NOMIN FANFICTION

LEE JENO X NA JAEMIN

NCT DREAM

Original Story By :

fungichan22_ a.k.a aaaloy22_

Cerita ini terinspirasi dari Drama Korea Scarlett Heart Ryeo, Rooftop Prince dan The Tale of Nokdu

Enjoy and Happy Reading


Jaemin tidak pernah menduga jika menjadi seorang wanita sangatlah merepotkan. Setelah pesta semalam, kini ia dan gisaeng-gisaeng lain harus membereskan bekas tempat yang digunakan untuk pesta.

Di dalam keranjang kayu yang Jaemin jinjing, terdapat setumpuk pakaian yang harus dicuci. Belum lagi ia harus berjalan kaki sejauh dua kilometer menuju sungai hanya untuk mencuci pakaian. Padahal di masanya, Jaemin hanya perlu sebuah teknologi bernama mesin cuci dan laundry. Lalu voila! Ia hanya perlu menunggu pakaiannya diantar oleh tukang laundry dalam keadaan bersih dan rapi.

"Mina, apa ini masih jauh?" Keluh Jaemin yang tangannya sudah kebas karena menjinjing pakaian yang tidak sedikit. Di belakang mereka ada sekitar delapan orang gisaeng lain yang juga ikut pergi ke sungai.

"Tidak. Sebentar lagi kita sampai. Anda dengar? Dari sini bisa terdengar aliran sungai." Mina yang berjalan di depan Jaemin menunjuk ke sebuah jalan setapak yang cukup licin. Mereka bisa saja tergelincir jika tidak berhati-hati.

Hanya butuh berjalan sekitar dua menit di jalan setapak untuk sampai ke sungai, Jaemin membulatkan matanya. Ia bisa melihat aliran sungai yang sangat jernih, juga batuan-batuan di pinggirnya yang dikelilingi bunga dan rumput hijau.

"Wah~ Indah sekali." Ucap Jaemin tanpa sadar.

Mina tersenyum dengan ucapan Jaemin, "Anda benar. Bunga di musim semi memanglah yang terbaik."

Setelahnya rombongan gisaeng itu segera berhamburan menuju tepi sungai. Mereka duduk di atas batu sambil mencelupkan kedua kaki mereka ke dalam sungai. Gelak tawa dari para gisaeng itu terdengar begitu merdu dengan dilatarbelakangi suara air sungai. Kecuali Jaemin yang bukan wanita tulen tentu saja.

Melihat gisaeng-gisaeng itu yang tiba-tiba membuka pakaian atas mereka, lalu masuk ke dalam sungai dan ada beberapa yang sambil mencuci pakaian. Jaemin refleks menutup matanya. Dirinya masih seorang pria tulen, jika dihadapkan dengan tubuh wanita ia akan risih tentu saja. Mina yang duduk di samping Jaemin terkekeh melihatnya.

"Tidak apa-apa. Anda hanya perlu melepas pakaian atas anda." Mina mengerti dengan apa yang diresahkan Jaemin.

"Kau gila?!" Ucap Jaemin tidak percaya.

"Tenang saja. Lagipula anda terlihat normal."

Jaemin meringsut menjauhi Mina yang sudah membuka pakaian atasnya dan ikut bergabung dengan gisaeng lain. Jaemin lebih memilih duduk sedikit menjauh sambil mencuci pakaian. Lagipula ini tidak benar, Jaemin seorang pria yang seharusnya tidak berada disana.

Sambil mencelupkan kedua kakinya ke sungai, Jaemin mulai mencuci satu persatu pakaiannya. Ia bersenandung menghalau rasa bosan, tidak menghiraukan roknya yang basah terkena air.

Selesai dengan pakaiannya, Jaemin mulai tergoda untuk mandi. Ia mulai membuka chima (pakaian atas) yang dikenakannya, menampilkan bahu dan sebagian dadanya yang tanpa cela. Kini Jaemin hanya mengenakan jeogori (rok) yang menutupi sebagian dadanya hingga bawah. Melakukannya sendiri tanpa dikelilingi wanita, Jaemin rasa tidak masalah. Lagipula ia berada cukup jauh dari gisaeng lain.

Jaemin membuka sanggul rambutnya, membiarkan rambut aslinya yang hitam tergerai sempura. Sebelum benar-benar masuk ke dalam air, Jaemin melirik ke sekeliling memastikan tidak ada yang melihatnya.

Baru saja kakinya menyentuh air, tiba-tiba sebuah anak panah melesat dari depan nyaris mengenai bahu telanjangnya. Jaemin sangat terkejut dan melihat anak panah yang hampir saja melukainya, kini menancap pada keranjang kayu yang ia gunakan sebagai tempat pakaian.

"Semuanya keluar dari air! Ada orang lain disini!" Jaemin berkata lantang kepada para gisaeng yang sedang mandi. Ia mencabut anak panah yang tadi menancap dan mengacungkannya membuat para gisaeng itu berteriak ketakutan.

"Nana! Ada apa ini? Apa yang terjadi?" Ucap salah satu gisaeng disana sambil mendekati Jaemin. Jaemin menyuruh agar para gisaeng itu berkumpul dan mendekat padanya. Bagaimana pun ia satu-satunya pria disana. Meskipun tidak ada yang mengetahui itu kecuali Mina.

"Keluar! Orang gila macam apa yang melesatkan anak panah tidak tahu tempat?!"

Tidak ada sahutan, hanya suara air mengalir membuat Jaemin mengerutkan dahinya. Ia berjalan menyusuri sekeliling sungai, hingga ia melihat sesuatu yang mencurigakan. Jaemin melihat seseorang yang bersembunyi di balik pohon tidak jauh dari tempatnya berdiri.

"Keluar atau aku akan menuntutmu karena sudah melakukan tindakan meresahkan!"

Jaemin mendekat pada seseorang yang masih bersembunyi di balik pohon. Bisa ia pastikan jika orang itu adalah seorang pria. Jaemin melihat ujung busur panah yang dipegang orang itu menyembul dari tempat persembunyiannya.

"Kenapa tidak keluar? Kau takut? Pria seharusnya bertanggungjawab dengan apa yang sudah ia lakukan, bukan bersembunyi seperti pecundang."

Pancingan yang dibuat Jaemin membuahkan hasil. Orang itu mulai menampakkan dirinya. Ia memang sengaja menyinggung harga diri seorang pria. Tentu saja Jaemin sangat paham, seorang pria tidak suka diremehkan. Karena dirinya pun memang seperti itu.

Betapa terkejutnya Jaemin saat melihat wajah yang begitu familiar. Seorang pria jangkung dengan hanbok biru dari sutra menatapnya tajam. Tiba-tiba saja amarah Jaemin memuncak hingga ubun-ubun. Ia tidak bisa menahan diri saat melihat wajah pria di depannya dengan sangat jelas.

"YAK! PARK JISUNGGG!!!"

Jaemin menarik pria itu dan membantingnya ke tanah. Membuat pekikan para gisaeng yang melihat apa yang baru saja Jaemin lakukan. Tersadar dengan kebodohannya, Jaemin melotot sambil menutup mulutnya. Ia melupakan sesuatu yang sangat penting.

Jaemin lupa jika ini bukanlah masanya. Terlebih disini identitasnya adalah seorang wanita. Jaemin menepuk dahinya dan terus merutuk.

"YAK! Apa yang kau lakukan, Nona? Kenapa kau tiba-tiba menyerangku?" Ucap Jisung yang sudah berdiri melihat Jaemin dengan sengit. Tapi tiba-tiba wajahnya memerah saat melihat jika Jaemin tidak menggunakan atasan dan rambutnya yang terurai acak-acakan. Jisung memalingkan wajahnya menyembunyikan rona di wajahnya.

"Kau bilang apa? Kau hampir membunuhku dengan anak panahmu itu bocah!"

"Aku bukan bocah!"

Jaemin mendengus, Jisung di masa ini dan di masa depan sama saja menjengkelkan. Padahal Jaemin selalu memberikan perhatian lebih pada bocah itu, tapi kebaikannya itu selalu dianggap angin lalu oleh Jisung.

"Emmmhh... Sebenarnya aku minta maaf..." Jisung menunduk sambil memainkan busur panah ditangannya, membuat Jaemin nyaris memekik gemas.

"A-Aku sedang belajar memanah, d-dan tembakanku meleset karena aku terus saja bercanda..."

Melihat wajah lugu di depannya, Jaemin langsung luluh. Ia tidak pernah bisa marah pada bocah di depannya, senakal apapun yang dilakukan Jisung. Meskipun di masa ini Jisung tidak mengenalinya, tapi di mata Jaemin bocah di depannya ini tetaplah adik kesayangannya.

"Jangan pernah bermain-main jika melakukan sesuatu! Terlebih apa yang sedang kau mainkan adalah hal berbahaya. Nyawa seseorang bisa saja hilang dengan kecerobohanmu itu! Jika memang sedang belajar, maka belajarlah yang serius. Lebih baik diam di rumah jika kau malas dengan sesuatu, bukan memaksakannya!"

Na Jaemin dengan omelannya adalah yang terbaik. Siapapun yang menjadi objek kekesalannya akan selalu kalah dan bungkam. Begitu pun Jisung yang awal bertemu menatapnya garang kini menunduk takut seperti anak kucing.

"Tapi, darimana kau tahu namaku?" Tanya Jisung.

Jaemin mematung kembali teringat dengan kebodohannya. Otaknya tidak bisa memikirkan alasan apa yang logis saat menjawab pertanyaan Jisung. Tidak mungkin ia mengatakan jika ia memang mengenal Jisung atau berpura-pura menjadi cenayang. Itu hal paling bodoh mengingat dirinya adalah seorang gisaeng yang tidak memiliki kekuatan magis atau apapun itu.

"I-Itu—"

Ucapan Jaemin terpotong saat ada dua orang pria yang menghampirinya. Kedua pria itu berpenampilan sama seperti Jisung yang tampak seperti seorang bangsawan.

"Jisung! Aku dan Minhyung Hyung mencarimu. Kau pasti membuat masalah lagi." Ucap pria dengan hanbok berwarna marun.

"Maafkan aku Hyung! Aku tidak akan mengulanginya lagi." Jisung mengatupkan kedua tangannya pada dua orang pria yang baru saja datang.

Sedangkan Jaemin memasang wajah bodohnya. Dua pria yang baru saja datang itu adalah Jeno dan Mark! Kepala Jaemin tiba-tiba berputar tidak mengerti dengan kegilaan yang terus terjadi. Berapa orang dengan wajah familiar disana yang hidup kembali dengannya di Joseon. Jaemin semakin bingung, wajah-wajah familiar itu hidup berdampingan dengannya baik di masa depan maupun masa lalu. Tapi tidak ada satupun yang mengenalinya di masa ini. Jaemin benar-benar merasa dipermainkan.

"Maafkan adikku, Nana. Apa Jisung melukaimu dan teman-temanmu?" Tanya Jeno pada Jaemin yang masih terdiam. Jaemin segera menetralkan pikirannya yang mulai bercabang.

"A-Anda mengenal saya?" Entah mengapa Jaemin memilih berbicara formal dengan Jeno. Padahal tadi ia sempat memarahi Jisung dengan bahasanya yang terlewat santai.

Jeno tersenyum pada Jaemin yang tampak terkejut, "Tentu saja."

Tanpa diduga Jeno melepaskan pakaian luarnya menyisakan dalamannya yang berwarna putih. Jeno memakaikan pakaian yang ia lepaskan pada bahu telanjang Jaemin yang masih mematung dengan wajah memerah. Jaemin adalah seorang pria, tapi mendapat perlakuan seperti itu entah mengapa membuat wajahnya merona.

"Tidak seharusnya wanita memperlihatkan tubuhnya secara sembarang. Maafkan kami jika sudah mengganggumu dan teman-temanmu."

Jaemin hanya mengangguk kaku seperti robot. Bahkan saat ketiga pria di depannya pergi, Jaemin masih mematung. Ia mengelus pakaian dari sutra yang terasa sangat lembut yang diberikan Jeno. Bisa ia cium harum tubuh Jeno pada kain itu, wangi pinus yang begitu lembut.

"Gapai jangan sampai lepas. Langitmu sudah ada di atas kepala..."

Suara bisikan yang tiba-tiba didengar Jaemin membuat kepalanya sakit. Ia hampir oleng jika tidak segera menumpu pada batang pohon. Suara bisikan itu terus berulang-ulang seperti memberinya peringatan. Tubuhnya melemas dan matanya mulai mengabur.

"Langit yang akan membebaskanmu dari kematian..."

Setelahnya Jaemin ambruk tidak sadarkan diri. Membuat para gisaeng yang melihatnya berlari menghampiri.

"Nana, sebaiknya kau segera bergegas. Tuan Jang perwakilan dari Biro Musik Istana sudah menunggu."

Jaemin menggeram, dua jam lalu ia baru saja tersadar dari pingsannya. Tapi dengan tidak berperikemanusiaan, Nyonya Song sudah menyuruh Jaemin untuk pergi.

Ngomong-ngomong mengenai kejadian di sungai beberapa saat lalu, Jaemin dan otak cerdasnya dapat menangkap sesuatu. Ia akan segera bisa kembali ke masanya jika sudah mendapatkan kuncinya. Jaemin yakin orang yang akan membawanya kembali ke masa depan adalah salah satu diantara Jisung, Jeno dan Mark. Bahkan Jaemin sudah membuat teori-teori di dalam kepalanya jika saja Nyonya Song tidak kembali menegurnya.

"Nana! Kau sudah selesai?" Teriak Nyonya Lee dari luar.

Jaemin memutar bola matanya malas. Ia mengecek penampilannya di cermin sebelum keluar. Kepalanya benar-benar terasa berat karena harus menggunakan sanggul setiap hari.

"Maaf membuat anda menunggu, Tuan." Jaemin segera membungkuk saat menginjakkan kaki di halaman. Disana ia melihat sekitar lima orang berpakaian khas pelayan istana yang berdiri menyambutnya. Tidak lupa Nyonya Song, Mina dan beberapa gisaeng yang juga ada disana.

"Hari ini aku ingin memintamu mewakiliku untuk melihat tempat acara penyambutan utusan Qing di istana. Biro musik istana menginginkan gisaeng dari Chosun sebagai pengisi hiburan. Pergilah bersama Mina, karena aku sedang memiliki tamu saat ini." Ucap Nyonya Song pada Jaemin.

Jika boleh jujur, Jaemin tidak mengerti tugas yang diberikan Nyonya Song. Tapi ia hanya bisa mengangguk karena tidak mungkin menolaknya.

Mata Jaemin melihat pada sebuah tandu yang diletakkan di tengah halaman. Ia tidak bodoh saat salah satu perwakilan dari biro musik yang ia bisa pastikan itulah yang disebut Nyonya Song sebagai Tuan Jang, membuka pintu tandu itu untuk mempersilakannya masuk.

"Maaf jika saya kurang sopan. Tapi bisakah saya meminta sepeda— maksud saya seekor kuda untuk pergi ke istana? Saya hanya ingin agar perjalanan lebih cepat dan saya bisa kembali sebelum matahari terbenam."

Jaemin baru saja kembali meracau hal bodoh mengenai sepeda. Ia masih saja lupa dimana kini ia tinggal. Untung saja Jaemin kembali tersadar dengan perkataannya sebelum menimbulkan pertanyaan dari orang-orang yang ada disana.

"Anda akan berkuda?" Tanya Mina tidak percaya.

"Benar. Kita bisa menggunakan kuda yang sama agar perjalanan lebih cepat." Ucap Jaemin santai.

Lagi-lagi Jaemin melupakan kebodohannya. Ia kini berada di Joseon, kabar buruknya wanita dan berkuda masihlah asing di jaman ini. Tolong ingatkan Jaemin jika saat ini identitasnya adalah sebagai wanita.

"Ada yang salah?"

Jaemin benar-benar menepati ucapannya dengan berkuda untuk sampai ke istana. Di belakangnya Mina memegang pinggang Jaemin erat. Mina masih tidak percaya jika Jaemin pandai berkuda.

"S-Saya baru tahu jika anda pandai berkuda..." Ucap Mina disela tarikan nafasnya yang pendek-pendek. Ia masih terkejut dan juga ngeri saat Jaemin memacu kudanya dengan cepat.

"Oh? Hahahaha... Aku hanya baru menunjukkannya." Jawab Jaemin dengan tawa sumbang. Ia baru ingat dengan kebodohannya saat berada di tengah jalan.

Di belakang mereka Tuan Jang dan pelayan lain ikut berkuda seperti Jaemin, meninggalkan tandu yang mereka bawa setelah Nyonya Song mencarikan kuda untuk mereka.

Pintu gerbang istana dibuka lebar, Jaemin turun dari kudanya dan membantu Mina. Ia menyerahkan kudanya pada penjaga yang berjaga di pintu istana.

"Selamat datang di istana, Nona..." Ucap salah satu penjaga gerbang pada Jaemin. Bahkan ada beberapa orang penjaga yang terang-terangan menatap Jaemin genit membuatnya bergidik ngeri.

"Nona, saya akan mengantar anda ke tempat acara akan diadakan." Kata Tuan Jang. Jaemin mengangguk dan berjalan di belakang Tuan Jang bersama Mina.

Sejauh Jaemin melangkah, ia benar-benar menjadi pusat perhatian. Tentu saja karena ia adalah seorang gisaeng yang tidak seharusnya berkeliaran di istana, kecuali pada acara-acara tertentu. Jaemin bahkan bisa melihat sekumpulan pria muda yang melihatnya tanpa berkedip, mereka tampak seperti seorang pelajar.

"Hari ini beberapa pelajar dari Sungkyunkwan juga diundang ke istana. Mereka juga akan ikut serta dalam penyambutan utusan Qing." Tuan Jang menjelaskan saat melihat raut wajah bertanya dari Jaemin.

"Ini akan menjadi pesta penyambutan yang sangat besar." Jaemin memandang takjub saat Tuan Jang membawanya ke halaman luas dengan dekorasi yang sangat mewah.

"Anda benar. Yang Mulia Putera Mahkota lah yang menyiapkan acara penyambutan ini."

Jaemin dibawa ke sebuah paviliun kecil oleh Tuan Jang. Jaemin awalnya tidak mengerti, tapi saat melihat Tuan Jang menyuruhnya untuk masuk ke paviliun ia mengangguk.

"Tuan Ok sudah menunggu anda." Ucap Tuan Jang. Tanpa basa-basi Jaemin langsung masuk ke dalam paviliun yang sebenarnya merupakan tempat terbuka. Ia bisa melihat ada seorang pria paruh baya yang duduk sambil membaca sehelai kertas. Sedangkan Mina tetap berdiri di luar bersama Tuan Jang.

"Saya Nana dari rumah Chosun izin menghadap." Jaemin membungkuk sopan pada pria paruh baya dengan pakaian khas pejabat istana. Pria itu tersenyum lebar melihat kedatangan Jaemin.

"Nana, aku tidak menyangka kau yang akan datang kemari." Tuan Ok berdiri dari duduknya dan mempersilahkan Jaemin untuk duduk.

"Terima kasih, Tuan. Nyonya Song memiliki tamu sehingga saya yang ditugaskan untuk mewakili."

Tuan Ok tertawa, ia meneliti wajah cantik Jaemin yang sedikit tertutup oleh kain tipis yang menjuntai dari topi yang dikenakannya. Tuan Ok lalu menyerahkan sehelai kertas pada Jaemin yang kemudian menerimanya.

"Aku sudah mengumpulkan semua gisaeng terbaik di seluruh Joseon. Meskipun tak ada yang secantik dan seberbakat dirimu, tapi aku ingin kau langsung yang memilihnya." Belum sempat Jaemin akan menyela, Tuan Ok kembali berbicara.

"Karena ini adalah pesta yang besar, aku ingin kau yang melakukan tarian tunggal di acara penyambutan." Tuan Ok tersenyum bangga saat mengatakannya. Berbanding balik dengan Jaemin yang menatap tidak percaya pada Tuan Ok. Tapi setelah tersadar, Jaemin kembali mengontrol ekspresinya, harus ia ingat bahwa saat ini dirinya adalah seorang gisaeng.

"Suatu kehormatan anda memilih saya untuk ikut serta dalam acara penyambutan. Saya akan melakukan yang terbaik." Jaemin tersenyum lembut.

Berbanding balik dengan ucapan dan raut wajahnya, dalam hati Jaemin kembali merutuk. Sepulang dari istana ia harus meminta Nyonya Song mengajarinya menari! Karena Jaemin benar-benar hanya tahu jenis tarian modern dan juga freestyle dance.

"Aku cukup terkejut melihat Nona dari Chosun ada disini."

Tuan Ok refleks bangkit dari duduknya. Jaemin cukup terkejut saat melihat Tuan Ok tiba-tiba membungkuk dalam. Ia lalu berbalik dan matanya membulat saat melihat siapa yang berdiri di samping pintu. Seorang pria yang sangat ia kenali dengan pakaian berwarna biru dengan lambang naga. Seklqi lihat Jaemin tahu apa posisi pria itu di istana. Dengan sedikit tergesa, Jaemin ikut berdiri dan membungkuk dalam.

"Wangseja..." (Putera Mahkota)

Jaemin tiba-tiba menggumamkan kata tersebut. Ia sangat terkejut orang yang kini ada di depannya adalah Jeno, Lee Jeno. Pria yang memberinya pakaian pagi tadi. Tiba-tiba saja wajah Jaemin memerah saat mengingatnya. Padahal di masanya, Jaemin bahkan sering bertukar pakaian dengan Jeno dan ia merasa biasa saja.

"Ada apa kalian ini. Kenapa terlihat tegang seperti itu." Jeno melangkahkan kakinya dan duduk di tempat yang tadi Tuan Ok duduki.

"Saya hanya terkejut anda berkunjung secara tiba-tiba Yang Mulia..." Tuan Ok duduk berhadapan dengan Jeno. Sedangkan Jaemin memilih berdiri dan sedikit menjauh dari dua pria itu.

"Sebenarnya saya meminta Nyonya Song dari Chosun untuk membahas acara penyambutan. Tapi karena Nyonya Song berhalangan, Nana yang mewakilinya Yang Mulia." Jelas Tuan Ok pada Jeno yang mencuri pandang pada Jaemin.

"Begitukah? Sepertinya aku mengganggu pembicaraan kalian..."

"Tidak sama sekali Yang Mulia. Kami sudah membahas beberapa hal. Apa ada yang anda inginkan Yang Mulia?"

Mata Jaemin dan Jeno bertemu. Jeno tersenyum hingga matanya membentuk bulan sabit saat Jaemin memutus tatapan mereka. Jeno mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja pada Tuan Ok. Mengerti dengan isyarat yang diberikan Jeno, Tuan Ok bangkit dari duduknya dan membungkuk hormat. Jeno ingin Tuan Ok meninggalkannya bersama Jaemin.

"Duduklah..." Jaemin menatap Jeno yang masih menatapnya dengan senyum tampan.

"Maaf?"

"Duduklah di dekatku, Nana."

Dengan langkah ragu Jaemin mendekat, dan duduk di kursi yang berhadapan dengan Jeno. Jaemin terus saja menunduk, entah mengapa. Padahal dalam hati ia ingin sekali berbicara dengan Jeno sebagai salah satu orang yang dikenalnya di masa ini. Tapi melihat posisi Jeno yang berada sangat jauh dengannya, Jaemin merasa rendah diri.

"Nana, kenapa akhir-akhir ini kau menjauhiku? Apa aku melakukan kesalahan?" Tanya Jeno. Tangan Jeno terulur hampir memegang lengan Jaemin, tapi dengan sigap Jaemin menghentikan gerakan Jeno.

Sebentar! Otak cerdas Jaemin kembali berpikir keras. Ia sungguh tidak mengerti dengan ucapan yang dilayangkan Jeno. Baru terhitung tiga hari Jaemin hidup di masa ini, selebihnya ia benar-benar tidak tahu ada hubungan macam apa antara Jeno dengan Nana. Sehingga saat Jeno mengatakan ia menjauh, Jaemin tidak tahu harus mengatakan apa.

"Katakan sesuatu, Nana..."

Jaemin menyibak kain tipis yang menutupi sebagian wajahnya. Kini wajah cantiknya bisa dilihat jelas oleh Jeno. Dengan ragu Jaemin terus menimbang-nimbang apa yang akan ia katakan pada Jeno.

"Maaf jika anda tersinggung dengan ucapan saya Yang Mulia. Tapi ini memang tindakan yang tepat. Saya hanya seorang gisaeng rendahan, kehormatan anda akan tercemar jika terlalu dekat dengan saya." Jaemin merutuk dalam hati dengan apa yang baru saja ia katakan. Melihat wajah Jeno yang tidak bisa dijelaskan, ucapannya pasti melukai Jeno.

"Apa karena sebentar lagi akan ada seleksi pemilihan Puteri Mahkota?" Tanya Jeno lagi. Tatapannya kini berubah sendu.

"Ya..."

Otak Jaemin tidak bisa berpikir lebih jauh. Padahal ia tidak tahu sama sekali dengan apa yang dikatakan Jeno. Pemilihan Puteri Mahkota? Intinya Jaemin tidak peduli dan ingin segera angkat kaki dari hadapan Jeno. Ia benar-benar merasa dipojokkan saat ini.

"Apa jika aku melepaskan semua gelar kehormatanku, kau akan membuka hati?"

Jaemin melotot dengan apa yang baru saja Jeno ucapkan. Dengan cepat Jaemin menggeleng panik. Ia takut ada orang tidak bertanggungjawab mendengar percakapannya dengan Jeno.

"Apa yang anda katakan Yang Mulia? Anda adalah calon raja agung Joseon. Lalu saya hanya seorang gisaeng rendahan. Tidak sepantasnya saya mendapat terlalu banyak kemurahan hati dari anda..."

Tangan Jaemin terkepal di bawah meja. Ia berusaha untuk menekan hasratnya untuk tidak mendengus atau mengatakan hal yang kurang ajar. Tapi Jaemin tetaplah Na Jaemin, ia kelepasan mengumpat.

"Oh... Shit man!"

Jeno yang awalnya hanya diam mengamati kertas yang ada di atas meja, mendongak saat mendengar gumaman Jaemin yang tidak ia mengerti.

"Kau mengatakan sesuatu, Nana?"

"A-Ahh... Tidak Yang Mulia."

Ingin sekali Jaemin membenturkan kepalanya ke ujung meja sungguh! Mulutnya yang susah sekali dikontrol membuat Jaemin ingin cepat-cepat mengakhiri perbincangannya dengan Jeno.

"Maafkan aku jika perbincangan ini membuatmu tidak nyaman."

"Tidak Yang Mulia. Justru saya yang seharusnya meminta maaf karena telah lancang pada anda."

Lagi-lagi senyum indah itu, Jaemin memalingkan wajahnya ketika Jeno tersenyum lembut padanya. Jeno lantas berdiri setelah melihat jika Jaemin salah tingkah saat ia menatapnya. Calon penguasa Joseon itu mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja memberi isyarat pada Jaemin.

"Ayo berdiri. Aku ingin menunjukkan tempat acara dan mendengar sudah sejauh mana persiapanmu untuk acara penyambutan."

Jaemin terbatuk, jika sudah begini apa yang harus Jaemin katakan? Bahkan ia pergi ke istana tanpa persiapan apapun.

TBC