begitu. Tunjukan padaku."

Jaemin mematung sesaat, tangannya tiba-tiba berkeringat. Perlahan ia bangkit dari duduknya dan berjalan ke tengah ruangan. Semua pasang mata menatapnya. Bahkan saat melakukan tour konser Jaemin tidak pernah segugup ini.

Mata Jaemin melirik pada sebuah gayageum di samping kirinya. Ia menatap alat itu ragu. Jaemin bisa memainkannya. Ia pernah belajar saat sekolah menengah dan cukup menguasainya. Tapi alangkah baiknya jika ia memainkan sebuah gitar atau piano. Begitu pemikiran konyol Jaemin.

Dengan ragu Jaemin duduk di belakang gayageum itu. Menatap semua pasang mata yang memandang penuh damba ke arahnya. Tangan lentiknya perlahan menyentuh senar-senar disana, memikirkan lagu apa yang akan ia mainkan. Karena Jaemin akui ia tidak terlalu mengenal lagi-lagu klasik.

Dengan segenap kepercayaan diri yang susah payah ia kumpulkan, Jaemin mulai memetik senar-senar gayageum. Ia merutuki kebodohannya karena baru saja ia memainkan lagu yang mungkin saja akan merusak sejarah karena dimainkan di jaman yang berbeda.

*Jennie - Solo gayageum ver

Jaemin terus merutuk dalam hati karena lagu itu yang tiba-tiba melintas di kepalanya. Karena tanggung, ia memainkannya hingga selesai. Mencoba menampilkannya dengan setenang mungkin.

PROK

PROK

PROK

Semua tamu yang ada di ruangan itu bertepuk tangan. Jaemin menghembuskan nafas lega dan membungkuk hormat. Ia baru saja berjudi dengan kemampuannya. Karena di masa ini ia adalah seorang gisaeng, Jaemin merasa jika tangannya benar-benar terasa ringan saat memainkan gayageum.

"Kau selalu di atas harapanku, Nana. Tapi aku baru pertama kali mendengarnya." Puji Tuan Jung.

"Terima kasih Tuan. Saya sangat tersanjung jika anda menyukai penampilan saya. Itu adalah lagu yang saya ciptakan untuk mempersiapkan kedatangan anda." Dusta Jaemin. Ia berdoa jika tindakannya itu tidak akan merusak sejarah apapun di masa depan.

Jaemin kembali duduk di samping Tuan Jung. Ia menuangkan arak ke dalam cangkir Tuan Jung dan sesekali meladeni rayuan yang dilontarkan padanya. Jaemin cukup terkejut dengan dirinya sendiri, ia benar-benar berbakat menjadi seorang wanita penghibur.

Hari semakin larut, sudah banyak tamu yang tumbang karena mabuk. Bahkan beberapa diantara mereka sudah menarik gisaeng-gisaeng untuk diajak ke atas ranjang. Begitupula dengan Tuan Jung, pria tua itu sudah cukup mabuk.

Tuan Jung berusaha menarik tali chima yang dikenakan Jaemin. Hal itu membuat bahu putih Jaemin terekspos. Sudah beberapa kali Jaemin mencegah tangan Tuan Jung yang mencoba menggerayanginya. Ia ingin sekali menampar pria tua di depannya, tapi Tuan Jung terus mencoba menelanjanginya.

"Tuan, maafkan saya. Tapi saya mohon jangan seperti ini." Ucap Jaemin.

"Nana, kenapa kau selalu menolak semua pria? Aku akan memberimu sekotak perhiasan jika kau bersedia melayaniku." Racau Tuan Jung. Jaemin menggeleng ribut, mencoba menutupi dada dan bahunya yang terekspos.

"Maafkan saya Tuan. Tapi saya tidak bisa melakukannya." Jaemin mencoba menjaga suaranya agar tidak berteriak. Bagaimanapun ia masih sayang dengan nyawanya.

"Nana! Aku akan menjadikanmu istri keduaku jika kau mau melayaniku!" Tuan Jung semakin memojokkan Jaemin. Tapi sebelum Tuan Jung melakukan hal yang lebih jauh, ada sebuah tangan yang menepuk bahunya.

"Ayah, dia sudah mengatakan tidak mau melakukannya."

Jaemin menahan nafas saat Jaehyun menariknya untuk berdiri. Pria itu kembali memakaikan chima Jaemin yang sudah terlepas, lalu mengikatkan kembali talinya. Jaehyun lalu menarik Jaemin keluar mengabaikan Tuan Jung yang meracau tidak jelas dengan beberapa gisaeng di sekelilingnya.

Tanpa mengatakan apapun, Jaemin mengikuti langkah Jaehyun. Pria itu membawanya ke pendopo yang menghadap ke kolam ikan. Cahaya bulan yang memantul ke atas kolam dan bintang yang bertaburan membuat suasana di luar tampak lebih baik.

"T-Terima kasih." Ucap Jaemin sedikit canggung.

"Tidak. Aku yang seharusnya mengatakan itu. Tolong maafkan ayahku." Jaehyun membungkuk di depan Jaemin. Tentu saja Jaemin yang merasa jika berada di kasta yang lebih rendah dengan Jaehyun segera membungkuk lebih dalam.

"Tidak Tuan, jangan lakukan itu. Anda tidak seharusnya membungkuk dan meminta maaf pada seorang gisaeng rendahan seperti saya. Itu akan melukai kehormatan anda."

Jaehyun tersenyum melihat gelagat Jaemin yang terlihat sangat panik. Lesung pipinya terlihat saat pria Jung itu tersenyum. Membuat Jaemin rindu dengan Hyung nya itu. Rindu dengan masa tempat ia berasal.

"Kenapa kau menjadi seorang gisaeng? Kau adalah wanita dengan etiket sempurna dan tampak sangat cerdas. Kau berhak memiliki status yang layak." Jaehyun berkata begitu saja, membuat Jaemin terkejut.

Jika boleh jujur, Jaemin ingin sekali berteriak di depan wajah Jaehyun. Mengatakan jika ia adalah seorang pria dari masa depan yang terlempar ke masa lalu dengan sebab yang tidak jelas. Bahkan Jaemin sendiri masih tidak percaya dari sekian banyak pekerjaan yang ada di dunia, mengapa ia harus menjadi seorang gisaeng dengan menyamar sebagai wanita.

"M-Maafkan saya Tuan. Tapi ini bukanlah pilihan saya. Ini terjadi karena sesuatu yang tidak terduga."

"Maafkan aku yang sudah lancang bertanya seperti itu."

Jaemin melirik Jaehyun, tidak ada yang berubah. Wajah dan namanya pun tetap sama. Jaemin kembali berpikir, apakah orang-orang yang ia kenal di masanya juga berada disini? Meskipun dengan kepribadian yang berbeda?

"Tiga hari lagi akan ada penyambutan utusan dari Qing. Apa kau akan pergi menyambut?"

Jaemin menegakkan kepalanya. Ia sudah mendengar dari Nyonya Song jika akan ada pesta penyambutan di istana untuk utusan dari Qing.

"Saya tidak bisa memastikan. Tapi jika diizinkan saya pasti akan ikut serta dalam acara penyambutan."

"Datanglah. Mungkin kita bisa kembali bertemu."

Dengan wajah terheran, Jaemin melirik punggung Jaehyun yang pergi menjauh. Apakah Jaehyun mengatakan jika ingin kembali bertemu dengan Jaemin?

TBC